Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37183 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yasmin Syifa Bakhtiar; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Dieta Nurrika
Abstrak: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tingginya kadar glukosa pada darah seseorang yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi fisiologis. Berdasarkan data Riskesdas 2018, di Indonesia, terdapat disparitas antara prevalensi DM yang didiagnosis oleh dokter (2%) dan prevalensi berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah (8,5%). Perbedaan ini mengindikasikan adanya kemungkinan besar kasus DM yang belum terdiagnosis. Memiliki pemahaman terkait faktor-faktor yang berpengaruh terhadap diagnosis diabetes melitus, khususnya pada kelompok usia tertentu dapat berguna untuk mengembangkan rencana tindakan baik dari segi pencegahan maupun penanganan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang dapat mengulik faktor-faktor risiko kejadian diabetes melitus pada penduduk usia dewasa (25-60 tahun) yang belum pernah didiagnosis dokter di Indonesia pada tahun 2018. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Analisis data yang dilakukan antara lain adalah analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 24434 individu di Indonesia, sebanyak 8,5% penduduk usia dewasa (25-60 tahun) memiliki DM yang tidak pernah didiagnosis oleh dokter. Faktor dominan kejadian DM pada penduduk usia dewasa (25-60 tahun) yang tidak pernah terdiagnosis di Indonesia adalah tingkat pendidikan (AOR = 1,224).
Diabetes mellitus (DM) is a condition characterized by high blood glucose levels that can lead to various physiological complications. Based on 2018 Riskesdas data, there is a disparity in Indonesia between the prevalence of DM diagnosed by doctors (2%) and prevalence identified through blood glucose testing (8.5%). This difference suggests a significant number of undiagnosed DM cases. Understanding the factors that influence diabetes diagnosis, especially in specific age groups, can help develop effective prevention and treatment plans. Therefore, this research aims to investigate the risk factors for undiagnosed diabetes mellitus in adults (ages 25-60) in Indonesia in 2018. This study uses a cross-sectional design with secondary data from the 2018 Riskesdas. Data analysis includes univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression. The results indicate that out of 24,434 individuals in Indonesia, 9.6% of adults (ages 25-60) have undiagnosed DM. The dominant factor for undiagnosed DM in this population is level of education (AOR =1,224).
Read More
S-11806
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gillian Frances Liwarto; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Sintha Fransiske Simanungkalit
Abstrak:
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas serta mortalitas di dunia. Saat ini, prevalensi diabetes mulai meningkat secara signifikan pada kelompok usia dewasa muda (19–44 tahun). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Dengan  tujuan untuk mengetahui determinan kejadian diabetes melitus pada penduduk usia dewasa (19–44 tahun) di Indonesia dengan menganalisis data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data ini dilakukan dengan pendekatan complex samples dan melibatkan 7.964 penduduk berusia 19–44 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi diabetes melitus pada penduduk usia 19–44 tahun di Indonesia sebesar 5,5%. Analisis bivariat pada penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara diabetes melitus dengan beberapa variabel sebagai faktor risiko yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, perilaku merokok dan obesitas sentral (p-value<0,05). Untuk analisis multivariat, ditemukan obesitas sentral sebagai faktor dominan dari kejadian diabetes melitus dengan OR = 2,34. Hal ini menunjukkan bahwa obesitas sentral merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diabetes melitus dimana individu dengan obesitas sentral memiliki peluang 2,34 kali lebih besar untuk mengalami diabetes dibandingkan yang tidak mengalami obesitas sentral bahkan setelah dikontrol oleh faktor confounding lainnya.

Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels and one of the leading causes of morbidity and mortality worldwide. Currently, the prevalence of diabetes is increasing significantly among young adults aged 19–44 years. This study is a quantitative study with a cross-sectional design, aimed at identifying the determinants of diabetes mellitus among young adults (19–44 years) in Indonesia by analyzing secondary data from Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Data analysis was conducted using a complex samples approach and involving 7,964 individuals aged 19–44 years. The results showed that the prevalence of diabetes mellitus in this age group was 5.5%. The bivariate analysis shows a statistically significant association between diabetes mellitus and several risk factors, which are age, sex, educational level, smoking behaviour and central obesity (p-value < 0.05). Multivariate analysis identified central obesity as the dominant factor associated with diabetes mellitus, with an odds ratio (OR) of 2.34. This indicates that central obesity is the most influential factor in the occurrence of diabetes mellitus, where individuals with central obesity have a 2.34 times greater chance of developing diabetes compared to those without, even after other confounding factors were controlled.
Read More
S-11946
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gabriella Nicole; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Fitri Hudayani
Abstrak:
Nama : Gabriella Nicole Program Studi : Gizi Judul : Faktor Dominan Diabetes Melitus pada Penduduk Usia Produktif (15-64 Tahun) di Indonesia Tahun 2018 (Analisis Data Riskesdas 2018) Pembimbing : Ir. Siti Arifah Pujonarti, M.P.H. Diabetes melitus merupakan sekelompok gangguan metabolisme yang ditandai dan diidentifikasi dengan adanya kondisi hiperglikemia (kondisi gula darah berlebihan atau tinggi) dalam kondisi tanpa pengobatan. Prevalensi diabetes melitus pada penduduk usia produktif (15-64 tahun) di Indonesia kerap mengalami peningkatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diabetes melitus pada penduduk usia produktif (15-64 tahun) di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini merupakan analisis univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji kai kuadrat, dan analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 32747 subjek penelitian, 7,5% mengalami diabetes melitus. Analisis bivariat menunjukkan hasil yang signifikan antara variabel konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi minuman berenergi, konsumsi soft drink atau minuman berkarbonasi, kebiasaan merokok, IMT, obesitas sentral, dan tingkat pendidikan dengan kejadian diabetes melitus (p-value <0,05). Analisis multivariat menunjukkan obesitas sentral merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan diabetes melitus (p-value = 0,000; OR 1,86; 95% CI: 1,66-2,08).

Name : Gabriella Nicole Study Program : Nutritional Science Title : Dominant Factor of Diabetes Mellitus Among Productive Age Population (15-64 Years) in Indonesia (An Analysis on Riskesdas 2018) Counsellor : Ir. Siti Arifah Pujonarti, M.P.H. Diabetes mellitus is a group of metabolic disorders characterized and identified by the presence of hyperglycaemia (a condition of excessive or high blood sugar) in conditions without medication. The prevalence of diabetes mellitus in the productive age population (15-64 years) in Indonesia is consistently increasing. This study aims to determine the dominant factors and factors associated with the incidence of diabetes mellitus in the productive age population (15-64 years) in Indonesia. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design using secondary data from the National Basic Health Survey 2018. Data analysis was carried out in this study using univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The result displayed that of the 32747 research subjects, 7,5% had diabetes mellitus. Bivariate analysis showed significant results between the variables consumption of sweet foods, consumption of sweet beverages, consumption of energy drink, consumption of soft drinks, smoking habits, BMI, central obesity, and level of education with the incidence of diabetes mellitus (p-value <0,05). Multivariate analysis showed that central obesity is the most dominant factor associated with diabetes mellitus (p-value = 0,000; OR 1,86; 95% CI: 1,66-2,08).
Read More
S-11453
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eveline Averina; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Agus Triwinarto
Abstrak:
Diabetes melitus tipe 2 dan obesitas merupakan dua kondisi kronis yang saling berkaitan dan telah menjadi masalah kesehatan masyarakat secara global. DM tipe 2 ditandai oleh hiperglikemia akibat gangguan metabolisme glukosa, sedangkan obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi. Saat ini, epidemi ganda DM tipe 2 dan obesitas terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan faktor gaya hidup, kesehatan, dan sosioekonomi, faktor individu, serta faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian obesitas pada penderita DM tipe 2 usia dewasa (19 - 59 tahun) di Indonesia.  Penelitian ini menggunakan desain cross sectional berdasarkan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, dengan jumlah sampel sebanyak 4922 responden. Analisis dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada penderita DM tipe 2 di Indonesia usia dewasa (19 – 59 tahun) mencapai 52.4%. Terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian obesitas dengan jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan durasi menderita DM tipe 2 (p-value < 0.05). Faktor dominan yang berhubungan pada kejadian obesitas pada penderita DM tipe 2 usia dewasa adalah tingkat pendidikan (p-value < 0.001; OR = 0.612, 95% CI = 0.489 – 0.766).

Obesity and type 2 diabetes mellitus (T2DM) are two interconnected chronic diseases that have emerged as major global public health concerns. T2DM is marked by hyperglycemia due to impaired glucose metabolism, while obesity results from an energy imbalance. The co-occurrence of obesity and T2DM is termed a dual epidemic that increases risks of complications and mortality. This study aims to identify lifestyle, health, socioeconomic, and individual factors and the dominant factor associated with obesity among Indonesian adults (ages 19–59) with T2DM. A cross-sectional design was used with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey, involving 4922 respondents with T2DM. Statistical analysis included chi-square tests and binary logistic regression. Results showed that 52.4% of adults with T2DM were classified as obese. Significant associations were found between obesity and gender, education level, and duration of T2DM (p < 0.05). The most dominant factor was education level, where individuals with higher education had a lower risk of obesity (p < 0.001; OR = 0.612; 95% CI = 0.489–0.766).
Read More
S-11906
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vinca Dhias Salsabilla; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Sabbina Maharani
Abstrak:
Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan seringkali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga deteksi dini sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat risiko DM Tipe 2 pada orang dewasa usia 35–59 tahun di Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok Tahun 2026. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional dengan desain studi cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 177 responden yang dipilih secara purposif. Pengambilan data meliputi wawancara kuesioner Modified FINDRISC-BI, asupan gizi melalui Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), serta pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, dan lingkar pinggang). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher's Exact, serta multivariat menggunakan Regresi Logistik Ganda dengan metode Backward LR. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna secara statistik (p-value < 0,05) antara Indeks Massa Tubuh (IMT), lingkar pinggang, riwayat keluarga, riwayat glukosa darah tinggi, hipertensi, aktivitas fisik, dan konsumsi sayur buah dengan tingkat risiko DM Tipe 2. Sebaliknya, asupan karbohidrat, asupan lemak, frekuensi konsumsi makanan dan minuman manis tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (p-value > 0,05).

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a non-communicable disease with a continuously increasing prevalence that often presents no symptoms in its early stages, making early detection highly necessary. This study aimed to determine the factors associated with the risk level of T2DM among adults aged 35–59 years in Sukmajaya District, Depok City in 2026. This research is an observational quantitative study with a cross-sectional design. The study sample consisted of 177 respondents selected through purposive sampling. Data collection included interviews using the Modified FINDRISC-BI questionnaire, nutritional intake assessment via the Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), and anthropometric measurements (body weight, height, and waist circumference). Data analysis was conducted univariately, bivariately using Chi-Square and Fisher's Exact tests, and multivariately using Multiple Logistic Regression with the Backward LR method. The bivariate analysis results showed a statistically significant association (p-value < 0.05) between Body Mass Index (BMI), waist circumference, family history, history of high blood glucose, hypertension, physical activity, and vegetable and fruit consumption with the risk level of T2DM. Conversely, carbohydrate intake, fat intake, and the frequency of sweet food and beverage consumption showed no significant association (p-value > 0.05).
Read More
S-12419
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Nur Sarah Sudrajat; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang L. Achadi, Agus Triwinarto
Abstrak: Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian hipertensi dengan berbagai faktor risiko yang mencakup karakteristik demografi, status gizi, gaya hidup, pola diet, dan stres di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2018. Desain penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juli 2021. Populasi pada penelitian ini adalah dewasa muda usia 19-24 tahun di Provinsi Kalimantan Selatan. Total sampel yang termasuk dalam kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 1.459 sampel.Kejadian hipertensi dianalisis untuk diketahui prevalensi hipertensi sistolik, diastolik, dan gabungan (sistolik dan diastolik) dan ditemukan hipertensi diastolik memiliki prevalensi paling tinggi (14,1%).
Read More
S-10711
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurjihan Fakhriah; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Triyani Kresnawan, Ratu Ayu Dewi Sartika
Abstrak: Obesitas sentral merupakan kondisi dimana terjadi penumpukkan lemak di bagian perut. Obesitas sentral berhubungan dengan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus tipe II, hipertensi, dislipidemia, sindrom metabolik, dan kanker. Prevalensi obesitas sentral diketahui meningkat baik di negara maju dan negara berkembang. Sebanyak 40,2% individu di dunia diperkirakan mengalami obesitas sentral. Indonesia termasuk negara berkembang dengan peningkatan prevalensi obesitas sentral dengan peningkatan dari tahun 2007, 2013, dan 2018 menurut data Riskesdas berturut- turut sebesar 18%, 26% , dan 31%. Peningkatan obesitas sentral dikaitkan dengan perkembangan ekonomi dan urbanisasi yang menyebabkan perubahan tidak menguntungkan dalam kebiasaan konsumsi makanan berkalori tinggi dan minuman manis, aktivitas fisik, perilaku sedentari, dan stres. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi obesitas sentral di daerah perkotaan lebih tinggi dari prevalensi nasional, yaitu sebesar 35%. Penelitian bertujuan untuk menganalisis lebih lanjut mengenai faktor dominan kejadian obesitas sentral pada penduduk usia 25-64 tahun di wilayah perkotaan Indonesia. Terdapat sebanyak 194.049 responden Riskesdas 2018 yang dilibatkan dalam penelitian.. Analisis data menggunakan uji bivariat chi-square dan uji multivariat regresi logistik ganda pada perangkat pengolah data. Hasil penelitian menujukkan bahwa terdapat 15 variabel yang berhubungan signifikan dengan kejadian obesitas sentral, diantaranya: usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status pernikahan, gangguan mental emosional, konsumsi makanna manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan berlemak/gorengan, konsumsi softdrink, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok (p-value <0,05). Jenis kelamin perempuan diketahui sebagai faktor dominan kejadian obesitas sentral pada penduduk usia 25-64 tahun di wilayah perkotaa Indonesia (p-value 0,0005). OR dari kejadian obesitas sentral lebih tinggi 4,060 (95%CI: 3,947-4,175) kali pada kelompok responden berjenis kelamin perempuan, setelah dikontrol oleh variabel lainnya. Dengan demikian, masyarakat di wilayah perkotan, khususnya perempuan, dihimbau untuk lebih meningkatkan kesadaran terkait obesitas sentral . Masyarakat dihimbau untuk dapat mengurangi konsumsi makanan berisiko, melakukan olahraga secara teratur, menghindari stres, dan menghindari perilaku merokok dan konsumsi alkohol. Instansi kesehatan diharapkan dapat membantu masyarakat dengan memberikan edukasi gizi dan promosi keseatan terkait obesitas sentral.
Central obesity is a condition where there is an accumulation of fat in the abdomen. Central obesity is associated with the risk of non-communicable diseases such as type II diabetes mellitus, hypertension, dyslipidemia, metabolic syndrome, and cancer. The prevalence of central obesity is known to increase in both developed and developing countries. As many as 40.2% of individuals in the world are estimated to have central obesity. Indonesia is a developing country with an increasing prevalence of central obesity with an increase from 2007, 2013, and 2018 according to riskesdas data, respectively, by 18%, 26%, and 31%. The increase in central obesity is associated with economic development and urbanization leading to unfavorable changes in consumption habits of high-calorie foods and sugary drinks, physical activity, sedentary behavior, and stress. Riskesdas 2018 data states that the prevalence of central obesity in urban areas is higher than the national prevalence, which is 35%. This study aims to further analyze the dominant factors in the incidence of central obesity in the population aged 25-64 years in urban areas of Indonesia. There were 194,049 riskesdas 2018 respondents who were involved in this study. Data analysis used chi-square bivariate test and multiple logistic regression multivariate test on the applicationThe results showed that there were 15 variables that were significantly associated with the incidence of central obesity, including: age, gender, education level, employment status, emotional mental health, consumption of sweet foods, sugary drinks, fatty foods, soft drinks, fruit and vegetable consumption, alcohol consumption, physical activity, and smoking habits (p-value <0,05). Female gender is known as the dominant factor in the incidence of central obesity in the population aged 25-64 years in urban areas of Indonesia (p-value 0,0005). The OR of the incidence of central obesity was 4.06 (95%CI: 3,947-4,175) higher in the female respondent group, after being controlled by other variables. Thus, people in urban areas, especially women, are urged to increase awareness regarding central obesity. The public is encouraged to reduce the consumption of risky foods, do exercise regularly, avoid stress, and avoid smoking and alcohol consumption. Health agencies are expected to help the community by providing nutrition education and promotion of health related to central obesity.
Read More
S-11088
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Paramitha Anisa; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Rahmawati
S-7224
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuni Syahfitri; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Triyanti, Nuniek Ria Sundari, Sri Ridha Hasanah
Abstrak:

Latar Belakang: Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Prevalensi hipertensi yang tinggi pada penduduk usia 15–24 tahun menimbulkan tantangan baru dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular di Indonesia. Faktor-faktor biologis, sosial, dan psikologis (biopsikososial) diduga berperan dalam peningkatan kejadian hipertensi pada kelompok usia ini.

Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor-faktor biopsikososial dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia 15–24 tahun di Indonesia.

Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Analisis dilakukan terhadap 20.333 responden berusia 15–24 tahun dengan menggunakan analisis univariat, bivariat (uji chi-square), dan multivariat (regresi logistik berganda).

Hasil: Prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah pada penduduk usia 15–24 tahun sebesar 9,25%. Faktor biologis seperti usia (OR=1,44; CI 95%: 1,3–1,5), jenis kelamin laki-laki (OR=1,36; CI 95%: 1,3–1,4) dan status gizi lebih(OR=2,5; CI 95%: 2,3–2,6) secara signifikan berhubungan dengan kejadian hipertensi. Faktor sosial seperti status menikah (OR=1,2; CI 95%: 1,1–1,3) memiliki hubungan bermakna dengan hipertensi . Faktor psikologis yang signifikan konsumsi makanan asin. (OR=1,1; CI 95%: 1,0–1,2). Faktor yang paling dominan adalah status gizi lebih.

Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara faktor biopsikososial dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia 15–24 tahun khususnya status gizi lebih. Intervensi kesehatan masyarakat yang menyasar aspek gaya hidup sehat, deteksi dini, serta pendekatan lintas sektor diperlukan untuk menurunkan angka kejadian hipertensi pada kelompok usia muda di Indonesia.

Kata Kunci: hipertensi, biopsikososial, remaja, dewasa muda, SKI 2023, Indonesia


Background: Hypertension is a major risk factor for cardiovascular disease and is increasingly prevalent among young age groups. The high prevalence of hypertension among individuals aged 15–24 years presents new challenges in the prevention and control of non-communicable diseases in Indonesia. Biological, social, and psychological (biopsychosocial) factors are suspected to contribute to the rise in hypertension cases in this age group.  Objective: To examine the relationship between biopsychosocial factors and the incidence of hypertension among individuals aged 15–24 years in Indonesia.  Methods: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia, SKI). Analysis was conducted on 20,333 respondents aged 15–24 years using univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate (multiple logistic regression) methods.  Results: The prevalence of hypertension based on blood pressure measurements among individuals aged 15–24 years was 9.25%. Biological factors such as age (OR=1.44; 95% CI: 1.3–1.5), male gender (OR=1.36; 95% CI: 1.3–1.4), and overweight nutritional status (OR=2.5; 95% CI: 2.3–2.6) were significantly associated with hypertension. Social factors such as marital status (OR=1.2; 95% CI: 1.1–1.3) also showed a significant association. Among psychological factors, high salt intake was significantly associated (OR=1.1; 95% CI: 1.0–1.2). The most dominant factor was overweight nutritional status.  Conclusion: There is a significant relationship between biopsychosocial factors and the incidence of hypertension among individuals aged 15–24 years, particularly overweight status. Public health interventions focusing on healthy lifestyle promotion, early detection, and multisectoral approaches are essential to reduce the prevalence of hypertension in Indonesia's young population.  Keywords: hypertension, biopsychosocial, adolescents, young adults, SKI 2023, Indonesia

Read More
T-7265
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rayhana; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Putra, Wahyu Kurnia Yusrin, Anies Irawati
Abstrak: Prevalensi anemia anak di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, sebanyak 28,1%. Angka ini meningkat dari sebelumnya di tahun 2007 hanya sebesar 27,7%. Lalu meningkat lagi di tahun 2018 pada riskesdas menunjukan angka 38,5%. Hasil penelitian Zuffo et al., 2016); Prieto-Patron et al., 2018; Li et al., 2019; Woldie, Kebede and Tariku, 2015; Konstantyner, Roma Oliveira and De Aguiar Carrazedo Taddei, 2012 menunjukan bahwa kelompok yang lebih berisiko menderita anemia adalah usia 0-23 bulan. Penelitian di Bali tahun 2019 juga menunjukan hasil yang sama bahwa sebanyak 71% anak berusia dibawah dua tahun menderita anemia, sedangkan hanaya 9% anak usia diatas dua tahun yang menderita anemia. Untuk itu penelitian ini perlu dilakukan agar dapat diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia baduta di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui prevalensi kejadian anemia baduta di Indonesia dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia baduta di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Riskesdas tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 832 anak. Penelitian ini juga melakukan uji multivariat yaitu regresi logistic, untuk mengetahui faktor dominan kejadian anemia pada baduta di Indonesia. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa prevalensi anemia baduta mencapai 54,9%. Pada penelitian ini usia baduta 0-11 bulan [OR 1,770 (1,33-2,34)], status gizi wasting [OR 1,626 (1,03-2,55)], status gizi underweight [OR 1,556 (1,05-2,33)], pendidikan ibu rendah [OR 2,512 (1,39-4,54)], pendidikan ibu menengah [OR 1,893(1,07-3,32)], dan wilayah rumah tinggal perdesaan [OR 1,386 (1,05-1,82)] ditemukan beruhubungan signifikan dengan kejadian anemia baduta. Variabel paling dominan yang ditemukan adalah usia baduta. Oleh karena itu, disarankan bagi dinas kesehatan di Indonesia untuk menanggulangi anemia diharapkan posyandu dan puskesmas dapat sedini mungkin mendeteksi anemia pada anak, yakni pada rentang usia 3-5 bulan, atau setidaknya sesuai dengan rekomendasi skrining pertama anemia yakni, pada usia maksimal 9-12 bulan. Juga, diharapkan dapat menyediakan suplementasi yang cukup dan memadai baik untuk baduta maupun ibu hamil.
The prevalence of anemia in children in Indonesia, based on data from Indonesia Based Health Research in 2013, was 28.1%. This figure increased from the previous year in 2007 which was only 27.7%. Then it increased again in 2018 at riskesdas showing the figure of 38.5%. Research results Zuffo et al., 2016); Prieto-Patron et al., 2018; Li et al., 2019; Woldie, Kebede and Tariku, 2015; Konstantyner, Roma Oliveira and De Aguiar Carrazedo Taddei, 2012 showed that the group at higher risk for anemia was aged 0-23 months. Research in Bali in 2019 also showed the same results that as many as 71% of children under two years of age suffer from anemia, while only 9% of children aged over two years suffer from anemia. For this reason, this research needs to be carried out in order to know the factors associated with the incidence of anemia in under-two in Indonesia. The purpose of this study was to determine the prevalence of anemia in under-two in Indonesia and the factors associated with the incidence of anemia in under-two in Indonesia. This study uses secondary data from Indonesia Based Health Research 2018. The research design used is cross-sectional with a total of 832 children as respondents. This study also conducted a multivariate test, namely logistic regression, to determine the dominant factor in the incidence of anemia in children under two in Indonesia. Based on the results of the analysis, it is known that the prevalence of anemia in under-two reaches 54.9%. In this study, children aged 0-11 months [OR 1.770 (1.33-2.34)], nutritional status wasting [OR 1.626 (1.03-2.55)], nutritional status underweight [OR 1.556 (1.05 -2.33)], low maternal education [OR 2.512 (1.39-4.54)], secondary maternal education [OR 1.893(1.07-3.32)], and rural area of residence [OR 1.386 (1.05-1.82)] was found to be significantly associated with the incidence of anemia in under-two. The most dominant variable found was the children age. Therefore, it is recommended for health offices in Indonesia to overcome anemia, it is hoped that posyandu and puskesmas can detect anemia in children as early as possible, namely in the age range of 3-5 months, or at least according to the recommendation for the first screening for anemia, namely, at a maximum age of 9-12 month. Also, it is expected to provide adequate and adequate supplementation for both children and pregnant women.
Read More
S-10987
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive