Ditemukan 37999 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Jessica Bunga Yosefani; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit; Penguji: Yoslien Sopamena, Deniary Lusiana
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan literasi kesehatan menstruasi, pengetahuan menstruasi, dan self-efficacy terkait menstruasi dengan perilaku menstrual hygiene pada mahasiswi Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan sampel mahasiswi program sarjana dan vokasi Universitas Indonesia tahun akademik 2025/2026. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring yang terdiri dari instrumen literasi kesehatan menstruasi, pengetahuan menstruasi, self-efficacy terkait menstruasi, dan perilaku menstrual hygiene. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku menstrual hygiene yang baik (74,5%). Literasi kesehatan menstruasi responden didominasi oleh kategori mencukupi (52,5%), sedangkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan menstruasi yang tinggi (85,5%) dan self-efficacy terkait menstruasi yang tinggi (53,5%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan menstruasi (p=0,001), pengetahuan menstruasi (p=0,002), dan self-efficacy terkait menstruasi (p<0,001) dengan perilaku menstrual hygiene pada mahasiswi Universitas Indonesia. Upaya peningkatan perilaku menstrual hygiene perlu dilakukan melalui penguatan literasi kesehatan menstruasi, peningkatan pengetahuan menstruasi, dan pengembangan self-efficacy terkait menstruasi.
This study aims to determine the relationship between menstrual health literacy, menstrual knowledge, and menstrual-related self-efficacy with menstrual hygiene behavior among female students at the University of Indonesia. This study used a cross-sectional design with a sample of undergraduate and vocational female students at the University of Indonesia in the 2025/2026 academic year. Data were collected using an online questionnaire consisting of instruments measuring menstrual health literacy, menstrual knowledge, menstrual-related self-efficacy, and menstrual hygiene behavior. The results showed that most respondents had good menstrual hygiene behavior (74.5%). Menstrual health literacy was predominantly in the adequate category (52.5%), while most respondents had high menstrual knowledge (85.5%) and high menstrual-related self-efficacy (53.5%). The Chi-square test results indicated that there were significant relationships between menstrual health literacy (p=0.001), menstrual knowledge (p=0.002), and menstrual-related self-efficacy (p<0.001) with menstrual hygiene behavior among female students at the University of Indonesia. Efforts to improve menstrual hygiene behavior should be carried out through strengthening menstrual health literacy, increasing menstrual knowledge, and developing menstrual-related self-efficacy.
S-12381
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadia Zahra Sabira; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Rita Damayanti, Indah Sri Wahyuni
Abstrak:
Read More
Menstrual hygiene yang buruk meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi, namun praktiknya di kalangan mahasiswi Indonesia masih belum optimal, dan mekanisme persepsi yang mendasarinya belum banyak dikaji menggunakan kerangka Health Belief Model (HBM), khususnya dengan membandingkan mahasiswi rumpun kesehatan dan non-kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara rumpun fakultas dan lima komponen HBM (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, dan self-efficacy) dengan praktik menstrual hygiene pada mahasiswi Universitas Indonesia tahun 2026. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 362 mahasiswi S1 Reguler aktif Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) yang dipilih secara accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur secara daring dan luring, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan 52,5% responden memiliki praktik menstrual hygiene yang baik. Rumpun fakultas terbukti berhubungan signifikan dengan praktik menstrual hygiene (p<0,001; OR=3,436), mahasiswi FKM 3,4 kali lebih mungkin berpraktik baik dibandingkan mahasiswi FIB. Empat dari lima komponen HBM, yaitu perceived severity (p=0,003; OR=1,880), perceived benefits (p<0,001; OR=4,142), perceived barriers (p<0,001; OR=0,340), dan self-efficacy (p<0,001; OR=6,128), berhubungan signifikan dengan praktik menstrual hygiene, sedangkan perceived susceptibility tidak menunjukkan hubungan bermakna (p=0,424). Self-efficacy merupakan prediktor terkuat dalam penelitian ini. Disimpulkan bahwa latar belakang pendidikan kesehatan dan persepsi individu, terutama keyakinan diri, berperan penting dalam membentuk praktik menstrual hygiene mahasiswi, sehingga diperlukan program edukasi kesehatan reproduksi yang lebih kontekstual bagi mahasiswi rumpun non-kesehatan.
Poor menstrual hygiene increases the risk of reproductive tract infections, yet menstrual hygiene practices among Indonesian female university students remain suboptimal, and the underlying perceptual mechanisms have rarely been examined using the Health Belief Model (HBM) framework, particularly by comparing health and non-health students. This study aimed to analyze the relationship between faculty cluster and the five HBM components (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, and self-efficacy) with menstrual hygiene practices among female students at Universitas Indonesia in 2026. This quantitative study used a cross-sectional design involving 362 active undergraduate female students from the Faculty of Public Health (FKM) and the Faculty of Humanities (FIB), selected through accidental sampling. Data were collected using a structured questionnaire distributed online and offline, then analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test and Odds Ratio (OR). The results showed that 52.5% of respondents had good menstrual hygiene practices. Faculty cluster was significantly associated with menstrual hygiene practices (p<0.001; OR=3.436), with FKM students being 3.4 times more likely to practice good menstrual hygiene than FIB students. Four of the five HBM components, namely perceived severity (p=0.003; OR=1.880), perceived benefits (p<0.001; OR=4.142), perceived barriers (p<0.001; OR=0.340), and self-efficacy (p<0.001; OR=6.128), were significantly associated with menstrual hygiene practices, while perceived susceptibility showed no significant relationship (p=0.424). Self-efficacy was the strongest predictor in this study. It is concluded that health education background and individual perceptions, particularly self-efficacy, play an important role in shaping students’ menstrual hygiene practices, highlighting the need for more contextual reproductive health education programs for non-health students.
S-12444
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Khotimah Elfiyani; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: C. Endah Wuryaninhgsih, Kemal N. Siregar, Jeri Novaro, Weni Muniarti
Abstrak:
Read More
Kesehatan reproduksi untuk remaja penyandang disabilitas sering diabaikan sehingga kurangnya pendidikan seputar personal hygiene dikarenakan sebagian orang menganggap topik menstruasi merupakan topik yang sensitif dan keyakinan yang salah bahwa remaja dengan disabilitas tidak memiliki hasrat seksual. Sehingga pemahaman mengenai personal hygiene menstruasi pada remaja disabilitas kurang diperhatikan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran personal hygiene dalam menghadapi menstruasi pada remaja disabilitas fisik dan disabilitas intelektual. Metode penelitian kualitatif dalam bentuk case study, pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan observasi, informan terdiri dari 3 informan remaja disabilitas usia 15-24 tahun yang sudah menstruasi, serta 3 informan dari ibu remaja disabilitas dan 2 informan terapis anak berkebutuhan khusus. Penelitian dilakukan di Klinik Keanna Center dan YPAC Jakarta Selatan pada bulan Juli-September 2021. Hasil penelitian kurang pengetahuan ibu dan remaja disabilitas mengenai personal hygiene menstruasi, fasilitas penunjang memberikan kemudahan bagi remaja disabilitas maupun ibu untuk membantu melakukan personal hygiene menstruasi, kurangnya informasi mengenai personal hygiene pada remaja disabilitas, sebagian besar ibu membantu dalam melakukan personal hygiene menstruasi pada anak mereka dan perilaku personal hygiene menstruasi pada remaja disabilitas masih kurang tepat. Disarankan remaja disabilitas dan ibu perlu meningkatkan pengetahuannya dengan melakukan sharing dengan professional untuk mendapatkan informasi mengenai personal hygiene menstruasi dengan tepat
Reproductive health for adolescents with disabilities is often neglected education regarding personal hygiene are lacking. It is because some people consider menstruation as a sensitive topic and have the wrong belief that adolescents with disabilities have no sexual desire. The research purposes to know the overview of personal hygiene in dealing with menstruation in adolescents with physical and intellectual disabilities. The research methods were qualitative in the form of case study, data collected by in-depth interview and observation. Informants consisted of 3 informants from the adolescents of 15-24 years old, 3 informants are the mothers and 2 informants are the therapists for special needs children. The research was conducted in Klinik Keanna Center and YPAC South Jakarta in July-September 2021. The research results the lack of apprehension about the personal hygiene menstruation from the mothers and the adolescents with disabilities, supporting facilities that accommodated adolescents with disabilities and their mothers to perform treatment in personal hygiene, lack of apprehension about general personal hygiene menstruation in adolescents with disabilities, most of the mothers gave supports to the adolescents with disabilities in the form of assistance in performing personal hygiene during menstruation, also personal hygiene menstruation behavior in adolescents with disabilities are still incorrect. It is suggested that adolescents with disabilities and their mothers need to improve their knowledge by sharing with a professional to obtain correct information about personal hygiene during menstruation
T-6321
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anggia Amalia Wati; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Yoslien Sopamena, Eti Rohati
Abstrak:
Read More
Dismenore merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang [AA1.1]umum dialami oleh perempuan termasuk mahasiswi dan dapat mengganggu aktivitas akademik maupun aktivitas sehari-hari. Untuk mengatasi nyeri menstruasi, banyak mahasiswi melakukan swamedikasi. Keputusan untuk melakukan swamedikasi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat dijelaskan melalui Health Belief Model (HBM). Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam persepsi mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia terhadap swamedikasi dismenore berdasarkan komponen Health Belief Model. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap tujuh informan utama, satu informan kunci, dan satu informan pendukung, serta didukung dengan logbook selama periode menstruasi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh informan melakukan swamedikasi melalui penggunaan obat pereda nyeri, kompres hangat, konsumsi jamu, istirahat, dan metode nonfarmakologis lainnya. Persepsi kerentanan terbentuk dari pengalaman dismenore berulang, sedangkan persepsi keparahan berkaitan dengan dampak nyeri terhadap aktivitas sehari-hari. Persepsi manfaat tercermin dari keyakinan bahwa swamedikasi dapat mengurangi nyeri. Persepsi hambatan meliputi keterbatasan waktu, biaya, dan akses pelayanan kesehatan. Efikasi diri terbentuk dari pengalaman keberhasilan mengatasi nyeri, sedangkan isyarat bertindak berasal dari munculnya nyeri, pengalaman sebelumnya, keluarga, teman, tenaga kesehatan, internet, dan media sosial.
Dysmenorrhea is a common reproductive health problem among female university students and may interfere with academic and daily activities. Many students practice self-medication to relieve menstrual pain. This study aimed to explore the perceptions of female students at the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, regarding dysmenorrhea self-medication based on the Health Belief Model (HBM). This study employed a qualitative descriptive exploratory design. Data were collected through in-depth interviews with seven main informants, one key informant, and one supporting informant, complemented by menstrual-period logbooks. Data were analyzed using thematic analysis. The findings showed that all informants practiced self-medication using pain relievers, warm compresses, herbal remedies, rest, and other non-pharmacological methods. Perceived susceptibility was shaped by recurrent dysmenorrhea experiences, while perceived severity was related to the impact of pain on daily activities. Perceived benefits reflected the belief that self-medication could reduce pain. Perceived barriers included limitations in time, cost, and access to healthcare services. Self-efficacy developed through previous successful experiences in managing pain, whereas cues to action originated from pain experiences, family, peers, healthcare professionals, the internet, and social media.
S-12482
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nelasari; Pembimbing: Agustin Kusumayati, Rina A Anggorodi; Penguji: Luknis Sabri, Bagus Satriya Budi, Tini Setiawan
T-2760
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lestarida Nainggolan; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Atiek Novianty, Emah Rohemah
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres denganpola siklus menstruasi pada remaja di SMA Negeri 1 Batam. Penelitian inimenggunakan desain cross sectional. Sampel yang diteliti adalah seluruh remajaperempuan di kelas XI yang berjumlah 170 siswa. Data yang di kumpulkanberupa riwayat siklus menstruasi, tingkat stres, usia, usia menarche, status gizi,pola makan, aktivitas fisik, dan paparan asap rokok. Data ini dikumpulkan dengancara pengisian kuesioner mandiri, dan pengukuran antropometri untuk berat badandan tinggi badan oleh petugas penelitian. Analisis dalam penelitian inimenggunakan analisis uji Chi Square dan Cox Regression. Hasil penelitiandiperoleh bahwa sebanyak 87 responden (51,2%) mengalami mesntruasi tidakteratur dan terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan pola siklusmenstruasi dimana p =0,001 (p value <0,05), dan setelah diuji multivariat diperoleh nilai p= 0,018 dengan nilai exp (B) = 1, 67 yang memiliki makna bahwaremaja dengan stres sedang memiliki peluang untuk 1,67 kali lebih besar untukmengalami pola siklus menstruasi tidak teratur dari pada remaja dengan stresringan.Kata kunci :Stres, siklus Menstruasi, Remaja
This study aimed to identify the association between stress and pattern ofmenstrual cycle on adolescent of SMA Negeri 1 Batam. This study used the crosssectional design. The observed sample in this study was all female student at the11th grader consisting 170 students. The collected data were menstrual history,stress level, age, menarche aged, nutritional status, dietary habit, physical activity,and exposure of cigarette smoke. These data were collected by using selfadministrated questionnaire and antropometric measurement for weight adn heightby research members. This study used chi square test analysis and cox regressiontest analysis. This result of this study showed that there are 87 respondents(51,2%) had irregular menstrual cycle and there is significant correlation betweenstress with menstrual cycle, , with p = 0,001 (p value < 0,05), after mutrivarite testobatined p= 0,018 with Exp (B)= 1,67 , which has meaning that adolescent withmoderate stress are have 1,67 times greater chance of experiencing irregularmenstrual cycle patterns than adolescents with mild stress.Key words :Stress, Menstruation Cycle, Adolescent.
Read More
This study aimed to identify the association between stress and pattern ofmenstrual cycle on adolescent of SMA Negeri 1 Batam. This study used the crosssectional design. The observed sample in this study was all female student at the11th grader consisting 170 students. The collected data were menstrual history,stress level, age, menarche aged, nutritional status, dietary habit, physical activity,and exposure of cigarette smoke. These data were collected by using selfadministrated questionnaire and antropometric measurement for weight adn heightby research members. This study used chi square test analysis and cox regressiontest analysis. This result of this study showed that there are 87 respondents(51,2%) had irregular menstrual cycle and there is significant correlation betweenstress with menstrual cycle, , with p = 0,001 (p value < 0,05), after mutrivarite testobatined p= 0,018 with Exp (B)= 1,67 , which has meaning that adolescent withmoderate stress are have 1,67 times greater chance of experiencing irregularmenstrual cycle patterns than adolescents with mild stress.Key words :Stress, Menstruation Cycle, Adolescent.
T-5411
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Iin Musriani Maftukhah; Pembimbing: Krisnawati Bantas, Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Putri Bungsu, Uken Sukmaningsih
Abstrak:
Pada tahun 2012 jumlah perceraian di Indonesia mencapai 15% dari total pernikahan yaitu 346.480 jiwa dengan 2.289.648 juta pernikahan yang diantaranya merupakan pernikahan dini (BPS,2015). Persentase pernikahan dini dari perempuan muda berusia 15-19 yang menikah memiliki sebelas kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan laki- laki muda berusia 15-19 tahun (11,7 % P : 1,6 % L). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pernikahan dini dengan perceraian berdasarkan umur, agama, kuintil kekayaan, tingkat pendidikan wanita, tingkat pendidikan suami, tempat tinggal, status pekerjaan wanita, status pekerjaan mantan suami, pengetahuan, Jumlah anak dan pengalaman pacaran Desain penelitian adalah crosssectional. Sampel merupakan sampel pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, yaitu wanita yang pernah menikah usia 15-49 tahun sebelum survei yaitu sejumlah 29.712 responden. Data dianalisis dengan regresi logistik. Hasil Penelitian ada hubungan antara pernikahan dini dengan perceraian pada wanita usia 15-49 di Indonesia pada tahun 2012(OR:1.2 95% CI0.89-1.59). Saran dari penelitian ini adalah peningkatan wawasan dan informasi tentang pernikahan usia dini,dan pengaruh yang dapat dirasakan untuk kehidupan ke depannya. Semakin dini wanita menikah semakin berpotensi untuk mengalami perceraian dan mendukung program pemerintah yang disebut program menengah universal atau pendidikan 12 tahun yang diharapkan dapat menunda usia perkawinan remaja terutama perempuan yang berasal dari desa yang memiliki pendidikan rendah.
Read More
T-5397
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
A Sri Wahyuni S; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Toha Muhaimin, Tri Yunis Miko Wahyono, Siti Nadia, Ramadanura
Abstrak:
Sikap penolakan terhadap ODHA menjadi hambatan besar dalam pencegahan danpengobatan HIV/AIDS. Berbagai penelitian membuktikan bahwa pengetahuan HIV/AIDSdapat mengurangi sikap penolakan terhadap ODHA. Penelitian ini bertujuan untukmempelajari dan menjelaskan hubungan antara pengetahuan HIV/AIDS dengan sikappenolakan terhadap ODHA pada masyarakat Indonesia. Desain penelitian ini adalah crosssectional dengan menggunakan data SDKI 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwaterdapat hubungan yang bermakna namun negatif antara pengetahuan HIV/AIDS dengansikap penolakan terhadap ODHA (p-value=0.001).Kata kunci: HIV/AIDS; ODHA; Pengetahuan;Sikap Penolakan.
The negative attitude is a major obstacle in the prevention and treatment of HIV /AIDS. Various studies have shown that knowledge of HIV / AIDS can reducenegative/rejection attitudes towards people living with HIV. This research aims to study andexplain the relationship between knowledge of HIV / AIDS with an attitude of rejectiontowards people living with HIV in Indonesian society. The study design was cross-sectionalstudy using data from Demographic and Health Survey 2012. The results showed that therewas significant relationship between knowledge HIV / AIDS with an negative attitudetowards people living with HIV but negative (p-value = 0.001). Variables that substantiallybe a confounder is the level of education and media exposure. In addition, there is aninteraction between knowledge with level of education and knowledge with media exposure.Increased knowledge about HIV / AIDS through improved education and media exposure bethe main focus for reducing an attitude of rejection, stigma and discriminationKeywords : HIV / AIDS ; Negative Attitudes;People Living with HIV;Knowledge.
Read More
The negative attitude is a major obstacle in the prevention and treatment of HIV /AIDS. Various studies have shown that knowledge of HIV / AIDS can reducenegative/rejection attitudes towards people living with HIV. This research aims to study andexplain the relationship between knowledge of HIV / AIDS with an attitude of rejectiontowards people living with HIV in Indonesian society. The study design was cross-sectionalstudy using data from Demographic and Health Survey 2012. The results showed that therewas significant relationship between knowledge HIV / AIDS with an negative attitudetowards people living with HIV but negative (p-value = 0.001). Variables that substantiallybe a confounder is the level of education and media exposure. In addition, there is aninteraction between knowledge with level of education and knowledge with media exposure.Increased knowledge about HIV / AIDS through improved education and media exposure bethe main focus for reducing an attitude of rejection, stigma and discriminationKeywords : HIV / AIDS ; Negative Attitudes;People Living with HIV;Knowledge.
T-4647
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Auliya Nanda Susmita; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Mona Lisa
Abstrak:
Read More
Kualitas tidur dan tingkat stres merupakan aspek penting kesehatan mahasiswa, yang berpotensi dipengaruhi salah satunya oleh siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur berdasarkan siklus menstruasi pada mahasiswa S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2024 menggunakan desain cross-sectional dengan sampel 167 mahasiswa yang dipilih secara simple random sampling dari populasi 1070 mahasiswi. Data dikumpulkan melalui kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk kualitas tidur, Perceived Stress Scale (PSS-10) untuk tingkat stres, dan kuesioner menstruasi secara online, kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square dan korelasi Spearman menggunakan SPSS. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswi memiliki kualitas tidur buruk (81,2%) dan tingkat stres sedang (88,6%). Dengan siklus menstruasi yang normal pada seluruh responden. Analisis Chi-square menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dengan kualitas tidur (p-value = 0,347), antara tingkat stres dengan siklus menstruasi (p-value = 0,206), dan juga kualitas tidur dengan siklus menstruasi (p-value = 0,423). Namun, uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif yang lemah namun signifikan secara statistik antara tingkat stres dan siklus menstruasi (korelasi = -0,170, p = 0,028), serta antara kualitas tidur dan siklus menstruasi (korelasi = -0,155, p = 0,04). Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan tingkat stres dan penurunan kualitas tidur berhubungan dengan perubahan pada siklus menstruasi, meskipun kekuatan hubungan tergolong lemah. Penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai interaksi antara stres, kualitas tidur, dan siklus menstruasi, yang menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dan pola tidur untuk mendukung kesehatan reproduksi mahasiswi, meskipun keterbatasan jumlah sampel dan metode survei online dapat memengaruhi hasil. Penelitian lanjutan dengan desain yang lebih komprehensif disarankan untuk memvalidasi temuan ini.
Sleep quality and stress levels are essential aspects of student health, potentially influenced by the menstrual cycle. This study aims to analyze the relationship between stress levels and sleep quality based on the menstrual cycle in undergraduate students of the Faculty of Public Health, University of Indonesia in 2024. The study used a cross-sectional design with a sample of 167 students selected by simple random sampling from a population of 1070 female students. Data were collected through the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire for sleep quality, the Perceived Stress Scale (PSS-10) for stress levels, and an online menstrual questionnaire, then analyzed using the Chi-Square test and Spearman correlation using SPSS. The results of the descriptive analysis showed that the majority of female students had poor sleep quality (81.2%) and moderate stress levels (88.6%). With a normal menstrual cycle in all respondents. Chi-square analysis showed no significant relationship between stress levels and sleep quality (p-value = 0.347), between stress levels and the menstrual cycle (p-value = 0.206), and also sleep quality with the menstrual cycle (p-value = 0.423). However, Spearman's correlation test showed a weak but statistically significant negative relationship between stress level and menstrual cycle (correlation = -0.170, p = 0.028), and between sleep quality and menstrual cycle (correlation = -0.155, p = 0.04). These results indicate that increased stress level and decreased sleep quality are associated with changes in menstrual cycle, although the strength of the relationship is relatively weak. This study provides an initial overview of the interaction between stress, sleep quality, and menstrual cycle, emphasizing the importance of maintaining mental health and sleep patterns to support female students' reproductive health, although the limited number of samples and online survey method may affect the results. Further research with a more comprehensive design is recommended to validate these findings.
S-11851
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nada Aliyatunnisa; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Prima Alhazimi, Bhayu Hanggadhi Nugroho
Abstrak:
Read More
Penyakit Gagal Jantung di Rumah Sakit Universitas Indonesia Tahun 2026 Gagal jantung merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang berdampak signifikan terhadap penurunan kualitas hidup pasien. Aktivitas fisik diidentifikasi sebagai salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pada pasien penyakit gagal jantung di Poli Jantung dan Kardiovaskular Rumah Sakit Universitas Indonesia Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Sampel berjumlah 98 responden yang dipilih menggunakan simple random sampling. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner IPAQ LF dan kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner SF 36. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square dan analisis stratifikasi menggunakan uji Mantel-Haenszel. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik cukup (70,4%) dan kualitas hidup buruk (56,1%). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pasien gagal jantung (p value = 0,003; OR = 4,432; 95% CI: 1,606–12,236). Pasien dengan aktivitas fisik cukup berpeluang 4,432 lebih besar memiliki kualitas hidup baik dibandingkan pasien dengan aktivitas fisik kurang. Peningkatan program rehabilitasi jantung dan edukasi aktivitas fisik di fasilitas kesehatan diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung.
Heart failure is one of the non communicable diseases with high morbidity and mortality rates that significantly impacts patients quality of life. Physical activity has been identified as an important factor that can influence the quality of life of heart failure patients. This study aimed to determine the relationship between physical activity level and quality of life in heart failure patients at the Cardiology and Cardiovascular Polyclinic of Universitas Indonesia Hospital in 2026. This study used an analytic observational design with a cross sectional approach. The sample consisted of 98 respondents selected using simple random sampling. Physical activity level was measured using the IPAQ LF questionnaire and quality of life was measured using the SF-36 questionnaire. Data analysis was performed bivariately using the Chi Square test and stratification analysis using the Mantel-Haenszel test. The results showed that the majority of respondents had sufficient physical activity (70.4%) and poor quality of life (56.1%). There was a significant relationship between physical activity level and quality of life of heart failure patients (p value = 0.003; OR = 4.432; 95% CI: 1.606–12.236). The Mantel-Haenszel stratification analysis showed that age and gender acted as effect modifiers, with the relationship between physical activity and quality of life being stronger in the age group
S-12346
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
