Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37038 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maheswara Ardhani Nararya; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Ade Kurdiman
Abstrak:
Tekanan panas merupakan salah satu faktor bahaya fisik di lingkungan kerja yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan akibat panas. Oleh karena itu, diperlukan penilaian tekanan panas yang umumnya menggunakan indeks Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT). Namun, penggunaan alat ukur WBGT standar masih memiliki beberapa keterbatasan. Sebagai alternatif, telah dikembangkan alat real-time monitoring tekanan panas berbasis low-cost sensor yang terintegrasi dengan sistem Internet of Things (IoT). Namun, validitas hasil pengukuran alat tersebut masih belum diketahui secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis validitas alat real-time monitoring tekanan panas berbasis low-cost sensor terhadap alat ukur WBGT standar pada area indoor dan outdoor. Penelitian menggunakan desain studi komparasi (method comparison study) dengan pendekatan kuantitatif. Analisis validitas dilakukan melalui perbandingan hasil pengukuran alat real-time monitoring berbasis low-cost sensor dan alat ukur WBGT standar berdasarkan kriteria presisi, bias, linearitas, dan error pada parameter suhu kering, suhu basah alami, suhu radian, kelembapan relatif, dan nilai WBGT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu kering memiliki validitas yang baik pada pengukuran indoor dan outdoor. Suhu basah alami dan suhu radian menunjukkan validitas yang baik pada pengukuran indoor, namun mengalami penurunan validitas pada pengukuran outdoor. Kelembapan relatif menunjukkan presisi dan linearitas yang baik, namun validitasnya belum optimal karena nilai bias dan error yang relatif tinggi. Nilai WBGT menunjukkan validitas yang sangat baik pada pengukuran indoor, namun masih memerlukan peningkatan akurasi pada pengukuran outdoor. Secara kesuluruhan, validitas alat real-time monitoring tekanan panas berbasis low-cost sensor lebih baik pada pengukuran indoor dibandingkan outdoor. Alat yang dikembangkan ini berpotensi digunakan sebagai sistem pemantauan tekanan panas secara real-time, terutama pada lingkungan indoor, dengan tetap memerlukan penyempurnaan alat untuk meningkatkan validitas pengukuran outdoor.

Heat stress is one of the physical hazards in the workplace that may cause various heat-related health effects. Therefore, heat stress assessment is required, which commonly assessed using Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT) index. However, the use of standard WBGT instruments still has several limitations. As an alternative, a low-cost sensor-based real-time heat stress monitoring device integrated with an Internet of Things (IoT) system has been developed. However, the validity of its measurement results has not yet comprehensively known. This study aimed to determine and analyze the validity of a low-cost sensor-based real-time heat stress monitoring device against a standard WBGT instrument in indoor and outdoor environments. This study employed a quantitative method comparison design. Validity analysis was assessed by comparing measurements obtained from the low-cost sensor-based real-time monitoring device and the standard WBGT instrument based on precision, bias, linearity, and error for dry-bulb temperature, natural wet-bulb temperature, globe temperature, relative humidity, and the WBGT value. The results showed that dry-bulb temperature demonstrated good validity in both indoor and outdoor measurements. Natural wet-bulb temperature and globe temperature showed good validity in indoor measurements but experienced a decrease in validity during outdoor measurements. Relative humidity demonstrated good precision and linearity, but its validity was not optimal due to relatively high bias and error values. The WBGT value showed excellent validity in indoor measurements, but still required improved accuracy in outdoor environments. Overall, the validity of the low-cost sensor-based real-time heat stress monitoring device was better in indoor than outdoor environments. The developed device has the potential to be used as a real-time heat stress monitoring system, particularly in indoor settings, although further improvements are needed to enhance the validity of outdoor measurements.
Read More
S-12291
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Axell Raditya Dhiaurrahman; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Ade Kurdiman
Abstrak:
Pajanan konsentrasi PM2,5 merupakan salah satu bahaya kimia di lingkungan kerja yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Dalam keilmuan Higiene Industri, salah satu tahapan yang ditujukan untuk menanggulangi pajanan konsentrasi PM2,5 di lingkungan kerja adalah evaluasi, yang dapat dilakukan dengan cara mengukurnya dengan alat ukur berstandar. Akan tetapi, harga dan biaya operasional alat ukur tersebut sangat tinggi. Seiring berkembangnya teknologi, telah dikembangkan alat realtime monitoring PM2,5 berbasis low-cost sensor. Akan tetapi, validitas hasil pengukuran alat tersebut masih belum diketahui secara komprehensif. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis validitas alat realtime monitoring PM2,5 berbasis low-cost sensor terhadap DustTrak TSI 8530 sebagai alat ukur referensi di area indoor dan outdoor. Penelitian ini menggunakan desain studi komparasi dengan pendekatan analitik observasional. Validitas alat tersebut akan dianalisis melalui perbandingan hasil pengukuran konsentrasi PM2,5 antara kedua alat tersebut berdasarkan kriteria presisi, bias, linearitas, dan error sesuai dengan panduan yang ada pada SNI Nomor 9178 tahun 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengujian di indoor, kriteria validitas yang diterima sesuai persyaratan terdiri dari Standar Deviasi (SD) yang didapatkan sebesar 1,25 μg/m^3, Koefisien Variasi (KV) sebesar 5,33%, Intercept sebesar -3,419, dan Koefisien Determinasi (R²) sebesar 0,924. Akan tetapi, terdapat kriteria validitas yang tidak diterima sesuai persyaratan, yaitu slope yang didapatkan sebesar 0,515 dan Root Mean Square Error (RMSE) sebesar 26,9 μg/m^3. Selanjutnya, pada pengujian outdoor kriteria validitas yang diterima sesuai persyaratan terdiri dari SD yang didapatkan sebesar 3,81 μg/m^3, KV sebesar 8,35%, Intercept sebesar -3,454, dan R² sebesar 0,916. Akan tetapi, terdapat kriteria validitas yang tidak diterima sesuai persyaratan, yaitu slope yang didapatkan sebesar 0,532 dan RMSE sebesar 50,2 μg/m^3. Maka dari itu, hasil Uji Validitas di kedua area pengukuran tidak valid karena kriteria slope dan RMSE di dua area pengukuran tidak diterima sesuai persyaratan, sehingga diperlukan adanya rumus adjusted sensor concentration ke dalam program alat tersebut agar dapat valid dan setara dengan DustTrak TSI 8530.

Exposure to PM2,5 concentration is one of the chemical hazards in the workplace that can cause various health problems. In Industrial Hygiene science, one of the stages aimed at overcoming exposure to PM2,5 concentration in the workplace is evaluation, which can be done by measuring it with standardized measuring instruments. However, the price and operational costs of these measuring instruments are very high. As technology develops, realtime monitoring device for PM2,5 based on low-cost sensors have been developed. However, the validity of the measurement results of these tools is still not comprehensively known. Therefore, this study aims to determine and analyze the validity of realtime monitoring device for PM2,5 based on low-cost sensors against the DustTrak TSI 8530 as a reference measuring tool in indoor and outdoor areas. This study uses a method comparison study with a analytical observasional approach. The validity of the tool will be analyzed by comparing the results of PM2,5 concentration measurements between the two tools based on the criteria of precision, bias, linearity, and error in accordance with the guidelines in SNI Number 9178 of 2023. The results of the study show that in indoor testing, the validity criteria accepted according to the requirements consist of a Standard Deviation (SD) obtained of 1.25 μg/m^3, a Coefficient of Variation (CV) of 5.33%, an Intercept of -3.419, and a Coefficient of Determination (R²) of 0.924. However, there are validity criteria that are not accepted according to the requirements, namely the slope obtained of 0.515 and a Root Mean Square Error (RMSE) of 26.9 μg/m^3. Furthermore, in the outdoor testing, the validity criteria accepted according to the requirements consist of SD obtained at 3.81 μg/m^3, CV at 8.35%, Intercept at -3.454, and R² at 0.916. However, there are validity criteria that are not accepted according to the requirements, namely the slope obtained at 0.532 and RMSE at 50.2 μg/m^3. Therefore, the results of the validation test in both measurement areas are invalid because the slope and RMSE criteria in the two measurement areas are not accepted according to the requirements, so that an adjusted sensor concentration formula is needed in the device program so that it can be valid and equivalent to the DustTrak TSI 8530.
Read More
S-12278
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rafi Sufianto; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Edy Sufa'at
Abstrak:
Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) Unit Pulo Gadung merupakan serangkaian kegiatan menguji dan/atau mengecek komponen kendaraan bermotor untuk memastikan pemenuhan persyaratan teknis dan kelaikan jalan. Oleh karena itu, pekerja di UP PKB Pulo Gadung berisiko mengalami kejadian tekenanan panas yang berpotensi keluhan kesehatan subjektif akibat panas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kejadian tekanan panas melalui pengukuran real time monitoring heat index dengan keluhan kesehatan subjektif. Faktor – faktor risiko yang diteliti meliputi faktor kondisi lingkungan, faktor karakteristik pekerja dan faktor aktivitas pekerjaan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain metode cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat hasil pengembangan real time monitoring heat index. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 40 pekerja. Hasil penelitian terdapat hubungan antara kejadian tekanan panas dengan keluhan kesehatan subjektif (OR = 5,571) yang menunjukkan bahwa 20 pekerja outdoor seluruhnya mengalami kejadian tekanan panas, dengan 7 (35%) pekerja mempunyai keluhan ringan dan 13 (65%) pekerja lainnya mempunyai keluhan berat. Di sisi lain, seluruh pekerja indoor yang berjumlah 20 pekerja tidak mengalami kejadian tekanan panas, dengan 15 (75%) pekerja mempunyai keluhan ringan dan 5 (15%) pekerja lainnya mempunyai keluhan berat.

Vehicle Testing (PKB) Pulo Gadung Unit is a series of activities to test and/or check motor vehicle components to ensure the fulfillment of technical requirements and roadworthiness. Therefore, workers at UP PKB Pulo Gadung are at risk of experiencing heat stress events that have the potential for subjective health complaints due to heat. This study aims to see the relationship between the incidence of heat stress through the measurement of real time monitoring heat index with subjective health complaints. The risk factors studied include environmental condition factors, worker characteristics factors and work activity factors. This study is a quantitative study with a cross-sectional method design. Data collection was carried out using questionnaires, observations, and environmental measurements using a tool developed from the real time monitoring heat index. The number of samples in this study was 40 workers. The results showed that there was a relationship between the incidence of heat stress and subjective health complaints (OR = 5.571) which showed that 20 outdoor workers all experienced heat stress, with 7 (35%) workers having mild complaints and 13 (65%) other workers having severe complaints. On the other hand, all 20 indoor workers did not experience heat stress, with 15 (75%) workers having mild complaints and 5 (15%) workers having severe complaints.
Read More
S-11647
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Ratnanig Pamungkas; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Hanny Harjulianti
S-7911
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisa Sarah Andriyari; Pembimbing: Hendra; Penguji: Fatma Lestari, Hari Awang Pramudja
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran keluhan subjektif akibat kejadian tekanan panas yang memajan pekerja di area penatu dan dapur Crowne Plaza Hotel Jakarta pada tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini berjumlah 105 orang. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 12 responden (11,4%) mengalami kejadian tekanan panas. Selain itu, hasil penelitian ini pun menunjukkan bahwa terdapat tujuh keluhan yang dirasakan oleh lebih dari 50% responden yaitu, cepat haus (93,3%), banyak berkeringat (91,4%), merasa cepat lelah (67,6%), jarang buang air kecil/air seni sedikit (65,7%), lemas (59,0%), tidak nyaman dalam bekerja (56,2%), dan pusing atau berkunang-kunang (50,5%). Berdasarkah hal tersebut, perlu dilakukan pengendalian baik dari segi teknis, administratif, maupun personal untuk meminimalisasi keluhan subjektif dan risiko kesehatan akibat tekanan panas.
Kata kunci: Keluhan subjektif, tekanan panas, pekerja penatu, pekerja dapur
Read More
S-8708
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agil Helien Puspita; Pembimbing: Hendra; Penguji: Chandra Satrya, Setyo Nugroho
S-7082
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Rizkon Nurhasanah; Pembimbing: Syahrul M. Meizar; Penguji: Tejamaya Mila, Trisnajaya
Abstrak: Kombinasi dari faktor lingkungan kerja, faktor pekerjaan, faktor pakaian,serta faktor karakteristik individu dapat menyebabkan tekanan panas (heat stress)bagi pekerja water blasting dan AFR di area preheater industri semen PT.X.Tekanan panas memiliki potensi untuk menyebabkan gangguan kesehatan (heatrelated disorders) yang diawali respon fisiologis tubuh (heat strain) berupa gejalayang dirasakan secara subjektif oleh responden. Penelitian ini menggunakanmetode observasional dengan pendekatan cross-sectional.

Dari hasil penelitian inidiketahui bahwa terdapat 24 pekerja (100%) water blasting dan 19 pekerja AFR(52,8%) mengalami tekanan panas. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwaterdapat 7 keluhan yang dirasakan oleh >50% responden yaitu banyakmengeluarkan keringat (100%), merasa cepat haus (100%), kulit terasa panas(83,3%), merasa cepat lelah (66,7%), lemas (66,7%), tidak nyaman (65%), danmerasa pusing atau berkunang-kunang (51,7%). Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan pengendalian baik secara teknis, administratif, maupun personal untukmeminimalisasi keluhan dan risiko kesehatan akibat tekanan panas

Kata Kunci:Tekanan Panas, Keluhan Subjektif, Pekerja Water Blasting dan AFR.
Read More
S-9137
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alwina Fitria Maulidiani; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Ike Pujiriani
Abstrak: Kombinasi dari temperatur lingkungan kerja, panas metabolik dari tubuh pekerja,pakaian kerja, dan faktor individu dapat menimbulkan tekanan panas (heat stress)bagi pekerja di area peleburan, proses sekunder, dan pengecoran SSP PT KrakatauSteel. Tekanan panas berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan (heat-relateddisorders) yang diawali dengan berbagai respon fisiologis tubuh (heat strain)berupa gejala-gejala atau keluhan yang dirasakan secara subjektif oleh pekerja.Penelitian dilakukan pada 51 orang responden dengan desain studi cross sectional deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami tekanan panas adalah 36 orang dari 51 responden (70,6%) di area peleburan danproses sekunder. Seluruh responden merasa bahwa suhu lingkungan kerja mereka panas dan 74,5% responden merasa tidak nyaman (terganggu) dengan kondisi panas tersebut. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya pengendalian dari segiteknis, administratif, maupun penyediaan alat pelindung diri untuk meminimalisasi risiko timbulnya keluhan yang dirasakan pekerja akibat tekanan panas.
Kata kunci : Tekanan panas, keluhan subjektif.
Read More
S-7585
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dianth Kartina; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mila Tejamaya, Wibisono
S-8848
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safiera Amelia; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra; Adenan
Abstrak: PT XYZ adalah industri manufaktur yang memiliki proses produksi yang menghasilkan panas dan berpotensi menimbulkan heat stress bagi pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keluhan subjektif akibat tekanan panas pada pekerja di area fermentasi kedelai dan pemasakan PT XYZ. Penelitian dilakukan pada 55 responden dengan desain studi cross sectional deskriptif. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) digunakan untuk mengukur risiko tekanan panas. Kuesioner menilai keluhan subjektif pekerja akibat tekanan panas. Hasil menunjukkan indeks WBGT rata-rata di area adalah 27,35°C - 32,29°C. Terdapat 70,9% responden mengalami tekanan panas dan 54,5% mengalami keluhan ringan. Keluhan subjektif utama yaitu banyak berkeringat (67,3%) dan merasa haus (50,9%). Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keluhan subjektif, yaitu kejadian tekanan panas (p value= 0,001) dan beban kerja (p value= 0,019). Rekomendasi dari segi teknis, administratif, maupun personal dibutuhkan untuk meminimalisasi keluhan subjektif dan dampak kesehatan akibat tekanan panas.
Kata kunci: Tingkat keluhan subjektif, tekanan panas.

PT XYZ is a manufacturing industry which has production process that produces heat and potentially cause heat stress for workers. The purpose of this study was to determine factors related to the level of subjective complaints due to heat stress among workers in soybean fermentation and cooking area. This study performed on 55 workers using cross sectional descriptive study design. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) were used to quantify risk of heat stress. Questionnaires assessed worker's subjective complaints from heat stress. Results showed WBGT index in the average area are 27,35°C - 32,29°C. About 70,9% respondents experienced heat stress and 54,5% suffered minor complaints. The most subjective complaints were excessive sweating (67,3%) and feeling thirsty (50,9%). Factors related to the level of subjective complaints were heat stress (p value= 0,001) and workload (p value= 0,019). Hence, the recommendation such as engineering, administrative, and personal control are needed to minimize the subjective complaints and adverse health effect of heat stress.
Keywords: The level of subjective complaints, heat stress
Read More
S-9315
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive