Ditemukan 36096 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Sherin Salsabila Ramadhanty; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Baiduri Widanarko, Julia Rantetampang
Abstrak:
Read More
Commuting merupakan aktivitas rutin para komuter termasuk pekerja di sektor perkantoran yang setiap hari melakukan mobilitas ulang-alik sehingga menimbulkan potensi kelelahan dan berdampak pada penurunan produktivitas kerja serta peningkatan human error bahkan kecelakaan kerja, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja pada pekerja komuter di sektor perkantoran yang melakukan mobilitas ulang-alik (commuting) menuju/pulang ke/dari tempat kerja di wilayah Jakarta Selatan pada tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sebanyak 233 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner. Pengumpulan data menggunakan adaptasi dari instrumen Subjective Self Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, dan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Setelah itu, analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pekerja komuter di sektor perkantoran 36,9% mengalami kelelahan ringan dan 63,1% mengalami kelelahan sedang-sangat tinggi. Faktor risiko yang berhubungan signifikan ditemukan pada faktor risiko tidak terkait pekerjaan, diantaranya waktu tempuh, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: <0,001), moda transportasi utama, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: 0,007), peran komuter (p-value: 0,002), jumlah penggunaan moda transportasi, baik berangkat (p-value: 0,014) dan pulang (p-value: 0,005), jenis kelamin (p-value: 0,033), dan tingkat pendidikan (p-value: 0,006). Dengan demikian, diperlukan adanya upaya pencegahan dan pengendalian kelelahan kelelahan yang komprehensif oleh perusahaan termasuk pemerintah melalui kebijakan dan program manajemen kelelahan. Penerapan kebijakan buffer time, monitoring kelelahan, peningkatan kualitas tidur, dan penyediaan prasarana istirahat dapat berkontribusi menurunkan risiko kelelahan. Kata kunci: Kelelahan Kerja, Faktor Risiko Kelelahan, Commuting, Pekerja Komuter, Perkantoran
Commuting is a routine activity for commuters, including office workers who travel back and forth every day, which can lead to fatigue and result in decreased work productivity, increased human error, and even workplace accidents. This study aims to analyze the risk factors for work-related fatigue among office workers who commute back and forth to and from their workplace in the South Jakarta area in 2026. The study employs a quantitative approach with a cross-sectional study design. A total of 233 respondents participated in this study by completing a questionnaire. Data collection utilized adaptations of the Subjective Self-Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, and International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Subsequently, data analysis employed the Chi-Square test. The results showed that 36.9% of office sector commuters experienced mild fatigue and 63.1% experienced moderate to very high fatigue. Significant risk factors were identified among non-work-related risk factors, including travel time—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: <0.001)—and primary mode of transportation—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: 0.007), commuter role (p-value: 0.002), number of mode of transportation use, both for the trip to work (p-value: 0.014) and return trips (p-value: 0.005), gender (p-value: 0.033), and educational level (p-value: 0.006). Thus, comprehensive efforts to prevent and control fatigue are needed by companies, including the government, through fatigue management policies and programs. The implementation of buffer time policies, fatigue monitoring, improved sleep quality, and the provision of rest facilities can contribute to reducing the risk of fatigue. Keywords: Fatigue, Risk factors for fatigue, Commuting, Commuting workers, Office workers
S-12276
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diva Mahardikawati; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Fatma Lestari, Tubagus Dwika Yuantoko, Bima Haryadi
Abstrak:
Read More
Pekerja konstruksi memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja karena karakteristik pekerjaannya yang melibatkan aktivitas fisik berat, durasi kerja panjang, serta paparan lingkungan kerja seperti panas dan kebisingan. Kelelahan kerja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, ketelitian, kecepatan respons, dan human performance pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja dan dampak kelelahan kerja terhadap human performance pada pekerja konstruksi di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 113 pekerja konstruksi. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu, faktor terkait pekerjaan, dan human performance. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, pengukuran beban kerja fisik melalui denyut nadi, serta pengukuran lingkungan kerja kebisingan dan suhu. Instrumen yang digunakan meliputi Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial (analisis bivariat dan multivariat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja adalah waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik dengan nilai p-value masing-masing 0,000. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa terdapat tiga variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja, yaitu waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik. Variabel waktu perjalanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan kerja dengan nilai OR = 17,057. Kelelahan kerja juga berhubungan signifikan dengan human performance dengan nilai p-value 0,023 dengan nilai OR 2,457. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang tidak mengalami kelelahan kerja memiliki peluang 2,457 kali lebih besar untuk memiliki human performance tinggi dibandingkan pekerja yang mengalami kelelahan kerja.
Construction workers are at high risk of experiencing occupational fatigue due to the characteristics of their work, which involve heavy physical activity, long working hours, and exposure to work environment factors such as heat and noise. Occupational fatigue may lead to decreased concentration, accuracy, response speed, and workers’ human performance. This study aimed to analyze the risk factors associated with occupational fatigue and the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X in 2026. This study used a cross-sectional design involving 113 construction workers as respondents. The variables examined included individual factors, work-related factors, occupational fatigue, and human performance. Data were collected using questionnaires, physical workload measurement through pulse rate assessment, and work environment measurements, including noise and temperature. The instruments used in this study included the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Data were analyzed using descriptive and inferential analyses, including bivariate and multivariate analyses. The results showed that factors associated with occupational fatigue were commuting time, sleep quantity, and physical workload, with p-values of <0.001 for each variable. Based on the multivariate analysis, these three variables had a significant relationship with occupational fatigue. Commuting time was identified as the most dominant factor associated with occupational fatigue, with an OR value of 17.057. Occupational fatigue was also significantly associated with human performance, with a p-value of 0.023 and an OR value of 2.457. This indicates that workers who did not experience occupational fatigue were 2.457 times more likely to have high human performance compared to workers who experienced occupational fatigue.
T-7713
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ameera Zandra Chairullah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Mufti Wirawan, Nirmala Shinta Dewi
Abstrak:
Read More
Berbagai penelitian menunjukkan keterkaitan antara stress kerja dengan kinerja pekerja. Stres kerja memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kinerja pekerja. Hal ini karena pekerja yang menghadapi tingkat stres tinggi harus mengalihkan waktu dan energi dari tugas-tugas mereka untuk mengatasi stres tersebut, sehingga menyebabkan penurunan pada kinerja pekerja (Chen et al., 2022; Conceoção & Palma-Moreira, 2025). Untuk mengetahui dan mendapatkan pemahaman lebih lanjut mengenai keterkaitan antar kedua aspek ini, penulis melakukan penelitian mengenai hubungan antara tingkat stres kerja dengan tingkat kinerja pekerja perkantoran pada instansi X tahun 2026. Instansi X ditetapkan sebagai obyek penelitian dengan pertimbangan bahwa instansi ini merupakan instansi pemerintah yang belum memiliki divisi K3 dan sampai saat ini tidak pernah mengukur stres kerja dalam lima tahun terakhir. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square dan odds ratio (OR) atas data yang dikumpulkan dari 121 responden, ditemukan bahwa faktor risiko ambiguitas peran (p-value=0,000. OR = 1,513) dan kepuasan kerja (p-value = 0,001. OR = 5,646) memiliki hubungan yang signifikan dengan stres kerja. Penelitian ini menghasilkan temuan utama, yang berbeda dari penelitian sebelumnya, bahwa stres kerja tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kinerja pada pekerja di instansi X (p-value = 0,761). Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa hubungan antara stres kerja dan kinerja bersifat kompleks, kontekstual, dan tidak dapat disederhanakan menjadi hubungan sebab-akibat yang kaku. Hasil penelitian dapat memperkaya wawasan dan ilmu terkait hubungan antara stres kerja dengan kinerja pekerja.
Various studies have shown a link between job stress and worker performance. Job stress has a significant negative impact on workers performance. This is because workers facing high levels of stress must divert time and energy from their tasks to cope with the stress, resulting in a decline in worker performance (Chen et al., 2022; Conceoção & Palma-Moreira, 2025). To further understand the relationship between these two aspects, the authors conducted a study on the relationship between job stress levels and the performance levels of office workers at institution X in 2026. Institution X was selected as the object of the study because as it is a government agency that does not yet have an OHS division and has not measured job stress in the past five years. The study was conducted using quantitative methods with a cross-sectional study design. Based on the results of the analysis using the chi-square test and odds ratio (OR) on data collected from 121 respondents, it was found that the risk factors of role ambiguity (p-value = 0.000. OR = 1.513) and job satisfaction (p-value = 0.001. OR = 5.646) had a significant relationship with work stress. This study produced a main finding, which differs from previous studies, that work stress did not have a significant relationship with the level of performance of workers in agency X (p-value = 0.761). This finding strengthens the understanding that the relationship between work stress and performance is complex, contextual, and cannot be simplified into a rigid cause- and-effect relationship. The results of this study can enrich insight and knowledge regarding the relationship between work stress and worker performance.
S-12451
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maharani Ayundhias; Pembimbing: Abdul Kadir; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Aldila Faza Zulfah
Abstrak:
Read More
Pekerja shift dan on-call di sektor kelistrikan memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja (fatigue) yang berdampak pada penurunan fungsi kognitif, produktivitas, kesehatan, dan keselamatan kerja. Kelelahan ini dipengaruhi oleh faktor risiko terkait pekerjaan (sistem on-call, shift kerja, masa kerja, beban kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, tidur, status gizi, pekerjaan sampingan, status menikah, riwayat penyakit). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja (fatigue) pada pekerja shift dan on-call. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan metode mixed method. Data kuantitatif diperoleh dari 98 responden menggunakan kuesioner OFER, PSQI, NASA-TLX, pengukuran tinggi badan dan berat badan, serta didukung data kualitatif melalui wawancara terbuka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa beban kerja berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja (fatigue) akut (p = 0,027; OR = 2,703) dan kelelahan kerja (fatigue) kronis (p = 0,034; OR = 2,618). Selain itu, kuantitas tidur (p = 0,035; OR = 3,906) dan status menikah (p = 0,003; OR = 4,354) memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja (fatigue) akut. Kesimpulan penelitian ini menekankan terkait pentingnya implementasi fatigue management dan peningkatan kesadaran diri dalam mengelola kelelahan kerja (fatigue).
Shift and on-call workers in the electricity sector have a high risk of experiencing fatigue, which impacts cognitive function, productivity, health and safety. This fatigue is influenced by work-related risk factors (on-call system, work shift, work period, workload) and non-work-related risk factors (age, sleep, nutritional status, side job, married status, disease history). The purpose of this study was to analyze the risk factors for fatigue in shift and on-call workers. The study used a cross sectional design with mixed methods. Quantitative data were obtained from 98 respondents using OFER, PSQI, NASA-TLX questionnaires, height and weight measurements, and supported by qualitative data through open interviews. The results of this study showed that workload was significantly associated with acute fatigue (p = 0.027; OR = 2.703) and chronic fatigue (p = 0.034; OR = 2.618). In addition, sleep quantity (p = 0.035; OR = 3.906) and married status (p = 0.003; OR = 4.354) had significant associations with acute fatigue. The conclusion of this study emphasizes the importance of implementing fatigue management and increasing self-awareness in managing fatigue.
Shift and on-call workers in the electricity sector have a high risk of experiencing fatigue, which impacts cognitive function, productivity, health and safety. This fatigue is influenced by work-related risk factors (on-call system, work shift, work period, workload) and non-work-related risk factors (age, sleep, nutritional status, side job, married status, disease history). The purpose of this study was to analyze the risk factors for fatigue in shift and on-call workers. The study used a cross sectional design with mixed methods. Quantitative data were obtained from 98 respondents using OFER, PSQI, NASA-TLX questionnaires, height and weight measurements, and supported by qualitative data through open interviews. The results of this study showed that workload was significantly associated with acute fatigue (p = 0.027; OR = 2.703) and chronic fatigue (p = 0.034; OR = 2.618). In addition, sleep quantity (p = 0.035; OR = 3.906) and married status (p = 0.003; OR = 4.354) had significant associations with acute fatigue. The conclusion of this study emphasizes the importance of implementing fatigue management and increasing self-awareness in managing fatigue.
S-12013
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yasmin Maulidias Khairana Anhar; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Mila Tejamaya, Sulistyaning Hartatik
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelelahan pada pekerja laundry di wilayah kecamatan Pondok Gede, Bekasi. Penelitian dilakukan pada 97 pekerja laundry di Pondok Gede, Bekasi. Variabel independen pada penelitian ini yaitu faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, status gizi, kuantitas tidur, kualitas tidur, commuting times, dan sttus kesehatan) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (masa kerja, durasi kerja, waktu istirahat, lingkungan kerja, dan beban kerja). Desain penelitian adalah cross-sectional dengan menggunakan kuesioner. Subjective Self Rating Test dari IFRC digunakan untuk mengukur kelelahan dan Pittsburg Sleep Quality Index digunakan untuk mengukur kualitas tidur. Analisis data dilakukan secara bivariat dengan uji chi-square dan multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67 pekerja (69,1%) mengalami kelelahan ringan dan 30 pekerja (30,9%) mengalami kelelahan berat. Hasil penelitian menunjukkan kuantitas tidur, kualitas tidur, status kesehatan, lingkungan kerja, durasi kerja memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan kelelahan. Faktor yang paling dominan memengaruhi kelelahan adalah status kesehatan (p=0,020), OR = 6,5 dan CI 95%: 1,35031,555.
Read More
S-10784
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alvina Winners Putri; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Nur Fatayani
Abstrak:
Read More
Postur tubuh yang kurang nyaman saat melakukan pekerjaan dengan durasi yang lama dapat menyebabkan gangguan otot rangka akibat kerja. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko yang hubungan dengan terjadinya gejala gangguan otot rangka akibat kerja pada pekerja perkantoran di Instansi X tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan metode penilaian postur tubuh pekerjan menggunakan metode Rapid Office Strain Assessment (ROSA). Kemudian untuk penilaian keluhan gangguan otot rangka secara subjektif menggunakan NBM (Nordic Body Map). Hasil penelitian menunjukkan tingkat risiko keluhan gangguan otot rangka akibat kerja pada tingkat menengah maka perlu investigasi lebih lanjut untuk melakukan perbaikan. Penilaian menggunakan Nordic Body Map menghasilkan nilai sebesar 91,40% pekerja yang mengalami keluhan gangguan otot rangka akibat kerja. Bagian tubuh yang sering mengalami keluhan gangguan otot rangka akibat kerja seperti: leher bagian atas, leher bagian bawah, punggung dan pinggang. Distribusi keluhan yang dirasakan pekerja umur
An uncomfortable posture when doing work for a long duration can cause work-related musculoskeletal disorders. The purpose of this study was to determine the risk factors associated with the occurrence of symptoms of work-related musculoskeletal disorders in office workers at Institution X in 2023. This study used a cross-sectional design and the occupational posture assessment Rapid Office Strain Assessment (ROSA) method then to assess complaints of musculoskeletal disorders as a whole subjectively using the NBM (Nordic Body Map). The results showed that the level of risk of complaints of musculoskeletal disorders due to work at the intermediate level requires further investigation to make improvements. Assessment using the Nordic Body Map yielded a value of 91.40% of workers who experienced complaints of musculoskeletal the skeleton due to work The parts of the body that often experience complaints of musculoskeletal disorders due to work such as: upper neck, lower neck, back and waist Distribution of complaints felt by workers aged
S-11401
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Annisa Anindya Kusumaputri; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Abdul Kadir, Julia Rantetampang
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko terkait tingkat stres kerja pada pekerja dengan sistem kerja hibrida di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Penelitian ini melibatkan 116 responden dengan pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner. Hasil analisis chi-square menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat stres kerja dengan desain tugas yang buruk (p value = 0,001; OR = 3,875), beban kerja yang berat (p value = 0,033; OR = 2,273), lingkungan kerja yang buruk (p value = 0,004; OR = 3,033), dan overcommitment (p value = 0,006; OR = 2,919). Sistem kerja hibrida dapat mendorong sifat overcommitment serta meningkatkan beban kerja. Selain itu, diperlukan penyesuaian terkait desain tugas yang dikerjakan selama bekerja hibrida dan pemilihan lingkungan kerja yang sehat dan nyaman. Berdasarkan temuan ini, disarankan untuk dilakukan evaluasi dan penyesuaian beban kerja serta desain tugas, pemberian pedoman terkait lingkungan kerja yang baik untuk bekerja secara hibrida, dan membangun budaya kerja yang memiliki batasan yang sehat antara pekerjaan dan personal.
This study aimed to analyze the risk factors associated with work-related stress levels among employees working under hybrid work system in the DKI Jakarta Province. This Study employed a quantitative approach with a cross-sectional study design. The results of the chi-square analysis indicated significant associations between work-related stress levels and poor task design (p value = 0,001; OR = 2,919), heavy workload (p value = 0,033), poor work environment (p value = 0,004; OR = 3,033) and overcommitment (p value = 0,006; OR = 2,919). A hybrid work system may encourage overcommitment and increase workload. In addition, adjustments to task design during hybrid work and the selection of a healthy and comfortable work environment are necessary. Based on these findings, it is recommended to evaluate and adjust workload and task design, provide guidelines on creating a suitable work environment for hybrid work, and foster a work culture that promotes healthy boundaries between work and personal life.
S-12426
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nesya Dinda Rahmaningtyas; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Hendra, Laksita Ri Hastiti, Dwi Yuliati, Rizki Ananda
Abstrak:
Read More
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko kelelahan kerja serta kelelahan kerja kronis dengan human performance pada pekerja industri pengolahan ikan di PT X. Industri pengolahan ikan memiliki karakteristik pekerjaan dengan tuntutan fisik yang tinggi, pekerjaan repetitif, serta paparan lingkungan kerja yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kelelahan kerja kronis yang berhubungan dengan human performance. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 94 responden pekerja di PT X. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, observasi, serta pengukuran faktor risiko kerja meliputi faktor individu, faktor fisik, faktor psikososial, dan faktor lingkungan kerja. Kelelahan kerja kronis diukur menggunakan instrumen OFER, kualitas tidur menggunakan PSQI, psikososial menggunakan COPSOQ III, serta human performance diukur melalui indikator at-risk behavior. Data dianalisis menggunakan uji regresi untuk melihat hubungan antar variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja kronis dengan human performance pada pekerja PT X (p = 0,008) dengan koefisien regresi sebesar -13,11 yang menunjukkan bahwa peningkatan kelelahan kerja kronis berkaitan dengan penurunan skor human performance. Faktor yang paling dominan berkaitan dengan kelelahan kerja kronis adalah kualitas tidur yang buruk (OR = 5,83; 95% CI: 1,73–19,63), tuntutan kerja yang tinggi (OR = 4,43; 95% CI: 1,31–14,90) dan suhu lingkungan kerja yang tidak sesuai (OR = 4,69; 95% CI: 1,11–19,88) menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kelelahan kerja kronis. Hasil ini menunjukkan bahwa kelelahan kerja pada pekerja merupakan kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh interaksi faktor individu, pekerjaan, dan lingkungan serta berasosiasi dengan human performance.
This study was conducted to analyze the relationship between work-related fatigue risk factors and the impact of chronic fatigue on human performance among workers in the fish processing industry at PT X. The fish processing industry is characterized by high physical workload, repetitive tasks, and exposure to environmental conditions that may increase the risk of fatigue and subsequently affect human performance. This study employed a cross-sectional design involving 94 workers at PT X. Data were collected using questionnaires, observations, and measurements of work-related risk factors including individual, physical, psychosocial, and environmental factors. Work fatigue was measured using the OFER instrument, sleep quality using PSQI, psychosocial factors using COPSOQ III, and human performance was assessed through at-risk behavior indicators. Data were analyzed using regression analysis to examine the relationships between variables. The results showed a significant relationship between chronic fatigue and human performance among workers at PT X (p = 0.008), with a regression coefficient of -13.11, indicating that an increase in chronic fatigue is associated with a decrease in human performance scores. The most dominant factors associated with chronic fatigue were poor sleep quality (OR = 5.83; 95% CI: 1.73–19.63), high job demands (OR = 4.43; 95% CI: 1.31–14.90), and inappropriate workplace temperature (OR = 4.69; 95% CI: 1.11–19.88), all of which showed significant relationships with chronic fatigue. These findings indicate that occupational fatigue among workers is a multifactorial condition influenced by the interaction of individual, job-related, and environmental factors, and is associated with human performance.
T-7697
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aulia Erid Angelica; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, David Irianto, Subkhan
Abstrak:
Read More
Kelelahan kerja (fatigue) merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan human performance serta meningkatkan risiko human error dan kecelakaan kerja, khususnya pada industri konstruksi yang memiliki karakteristik pekerjaan dengan tuntutan fisik dan mental yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja serta hubungan antara kelelahan kerja dan human performance pada pekerja konstruksi PT X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 219 pekerja konstruksi PT X yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti meliputi faktor terkait pekerjaan (durasi kerja, shift kerja, beban kerja, pekerjaan monoton, dan reward) serta faktor tidak terkait pekerjaan (indeks massa tubuh, waktu tempuh, usia, kualitas tidur, dan kuantitas tidur). Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan Fatigue Assessment Scale for Construction Workers(FASCW), sedangkan human performance diukur menggunakan instrumen Human Performance dari U.S. Department of Energy (DOE). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan Uji Regresi Logistik Ordinaluntuk menganalisis hubungan faktor-faktor dengan kelelahan kerja serta Uji Mann–Whitney untuk menganalisis hubungan antara kelelahan kerja dan human performance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 187 pekerja (85,4%) mengalami kelelahan kerja. Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi kerja (OR=2,61; 95% CI: 1,20–5,76), beban kerja (OR=32,37; 95% CI: 9,40–111,48), pekerjaan monoton (OR=10,42; 95% CI: 3,07–35,39), indeks massa tubuh (OR=3,93; 95% CI: 1,68–9,19), waktu tempuh (OR=2,38; 95% CI: 1,10–5,17), usia (OR=3,44; 95% CI: 1,58–7,50), kualitas tidur (OR=3,20; 95% CI: 1,41–7,29), dan kuantitas tidur (OR=2,53; 95% CI: 1,18–5,42) dengan kelelahan kerja, sedangkan shift kerja (OR=1,42; 95% CI: 0,67–3,01) dan reward (OR=0,83; 95% CI: 0,34–2,05) tidak berhubungan dengan kelelahan kerja. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dan human performance (p<0,001), di mana pekerja yang mengalami kelelahan cenderung memiliki human performance yang lebih buruk dibandingkan pekerja yang tidak mengalami kelelahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelelahan kerja pada pekerja konstruksi PT X berhubungan dengan berbagai faktor terkait pekerjaan maupun faktor tidak terkait pekerjaan serta berhubungan dengan penurunan human performance. Oleh karena itu, pengelolaan kelelahan kerja perlu menjadi bagian dari program keselamatan dan kesehatan kerja melalui pengendalian faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja guna meningkatkan keselamatan, kesehatan, dan human performance pekerja.
Occupational fatigue is one of the major factors contributing to decreased human performance and an increased risk of human error and workplace accidents, particularly in the construction industry, where work is characterized by high physical and mental demands. This study aimed to analyze the factors associated with occupational fatigue and to examine the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X. This study employed a cross-sectional design involving 219 construction workers at PT X selected through purposive sampling. The variables examined included work-related factors (working hours, shift work, workload, monotonous work, and reward) and non-work-related factors (body mass index, commuting time, age, sleep quality, and sleep duration). Occupational fatigue was assessed using the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), while human performance was measured using the Human Performance instrument developed by the U.S. Department of Energy (DOE). Data were analyzed descriptively and inferentially using Ordinal Logistic Regression to examine the associations between the studied factors and occupational fatigue, and the Mann–Whitney test to analyze the relationship between occupational fatigue and human performance. The results showed that 187 workers (85.4%) experienced occupational fatigue. Significant associations were found between occupational fatigue and working hours (OR=2.61; 95% CI: 1.20–5.76), workload (OR=32.37; 95% CI: 9.40–111.48), monotonous work (OR=10.42; 95% CI: 3.07–35.39), body mass index (OR=3.93; 95% CI: 1.68–9.19), commuting time (OR=2.38; 95% CI: 1.10–5.17), age (OR=3.44; 95% CI: 1.58–7.50), sleep quality (OR=3.20; 95% CI: 1.41–7.29), and sleep duration (OR=2.53; 95% CI: 1.18–5.42). In contrast, shift work (OR=1.42; 95% CI: 0.67–3.01) and reward (OR=0.83; 95% CI: 0.34–2.05) were not significantly associated with occupational fatigue. Furthermore, occupational fatigue was significantly associated with human performance (p<0.001), with fatigued workers demonstrating poorer human performance than those who were not fatigued. This study concludes that occupational fatigue among construction workers at PT X is associated with both work-related and non-work-related factors and is significantly associated with decreased human performance. Therefore, fatigue management should be integrated into occupational safety and health programs by addressing the factors associated with occupational fatigue to improve workers' safety, health, and human performance.
T-7691
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sulthan Aliyafiansyah; Pembimbing: Hendra; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Dani Wirahandoko
Abstrak:
Read More
Kelelahan kerja (fatigue) merupakan permasalahan serius di industri pertambangan yang dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kelelahan dan faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja operator dan mekanik di Site A PT X tahun 2026. Sebanyak 338 responden berpartisipasi, terdiri dari 242 operator dan 96 mekanik. Tingkat kelelahan diukur menggunakan Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER-15). Faktor risiko terkait pekerjaan meliputi beban kerja (NASA-TLX), stres kerja (PSS-10), serta karakteristik individu seperti durasi kerja, masa kerja, dan shift kerja. Faktor risiko tidak terkait pekerjaan meliputi usia, status gizi, kualitas tidur (PSQI), kuantitas tidur, waktu perjalanan, konsumsi kafein, aktivitas fisik (IPAQ), dan perilaku merokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas operator berada pada kategori tidak lelah baik pada kelelahan kronis (76,03%) maupun kelelahan akut (61,98%), dengan pemulihan antar shift yang cukup (81,81%). Pada mekanik, sebagian besar juga berada pada kategori tidak lelah untuk kelelahan kronis (62,5%) dan kelelahan akut (56,25%), namun mayoritas mekanik (60,6%) mengalami pemulihan antar shift yang kurang. Dari faktor risiko terkait pekerjaan, hanya stres kerja yang berhubungan signifikan dengan kelelahan akut pada operator (p = 0,043; OR = 0,57). Dari faktor tidak terkait pekerjaan, kualitas tidur berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis pada operator (p = 0,014; OR = 2,24) dan mekanik (p < 0,05; OR = 8,11), serta dengan pemulihan kelelahan pada operator (p < 0,05; OR = 2,74). Kuantitas tidur berhubungan signifikan dengan pemulihan kelelahan pada operator (p < 0,05; OR = 2,80). Usia berhubungan signifikan dengan kelelahan akut pada operator (p = 0,006; OR = 0,46), sedangkan konsumsi kafein berhubungan signifikan dengan pemulihan kelelahan pada mekanik (p = 0,042; OR = 0,33). Dengan ini, perusahaan disarankan untuk mengoptimalkan kualitas dan kuantitas tidur pekerja melalui pelatihan sleep hygiene, memvalidasi sistem pemantauan kelelahan yang ada (Parrot/DMS) dengan uji kewaspadaan kognitif, menyesuaikan menu katering pada jam kritis shift malam, memberikan variasi minuman saat sidak fatigue, menambah kapasitas hunian di dalam area IUP, serta menyediakan fasilitas olahraga mandiri di area mess untuk mendorong perilaku hidup aktif.
The Occupational fatigue is a serious issue in the mining industry that can reduce productivity and increase the risk of workplace accidents. This study aimed to analyze fatigue levels and associated risk factors among operators and mechanics at Site A PT X in 2026. A total of 338 respondents participated in this study, consisting of 242 operators and 96 mechanics. Fatigue levels were measured using the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER-15). Work-related risk factors included workload (NASA-TLX), work stress (PSS-10), and individual characteristics such as work duration, years of service, and shift work. Non-work-related risk factors included age, nutritional status, sleep quality (PSQI), sleep duration, commuting time, caffeine consumption, physical activity (IPAQ), and smoking behavior. The results showed that the majority of operators were classified as non-fatigued in both chronic fatigue (76.03%) and acute fatigue (61.98%), with adequate inter-shift recovery (81.81%). Among mechanics, most were also classified as non-fatigued for chronic fatigue (62.5%) and acute fatigue (56.25%); however, the majority of mechanics (60.6%) experienced insufficient inter-shift recovery. Among work-related risk factors, only work stress showed a significant association with acute fatigue in operators (p = 0.043; OR = 0.57). Among non-work-related factors, sleep quality was significantly associated with chronic fatigue in both operators (p = 0.014; OR = 2.24) and mechanics (p < 0.05; OR = 8.11), as well as with fatigue recovery in operators (p < 0.05; OR = 2.74). Sleep duration was significantly associated with fatigue recovery in operators (p < 0.05; OR = 2.80). Age was significantly associated with acute fatigue in operators (p = 0.006; OR = 0.46), while caffeine consumption was significantly associated with fatigue recovery in mechanics (p = 0.042; OR = 0.33). Based on these findings, the company is recommended to optimize workers' sleep quality and quantity through sleep hygiene training, validate the existing fatigue monitoring system (Parrot/DMS) with pre-shift cognitive alertness testing, adjust catering menus during critical nightshift hours, diversify beverages provided during fatigue inspections, expand on-site accommodation within the mining concession area, and provide recreational sports facilities in the worker dormitory area to encourage an active lifestyle.
S-12456
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
