Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38408 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rabiatul Adawiyah; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Fathimah Sulistyowati Sigit, Kusharisupeni Djokosujono, Suryani Eka Wijaya
Abstrak:
Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan prevalensi yang relatif tinggi serta adanya perbedaan kondisi sosial, ekonomi, sanitasi, dan akses pelayanan kesehatan antara wilayah perdesaan dan perkotaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan sosial ekonomi, sanitasi, dan layanan kesehatan dasar yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6–59 bulan di wilayah perdesaan dan perkotaan Provinsi Nusa Tenggara Barat menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Sampel penelitian sebanyak 1.539 anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel yang dianalisis meliputi status ekonomi, ukuran rumah tangga, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, sumber air minum, kepemilikan fasilitas cuci tangan, jenis sanitasi rumah tangga, pemeriksaan antenatal care, dan status imunisasi dasar lengkap. Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan desain survei kompleks dan bobot sampel, meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat yang distratifikasi berdasarkan wilayah tempat tinggal. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 22,8%, dengan prevalensi lebih tinggi di wilayah perdesaan sebesar 24,7% dibandingkan wilayah perkotaan sebesar 21,1%. Di wilayah perkotaan, fasilitas cuci tangan yang tidak layak merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan stunting. Anak yang tinggal di rumah tangga dengan fasilitas cuci tangan tidak layak memiliki peluang 1,938 kali mengalami stunting dibandingkan anak dengan fasilitas cuci tangan layak (OR=1,938; 95% CI: 1,257–2,989; p=0,003). Di wilayah perdesaan, status ekonomi menengah atas berhubungan dengan stunting (OR=0,409; 95% CI: 0,169–0,991; p=0,048). Pada penelitian ini determinan stunting berbeda antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Intervensi di wilayah perkotaan perlu menekankan peningkatan fasilitas dan praktik cuci tangan, sedangkan di wilayah perdesaan perlu memperhatikan kondisi sosial ekonomi, ketahanan pangan, dan pemenuhan pangan bergizi keluarga.

Stunting remains a public health problem in West Nusa Tenggara Province, with a relatively high prevalence and disparities in socioeconomic conditions, sanitation, and access to healthcare services between rural and urban areas. This study aimed to analyze the socioeconomic, sanitation, and basic healthcare determinants associated with stunting among children aged 6–59 months in rural and urban areas of West Nusa Tenggara Province. This cross-sectional study used secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study included 1,539 children who met the inclusion and exclusion criteria. The variables analyzed included economic status, household size, maternal education, maternal employment, drinking water source, availability of handwashing facilities, household sanitation, antenatal care attendance, and complete basic immunization status. The analyses accounted for the complex survey design and sampling weights and included univariate, bivariate, and multivariate analyses stratified by area of residence. The results showed that the prevalence of stunting in West Nusa Tenggara Province was 22.8%, with a higher prevalence in rural areas than in urban areas, at 24.7% and 21.1%, respectively. In urban areas, inadequate handwashing facilities were the factor most strongly associated with stunting. Children living in households with inadequate handwashing facilities had 1.938 times higher odds of stunting than those living in households with adequate handwashing facilities (OR=1.938; 95% CI: 1.257–2.989; p=0.003). In rural areas, upper-middle economic status was associated with stunting (OR=0.409; 95% CI: 0.169–0.991; p=0.048), indicating lower odds of stunting compared with the highest economic group. This study found that the determinants of stunting differed between urban and rural areas. Interventions in urban areas should emphasize improving handwashing facilities and practices, whereas interventions in rural areas should address household socioeconomic conditions, food security, and access to nutritious foods.
Read More
T-7690
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nila Febriana Iswara; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Sandra Fikawati, Muhammad Johansyah, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak:
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan pertumbuhan linier yang terhambat dinilai dari panjang badan atau tinggi badan menurut umur <-2 SD berdasarkan standar pertumbuhan anak WHO. Stunting disebabkan langsung oleh asupan gizi yang tidak adekuat dan penyakit infeksi berulang yang terjadi terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas anak, menghambat perkembangan kognitif, meningkatkan risiko penyakit tidak menular saat dewasa, serta menurunkan kapasitas kerja. Prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat (32,7%) menduduki urutan tertinggi ke 4 di Indonesia berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan determinan stunting pada anak usia 6-23 bulan di wilayah perdesaan dan perkotaan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan 858 sampel yang diperoleh dari total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang digunakan adalah data sekunder dari SSGI tahun 2022. Variabel independen meliputi faktor anak, keluarga, dan lingkungan. Analisis bivariat menggunakan uji kai kuadrat dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda model determinan. Hasil penelitian menunjukkan proporsi stunting pada anak usia 6-23 bulan di perdesaan (27,2%) dan perkotaan (28,2%). Proporsi anak dengan status imunisasi tidak lengkap, pendidikan ayah dan ibu rendah, kunjungan ANC ibu < 6 kali, anemia saat hamil, keluarga rawan pangan, sumber air minum dan sanitasi tidak layak lebih tinggi di perdesaan.  Sedangkan proporsi anak dengan riwayat tidak IMD, tidak ASI ekkslusif, waktu pengenalan MPASI < 6 bulan, ISPA, pneumonia dan tuberkulosis paru lebih tinggi di wilayah perkotaan. Proporsi stunting lebih tinggi pada anak usia 11-23 bulan, berat badan lahir < 2.500 gram, panjang badan lahir < 48 cm, tinggi badan ibu < 150 cm di wilayah perdesaan dan perkotaan serta kunjungan ANC ibu < 6 kali di wilayah perkotaan. Faktor dominan yang berhubungan dengan stunting di perdesaan dan perkotaan adalah berat badan lahir.

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by impaired linear growth, measured by length or height for age below -2 standard deviations based on WHO child growth standards. Stunting is directly caused by inadequate nutritional intake and recurrent infectious diseases, especially during the first 1000 days of life. Stunting can increase child morbidity and mortality, hinder cognitive development, raise the risk of non-communicable diseases in adulthood, and reduce work capacity. The prevalence of stunting in West Nusa Tenggara Province (32.7%) ranks fourth highest in Indonesia based on the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI). This study aims to analyze the determinants of stunting in children aged 6-23 months in rural and urban areas of West Nusa Tenggara Province. The research design used is cross-sectional with 858 samples obtained through total sampling based on inclusion and exclusion criteria. The data used are secondary data from the 2022 SSGI. Independent variables include child, family, and environmental factors. Bivariate analysis was conducted using the chi-square test and multivariate analysis using a multiple logistic regression model. The results showed the proportion of stunting in children aged 6-23 months was 27.2% in rural areas and 28.2% in urban areas. The proportion of children with incomplete immunization status, low paternal and maternal education, fewer than six ANC visits, maternal anemia during pregnancy, food insecurity, and inadequate drinking water and sanitation were higher in rural areas. Conversely, the proportion of children with a history of not receiving early initiation of breastfeeding (IMD), not being exclusively breastfed, early introduction of complementary foods (
Read More
T-7051
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlina Rully Wahyuningrum; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Triyanti, Rian Anggraini, Neneng Susanti
Abstrak:
Stunting merupakan rendahnya ukuran antropometri dari panjang atau tinggi badan menurut umur akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu lama. Stunting menyebabkan anak gagal mencapai pertumbuhan linear dan potensi kognitif yang optimal. Sumatera Barat menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Sumatera yang mengalami peningkatan angka stunting pada tahun 2022, dari 23,3% (2021) menjadi 25,2% (2022). Tingginya stunting di perdesaan dibandingkan di perkotaan berkaitan dengan determinan stunting di tiap karakteristik wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan stunting pada anak usia 6-23 bulan berdasarkan wilayah perdesaan dan perkotaan di Provinsi Sumatera Barat menurut data Survei Status Gizi Indonesia Tahun 2022. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel 2.011 anak dari total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen meliputi faktor anak, ibu, keluarga, dan lingkungan. Penelitian ini dianalisis secara univariat, bivariat (chi square), dan multivariat (regresi logistik ganda). Hasil menunjukkan prevalensi stunting di Provinsi Sumatera Barat sebesar 18,4%, dengan proporsi stunting di perdesaan (22,1%) lebih tinggi dibanding perkotaan (16,8%). Terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan jenis kelamin, usia anak, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, dan kunjungan ANC di perdesaan. Untuk perkotaan, terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan pneumonia, jenis kelamin, usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, pendidikan ibu, ketahanan pangan rumah tangga, dan sanitasi. Secara keseluruhan di Provinsi Sumatera Barat, terdapat perbedaan proporsi stunting berdasarkan pneumonia, jenis kelamin, usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, tinggi badan ibu, kunjungan ANC, pendidikan ibu, ketahanan pangan rumah tangga, sanitasi, dan klasifikasi tempat tinggal. Faktor dominan yang berhubungan dengan stunting di perdesaan adalah usia anak (OR=3,181), sedangkan di perkotaan dan Provinsi Sumatera Barat adalah tinggi badan ibu (OR=2,994; 2,960). Peningkatan usia anak perlu mendapatkan perhatian lebih agar kemungkinan terjadinya stunting dapat dicegah atau ditangani lebih dini. Pencegahan dan penanggulangan stunting perlu dimulai dari hulu dengan lebih memerhatikan asupan zat gizi dan kesehatan remaja putri sebagai calon ibu agar memiliki status gizi yang baik.

Stunting is an anthropometric measure of low body length or height according to age due to long-term malnutrition. Stunting causes children to fail to achieve optimal linear growth and cognitive potential. West Sumatra is the only province on the island of Sumatra that will experience an increase in stunting rates in 2022, from 23.3% (2021) to 25.2% (2022). The higher rate of stunting in rural compared to urban areas is related to the determinants of stunting in each characteristic of areas. This study aims to determine the determinants of stunting in children aged 6-23 months based on rural and urban areas in West Sumatra Province according to data from the Indonesian Nutrition Status Survey 2022. The design of this research is cross sectional with a sample size of 2,011 children from the total sampling according to inclusion and exclusion criteria. Independent variables include child, mother, family and environmental factors. This research was analyzed univariate, bivariate (chi square), and multivariate (multiple logistic regression). The results show that the prevalence of stunting in West Sumatra Province is 18.4%, with the proportion of stunting in rural (22.1%) higher than urban areas (16.8%). There are differences in the proportion of stunting based on gender, child's age, birth length, mother's height, and ANC visits in rural areas. For urban, there are differences in the proportion of stunting based on pneumonia, gender, child's age, birth weight, birth length, mother's height, mother's education, household food security, and sanitation. Overall in West Sumatra Province, there are differences in the proportion of stunting based on pneumonia, gender, child's age, birth weight, birth length, mother's height, ANC visits, mother's education, household food security, sanitation, and residence classification. The dominant factor associated with stunting in rural is the child's age (OR=3.181), while in urban and West Sumatra Province it is the mother's height (OR=2.994; 2.960). Increasing the age of children needs more attention so that the possibility of stunting can be prevented or treated earlier. Prevention and control of stunting needs to start from the upstream by paying more attention to the nutritional intake and health of young women as mothers-to-be so that they have good nutritional status.
Read More
T-6939
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Hajati Husma; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Sandra Fikawati, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Rian Anggraini, Azhari
Abstrak:
Stunting adalah kondisi di mana panjang atau tinggi badan seorang anak tidak sesuai dengan usianya. Hal ini disebabkan oleh malnutrisi kronis dan infeksi berulang, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting masih menjadi masalah kesehatan utama di Provinsi Aceh, karena prevalensinya masih tinggi yang menduduki peringkat 7 secara nasional dan sejak tahun 2013-2021 Aceh selalu berada di peringkat lima besar nasional daerah paling tinggi angka stuntingnya. Terdapat 14 dari 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh yang memiliki prevalensi stunting lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata provinsi yaitu di atas 29,4%, dengan prevalensi terendah sebesar 29,5% dan tertinggi mencapai 40,2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko stunting yang meliputi faktor individu ibu, faktor individu balita dan faktor rumah tangga pada balita usia 6-59 bulan berdasarkan wilayah perkotaan dan perdesaan di Provinsi Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel 3.589 balita berusia 6-59 bulan dari total sampling sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Data yang digunakan merupakan data sekunder SKI tahun 2023. Proses analisis data dalam penelitian ini meliputi univariat dan bivariat menggunakan chii square serta multivariat menggunakan regresi logistic ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada balita usia 6-59 bulan di Provinsi Aceh sebesar 26,2%, dengan proporsi stunting di wilayah perdesaan lebih tinggi yaitu mencapai 27,2% dibandingkan wilayah perkotaan sebesar 25,1%. Hasil analisis bivariat secara keseluruhan di Provinsi Aceh menunjukkan  bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tinggi badan ibu (p-value 0,000), pendidikan ibu (p-value 0,001), jenis kelamin balita ((p-value 0,004), usia balita (p-value 0,000), panjang badan lahir rendah (PBLR) (p-value 0,015) dan berat badan lahir rendah (BBLR) (p-value 0,048), dengan kejadian stunting pada balita usia 6-59 bulan di Provinsi Aceh. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor resiko dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada penelitian ini adalah usia balita untuk ketiga wilayah, baik di wilayah perkotaan, perdesaan maupun secara keseluruhan di Provinsi Aceh dengan OR 2,121 (95% CI: 1,236–3,640) di perkotaan, OR 2,427 (95% CI: 1,583–3,72) di perdesaan dan OR 2,312 (95% CI: 1,653–3,232) secara keseluruhan di Provinsi Aceh. Mengingat dampak stunting pada balita yang sangat besar terhadap beban negara dan mengancam keberlangsungan generasi yang akan datang, maka penentuan faktor risiko stunting pada tahap awal berdasarkan karakteristik wilayah tempat tinggal sangat penting dilakukan untuk mengatasi penurunan kualitas dan produktivitas yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan di masa depan.


Stunting is a condition where a child's length or height is not appropriate for their age. It is caused by chronic malnutrition and recurrent infections, especially during the first 1,000 days of life. Stunting is still a major health problem in Aceh Province, as its prevalence is still high, ranked 7th nationally and from 2013-2021 Aceh has always been in the top five national stunting regions. There are 14 out of 23 districts/cities in Aceh Province that have a stunting prevalence higher than the provincial average of over 29.4%, with the lowest prevalence of 29.5% and the highest reaching 40.2%. This study aims to determine the risk factors for stunting which include individual maternal factors, individual factors of toddlers and household factors in toddlers aged 6-59 months based on urban and rural areas in Aceh Province. This study is a quantitative study using a cross sectional design with a sample size of 3,589 toddlers aged 6-59 months from total sampling according to inclusion and exclusion criteria. The data used is secondary data for SKI in 2023. The data analysis process in this study includes univariate and bivariate using chii square and multivariate using multiple logistic regression. The results showed that the prevalence of stunting in children aged 6-59 months in Aceh Province was 26.2%, with a higher proportion of stunting in rural areas reaching 27.2% compared to urban areas at 25.1%. The results of the overall bivariate analysis in Aceh Province showed that there was a significant association between maternal height (p-value 0.000), maternal education (p-value 0.001), gender of toddlers ((p-value 0.004), age of toddlers (p-value 0.000), low birth length (PBLR) (p-value 0.015) and low birth weight (BBLR) (p-value 0.048), with the incidence of stunting in children under 6-59 months of age in Aceh Province. The results of multivariate analysis showed that the dominant risk factor associated with stunting in this study was age under five for all three regions, both in urban, rural and overall in Aceh Province with OR 2.121 (95% CI: 1.236-3.640) in urban areas, OR 2.427 (95% CI: 1.583-3.72) in rural areas and OR 2.312 (95% CI: 1.653-3.232) overall in Aceh Province. Given the enormous impact of stunting in children under five years old on the burden of the state and threatening the sustainability of future generations, determining the risk factors for stunting at an early stage based on the characteristics of the area of residence is very important to overcome the decline in quality and productivity that can hamper economic growth and increase poverty in the future.

Read More
T-7305
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ariani Tri Rahmi; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Triyanti, Muhammad Johansyah, Denas Symond
Abstrak:

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita yang diakibatkan karena kekurangan gizi kronis dan terjadi dalam jangka waktu panjang ditandai dengan tinggi/panjang badan anak terhadap usia <-2 SD kurva pertumbuhan WHO. Prevalensi Stunting di Indonesia pada tahun 2022 adalah 21,6%. Provinsi NTB merupakan salah satu provinsi yang mengalami kenaikan prevalensi stunting dari dari 31,4% pada tahun 2021 menjadi 32,7% pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu faktor risiko penyebab stunting pada anak usia 24-59 bulan di Provinsi NTB. Desain dalam penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data SSGI 2022. Sampel dalam penelitian ini anak anak usia 24-59 bulan di Provinsi NTB yang terpilih menjadi responden SSGI 2022. Analisis data dilakukan menggunakan chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlah balita dalam keluarga, sumber air minum, dan kepemilikan jamban berhubungan dengan kejadian stunting (p<0,05). Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Provinsi NTB adalah sumber air minum setelah dipengaruhi oleh variabel jenis kelamin anak dan pendidikan ibu (OR : 1,399 ; 95% CI : 1,168-1,675).

Stunting is a condition of failure to grow in toddlers due to malnutrition over a long period of time characterized by the height/length of the child's body for age <-2 SD on the WHO growth curve. The prevalence of stunting in Indonesia in 2022 is 21.6%. NTB Province is one of the provinces that has experienced an increase in the prevalence of stunting from 31,4%  in 2021 to 32,7% in 2022. This research aims to determine the risk factors that cause stunting in children aged 24-59 months in NTB Province. The design of this study was cross-sectional using SSGI 2022 data. The sample in this study was children aged 24-59 months in NTB Province who were selected as respondents to the SSGI 2022. Data analysis was carried out using chi-square and multiple logistic regression. The results of the study showed that gender, maternal education, maternal occupation, the number of children under five in the family, drinking water sources, and ownership of toilet were related to the incidence of stunting (p<0.05). The dominant factor associated with the incidence of stunting in children aged 24-59 months in NTB Province is drinking water sources which is influences by the sex of the child and maternal education (OR : 1,399 ; 95% CI : 1,168-1,675).  

Read More
T-7022
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cindy Cuandra; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Siti Romlah
Abstrak:
Stunting adalah masalah gizi kronis berupa gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat tiga faktor utama, yaitu asupan gizi yang tidak adekuat, infeksi secara terus-menerus, dan stimulasi psikososial yang tidak baik yang diukur melalui indikator PB/U atau TB/U < -2 SD. Berdasarkan SKI (2023), prevalensi kejadian stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (37,9%) lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi nasional di Indonesia (21,6%). Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya faktor dominan kejadian stunting pada baduta (0-23 bulan) berdasarkan kelompok umur di Nusa Tenggara Timur tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data hasil SKI 2023 dengan jumlah sampel adalah 735 baduta 0-23 bulan di NTT. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan bahwa ada 24% baduta 0-23 bulan yang mengalami stunting. Faktor dominan stunting pada baduta kelompok umur 0-5 bulan, 6-11 bulan, dan 12-23 bulan adalah berat badan lahir rendah (OR: 10,156), status pekerjaan ibu (OR: 3,154), dan tinggi badan ibu (OR: 6,077). Pada kelompok umur 0-5 bulan, ditemukan interaksi antara berat badan lahir (p-value 0,0001) dan status imunisasi (p-value 0,043) dengan riwayat penyakit infeksi. 

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by impaired growth and development due to three main factors: inadequate nutritional intake, persistent infections, and poor psychosocial stimulation, which is measured using the height-for-age (HAZ) indicator < -2 SD. According to SKI (2023), the prevalence of stunting in East Nusa Tenggara Province (37,9%) is higher than the national prevalence in Indonesia (21,6%). The purpose of this study is to identify the dominant factors of stunting incidence in infants and young children based on age groups in East Nusa Tenggara. This research used a cross-sectional design with data from SKI 2023, involving a sample of 735 children aged 0-23 months in East Nusa Tenggara. Data analysis included univariate analysis to observe frequency distribution, bivariate analysis using chi-square, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The study found that 24% of children aged 0-23 months experienced stunting. The dominant factors for stunting among children in the age groups 0-5 months, 6-11 months, and 12-23 months were low birth weight (OR: 10,156), mother's employment status (OR: 3,154), and mother's height (OR: 6,077). In the 0-5 months age group, an interaction was found between low birth weight (p-value 0,0001) and immunization status (p-value 0,043) with a history of infectious diseases.
Read More
S-11911
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elisabeth Juliana Monica; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Sada Rasmada
Abstrak:
Balita merupakan kelompok yang rentan untuk mengalami gizi lebih karena penambahan dan pembesaran sel lemak terjadi secara cepat. Gizi lebih terjadi karena asupan yang masuk ke dalam tubuh lebih besar daripada pengeluaran energi. Angka kejadian gizi lebih pada balita di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu 10,8% melebihi angka kejadian gizi lebih balita di Indonesia, yaitu 8%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan proporsi faktor-faktor yang menyebabkan kejadian gizi lebih pada balita. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar 2018. Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square dan regresi linier. Hasil penelitian ini menunjukkan kejadian gizi lebih pada balita (Z-score (> +2 SD)) di Provinsi Sumatera Selatan, yaitu 23,9%. Hasil analisis pada faktor orang tua (IMT Ibu) menunjukkan perbedaan proporsi yang signifikan. Sementara faktor orang tua yang lainnya, faktor anak, dan faktor sosial ekonomi tidak menunjukkan adanya perbedaan proporsi yang signifikan. Diperlukan kesadaran keluarga terutama ibu sebagai pengasuh utama balita untuk lebih memerhatikan pola konsumsi balita demi mencegah berlanjutnya kejadian gizi lebih hingga fase kehidupan selanjutnya.

Toddlers are a group that is vulnerable on getting excess nutrition because of the addition and enlargement of fat cells occurs quickly. Overnutrition occurs because of the intake that enters the body is greater than energy expenditure. The incidence of overnutrition in toddlers at South Sumatera Province, which is 10,8%, exceeds the incidence of overnutrition in Indonesia, which is 8%. This study aims to analyze the difference in the proportion of factors that cause the occurrence of overnutrition in toddlers. This research is a cross-sectional study using secondary data from Basic Health Research 2018. Bivariate analysis was carried out using chi square and linear regression test. The results of this study indicate the incidence of overnutrition in toddlers (Z-score (> +2 SD)) in South Sumatera Province, which is 23,9%. The result of the analysis on parental factors (Mother’s BMI) showed that there was a significant difference in proportion. Meanwhile, other parental factors, child factors, and socioeconomic factors did not show any significant differences in proportion. Family awareness, especially mothers as the main caregivers of toddlers, are needed to pay more attention on toddlers consumption patterns in order to prevent the continuation of overnutrition in the next phase of life.
Read More
S-11469
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Weny Wulandary; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Wahyu Kurnia, Agus Triwinarto, Siti Romlah
Abstrak:
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, kesehatan dan gizi ibu yang buruk, pemberian makan dan pola asuh tidak tepat, serta stimulasi psikososial tidak memadai. Tesis ini membahas determinan kejadian stunting pada anak usia 6 – 23 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Timur menggunakan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dengan jumlah sampel analisis multivariat sebanyak 490 anak yang didapatkan berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Variabel independen yang diteliti meliputi usia anak, jenis kelamin, berat badan lahir rendah (BBLR), panjang badan lahir rendah (PBLR), inisiasi menyusu dini (IMD), status ASI eksklusif, minimum dietary diversity (MDD), riwayat penyakit infeksi, usia ibu saat melahirkan, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ayah, status pekerjaan ibu, jumlah anggota keluarga, kerawanan pangan keluarga, status imunisasi dasar, suplementasi vitamin A, tempat tinggal, sumber air minum, dan sanitasi. Hasil penelitian menunjukkan proporsi stunting pada anak usia 6 – 23 bulan di provinsi NTT sebesar 32,8%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunting di antaranya adalah usia anak (OR: 1,723 CI 95% 1,215-2,445), jenis kelamin (OR: 1,777 CI 95% 1,305-2,419), BBLR (OR: 2,106 CI 95% 1,206-3,423), PBLR (OR: 1,768 CI 95% 1,133-2,759), riwayat penyakit infeksi (OR: 1,548 CI 95% 1,141-2,099), tingkat pendidikan ibu (OR: 1,555 CI 95% 1,136-2,127), dan sanitasi (OR: 1,881 CI 95% 1,384-2,555). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor paling dominan terhadap kejadian stunting yaitu riwayat penyakit infeksi dengan nilai OR terbesar (OR: 2,244). Anak yang memiliki riwayat penyakit infeksi berisiko mengalami stunting sebesar 2,2 kali lebih tinggi dibandingan dengan anak yang tidak memiliki riwayat penyakit infeksi setelah dikontrol variabel usia anak, jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, dan sanitasi.


Stunting is the impaired growth and development that children experience from chronic malnutrition, repeated infection, poor maternal health and nutrition, and inadequate psychosocial stimulation. The focus of this study is determinants of stunting on 6 – 23 month children in East Nusa Tenggara Province using data from the Study of Indonesian Nutritional Status (SSGI) in 2021. This research is a quantitative study used cross sectional design with 490 toddlers based on inclusion and exclusion criteria. The independent variables studies included low birth weight (LBW), low birth height (LBH) early breastfeeding initiation, exclusive breastfeeding status, minimum dietary diversity (MDD), history of infectious disease, maternal age, father’s education level, mother’s educational level, father’s employment status, mother’s employment status, total family members, family food insecurity, basic immunization status, vitamin A supplementation, residence, water source, and sanitation. The results showed that the proportion of stunting in 6-23 months in NTT province was 32.8%. The results of bivariate analysis showed that variables significantly associated with stunting included child age (OR: 1.723 CI 95% 1.215-2.445), gender (OR: 1.777 CI 95% 1.305-2.419), LBW (OR: 2.106 CI 95% 1.206-3.423), LBH (OR: 1.768 CI 95% 1.133-2.759), history of infectious disease (OR: 1.548 CI 95% 1.141-2.099), maternal education level (OR: 1.555 CI 95% 1.136-2.127), and sanitation (OR: 1.881 CI 95% 1.384-2.555). The results of multivariate analysis showed that the most dominant factor of stunting was history of infectious disease (OR: 2.244). Children who have history of infectious disease are at risk of stunting by 2.2 times higher than children who do not have history of infectious disease after being controlled by child age, gender, birth weight, birth length, and sanitation.
Read More
T-6734
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Husnul Khotima; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Diah Mulyawati Utari, Rahmawati, Ririn Akmal Sari
Abstrak: Anemia di Indonesia masih menjadi masalah gizi utama di berbagai kalangan usia termasuk balita sebagai salah satu kelompok paling rentan. Balita anemia dapat terjadi akibat berbagai faktor dan perlu diintervensi sedini mungkin untuk mencegah akibat lain yang memengaruhi kesehatan dan pertumbuhan nya di kemudian hari. Provinsi NTB menunjukkan prevalensi tinggi masalah gizi seperti stunting, gizi buruk dan gizi kurang dibandingkan tingkat nasional sehingga memiliki potensi risiko tingginya kejadian anemia pada balita yang belum diteliti di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya anemia pada balita usia 12-59 bulan berdasarkan faktor individual, faktor orang tua, faktor makanan, dan faktor lingkungan. Data diperoleh dari IFLS 5 Tahun 2014/2015 yang dilakukan oleh RAND Corporation sebanyak 376 balita usia 12-59 bulan di Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilakukan melalui analisis kuantitatif secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian diperoleh faktor risiko dominan terjadinya anemia adalah usia dengan p-value=<0,001 (OR=3,798 (2,139-6,743)) setelah dikontrol oleh variabel status gizi menurut TB/U, status prematur, dan wilayah tempat tinggal. Usia 12-24 bulan adalah usia penting yang harus menjadi perhatian orang tua untuk memenuhi kebutuhan asupan gizi serta kesehatannya untuk mencegah risiko terjadinya anemia.
Read More
T-6314
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kendrick; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Maya Fernandya Siahaan
Abstrak:
Stunting adalah salah satu bentuk malnutrisi yang diidentifikasi melalui nilai-z panjang atau tinggi badan anak di bawah -2 standar deviasi berdasarkan Standar Pertumbuhan Anak WHO. Stunting dapat disebabkan oleh defisiensi zat gizi dan gangguan pertumbuhan anak selama 1000 Hari Pertama Kelahiran. Stunting dapat menyebabkan risiko morbiditas dan mortalitas, infeksi, dan perkembangan penyakit tidak menular. Pada tahun 2024, Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki prevalensi stunting sebesar 37%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko kejadian stunting pada anak 24-35 bulan di Provinsi NTT berdasarkan data SSGI 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dan melibatkan 1.939 sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang digunakan adalah data SSGI 2024. Variabel independen yang dilibatkan dibagi ke dalam faktor ibu, anak, dan rumah tangga. Data dianalisis secara bivariat dengan metode chi-square dan secara multivariat dengan metode regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 41.8% pada anak 24-35 bulan di Provinsi NTT 2024. Variabel usia ibu, tinggi badan ibu, kunjungan ANC, pengetahuan stunting, riwayat PBLR, riwayat ISPA, riwayat pneumonia, riwayat imunisasi dasar, indeks kekayaan, kepemilikan fasilitas sanitasi, sumber air minum, dan daerah tempat tinggal berhubungan signifikan dengan stunting. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak 24-35 bulan di Provinsi NTT adalah tinggi badan ibu (aOR 2.48, 95% CI 1.92-3.20).

Stunting is a form of malnutrition identifiable through length- or height-for-age z-score below -2 standard deviation according to the WHO Child Growth Standards. Stunting can be caused by nutritional deficiencies and growth faltering throughout the First 1000 Days of Life. Stunting may increase risk of morbidity and mortality, infection, and non-communicable disease development. Eastern Nusa Tenggara has a 37% stunting rate in 2024. This research aims to identify risk factors correlated to stunting in children aged 24-35 months in Eastern Nusa Tenggara Province. The design of this study is cross-sectional and involves 1.939 amount of samples filtered with inclusion and exclusion criterias. Data involved in this study are from the 2024 SSGI. Independent variables involved are categorised into maternal, child, and household factors. Data were analysed bivariately through chi-square test and multivariately through multiple logistic regression. Results show that 41.8% children aged 24-35 months in Eastern Nusa Tenggara are stunted. Maternal age, maternal stature, antenatal care visits, knowledge on stunting, short birth length, URTI, pneumonia, immunisation history, wealth index, sanitation facility, drinking water source, and place of residence are found to be significantly associated with stunting. The dominant factor identified in this study is maternal stature (aOR 2.48, 95% CI 1.92-3.20).
Read More
S-12286
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive