Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36669 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Annisa Elfariyani; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Muhammad Irwansyah, M. Rahmanda Lintang Putranto
Abstrak:
Perkembangan industri precast yang pesat sebagai bagian dari dukungan terhadap pembangunan infrastruktur nasional berimplikasi pada meningkatnya kompleksitas risiko keselamatan kerja. Karakteristik proses yang mengintegrasikan aktivitas manufaktur dan konstruksi menjadikan potensi bahaya pada sektor ini bersifat khas dan memerlukan perhatian khusus. Di sisi lain, meskipun implementasi sistem keselamatan kerja telah berjalan, kajian yang secara spesifik mengkaji persepsi risiko keselamatan pekerja pada industri precast masih terbatas, terutama dalam kaitannya dengan faktor individu dan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor individu dan faktor organisasi terhadap persepsi risiko keselamatan pada pekerja unit produksi precast PT X. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional melalui penyebaran kuesioner kepada 281 pekerja yang tersebar di lima plant. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu (usia, tingkat pendidikan, masa kerja, dan bagian pekerjaan) serta faktor organisasi (beban kerja, iklim keselamatan, dan pengalaman kecelakaan kerja). Analisis data dilakukan secara bertahap melalui uji univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 58,4% pekerja memiliki persepsi risiko keselamatan dalam kategori baik, sementara 41,6% lainnya berada pada kategori kurang baik. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa faktor individu dan organisasi berpengaruh signifikan terhadap persepsi risiko keselamatan pekerja. Pada faktor individu, variabel bagian pekerjaan (p=0,000; OR=0,012) dan tingkat pendidikan terakhir (p=0,045; OR=1,458) terbukti berpengaruh signifikan. Sementara itu, pada faktor organisasi, variabel beban kerja (p=0,000; OR=5,118), iklim keselamatan (p=0,000; OR=3,211), serta pengalaman kecelakaan kerja (p=0,041; OR=0,056) juga menunjukkan pengaruh yang bermakna. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan keselamatan kerja tidak hanya bergantung pada aspek sistem, tetapi juga memerlukan penguatan pada dimensi individu dan lingkungan kerja. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih integratif, antara lain melalui pengembangan pelatihan K3 yang kontekstual, peningkatan kualitas kepemimpinan dalam membangun iklim keselamatan, pengelolaan beban kerja yang proporsional, serta optimalisasi sistem pelaporan kecelakaan sebagai sarana pembelajaran organisasi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan persepsi risiko pekerja sekaligus memperkuat budaya keselamatan kerja di industri precast.

The rapid growth of the precast industry as part of national infrastructure development has led to increased complexity in occupational safety risks. The integration of manufacturing and construction processes creates distinctive hazard characteristics that require special attention. Despite the implementation of occupational safety management systems, studies specifically examining workers’ risk perception in the precast industry remain limited, particularly in relation to individual and organizational factors. This study aims to analyze the influence of individual and organizational factors on workers’ safety risk perception in the production units of PT X. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed through questionnaire distribution to 281 workers across five precast plants. The variables examined included individual factors (age, educational level, work experience, and job role) and organizational factors (workload, safety climate, and accident experience). Data analysis was conducted through univariate, bivariate (chi-square), and multivariate analyses using logistic regression. The results indicate that 58.4% of workers demonstrated a good level of safety risk perception, while 41.6% were categorized as having poor perception. Logistic regression analysis revealed that both individual and organizational factors significantly influence workers’ safety risk perception. Among individual factors, job role (p=0.000; OR=0.012) and educational level (p=0.045; OR=1.458) were found to have significant effects. Meanwhile, among organizational factors, workload (p=0.000; OR=5.118), safety climate (p=0.000; OR=3.211), and accident experience (p=0.041; OR=0.056) also showed significant associations. These findings highlight that improving occupational safety cannot rely solely on system level interventions but also requires strengthening individual and workplace dimensions. Therefore, more integrative strategies are needed, including the development of contextualized OHS training programs, enhancement of leadership quality in fostering a positive safety climate, optimization of workload management, and the improvement of transparent accident reporting systems as a means of organizational learning. These approaches are expected to enhance workers’ risk perception and strengthen the safety culture within the precast industry.
Read More
T-7507
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gianina Afiqah Putri; Pembimbing:Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Toni Nurdianto
Abstrak:

MSDs sering dialami oleh pekerja perkantoran karena banyak menghabiskan waktunya
untuk melakukan pekerjaan statis. Di PT X, keluhan terkait MSDs seringkali muncul, namun PT X belum melakukan pengukuran terkait dengan risiko ergonomi dan MSDs sejak periode September 2021. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat keluhan MSDs PT X dan apakah ada hubungannya dengan faktor risiko individu (usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan IMT) dan postur kerja. Hubungan di antar variabel diuji menggunakan uji spearman. Faktor risiko yang berhubungan signifikan adalah faktor risiko individu IMT dengan P value = 0.018 dan koefisien korelasi -0.41 yang menandakan arah hubungan negatif dengan kekuatan hubungan cukup. Arah hubungan negatif berarti adanya hubungan terbalik di antara IMT dan tingkat keluhan MSDs. Semakin tinggi IMT, kemungkinan untuk mengalami MSDs akan semakin rendah.


MSDs is closely associated with those who works office job as they spent most of their  time sitting in the same position. At PT X, MSDs complaints frequently occurred,  however, no ergonomic assessments have been conducted since September 2021. This  study aims to get the general level of MSDs complaints among office workers at PT X and  to examine whetere there is a relationship between the level of MSDs complaints and  individual risk factors (age, gender, physical activity, and BMI) as well as working  postures. The correlation between variables were tested using the Spearman correlation  test. BMI was found to have a significant relationship with MSDs with a p-value of 0.018  and a correlation coefficient of -0.41 that indicates a moderate negative relationships.  This outcome suggests that those with higher BMI, have a lower likelihood to experience MSDs  

Read More
S-12222
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahratunnisa; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Fatma Lestari, Rezki Kurnianto
Abstrak:
Stres kerja merupakan respons fisik dan emosional yang merugikan akibat ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan yang dirasakan dengan sumber daya, kemampuan, serta kebutuhan individu dalam mengatasinya. Berdasarkan penelitian terdahulu, stres kerja merupakan permasalahan global dengan prevalensi tinggi di berbagai sektor dan profesi. Risiko serupa juga dialami oleh pekerja kantoran yang menghadapi tekanan dari beban kerja kompleks, tuntutan tinggi, serta jam kerja fleksibel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor psikososial dan faktor individu terhadap kejadian stres kerja pada karyawan PT X, sebuah perusahaan manufaktur di DKI Jakarta. Faktor yang diteliti adalah faktor individu, faktor konteks kerja, dan faktor konten kerja. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pengumpulan data melalui kuesioner. Analisis data meliputi uji chi-square untuk hubungan bivariat dan regresi logistik untuk variabel dengan kategori >2 menggunakan SPSS 22.0 guna mengidentifikasi pengaruh faktor independen terhadap stres kerja. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa prevalensi stres kerja sedang di PT X adalah sebesar 8,7%. Hubungan signifikan (p-value<0,05) ditemukan pada 8 faktor, yaitu jenis kelamin, status pernikahan saat ini, status kepegawaian, pengembangan karier, home-work interface, lingkungan dan peralatan kerja, beban/kecepatan kerja, serta jadwal kerja. Oleh karena itu, diperlukan penerapan manajemen stres kerja yang holistik, terutama pada faktor yang berhubungan dengan stres kerja, untuk mencegah kejadian stres kerja yang lebih besar serta meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan pekerja.

Work related stress is a harmful physical and emotional response resulting from an imbalance between perceived job demands and available resources, individual capabilities, and coping needs. Previous research shows it’s a prevalent global issue across professions and sector, including office workers facing complex workloads, high demands, and flexible schedules. This cross-sectional study examined psychosocial (work context and content) and individual factos influencing work related stress among employees at PT X, located in DKI Jakarta, that is a manufacturing company, using questionnaire data analyzed with chi-square test and logistic regression (SPSS 22.0). Results indicated an 8,7% moderate stress prevalence, with significant associations (p<0,05) found for gender, marital status, employment type, career development, work-home interface, work environment, workload, and work schedules. These findings support the need for holistic stress management interventions targeting these factors to improve employee welbeing and productivity.
Read More
S-11979
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desmon Prawiradinata; Pembimbing: Hendra; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Irma Setiawaty Wulandari
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang analisis faktor-faktor yang berhubungan dengankejadian stres pada Pekerja di PT. X. Menurut Robbins (2006) mengemukakan terdapattiga kategori potensi stressor yaitu berasal dari faktor lingkungan, faktor organisasi, faktorindividu. Didukung dengan teori yang dikembangkan oleh Health, Safety, and Executive(2007) diketahui bahwa terdapat enam aspek dalam faktor organisasi yang berhubungandengan stres kerja. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa faktor organisasi danfaktor individu merupakan faktor yang memegang peranan dalam mengakibatkan streskerja.Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatanmenggunakan desain penelitian cross sectional, Variabel independen ini meliputi faktororganisasi (tuntutan pekerjaan, kontrol terhadap pekerjaan, dukungan sosial, hubunganinterpersonal, peran dalam organisasi, perubahan pada organisasi) dan karakteristikindividu (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, masa kerja).Variable dependen yang diteliti adalah kejadian stres yang dialami pekerja di PT. X.Sampel pada penelitian ini berjumlah 136 responden. Analisis bivariat dilakukan denganuji Chi Square. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui sebanyak 25 orang (18,4 %)mengalami kejadian stres berat, sebanyak 43 orang (31,6 %) mengalami kejadian stressedang, sebanyak 39 orang (28,7 %) mengalami kejadian stres sedang stres rendah, dansebanyak 29 responden (21,3 %) masuk dalam kategori tidak stres. Karakteristik individuyang terbukti berhubungan dengan kejadian stres kerja adalah tingkat pendidikan danstatus pernikahan. Sedangkan, seluruh faktor organisasi terbukti berhubungan dengankejadian stres kerja.
Kata kunci: stres kerja, stressor, faktor organisasi
This research is about the analysis of related factors that generate stress atworkplace on PT. X. According to Robbins (2006) suggests there are three categories ofpotential stressors which are derived from environmental, organizational, and individualfactors. Supported by a theory, developed by Health, Safety, and Executive (2007), thereare six aspects in management standards that are related to stress at workplace. Based onthis, it can be said that management standards and individual characteristics are factorsthat generate stress at workplace.This is the descriptive analytic with cross sectional design studies. Independentvariables which include on this reasearch are management standards (demands, control,support, relationships, role, and change) and individual characteristics (age, sex,education, marital status, years of service). Dependen variables which include on thisresearch is the incident of stress, experienced by workers at PT. X. With 136 respondents,researcher used chi-square for bivariate analysis. The result, 25 workers (18.4%)experienced severe stress level, 43 workers (31.6%) experienced moderate stress level,39 workers (28.7%) experienced a low stress level, and as many as 29 workers (21.3%)not having a stressed level. Individual characteristics that are proven to be associated withstress events are education level and marital status. Whereas, all management standardsare proven to be related stress at workplace in PT. X.
Keywords: work stress, stressor, management standards.
Read More
S-9651
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andriza Hanifah Wulandari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Rijal Noor Al-Ghiffari
Abstrak:

Kelelahan merupakan masalah multifaktor yang dialami pekerja sektor manufaktur dan
berdampak pada kecelakaan kerja, kesehatan, serta ekonomi. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja sales
perusahaan manufaktur di PT X tahun 2025. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor
risiko terkait pekerjaan (durasi kerja, masa kerja, beban kerja, waktu istirahat, waktu
perjalanan, dan lingkungan kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, status
gizi, kuantitas tidur, kualitas tidur, konsumsi alkohol, dan konsumsi kafein). Penelitian
ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan Februari
hingga Juni 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring, meliputi kuesioner
karakteristik individu dan pekerjaan, OFER, PSQI, NASA-TLX, dan persepsi terhadap
lingkungan kerja. Terdapat 136 data responden yang dianalisis menggunakan analisis
deskriptif dan inferensial dengan uji chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa
56.6% pekerja mengalami kelelahan kronik dan 79.4% kelelahan akut. Hasil
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko terkait kerja
yaitu masa kerja (p value = 0.047), lingkungan kerja bising (p value = 0.033) dan faktor
risiko tidak terkait kerja, yaitu kualitas tidur (p value = 0.044) dengan kelelahan kronik.
Hasil juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko
terkait kerja yaitu beban kerja (p value = 0.033) dengan pemulihan kelelahan.


Fatigue is a multifactorial problem experienced by workers in the manufacturing sector  and has an impact on work accidents, health, and the economy. This study aims to analyze  the risk factors associated with fatigue in sales workers of manufacturing companies at  PT X in 2025. The risk factors studied include work-related risk factors (duration of work,  length of service, workload, rest time, commuting time, and work environment) and non work-related risk factors (age, nutritional status, sleep quantity, sleep quality, alcohol  consumption, and caffeine consumption). This study used a cross-sectional study design  conducted from February to June 2025. Data were collected through online  questionnaires, including individual and job characteristics questionnaires, OFER, PSQI,  NASA-TLX, and perceptions of work environment. 136 respondent data analyzed using  descriptive and inferential analysis with the chi-square test. The results of the analysis  showed that 56.6% of workers experienced chronic fatigue and 79.4% acute fatigue. The  results showed that there was a significant relationship between work-related risk factors,  namely work period (p value = 0.047), noisy work environment (p value = 0.033) and  non-work-related risk factors, namely sleep quality (p value = 0.044) with chronic fatigue.  The results also showed that there was a significant relationship between work-related  risk factors, namely workload (p value = 0.033) with fatigue recovery.

Read More
S-12100
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jasmine Kamilatun Nuha; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Distres adalah bentuk stres negatif yang disebabkan oleh kejadian buruk dan mengakibatkan penurunan performa kerja. Sektor kelistrikan memiliki kompleksitas dan risiko yang tinggi dalam proses bisnisnya, sehingga dalam penelitian terdahulu dan hasil observasi awal didapatkan bahwa pekerja sektor kelistrikan memiliki risiko mengalami distres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan menganalisis hubungan antara faktor risiko distres dengan tingkat distres pada pekerja PT X Sektor Kelistrikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan desain studi cross-sectional. Data kuantitatif didapatkan dari penyebaran kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square, sedangkan data kualitatif dilakukan dengan wawancara dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor individu (usia, masa kerja, status pernikahan), faktor terkait pekerjaan (beban dan kecepatan kerja, peran dalam organisasi, pengembangan karier, hubungan interpersonal, home-work interface), faktor tidak terkait pekerjaan (domestic-family demands), dan faktor penyangga (dukungan sosial). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebanyak 70,6% pekerja mengalami stres sedang, 27,2% pekerja mengalami stres berat, dan 2,2% mengalami stres ringan. Hasil analisis inferensial menunjukkan hanya variabel pengembangan karier (p=0,021) yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat distres. Adapun nilai OR yang dihasilkan sebesar 2,457 yang mengartikan bahwa pekerja dengan persepsi buruk terhadap pengembangan karier memiliki peluang 2,457 kali lebih besar mengalami distres.
Distress is a form of negative stress caused by adverse events that can lead to a decline in work performance. The electricity sector involves high complexity and risk in its business processes, making workers in this sector more vulnerable to experiencing distress, as indicated by previous studies and preliminary observations. This study aims to describe and analyze the relationship between risk factors and the level of distress among workers at PT X in the electricity sector. A mixed-method approach with a cross-sectional design was employed. Quantitative data were obtained through questionnaires and analyzed using the chi-square test, while qualitative data were collected through interviews and analyzed thematically. The risk factors examined include individual factors (age, length of employment, marital status), work-related factors (workload and work pace, organizational role, career development, interpersonal relationships, home-work interface), non-work-related factors (domestic-family demands), and buffering factors (social support). The results of the descriptive analysis indicated that 70.6% of workers experienced moderate stress, 27.2% experienced severe stress, and 2.2% experienced mild stress. Inferential analysis showed that only the variable career development (p = 0.021) had a significant relationship with the level of distress, with an odds ratio (OR) value of 2.457, indicating that workers with negative perceptions of career development were 2.457 times more likely to experience distress.
Read More
S-12004
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refianto Setyawan; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Hendra, Lana Saria, Selamat Riyadi
Abstrak:
Sindrom metabolik memiliki dampak yang besar terhadap kondisi kesehatan pekerja, hal ini dapat meningkatkan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan serta mengakibatkan hilangnya produktifitas maka perlu dilakukan penelitian faktor risiko sindrom metabolik pada pekerja kantor di PT X yang diharapkan dapat mencegah dan mengendalikan prevalensi sindrom metabolik demi menurunkan risiko sindrom metabolik dikemudian hari. Penelitian ini dilakukan pada pekerja kantor di PT X dengan responden penelitian sejumlah 106 orang selama bulan Februari - Agustus 2020 di Jakarta. PT X merupakan perusahaan enjineering penyedia produk dan jasa dibidang industri otomatis yang memiliki klien beberapa industri proses yang keseharian aktivitasnya lebih banyak di dalam ruangan. Desain studi penelitian ini menggunakan metode cross sectional (potong lintang). Adapun bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen (Faktor risiko individu dan faktor risiko pekerjaan) dengan variabel independen sindrom metabolik. Hasilnya menunjukkan bahwa sebesar proporsi sindrom metabolik sebesar 4,97% yang memiliki komponen kriteria sindrom metabolik tertinggi terdapat pada trigliserida tinggi 20,4%, yang memiliki kadar HDL rendah 14,9% dan memiliki obesitas perut sebesar 14,4%.. yang terdapat 1 gejala kriteria sindrom metabolik sebesar 25,4% dan yang terdapat 2 gejala kriteria sindrom metabolik sebesar 8,3%. Meskipun pada analisis didapat hasil yang tidak signifikan terhadap hubungan faktor individu dan pekerjaan terhadap sindrom metabolik akan tetapi pada beberapa faktor risiko individu seperti Merokok memiliki risiko 3,35 kali lebih besar dibanding tidak merokok, dan Tingkat pendidikan lebih tinggi beresiko 2,44 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan lebih rendah

Metabolic syndrome has a large impact on the health condition of workers, this can increase costs incurred by the company and lead to loss of productivity it is necessary to research the risk factors for metabolic syndrome in office workers at PT X which is expected to prevent and control the prevalence of metabolic syndrome in order to reduce risk factor of metabolic syndrome in future. This research was conducted on office workers at PT X with 106 research respondents during February - August 2020 in Jakarta. PT X is an engineering service provider of the Indusrial Automation that has clients in several process industries whose daily activities are sedentary. The design of this research study uses cross sectional method. The aim is to determine the relationship between the dependent variable (individual risk factors and occupational risk factors) with the independent variable Metabolic Syndrome. The results showed that the proportion of metabolic syndrome is 4,97% which the highest metabolic syndrome component was found in high triglycerides 20,4%, low HDL levels is 14,9% and had abdominal obesity is 14,4%. Which had 1 symptom of metabolic syndrome criteria is 25,4% and which had 2 symptoms of metabolic syndrome criteria are 8,3%. Although the analysis found no significant results on the relationship of individual factors and occupation of the metabolic syndrome, but on some individual risk factors such as smoking have a risk of 3,35 times greater than not smoking, and higher education levels 2,44 times higher risk compared to lower education levels.

Read More
T-5971
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pristi Dwi Puspitasari; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Robiana Modjo, Supriadi, Benedictus Kristo Wijayanto
Abstrak:
Tunjuk sebut merupakan teknik yang mengkombinasikan fungsi mata, gerakan tangan, mulut, otak, dan telinga untuk mencegah terjadinya kesalahan pada manusia. PT XYZ menerapkan tunjuk sebut secara resmi untuk mencegah kesalahan pada masinis sejak tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor individu, tempat kerja, pekerjaan dan organisasi terhadap performansi penerapan tunjuk sebut. Pengumpulan data diawali dengan proses wawancara terhadap tujuh informan untuk mendalami penerapan tunjuk sebut di perusahaan, mengkonfirmasi variabel yang disusun dari telaah literatur dan mengeksplorasi kondisi faktual di perusahaan. Selanjutnya data dikumpulkan dari 414 masinis melalui pengisian kuesioner. Distribusi performansi tunjuk sebut pada masinis menunjukkan bahwa 51,9% masinis menujukkan performansi tunjuk sebut baik, sedangkan 48,1% masinis menunjukkan performansi tunjuk sebut kurang. Hasil pengujian menggunakan chi square pada Confidence Interval (CI) 95% menunjukkan bahwa faktor individu yang berhubungan dengan performansi tunjuk sebut adalah usia, jabatan, pengalaman individu, kesadaran risiko, acceptance terhadap tunjuk sebut dan kesadaran diri. Sedangkan faktor tempat kerja yang berhubungan dengan performansi tunjuk sebut adalah otomasi kabin lokomotif, peralatan monitoring lokomotif, dan lingkungan kabin lokomotif. Faktor pekerjaan yang berhubungan dengan performansi tunjuk sebut adalah jenis kereta api yang sering didinasi oleh masinis, tingkat monoton dan kejelasan instruksi kerja. Faktor organisasi juga berhubungan dengan performansi tunjuk sebut diantaranya organizational leadership and commitment, prosedur tunjuk sebut, insentif keselamatan, masukan keselamatan, informasi keselamatan dan budaya keselamatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor individu, tempat kerja, pekerjaan dan organisasi berkaitan dengan kepatuhan dan konsistensi pelaksanaan tunjuk sebut di PT XYZ.

Pointing-and-calling is a technique that combines the functions of the eyes, hand movements, mouth, brain, and ears to prevent human error. PT XYZ has been officially implementing the pointing-and-calling to prevent train driver errors since 2012. This study aims to analyze the association of individual, workplace, job, and organizational factors with the performance of the pointing-and-calling implementation. Data collection began with an interview process with seven informants to explore the implementation of pointing-and-calling, confirm the variables compiled from the literature review, and explore the factual conditions in the company. Furthermore, data were collected from 414 train drivers through questionnaires. The distribution of pointing-and-calling performance among train drivers shows that 51,9% demonstrated good indicator performance, while 48,1% demonstrated poor indicator performance. The results of testing using chi-square at 95% Confidence Interval (CI) showed that individual factors associated with the performance of the pointing-and-calling implementation are age, position, individual experience, risk awareness, acceptance of designation, and self-awareness. While workplace factors associated with the performance of the pointing-and-calling implementation are locomotive cabin automation, locomotive monitoring equipment, and locomotive cabin environment. Job factors that are related to the performance of the pointing-and-calling implementation are the type of train that is often nominated by the train driver, the level of monotony, and the clarity of work instructions. Organizational factors also associated with the performance of the pointing-and-calling implementation include organizational leadership and commitment, pointing-and-calling procedures, safety incentives, safety feedback, safety information, and safety culture. The findings indicate that individual, workplace, job, and organizational factors are associated with the compliance and consistency of pointing-and-calling implementation.

Read More
T-7346
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amanda Badar; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Muhammad Yuliansya Idul Adha
Abstrak: Manufaktur merupakan salah satu sektor industri yang memiliki risiko fatigue. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor risiko terkait kerja dan tidak terkait kerja terhadap keluhan fatigue. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2019 dengan melibatkan 113 pekerja mandor, 77 pekerja spun pile, dan 62 pekerja kantor di PT Waskita Beton Precast Tbk Plant Karawang yang merupakan perusahaan manufaktur beton dan ready mix. Desain penelitian yang digunakan ialah cross sectional dengan penggunaan instrument pengambilan data subjektif berupa kuesioner FAS, OFER, PSQI, dan kombinasi kuesioner psikososial. Pengambilan data secara objektif menggunakan aplikasi Sleep-2-Peak. Variabel independent faktor risiko terkait kerja dalam penelitian ini yaitu masa kerja, waktu istirahat, Commuting Time, jenis pekerjaan, shift kerja, kerja lembur, pekerjaan sampingan, usaha kerja, penghargaan kerja, dukungan social, kepuasan kerja, dan stress kerja sedangkan faktor risiko tidak terkait kerja ialah usia, pendidikan, status gizi, status meroko, status kesehatan, kuantitas tidur, dan kualitas tidur. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kelelahan dengan faktor risiko masa kerja, shift kerja, kerja lembur, usaha kerja, penghargaan kerja, dukungan social, kepuasan kerja, stress kerja, pendidikan, status gizi, status kesehatan, kuantitas dan kualitas tidur. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian lebih lanjut dalam menangani masalah fatigue di PT Waskita Beton Precast Tbk Plant Karawang.
Read More
S-10094
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Surya Pratama; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Dadan Erwandi, Robiana Modjo, Danu Nuryanto, Ivantheaus Siregar
Abstrak: Kesehatan Kerja merupakan salah satu upaya promosi dan pemeliharaan tingkat kesehatan fisik, mental dan sosial tertinggi pekerja di semua pekerjaan, pencegahan permasalahan yang berkaitan dengan pekerja akibat kondisi kerja mereka, perlindungan pekerja dalam pekerjaan mereka dari risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor yang merugikan kesehatan, penempatan dan pemeliharaan pekerja di lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kemampuan fisiologis dan psikologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko sindrom metabolik pekerja Unit Pembangkitan Priok PT. X. tahun 2021.Penelitian ini menggunakan metode cross sectional, dengan jumlah sampel 100 responden pada pekerja di Unit Pembangkitan Priok PT. X. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan menggunakan uji chi square dan multivariat dengan metode regresi logistic menggunakan software SPSS versi 23. Instrumen penelitian sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas sesuai dengan kaidah dan mendapatkan surat keterangan lolos kaji etik dengan Nomor: Ket- 552/UN2.F10.D11/PPM.00.02/2021 yang dikeluarkan oleh komite etik penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Komponen sindrom metabolik yang paling banyak dialami oleh responden penelitian yaitu terjadinya peningkatan gula darah puasa, hipertensi, peningkatan trigliserida, terjadinya obesitas sendtral dan penurunan kadar lemak HDL dalam darah. Penelitian ini menunjukan bahwa faktor resiko yang berhubungan secara signifikan pada terjadinya sindrom metabolik pada pekerja yaitu usia, tingkat pendidikan, status merokok dan aktifitas fisik. Berdasarkan pemodelan multivariat dengan 11 kali tahap uji pemodelan didapatkan bahwa faktor individu tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang paling dominan dalam terjadinya sindrom metabolik. Tingkat pendidikan merupakan salah satu dimensi yang menggambarkan tingkat pengetahuan dan wawasan seseorang, sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan pengetahuan untuk melakukan pola hidup sehat untuk mencegah terjadinya sindrom metabolik semakin baik
Occupational Health is one of the efforts to promote and maintain the highest level of physical, mental and social health of workers in all occupations, prevention of problems related to workers due to their working conditions, protection of workers in their work from risks caused by factors detrimental to health, placement and maintenance of workers in a work environment that is adapted to their physiological and psychological abilities. This study aims to analyze the risk factors for metabolic syndrome of workers at the Priok Generation Unit PT. X. 2021. This study used a cross sectional method, with a sample of 100 respondents to workers at the Priok Generation Unit PT. X. Data analysis was carried out univariate, bivariate using chi square test and multivariat with logistic regression method using SPSS software version 23. The research instrument has been tested for validity and reliability in accordance with the rules and obtained a certificate of passing the ethical review with Number: Ket-552 /UN2.F10.D11/PPM.00.02/2021 issued by the research ethics committee of the Faculty of Public Health, University of Indonesia. The components of the metabolic syndrome most experienced by research respondents were an increase in fasting blood sugar, hypertension, an increase in triglycerides, the occurrence of central obesity and a decrease in HDL fat levels in the blood. This study shows that the risk factors that are significantly related to the occurrence of metabolic syndrome in workers are age, education level, smoking status and physical activity. Based on multivariate modeling with 11 modeling test stages, it was found that the personal education factor is one of the most dominant factors in the occurrence of metabolic syndrome. The level of education is one of the dimensions that describes a person's level of knowledge and insight, so the higher the level of knowledge education to carry out a healthy lifestyle to prevent the occurrence of metabolic syndrome, the better
Read More
T-6318
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive