Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34296 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maharani Kurniadewi; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Iis Nuraenah
Abstrak:
Remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami distres psikologis, yang ditandai dengan gejala depresi, kecemasan, dan stres. Berdasarkan model I-PACE, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan adiksi internet spesifik, seperti adiksi media sosial dan adiksi game online. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara adiksi media sosial dan adiksi game online dengan distres psikologis pada siswa SMA Negeri 11 Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 292 siswa yang dipilih melalui proportional cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS), Internet Gaming Disorder Scale–Short Form (IGDS9-SF), dan Depression Anxiety Stress Scale-Youth (DASS-Y). Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman, Chi-Square, dan stratifikasi berdasarkan jenis kelamin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 31,2% responden mengalami distres psikologis. Skor adiksi media sosial berhubungan positif dengan distres psikologis (r = 0,439; p < 0,001), dan responden dengan skor adiksi media sosial tinggi memiliki prevalensi distres psikologis 2,253 kali lebih tinggi dibandingkan dengan responden dengan skor rendah (PR = 2,253; 95% CI: 1,540–3,296). Skor adiksi game online juga berhubungan positif dengan distres psikologis (r = 0,200; p = 0,001), namun tidak ditemukan hubungan yang bermakna pada analisis kategorik (PR = 1,251; 95% CI: 0,876–1,788; p = 0,218). Berdasarkan analisis stratifikasi, hubungan antara adiksi media sosial dan distres psikologis tetap bermakna pada kelompok perempuan. Penelitian ini menunjukkan bahwa skor adiksi media sosial dan skor adiksi game online berhubungan positif dengan distres psikologis, tetapi hanya adiksi media sosial yang menunjukkan hubungan bermakna pada analisis kategorik. Temuan ini dapat menjadi dasar pengembangan strategi promosi kesehatan di sekolah melalui edukasi penggunaan internet dan strategi koping, skrining dini, serta pemberian layanan konseling atau pendampingan bagi siswa dengan indikasi skor adiksi atau distres psikologis yang tinggi.

Adolescents are vulnerable to psychological distress, which is characterized by symptoms of depression, anxiety, and stress. Based on the Interaction of Person-Affect-Cognition-Execution (I-PACE) model, psychological distress may be associated with specific forms of internet addiction, such as social media addiction and online gaming addiction. This study aimed to examine the association between social media addiction, online gaming addiction, and psychological distress among students at SMA Negeri 11 Kota Bekasi. A cross-sectional study was conducted among 292 students selected using proportional cluster random sampling. Data were collected using the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS), Internet Gaming Disorder Scale–Short Form (IGDS9-SF), and Depression Anxiety Stress Scale–Youth (DASS-Y). Data were analyzed using Spearman's rank correlation, Chi-square test, prevalence ratio (PR), and gender-stratified analysis. The results showed that 31.2% of respondents experienced psychological distress. Social media addiction scores were positively associated with psychological distress (r = 0.439; p < 0.001), and respondents with high social media addiction scores had a 2.253-fold higher prevalence of psychological distress than those with low scores (PR = 2.253; 95% CI: 1.540–3.296). Online gaming addiction scores were also positively associated with psychological distress (r = 0.200; p = 0.001), but no significant association was found in the categorical analysis (PR = 1.251; 95% CI: 0.876–1.788; p = 0.218). Based on the gender-stratified analysis, the association between social media addiction and psychological distress remained significant among female students. This study showed that both social media addiction and online gaming addiction scores were positively associated with psychological distress, but only social media addiction showed a significant association in the categorical analysis. These findings may serve as a basis for developing school-based health promotion strategies through education on healthy internet use and adaptive coping strategies, mental health screening, and the provision of counseling or support services for students with indications of high addiction scores or psychological distress.
Read More
S-12455
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Midyawati Ahmad; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Mareta Maulidiyanti, Nur Fatayani, Ali Mukodas
Abstrak:
Gaya hidup sehat merujuk pada kebiasaan individu yang dapat membantu mencegah penyakit kronis dan mendorong praktik perilaku yang mendukung kesehatan. Munculnya internet telah secara dramatis mengubah lanskap informasi kesehatan, karena itu penting untuk memeriksa bagaimana literasi kesehatan digital mempengaruhi perilaku hidup sehat dikalangan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran determinan sosial siswa SMAN, literasi kesehatan digital dan gaya hidup sehat siswa SMAN di Jakarta tahun 2024. Studi ini menggunakan data primer dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan melalui teknik acak klaster (cluster random sampling), menggunakan instrumen HPLP II (tiga puluh pertanyaan) tentang gaya hidup sehat dan eHEALS (delapan pertanyaan) tentang literasi kesehatan digital pada studi ini. Analisis menggunakan regresi linear berganda dengan gaya hidup sehat sebagai variabel dependen dan literasi kesehatan digital dan determinan sosial usia, jenis kelamin, suku, jurusan, dan uang saku sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan gaya hidup sehat pada siswa SMA Negeri dalam kategori cukup (Me=75; SD=10,51). Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan variabel literasi kesehatan digital berhubungan secara signifikan dengan gaya hidup sehat setelah dikontrol oleh variabel uang saku (aOR=2.120 95%CI 1.232-3.648). Oleh karena itu, diperlukan penguatan literasi kesehatan digital dan monitoringnya dengan berbagai pihak terkait termasuk dinas Pendidikan dan tim Pembina UKS, Dinas Komunikasi dan Informatika dalam mendukung gaya hidup sehat di Sekolah

A healthy lifestyle refers to individual habits that can help prevent chronic diseases and promote behaviors that support health. The emergence of the internet has dramatically changed the landscape of health information, making it essential to examine how digital health literacy influences healthy living behaviors among adolescents. This study aims to describe the social determinants of public high school students, their digital health literacy, and their healthy lifestyle in Jakarta in 2024. The study uses primary data with a cross-sectional design. Data were collected through cluster random sampling using the HPLP II instrument (thirty questions) about healthy lifestyle and eHEALS (eight questions) about digital health literacy. The analysis was conducted using multiple linear regression with a healthy lifestyle as the dependent variable and digital health literacy and social determinants such as age, gender, ethnicity, study major, and allowance as independent variables. The results showed that the healthy lifestyle of public high school students was in the moderate category (Me=75; SD=10.51). Multiple linear regression analysis showed that digital health literacy was significantly associated with a healthy lifestyle after being controlled for the allowance variable (aOR=2.120 95% CI 1.232-3.648). Therefore, it is necessary to strengthen digital health literacy and its monitoring with various relevant parties, including the Education Department, the School Health Unit (UKS) team, and the Department of Communication and Informatics to support a healthy lifestyle in schools.
Read More
T-6924
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Ilhan Khazin; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Moh Ilyas
Abstrak:
Tidur merupakan hal yang penting bagi manusia untuk bertahan hidup, bahkan tidur menghabiskan sepertiga dari hidup manusia. Kejadian kurang tidur saat ini menjadi masalah yang umum terjadi di sekolah menengah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di berbagai sekolah menengah atas di Indonesia menunjukkan bahwa siswa yang memiliki kualitas tidur yang buruk lebih banyak dibandingkan dengan siswa yang memiliki kualitas tidur yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi apakah terdapat hubungan antara sikap, dukungan sosial, efikasi diri, niat, dan praktik sleep hygiene dengan kualitas tidur pada remaja di SMA Negeri 21 Kota Bekasi dengan menggunakan desain cross sectional. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 258 responden yang terdiri dari kelas 10 dan kelas 11. Penelitian yang dilakukan menunjukkan sebagian remaja di SMA Negeri 21 Kota Bekasi memiliki sikap, dukungan sosial, efikasi diri, niat, dan praktik sleep hygiene yang baik tetapi memiliki kualitas tidur yang buruk, hal ini dikarenakan untuk memiliki kualitas tidur yang baik, diperlukan adanya kesadaran dan praktik untuk menerapkan hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas tidur. Sebanyak 180 responden (69,8%) memiliki kualitas tidur yang buruk. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara efikasi diri dan praktik sleep hygiene dengan kualitas tidur. Sementara pada sikap, dukungan sosial, dan niat tidak menunjukkan adanya hubungan dengan kualitas tidur. Oleh karena itu, diperlukan adanya edukasi maupun program kesehatan untuk meningkatkan kualitas tidur pada remaja

Sleep is essential for humans to survive, even it takes one-third of human life. Sleep deprivation is now a common problem in middle school students. Based on research conducted in various high schools in Indonesia, It shows that more students have poor sleep quality than students who have good sleep quality. This research was conducted to identify a possible relationship between attitudes, social support, self-efficacy, intentions and sleep hygiene practices with sleep quality in adolescents at SMA Negeri 21 Bekasi. This study used a cross-sectional method. The sample used in this study was 258 respondents consisting of grades 10 and grade 11. The research conducted showed that some adolescents at SMA Negeri 21 Kota Bekasi have good attitudes, social support, self-efficacy, intentions, and sleep hygiene practices but have poor sleep quality, this is because to have good sleep quality, awareness and practices both needed to implement things that can improve sleep quality. 180 respondents or 69.8% had poor sleep quality. The results showed that there was a positive association between self-efficacy and sleep hygiene practices and sleep quality, which means that students with good self-efficacy and sleep hygiene practices will have good sleep quality. Meanwhile, attitudes, social support and intentions did not show a relationship with sleep quality. Therefore, education and health programs are needed to improve the quality of sleep in adolescents.
Read More
S-11345
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arsy Cakra Ananda; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Mona Lisa, Dien Anshari
Abstrak: Dalam bermain game online, terdapat berbagai motivasi yang menjadi dasar para remaja untuk terus bermain. Semakin tinggi motivasi, maka perilaku bermain game akan menjurus pada adiksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi bermain game (achievement, social, immersion, dan escapism) dengan adiksi game online pada mahasiswa di DKI Jakarta. Studi ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 367 mahasiswa dengan teknik consecutive sampling. Instumen alat ukur adiksi game online menggunakan Game Addicition Scale oleh Lemmens (2009) dengan format pendekatan monothetic dan alat ukur motivasi bermain game dengan Motivation to Play Online Game Questionnaire oleh Nick Yee (2006). Data dikumpulkan melalui survei yang disebarkan secara daring dan dipromosikan di berbagai media sosial. Hasil studi ini menunjukkan bahwa proporsi adiksi game online pada mahasiswa di DKI Jakarta adalah 17,4%. Terdapat hubungan antara adiksi game online dengan motivasi bermain game achievement (p-value < 0.01), immersion (p-value < 0.01), social (p-value < 0.05), dan escapism (p-value < 0.01). Penelitian ini menunjukkan mahasiswa yang masuk dalam kategori addiction memiliki tingkat motivasi bermain game yang lebih tinggi dari pada mahasiswa dengan kategori non-addiction. Penelitian ini merekomendasikan untuk diadakan nya diagnosis dini akan adiksi dan melaksanakan kegiatan intervensi mengenai adiksi game online di wilayah kampus.
Undergraduate female students have high learning activities and need a balanced nutritional intake, especially energy and macronutrients to meet their needs. However, in reality due to their busy schedule during lectures, many undergraduate female students do not pay attention to their nutritional intake, so the amount of energy and macronutrient intake consumed becomes more or less than the recommended one. This research is quantitative research with a descriptive survey that aims to describe the characteristics, energy intake, and macronutrients of undergraduate female students in the Nutrition Program at the University of Indonesia. The design of this study was cross-sectional using secondary data analysis of FKM UI undergraduate from February to July 2022. The respondents in this study were 137 active Nutrition FKM UI undergraduate female students. Data analysis used univariate analysis on undergraduate female students characteristics variables (pocket money, nutritional knowledge, nutritional status, eating frequency, breakfast habits, and snacking frequency), energy intake, intake of macronutrients (carbohydrates, protein, and fat). ). The results showed that most of the respondents' variables were in the low or less than average category, namely pocket money (59.9%), knowledge of nutrition (71.5%), frequency of food (56.9%), breakfast habits (58, 4%), and snacking frequency (59.1%), energy intake (95.6%), carbohydrate intake (99.3%), protein intake (70.1%), and fat intake (77.4%). Meanwhile, the respondent variable in the normal category is the nutritional status (67.2%).
Read More
S-11115
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danang Wahansa Sugiarto; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Evi Martha, Hadi Pratomo, Tomi Herutomo, Alex Firngadi
Abstrak: Di Indonesia, tren usia mulai merokok paling banyak ada pada remaja rentang usia 15-19tahun, yang merupakan usia SMA. Di Kabupaten Purwakarta, jumlah proporsi perokoklebih tinggi dibanding angka provinsi. Diketahui bahwa paparan media sangatberpengaruh terhadap inisiasi remaja untuk merokok. Dikembangkanlah suatu konsepstrategi pengendalian tembakau berbasis sekolah, yaitu literasi media (smoking medialiteracy [SML]). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan SML dengan statusmerokok siswa SMA negeri di wilayah Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakartasetelah jenis kelamin, pendidikan orang tua, parenting, orang terdekat yang merokok(orang tua, saudara kandung, dan teman sebaya), capaian prestasi di sekolah, depresi, self-esteem, sifat memberontak, dan sifat mencari sensasi dikendalikan. Penelitian inimerupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan padaApril-Mei 2018 di Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta. Data dikumpulkandengan kuesioner yang diisi sendiri oleh responden yang berjumlah 310 siswa-siswi SMAnegeri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 14,2% responden yang berstatusmerokok. Nilai rata-rata skor SML responden adalah 68,94. Hasil regresi logistik gandamenunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara SML dengan status merokok setelahjenis kelamin, saudara yang merokok, teman sebaya yang merokok, capaian prestasi disekolah, dan sifat memberontak dikendalikan (nilai p = 0,048; CI = 1,008-7,085).Perlunya pendidikan dan pemahaman literasi media, promosi kesehatan denganpendekatan media sosial, dan lebih menggalakkan upaya kesehatan dengan pendekatankeluarga dapat mengurangi penggunaan rokok pada remaja.Kata kunci: literasi media, merokok, smoking media literacy, remaja, siswa SMA.
Read More
T-5342
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Monica Utari Mariana; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Syahrizal Syarif, Titik Nurhayati
S-7358
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lia Rahmawati Susila; Pembimbing: Dien Anshari, Tiara Amelia; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Zakiah, R. Arso Budiriyadi
Abstrak:
Anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada remaja putri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara literasi gizi (fungsional, interaktif, dan kritikal), informasi, dan motivasi dengan keterampilan perilaku pencegahan anemia pada siswi SMA di Kota Depok. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode multistage random sampling, yaitu pemilihan kecamatan dan sekolah secara acak, kemudian pemilihan kelas untuk pengambilan responden ditentukan oleh pihak sekolah berdasarkan ketersediaan jadwal. Jumlah responden sebanyak 211 siswi. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson/Spearman serta regresi linier berganda. Hasil menunjukkan seluruh variabel independen berhubungan secara signifikan dan positif dengan keterampilan perilaku pencegahan anemia (p < 0.05), dengan nilai beta  motivasi (β = 0,209), diikuti literasi gizi interaktif (β = 0,204), kritikal (β = 0,169), fungsional (β = 0,149), dan informasi (β = 0,120). Meskipun nilai beta secara statistik dikategorikan kecil, secara praktis dalam konteks promosi kesehatan nilai tersebut dianggap sedang, karena menyasar faktor perilaku yang dapat diintervensi. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan intervensi promosi kesehatan yang menyeluruh dan simultan untuk meningkatkan keterampilan pencegahan anemia pada remaja.

Anemia remains a public health problem in Indonesia, particularly among adolescent girls. This study aimed to analyze the association between nutrition literacy (functional, interactive, and critical), information, and motivation with behavioral skills for anemia prevention among senior high school girls in Depok City. The study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. Sampling was conducted using a multistage random sampling method, involving random selection of subdistricts and schools, followed by class selection for respondent inclusion as determined by the schools based on schedule availability. A total of 211 female students participated in the study. Data were collected through an online questionnaire and analyzed using Pearson/Spearman correlation tests and multiple linear regression. The results showed that all independent variables were significantly and positively associated with anemia prevention behavioral skills (p < 0.05), with the highest beta value for motivation (β = 0.209), followed by interactive nutrition literacy (β = 0.204), critical (β = 0.169), functional (β = 0.149), and information (β = 0.120). Although the beta values were statistically categorized as small, they are considered moderate in practical terms within the context of health promotion, as they target modifiable behavioral factors. These findings highlight the importance of comprehensive and simultaneous intervention approaches to enhance anemia prevention skills among adolescents.
Read More
T-7244
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vevie Herawati; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Agustin Kusumayati, Ernawati, Nina Sih W
Abstrak: Abstrak

Tesis ini membahas tentang gangguan menstruasi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan yang dilakukan untuk mengatasi gangguan menstruasi pada siswi kelas X dan XI SMA Negeri 5 Kota Bekasi Tahun 2013. Penelitian kuantitatif dengan disain cross sectional, pengumpulan data secara angket dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan, faktor yang berhubungan dengan tindakan untuk mengatasi gangguan menstruasi pada siswi kelas X dan XI SMA Negeri 5 Kota Bekasi Tahun 2013 adalah anjuran/dorongan. Responden yang mendapatkan anjuran/dorongan mempunyai peluang hampir 5 kali untuk melakukan tindakan mengatasi gangguan menstruasi dibandingkan yang tidak mendapatkan anjuran atau dorongan.


This thesis discusses menstrual disorders and factors associated to the actions taken to overcome menstrual disorders in X and XI grade schoolgirl at SMAN 5 Bekasi in 2013. Quantitative research with cross sectional design, data collection questionnaire using questionnaires. The results showed that factors associated with actions taken to overcome menstrual disorders in X and XI grade schoolgirl at SMAN 5 Bekasi in 2013 was cues to action (the advice / encouragement). Respondents who received the advice / encouragement have opportunities almost 5 times to take action to overcome menstrual disorders than those who did not receive advice or encouragement.

Read More
T-3904
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marti Rahayu Diah Kusumawati; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Triyanti, Evi Martha, Andi Sari Bunga Untung, Fiena Fithriah
Abstrak: Konsumsi buah dan sayur pada siswa masih belum memenuhi rekomendasi yangdianjurkan. Kurangnya konsumsi buah dan sayur mengakibatkan peningkatan risikopenyakit tidak menular dan menyebabkan kematian. Kelompok usia sekolah menengahatas merupakan kelompok usia remaja yang berada dalam masa yang tepat untukpertumbuhan dan perkembangannya dalam menanamkan kebiasaaan makan yang sehat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan konsumsi buah dan sayur padasiswa SMA Negeri di Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur. Penelitian ini merupakanpenelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sebanyak 326 siswa dari 4SMA Negeri berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwasikap, preferensi, dan ketersediaan buah dan sayur di rumah merupakan determinan darikonsumsi buah dan sayur dengan faktor dominan yang ditemukan adalah preferensi(OR=7,87; CI=1,8-34,1). Peningkatan pemahaman akan manfaat dan pentingnyakecukupan konsumsi buah dan sayur bagi kesehatan serta upaya pemberdayaanmasyarakat sekolah dapat membentuk persepsi yang baik bahwa buah dan sayur adalahmakanan sehat dengan rasa yang enak dan dapat dikonsumsi dalam berbagai jenispengolahan yang menarik.Kata kunci: Konsumsi buah dan sayur, remaja, siswa.
Consumption of fruits and vegetables in students still not meet the recommendedrecommendations. Lack of fruit and vegetable consumption leads to an increased risk ofnon-communicable diseases and causing death. The high school age group is a group ofteenagers who are in the right age for their growth and development in instilling healthyeating habits. This study aims to determine the determinants of fruit and vegetableconsumption in high school students in East Jakarta Jatinegara Subdistrict. This researchis a quantitative research with cross-sectional study design. A total of 326 students from4 public senior high school participated in this study. The results showed that theattitudes, preferences, and availability of fruits and vegetables at home were thedeterminants of fruit and vegetable consumption with the dominant factor found inpreference (OR = 7,87, CI = 1,8-34,1). Increased understanding of the benefits andimportance of the adequacy of fruit and vegetable consumption for health and efforts toempower the school community can form a good perception that fruits and vegetablesare healthy foods with good taste and can be consumed in various types of attractiveprocessing.Keywords: Consumption of fruit and vegetables, adolescents, students.
Read More
T-5313
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hilda Khairani; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dien Anshari, Siti Arifah Pujonarti, Mutia Arida S, Ira Monellia
Abstrak:
Misinformasi diet di media sosial berpotensi memengaruhi perilaku kesehatan remaja, terutama pada kelompok yang aktif mencari informasi terkait diet. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan literasi kesehatan digital, minat terhadap topik diet, penggunaan media sosial, dan sumber informasi diet dengan kerentanan terhadap misinformasi diet pada siswi SMA/sederajat di Kota Bandung. Penelitian menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan melibatkan 265 siswi SMA/sederajat di Kota Bandung. Kerentanan terhadap misinformasi diet diukur menggunakan instrumen yang diadaptasi dari Online Misinformation Susceptibility Scale (OMISS), sedangkan literasi kesehatan digital diukur menggunakan Digital Health Literacy Competencies (DHLC). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi dan regresi linier berganda. Rerata skor indeks literasi kesehatan digital responden sebesar 72,71 (0-100), sedangkan rerata skor kerentanan terhadap misinformasi diet sebesar 25,15 (9-45). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa literasi kesehatan digital berhubungan negatif secara signifikan dengan kerentanan terhadap misinformasi diet (B = -0,126; p < 0,001), sedangkan minat terhadap topik diet juga berhubungan signifikan dengan kerentanan terhadap misinformasi diet (B = -3,893; p < 0,001), setelah dikendalikan oleh waktu penggunaan media sosial dan sumber informasi diet. Penguatan literasi kesehatan digital perlu menjadi salah satu strategi untuk mengurangi kerentanan remaja terhadap misinformasi diet di media sosial.

Diet-related misinformation on social media has the potential to influence  adolescents' health behaviors, particularly among those who actively seek diet related information. This study aimed to analyze the association between digital  health literacy, interest in diet-related topics, social media use, and diet information  sources with susceptibility to diet-related misinformation among female senior high  school students in Bandung City. This study employed a cross-sectional design  involving 265 female senior high school students in Bandung City. Susceptibility  to diet-related misinformation was measured using an instrument adapted from the  Online Misinformation Susceptibility Scale (OMISS), while digital health literacy  was assessed using the Digital Health Literacy Competencies (DHLC) instrument.  Data were analyzed using correlation tests and multiple linear regression. The mean  digital health literacy index score was 72.71 (0-100), while the mean susceptibility  score to diet-related misinformation was 25.15 (9-45). Multivariable analysis  showed that digital health literacy was significantly and negatively associated with  susceptibility to diet-related misinformation (B = -0.126; p < 0.001). Interest in diet related topics was also significantly associated with susceptibility to diet-related  misinformation (B = -3.893; p < 0.001), after adjusting for social media use and  diet information sources. Strengthening digital health literacy may serve as an  important strategy to reduce adolescents' susceptibility to diet-related  misinformation on social media.
Read More
T-7695
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive