Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34875 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurul Dyah Sharifa; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Didik Triwibowo
S-12349
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jumiati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Hanny Harjulianti, Arie Meutia Nada
Abstrak:
Distress psikologis merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang dapat memengaruhi kesejahteraan, produktivitas, dan kualitas kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Berbagai faktor risiko psikososial, baik yang berasal dari organisasi maupun individu, diduga berkontribusi terhadap munculnya distress psikologis pada ASN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko psikososial yang meliputi faktor organisasi dan faktor individu terhadap distress psikologis pada ASN di Kantor Walikota X. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 257 responden yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat serta uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 75 responden (29,2%) mengalami distress psikologis, sedangkan 182 responden (70,8%) tidak mengalami distress psikologis. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tuntutan kerja (p=0,001), konflik peran (p=0,001), kondisi kesehatan (p=0,001), resiliensi psikologis (p=0,003), tekanan finansial (p=0,001), dan penggunaan media sosial (p=0,001) dengan distress psikologis. Sebaliknya, keadilan organisasi (p=0,099), dukungan sosial (p=0,680), dan mekanisme koping (p=1,000) tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan distress psikologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor risiko psikososial yang berhubungan dengan distress psikologis pada ASN meliputi tuntutan kerja, konflik peran, kondisi kesehatan, resiliensi psikologis, tekanan finansial, dan penggunaan media sosial. Oleh karena itu, organisasi perlu mengembangkan program promotif dan preventif kesehatan mental, seperti Employee Assistance Program (EAP), penguatan resiliensi psikologis, literasi keuangan, serta edukasi penggunaan media sosial yang sehat guna mendukung kesejahteraan psikologis ASN dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Psychological distress is a mental health issue that can impact the well-being, productivity, and quality of performance of State Civil Servants (ASN). Various psychosocial risk factors, both organizational and individual, are suspected to contribute to the emergence of psychological distress in ASN. This study aims to analyze the relationship between psychosocial risk factors, including organizational and individual factors, and psychological distress in ASN at the Mayor's Office X. The study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 257 respondents selected using proportional stratified random sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate analysis and the Chi-Square test to determine the relationship between variables. The results showed that 75 respondents (29.2%) experienced psychological distress, while 182 respondents (70.8%) did not experience psychological distress. Bivariate analysis showed a significant relationship between job demands (p=0.001), role conflict (p=0.001), health conditions (p=0.001), psychological resilience (p=0.003), financial stress (p=0.001), and social media use (p=0.001) and psychological distress. Conversely, organizational justice (p=0.099), social support (p=0.680), and coping mechanisms (p=1.000) did not show a significant relationship with psychological distress. This study concluded that psychosocial risk factors associated with psychological distress in civil servants include job demands, role conflict, health conditions, psychological resilience, financial stress, and social media use. Therefore, organizations need to develop promotive and preventive mental health programs, such as Employee Assistance Programs (EAPs), strengthening psychological resilience, financial literacy, and education on healthy social media use to support the psychological well-being of civil servants and improve the quality of public services.
Read More
T-7646
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irfan Kurniawan; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Puspita Tri Utami, Firman Fridono
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko kardiometabolik yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus tipe 2. Pegawai perkantoran, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN), berisiko mengalami sindrom metabolik karena pola kerja sedentary, keterbatasan aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, dan perilaku berisiko lainnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko sindrom metabolik pada pegawai ASN Lembaga X tahun 2026. Penelitian menggunakan desain mixed methods sequential explanatory. Tahap kuantitatif merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional pada 340 responden menggunakan data Medical Check-Up tahun 2025 dan kuesioner faktor risiko tahun 2026. Status sindrom metabolik ditentukan berdasarkan kriteria Joint Interim Statement 2009. Analisis meliputi univariat, bivariat, dan regresi logistik multivariat. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci untuk menjelaskan hasil kuantitatif. Prevalensi sindrom metabolik sebesar 26,2%. Komponen yang paling banyak ditemukan adalah obesitas sentral (58,5%), diikuti trigliserida tinggi (32,4%), glukosa darah puasa tinggi (32,1%), HDL rendah (28,5%), dan hipertensi (18,2%). Model akhir menunjukkan bahwa IMT obesitas merupakan faktor paling dominan (AOR=23,347; 95% CI: 7,863–69,372; p<0,001), diikuti merokok (AOR=2,452; 95% CI: 1,235–4,868; p=0,010), pola makan tidak sering bergizi seimbang (AOR=2,430; 95% CI: 1,405–4,203; p=0,001), riwayat penyakit keluarga (AOR=2,135; 95% CI: 1,181–3,859; p=0,012), perilaku sedentary ≥6 jam/hari (AOR=2,182; 95% CI: 1,096–4,344; p=0,026), dan aktivitas fisik kurang aktif (AOR=1,829; 95% CI: 0,999–3,348; p=0,050). Hasil kualitatif menunjukkan bahwa pekerjaan duduk lama, konsumsi saat rapat atau lembur, hambatan aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan belum optimalnya tindak lanjut hasil MCU memperkuat risiko sindrom metabolik. Sindrom metabolik pada pegawai ASN Lembaga X dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, perilaku, dan lingkungan kerja. Diperlukan program kesehatan kerja terintegrasi berbasis hasil MCU yang memprioritaskan pengendalian obesitas, konsumsi sehat, peningkatan aktivitas fisik, pengurangan perilaku sedentary, serta program berhenti merokok.

Metabolic syndrome is a cluster of cardiometabolic risk factors that increases the risk of cardiovascular disease and type 2 diabetes mellitus. Office workers, including civil servants, are at risk because of sedentary work patterns, limited physical activity, unhealthy dietary habits, and other risk behaviors. This study aimed to analyze risk factors for metabolic syndrome among civil servants at Institution X in 2026. A sequential explanatory mixed-methods design was used. The quantitative phase was an analytical observational cross-sectional study involving 340 respondents, using 2025 Medical Check-Up data and a 2026 risk-factor questionnaire. Metabolic syndrome was defined according to the 2009 Joint Interim Statement criteria. Analyses included univariate, bivariate, and multivariable logistic regression. The qualitative phase involved in-depth interviews with key informants to explain the quantitative findings. The prevalence of metabolic syndrome was 26.2%. The most common component was central obesity (58.5%), followed by elevated triglycerides (32.4%), elevated fasting blood glucose (32.1%), low HDL cholesterol (28.5%), and hypertension (18.2%). In the final model, obesity based on body mass index was the strongest factor (AOR=23.347; 95% CI: 7.863–69.372; p<0.001), followed by smoking (AOR=2.452; 95% CI: 1.235–4.868; p=0.010), infrequent consumption of a balanced diet (AOR=2.430; 95% CI: 1.405–4.203; p=0.001), family history of disease (AOR=2.135; 95% CI: 1.181–3.859; p=0.012), sedentary behavior ≥6 hours/day (AOR=2.182; 95% CI: 1.096–4.344; p=0.026), and insufficient physical activity (AOR=1.829; 95% CI: 0.999–3.348; p=0.050). Qualitative findings indicated that prolonged sitting, food consumption during meetings or overtime, barriers to physical activity, smoking habits, and suboptimal follow-up of Medical Check-Up results reinforced metabolic syndrome risk. Metabolic syndrome among civil servants at Institution X is influenced by the interaction of biological, behavioral, and workplace environmental factors. An integrated occupational health program based on Medical Check-Up results is needed, prioritizing obesity control, healthy food policies, promotion of physical activity, reduction of sedentary behavior, and smoking cessation
Read More
T-7644
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jemmi Wahyu Santoso; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Mufti Wirawan, Muhammad Irwansyah, Diyon Indarto
Abstrak:
Stres kerja merupakan salah satu masalah psikososial yang dapat memengaruhi kesehatan pekerja, keselamatan kerja, dan produktivitas perusahaan. Pelaut memiliki risiko tinggi mengalami stres kerja karena karakteristik pekerjaan yang mengharuskan bekerja dan tinggal di atas kapal dalam waktu lama, sistem kerja bergilir, serta keterbatasan komunikasi dengan keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan stres kerja pada pelaut di PT. X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Smith (2000) untuk mengukur stres kerja serta kombinasi Work Stressor Questionnaire-AIPM dan COPSOQ III untuk mengukur faktor risiko. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik biner dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa usia, tingkat pendidikan, status perkawinan, jabatan, masa kerja, status kepegawaian, status merokok, beban kerja berlebih, kejenuhan terkait pekerjaan, tuntutan pekerjaan, hubungan interpersonal, keamanan pekerjaan, dan keseimbangan kehidupan kerja berhubungan signifikan dengan stres kerja. Pada analisis multivariat, faktor yang tetap berhubungan secara signifikan adalah usia <34 tahun (OR=77,49; 95%CI: 5,578–1076,642), tingkat pendidikan <S1 (OR=605,83; 95%CI: 7,626–48129,244), status perkawinan kawin (OR=67,53; 95%CI: 4,900–930,594), kejenuhan terkait pekerjaan (OR=22,42; 95%CI: 2,615–192,334), hubungan interpersonal yang bermasalah (OR=109,17; 95%CI: 9,345–1275,540), dan keseimbangan kehidupan kerja yang buruk (OR=26,70; 95%CI: 2,042–349,319). Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor individu, psikososial, dan organisasi berperan terhadap terjadinya stres kerja pada pelaut. Hubungan interpersonal merupakan faktor organisasi yang paling dominan, sedangkan tingkat pendidikan menunjukkan nilai OR terbesar meskipun memiliki rentang confidence interval yang sangat lebar. Perusahaan perlu mengembangkan program pengelolaan stres melalui peningkatan kualitas hubungan interpersonal, pengendalian kejenuhan kerja, serta kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja untuk meningkatkan kesehatan mental dan produktivitas pelaut.

Work-related stress is one of the major psychosocial problems that can adversely affect workers' health, occupational safety, and organizational productivity. Seafarers are particularly vulnerable to work-related stress due to prolonged periods onboard, shift work, limited communication with family members, and demanding operational responsibilities. This study aimed to analyze the risk factors associated with work-related stress among seafarers at PT. X. This study employed a quantitative cross-sectional design. Data were collected using the Smith (2000) Work Stress Questionnaire to assess work-related stress and a combination of the Work Stressor Questionnaire-AIPM and the Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III) to measure psychosocial and organizational risk factors. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate binary logistic regression analyses with a 95% confidence level. The bivariate analysis showed that age, educational level, marital status, job position, length of service, employment status, smoking status, work overload, job-related boredom, job demands, interpersonal relationships, job security, and work-life balance were significantly associated with work-related stress. Multivariate analysis revealed that age <34 years (OR=77.49; 95% CI: 5.578–1076.642), educational level below a bachelor's degree (OR=605.83; 95% CI: 7.626–48129.244), married marital status (OR=67.53; 95% CI: 4.900–930.594), job-related boredom (OR=22.42; 95% CI: 2.615–192.334), poor interpersonal relationships (OR=109.17; 95% CI: 9.345– 1275.540), and poor work-life balance (OR=26.70; 95% CI: 2.042–349.319) remained significantly associated with work-related stress after adjustment for potential confounding variables. This study concludes that individual, psychosocial, and organizational factors contribute to work-related stress among seafarers. Poor interpersonal relationships were identified as the most influential organizational factor, while educational level demonstrated the highest odds ratio, although its wide confidence interval indicates limited precision of the estimate. Shipping companies should implement comprehensive stress management programs by improving interpersonal relationships, reducing job-related boredom, and promoting work-life balance to enhance seafarers' mental well-being and productivity. Keywords: work-related stress; seafarers; individual factors; psychosocial factors; organizational factors
Read More
T-7572
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Anindya Kusumaputri; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Abdul Kadir, Julia Rantetampang
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko terkait tingkat stres kerja pada pekerja dengan sistem kerja hibrida di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Penelitian ini melibatkan 116 responden dengan pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner. Hasil analisis chi-square menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat stres kerja dengan desain tugas yang buruk (p value = 0,001; OR = 3,875), beban kerja yang berat (p value = 0,033; OR = 2,273), lingkungan kerja yang buruk (p value = 0,004; OR = 3,033), dan overcommitment (p value = 0,006; OR = 2,919). Sistem kerja hibrida dapat mendorong sifat overcommitment serta meningkatkan beban kerja. Selain itu, diperlukan penyesuaian terkait desain tugas yang dikerjakan selama bekerja hibrida dan pemilihan lingkungan kerja yang sehat dan nyaman. Berdasarkan temuan ini, disarankan untuk dilakukan evaluasi dan penyesuaian beban kerja serta desain tugas, pemberian pedoman terkait lingkungan kerja yang baik untuk bekerja secara hibrida, dan membangun budaya kerja yang memiliki batasan yang sehat antara pekerjaan dan personal.

This study aimed to analyze the risk factors associated with work-related stress levels among employees working under hybrid work system in the DKI Jakarta Province. This Study employed a quantitative approach with a cross-sectional study design. The results of the chi-square analysis indicated significant associations between work-related stress levels and poor task design (p value = 0,001; OR = 2,919), heavy workload (p value = 0,033), poor work environment (p value = 0,004; OR = 3,033) and overcommitment (p value = 0,006; OR = 2,919). A hybrid work system may encourage overcommitment and increase workload. In addition, adjustments to task design during hybrid work and the selection of a healthy and comfortable work environment are necessary. Based on these findings, it is recommended to evaluate and adjust workload and task design, provide guidelines on creating a suitable work environment for hybrid work, and foster a work culture that promotes healthy boundaries between work and personal life.
Read More
S-12426
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Mahardikawati; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Fatma Lestari, Tubagus Dwika Yuantoko, Bima Haryadi
Abstrak:
Pekerja konstruksi memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja karena karakteristik pekerjaannya yang melibatkan aktivitas fisik berat, durasi kerja panjang, serta paparan lingkungan kerja seperti panas dan kebisingan. Kelelahan kerja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, ketelitian, kecepatan respons, dan human performance pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja dan dampak kelelahan kerja terhadap human performance pada pekerja konstruksi di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 113 pekerja konstruksi. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu, faktor terkait pekerjaan, dan human performance. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, pengukuran beban kerja fisik melalui denyut nadi, serta pengukuran lingkungan kerja kebisingan dan suhu. Instrumen yang digunakan meliputi Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial (analisis bivariat dan multivariat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja adalah waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik dengan nilai p-value masing-masing 0,000. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa terdapat tiga variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja, yaitu waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik. Variabel waktu perjalanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan kerja dengan nilai OR = 17,057. Kelelahan kerja juga berhubungan signifikan dengan human performance dengan nilai p-value 0,023 dengan nilai OR 2,457. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang tidak mengalami kelelahan kerja memiliki peluang 2,457 kali lebih besar untuk memiliki human performance tinggi dibandingkan pekerja yang mengalami kelelahan kerja.

Construction workers are at high risk of experiencing occupational fatigue due to the characteristics of their work, which involve heavy physical activity, long working hours, and exposure to work environment factors such as heat and noise. Occupational fatigue may lead to decreased concentration, accuracy, response speed, and workers’ human performance. This study aimed to analyze the risk factors associated with occupational fatigue and the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X in 2026. This study used a cross-sectional design involving 113 construction workers as respondents. The variables examined included individual factors, work-related factors, occupational fatigue, and human performance. Data were collected using questionnaires, physical workload measurement through pulse rate assessment, and work environment measurements, including noise and temperature. The instruments used in this study included the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Data were analyzed using descriptive and inferential analyses, including bivariate and multivariate analyses. The results showed that factors associated with occupational fatigue were commuting time, sleep quantity, and physical workload, with p-values of <0.001 for each variable. Based on the multivariate analysis, these three variables had a significant relationship with occupational fatigue. Commuting time was identified as the most dominant factor associated with occupational fatigue, with an OR value of 17.057. Occupational fatigue was also significantly associated with human performance, with a p-value of 0.023 and an OR value of 2.457. This indicates that workers who did not experience occupational fatigue were 2.457 times more likely to have high human performance compared to workers who experienced occupational fatigue.
Read More
T-7713
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sayid Muhammad Naufal Alkhairid; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Hanny Harjulianti
Abstrak:
Burnout merupakan masalah kesehatan kerja yang semakin umum di kalangan pekerja kantor akibat tuntutan kerja tinggi, beban kerja berlebih, dan kurangnya keseimbangan kerja-hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat dukungan sosial dengan risiko burnout pada pekerja kantor di PT X tahun 2026. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 141 responden pekerja kantor (PKWTT) yang bekerja secara dominan di lingkungan perkantoran kantor pusat PT X Jakarta, dipilih dengan metode convenience sampling sesuai kriteria inklusi. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner Caplan Social Support Scale (CSSS) untuk mengukur dukungan sosial dan Burnout Assessment Tool (BAT) untuk mengukur risiko burnout. Data dianalisis secara univariat, bivariat dengan uji Chi-Square, dan dilakukan uji validitas, reliabilitas, serta normalitas. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara dukungan sosial dan risiko burnout (Pearson Chi-Square = 23,593; df = 4; p-value < 0,001). Hubungan bersifat negatif, di mana semakin tinggi dukungan sosial yang dirasakan responden, semakin rendah risiko burnout yang dialami. Mayoritas responden memiliki dukungan sosial sedang (67,1%) dan risiko burnout sedang (65,9%). Temuan ini memperkuat peran dukungan sosial sebagai faktor protektif terhadap burnout. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan negatif antara dukungan sosial dan burnout pada pekerja kantor PT X. Direkomendasikan agar perusahaan meningkatkan dukungan sosial di tempat kerja melalui program intervensi psikososial untuk mencegah burnout dan meningkatkan kesejahteraan karyawan.

Burnout is an increasingly common occupational health issue among office workers due to high job demands, excessive workload, and poor work-life balance. This study aimed to analyze the relationship between social support and burnout risk among office workers at PT X in 2026. A cross-sectional design was employed with a sample of 141 office workers (permanent employees) primarily working in the office environment at PT X headquarters in Jakarta, selected through convenience sampling based on inclusion criteria. Data were collected using the Caplan Social Support Scale (CSSS) to measure social support and the Burnout Assessment Tool (BAT) to measure burnout risk. Data were analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test, along with validity, reliability, and normality tests. The results revealed a statistically significant relationship between social support and burnout (Pearson Chi-Square = 23.593; df = 4; p-value < 0.001). The relationship was negative, indicating that higher perceived social support was associated with lower burnout levels. Most respondents reported moderate social support (67.1%) and moderate burnout risk (65.9%). These findings reinforce the role of social support as a protective factor against burnout. In conclusion, there is a significant negative relationship between social support and burnout among office workers at PT X. It is recommended that the company enhance workplace social support through psychosocial intervention programs to prevent burnout and improve employee well-being.
Read More
S-12397
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alya Hanifah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:

Stres kerja adalah respon buruk seseorang secara fisik maupun emosional, ketika kompetensi pekerja tidak mampu memenuhi tuntutan pekerjaan yang diberikan. Berdasarkan penelitian terdahulu, pekerja di industri garmen juga memiliki risiko mengalami stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko psikosisal dengan kejadian stres kerja pada pekerja PT X, sebuah perusahaan garmen di Semarang, Jawa Tengah. Faktor yang diteliti antara lain faktor individu, faktor konten kerja, faktor konteks kerja, dan faktor effort-reward. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan desain studi the explanatory sequential. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan penyebaran kuesioner dan wawancara dilakukan untuk pengumpulan data kualitatif. Pengolahan data menggunakan uji chi-square dengan software SPSS 27.0 untuk mengetahui apakah ada hubungan yang siginifikan antara variabel independen dengan variabele dependen. Berdasarkan uji statistik, didapatkan prevalensi stres kerja sebesar 24,9% pada responden secara keseluruhan, sebesar 26,5% pada tim produksi, dan 18,2% pada tim supporting. Variabel yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja secara keseluruhan antara lain: lingkungan dan peralatan kerja (p= 0,004); desain tugas (p= 0,042); beban kerja (p= 0,001); jadwal kerja (p= 0,001); pengembangan karir (p= 0,001); hubungan interpersonal (p= 0,034); status pernikahan (p= 0,003); dan effort-reward (p= 0,002). Oleh karena itu, perlu dilakukan tindak lanjut berupa penerapan manajamen stres kerja dari tingkat manajemen, terutama pada faktor yang berhubungan dengan stres kerja, untuk mencegah kejadian stres kerja yang lebih besar.


Work-related stress was an bad someone physically or emotionally, when workers ability unable to meet the demands of jobs provided. Based on the research before, workers in the garment industry also have  the risk of experiencing work stress. This study attempts to analyze the relationship between the psychosocial risk factors with work stress on workers PT X, a garment company in Semarang, Central Java. The individual factors, the content of work factors, the context of work factors, and the effort-reward factors was included in this study. Mixed method were used with the explanatory sequential design study. Quantitative data collected by using questionnaire and interviews performed for qualitative data collection. Data processing uses a chi-square test with software SPSS 27.0 to analyze if there's any significant connection between independent variables and dependent variable. By statistical test, prevalence of work stress prevalence is 24.9 % on all respondents, 26.5 % on production team, and 18.2 % on supporting team. Variables associated with work stress include: environment and work equipment (p = 0.004 ); task design (p = 0,042 ); workload (p = 0.001 ); work schedule (p = 0.001 ); career development (0.001 ); interpersonal relationship (p = 0.034 ); marital status (= 0.003); and effort-reward factor (p = 0,00). Based on this research, the company needs to implemented stress management program, especially on the factors associated with work stress, to prevent more stress from happening. Keyword: work stress, psychosocial risk factor, the garment company, production team, supporting team 

Read More
S-11817
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gibza Adam Farhandika; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Yusuf Ryadi, M. Fiarry Fikaris
Abstrak:

Pelaut, khususnya mereka yang berada dalam peran menuntut seperti awak kapal tugboat, menghadapi tekanan yang dapat memengaruhi kesehatan mental secara signifikan. Meskipun peran krusial mereka dalam perdagangan global, kesejahteraan psikologis para profesional ini seringkali kurang tergarap. Penelitian ini menganalisis faktor-faktor risiko depresi, kecemasan, serta stres kerja pada 36 awak kapal tugboat di PT. X pada tahun 2024. Seluruh partisipan menunjukkan indikasi gejala moderat hingga parah pada ketiga indikator psikologis tersebut. Mayoritas awak kapal (berusia 30 tahun dan sudah menikah) melaporkan bahwa pengaruh keluarga berkontribusi positif terhadap rasa aman dan kepuasan. Namun, proporsi yang signifikan juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai rendahnya umpan balik dan komitmen di lingkungan kerja mereka. Meskipun keamanan kapal secara umum dianggap memadai dan tekanan kerja dinilai seimbang, sebagian besar responden telah bekerja lebih dari lima tahun. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengaruh keluarga dan tekanan kerja dengan depresi. Lebih lanjut, pengaruh keluarga, tekanan kerja, dan keamanan kapal secara kolektif berkontribusi terhadap stres dan kecemasan. Temuan ini menggarisbawahi peran krusial dukungan keluarga, dampak tuntutan tempat kerja, dan persepsi keamanan dalam membentuk kesejahteraan mental para pelaut. Studi ini menyoroti tantangan kesehatan mental dalam kelompok pekerjaan yang rentan ini untuk meningkatkan kualitas hidup dan keselamatan operasional mereka secara keseluruhan.
Kata Kunci: Kesehatan Mental Pelaut, Stres Kerja, Awak Kapal Tugboat, Faktor Risiko


Seafarers, particularly those in demanding roles like tugboat crews, face unique stressors that can significantly impact their mental health. Despite their critical role in global trade, the psychological well-being of these professionals often remains understudied. This study investigated the risk factors of depression, anxiety, and work-related stress among 36 tugboat crew members at PT. X in 2024. All participants exhibited moderate to severe symptoms across all three psychological indicators. The majority of the crew (aged 30, married) reported that family influence positively contributed to feelings of security and satisfaction. However, a notable proportion also expressed concerns regarding low feedback and commitment within their work environment. While ship safety was generally perceived as adequate, and work pressure was considered balanced, a substantial number of respondents had worked for over five years. Statistical analysis revealed a significant association between family influence and work pressure with depression. Furthermore, family influence, work pressure, and ship safety collectively contributed to both stress and anxiety. These findings underscore the critical role of familial support, the impact of workplace demands, and perceived safety in shaping the mental well-being of seafarers. The study highlights mitigating mental health challenges in this vulnerable occupational group, thus improving their overall quality of life and operational safety. Keywords: Seafarer Mental Health, Occupational Stress, Tugboat Crew, Risk Factors

Read More
T-7408
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Asmui; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Robiana Modjo, Mila Tejamaya, Iqbal Mochtar, Nurhadi Amin
Abstrak: Tesis ini ditulis untuk menganalisis faktor risiko terjadinya kelelahan pada asisten rumah tangga yang bekerja di negara X. Ada tiga faktor yang dianalisis yaitu faktor individu (usia, kuantitas tidur, konsumsi kafein dan kebiasaan olahraga), faktor pekerjaan (total jam kerja, beban kerja, tipe pekerjaan, masa kerja dan stres kerja) dan faktor lingkungan (iklim cuaca). Penelitian dilakukan dengan metode analisis kuantitatif dan deskriptif dengan uji regresi linear. Data diperoleh melalui wawancara dan kuesioner yang diadopsi dari Industrial Fatigue Research Committee pada 94 responden kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan tingkat kepercayaan sebesar (CI) 95%. Variabel yang diteliti dinyatakan memiliki pengaruh dengan kelelahan kerja jika nila p < 0,05. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 47 orang (50%) mengalami kelelahan sedang. pada faktor individu secara keseluruhan memiliki pengaruh sebesar 27,1% terhadap risiko terjadinya kelelahan. Pada faktor ini, terdapat satu variabel yang memiliki pengaruh dengan risiko terjadinya kelelahan yaitu kuantitas tidur dengan nilai p = 0,000. Sementara 3 variabel lainnya tidak memiliki pengaruh yaitu usia p = 0,196, konsumsi kafein p = 0,384 dan kebiasaan olahraga p = 0,213. Untuk faktor pekerjaan secara keseluruhan memiliki pengaruh sebesar 29,5% terhadap risiko terjadinya kelelahan. Pada faktor ini, terdapat 3 variabel yang memiliki pengaruh dengan risiko terjadinya kelelahan yaitu beban kerja p = 0,001, tipe pekerjaan p = 0,045 dan stres kerja p = 0,035. Sementara 2 variabel lainnya tidak memiliki pengaruh yaitu total jam kerja p = 0,987 dan masa kerja p = 0,676. Sementara faktor lingkungan (iklim cuaca) didapatkan hasil adanya pengaruh dengan risiko terjadinya kelelahan dengan nilai p = 0,000.
This thesis is written to analyze risk factors for fatigue in household assistants working in country X. There are three factors to be analyzed; individual factors (age, sleep quantity, caffeine consumption and physical exercise), work factors (total hours worked, workload , job type, years of service and work stress) and environmental factors (weather climate). The study was conducted with quantitative and descriptive analysis methods using linear regression test. Data obtained through interviews and questionnaires adopted from the Industrial Fatigue Research Committee on 94 respondents then analyzed using univariate, bivariate and multivariate analysis with a confidence level of (CI) 95%. The variables studied were stated to have an influence with work fatigue if the value of p <0.05. The analysis showed that there are 47 people (50%) experiencing moderate fatigue. on individual factor has an influence of 27.1% on the risk of fatigue. In this factor, there is one variable that has an influence on the risk of fatigue, the quantity of sleep with a value of p = 0.000. While the other 3 variables did not have an influence: age p = 0.196, caffeine consumption p = 0.384 and physical exercise p = 0.213. The work factor has an effect of 29.5% on the risk of fatigue. In this factor, there are 3 variables that have an influence with the risk of fatigue, workload p = 0.001, type of work p = 0.045 and work stress p = 0.035. While the 2 other variables do not have an influence, total hours worked p = 0.987 and years of service p = 0.676. While the environmental factor (weather climate) has an influence of the risk of fatigue with a value of p = 0.000.
Read More
T-6042
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive