Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40947 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sendy Utommi; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Mufti Wirawan, Zulkifli Djunaidi, Santoso, Rahmat Satria Dewangga
Abstrak:
Industri oil and gas memiliki risiko tinggi, dengan lingkungan kerja yang komplek (Methisen et.al.,2033). Terpapar dengan bahaya kimia, bahaya kebisingan, bahaya fisik dan stressor kognitif dan bahaya mekanikal dan bahaya listrik di laut lepas bisa mengakibatkan injuri dan fatality pada pekerja (Pasman, 2009). Lebih dari itu, bahaya terkait dengan kebocoran dan tumpahan minyak, kebakaran dan ledakan juga berpotensi merusak aset dan lingkungan (Tang et al., 2018). Kecelakaan dan insiden yang terjadi di Oil & Gas sektor tidak hanya merugikan manusia, tetapi juga kehilangan ekonomi dan kerusakan lingkungan. Beberapa kejadian kecelakaan yang terjadi menurut sejarah yang mengakibatkan kematian yaitu, Macondo (2010), BP Deepwater Horizon Tumpahan minyak yang mengerikan (2010), Piper Alpha yang menewaskan 167 orang meninggal (1988) dan kerugian £2 miliar asuransi, Mumbai (2005) dan BP Texas city refinery (2005). Budaya Keselamatan menjadi nilai utama dalam industri oil dan gas yang mencakup sikap, nilai dan perilaku keselamatan yang ada dalam organisasi. Kualitas budaya keselamatan secara langsung dipengaruhi oleh keselamatan individu (Ooshaksaraie et al., 2009, Wu et al., 2009). Budaya keselamatan menjadi hal yang sangat penting dalam manajemen risiko mitigasi risiko dalam industri oil dan gas lepas pantai (Adie et al., 2005). PT.XXX. Telah beroperasi sejak tahun 2017, dengan produksi Minyak dan gas yang berproduksi sekitar 450-600 Mmscfd dan condensate 1000 bopd dilepas pantai Selat Makassar, Kalimantan Timur. Berdasarkan statistik kecelakaan dari 2017-2021 telah terjadi recordable injury sebanyak 5 case dan telah terjadi penurunan sejak dari tahun 2021-2025 dimana tidak terdapat recordable injury. PT. XXX sudah menerapkan beberapa program kampanye dalam meningkatkan iklim keselamatan kerja sejak 2021, akan tetapi belum ada analisa terkait dengan program kampanye keselamatan tersebut berdampak positif dalam peningkatan iklim keselamatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk dapat menggambarkan bagaimana program kampanye keselamatan dalam meningkatkan iklim keselamatan kerja pada pekerja offshore, onshore dan office di PT. XXX

The oil and gas industry is high-risk, with a complex work environment (Methisen et al., 2033). Exposure to chemical hazards, noise hazards, physical hazards and cognitive stressors, as well as mechanical and electrical hazards on the high seas can lead to worker injuries and fatalities (Pasman, 2009). Furthermore, hazards associated with oil leaks and spills, fires, and explosions also have the potential to damage assets and the environment (Tang et al., 2018). Accidents and incidents in the oil and gas sector not only cause human harm but also economic losses and environmental damage. Some of the most recent accidents resulting in fatalities include Macondo (2010), the horrific BP Deepwater Horizon oil spill (2010), the Piper Alpha oil spill (1988), which claimed 167 lives and resulted in £2 billion in insurance losses, Mumbai (2005), and the BP Texas City refinery (2005). Safety culture is a core value in the oil and gas industry, encompassing the safety attitudes, values, and behaviors inherent within the organization. The quality of safety culture directly impacts individual safety (Ooshaksaraie et al., 2009; Wu et al., 2009). Safety culture is crucial for risk management and risk mitigation in the offshore oil and gas industry (Adie et al., 2005). PT. XXX has been operating since 2017, producing approximately 450-600 Mmscfd of oil and gas and 1,000 bopd of condensate offshore in the Makassar Strait, East Kalimantan. According to accident statistics from 2017-2021, there were five recordable injuries, with a decrease from 2021-2025, when there were no recordable injuries. PT. XXX has implemented several campaign programs to improve the workplace safety climate since 2021, but there has been no analysis regarding the safety campaign programs in improving the workplace safety climate. This study aims to 10 describe how the safety campaign program improves the work safety climate for offshore, onshore, and office workers at PT. XXX. Keywords: Safety Climate, Safety Campaign, Offshore, Oil and Gas Industry.
Read More
T-7632
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arinanda Utomo; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Hasan Bisri, Ahmad Afif Mauludi
Abstrak:
Industri pertanian dan perkebunan (agribisnis) merupakan pilar utama penyediaan sumber makanan global, namun memiliki statistik kecelakaan kerja yang tinggi. Di Indonesia, sektor ini menyumbang 17,4% dari seluruh kecelakaan kerja periode 2019-2021. Penelitian ini dilakukan dalam rangka untuk menganalisis peran kepemimpinan keselamatan dan pembentukan iklim keselamatan yang mempengaruhi performa kinerja keselamatan di industri agribisnis PT. XXX yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit. Metode penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif, melibatkan 1332 responden yang dipilih melalui stratifikasi random sampling. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pekerja menilai kepemimpinan dan iklim keselamatan di tempat kerja sebagai sangat baik, namun ada area yang memerlukan perbaikan. Penelitian memberikan penjelasan bahwa kepemimpinan keselamatan berada pada kategori tinggi, iklim keselamatan juga berada pada kategori tinggi serta performa kinerja keselamatan juga berada pada kategori optimal. Kemudian secara khusus, hasil analisis juga mengungkapkan hubungan signifikan antara Safety Coaching, Safety Caring, Safety Controlling, Commitment to Safety, dan Perceived Risk dengan Safety Performance. Hal ini dapat di lihat pada Safety Coaching (P = 0,001), Safety Caring (P=0,011), Safety Controlling (P = 0,037), Commitment to Safety (P= 0,007), dan Perceived Risk (P = 0,035) menunjukkan hubungan signifikan dengan kinerja keselamatan. Namun, Emergency Response tidak menunjukkan hubungan signifikan (P = 0,244). Disamping itu Safety Coaching merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja keselamatan. Sehingga peningkatan program pembinaan keselamatan sangat penting untuk meningkatkan keselamatan kerja. Hal ini menekankan pentingnya kegiatan pembinaan guna meningkatkan kompetensi dan melakukan peningkatan serta pemantapan dalam pemahaman serta kesadaran dalam manajemen risiko yang efektif untuk menciptakan proses kerja serta lingkungan kerja yang bersinergi dengan aspek keselamatan dan kesehatan kerja.

The agricultural and plantation industry (agribusiness) is a primary pillar of global food supply, yet it has a high rate of occupational accidents. In Indonesia, this sector accounted for 17.4% of all workplace accidents between 2019-2021. This study aims to analyze the role of safety leadership and the establishment of a safety climate influencing safety performance in the agribusiness industry, specifically in PT. XXX, a palm oil plantation company. The research employs a cross-sectional study design with a quantitative approach, involving 1332 respondents selected through stratified random sampling. The results indicate that the majority of workers rate safety leadership and the workplace safety climate as very good, though there are areas needing improvement. The study explains that safety leadership is in the high category, the safety climate is also high, and safety performance is optimal. Specifically, the analysis results reveal significant relationships between Safety Coaching, Safety Caring, Safety Controlling, Commitment to Safety, and Perceived Risk with Safety Performance. This is evidenced by Safety Coaching (P = 0.001), Safety Caring (P = 0.011), Safety Controlling (P = 0.037), Commitment to Safety (P = 0.007), and Perceived Risk (P = 0.035) showing significant relationships with safety performance. However, Emergency Response does not show a significant relationship (P = 0.244). Additionally, Safety Coaching is the most influential variable on safety performance. Therefore, enhancing safety coaching programs is crucial for improving workplace safety. This emphasizes the importance of training activities to improve competence, understanding, and awareness in effective risk management to create a synergistic work process and environment with occupational health and safety aspects.
Read More
T-6983
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Galih Kurniawan; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Dadan Erwandi, Widura Imam Mustopo
Abstrak:
Budaya keselamatan didefinisikan oleh Komite Penasehat untuk Keselamatan Instalasi Nuklir Inggris (ACSNI,1993) sebagai produk dari individu dan organisasi berupa nilai, sikap, persepsi, kompetensi, dan pola tingkah laku yang menentukan komitmen, gaya, dan kemampuan organisasi dalam manajemen kesehatan dan keselamatan (HSE, 2005). Sedangkan iklim keselamatan kerja adalah persepsi dan cara pandang pekerja atas kebijakan, prosedur, dan praktek kerja berkaitan dengan keselamatan yang dilakukan oleh manajemen (Ismail, 2015).Iklim keselamatan, sering digunakan untuk menggambarkan output budaya keselamatan organisasi yang lebih 'nyata', dan dengan demikian memberikan fokus nyata untuk penilaian beberapa aspek budaya keselamatan (Health and Safety Executive (HSE), Offshore Safety Division of the HSE, 2010). Analisis iklim keselamatan melalui survei dapat digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara dimensi penting keselamatan dalam suatu organisasi dan bagaimana hal itu dapat berkontribusi pada hasil keseluruhan budaya keselamatan (M.D. Cooper, 2000). Penelitian ini dilakukan di perusahaan minyak bernama PT. ABC. Data kecelakaan kerja PT. ABC disemua area produksinya (tahun 2014-2019) menyimpulkan bahwa 71% kecelakaan terjadi karena Unsafe act (immediate cause), dan 49% karena Human Factor (root cause). Didalam penelitian ini, penulis akan menganalisis penerapan iklim keselamatan kerja area produksi offshore. Hasil observasi lapangan terlihat adanya perbedaan penerapan aspek iklim keselamatan diantara pekerja berdasarkan jadwal shift, posisi / jabatan, status pekerja, durasi bekerja di Offshore, dan pengalaman kerja. Data- data inilah yang menjadi fokus penulis untuk dijadikan bahan penelitian dalam menganalisis iklim keselamatan kerja pada kategori-kategori tersebut. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian mixed methods yaitu sebagian data akan dinilai secara kuantitatif dan sebagian lagi akan dinilai secara kualitatif. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dengan in depth analysis (kajian yang mendalam). Alat yang digunakan untuk menganalisis aspek iklim keselamatan ini yaitu Offshore Safety Climate Assessment Toolkit yang dikembangkan oleh Loughborough University yang membagi persepsi pekerja menjadi tiga, yaitu persepsi sebagai individu, persepsi sebagai unit kerja, dan persepsi sebagai anggota perusahaan. Metode ini menggunakan media kuesioner yang melibatkan 95 responden (seluruh populasi) dan interview terhadap beberapa orang pemangku tanggung jawab keselamatan perusahaan sebagai targetnya

Safety culture has been defined by the Advisory Committee on Safety in Nuclear Installations (ACSNI,1993) as the product of individual and group values, attitudes and beliefs, competencies and patterns of behaviour that determine the commitment to, and the style and proficiency of, an organisation’s health and safety management (HSE, 2005) . While, safety climate is workers' perceptions and perspectives on policies, procedures, and work practices related to safety carried out by management (Ismail, 2015) . Safety climate is often used to describe the more ‘tangible’ outputs of an organisation’s safety culture (Health and Safety Executive (HSE), Offshore Safety Division of the HSE, 2010) . Safety climate analysis through surveys can be used to identify relationships between important dimensions of safety in an organization and how it can contribute to the overall results of safety culture (M.D. Cooper, 2000) . This research was conducted at an oil company called PT. ABC. Occupational accident data of PT. ABC in all production areas (2014-2019) concluded that 71% of accidents occur due to Unsafe act (immediate cause), and 49% due to Human Factor (root cause). In this research, the author will analyze the application of safety climate in offshore production areas. The results of observations show that there are differences in the application of safety climate aspects among workers based on shift schedule, position, status of workers, duration of work in offshore, and work experience. These data are the focus of the author to be used as research material in analyzing safety climate. The research conducted is mixed methods research in which some data will be assessed quantitatively and some will be assessed qualitatively. The results of the study were analyzed descriptively with in-depth analysis. The tool used to analyze aspects of the safety climate is the "Offshore Safety Climate Assessment Toolkit" developed by Loughborough University which divides workers' perceptions into three types, namely perception as individuals, perceptions as work units, and perceptions as company members. This method uses a questionnaire media that involves 95 respondents (the entire population) and interviews with several of the company's safety responsibility stakeholders as targets. From the safety climate analysis results obtained 8,16 values, where this can be interpreted that the workers' perceptions of safety values ​​are well internalized within workers both as individuals, as work units and as members of the company. Statistical calculations concluded that there were no significant differences in the application of work safety climate between  18 workers with a rhythm schedule of 2 weeks on / off, and 2 weeks on-1 week off (p (0,263)> 0.05) , workers with staff and non-staff positions (p (0,794)> 0.05), workers with indefinite time employment agreements and workers with certain time work agreements (p (0,881)> 0.05), workers with short term offshore employment and long term workers (p (0,953)> 0.05), and young / fresh graduate and experienced / experienced workers (p (0,065)> 0.05). There were significant differences in the application of work safety climate between workers with a rhythm schedule of 3 weeks on / off, and 2 weeks on-1 week off (p (0,000)< 0.05) and between workers with a rhythm schedule of 3 weeks on / off, and 2 weeks on/ off (p (0,003)< 0.05)

Read More
T-5831
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lorencius Kukuh Prabowo; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Doni HIkmat Ramdhan, Baiduri, Mushanif Mukti, Wien Goerindro
Abstrak: Angka kecelakaan tingkat perusahaan masih cukup tinggi dan kematian masih terjadi. Iklim keselamatan belum terjadi bagi semua lapisan personil yang ada. Keselamatan kerja masih merupakan tanggung jawab petugas keselamatan kerja, bukannya disadari bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab masing- masing personil yang terlibat aktivitas proyek. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui gaya kepemimpinan dan kepemimpinan keselamatan kerja di proyek konstruksi bangunan PT. LKP serta membuat gambaran kepemimpinan transformasional yang secara teori berhubungan positif dengan iklim keselamatan di lokasi kerja, hal ini menyiratkan bahwa gaya kepemimpinan dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan iklim keselamatan. Penelitian ini menggunakan 69 butir pertanyaan tertutup, yang terdiri dari 24 butir pernyataan aspek gaya kepemimpinan yang terdiri dari 2 dimensi mengacu pada MLQ dan 45 butir pernyataan aspek kepemimpinan keselamatan kerja yang terdiri dari 8 dimensi mengacu pada NOSACQ-50. Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa semua tingkat jabatan (manajer- insinyur-pengawas) dan semua gaya kepemimpinan (transaksional- transformasional) paretonya menunjukkan paling banyak memiliki dimensi kepemimpinan keselamatan kerja variabel to be a role model dan paling sedikit memiliki dimensi kepemimpinan keselamatan kerja variabel safety policy consistency. Penelitian ini juga menunjukkan kontradiksi dengan konsep keselamatan kerja dimana kepatuhan, ketaatan dan disiplin adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar. Pada dasarnya keselamatan kerja tidak memberi ruang fleksibilitas pada orang dalam organisasi untuk bertindak diluar kebijakan, prosedur, aturan yang telah ditetapkan. Hal ini menjadi salah satu dugaan / hipotesa mengapa di industri konstruksi pada umumnya dan di PT. LKP pada khususnya angka kecelakaan masih cukup tinggi. Kata kunci: Gaya Kepemimpinan; Kepemimpinan Keselamatan Kerja; Iklim Keselamatan Kerja; Proyek Konstruksi Bangunan
Read More
T-4448
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refiani Fitri Ardiyanti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Afid Yusthi Ghozali
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.
Read More
S-11992
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irna Anggun Fatiqa; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Bimo Prasetyo; Aryo Wibowo
Abstrak:
Industri konstruksi di Indonesia menyerap tenaga kerja sebanyak 8,7 juta orang pada tahun 2023, dimana konstruksi dikenal sebagai pekerjaan berisiko tinggi dan merupakan penyumbang kecelakaan terbesar kedua di Asia. Iklim keselamatan merupakan salah satu faktor kunci dalam mencegah kecelakaan kerja. Penelitian ini fokus menganalisis iklim keselamatan manajemen dan iklim keselamatan pekerja di sebuah proyek konstruksi. Desain penelitian yang digunakan adalah mixed methode dimana total partisipan berjumlah 235 responden dan 26 informan kunci. Data dikumpulkan dengan menggunakan Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50) dan wawancara mendalam. Analisa intersection antara data kuantitatif dan kualitatif menunjukkan bahwa terdapat ketidakkonsistenan pada tiap kategori iklim keselamatan. Pada iklim keselamatan manajemen, meskipun skor tertinggi diperoleh dimensi pemberdayaan keselamatan manajemen, namun dari hasil kualitatif diperoleh bahwa dimensi ini memiliki persepsi kurang paling tinggi. Pada iklim keselamatan pekerja, analisa intersection menunjukkan bahwa dimensi prioritas keselamatan pekerja dan dimensi kepercayaan terhadap keefektifan sistem keselamatan kerja memiliki persepsi kurang paling rendah. Perlu dilakukannya strategi peningkatan melalui evaluasi dan pengembangan sistem manajemen serta komunikasi keselamatan.

The construction industry in Indonesia absorbs a workforce of 8.7 million people in 2023, where construction is known as a high-risk job and is the second largest contributor to accidents in Asia. Safety climate is one of the key factors in preventing work accidents. This research focuses on analyzing the management safety climate and worker safety climate in a construction project. The research design used was a mixed method where the total participants were 235 respondents and 26 key informants. Data was collected using the Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50) and in-depth interviews. Intersection analysis between quantitative and qualitative data shows that there are inconsistencies in each safety climate category. In the management safety climate, although the highest score was obtained for the management safety empowerment dimension, from the qualitative results it was found that this dimension had the highest lack of perception. In the worker safety climate, the intersection analysis shows that the worker safety priority dimension and the dimension of trust in the effectiveness of the work safety system have the lowest perception. It is necessary to carry out improvement strategies through evaluation and development of safety management and communication systems.
Read More
T-7059
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Kadek Lilis Erismawati; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Bimo Prasetyo, Valyaty Frisa Aryadi
Abstrak:

Industri konstruksi merupakan sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi sehingga
penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi aspek penting dalam menciptakan lingkungan
kerja yang aman. Iklim keselamatan (safety climate) berperan dalam membentuk perilaku kerja aman dan
dipengaruhi oleh karakteristik individu pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan
karakteristik individu dengan persepsi iklim keselamatan pada pekerja proyek konstruksi di PT XYZ.
Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 155 pekerja
menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner karakteristik
individu dan NOSACQ-50, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian
menunjukkan mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, berada pada usia produktif 20–44 tahun,
berpendidikan SMA/sederajat, bekerja sebagai pekerja lapangan, dan memiliki masa kerja kurang dari lima
tahun. Persepsi iklim keselamatan secara umum berada pada kategori baik. Variabel jenis kelamin dan
posisi jabatan memiliki hubungan yang signifikan terhadap persepsi iklim keselamatan, sedangkan usia,
tingkat pendidikan, dan masa kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Posisi jabatan merupakan
faktor yang paling dominan memengaruhi persepsi iklim keselamatan pekerja. Hasil penelitian ini
diharapkan menjadi dasar dalam pengembangan strategi peningkatan K3 yang lebih efektif untuk
memperkuat budaya keselamatan kerja pada proyek konstruksi.


The construction industry is a sector with a high risk of occupational accidents; therefore, the  implementation of Occupational Health and Safety (OHS) is an essential aspect of creating a safe working  environment. Safety climate plays an important role in shaping safe work behavior and is influenced by  workers’ individual characteristics. This study aimed to analyze the relationship between individual  characteristics and safety climate perceptions among construction project workers at PT XYZ. This study  employed a quantitative approach with a cross-sectional design involving 155 workers using a total  sampling technique. Data were collected using an individual characteristics questionnaire and NOSACQ 50 and analyzed using univariate, bivariate, and multivariate analyses. The results showed that the majority  of respondents were male, within the productive age group of 20–44 years, had a senior high school  education or equivalent, worked as field workers, and had less than five years of work experience. Overall,  safety climate perception was categorized as good. Gender and job position showed significant  relationships with safety climate perception, whereas age, educational level, and work experience showed  no significant relationships. Job position was identified as the most dominant factor influencing workers’  safety climate perceptions. The findings of this study are expected to serve as a basis for developing more  effective OHS improvement strategies to strengthen safety culture in construction projects.

Read More
T-7607
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Mustikarini; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Fatma Lestari, Achmad Ruchyana Muliadiredja, Samil Mukhlisin Yauma Hasan
T-3483
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cesilia Bunga Tampubolon; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguj: Laksita Ri Hastiti, Ade Kurdiman
Abstrak:
Kecelakaan kerja masih menjadi persoalan serius di sektor pertambangan karena industri ini tergolong berisiko tinggi, sementara safety performance kerap digunakan sebagai indikator kinerja keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Penelitian yang ada masih relatif menguji safety performance dari satu faktor secara terpisah. Oleh karena penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh praktik manajemen K3 terhadap safety performance melalui safety knowledge pada pekerja industri pertambangan tahun 2026. Desain yang digunakan adalah cross-sectional dengan metode survei yang diisi oleh 769 pekerja di dua perusahaan pertambangan di Indonesia. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara bivariat dengan uji Chi-Square serta secara multivariat menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia (p=0,01) dan posisi pekerjaan (p=0,029) memiliki hubungan yang signifikan dengan safety performance, sedangkan masa kerja (p=0,801) dan pendidikan (p=0,97) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa praktik manajemen K3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety performance, praktik manajemen K3 juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety knowledge, serta safety knowledge berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety performance. Selain itu, safety knowledge terbukti memediasi secara parsial pengaruh praktik manajemen K3 terhadap safety performance. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan memperkuat konsistensi implementasi praktik manajemen K3, terutama aspek safety training dan safety communication and feedback, serta safety performance dalam aspek safety participation.

Workplace accidents remain a serious issue in the mining sector because the industry is considered high-risk, while safety performance is often used as an indicator of occupational safety and health (OHS) performance. Previous studies have relatively examined safety performance from a single factor separately. Therefore, this study aimed to analyze the relationship between OHS management practices and safety performance through safety knowledge among mining workers in 2026. This study used a cross-sectional design with a survey method involving 769 workers from two mining companies in Indonesia. Data were collected using a questionnaire and analyzed bivariately using the Chi-Square test and multivariately using Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results showed that age (p = 0.01) and job position (p = 0.029) were significantly associated with safety performance, whereas years of service (p = 0.801) and education level (p = 0.97) were not significantly associated. The results also showed that OHS management practices had a positive and significant effect on safety performance, OHS management practices had a positive and significant effect on safety knowledge, and safety knowledge had a positive and significant effect on safety performance. In addition, safety knowledge was proven to partially mediate the effect of OHS management practices on safety performance. This study suggests that companies should strengthen the consistency of implementing OHS management practices, especially in safety training and safety communication and feedback, as well as improve safety performance in the aspect of safety participation.
Read More
S-12432
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Domen Manik; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf
T-1901
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive