Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36203 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lamria Pangaribuan; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Ratna Djuwita, Renti Mahkota, Julianty Pradono, Sugeng Hidayat
T-3907
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elmi Nuryati; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Djarot Darsono
Abstrak:

Berdasarkan data WHO (1996), dari 50% penderita hipertensi yang diketahui hanya 25% mendapat pengobatan, 12,5% diobati dengan baik. Penelitian ini bertujuan diketahuinya pengaruh status pekerjaan wanita menikah dengan kejadian Hipertensi tak terkendali di Provinsi Lampung. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah crossectional, untuk melihat hubungan  variabel independen dengan variabel dependen  digunakan uji regresi logistik  populasi   semua wanita menikah di Provinsi Lampung,  sampel 5353 responden  berasal dari data Riskesdas tahun 2007. Prevalensi Hipertensi pada wanita menikah di Provinsi Lampung  lebih tinggi (40,73%) dari prevalensi hipertensi menurut Depkes (31,7%). Status pekerjaan tidak berhubungan dengan kejadian hipertensi, POR 1,09 (95% CI 0.93-1.27). Variabel perancu yang berhubungan kuat adalah variabel umur pada kelompok postmenopause  POR 7,11 (95% CI  5.70-8.86)  dan  kelompok premenopause POR 2,73 (95% CI 2.36-3.16) serta IMT  POR 2,50 (95%  CI  2.15-2.91). Kata Kunci: Hipertensi, status pekerjaan, wanita menikah.


Based on WHO data (1996), 50% of patients with hypertension are known 25% who received treatment, 12.5% were treated with either. The aim of this study is to know about the influence of employment status of married women with hypertension uncontrol incidence in Lampung province. This study uses crossectional design to looking for the most effect between the independent variables and the dependent variable; using logistic regression test. Population of all married women in Lampung province; about 5353 samples derived from Riskesdas data in 2007. Hypertension in women married in Lampung province was higher (40.73%) than prevalence of hypertension according to the Ministry of Health (31.7%). Employment status did not statistically significantly affect POR 1,09 (95% CI 0.93-1.27). The most influential variable is the age postmenopause POR 7,11 (95% CI  5.70-8.86), premenopause POR 2,73 (95% CI 2.36-3.16) and IMT  POR 2,50 (95%  CI  2.15-2.91). Keywords: Hypertension, employment status, married women.

Read More
T-3657
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syeri Febriyanti; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Woro Riyadina, Ajeng Tias Endarti
Abstrak:
Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan dunia. Prevalensi hipertensi diprediksi akan terus meningkat hingga tahun 2025 nanti. Di Indonesia, penderita hipertensi didominasi oleh penduduk berjenis kelamin perempuan. Salah satu faktor risiko yang bisa menyebabkan kejadian hipertensi adalah penggunaan kontrasepsi hormonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal pasca salin dengan kejadian hipertensi pada wanita usia subur. Desain penelitian adalah cross sectional dilakukan pada Januari-Juni 2023 menggunakan data Riskesdas 2018. Kelompok terpajan adalah 45.178 responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal dan kelompok tidak terpajan adalah 30.845 responden yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengguna kontrasepsi hormonal pasca salin dengan kejadian hipertensi setelah mengendalikan umur dan indeks masa tubuh dengan nilai PR=1,10 (1,06– 1,12). Pada penelitian ini juga menilai hubungan antara jenis kontrasepsi hormonal pasca salin diantaranya kontrasepsi suntikan 3 bulan dengan nilai PR=1,08 (CI 95% 1,05-1,12); kontrasepsi suntikan 1 bulan dengan nilai PR 0,99 (CI 95% 0,93-1,05); kontrasepsi implan PR 0,90 (CI 95% 0,84-0,96); dan kontrasepsi pil PR 1,30 (CI 95% 1,23-1,35). Hal ini diharapkan bisa menjadi gambaran bahwa pemilihan kontrasepsi sangatlah penting untuk mencegah hipertensi dikemudian hari.  

Hypertension is one of diseases caused world health problems. The prevalence of hypertension is predicted will be increase. Hypertension in Indonesia are dominated by the female population. One of the risk factors caused hypertension is the use of hormonal contraception. This study aims to determine the association between the last birth hormonal contraception and the prevalence of hypertension. The research design was cross-sectional from January to June 2023 used the 2018 Riskesdas data. The exposed group was 45,178 respondents who used hormonal contraception and the unexposed group was 30,845 who did not use hormonal contraception. The results showed that there was a significant association between the use of hormonal contraception and the prevalence of hypertension after controlling for age and body mass index with AdjPR 1.10 (95% CI 1.06–1.12). This study also assessed the association between types of hormonal contraception including 3-month injection contraception with AdjPR value of 1.08 (95% CI 1.05-1.12); 1-month injectable contraception with AdjPR value of 0.99 (95% CI 0.93-1.05), implant contraceptive AdjPR 0.90 (95% CI 0.84-0.96), and contraceptive pill AdjPR 1.30 (95% CI 1.23-1.35). This is expected to illustrate the importance of choosing the right contraception to prevent the hypertension

Read More
T-6601
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deasy Eka Saputri; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah, Nasrin Kodim, Toni Wandra, Suhardi
Abstrak: Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah dalam arteri. Apabila tidak diobati dan tidak dikontrol, hipertensi bisa mengakibatkan kematian disebabkan oleh komplikasi. Kematian pada penderita hipertensi paling sering terjadi karena stroke, gagal ginjal, jantung, atau gangguan pada mata. Pada tekanan darah tinggi, jantung memompa darah ke tubuh dengan tekanan yang luar biasa tingginya, salah satu sebabnya adalah karena stres emosional. Peningkatan tekanan darah akan lebih besar pada individu yang mempunyai kecenderungan stres emosional yang tinggi.
 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan stres dengan hipertensi pada penduduk di Indonesia tahun 2007, dengan variabel kovariat: umur, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan, pendidikan, konsumsi rokok, konsumsi alkohol, kecukupan serat, aktifitas fisik, Indek Masa Tubuh (IMT), Diabetes Melitus (DM), pengeluaran perkapita dan daerah tempat tinggal. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain studi cross sectional dengan menggunakan data sekunder dari Riskesdas 2007, yang akan dilaksanakan dari bulan Maret 2010 sampai Juni 2010. Data dianalisis dengan analisis satu variabel, analisis dua variabel dan analisis multivariabel dengan uji regresi logistik ganda.
 
Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk di Indonesia tahun 2007 adalah 33,9% sedangkan prevalensi stres sebesar 12,1%. Ada hubungan yang bermakna antara stres dengan hipertensi setelah dikontrol oleh variabel lain yaitu umur, status perkawinan, tingkat pendidikan, IMT, DM dan pengerluaran perkapita serta dikontrol pula oleh adanya interaksi umur dan stres yang berinteraksi negatif (antagonism), dimana umur mengurangi efek dari stres terhadap terjadinya hipertensi. Dengan proporsi hipertensi yang disebabkan adanya interaksi tersebut sebesar 3,2%. Upaya pencegahan hipertensi dilakukan dengan melakukan intervensi terhadap stres, yaitu dengan berolahraga, relaksasi mental (rekreasi), melakukan curhat atau berbicara pada orang lain, selalu menumbuhkan emosi yang positif serta memperdalam ibadah dan agama. Perlunya melakukan pengukuran tekanan darah secara berkala bagi penduduk yang berumur 40 tahun keatas dan screening kasus hipertensi oleh pengelola program pengendalian penyakit hipertensi yang diutamakan pada kelompok umur 40 tahun keatas.
 

High blood pressure (hypertension) is an increase in arterial blood pressure. If left untreated and uncontrolled, hypertension can lead to death caused by complications. Mortality in patients with hypertension most often occurs because of stroke, kidney failure, heart disease, or disorders of the eye. In high blood pressure, heart pumps blood to the body with exceptional high pressure, one reason is because of emotional stress. Increased blood pressure will be greater in individuals who have a high tendency of emotional stress.
 
The purpose of this study is to determine the relationship of stress and hypertension in the population in Indonesia in 2007, with kovariat variables: age, sex, occupation, marital status, education, cigarette consumption, alcohol consumption, adequacy of dietary fiber, physical activity, Body Mass Indeks (BMI), Diabetes Mellitus (DM), expenditure percapita and area of residence. This research is an analytical cross sectional study design using secondary data from Riskesdas 2007, which will be implemented from March 2010 until June 2010. Data were analyzed with one variable, two variable analysis and multivariable analysis with multiple logistic regression.
 
The results of this study showed that the prevalence of hypertension in the population in Indonesia in 2007 was 33.9% while the prevalence of stress by 12.1%. There is significant correlation between stress and hypertension after controlled by other variables such as age, marital status, educational level, BMI, DM and expenditure percapita and also controlled by the interaction of age and stress that the negative interaction (antagonism), in which age reduces the effects of stress against the occurrence of hypertension. With the proportion of hypertension caused by the interaction of 3.2%. Hypertension prevention efforts conducted by the intervention to stress, that is with exercise, mental relaxation (recreation), to vent or talk to other people, always cultivate positive emotions and deepening of worship and religion. The need to conduct periodic measurements of blood pressure for the population aged 40 years or older and screened in cases of hypertension by hypertensive disease control program managers who focused on the age group 40 years and older.
Read More
T-3209
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mazaya Shafa Ainan Dini; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah; Rindu Rachmiaty
Abstrak: Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyebab utama dari penyakit kardiovaskular dan kematian dini di dunia yang kini kian meningkat tiap tahunnya, serta secara signifikan dapat meningkatkan risiko penyakit hati, otak, ginjal, dan penyakit serius lainnya. Terdapat banyak faktor risiko yang menyebabkan hipertensi, salah satunya obesitas. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa pengukuran lingkar perut merupakan prediktor yang lebih baik daripada indeks massa tubuh (IMT) untuk mengetahui risiko kesehatan terkait obesitas terutama hipertensi baik pada laki-laki maupun perempuan. Prevalensi obesitas sentral kini meningkat secara global Tujuan: Mengetahui hubungan obesitas sentral dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia ≥ 18 tahun di Indonesia. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan menggunakan desain studi cross-sectional analitik. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dari Riskesdas 2018. Terdapat sebanyak 366.351 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan analisis stratifikasi, diperoleh bahwa variabel yang menjadi efek modifikasi yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, perilaku merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, konsumsi makanan berlemak, IMT, dan gangguan mental emosional, sedangkan variabel yang memiliki potensi bias confounding yaitu IMT. Kesimpulan: Obesitas sentral merupakan faktor risiko yang penting untuk diperhatikan dalam upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi di Indonesia.
Read More
S-11002
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Galuh Areta Trustha; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Trisari Anggondowati, Dyah Armi Riana
Abstrak:
Sindrom metabolik atau sindrom X merupakan kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit tidak menular. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi sindrom metabolik di Indonesia mencapai 39% dan lebih banyak terjadi pada wanita. Gaya hidup berpotensi mempengaruhi terjadinya sindrom metabolik. Namun, penelitian terdahulu tentang hubungan gaya hidup yang meliputi aktivitas fisik, pola makan dan merokok terhadap sindrom metabolik menunjukkan hasil yang beragam. Selain itu, belum ada penelitian tentang sindrom metabolik spesifik pada populasi wanita di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup dengan kejadian sindrom metabolik pada wanita usia ≥15 tahun di Indonesia. Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional dengan sumber data dari Riskesdas 2018. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi sindrom metabolik pada wanita usia ≥15 tahun di Indonesia sebesar 37,6%. Umur berhubungan signifikan dengan kejadian sindrom metabolik pada wanita (PR=1,711; 95% CI=1,640-1,785; nilai P=0,001). Dalam penelitian ini, aktivitas fisik, merokok, konsumsi makanan manis, minuman manis, makanan berlemak, soft drink, buah, dan sayur tidak terbukti berhubungan secara statistik dengan sindrom metabolik. Karena tingginya prevalensi sindrom metabolik pada wanita di Indonesia, perlu untuk meningkatkan program skrining, seperti pengukuran lingkar perut, tekanan darah, dan gula darah secara rutin. Selain itu, perlu untuk menerapkan gaya hidup sehat bagi wanita untuk mencegah terjadinya sindrom metabolik.

Metabolic syndrome or syndrome X is a condition that can increase a person's risk of developing non-communicable diseases. Based on Riskesdas 2013 data, the prevalence of metabolic syndrome in Indonesia reaches 39% and is more prevalent in women. Lifestyle has the potential to influence the incidence of metabolic syndrome. However, previous research on the relationship between lifestyle including physical activity, diet and smoking on metabolic syndrome has shown mixed results. In addition, there has been no research on specific metabolic syndrome in women in Indonesia. This study aims to determine the relationship between lifestyle and the incidence of metabolic syndrome in women aged ≥15 years in Indonesia. The study design used was cross-sectional with data sources from Riskesdas 2018. The results showed that the prevalence of metabolic syndrome in women aged ≥15 years in Indonesia was 37.6%. Age is significantly associated with the incidence of metabolic syndrome in women (PR=1.711; 95% CI=1.640-1.785; P=0.001). In this study, physical activity, smoking, consumption of sweet foods, sweet drinks, fatty foods, soft drinks, fruit and vegetables were not statistically proven to be associated with metabolic syndrome. Due to the high prevalence of metabolic syndrome among women in Indonesia, it is necessary to improve screening programs, such as routine measurements of abdominal circumference, blood pressure and blood sugar. In addition, it is necessary to adopt a healthy lifestyle for women to prevent metabolic syndrome.
Read More
S-11240
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Andriani Alimy; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Soewarta Kosen, Ajeng Tias Endarti
Abstrak:

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyebar di udara saat penderita TB batuk. Penyakit ini biasanya mempengaruhi organ paru dan dapat juga mengenai organ yang lain. Sampai saat ini TB masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya pengendalian telah diterapkan lama. Anak merupakan salah satu kelompok risiko yang berdampak dalam penularan TB. Dari seluruh penderita TB di dunia, sekitar 11% terjadi pada anak usia <15 tahun. Dari data Riskesdas 2018, prevalensi TB paru pada anak berkisar 0,1-0,3%. Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan kejadian TB pada anak adalah malnutrisi yang dapat menyebabkan penurunan kekebalan tubuh anak dan memudahkan anak terserang penyakit TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian tuberkulosis pada anak usia 0-14 tahun. Desain penelitian adalah cross sectional dilakukan dari Mei-Juli 2023 dengan menggunakan data Riskesdas 2018. Kelompok terpapar adalah anak dengan status gizi kurang sebesar 19.821 responden dan anak dengan status gizi buruk sebesar 7.307 responden. Kelompok tidak terpapar adalah anak dengan status gizi baik sebesar 170.934 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi tuberkulosis anak usia 0-14 tahun di Indonesia sebesar 0,19%. Terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian tuberkulosis pada anak usia 0-14 tahun setelah dikontrol dengan variabel umur dan status pekerjaan ibu. Anak dengan status gizi kurang memiliki risiko 1,8 kali lebih tinggi untuk mengalami tuberkulosis dibandingkan dengan anak dengan status gizi baik (nilai p = <0,001; POR = 1,82 (95% CI 1,38-2,40)). Anak dengan status gizi buruk memiliki risiko 2,2 kali lebih tinggi untuk mengalami tuberkulosis dibandingkan dengan anak dengan status gizi baik (nilai p = <0,001; POR = 2,19 (95% CI 1,47-3,25)). Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran pentingnya pemantauan status gizi pada anak dalam peningkatan kekebalan tubuh anak sehingga terhindar dari penularan dan perkembangan penyakit tuberkulosis.  


 

Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis, which can spread through the air when people with TB cough. The disease usually affects the lungs and can also affect other organs. TB is still a public health problem worldwide despite long-standing control efforts. Children are one of the risk groups for TB transmission. Of all TB patients in the world, about 11% occur in children aged <15 years. From the 2018 Riskesdas data, the prevalence of pulmonary TB in children ranged from 0.1-0.3%. One of the risk factors that can cause the incidence of TB in children is malnutrition, which can cause a decrease in children's immunity and make it easier for children to get TB disease. This study aims to determine the relationship between nutritional status and the incidence of tuberculosis in children aged 0-14 years. The research design was cross sectional, conducted from May-July 2023 using the 2018 Riskesdas data. The exposed group was children with a nutritional status of 19,821 respondents and children with a nutritional status of 7,307 respondents. The unexposed group was children with a good nutritional status of 170,934 respondents. The results showed that the proportion of tuberculosis among children aged 0-14 years in Indonesia was 0.19%. There was a significant relationship between nutritional status and the incidence of tuberculosis in children aged 0-14 years after controlling for the variables of age and maternal employment status. Children with undernutrition had a 1.8 times higher risk of developing tuberculosis compared to children with good nutrition (p value = <0.001; POR = 1.82 (95% CI 1.38-2.40)). Children with malnutrition had a 2.2 times higher risk of developing tuberculosis compared to children with good nutrition (p value = <0.001; POR = 2.19 (95% CI 1.47-3.25)). This is expected to illustrate the importance of monitoring children's nutritional status in improving children's immunity so as to avoid the transmission and development of tuberculosis.

Read More
T-6831
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggun Pratiwi; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Ratna Djuwita Hatma, Cut Putri Arianie
Abstrak: Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama karena berkontribusi pada angka kesakitan dan kematian dunia. Prevalensi hipertensi terus meningkat dan lebih banyak ditemukan pada kelompok wanita. Obesitas merupakan faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian hipertensi. Masa menopause pada wanita diduga ikut berkontribusi terhadap kejadian hipertensi namun pengaruhnya masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan obesitas dengan kejadian hipertensi derajat 1 baik pada wanita premenopause dan postmenopause di Indonesia. Sebanyak 8.047 responden wanita yang berumur 18-57 tahun diteliti. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan sumber data dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) 5 Tahun 2014.

Hasil analisis multivariat dengan modifikasi cox regression menunjukkan bahwa risiko wanita obesitas untuk menderita hipertensi derajat 1 sebesar 1,80 kali (95% CI 1,57-2,06) dibandingkan wanita yang tidak obesitas. Pada wanita premenopause, obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi derajat 1 sebesar 1,67 kali (95% CI 1,43-1,94). Risiko yang lebih besar tampak pada kelompok wanita postmenopause dengan besar risiko obesitas terhadap kejadian hipertensi derajat 1 sebesar 2,32 kali (95% CI 1,69-3,19). Perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian hipertensi melalui program GERMAS dan pemaksimalan peran posbindu PTM. Masyarakat khususnya wanita perlu menerapkan pola hidup sehat dengan perilaku CERDIK sejak usia dini.
Read More
T-5682
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hasna Irbah Ramadhani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Dewi Kristanti
Abstrak: Kardiovaskular merupakan penyakit yang menyumbang angka tertinggi kematian di dunia dan di Indonesia. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko beberapa penyakit kardiovaskular dengan angka kematian tertinggi, seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Obesitas sebagai faktor risiko dominan dalam terjadinya hipertensi, terus mengalami peningkatan prevalensi dari tahun ke tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia 19-64 tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional menggunakan data sekunder Riskesdas tahun 2018 yang diperoleh melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Populasi penelitian ini merupakan seluruh anggota rumah tangga berusia 19-64 tahun di Provinsi Sulawesi Utara. Terdapat sebanyak 10.870 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi di Sulawesi Utara tahun 2018 adalah sebesar 26,1% dan prevalensi obesitas adalah sebesar 28,8%. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan antara obesitas dengan kejadian hipertensi dengan nilai Prevalence Ratio (PR) sebesar 2,126 (95% CI 1,865-2,424) setelah di kontrol oleh variabel usia (PR= 2,144; 95% CI 1,935-2,376) dan interaksi obesitas*usia (PR= 0,687; 95% CI 0,585-0,806). Perlu dilakukannya promosi kesehatan yang mengedukasi masyarakat terkait obesitas dan hipertensi serta hubungan antara keduanya guna meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya penyakit tersebut
Read More
S-10902
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Octaryana; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Helda, Soewarta Kosen
Abstrak:
Hipertensi merupakan faktor risiko paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah. SKI 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia sebesar 30,8%. Hipertensi derajat 1 merupakan fase awal sehingga perlu dilakukan deteksi dini. Prevalensi obesitas sentral pada wanita di Indonesia terus meningkat dari 46,7% (2018) menjadi 54,1% (2023). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan obesitas sentral dengan kejadian hipertensi derajat 1 pada wanita usia 18-64 tahun di Indonesia berdasarkan data SKI tahun 2023. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan pendekatan analisis multivariat untuk mengontrol variabel kovariat seperti umur, pendidikan, status pekerjaan, tempat tinggal, merokok, aktivitas fisik, makanan berlemak, makanan asin, kontrasepsi hormonal, diabetes melitus, dislipidemia, dan penyakit ginjal. Penelitian ini menemukan proporsi hipertensi derajat 1 pada wanita sebesar 19,50%. Ada hubungan signifikan antara obesitas sentral dengan kejadian hipertensi derajat 1 pada wanita (Adjusted PR = 1,900 (95% CI: 1,799 - 2,007) setelah dikontrol oleh faktor umur, pendidikan, dan kontrasepsi hormonal. Diperlukan upaya menurunkan prevalensi obesitas sentral melalui peningkatan aktivitas fisik dengan berjalan hingga 10.000 langkah sehari dan mengatur pola makan sehat melalui penerapan intemitten fasting.

Hypertension is the most influential risk factor for the incidence of heart and blood vessel disease. SKI 2023 shows the prevalence of hypertension in the population aged 18 years and over in Indonesia is 30.8%. Stage 1 hypertension is an early phase so early detection is needed. The prevalence of central obesity in women in Indonesia continues to increase from 46.7% (2018) to 54.1% (2023). This study aims to analyze the relationship between central obesity and the incidence of stage 1 hypertension in women aged 18-64 years in Indonesia based on SKI data in 2023. The study design used was cross-sectional with a multivariate analysis approach to control covariate variables such as age, education, employment status, place of residence, smoking, physical activity, fatty foods, salty foods, hormonal contraception, diabetes mellitus, dyslipidemia, and kidney disease. This study found the proportion of stage 1 hypertension in women was 19.50%. There is a significant relationship between central obesity and the incidence of stage 1 hypertension in women (Adjusted PR = 1.900 (95% CI: 1.799 - 2.007) after being controlled by age, education, and hormonal contraception. Efforts are needed to reduce the prevalence of central obesity by increasing physical activity by walking up to 10,000 steps a day and regulating a healthy diet through the implementation of intermittent fasting.
Read More
T-7342
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive