Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40545 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Anaka Irsa Santoso; Pembimbing: Fitri Kurniasari; Penguji: Laila Fitria, Raden Al Iman
Abstrak:
Kelelahan kerja (fatigue) merupakan kondisi yang dapat memengaruhi keselamatan dan kinerja operator alat berat di sektor pertambangan. Operator dump truck (DT) dan high dump truck (HD) bekerja dengan tuntutan fisik dan mental yang tinggi serta terpapar kondisi lingkungan kerja kabin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor karakteristik individu dan lingkungan kerja kabin terhadap kejadian fatigue pada operator DT dan HD shift pagi di area tambang PT X, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan jumlah responden sebanyak 40 operator. Faktor karakteristik individu yang diteliti meliputi usia, masa kerja, durasi tidur, dan status hidrasi, sedangkan faktor lingkungan kerja kabin meliputi suhu, kelembapan, dan heat index. Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan kuesioner Subjective Self Rating Test (SSRT) dari Industrial Fatigue Research Committee (IFRC). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square, serta analisis Odds Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelelahan kerja berada pada kategori rendah hingga sedang dengan rata-rata skor 43,6. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara faktor karakteristik individu maupun lingkungan kerja kabin dengan kelelahan kerja (p > 0,05). Namun, durasi tidur (OR = 4,200) dan status hidrasi (OR = 1,320) menunjukkan kecenderungan risiko kelelahan kerja. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan melalui pemeliharaan kebijakan fit to work dan penyediaan air minum di dalam kabin alat berat.

Work-related fatigue is a condition that can affect the safety and performance of heavy equipment operators in the mining sector. Dump truck (DT) and high dump truck (HD) operators perform tasks that require high physical and mental demands and are exposed to cabin working environment conditions. This study aimed to analyze the effect of individual characteristics and cabin working environment factors on fatigue among DT and HD operators during the morning shift at PT X mining area, North Kalimantan. This study employed a cross-sectional design involving 40 operators. Individual characteristics included age, length of employment, sleep duration, and hydration status, while cabin working environment factors consisted of temperature, humidity, and heat index. Fatigue level was measured using the Subjective Self Rating Test (SSRT) developed by the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test, supported by Odds Ratio analysis. The results showed that fatigue levels among operators were classified as low to moderate, with a mean fatigue score of 43.6. No statistically significant association was found between individual characteristics or cabin working environment factors and fatigue (p > 0.05). However, sleep duration (OR = 4.200) and hydration status (OR = 1.320) showed a tendency toward increased fatigue risk. Therefore, maintaining the fit-to-work policy related to sleep duration and providing drinking water inside the cabin are recommended as preventive measures.
Read More
S-12206
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rr. Asri Wahyuningsih; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Fetrina Lestari
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran fatigue dan hubungannya dengan faktor risiko terkait pekerjaan dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan di PT X. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan metode kuantitatif dan analisis deskriptif. Penelitian ini dilakukan kepada 373 operator dump truck yang tersebar di 8 site project di PT X pada Februari – Agustus 2022. Variabel dependen penelitian ini adalah faktor risiko terkait pekerjaan (masa kerja dan beban kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (umur dan tingkat pendidikan). Data yang dipergunakan di dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui pengisian kuesioner Multidimentional Fatigue Inventory 20 (MFI-20) secara daring (online). Hasil menunjukan bahwa 67,3% responden mengalami fatigue. Keluhan fatigue cenderung dialami oleh operato dump truck yang memiliki masa kerja ≥ 10 tahun, beban kerja mengoperasikan 1 jenis dump truck, berumur ≥ 30 tahun, dan tingkat pendidikan SMA/SMK.

This study aims to seek fatigue image and its correlation with work-related risk factors and non-work-related risk factors in PT X. This study uses a cross-sectional study design with quantitative methods and descriptive analysis. This study was conducted with 373 dump truck operators spread across eight site projects in PT X in February – August 2022 as subjects. The study's dependent variables were work-related risk factors (work and workload) and non-work-related risk factors (age and education level). The data used in this study are secondary data obtained by filling out the Multidimensional Fatigue Inventory 20 (MFI-20) questionnaire online. Results showed that 67,3% of respondents experienced fatigue. Fatigue complaints tend to be experienced by dump truck operators with a working period of ≥ 10 years, a workload of operating 1 type of dump truck, an age of ≥ 30 years, and an educational level of SMA/SMK.
Read More
S-11212
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Irianto; Pembimbing: Baiduri; Penguji: Ridwan Zahdi Sjaaf, Rosli Nurmansyah
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk analisa pengaruh beban kerja terhadap kelelahan pada operator "heavy dump truck" HD 785-5 di PT. Pamapersada Nusantara district X tahun 2007, dan merupakan studi yng bersifat kualitatif dengan variabel data bersifat kualitatif dan kuantitatif, yang kemudian dikuantitatifkan dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah operator truck produksi dengan kategori untuk unit HD 785-5 PT. Pamapersada Nusantara distict X dengan jumlah keseluruhan responden sebanyak 60 orang. Analisis data menggunakan analisis statistik yaitu analisis univariat, dilanjutkan dengan analisis bivariat menggunakan uji signifikansi (Chi-square) dan dilanjutkan dengan uji korelasi (nilai r). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas operator HD 785-5 (37 orang/61.7%) mengalami tingkat kelelahan ringan. Berdasarkan uji signifikansi (chi-square) dan Uji korelasi (nilai r) yang dilakukan terhadap empat variabel independen, diketahui bahwa faktor yang terdapat signitikan pada operator heavy dump truck PT. Pamapersada district X adalah faktor Iama mengemudi yang merupakan faktor eksternal. Lama mengemudi terbukti mempengaruhi kelelahan operator heavy dump truck PT. Pamapersada Nusantara distict X, sehingga untuk mengurangi terjadinya kelelahan diperlukan adanya sharing informast atau pengalaman antara operator senior dan adanya srecthing untuk para operator apabila untuk meregangkan kekakuan otot dan perlunya pengaturan istirahat yang tepat untuk menghindari terjadinya kelelahan Iebih lanjut. Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan rekomendasi dan masukan kepada PT. Pamapersada Nusantara district X untuk pembuatan program guna mengurangi angka kecelakaan pada kecelakaan yang diduga dikarenakan oleh kelelahan pada umumnya dan khususnya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap terjadinya kelelahan.


This research is going to ind the influence of workload to the fatigue of Operator Heavy Dump Truck HD 785-5 at PT. Pamapersada Nusantara district X, and constitute of qualitative study with qualitative and quantitative data variable, then made it quantitative with cross-sectional approach. The Population in this research are all of the operator PT. Pamapersada Nusantara district X that operated HD 785-5 with quantity 60 respondens. Data analysis using statistic analysis i.e univariate analysis, follow up by bivariate analysis with chi-square and PPM (Pearson's Product Moment). The Result of the research show that the majority of operator Heavy Dump Truck HD 785-5 (37 persons / 61,7%) was in mild category. Based on chi-square and PPM test that had done to four independence variables, the result that related and associated of workload influence the fatigue of operator Heavy Dump Truck HD 785-5 is Driving Duration, it's one of research external factors. Driving duration was proven be influence of operator Heavy dump truck fatigue's at PT. Pamapersada Nusantara district X. To eliminate fatigue is necessary to share information and experience from senior to junior, and next is the stretching movement to the operator with intend to relax muscle from stiffness and the last one is rest time management in certain shift which indicated and predicted that necessary to take in action in case to avoid further act of fatigue. Researcher hopefully that this research could contribute and give proper recommendation to PT. Pamapesada Nusantara District X, for developing fatigue management program to eliminate incident rate (In General) and to conduct fatigue awareness through safety program planning (ln Specific), which indicated and predicted because of Fatigue.

Read More
T-2519
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aziz Rofi`i; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Lutfi Muzaqi, Sri Lestari
Abstrak:
Pengemudi dump truck merupakan salah satu jenis pekerjaan yang berisiko mengalami kelelahan karena adanya faktor terkait pekerjaan dan tidak terkait pekerjaan yang dapat mempengaruhi pengemudi. Pada HSE Monthly Report pada bulan Desember 2021 didapatkan bahwa angka lagging indicator untuk night work lebih tinggi dari day work. Dari sudut pandang ini, penelitian dilakukan untuk melihat gambaran kelelahan dan melakukan analisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pengemudi dump truck shift malam dengan sistem double shift. Penelitian dengan desain studi cross sectional dilakukan pada 130 pengemudi dump truck PT X. Faktor terkait pekerjaan yang dilakukan penelitian adalah waktu kerja, kondisi pencahayaan, getaran kabin, dan beban kerja, sedangkan faktor tidak terkait pekerjaan yang dilakukan penelitian adalah durasi tidur, kualitas tidur, umur, pekerjaan sampingan, indeks massa tubuh, aktifitas fisik, konsumsi minuman berenergi tinggi gula dan dukungan keluarga. Uji chi- square dilakukan untuk menganalisis keeratan hubungan antara variabel dependen dan independent sedangkan uji regresi logistik berganda digunakan untuk mengetahui variabel yang paling dominan berhubungan dengan variabel terikat. Prevalensi kelelahan pada pengemudi dump truck adalah sebesar 37,7% dan 62,3% tidak mengalami kelelahan. Dari empat faktor risiko terkait pekerjaan yang diteliti, pencahayaan, getaran dan beban kerja memiliki hubungan secara statistik dengan kelelahan. Sedangkan dari delapan faktor risiko tidak terkait pekerjaan yang diteliti, waktu tidur, kualitas tidur, usia, pekerjaan sampingan, aktifitas fisik, dan dukungan keluarga memiliki hubungan secara statistik dengan kelelahan. Pada hasil akhir multivariat didapatkan jika beban kerja dan pencahayaan memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan p-value < 0,05. Untuk mengurangi kelelahan pada pengemudi dump truck PT X Jobsite TB maka disarankan melakukan pengukuran kelelahan secara rutin sesuai dengan faktor risiko kelelahan yang dominan yaitu beban kerja, dan pencahayaan. Kata kunci: Kelelahan, Faktor risiko, Pengemudi Dump Truck, Double Shift

Dump truck driver is one type of work that is at risk of experiencing fatigue due to work- related and non-work related factors that can affect the driver. In the HSE Monthly Report in December 2021, it was found that the number of lagging indicators for night work is higher than day work. From this point of view, the study was conducted to see the description of fatigue and to analyze the risk factors related to fatigue in night shift dump truck drivers with a double shift system. Research with a cross-sectional study design was conducted on 130 PT X dump truck drivers. Factors related to the work carried out by the study were working time, lighting conditions, cabin vibration, and workload, while factors not related to the work carried out by the study were sleep duration, sleep quality, age, side work, body mass index, physical activity, consumption of energy drinks. high in sugar and family support. The chi-square test was conducted to analyze the close relationship between the dependent and independent variables, while the multiple logistic regression test was used to determine the most dominant variable associated with the dependent variable. The prevalence of fatigue in dump truck drivers is 37.7% and 62.3% do not experience fatigue. Of the four work-related risk factors studied, lighting, vibration and workload were statistically associated with fatigue. Meanwhile, of the eight non-work-related risk factors studied, sleep time, sleep quality, age, side work, physical activity, and family support were statistically associated with fatigue. In the final multivariate result, it was found that the workload and lighting had a statistically significant relationship with p-value <0.05. To reduce fatigue on PT X Jobsite TB dump truck drivers, it is recommended to carry out regular fatigue measurements according to the dominant fatigue risk factors, namely workload, and lighting. Key Words: Fatigue, Risk Factors, Dump Truck Driver, Double Shift
Read More
T-6421
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Husairi; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Baiduri Widanarko, Muhammad Novie Anshari
Abstrak: Operator haul truck merupakan salah satu pekerjaan yang berisiko tinggi untuk mengalami kelelahan kerja (fatigue) disebabkan oleh penerapan shift kerja, gangguan kuantitas dan kualitas tidur, serta pengaruh berbagai faktor lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara shift kerja, kuantitas dan kualitas tidur, serta faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan fatigue pada operator haul truck. Desain studi cross-sectional digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan kuisioner Fastigue Assessment Scale (FAS), pengukuran tingkat stress menggunakan alat cocorometer, serta pengukuran kuantitas dan kualitas tidur menggunakan alat fitbit di antara 196 responden laki-laki yang bekerja sebagai operator haul truck. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kuantitas tidur (OR = 3,222, p = 0,028) dan kualitas tidur (OR = 2,800, p = 0,025) dengan kelelahan, sedangkan shift kerja tidak memiliki hubungan yang signifukan dengan kelelahan. Faktor risiko lain yang juga memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan pada operator haul truck di PT X adalah beban mental (OR = 2,296, p = 0,027), lingkungan kerja (OR = 2,400, p = 0,014), monotoni pekerjaan (OR = 3,371, p = 0,002), usia (OR = 2,708, p = 0,005), dan sleep hygiene (OR = 3,840, p = 0,001).
Kata Kunci: Kelelahan; Fatigue Assessment Scale (FAS); Shift Kerja; Tidur; Fitbit

Operator haul truck Haul truck operator is one of the high-risk occupations in experiencing fatigue caused by the implementation of shift work, sleep quantity and quality disturbance, other related factors. The objective of this study was to analyze the relationship between shift work, quantity and quality of sleep, and other factors associated with fatigue on the haul truck operator. A cross-sectional study was conducted in this study using questionnaires of Fatigue Assessment Scale (FAS), measurement of stress using cocorometer, and measurement of sleep quantity and quality using fitbit among 196 male respondents who work as haul truck operator. The result of this study shown there is a significant correlation between the quantity of sleep (OR = 3,222, p = 0,028) and fatigue, also between the quality of sleep (OR = 2,800, p = 0.025) and fatigue. However, shift work has no significant correlation with fatigue. Other factors, including mental workload (OR = 2,296, p = 0,027), work environment (OR = 2,400, p = 0,014), monotonous work (OR = 3,371, p = 0,002), age (OR = 2,708, p = 0,005), and sleep hygiene (OR = 3,840, p = 0,001) also have significant correlation with operator fatigue in PT X.
Keywords: Fatigue; Fatigue Assessment Scale (FAS); Shift Work, Sleep; Fitbit; Haul truck operator
Read More
S-9883
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sari Febryanti Wibisono; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Dean Andreas Simorangkir, Didik Triwibowo
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan menganalisis tiga insiden kerja terkait kelelahan pada operator Heavy Dump Truck (HD) berdasarkan data Driving Monitoring System (DMS) di perusahaan pertambangan batubara Kalimantan Selatan tahun 2025. Desain penelitian adalah studi kasus dengan pendekatan triangulasi sumber, menggabungkan data sekunder berupa log event DMS dan dokumen LPI, data DMS sebagai pembanding, serta data primer dari wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD). Ketiga insiden fatigue HD yang tercatat sepanjang tahun 2025 menjadi unit analisis utama. Data yang dianalisis meliputi log event DMS dan dokumen LPI dari tiga insiden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelelahan bukan kejadian sporadis melainkan kondisi sistemik yang berulang; unit HD 78185 mencatat baseline rata-rata 2,28 event Eyes Closed per hari (dihitung dari hari operasional dengan data tersedia, di luar hari lonjakan) dengan lonjakan episodik hingga 31 event (13,6× baseline) pada 4 Juni 2025 — tujuh hari sebelum insiden. Pola temporal LPI-01 (00.10 WITA) dan LPI-02 (03.18 WITA) konsisten dengan nadir sirkadian two-process model, sementara LPI-03 (08.00 WITA) dijelaskan melalui akumulasi tekanan tidur (Proses S) menjelang akhir shift. Terdapat keterkaitan yang dapat diidentifikasi antara pola event DMS dan kejadian insiden, meskipun pola peningkatan tidak sepenuhnya konsisten dengan prediksi awal. Temuan terpenting adalah pola kegagalan rantai respons yang konsisten: sistem DMS berhasil mendeteksi sinyal kelelahan, namun gagal direspons karena kegagalan teknis notifikasi (LPI-02) dan penghindaran sensor oleh operator (LPI- 03). Fragmentasi data DMS lintas insiden merupakan temuan tersendiri yang mencerminkan celah sistemik dalam tata kelola data monitoring kelelahan. Penelitian ini merekomendasikan implementasi monitoring tren DMS harian, standarisasi retensi data pasca-insiden, sistem pelaporan kelelahan yang tidak menghukum, serta redundansi arsitektur notifikasi platform DMS.

This study aims to analyze three work-related fatigue incidents among Heavy Dump Truck (HD) operators based on Driving Monitoring System (DMS) data at a coal mining company in South Kalimantan in 2025. The research design is a case study with a source triangulation approach, combining secondary data in the form of DMS event logs and LPI documents, DMS data as a comparison, and primary data from in-depth interviews and Focus Group Discussions (FGD). The three HD fatigue incidents recorded throughout 2025 serve as the main unit of analysis. The data analyzed include DMS event logs and LPI documents from the three incidents. The results show that fatigue is not a sporadic occurrence but a recurring systemic condition; HD unit 78185 recorded an average baseline of 2.28 Eyes Closed events per day (calculated from operational days with available data, excluding surge days) with an episodic spike of up to 31 events (13.6× baseline) on June 4, 2025—seven days before the incident. The temporal patterns of LPI-01 (00:10 WITA) and LPI- 02 (03:18 WITA) are consistent with the nadir circadian two-process model, while LPI-03 (08:00 WITA) is explained by the accumulation of sleep pressure (Process S) towards the end of the shift. There is an identifiable link between DMS event patterns and incident occurrence, although the pattern of increases is not entirely consistent with initial predictions. The most important finding is a consistent pattern of response chain failures: the DMS system successfully detected fatigue signals, but failed to respond due to technical notification failures (LPI-02) and operator sensor evasion (LPI-03). The fragmentation of DMS data across incidents is a separate finding that reflects systemic gaps in fatigue monitoring data governance. This study recommends the implementation of daily DMS trend monitoring, standardization of post-incident data retention, a non-punitive fatigue reporting system, and redundancy of the DMS platform notification architecture.
Read More
T-7640
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ario Wicaksono; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Robiana Modjo, Trisnajaya, Aris Bastian Lahay
Abstrak:
Metabolik sindrom (MetS) menjadi tantangan kesehatan serius pada pekerja sedenter seperti operator truck coal hauling. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor manusia, pekerjaan, lingkungan kerja fisik, dan stresor psikososial terhadap risiko MetS pada operator di PT X, Kalimantan Timur. Metode penelitian menggunakan kuantitatif observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner GPAQ, FFQ, NASA-TLX, dan survei stres kerja Permenaker No. 5 Tahun 2018. Data sekunder berupa rekam medis (Medical Check-Up 2025) digunakan untuk menegakkan diagnosis MetS berdasarkan kriteria IDF/NCEP-ATP III (minimal 3 dari 5 parameter). Pengukuran lingkungan dilakukan di kabin truk. Sampel final berjumlah 125 operator laki-laki yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Regresi Logistik Berganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi MetS sebesar 24,8% (31 orang). Secara individual, persentase kondisi klinis abnormal cukup tinggi: tekanan darah tinggi (88%), kolesterol HDL rendah (74%), trigliserida tinggi (67%), obesitas abdominal (56%), dan gula darah puasa tinggi (35%). Analisis bivariat menunjukkan faktor yang berhubungan signifikan (p < 0,05) dengan MetS adalah usia, aktivitas fisik, konsumsi karbohidrat, konsumsi buah, perilaku merokok, dan lama bekerja. Faktor lingkungan fisik dan komponen psikososial tidak berhubungan signifikan (p ≥ 0,05). Pemodelan akhir multivariat menegaskan lama bekerja < 10 tahun (p = 0,004; OR = 0,228) dan aktivitas fisik aktif (p = 0,012; OR = 0,217) sebagai faktor protektif. Perilaku merokok menunjukkan kecenderungan kuat meningkatkan risiko MetS hingga 3,86 kali lipat (p = 0,054; OR = 3,860). Penelitian menyimpulkan bahwa aktivitas fisik, masa kerja, dan merokok merupakan faktor penentu paling dominan. PT X disarankan mengintegrasikan program workplace wellness, mengontrol nutrisi kantin/katering bersama ahli gizi, mengoptimalkan skrining berkala parameter MetS pada operator senior, serta memfasilitasi program berhenti merokok.

Metabolic syndrome (MetS) poses a severe health challenge for sedentary workers, such as coal hauling truck operators. This study aims to analyze the relationship between human, job, physical work environment, and psychosocial stressors toward the risk of MetS among operators at PT X, East Kalimantan. This quantitative study utilized an analytical observational approach with a crosssectional design. Primary data were collected using the GPAQ, FFQ, NASA-TLX  questionnaires, and the work stress survey from Permenaker No. 5/2018. Secondary  data from the 2025 Medical Check-Up (MCU) reports were used to diagnose MetS  based on the joint IDF/NCEP-ATP III criteria (meeting at least 3 out of 5 clinical  parameters).  Environmental measurements (noise, temperature, vibration) were conducted directly inside the truck cabins. The final sample consisted of 125 male operators who met all inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using Chi-Square tests for bivariate analysis and Multiple Logistic Regression for multivariate analysis. The results showed a MetS prevalence of 24.8% (31 operators). Individually, the percentage of abnormal clinical conditions was considerably high: high blood pressure (88%), low HDL cholesterol (74%), high triglycerides (67%), abdominal obesity (56%), and high fasting blood glucose (35%). Bivariate analysis revealed that age, physical activity, carbohydrate consumption, fruit consumption, smoking behavior, and length of employment were significantly associated with MetS (p < 0.05). Physical work environment factors and psychosocial stress components showed no significant association (p ≥0.05). The final multivariate model confirmed that a length of employment < 10 years (p = 0.004; OR = 0.228) and being physically active (p = 0.012; OR = 0.217) acted as significant protective factors. Smoking behavior demonstrated a strong trend toward increasing MetS risk by 3.86 times (p = 0.054; OR = 3.860). The study concludes that physical activity, length of employment, and smoking are the most dominant determinants of MetS. PT X is advised to integrate structured workplace wellness programs, manage canteen/catering nutrition alongside professional nutritionists, optimize routine MetS screenings for senior operators, and facilitate smoking cessation initiatives.
Read More
T-7701
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mari Okatini Armandari; Pembimbing: Rachmadi Purwana, I Made Djaja; Penguji: Yovsyah, HRA Sofyan, Suhardi
Abstrak: Latar Belakang: Jakarta adalah salah satu kota terbesar di Indonesia dimana hampir setiap tahunnya dilanda banjir. Banjir yang terjadi tentunyan membawa dampak yang sangat merugikan bagi semua aspek kehidupan manusia yang salah satunya adalah timbulnya berbagai macam penyakit pasca banjir. Perubahan lingkungan akibat banjir akan mengakibatkan penyebaran leptospirosis (penyakit kencing tikus), hal ini diakibatkan karena urine hewan yang terinfeksi kuman leptospira akan terbawa oleh genangan air dan mencemari lingkungan rumah. Terdapat jumlah kasus yang terjadi di DKI Jakarta sebanyak 65 orang (2003), 78 orang (2004) dan 51 orang (2005). Masalah leptospirosis yang terjadi di DKI Jakarta selalu terjadi pada wilayah yang sama yang diakibatkan oleh faktor lingkungan yang buruk, perilaku yang buruk atau pengaruh karateristik individu.
Tujuan : Mengetahui hubungan faktor lingkungan dan karakteristik individu terhadap kejadian leptospirosis di Jakarta tahun 2003-2005.
Disain : Studi ini menggunakan rancangan Kasus Kontrol. Data pada penelitian ini berasal dari data sekunder yang diperoleh dari Bagian Program-Diklat RSUD Tarakan ? Jakarta dan melalui wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner yang telah dikembangkan. Wawancara dilakukan oleh enumerator yang sudah dilatih mewawancarai terhadap responden kasus maupun responden kontrol. Subyek berjumlah 190 orang, dimana responden yang positif leptospira sebagai kelompok kasus dan reponden yang negatif leptospira sebagai kontrol, dengan perbandingan 1:1. Varibel independen adalah Faktor lingkungan (Keadaan dan penataan rumah, loteng/plafon rumah, binatang penular (vektor), sarana air bersih, sarana penyimpanan makanan, SPAL) serta karakteristik individu ( Umur, pekerjaan, jenis kelamin, pengetahuan, perilaku, dan pendidikan). Ananlisis dilakukan deng chi-square dan regresi logistik ganda.
Hasil : Ada hubungan bermakna antara keadaan dan penataan rumah (OR= 3,956; 95%CI: 1,511-10,358), SPAL ( OR= 1,982; 95% CI: 1,111-3,536), Tingkat Sosial Ekonomi (OR= 1,928; 95% CI: 1,073-3,462), pengetahuan (OR= 17,625; 95% CI: 6,573-47,257) dan Pendidikan (OR= 2,407; 95% CI: 1,333-4,348).
Kesimpulan: Dari hasil penelitian diketahui bahwa faktor lingkungan dan karakteristik individu berhubungan dengan kejadian leptospirosis di Jakarta pada tahun 2003-2005. Terdapat 4 (empat) faktor dominan yang mempengaruhi kejadian leptospirosis adalah pendidikan,pengetahuan, sarana air bersih dan komponen dan penataan rumah.
Kata Kunci: Faktor Lingkungan, Karakteristik Individu, Kejadian Leptospirosis, Kasus-Kontrol.

Background: Jakarta is one of the largest cities in Indonesia where almost every year got flood. Of course, flood brings very bad impact for all human life aspect, which one is the incidence of various post-flood diseases. Environment changes caused by flood resulting leptospirosis spread (rat urine disease), this thing resulted because animal urine infected by leptospira germ will carried by water pond and contaminate house environment. Case occurred in DKI Jakarta are 65 people (2003), 78 people (2004), and 51 people (2005). Leptospirosis problem occurred in DKI Jakarta always occurred in the same area caused by bad environment factor, bad behavior, or individual characteristic influence.
Objective: To find relation between environment factor and individual characteristic toward leptospirosis in Jakarta year 2003-2005.
Design: This study use Case Control design. Data in this research based on secondary data obtained from Part of Diklat RSUD Tarakan Program ? Jakarta and through structured interview using developed questioner. Interview done by enumerator, which has trained to interview case respondent and control respondent. Subject are 190 people, whereas positive leptospirosa respondent as case group and negative leptospirosa respondent as control group, with 1:1 comparison. Independent variable is environment factor (house condition and settlement, house plafond, infector animal (vector), sanitation, food supply, SPAL) and also individual characteristic (age, job, sex, knowledge, behavior, and education). Analysis done by chi-square and double logistic regression.
Result: There is relation between both house condition and settlement (OR=3,956; 95%CI: 1,511-10,358), waste (OR=1,982; 95%CI: 1,111-3,536), social economy (OR=1,928; 95% CI: 1,073-3,462), knowledge (OR=17,625; 95% CI: 6,573-47,257) and education (OR= 2,407; 95% CI: 1,333-4,348).
Conclusion: From research result found that environment factor and individual characteristic related with leptospirosis in Jakarta year 2003-2005. There are four dominant factors that affect leptospirosis, such as education, knowledge, sanitation, and house component and settlement.
Key Word: Environment Factor, Individual Characteristic, Leptospirosis, Case-Control.
Read More
T-2180
Depok : FKM UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patmasari; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Tigowati, Fauzi Jatmiko
Abstrak:
Fenomena Microsleep pada operator Dump Truck di industri pertambangan merupakan salah satu tantangan keselamatan kerja krusial yang dipicu oleh karakteristik pekerjaan monoton, durasi kerja panjang, dan sistem kerja shift. Pengawasan manual dan pendekatan administratif konvensional memiliki keterbatasan dalam mendeteksi penurunan kewaspadaan secara Real-Time. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis angka kejadian Microsleep sebelum dan setelah penerapan sistem Defender berbasis AI serta mengevaluasi tingkat efektivitas teknologi tersebut dalam menurunkan angka kejadian Microsleep operator Dump Truck di PT X. Metodologi yang digunakan adalah metode campuran sekuensial eksplanatori (Mixed Methods Sequential Explanatory Design). Data kuantitatif diperoleh dari kuesioner berskala Likert yang disebarkan kepada 201 operator Dump Truck (HD) dan dianalisis menggunakan program SPSS, serta dilengkapi data sekunder laporan Fatigue Incident Record periode 2020–2025. Data kualitatif dieksplorasi melalui wawancara mendalam bersama 8 pengawas lapangan dan 5 personel Safety, Health, and Environment (SHE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum implementasi sistem Defender (periode 2020–2023), angka kejadian Microsleep tergolong sangat tinggi dengan rata-rata 1.262 kejadian per tahun. Setelah penerapan sistem Defender berbasis AI, jumlah kejadian Microsleep turun drastis menjadi 415 kejadian pada tahun 2024 dan mencapai titik terendah sebesar 207 kejadian pada tahun 2025 (rata-rata 311 kejadian). Hasil analisis data sekunder membuktikan tingkat efektivitas sistem sebesar 75,36% dalam menekan kejadian Microsleep. Diskusi menekankan bahwa alarm visual dan audio Real-Time dari Defender secara signifikan mempercepat deteksi dini dan memicu respons pengawasan proaktif, meskipun tantangan teknis seperti False Alarm akibat debu atau APD masih ditemukan. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan teknologi monitoring fatigue Defender berbasis AI terbukti sangat efektif menurunkan angka kejadian Microsleep operator Dump Truck di PT X dan memperkuat implementasi Fatigue Risk Management System (FRMS).

The phenomenon of Microsleep among Dump Truck operators in the mining sector presents a critical occupational safety challenge, primarily driven by monotonous tasks, extended working hours, and shift work schedules. Conventional manual supervision and administrative controls have proved inadequate for detecting alertness degradation in Real-Time. This study aims to analyze the Microsleep incidence rates before and after the implementation of the AI-based Defender system and to evaluate the effectiveness of this technology in reducing Microsleep among Dump Truck operators at PT X. The methodology employed a Mixed Methods Sequential Explanatory Design. Quantitative data were gathered through Likert-scale questionnaires distributed to 201 Dump Truck (HD) operators, analyzed via SPSS software, and supplemented by secondary corporate Fatigue Incident Records from 2020 to 2025. Qualitative insights were extracted from in-depth interviews involving 8 field supervisors and 5 Safety, Health, and Environment (SHE) personnel. The findings indicate that prior to the system's integration (2020–2023), the frequency of Microsleep was notably high, averaging 1,262 incidents per year. Following the deployment of the AI Defender system, Microsleep occurrences fell sharply to 415 in 2024 and reached an all-time low of 207 incidents in 2025 (averaging 311 events). Secondary data analytics revealed a 75.36% effectiveness rate in mitigating Microsleep occurrences. The discussion highlights that Defender’s Real-Time audio-visual alerts substantially expedited early detection and triggered proactive supervisory interventions, despite enduring technical constraints like dust-induced or PPE-induced False Alarms. In conclusion, this study demonstrates that the implementation of the AI-powered Defender fatigue monitoring system is highly effective, reducing Microsleep incidence among Dump Truck operators at PT X by 75.36% and bolstering the corporate Fatigue Risk Management System (FRMS).
Read More
T-7661
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wildan Setyaji; Pembimbing: Hendra; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Warid Nurdiansyah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kelelahan (fatigue)dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada pengemudi pengangkutan batubaradi jalur hauling pertambangan batubara. Pertambangan batubara yang menerapkansistem kerja shift dan sistem kerja lebih dari 8 jam perhari memiliki tingkat risikoyang tinggi untuk terjadinya keluhan kelelahan. Penelitian ini dilaksnakanmenggunakan metode kuantitatif observasional dengan mengambil populasi padapengemudi dump truck PT. Karya Mandiri Mining Project site PT. Tanito Harumdan PT. Karya Putra Borneo Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timurtahun 2013. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa faktor shift kerja dankondisi jalur hauling berhubungan dengan kejadian kelelahan pada pengemudi dump truck PT. Karya Mandiri Mining yaitu sebesar 90,9% pada pekerja yang memiliki shift malam dan 76,5% pada pengemudi yang bekerja di jalur haulingdengan geometri jalan yang buruk. Dari hasil penelitian juga diketahui bahwaterdapat lima gejala kelelahan yang paling sering dialami pengemudi dump truckyaitu merasa haus (33,2%), sering menguap (13,3%), merasa lelah di seluruh badan (6,6%), merasa nyeri di bagian pinggang (6,6%), dan kaki terasa berat(6,6%).
Kata Kunci : Kelelahan, shift, durasi kerja, pengemudi dump truck.
Read More
S-8191
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive