Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39581 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dharma Andika Yudha; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Fetrina Lestar, Ali Syahrul Chairuman
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi, asupan gizi, dan kelelahan kerja pada petani padi sektor informal di Desa Batujaya, Kabupaten Karawang. Petani di sektor ini bekerja dengan intensitas fisik tinggi, namun sering menghadapi keterbatasan dalam asupan nutrisi. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 45 responden melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk asupan gizi, pengukuran indeks massa tubuh (IMT) untuk status gizi, serta kuesioner IFRC untuk kelelahan kerja. Hasil analisis inferensial menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa asupan gizi (p = 0,003), status gizi (p = 0,001), masa kerja (p = 0,012), keluhan sakit (p = 0,000), dan beban kerja (p = 0,000) memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kelelahan kerja. Sementara itu, variabel usia dan jenis kelamin tidak berhubungan signifikan. Petani dengan asupan dan status gizi yang buruk cenderung mengalami kelelahan kerja lebih tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya pemenuhan gizi yang memadai serta pengelolaan beban kerja untuk mencegah kelelahan kerja dan meningkatkan produktivitas. Diperlukan intervensi berupa edukasi gizi, akses pangan bergizi, serta penguatan program kesehatan kerja berbasis komunitas di sektor informal pertanian.


This study aims to analyze the relationship between nutritional status, nutrient intake, and work fatigue among rice farmers in the informal sector in Batujaya Village, Karawang Regency. Farmers in this sector engage in high-intensity physical labor but often face limitations in nutrient intake. This research employed a cross-sectional design involving 45 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using the Food Frequency Questionnaire (FFQ) for nutrient intake, Body Mass Index (BMI) measurements for nutritional status, and the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) questionnaire for work fatigue. Inferensial analysis using the Chi-Square test showed that nutrient intake (p = 0.003), nutritional status (p = 0.001), years of service (p = 0.012), reported illness (p = 0.000), and workload (p = 0.000) had a statistically significant relationship with the level of work fatigue. In contrast, age and gender were not significantly associated. Farmers with poor nutritional intake and status tended to experience higher levels of work fatigue. These findings underscore the importance of adequate nutritional fulfillment and workload management to prevent work fatigue and enhance productivity. Interventions are needed in the form of nutrition education, improved access to nutritious food, and the strengthening of community-based occupational health programs in the informal agricultural sector. Keywords: Nutritional Status, Nutrient Intake, Work Fatigue, Rice Farmers, Informal Sector, Batu Jaya Village.
Read More
T-7419
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umar Mulkhan Fajar; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Putri Ayuni Alayyannur
Abstrak:
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor dengan risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tertinggi di dunia, namun implementasi K3 di kalangan petani di Indonesia masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan kecelakaan kerja pada petani aktif di Desa X, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan seluruh 54 petani aktif anggota kelompok tani sebagai responden melalui metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri atas instrumen pengetahuan (11 item, skala dikotomi), sikap (7 item, skala Likert 4 poin), dan praktik (12 item, skala frekuensi 4 poin) mengenai pencegahan kecelakaan kerja. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (83,3%) dengan rata-rata usia 52,5 tahun dan rata-rata masa kerja 21,0 tahun. Sebanyak 57,4% responden belum pernah memperoleh informasi mengenai pencegahan kecelakaan kerja dan 33,3% pernah mengalami kecelakaan kerja. Dari sisi pengetahuan, sebagian besar responden (59,3%) tergolong memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan kecelakaan kerja (skor ≥8 dari 11) dengan mean 7,52 (SD ± 2,55), meskipun pengetahuan terendah ditemukan pada aspek keselamatan kelistrikan (46,3%) dan membaca petunjuk penggunaan mesin (55,6%). Dari sisi sikap, sebanyak 57,4% responden memiliki sikap positif terhadap pencegahan kecelakaan kerja (mean 21,28; SD ± 3,84) berdasarkan cut-off mean setelah uji normalitas Shapiro-Wilk. Dari sisi praktik, hanya 37,0% responden yang tergolong memiliki praktik pencegahan kecelakaan kerja yang baik (skor ≥36 dari 48) dengan mean 30,39 (SD ± 8,05). Praktik terendah ditemukan pada pencatatan penggunaan pestisida (68,5% tidak pernah) dan perlindungan kelistrikan mesin (50,0% tidak pernah). Terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan sikap yang relatif lebih baik dibandingkan dengan praktik pencegahan kecelakaan kerja yang masih rendah. Temuan ini mengindikasikan perlunya intervensi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada penguatan faktor pendukung (enabling factors) dan peningkatan akses terhadap alat pelindung diri guna mendukung penerapan pencegahan kecelakaan kerja di kalangan petani.

The agricultural sector is one of the industries with the highest occupational safety and health (OSH) risks worldwide. However, the implementation of occupational safety and health (OSH) among farmers in Indonesia remains suboptimal. This study aimed to describe the knowledge, attitudes, and practices regarding occupational accident prevention among active rice farmers in Village X, Rancaekek District, Bandung Regency. A descriptive study with a quantitative approach was conducted involving all 54 active members of farmer groups using a total sampling method. Data were collected using a structured questionnaire consisting of a knowledge instrument (11 dichotomous items), an attitude instrument (7 items on a 4-point Likert scale), and a practice instrument (12 items on a 4-point frequency scale) related to occupational accident prevention. Data were analyzed using univariate analysis with frequency distributions and descriptive statistics. The results showed that most respondents were male (83.3%), with a mean age of 52.5 years and an average working experience of 21.0 years. A total of 57.4% of respondents had never received information regarding occupational accident prevention, while 33.3% had experienced a work-related accident. Regarding knowledge, most respondents (59.3%) demonstrated good knowledge of occupational accident prevention (score ≥8 out of 11), with a mean score of 7.52 (SD ± 2.55). The lowest levels of knowledge were found in electrical safety (46.3%) and reading machine operating instructions (55.6%). Regarding attitudes, 57.4% of respondents demonstrated positive attitudes toward occupational accident prevention (mean = 21.28, SD ± 3.84), based on the mean cut-off after the Shapiro-Wilk normality test. Regarding practices, only 37.0% of respondents demonstrated good occupational accident prevention practices (score ≥36 out of 48), with a mean score of 30.39 (SD ± 8.05). The poorest practices were related to recording pesticide use (68.5% never performed) and protecting machinery electrical systems (50.0% never performed). A noticeable gap was observed between respondents' relatively good knowledge and attitudes and their poor occupational accident prevention practices. These findings indicate the need for interventions that not only improve knowledge but also strengthen enabling factors and increase access to personal protective equipment to support the implementation of occupational accident prevention among farmers.
Read More
S-12373
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arina Syahida Hurva Radisan Saf; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Ina Dewi Kania
Abstrak:
Sektor pertanian merupakan salah satu pekerjaan paling berbahaya dengan kecelakaan kerja, paparan bahan kimia, dan angka kematian yang tinggi. Petani padi terpapar oleh bahaya fisik, kimia, biologi, ergonomi, dan bahaya keselamatan. Perilaku kesehatan merupakan gabungan dari pengetahuan, sikap, dan praktik. Perilaku K3 sangat terkait dengan upaya pemeliharaan dan peningkatan kondisi keselamatan dan kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor karakteristik demografi yang berhubungan dengan pengetahuan, sikap, dan praktik K3 pada petani padi di Desa Linggar. Sampel diambil dari setiap kelompok tani padi. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur. Analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif, uji Chi- Square, dan uji Fisher Exact. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan dengan usia (p=0,001; OR=0,183; 95% CI:0,066-0,512) dan tingkat pendapatan dengan pengetahuan (p=0,028; OR=3,111; 95% CI:1,110-8,716). Petani berusia ≥60 tahun dan petani dengan pendapatan rendah kemungkinan memiliki tingkat pengetahuan kurang baik yang lebih besar. Tingkat pendapatan berhubungan dengan sikap (p = 0,03; OR=0,271; 95% CI:0,080-0,917). Petani dengan tingkat pendapatan tinggi kemungkinan memiliki sikap negatif terhadap K3 yang lebih besar. Tingkat pendidikan berhubungan dengan praktik (p=0,041; OR=3,885; 95% CI:0,995-15,17). Petani dengan tingkat pendidikan dasar kemungkinan memiliki praktik kurang baik yang lebih tinggi. Dinas Pertanian Kabupaten Bandung dapat bekerja sama dengan instansi lain untuk menyelenggarakan promosi K3 pada petani usia ≥60 tahun, petani dengan pendapatan rendah maupun tinggi, dan petani dengan tingkat pendidikan dasar.

Agriculture is one of the most dangerous industries, with high rates of occupational accidents, chemical exposure, and fatality rates. Rice farmers are exposed to various physical, chemical, biological, ergonomic, and safety hazards. Health behavior is a combination of knowledge, attitude, and practice. Occupational safety and health (OSH) behavior plays a central role in maintaining and promoting workers' safety and health conditions. This study examined which demographic characteristics were associated with OSH knowledge, attitude, and practice among rice farmers in Linggar Village. Samples were drawn from each farmer group in the village, with data collected through structured interviews and analyzed using descriptive statistics, the Chi-Square test, and Fisher's Exact test. The analysis revealed a significant association between age and knowledge (p=0.001; OR=0.183; 95% CI: 0.066–0.512), as well as between income and knowledge (p=0.028; OR=3.111; 95% CI: 1.110–8.716). Farmers aged 60 and above, along with those in lower-income brackets, were more likely to have poor OSH knowledge. Income was also linked to attitude (p=0.03; OR=0.271; 95% CI: 0.080–0.917), with higher-income farmers more likely to hold negative attitudes toward OSH. Education level was associated with practice (p=0.041; OR=3.885; 95% CI: 0.995–15.17), with less-educated farmers more likely to engage in poor OSH practices. These findings suggest Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, in collaboration with other authorities could develop OSH promotion programs, particularly for farmers aged 60 and above, those at either end of the income spectrum, and those with only basic education.
Read More
S-12443
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Benita Riska; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Ina Dewi Kania
Abstrak:
Pertanian merupakan salah satu sektor dengan tenaga kerja terbanyak yang tidak terlepas dari bahaya dan risiko. Petani sebagai tenaga kerja didalamnya membutuhkan pengetahuan, sikap, dan praktik Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang baik guna mencegah potensi risiko. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan serta menganalisis pengetahuan, sikap, praktik K3, serta karakteristik demografi pada petani padi di Desa Sukamulya tahun 2026. Karakteristik demografi pada penelitian ini antara lain jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pengalaman di pekerjaan lain, pengalaman bertani, status petani, dan menerima informasi K3. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan metode kuantitatif. Sampel diambil menggunakan teknik probability sampling. Sebanyak 80 petani padi dari kelompok-kelompok tani di Desa Sukamulya, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat berpartisipasi dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara terpimpin menggunakan kuesioner lalu dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 51,2% petani padi memiliki pengetahuan K3 yang baik, 61,3% petani padi memiliki sikap K3 yang positif, dan 57,5% petani padi memiliki praktik K3 yang baik. Terdapat hubungan signifikan antara karakteristik demografi dan pengetahuan K3, yaitu jenis kelamin (p=0,008; OR=0,198) dan status petani (p=0,038; OR=4,4). Terdapat hubungan signifikan antara karakteristik demografi dan sikap K3, yaitu usia (p=0,039; OR=0,357). Sementara itu, tidak terdapat hubungan signifikan antara karakteristik demografi dan praktik K3. Penyuluhan dan pelatihan K3, pendampingan implementasi K3, pengadaan alat pelindung diri, hingga pengembangan regulasi K3 pada sektor pertanian disarankan dalam peningkatan pengetahuan, sikap, dan praktik K3 pada petani padi di Desa Sukamulya.

Agriculture is one of the sectors with the largest workforce, which is inherently linked to hazards and risks. Farmers, as the workers involved, need good knowledge, attitudes, and practices regarding Occupational Health and Safety (OHS) to prevent potential risks. This study aims to describe and analyze the knowledge, attitudes, and practices of Occupational Safety and Health (OSH), as well as the demographic characteristics of rice farmers in Sukamulya Village in 2026. The demographic characteristics examined in this study include gender, age, highest level of education, experience in other jobs, farming experience, farmer status, and access to OSH information. This study used a cross sectional design with quantitative methods. Samples were selected using a probability sampling technique. A total of 80 rice farmers from existing farmer groups in Sukamulya Village, Rancaekek Subdistrict, Bandung Regency, West Java, participated in this study. Data were collected through structured interviews using a questionnaire and subsequently analyzed using the Chi-Square test. The results showed that 51.2% of rice farmers had good OSH knowledge, 61.3% had positive OSH attitudes, and 57.5% practiced good OSH. There was a significant association between demographic characteristics and OSH knowledge, specifically gender (p=0.008; OR=0.198) and farmer status (p=0.038; OR 4.4). There was a significant association between demographic characteristics and OSH attitudes, specifically age (p=0.039; OR=0.357). Meanwhile, there was no significant association between demographic characteristics and OSH practices. OSH education and training, guidance on OSH implementation, the provision of personal protective equipment, and the development of OSH regulations in the agricultural sector are recommended to improve the knowledge, attitudes, and OSH practices of rice farmers in Sukamulya Village.
Read More
S-12448
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisa Yonelia; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Istiati Suraningsih
Abstrak: Skripsi ini membahas tentang penilaian risiko K3 pada petani padi di Desa Ngrendreng, Ngawi, Jawa Timur pada tahun 2012 dengan menganalisis bahaya dan risiko yang terdapat pada aktivitas dan lingkungan kerja. Penelitian ini adalah semikuantitatif deskriptif analitik dengan pendekatan observasional, serta menggunakan standar AS/NZS 4360:2004.
 
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas petani padi memiliki 71 risiko dengan jumlah risiko tertinggi pada kegiatan penggilingan padi. Risiko tertinggi memiliki nilai 1500 (very high), yaitu pada risiko ergonomi, pajanan bising, getar, radiasi UV, bahan kimia, gas, dan debu.
 

The focus fo this study was OHS risk assessment in rice farmers in Ngrendeng Village, Ngawi, East Java in 2012 with analyzed hazard and risk on activities and workplace. This study was semi-quantitative analitical descriptive with observational approach using AS/NZS 4360:2004 standard.
 
The result showed that rice farmers’ activities have 71 risks with the highest number of risk in rice grinding activity. The highest value of risk was 1500 (very high) from ergonomy, noise, vibration, UV radiation, chemical, gas, and dust.
Read More
S-7737
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Tri Rizki Febriansyah; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Putri Ayuni Alayyannur
Abstrak:
Kondisi kerja di sektor pertanian masih ditandai oleh rendahnya pengetahuan, sikap, dan praktik keselamatan dan kesehatan kerja (K3), keterbatasan penyediaan alat pelindung diri, jam kerja yang panjang dan tidak teratur, serta beban kerja yang tinggi dengan upah yang relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik individu dengan pengetahuan, sikap, dan praktik K3 pada petani padi di Desa Haurpugur, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dan metode survei analitik. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung kepada petani padi menggunakan kuesioner terstruktur pada Mei-Juni 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman penyuluhan dengan pengetahuan K3. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan sikap K3, serta antara pengalaman penyuluhan dengan praktik K3. Penelitian ini menyimpulkan bahwa beberapa karakteristik individu berhubungan dengan pengetahuan, sikap, dan praktik K3 pada petani padi. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan penerapan K3 melalui penguatan program penyuluhan pertanian serta dukungan kebijakan dari instansi terkait yang mempertimbangkan karakteristik individu petani padi guna mendorong terbentuknya perilaku kerja yang lebih aman di sektor pertanian.

Working conditions in the agricultural sector continue to be characterized by inadequate occupational safety and health (OHS) knowledge, attitudes, and practices, limited availability of personal protective equipment (PPE), long and irregular working hours, and high workloads accompanied by relatively low wages. This study aimed to analyze the association between individual characteristics and OHS knowledge, attitudes, and practices among rice farmers in Haurpugur Village, Rancaekek District, Bandung Regency. A quantitative approach with a cross-sectional study design and an analytical survey method was employed. Bivariate data analysis was performed using the Chi square test. Data were collected through face-to-face interviews with rice farmers using a structured questionnaire between May and June 2026. The findings revealed significant associations between age, educational level, and participation in agricultural extension programs and OHS knowledge. In addition, significant associations were found between sex and OHS attitudes, as well as between participation in agricultural extension programs and OHS practices. This study concludes that several individual characteristics are associated with OHS knowledge, attitudes, and practices among rice farmers. Therefore, efforts to improve OHS knowledge and its implementation should be strengthened through enhanced agricultural extension programs and policy support from relevant institutions that take farmers' individual characteristics into account in order to promote safer work practices in the agricultural sector.
Read More
S-12382
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maharani Ayundhias; Pembimbing: Abdul Kadir; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Aldila Faza Zulfah
Abstrak:
Pekerja shift dan on-call di sektor kelistrikan memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja (fatigue) yang berdampak pada penurunan fungsi kognitif, produktivitas, kesehatan, dan keselamatan kerja. Kelelahan ini dipengaruhi oleh faktor risiko terkait pekerjaan (sistem on-call, shift kerja, masa kerja, beban kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, tidur, status gizi, pekerjaan sampingan, status menikah, riwayat penyakit). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja (fatigue) pada pekerja shift dan on-call. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan metode mixed method. Data kuantitatif diperoleh dari 98 responden menggunakan kuesioner OFER, PSQI, NASA-TLX, pengukuran tinggi badan dan berat badan, serta didukung data kualitatif melalui wawancara terbuka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa beban kerja berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja (fatigue) akut (p = 0,027; OR = 2,703) dan kelelahan kerja (fatigue) kronis (p = 0,034; OR = 2,618). Selain itu, kuantitas tidur (p = 0,035; OR = 3,906) dan status menikah (p = 0,003; OR = 4,354) memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja (fatigue) akut. Kesimpulan penelitian ini menekankan terkait pentingnya implementasi fatigue management dan peningkatan kesadaran diri dalam mengelola kelelahan kerja (fatigue). 


Shift and on-call workers in the electricity sector have a high risk of experiencing fatigue, which impacts cognitive function, productivity, health and safety. This fatigue is influenced by work-related risk factors (on-call system, work shift, work period, workload) and non-work-related risk factors (age, sleep, nutritional status, side job, married status, disease history). The purpose of this study was to analyze the risk factors for fatigue in shift and on-call workers. The study used a cross sectional design with mixed methods. Quantitative data were obtained from 98 respondents using OFER, PSQI, NASA-TLX questionnaires, height and weight measurements, and supported by qualitative data through open interviews. The results of this study showed that workload was significantly associated with acute fatigue (p = 0.027; OR = 2.703) and chronic fatigue (p = 0.034; OR = 2.618). In addition, sleep quantity (p = 0.035; OR = 3.906) and married status (p = 0.003; OR = 4.354) had significant associations with acute fatigue. The conclusion of this study emphasizes the importance of implementing fatigue management and increasing self-awareness in managing fatigue.
Read More
S-12013
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Erid Angelica; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, David Irianto, Subkhan
Abstrak:
Kelelahan kerja (fatigue) merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan human performance serta meningkatkan risiko human error dan kecelakaan kerja, khususnya pada industri konstruksi yang memiliki karakteristik pekerjaan dengan tuntutan fisik dan mental yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja serta hubungan antara kelelahan kerja dan human performance pada pekerja konstruksi PT X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 219 pekerja konstruksi PT X yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti meliputi faktor terkait pekerjaan (durasi kerja, shift kerja, beban kerja, pekerjaan monoton, dan reward) serta faktor tidak terkait pekerjaan (indeks massa tubuh, waktu tempuh, usia, kualitas tidur, dan kuantitas tidur). Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan Fatigue Assessment Scale for Construction Workers(FASCW), sedangkan human performance diukur menggunakan instrumen Human Performance dari U.S. Department of Energy (DOE). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan Uji Regresi Logistik Ordinaluntuk menganalisis hubungan faktor-faktor dengan kelelahan kerja serta Uji Mann–Whitney untuk menganalisis hubungan antara kelelahan kerja dan human performance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 187 pekerja (85,4%) mengalami kelelahan kerja. Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi kerja (OR=2,61; 95% CI: 1,20–5,76), beban kerja (OR=32,37; 95% CI: 9,40–111,48), pekerjaan monoton (OR=10,42; 95% CI: 3,07–35,39), indeks massa tubuh (OR=3,93; 95% CI: 1,68–9,19), waktu tempuh (OR=2,38; 95% CI: 1,10–5,17), usia (OR=3,44; 95% CI: 1,58–7,50), kualitas tidur (OR=3,20; 95% CI: 1,41–7,29), dan kuantitas tidur (OR=2,53; 95% CI: 1,18–5,42) dengan kelelahan kerja, sedangkan shift kerja (OR=1,42; 95% CI: 0,67–3,01) dan reward (OR=0,83; 95% CI: 0,34–2,05) tidak berhubungan dengan kelelahan kerja. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dan human performance (p<0,001), di mana pekerja yang mengalami kelelahan cenderung memiliki human performance yang lebih buruk dibandingkan pekerja yang tidak mengalami kelelahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelelahan kerja pada pekerja konstruksi PT X berhubungan dengan berbagai faktor terkait pekerjaan maupun faktor tidak terkait pekerjaan serta berhubungan dengan penurunan human performance. Oleh karena itu, pengelolaan kelelahan kerja perlu menjadi bagian dari program keselamatan dan kesehatan kerja melalui pengendalian faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja guna meningkatkan keselamatan, kesehatan, dan human performance pekerja.

Occupational fatigue is one of the major factors contributing to decreased human performance and an increased risk of human error and workplace accidents, particularly in the construction industry, where work is characterized by high physical and mental demands. This study aimed to analyze the factors associated with occupational fatigue and to examine the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X. This study employed a cross-sectional design involving 219 construction workers at PT X selected through purposive sampling. The variables examined included work-related factors (working hours, shift work, workload, monotonous work, and reward) and non-work-related factors (body mass index, commuting time, age, sleep quality, and sleep duration). Occupational fatigue was assessed using the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), while human performance was measured using the Human Performance instrument developed by the U.S. Department of Energy (DOE). Data were analyzed descriptively and inferentially using Ordinal Logistic Regression to examine the associations between the studied factors and occupational fatigue, and the Mann–Whitney test to analyze the relationship between occupational fatigue and human performance. The results showed that 187 workers (85.4%) experienced occupational fatigue. Significant associations were found between occupational fatigue and working hours (OR=2.61; 95% CI: 1.20–5.76), workload (OR=32.37; 95% CI: 9.40–111.48), monotonous work (OR=10.42; 95% CI: 3.07–35.39), body mass index (OR=3.93; 95% CI: 1.68–9.19), commuting time (OR=2.38; 95% CI: 1.10–5.17), age (OR=3.44; 95% CI: 1.58–7.50), sleep quality (OR=3.20; 95% CI: 1.41–7.29), and sleep duration (OR=2.53; 95% CI: 1.18–5.42). In contrast, shift work (OR=1.42; 95% CI: 0.67–3.01) and reward (OR=0.83; 95% CI: 0.34–2.05) were not significantly associated with occupational fatigue. Furthermore, occupational fatigue was significantly associated with human performance (p<0.001), with fatigued workers demonstrating poorer human performance than those who were not fatigued. This study concludes that occupational fatigue among construction workers at PT X is associated with both work-related and non-work-related factors and is significantly associated with decreased human performance. Therefore, fatigue management should be integrated into occupational safety and health programs by addressing the factors associated with occupational fatigue to improve workers' safety, health, and human performance.
Read More
T-7691
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Motivasi Manurung; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Harumiti Ramli
Abstrak: Masalah kesehatan dan keselamatan kerja di bengkel pembuatan alas kakidiakibatkan oleh lemahnya manajemen risiko, sehingga dibutuhkan pengkajianrisiko dalam rangka pengelolaan risiko. Penelitian ini berisi analisis risikokesehatan dan keselamatan kerja di Bengkel Pembuatan Alas Kaki Tahun 2016.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai tingkat risiko kesehatan dankeselamatan kerja pada setiap tahapan proses produksi alas kaki. Penilaian risikomenggunakan metode W.T. Fine yaitu dengan menganalisis nilai konsekuensi,pajanan dan kemungkinan. Hasil penelitian menyatakan bahwa level risiko yangdimiliki pada setiap langkah kerja meliputi level very high yaitu bahaya kimia,level priority 1 yaitu bahaya ergonomi dan bahaya mekanik, level substantialyaitu desain kerja (housekeeping), level priority 3 yaitu bahaya kinetik danacceptable yaitu bahaya psikososial.Kata kunci:Penilaian risiko, konsekuensi, panjanan, kemungkinan, tingkat risiko, metodeW.T. Fine
Occupational health and safety problems in small and medium enterprises arecaused by lack of risk management. This research aimed to assess the OHS risklevel at five small shoes industries. Risk assessment was done by implementingW.T Fine method to analyze risk level by scoring the level of probability,exposure and consequence. This study found that the risk of chemical hazard(solvent vapor from glue) was very high; the risk of ergonomic and mechanicalhazard were categorized as priority 1, the risk of poor housekeeping wassubstantial; the risk of kinetic hazard was priority 3; and the risk of psychosocialhazards was acceptable.Keywords:Risk assessment, consequence, exposure, probability, level of risk. W.T. Finemethod.
Read More
S-9215
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jhon Martua Malau; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Fahmi Syaiful
Abstrak:
Kelelahan pengemudi truk menjadi faktor risiko penting di sebagian besar kecelakaan lalu lintas. Statistik menunjukkan kelelahan pengemudi truk menyumbang sekitar 10- 15% dari kecelakaan lalu lintas jalan. Kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas pada pengemudi truk yang kelelahan delapan kali lebih tinggi daripada pengemudi truk yang cukup istirahat. Menurut Badan Pusat Statistik (2019), dari tahun 2015- 2019, jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia mengalami kenaikan rata-rata 4,87 persen per tahun. Korlantas POLRI mencatat jumlah kecelakaan sepanjang 2019 sebanyak 116.411. Jumlah tersebut naik 6,59 persen dibandingkan pada tahun 2018 dengan 109.215 kejadian. Kecelakaan mobil barang menempati posisi ketiga dengan jumlah kecelakaan 5,02 persen atau sekitar 5,822 kejadian. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat fatigue serta faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan fatigue pada pengemudi truk. Penelitian ini dilaksanakan pada Juli – Oktober 2021 di PT.X sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang transportasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 64 pengemudi truk. Data dianalisis dengan uji statistik chi square. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 89% responden mengalami fatigue sedang dan 11% responden mengalami fatigue tinggi. Dari penelitian ini diketahui ada hubungan antara kualitas tidur, durasi kerja dan beban lingkungan kerja dengan keluhan fatigue pada pengemudi truk (p<0,05). Sedangkan faktor individu berupa usia dan kebiasaan merokok, kuantitas tidur, serta faktor beban mental berupa beban kerja, jadwal kerja diketahui tidak memiliki hubungan dengan keluhan fatigue pada pengemudi truk (p>0,05). Kata Kunci: Kelelahan, Pengemudi Truk, Transportasi, Keselamatan

Fatigue is a significant factor regarding safety issues such as transportation incident. Statistics show truck driver fatigue accounts for about 10 to 15% of serious road traffic accidents. The likelihood of a traffic accident occurring in an exhausted truck driver is eight times higher than for a well rested truck driver. According to the Badan Pusat ix Statistik (2019), During the 2015-2019 period, the number of traffic accidents in Indonesia increased by an average of 4.87 percent per year. Korlantas POLRI recorded the number of accidents throughout 2019 as many as 116,411. The number is up 6.59 percent compared to 2018 with 109,215 events. Accidents on truck cars occupy the third position based on the type of vehicle with the number of accidents 5.02 percent or about 5,822 incidents. Therefore, this study aims to describe the level of fatigue and the factors associated with complaints of fatigue on truck drivers. This research was conducted in July – October 2021 at PT. X as a company engaged in the transportation sector. This research is a quantitative research with a cross sectional study design. The sample in this study were 64 truck drivers. The data were then analyzed by chi square statistical test. The results of the study showed that 89% of respondents experienced moderate fatigue and 11% of respondents experienced high fatigue. From this research, it is also known that there is a relationship between sleep quality, duration of work and work environment load with complaints of fatigue in machinists (p <0.05). While individual factors in the form of age and smoking habits, sleep quantity and mental burden factors in the form of workload, work schedules are known to have no relationship with fatigue complaints among drivers (p>0.05). Keywords: Fatigue, Truck Drivers, Transportation, Safety
Read More
T-7519
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive