Ditemukan 16795 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Maj. Kedokteran Indo. ( MKI ), V0l.60, No.4, April 2010, hal. 178-182, ( Cat ada di bendel 1993-2010 )
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rania Mesayu An Nisa; Pembimbing: Meily KurniaWidjaja; Penguji: Baiduri Widanarko, Dhyes Ajeng Happy Liberty
Abstrak:
Aktivitas tape converting (double tape) berisiko mengakibatkan gangguan ototrangka (Gotrak). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran tingkatrisiko Gotrak pada aktivitas tape converting di PT. H Bekasi. Penelitian inibersifat deskriptif dengan pendekatan semi kuantitatif. Sasaran penelitian yaituseluruh karyawan pada aktivitas double tape converting sebanyak 11 orangpekerja. Tingkat risiko Gotrak diukur dengan lembar kerja REBA dan QEC,sedangkan keluhan subjektif menggunakan NBM. Penilaian QEC dan REBAmendapatkan hasil pekerjaan ini memiliki tingkat risiko sedang hingga sangattinggi dan diperlukan perbaikan segera. Saran yang diberikan berupapengendalian teknis, penggunaan alat bantu, pembuatan SOP, dan pelatihan.Kata kunci: tingkat risiko gangguan otot rangka, proses tape converting (doubletape), QEC, REBA
Tape converting activities (double tape) had risk lead to MSDs. This researchaimed to describe MSDs risk level among workers of tape converting activities atPT. H Bekasi. This research used descriptive with semi quantitative approach. Thestudy population was all employees on that activities, total 11 workers. MSDs risklevels was measured using REBA and QEC, meanwhile the subjective complaintsof MSDs were described using NBM. Assessment of QEC and REBA showedthat this activities had medium to very high level of risk and need actions soon.The recommendation was engineering control, use tools, create SOP, and havetraining.Keywords: risk level of MSDs, tape converting (double tape) proccess, QEC,REBA.
Read More
Tape converting activities (double tape) had risk lead to MSDs. This researchaimed to describe MSDs risk level among workers of tape converting activities atPT. H Bekasi. This research used descriptive with semi quantitative approach. Thestudy population was all employees on that activities, total 11 workers. MSDs risklevels was measured using REBA and QEC, meanwhile the subjective complaintsof MSDs were described using NBM. Assessment of QEC and REBA showedthat this activities had medium to very high level of risk and need actions soon.The recommendation was engineering control, use tools, create SOP, and havetraining.Keywords: risk level of MSDs, tape converting (double tape) proccess, QEC,REBA.
S-9096
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arjatmo Tjokronegoro
Medika-No. 1
Jakarta : [s.n.] :
1991
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bambang Basuki; Pembimbing: Sujana Jatiputra
T-117
Depok : FKM UI, 1986
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yosef Purwoko, Hardian
MMI-Vol.35/No.4
Semarang : FK Undip & IDI Jateng, 2000
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurul Afifah Hijami; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Chandra Satrya, Devi Dwirantih, Sanusi
Abstrak:
Gangguan otot dan tulang rangka akibat kerja (Gotrak) tersebar di seluruh dunia dan meningkatkan masalah kesehatan di tempat kerja serta menurunkan efisiensi fisiologis tubuh manusia, sehingga menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Selain terjadi pada pekerja yang menggunakan fisik, Gotrak juga umum terjadi pada pekerja di perkantoran karena terlibat dalam pekerjaan statis dan gerakan berulang dengan durasi yang lama dan monoton. Pada sektor kesehatan, kejadian Gotrak pada tenaga kesehatan telah banyak dilakukan penelitian dan pengendalian, namun sedikit referensinya pada pekerja perkantoran di RS, sehingga perlu dilakukan kajian faktor risiko ergonomi perkantoran di RS. Tujuan penelitian ini menganalisis faktor risiko Gotrak pada pekerja perkantoran di RS. X. Desain penelitian ini cross sectional dengan pendekatan semikuantitatif. Teknik total samping mendapatkan 50 orang responden. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner, lembar periksa ROSA untuk postur kerja, dan alat ukur antropometri. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil telitian mendapatkan 70% pekerja ada keluhan Gotrak. Terdapat hubungan antara faktor pekerjaan yaitu postur kerja, faktor individu yaitu jenis kelamin dan aktivitas fisik, faktor psikososial yaitu stres kerja dan kecemasan serta faktor pelayanan kesehatan kerja, dan kejadian Gotrak. Pelayanan kesehatan kerja pada Gotrak perlu ditingkatkan agar pekerja mengetahui dan mampu mengendalikan faktor risiko Gotrak di tempat kerja
Work-related musculoskeletal disorders (WMSDS) are widespread throughout the world and increase health problem in the workplace and reduce the physiological efficiency of human body and becomes serious public health problem. Besides occurring in blue collar workers, wmsds is also common in office workers because involved in static work and repetitive movement with a long and monotonous duration. In health sector, the incidence of WMSDs in health workers has been widely stidied and controlled, but there are few references to office workers in hospitals, so it is necessary tostudy ergonomic risk factors in hospitals. The purpose of this study was to analyze the risk factors for WMSDs in office worker at the hospital. The design of this study was cross sectional with a semi-quantitative approach. Total technique aside to get 50 respondents. The research instrument used was a questionnaire, ROSA check sheets for work posture, and anthropometric measuring instruments. Data analysis using chi-square test. The results of this study found that 70% of workers had WMSDS complaints. There is a relationship between work factor, namely work posture, individual factors, namely gender and physical activity, psychosocial factors, namely work stress and anxiety, and organization factor, namely occupational health service. Occupational health services in hospital for WMSDs need to be improved so that workers understand WMSDs risk factors and able to control WMSDS in workplace
Read More
Work-related musculoskeletal disorders (WMSDS) are widespread throughout the world and increase health problem in the workplace and reduce the physiological efficiency of human body and becomes serious public health problem. Besides occurring in blue collar workers, wmsds is also common in office workers because involved in static work and repetitive movement with a long and monotonous duration. In health sector, the incidence of WMSDs in health workers has been widely stidied and controlled, but there are few references to office workers in hospitals, so it is necessary tostudy ergonomic risk factors in hospitals. The purpose of this study was to analyze the risk factors for WMSDs in office worker at the hospital. The design of this study was cross sectional with a semi-quantitative approach. Total technique aside to get 50 respondents. The research instrument used was a questionnaire, ROSA check sheets for work posture, and anthropometric measuring instruments. Data analysis using chi-square test. The results of this study found that 70% of workers had WMSDS complaints. There is a relationship between work factor, namely work posture, individual factors, namely gender and physical activity, psychosocial factors, namely work stress and anxiety, and organization factor, namely occupational health service. Occupational health services in hospital for WMSDs need to be improved so that workers understand WMSDs risk factors and able to control WMSDS in workplace
T-6331
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rasyid Ardi Rahmana; Pembimbing: Doni Hikmat Ramadhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Auliah Rahmi
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan faktor pekerjaan yang paling berpengaruh serta mengetahui prevalensi kasus gangguan otot rangka di kedua sektor. Variabel yang digunakan adalah faktor pekerjaan serta kejadian gangguan otot rangka di kedua sektor tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisa 29 literatur penelitian yang telah diseleksi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa rentang prevalensi kasus gangguan otot rangka di manufaktur lebih luas, yaitu 15,1% - 100% dibandingkan sektor perkantoran yaitu 25,3% - 95,3%. Di kedua sektor, melaporkan bahwa bagian tubuh pinggang, leher dan bahu sama-sama menjadi kasus gangguan otot rangka yang paling sering terjadi. Dua di antara tiga faktor risiko yang paling sering berhubungan dengan gangguan otot rangka ditemui sama, yaitu durasi dan postur.
Read More
S-10750
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adrian Bramantyo Yogiswara; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Muhammad Dawaman
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor psikososial apa saja yang mempunyai hubungan pada kejadian gangguan otot rangka. Penelitian dilakukan kepada 20 literatur yang diseleksi melalui kriteria inklusi-esklusi yang ditentukan oleh peneliti. Penelitian ini mempunyai hasil yang signifikan pada hubungan aspek psikososial pada gangguan otot rangka yang terjadi pada manufaktur. Ditemukan faktor seperti tekanan pada pekerjaan yang tinggi dan hubungan antara pekerja dan manajemen yang buruk yang berpengaruh kepada kepuasan pekerja yang rendah dapat berpotensi menimbulkan stres akibat kerja. Stres akibat kerja yang ditambah dengan gerakan yang berisiko tinggi yang dapat menimbulkan kelelahan pada otot dan berujung timbulnya gangguan otot rangka.
Read More
S-10527
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizka Lailatul Rohmah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Hendra, Muhammad Luthfi, Subkhan, Amory Setia
Abstrak:
Read More
Gangguan otot dan tulang rangka akibat kerja (gotrak) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja utama di sektor konstruksi, termasuk pada industri beton pracetak yang menuntut beban fisik tinggi, postur kerja janggal, dan aktivitas manual berulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi serta hubungan antara faktor individu, organisasi, psikososial, dan fisik dengan kejadian gotrak pada pekerja beton pracetak di PT ABC. Studi ini menggunakan desain potong lintang dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 180 pekerja dari tiga pabrik PT ABC di Pulau Jawa. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur, yaitu Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ), Effort-Reward Imbalance (ERI), Job Content Questionnaire (JCQ), dan COPSOQ II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi keluhan gotrak cukup tinggi, yaitu 81,7% dalam 7 hari terakhir dan 68,3% dalam 12 bulan terakhir. Dari lima faktor individu yang dianalisis, hanya usia yang memiliki hubungan signifikan terhadap gotrak jangka pendek. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara faktor organisasi (shift kerja, status kepegawaian, jenis pekerjaan) dengan kejadian gotrak. Namun, pada faktor psikososial, ditemukan bahwa tuntutan psikologis tinggi berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko gotrak dalam 7 hari terakhir (OR=3,3), sedangkan kepuasan kerja tinggi berhubungan dengan penurunan risiko gotrak dalam 12 bulan terakhir (OR=0,45). Selain itu, pengangkatan beban manual 16–25 kg sebanyak ≥2 hari/minggu terbukti meningkatkan risiko gotrak jangka panjang secara signifikan. Temuan ini menunjukkan perlunya pemantauan dan pengendalian faktor risiko ergonomi secara menyeluruh, terutama pada pekerja lapangan, untuk meningkatkan kesehatan kerja, mencegah kecelakaan, serta menjaga produktivitas di industri beton pracetak.
Work-related musculoskeletal disorders (WMSDs) are a major occupational health issue in the construction sector, particularly in the precast concrete industry, which involves physically demanding tasks, awkward working postures, and repetitive manual activities. This study aims to analyze the prevalence and associations between individual, organizational, psychosocial, and physical factors with WMSDs among precast concrete workers at PT ABC. A cross-sectional quantitative approach was employed, involving 180 workers from three PT ABC plants located in Java, Indonesia. Data were collected using structured questionnaires, including the Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ), Effort-Reward Imbalance (ERI), Job Content Questionnaire (JCQ), and COPSOQ II. The results revealed a high prevalence of WMSD complaints, with 81.7% of workers reporting symptoms in the past 7 days and 68.3% within the past 12 months. Of the five individual factors analyzed, only age showed a significant association with short-term WMSDs. No statistically significant associations were found between organizational factors (shift work, employment status, job type) and WMSDs. However, two psychosocial factors were significantly associated: high psychological demands increased WMSD risk in the past 7 days (OR=3.3), while high job satisfaction reduced long-term WMSD risk in the past 12 months (OR=0.45). Additionally, manual lifting of 16–25 kg for ≥2 days/week was significantly associated with long-term WMSDs. These findings highlight the urgent need for comprehensive ergonomic risk monitoring and interventions, especially for field workers, to improve occupational health, prevent injuries, and maintain productivity in the precast concrete industry.
T-7283
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alvina Winners Putri; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Nur Fatayani
Abstrak:
Read More
Postur tubuh yang kurang nyaman saat melakukan pekerjaan dengan durasi yang lama dapat menyebabkan gangguan otot rangka akibat kerja. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko yang hubungan dengan terjadinya gejala gangguan otot rangka akibat kerja pada pekerja perkantoran di Instansi X tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan metode penilaian postur tubuh pekerjan menggunakan metode Rapid Office Strain Assessment (ROSA). Kemudian untuk penilaian keluhan gangguan otot rangka secara subjektif menggunakan NBM (Nordic Body Map). Hasil penelitian menunjukkan tingkat risiko keluhan gangguan otot rangka akibat kerja pada tingkat menengah maka perlu investigasi lebih lanjut untuk melakukan perbaikan. Penilaian menggunakan Nordic Body Map menghasilkan nilai sebesar 91,40% pekerja yang mengalami keluhan gangguan otot rangka akibat kerja. Bagian tubuh yang sering mengalami keluhan gangguan otot rangka akibat kerja seperti: leher bagian atas, leher bagian bawah, punggung dan pinggang. Distribusi keluhan yang dirasakan pekerja umur
An uncomfortable posture when doing work for a long duration can cause work-related musculoskeletal disorders. The purpose of this study was to determine the risk factors associated with the occurrence of symptoms of work-related musculoskeletal disorders in office workers at Institution X in 2023. This study used a cross-sectional design and the occupational posture assessment Rapid Office Strain Assessment (ROSA) method then to assess complaints of musculoskeletal disorders as a whole subjectively using the NBM (Nordic Body Map). The results showed that the level of risk of complaints of musculoskeletal disorders due to work at the intermediate level requires further investigation to make improvements. Assessment using the Nordic Body Map yielded a value of 91.40% of workers who experienced complaints of musculoskeletal the skeleton due to work The parts of the body that often experience complaints of musculoskeletal disorders due to work such as: upper neck, lower neck, back and waist Distribution of complaints felt by workers aged
S-11401
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
