Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36022 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mutiara Mutia Rani; Pembimbing: Hendra; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Laksita Ri Hastiti, Astuti, Dwi Adi Maryandi
Abstrak:
Kegiatan commuting, yaitu perjalanan rutin dari rumah ke tempat kerja, menjadi bagian dari kehidupan modern, terutama di kota-kota besar. Pola mobilitas commuting yang melelahkan dapat berpengaruh pada aspek kesehatan fisik, mental, dan sosial di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup dan faktor apa saja yang berhubungan dengan kualitas hidup para pekerja komuter di institusi X yang berada di Jakarta. Desain studi potong lintang atau cross sectional digunakan pada penelitian, responden sebanyak 137 orang yang merupakan pekerja di institusi X, unit utama Y, yang bepergian dari rumah ke kota tempat kerjanya yaitu Jakarta dan bertempat tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek). Variabel penelitian meliputi tingkat kualitas hidup dengan menilai skor domain (fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan), sedangkan variabel independen meliputi jenis moda transportasi, kondisi perjalanan, status pernikahan dan waktu tempuh perjalanan. Analisis dengan uji chi square dan uji t-independent. Hasil penelitian menunjukan reponden dengan kualitas hidup kurang sebanyak 71 orang (51,8%) memiliki kualitas hidup kurang, dan 66 orang (48,2%) memiliki kualits hidup baik. Pada keempat domain kualitas hidup, domain fisik mempunyai skor kualitas hidup yang paling rendah, kemudian disusul oleh domain psikologis, kemudian domain lingkungan dan hubungan sosial yang paling tinggi. Hasil analisis chi-square didapatkan tidak ada hubungan signifikan antara jenis moda tranportasi, kondisi perjalanan, status pernikahan dan waktu tempuh perjalanan dengan kualitas hidup total pada pekerja komuter di Institusi X. Pada hasil analisis hubungan antara status pernikahan dengan kualitas hidup domain fisik, terdapat hubungan signifikan yang dapat diartikan pekerja dengan status menikah atau pernah menikah mempunyai risiko skor domain fisiknya lebih rendah dibandingkan dengan pekerja berstatus belum menikah. Hasil uji t-independent didapatkan tidak ada perbedaan tingkat kualitas hidup antara variabel moda transportasi, kondisi perjalanan, status pernikahan dan waktu tempuh perjalanan pada pekerja di Institusi X.

The activity of commuting, which involves routine travel from home to the workplace, has become a part of modern life, particularly in large cities. The exhausting commuting mobility patterns can affect the physical, mental, and social health aspects of society. This study aims to describe the quality of life and identify the factors associated with the quality of life of commuters working at institution X in Jakarta. A cross-sectional study design was used, with 137 respondents who are employees at institution X, main unit Y, who commute from their homes to their workplaces in Jakarta and reside in Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek). The research variables included the level of quality of life by assessing domain scores (physical, psychological, social relationships, and environment), while the independent variables included the type of transportation mode, travel conditions, marital status, and travel time. Analysis was conducted using chi-square tests and independent t-test. The results showed that 71 respondents (51.8%) had a lower quality of life, while 66 respondents (48.2%) had a good quality of life. Among the four quality of life domains, the physical domain had the lowest quality of life score, followed by the psychological domain, and then the environmental and social relationships domains, which had the highest scores. Chi-square analysis revealed no significant relationship between the type of transportation mode, travel conditions, marital status, and travel time with the overall quality of life of commuters at institution X. However, the analysis of the relationship between marital status and the physical quality of life domain indicated a significant relationship, suggesting that employees who are married or have been married are at a higher risk of having lower physical domain scores compared to those who are single. Independent t-test results showed no differences in the quality of life levels among the variables of transportation mode, travel conditions, marital status, and travel time for employees at institution X.
Read More
T-7049
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhelina Zulfiana; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Aulia Rahmi
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan fatigue pada pekerja wanita di PT. X. Penelitian ini dilakukan pada bulan juni-juli 2021 dengan melibatkan 5 orang pekerja dari PT. X yaitu 2 orang pekerja di bagian manajemen dan 3 orang pekerja di bagian produksi. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi deskriptif kualitatif dengan pengambilan data berupa data primer yang dilakukan dengan wawancara mendalam dan data sekunder dari PT.X. Faktor risiko fatigu yang diteliti terdiri dari faktor risiko terkait kerja dan faktor risiko tidak terkait kerja.
Read More
S-10680
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Savira Anindita; Pembimbing: Hendra; Penguji: Baiduri Widanarko, Sumaryanto, Yessie Kualasari
Abstrak: Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kelelahan pada pekerja kantoran di institusi X. Penelitian ini dilakukan di Institusi X dengan objek penelitian yaitu seluruh pegawai institusi X yang bekerja pada bidang Penyelenggara, bidang Program dan Evaluasi, bagian Tata Usaha, dan bagian Widyaiswara. Penelitian ini dilakukan melalui pengamatan, wawancara, dan pengisian kuesioner oleh responden sesuai dengan apa yang dialami dan dirasakan oleh responden terkait kelelahan dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kelelahan, serta dilakukan pengukuran langsung lingkungan kerja, meliputi pencahayaan dan temperatur ruangan. 44,6% pekerja mengalami kelelahan dan 55,4% pekerja tidak mengalami kelelahan. Terdapat 3 buah faktor terkait pekerjaan yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap terjadinya kelelahan yaitu faktor jam kerja per hari, tuntutan pekerjaan, dan job control. Sedangkan pada faktor tidak terkait pekerjaan terdapat 1 buah faktor yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap terjadinya kelelahan yaitu faktor kualitas tidur. Namun setelah melalui analisis multivariat didapatkan faktor yang paling berpengaruh terhadap kelelahan yaitu kualitas tidur. Variabel kualitas tidur memiliki nilai Odds Ratio sebesar 14,409, yang artinya pekerja dengan kualitas tidur yang buruk akan berisiko 14,409 kali mengalami kelelahan dibandingkan dengan pekerja dengan kualitas tidur yang baik setelah dikontrol oleh variabel jam kerja / hari, tuntutan pekerjaan, job control, dukungan sosial, dan status kesehatan.
Read More
T-5492
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azhary Azwar; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Baiduri, Hendra, Anton Ojong, Amirullah
T-4854
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M. Washiludin AR; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Robiana Modjo, Harjulianti, Mintoro Sumego
T-3423
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sherin Salsabila Ramadhanty; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Baiduri Widanarko, Julia Rantetampang
Abstrak:
Commuting merupakan aktivitas rutin para komuter termasuk pekerja di sektor perkantoran yang setiap hari melakukan mobilitas ulang-alik sehingga menimbulkan potensi kelelahan dan berdampak pada penurunan produktivitas kerja serta peningkatan human error bahkan kecelakaan kerja, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja pada pekerja komuter di sektor perkantoran yang melakukan mobilitas ulang-alik (commuting) menuju/pulang ke/dari tempat kerja di wilayah Jakarta Selatan pada tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sebanyak 233 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner. Pengumpulan data menggunakan adaptasi dari instrumen Subjective Self Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, dan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Setelah itu, analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pekerja komuter di sektor perkantoran 36,9% mengalami kelelahan ringan dan 63,1% mengalami kelelahan sedang-sangat tinggi. Faktor risiko yang berhubungan signifikan ditemukan pada faktor risiko tidak terkait pekerjaan, diantaranya waktu tempuh, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: <0,001), moda transportasi utama, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: 0,007), peran komuter (p-value: 0,002), jumlah penggunaan moda transportasi, baik berangkat (p-value: 0,014) dan pulang (p-value: 0,005), jenis kelamin (p-value: 0,033), dan tingkat pendidikan (p-value: 0,006). Dengan demikian, diperlukan adanya upaya pencegahan dan pengendalian kelelahan kelelahan yang komprehensif oleh perusahaan termasuk pemerintah melalui kebijakan dan program manajemen kelelahan. Penerapan kebijakan buffer time, monitoring kelelahan, peningkatan kualitas tidur, dan penyediaan prasarana istirahat dapat berkontribusi menurunkan risiko kelelahan. Kata kunci: Kelelahan Kerja, Faktor Risiko Kelelahan, Commuting, Pekerja Komuter, Perkantoran

Commuting is a routine activity for commuters, including office workers who travel back and forth every day, which can lead to fatigue and result in decreased work productivity, increased human error, and even workplace accidents. This study aims to analyze the risk factors for work-related fatigue among office workers who commute back and forth to and from their workplace in the South Jakarta area in 2026. The study employs a quantitative approach with a cross-sectional study design. A total of 233 respondents participated in this study by completing a questionnaire. Data collection utilized adaptations of the Subjective Self-Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, and International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Subsequently, data analysis employed the Chi-Square test. The results showed that 36.9% of office sector commuters experienced mild fatigue and 63.1% experienced moderate to very high fatigue. Significant risk factors were identified among non-work-related risk factors, including travel time—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: <0.001)—and primary mode of transportation—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: 0.007), commuter role (p-value: 0.002), number of mode of transportation use, both for the trip to work (p-value: 0.014) and return trips (p-value: 0.005), gender (p-value: 0.033), and educational level (p-value: 0.006). Thus, comprehensive efforts to prevent and control fatigue are needed by companies, including the government, through fatigue management policies and programs. The implementation of buffer time policies, fatigue monitoring, improved sleep quality, and the provision of rest facilities can contribute to reducing the risk of fatigue. Keywords: Fatigue, Risk factors for fatigue, Commuting, Commuting workers, Office workers
Read More
S-12276
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wini Handayani; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Wahyu Hidayat, Andry Kurniawan
Abstrak: Tesis ini menganalisispartisipasi keselamatan pada pekerjaPertambangan Emas Bawah Tanah PT X Propinsi Banten.Penelitian dilakukan oleh penulis berdasarkan 7 (tujuh) kalikejadian berbahaya yang samayang terjadi secara berturut-turut pada tahun 2015, dimana kinerja keselamatan terutama partisipasi keselamatan menjadi penyebab kejadian. berdasarkan kondisi atau suasana keselamatan yang menjadi antesenden dalam membentuk partisipasi keselamatan pekerja dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja keselamatan sehingga dapat mengurangi dan mencegah terjadinya kejadian yang dapat menyebabkan gangguan kesejahteraan, kesehatan dan cidera. Penelitian ini merupakan penelitian deskriftif analitik dengan pendekatan mixed methods meliputi analisis kualitatif dan kuantitatif dengan desain study cross sectional, Hasil penelitian ditemukan bahwa iklim keselamatan, motivasi keselamatan kerja dan kepuasan kerja memberikan pengaruh terhadap partisipasi keselamatan pada pekerja di Pertambangan Emas Bawah Tanah PT X. Perusahaan perlu melakukan tinjauan ulang keterlibatan pekerja, perwakilan pekerja dan manajemen dalam perencanaan dan pelaksanaan program K3. Kata kunci: Partisipasi, pekerja, keselamatan, iklim kerja, motivasi, kepuasan kerja This thesis analyzes the safety participation of underground gold mining workers of PT X of Banten Province. The research is conducted by the authors based on 7 (seven) different harmful phenomenon that occur respectively in 2015, where safety performance especially safety participation is the cause of the incident. Based on safety conditions or moods that are antecedent in shaping workers' safety participation with the aim of improving safety performance so as to reduce and prevent the occurrence of events that may cause welfare, health and injury. This research is an analytic descriptive research with mixed methods approach including qualitative and quantitative analysis with cross sectional study design. The result of the study found that the safety climate, work safety motivation and job satisfaction have an effect on the safety participation of the workers in the Underground Gold Mine of PT X. Company is necessary to review the involvement of workers, workers' representatives and management in the planning and implementation of OSH programs. Keywords: Participation, workers, safety, work climate, motivation, job satisfaction.
Read More
T-5055
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Hazzrah Medinah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Mohammad Zayyin
Abstrak:
Kelelahan atau fatigue pada pekerja tambang memiliki dampak yang besar terhadap tingkat absenteisme, penurunan produktivitas, biaya kesehatan, dan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan kelelahan pada pekerja di PT X serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan. Faktor risiko yang diteliti yaitu faktor terkait pekerjaan (beban kerja, masa kerja, waktu istirahat, area kerja, shift kerja, dan stres kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, kualitas dan kuantitas tidur, kebiasaan merokok, commuting time, pekerjaan sampingan, konsumsi kafein, status pernikahan, status gizi, dan olah raga). Untuk mengukur kelelahan menggunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), mengukur stres kerja menggunakan kuesioner Survei Diagnosis Stres (SDS), mengukur kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), mengukur beban kerja mental menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), mengukur karakteristik responden menggunakan The Self-administered Questionnaire, dan untuk mengukur beban kerja fisik menggunakan alat Fingertip Pulse Oximeter. Penelitian ini dilakukan kepada 156 pekerja tambang di PT X dengan menggunakna desain penelitian cross-sectional. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja, waktu istirahat, usia, dan beban kerja mental dengan kelelahan. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengembangan program pencegahan dan pengendalian kelelahan (fatigue management) di tempat kerja dan melihat hubungan faktor terkait pekerjaan yang lebih dominan terhadap kelelahan dibandingkan faktor tidak terkait pekerjaan.

Fatigue in mining workers has a huge impact on absenteeism rates, decreased productivity, medical costs, and accidents. This study aims to describe the level of fatigue in workers at PT. X and analyze the associated risk factors. The risk factors studied included work-related factors (workload, period of work, rest time, mining area, work shifts, and work stres) and non-work related factors (age, sleep quality and sleep quantity, smoking status, commuting time, side work, caffeine consumption, marital status, body mass indeks, and exercise). To measure fatigue, the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire was used, Survey Diagnostic Stress (SDS) was used to measure job stress, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure sleep quality, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ) was used to measure mental workload, the Self-administered Questionnaire was used to measure respondent characteristics, and Fingertip Pulse Oximeter was used to measure physical workload. This research was conducted on 156 mining workers at PT. X by using a cross-sectional research design. Descriptive and inferential logistic regression was used to analyze the data. The results showed that there was a significant association between period of work, rest time, age, and mental workload. Therefore, it is necessary to develop a fatigue management program in the workplace and refers to see the result that the relationship between work related factors and fatigue is more dominant than non-work related factors.
Read More
S-11713
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indri Astuti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Mayarni
Abstrak: Pekerja forklift merupakan salah satu jenis pekerjaan yang memiliki risiko terkenamusculoskeletal disorders karena faktor individu, lingkungan, dan pekerjaan.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pekerjaan forklift, faktor individu dan lingkungan yang berhubungan dengan musculoskeletal disorderspada pekerja forklift di PT X tahun 2013 dan melihat gambaran risiko pekerjaan.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain studi potonglintang dengan kuesioner dan tools REBA.
Hasil penelitian menyatakan bahwalama kerja mempengaruhi keluhan subyektif musculoskeletal disorders dantingkat risiko ergonomi pekerja forklift termasuk ringan hingga sedang. Sarannya,perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian postur kerja pekerja forklift,pengaturan durasi kerja, sosialisasi terkait musculoskeletal disorders, gejala,faktor risiko, tindakan pencegahan, dan penanganan. Kata kunci : risiko, ergonomi, forklift, musculoskeletal disorders.
Read More
S-7784
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andriza Hanifah Wulandari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Rijal Noor Al-Ghiffari
Abstrak:

Kelelahan merupakan masalah multifaktor yang dialami pekerja sektor manufaktur dan
berdampak pada kecelakaan kerja, kesehatan, serta ekonomi. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja sales
perusahaan manufaktur di PT X tahun 2025. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor
risiko terkait pekerjaan (durasi kerja, masa kerja, beban kerja, waktu istirahat, waktu
perjalanan, dan lingkungan kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, status
gizi, kuantitas tidur, kualitas tidur, konsumsi alkohol, dan konsumsi kafein). Penelitian
ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan Februari
hingga Juni 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring, meliputi kuesioner
karakteristik individu dan pekerjaan, OFER, PSQI, NASA-TLX, dan persepsi terhadap
lingkungan kerja. Terdapat 136 data responden yang dianalisis menggunakan analisis
deskriptif dan inferensial dengan uji chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa
56.6% pekerja mengalami kelelahan kronik dan 79.4% kelelahan akut. Hasil
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko terkait kerja
yaitu masa kerja (p value = 0.047), lingkungan kerja bising (p value = 0.033) dan faktor
risiko tidak terkait kerja, yaitu kualitas tidur (p value = 0.044) dengan kelelahan kronik.
Hasil juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko
terkait kerja yaitu beban kerja (p value = 0.033) dengan pemulihan kelelahan.


Fatigue is a multifactorial problem experienced by workers in the manufacturing sector  and has an impact on work accidents, health, and the economy. This study aims to analyze  the risk factors associated with fatigue in sales workers of manufacturing companies at  PT X in 2025. The risk factors studied include work-related risk factors (duration of work,  length of service, workload, rest time, commuting time, and work environment) and non work-related risk factors (age, nutritional status, sleep quantity, sleep quality, alcohol  consumption, and caffeine consumption). This study used a cross-sectional study design  conducted from February to June 2025. Data were collected through online  questionnaires, including individual and job characteristics questionnaires, OFER, PSQI,  NASA-TLX, and perceptions of work environment. 136 respondent data analyzed using  descriptive and inferential analysis with the chi-square test. The results of the analysis  showed that 56.6% of workers experienced chronic fatigue and 79.4% acute fatigue. The  results showed that there was a significant relationship between work-related risk factors,  namely work period (p value = 0.047), noisy work environment (p value = 0.033) and  non-work-related risk factors, namely sleep quality (p value = 0.044) with chronic fatigue.  The results also showed that there was a significant relationship between work-related  risk factors, namely workload (p value = 0.033) with fatigue recovery.

Read More
S-12100
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive