Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39285 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Niti Emiliana; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ahmad Syafiq, Fathimah S. Sigit, Mahmud Fauzi, Nining Mularsih
Abstrak:
Di Jakarta terdapat sebanyak 28,2% pekerja kantoran yang mengalami obesitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan konsumsi minuman berpemanis dan faktor lainnya dengan kejadian obesitas pada karyawan di dua kantor BUMN di Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel karyawan BUMN di Jakarta yang berjumlah 102 responden. Uji statistik yang digunakan pada uji bivariat menggunakan chi square dan uji multivariat menggunakan regresi logistik ganda model determinan. Hasil uji menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin (p-value: 0,98), usia, (p-value: 0,282) durasi kerja (p-value: 0,199), masa kerja (p-value: 0,081), asupan protein (p-value: 1,000), asupan lemak (p-value: 0,614), asupan energi (p-value: 1,000) dan aktivitas fisik (p-value: 1,000). Namun juga ditemukan terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi minuman berpemanis (p-value: 0,031) dan asupan karbohidrat (p-value: 0,019) dengan kejadian obesitas pada karyawan di dua kantor BUMN di Jakarta. Analisi multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan obesitas adalah konsumsi minuman berpemanis (OR: 0,353) Perlu ada perhatian dan perbaikan pola gizi seimbang dan meningkatkan asupan karbohidrat dengan pemilihan sumber asupan makanan yang berkualitas tinggi dan pemilihan minuman berpemanis dengan varian rendah gula atau tanpa gula.

In Jakarta, there are 28.2% of office workers who are obese. The purpose of this study was to determine the relationship of sugar-sweetened beverage consumption and other factors with the incidence of obesity in employees at two state-owned enterprises in Jakarta. This study used a cross-sectional study design with a sample of SOE employees in Jakarta totaling 102 respondents. Statistical tests used in bivariate tests used chi-square, and multivariate tests used multiple logistic regression of determinant models. The results showed that there was no significant relationship between gender (p-value: 0,98), age (p-value: 0,282), work duration (p-value: 0,199), tenure (p-value: 0,081), protein intake (p-value: 1,000), fat intake (p-value: 0,614), energy intake (p-value: 1,000), and physical activity (p-value: 1,000). However, there was also a significant association between ssb consumption (p-value: 0.031) and carbohydrate intake (p-value: 0.019) with the incidence of obesity among employees in two state-owned enterprises in Jakarta. Multivariate analysis showed that the dominant factor associated with obesity was consumption of sugar-sweetened beverages (OR: 0,353). There is a need to pay attention to and improve balanced nutrition patterns and increase carbohydrate intake by selecting high-quality food intake sources and selecting sugar-sweetened beverages with low or no sugar variants.
Read More
T-7230
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
XGaluh Asri Bestari; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Triyanti, Dwi Setyo Irianingsih
Abstrak: Status gizi yang baik berhubungan erat dengan performa fisik yang baik, termasuk dalam lingkungan kerja sebagai kunci produktivitas industri. Namun, gizi pada karyawan masih belum mendapat perhatian khusus padahal karyawan menghabiskan separuh waktu terjaganya di tempat kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat faktor yang berhubungan dengan obesitas pada karyawan PT. XYZ. Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain studi cross-sectional melibatkan 715 karyawan dari pabrik A, B, C, dan D PT. XYZ. Analisis statistik menunjukkan bahwa obesitas memiliki hubungan bermakna dengan usia (p=0,000;OR=2,583), status pernikahan (p=0,001;OR=2,643), golongan pekerjaan (p=0,03;OR=1,721), persen lemak tubuh laki-laki (p=0,000;OR=19,314), asupan energi (p=0,047;OR=0,597), asupan protein (p=0,03;OR=0,606), asupan serat (p=0,027;OR=0,389), kebiasaan minum susu (p=0,018;OR=0,576), konsumsi suplemen (p=0,032;OR=0,693), aktivitas fisik (p=0,017;OR=1,491), dan perilaku merokok (p=0,008;OR=1,734). Adanya hubungan bermakna tersebut menjadikan karakteristik individu, konsumsi makanan, dan gaya hidup menjadi faktor yang berpengaruh terhadap obesitas. Kata kunci: gaya hidup, karakteristik individu, karyawan, konsumsi makanan, obesitas. Good nutritional status is closely related to excellent physical performance, including in workplace as a key of industrial productivity. However, nutrition of employees still has not taken care by the company, althoughthey spend half of their awaken time in workplace. The purpose of this study is to see the factors associated with obesity among employees in PT. XYZ. This study was conducted using a cross-sectional study involving 715 employees from factories A, B, C, and D in PT. XYZ. Statistical analysis showed that obesity had a significant association with age(p=0.000;OR=2.583), marital status (p=0.001;OR=2.643), occupation(p=0.03;OR=1.721), percent body fat in male (p=0.000;OR=19.314), energy intake(p=0.047;OR=0.597), protein intake (p=0.03;OR=0.606), fiber intake (p=0.027;OR=0.389), milk drinking habits (p=0.018;OR=0.576), consumption of supplements (p=0.032;OR=0.693), physical activity (p=0.017;OR=1.491), and smoking behavior (p=0.008;OR=1.734). The existence of significant associationsmade individual characteristics, food consumption, and lifestyle become factors that affect obesity. Keywords: obesity, employees, individual characteristics, food consumption, lifestyle
Read More
S-9394
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raddin Fathinnisa; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Tria Astika Endah P.
Abstrak: Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan adanya satu atau lebih abnormalitas lipid tubuh. Gaya hidup tidak sehat seperti pola makan tinggi lemak, kurang asupan serat, kurang aktivitas fisik, merokok, kurangnya pengetahuan gizi yang sering dijumpai pada karyawan perkantoran di perkotaan menjadi faktor risiko terjadinya ketidakseimbangan kadar lipid tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan lemak dan faktor lainnya dengan kejadian dislipidemia pada 85 karyawan Perusahaan X yang berlokasi di Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan pada bulan April 2025. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross sectional dengan data primer yang dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner, serta data sekunder dari hasil pemeriksaan medical check up. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 52 responden (61,2%) yang mengalami dislipidemia serta terdapat hubungan yang signifikan antara asupan lemak (p=0,008), asupan energi (p=0,009), dan status gizi (p=0,010) dengan kejadian dislipidemia. Sementara itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan serat, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, pengetahuan gizi, dan jenis kelamin.
Dyslipidemia is a lipid metabolism disorder characterized by one or more abnormalities in body lipids. Unhealthy lifestyles such as high-fat diets, low fiber intake, lack of physical activity, smoking, and lack of nutritional knowledge, which are often found among office workers in urban areas, become risk factors for the occurrence of lipid imbalance in the body. This study aims to determine the relationship between fat intake and other factors with the incidence of dyslipidemia among 85 employees of Company X located in Rasuna Said, Kuningan, South Jakarta in April 2025. This study was conducted with a cross-sectional design using primary data collected through interviews and questionnaires, as well as secondary data from medical check-up results. The research results show that there are 52 respondents (61.2%) who experience dyslipidemia, and there is a significant relationship between fat intake (p=0.008), energy intake (p=0.009), and nutritional status (p=0.010) with the occurrence of dyslipidemia. Meanwhile, there is no significant relationship between fiber intake, physical activity, smoking habits, nutritional knowledge, and gender
Read More
S-11909
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khonza Hanifa; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Dyah Santi Puspitasari
Abstrak: Perkembangan industri makanan dan minuman ringan di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat beberapa tahun terakhir. Tingkat konsumsi minuman ringan berpemanis terutama meningkat pesat pada kelompok usia muda. Konsumsi minuman ringan berpemanis yang berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif seperti masalah hiperaktivitas pada anak-anak, alergi, dan peningkatan berat badan yang dapat mengarah ke obesitas.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor individu dan faktor lingkungan dengan frekuensi konsumsi minuman ringan berpemanis pada mahasiswa S1 Reguler FKM UI tahun 2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan disain studi cross sectional. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner mandiri. Responden terdiri dari 146 orang mahasiswa yang berstatus mahasiswa aktif serta tidak memiliki diet khusus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 26,7% responden termasuk ke dalam konsumen minuman ringan berpemanis kategori tinggi. Uji chi square yang dilakukan menunjukkan terdapat hubungan antara pengaruh teman (p-value 0,007; OR=3,129 (1413-6,926),; dengan konsumsi minuman ringan berpemanis pada responden.

Kesimpulannya, daya beli dan lingkungan sosial memiliki peran untuk membentuk kebiasaan konsumsi pada usia dewasa muda. Promosi gizi yang menargetkan kelompok sosial dapat dilakukan untuk meningkatkan pola konsumsi minuman yang lebih sehat.

Kata kunci: dewasa muda, minuman ringan berpemanis
Read More
S-9906
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Ariani; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Susi Desminarti
S-7232
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Milla Ilfariza; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Asih Setiarini, Hera Ganefi
Abstrak: Prevalensi overweight dan obesitas pada remaja setiap tahun meningkat pesat di seluruh dunia. Kejadian overweight dan obesitas pada remaja akan bermanifestasi menjadi penyakit kronis di masa dewasa. Menurut data Riskesdas tahun 2010 prevalensi penduduk usia 13-15 tahun di Indonesia yang mengalami status gizi overweight dan obesitas sebesar 2,5% yang kemudian meningkat menjadi 10,8% pada tahun 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan konsumsi serat dan faktor-faktor lainnya dengan overweight dan obesitas pada siswa SMPN 98 Jakarta Tahun 2017. Desain yang digunakan adalah cross-sectional dengan 208 siswa dari kelas 7 dan 8 dengan metode total sampling dari 6 kelas selama April-Mei 2017. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 29,8% responden memiliki status gizi overweight dan obesitas. Uji statistik yang digunakan yaitu uji chi-square menunjukkan hubungan antara kebiasaan konsumsi serat, kebiasaan sarapan dan durasi tidur dengan overweight dan obesitas. Oleh karena itu, pihak sekolah perlu melakukan upaya pemantauan satus gizi remaja, progam penyuluhan gizi serta memasang media poster berkaitan dengan anjuran sayur dan buah. Kata Kunci Kebiasaan konsumsi serat, overweight dan obesitas, siswa SMP The prevalence overweight and obesity in adolescents increasing rapidly around the world every year. The incidence of overweight and obesity in adolescents will manifest as a chronic disease in adulthood. According to Riskesdas data in 2010 the prevalence of overweight and obesity in adolescent 13- 15 years old of 2,5% which then increased to 10,8% in 2013.The aim of this study to determine the relationship between fiber consumption habits and other factors with overweight and obesity in Junior High School Student of 98 Junior High School South Jakarta 2017. The design study used cross sectional with 208 student from grades 7th and 8th with a total sampling method from 6 classes during Aptil-May 2017. This study used univariate and bivariate analysis. Based from the result 29,8% of respondents had overweight and obesity and from analysis data by chi-square test, there were significantly relationship between fiber consumption habits, breakfast habits and duration of sleep with overweight and obesity. Therefore, the school should make efforts to monitor the nutritional status of adolescents, nutrition counseling program and putting up poster media related to vegetable and fruit recommendations. Key words fiber consumption habits, overweight and obesity, junior high school
Read More
S-9511
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ridha Alfinanianty Setiawan; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Sunersi Handayani
Abstrak:
Latar belakang: Tingginya konsumsi minuman manis di Indonesia tergolong sangat tinggi yang menempati posisi ketiga di Asia Tenggara. Hal tersebut berpotensi meningkatkan penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular. Risiko tersebut seringkali terjadi pada orang dewasa, terutama karyawan yang bekerja di kantor. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi minuman berpemanis pada karyawan PT Diamond Cipta Property Tbk tahun 2024. Metode: Penggunaan pendekatan kuantitatif dilakukan dengan desain cross-sectional dan menggunakan data primer sebanyak 260 responden. Hasil: Prevalensi konsumsi minuman manis tingkat tinggi pada karyawan PT Diamond Cipta Property Tbk tahun 2024 sebesar 86,2%. Terdapat hubungan antara jenis kelamin, tingkat stres, tingkat ekonomi, ketersediaan minuman berpemanis, dan media massa terhadap tingkat konsumsi minuman berpemanis. Sementara kemampuan membaca label dan frekuensi online food delivery tidak memiliki hubungan dengan tingkat konsumsi minuman berpemanis . Kesimpulan: Prevalensi konsumsi minuman berpemanis di tempat kerja tergolong tinggi, sehingga dibutuhkan edukasi bagi para karyawan terkait batasan konsumsi gula harian untuk meminimalisir risiko penyakit pada karyawan.

Background: There is a high consumption of sugar-sweetened beverages in Indonesia, which ranks third in Southeast Asia. It can potentially increase non-transmitted diseases such as diabetes and cardiovascular disease. These risks often occur in adults, especially employees who work in offices. Objective: This study aims to identify factors that influence the consumption of sugar-sweetened beverages among employees of PT Diamond Cipta Property Tbk in 2024. Methods: The use of a quantitative approach was carried out with a cross-sectional design and used primary data as many as 260 respondents. Results: The prevalence of high-level consumption of sweetened beverages among employees of PT Diamond Cipta Property Tbk in 2024 was 86.2%. There is a correlation between gender, stres level, economic level, availability of sugar-sweetened beverages, and mass media on the level of consumption of sugar-sweetened beverages. While the ability to read labels and frequency of online food delivery did not have a correlation with the level of consumption of sugar-sweetened beverages. Conclusion: The prevalence of sugar-sweetened beverage consumption in the workplace is high, so education for employees regarding daily sugar consumption limits is needed to minimize the risk of disease in employees.
Read More
S-11726
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afiyah Ratna Hastuti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Anastu Regita Nareswara, Sulistywati Murbiningrum
Abstrak: Secara global terjadi peningkatan prevalensi kejadian obesitas. Prevalensi obesitas di Indonesia mengalami peningkatan tiap tahunnya, berdasarkan Riskesdas kejadian obesitas pada usia ≥18 tahun dari 14,8% (2013) menjadi 21,8% (2018). Pekerja menjadi populasi yang memiliki risiko tinggi untuk terkena obesitas dikarenakan menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola tidur, asupan makronutrien, dan faktor lainnya terhadap kejadian obesitas pada pekerja di PT Sango Ceramics Indonesia.Desain dalam penelitian ini merupakan pendekatan cross sectional yang dilakukan di PT Sango Ceramics Indonesia pada bulan Februari-Maret tahun 2024. Sampel merupakan pekerja usia dewasa dengan berjumlah 121 orang. Analisis bivariat menggunakan chi square sedangkan analisis multivariat penelitian ini menggunakan uji regresi logistik. Dari hsail analisis didapatkan persentase kejadi obesitas pada pekerja di PT Sango Cermaics Indonesia sebesar 51,3%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara asupan energi, asupan karbohidrat, asupan lemak, asupan prortein, pola tidur dan aktivitas fisik terhadap kejadian obesitas pada pekerja. Sementara itu tidak terdapat hubungan signifikan antara usia, jenis kelamin, pendidikan, jenis pekerjaan, status merokok, asupan serat, frekuensi makan, kebiasaan makan gorengan, kebiasaan makanan manis terhadap kejadian obesitas. Sedangkan berdasar hasil analisis multivariat didapatkan hasil bahwa asupan karbohidrat berkontribusi besar terhadap kejadian obesitas OR 9,113 (95% CI:2,320-35,786). Dapat diartikan bahwa asupan karbohidrat dapat meningkatkan kejadian obesitas 9 kali lebih tinggi dibandingkan asupan karbohidrat cukup.
Globally, there is an increase in the prevalence of obesity. The prevalence of obesity in Indonesia is increasing every year, based on Riskesdas, the incidence of obesity increase from 14.8% (2013) to 21.8% (2018). Workers are a population that has a high risk of developing obesity because they spend most of their time at work. This research aims to determine the relationship between sleep patterns, macronutrient intake and other factors on the incidence of obesity in workers at PT Sango Ceramics Indonesia. This study used a cross sectional design with total sample 121 adult workers carried out at PT Sango Ceramics Indonesia in February-March 2024. Bivariate analysis used chi square while multivariate analysis in this study used the logistic regression test. It was found that the percentage of obesity among workers at PT Sango Ceramics Indonesia was 51.3%. The results of bivariate analysis show that there is a significant relationship between energy intake, carbohydrate intake, fat intake, protein intake, sleep patterns and physical activity on the incidence of obesity in workers. Meanwhile, there was no significant relationship between age, gender, education, type of work, smoking status, fiber intake, eating frequency, fried food intake habits, sweet food intke habits and the incidence of obesity. Meanwhile, based on the results of multivariate analysis, it was found that carbohydrate intake contributed greatly to the incidence of obesity OR 9.113 (95% CI: 2.320-35.786). It can be interpreted that carbohydrate intake can increase the incidence of obesity 9 times higher than adequate carbohydrate intake.
Read More
T-7119
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriani; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Sandra Fikawati, Nurfi Afriansyah
Abstrak:

Di era globalisasi ini banyak terjadi masalah gizi ganda. Masalah ini terutama banyak terjadi di negara berkembang dan  negara miskin. Masalah gizi ganda adalah munculnya masalah gizi lebih dengan gizi kurang juga masih menjadi masalah di negara tersebut. Masalah gizi lebih ini terjadi karena makanan murah yang dikonsumsi banyak mengandung tinggi gula, tinggi lemak, tinggi garam dan tinggi kalori yang dapat menyebabkan kegemukan terutama pada anak-anak. Kegemukan pada anak-anak akan menyebabkan menyebabkan timbulnya risiko penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, dan lain-lain kelak jika mereka dewasa nanti. Masa anak-anak merupakan masa yang penting untuk proses tumbuh kembangnya, untuk itu sangat diperlukan konsumsi makanan yang mengandung zatzat gizi yang diperlukan oleh tubuh anak-anak sesuai dengan kebutuhannya. Jika berlebihan akan menimbulkan dampak yang buruk bagi anak-anak. Konsumsi makanan pada anak-anak ditentukan dari apa yang mereka konsumsi sejak dini. Makanan yang pertama kali dikonsumsi oleh anak-anak adalah air susu ibu (ASI). ASI diketahui banyak mengandung gizi penting yang dibutuhkan oleh bayi, untuk itu pemerintah dan World Health Organization (WHO)  merekomendasikan untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan kehidupan pertama bayi. ASI juga diketahui memiliki efek protektif terhadap kegemukan pada anak. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengkaji mengenai hubungan antara konsumsi ASI eksklusif dan faktor lainnya dengan kejadian kegemukan pada anak usia 6-23 bulan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010.  Desain penelitian Riskesdas 2010 adalah cross sectional (potong lintang). Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis univariat, bivariat dan multivariat. Variabel dependen yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah status kegemukan pada anak usia 6-23 bulan berdasarkan IMT/U. Dalam penelitian ini didapatkan hasil proporsi kegemukan pada anak usia 623 bulan adalah 22,6% dan proporsi ASI eksklusif sebesar 19,9%. Dari hasil uji chisquare diketahui tidak ada hubungan bermakna antara ASI eksklusif dengan kegemukan, sedangkan hubungan yang bermakna ditemukan pada variabel berat lahir, pekerjaan ibu dan pengeluaran keluarga. Faktor yang paling berhubungan dari semua variabel independen yang diteliti adalah berat lahir. Kata kunci : Usia 6-23 bulan, Kegemukan, ASI eksklusif, Indonesia

Globalization era has make a double burden on nutrition problem. This problems happened in the develeloped and poor country. Double burden on nutrition is a problem with overnutrition has come while the undernutrition still become a problem. Overnutrition arise because a children consume cheap food that contain of high sugar, high fat, high salt and high calory that can cause a degenerative diseases such as cardiovaskuler, diabetes mellitus when they grow up later. Children period plays an important role for their development and growth, and for that they need the food that contain of nutrition that they need. If  it more than they need, it will become a bad impact for the child. For babies, the first food that they consume is breastmilk. Breastmilk has been known as an important nutrition for the baby so that the World Health Organization has recommend to give breastmilk only for the first six months of their early life. Breastmilk has a protective effect for overweight on child. Based on that reason, the writer interested to analyze the association between breastfeeding and other factors with overweight on children ages 6-23 months in Indonesia 2010. This research is a quantitative research using a secondary data from health research 2010 (Riskesdas 2010). Riskesdas 2010 design is a cross sectional. Data analysis are univariat, bivariat and multivariat. The dependent variable is an overweight status based on Basal Metabolism Index per Age (BMI/Age). This research has found that overweight proportion is 22,6% while the breastfeeding proportion is 19,9%. Chi-Square test has found that there is no relationship between breastfeeding with overweight while the significant relationship has been found on birth weight, mother occupation and family expenses. Keywords : Children ages 6-23 months, Overweight, Exclusive Breastfeeding, Indonesia

Read More
T-3477
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohammad Rafid Billy Ramadhan; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Triyanti, Anna Fitriani
Abstrak:
Konsumsi suplemen memiliki manfaat bagi performa olahraga. Meskipun demikian, banyak dari pengguna pusat kebugaran yang mengonsumsi suplemen tanpa panduan tenaga profesional seperti nutrisionis/dietisien. Hal ini meningkatkan risiko penggunaan suplemen yang kurang tepat, sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsumsi suplemen serta faktor-faktor yang berhubungan dengannya pada pengguna pusat kebugaran terpilih di Jakarta. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode cross-sectional pada 116 pengguna pusat kebugaran dari 3 pusat kebugaran di Jakarta. Variabel independen yang diteliti yaitu Muscle Dysmorphia, Exercise Addiction, self-esteem, citra tubuh, usia, jenis kelamin, durasi latihan, pengalaman latihan, intensitas latihan, dan paparan media sosial. Hasil yang didapatkan adalah prevalensi konsumsi suplemen adalah sebesar 67,2%. Sumber informasi terkait suplemen paling umum didapatkan dari teman atau internet. Uji chi-square menunjukkan adanya hubungan antara jenis kelamin (OR = 3,055; 95% CI: 1,298—7,188), pengalaman latihan 7—12 bulan (OR = 5,4; 95% CI: 1,621—17,991) dan >1 tahun (OR = 5,091; 95% CI: 1,910—13,571) dengan konsumsi suplemen. Oleh karena itu, intervensi disarankan untuk dilakukan pada laki-laki atau orang yang sudah berolahraga di pusat kebugaran lebih dari 6 bulan. Pengguna pusat kebugaran juga disarankan untuk berkonsultasi dengan nutrisionis/dietisien sebelum memutuskan untuk menggunakan suplemen.

Supplement consumption provides many potential benefits for exercise performance. However, many gym members use supplements without consulting professionals such as nutritionist/dietitian. This increases the risk of inappropriate supplement consumption, which in turn increases the potential of getting negative side effects. This study aims to describe the consumption of supplements and the factors associated with them among users of selected fitness centers in Jakarta. This is a cross-sectional study conducted on 116 fitness center users from 3 fitness centers in Jakarta. The independent variables studied were Muscle Dysmorphia, Exercise Addiction, self-esteem, body image, age, gender, exercise duration, exercise experience, exercise intensity, and social media exposure. Results showed that 67,2% of the respondents had used supplements. The main source of information were friends and internet. The chi-square test showed a significant relationship between gender (OR = 3,055; 95% CI: 1,298—7,188), exercise experience of 7—12 months (OR = 5,4; 95% CI: 1,621—17,991) and >1 year (OR = 5,091; 95% CI: 1,910—13,571) with supplement consumption. Therefore, intervention is recommended for men or people who have been exercising at the fitness center for more than 6 months. Fitness center members are also advised to consult nutritionist/dietitian before deciding to use supplements.
Read More
S-11382
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive