Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dedi Warman; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Zakianis, Rina Fitria Anni Bahar
S-4547
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Warman; Pembimbing: Suharnyoto Martomulyono
S-3403
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendrick Warman; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Wahyudin Lihawa, Nasruli
Abstrak:
Pelatihan yang disediakan oleh perusahaan kepada pekerja merupakan salah satu program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang paling banyak digunakan oleh perusahaan untuk intervensi. Pelatihan berguna untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku pekerja dalam menghadapi bahaya-bahaya yang ada di tempat kerja. Penelitian ini mengunakan metode analisis deskriptif yang berfokus pada evaluasi efektivitas pelatihan HSE Mandatory yang telah dilaksanakan. Pengukuran dilakukan menggunakan model evaluasi empat langkah dari Kirkpatrick (1970) melalui penilaian reaksi, pembelajaran, perilaku, dan hasil. Hasil ponelitian menunjukkan bahwa program pembelajaran yang telah dilaksanakan efektif. Namun, masih terdapat beberapa hal yang dapat ditingkatkan sehingga kualitas pembelajaran lebih baik lagi dan mampu memberikan kontribusi sebagai leading indicator kinerja K3.

The training program prepared by the company for workers is one of the occupational safety and health (OSH) programs most widely used by companies for intervention. Training is useful for increasing the knowledge, skills and behavior of workers in dealing with hazards that exist in the workplace. This research uses descriptive analysis method that focuses on evaluating the effectiveness of the HSE Mandatory training that has been carried out. Measurements were made using a four-step evaluation model from Kirkpatrick (1970) through the assessment of reactions, learning, behavior, and results. The results of the study indicate that the learning program that has been implemented is effective. However, there are still some things that can be improved so that the quality of learning is better and able to contribute as a leading indicator of (OSH) performance.

Read More
T-5851
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kagita Kirana Hanifah; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Trini Sudiarti, Engkus Kusdinar Achmad
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran dan perbedaan proporsi asupan energi berdasarkan faktor risikonya seperti kejadian emotional eating, external eating, dan lainnya pada remaja di SMA Budhi Warman 2 Jakarta tahun 2020. Terdapat 123 responden pada penelitian ini yang merupakan siswa-siswi di SMA Budhi Warman 2 Jakarta kelas X, XI, dan XII. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Data penelitian diperoleh dari pengisian kuesioner dan formulir food record 2 x 24 jam secara mandiri yang dilakukan secara daring. Pengambilan data penelitian dilakukan bulan Juli-September 2020.
Read More
S-10540
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisa Nurkhotami; Pembimbing: Helda; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Hany Lestary
Abstrak: Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku seksual pranikah danfaktor-faktor yang mempengaruhinya pada remaja kelas XI SMA Budhi WarmanII Jakarta Tahun 2013. Penelitian ini menggunakan disain studi cross-sectionaldengan menggunakan data primer pada 146 remaja kelas XI di SMA BudhiWarman II Jakarta tahun 2013. Hasil menunjukkan bahwa proporsi perilakuseksual berisiko tinggi pada remaja kelas XI SMA Budhi Warman II Jakartaadalah 17,12%. Berdasarkan analisis bivariat, dapat diketahui dari faktor individuyang mempunyai hubungan bermakna dengan perilaku seksual remaja adalahjenis kelamin laki-laki (PR= 3,39; 95% CI= 1,35-8,55), sikap permisif tinggiterhadap seksualitas (PR= 4,00; 95% CI= 1,59-10,08), pubertas dini (PR= 2,20;95% CI= 1,08-4,50), merokok (PR= 4,17; 95% CI= 2,10-8,28), dan konsumsialkohol (PR= 2,52; 95% CI= 1,25-5,12). Kemudian, dari faktor luar keluarga,yang mempunyai hubungan bermakna dengan perilaku seksual remaja adalah mempunyai teman yang pernah melakukan HUS (PR= 7,50; 95% CI= 1,06-53,19)dan dorongan untuk melakukan HUS dari teman (PR= 4,81; 95% CI= 2,41-9,60).
Kata kunci : Remaja, Perilaku Seksual Pranikah
This thesis aims - describe premarital sexual behavior and the factors thatinfluence adolescent class XI SMA Budhi Warman II Jakarta in 2013. This studyis a cross-sectional study, which using primary data on 146 adolescents in the highschool class XI Budhi Warman II Jakarta in 2013. Results showed that theproportion of high-risk sexual behavior in adolescents class XI SMA BudhiWarman II Jakarta is 17.12%. Based on bivariate analysis, it has known, for theindividual factors which have a significant relationship with adolescent sexualbehavior are male gender (PR = 3.39, 95% CI = 1.35 - 8.55), high permissiveattitude -ward sexuality (PR = 4.00, 95% CI = 1.59 - 10.08), early puberty (PR =2.20, 95% CI = 1.08 - 4.50), smoking (PR = 4.17, 95% CI = 2.10 - 8.28), andalcohol consumption (PR = 2.52, 95% CI = 1.25 - 5.12). Then, for extra familialfactors, which have a significant relationship with adolescent sexual behavior arehaving friends who've done sexual intercourse (PR = 7.50, 95% CI = 1.06 -53.19), and the encourage to doing sexual intercourse from friends (PR = 4.81,95% CI = 2.41 - 9.60).
Keywords : Adolescents, premarital sexual behavior.
Read More
S-7745
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meidy Ayu Larasati; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Pardi Supardi
Abstrak: Sarapan merupakan waktu penting untuk menjaga kecukupan gizi tubuh selamaberaktivitas. Melewatkan sarapan dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi danakan mengakibatkan tubuh menjadi lemas, lesu, mengantuk, pusing, kesulitanberkonsentrasi, penurunan prestasi akademik, serta dapat mengganggu tumbuh kembangfisik dan seksual pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran danperbedaan proporsi kebiasaan sarapan dengan faktor-faktor yang memengaruhinya padasiswa/i SMA Budhi Warman 2 Jakarta Tahun 2020. Penelitian ini menggunakan desainstudi cross sectional dengan jumlah responden 152 siswa yang berasal dari kelas X danXI. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan SQ-FFQ yang diisi secaramandiri oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 54,5 % siswa memilikikebiasaan sarapan yang tidak baik. Terdapat perbedaan proporsi yang signifikan padakebiasaan sarapan berdasarkan pengetahuan gizi (p-value=0,032), kebiasaan jajan (p-value=0,007), ketersediaan sarapan (p-value=0,006), pekerjaan ibu (p-value=0,037),dan pengaruh orang tua (p-value=0,037). Peneliti menyarankan untuk diberikannyapromosi dan pendidikan gizi mengenai sarapan agar siswa menyadari pentingnyasarapan.Kata kunci:Kebiasaan sarapan, Ketersediaan Sarapan, Pengetahuan Gizi, Remaja.
Read More
S-10267
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septi Lidya Sari; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Trini Sudiarti, Pardi Supardi
Abstrak: Sugar-sweetened beverages (SSBs) merupakan jenis minuman padat kalori dan tinggikandungan gula tambahan namun rendah nilai zat gizi. Apabila dikonsumsi secaraberlebihan dapat meningkatkan kejadian obesitas dan penyakit tidak menular lainnyapada remaja. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui prevalensi konsumsi SSBskemasan dan diketahuinya perbedaan proposi tingkat konsumsi SSBs kemasanberdasarkan karakteristik individu, penggunaan label pangan, aktivitas fisik, dan faktorlingkungan. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan karakteristikresponden yaitu siswa/I SMA Budhi Warman 2 Jakarta kelas X dan XI sebanyak 185siswa pada April 2020. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner onlineberupa google form secara mandiri. Data yang diperoleh akan dianalisis secara univariatdan bivariat (chi-square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 64,9% siswaSMA Budhi Warman 2 Jakarta mengonsumsi SSBs kemasan tingkat tinggi (≥ 2x/hari).Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi yang signifikanantara jenis kelamin, pengetahuan SSBs, kemampuan membaca label informasi nilai gizi,ketersediaan SSBs kemasan di rumah, konsumsi SSBs kemasan ibu, dan pengaruh temansebaya dengan tingkat konsumsi SSBs kemasan. Peneliti menyarankan agar siswa lebihselektif dalam memilih jenis minuman kemasan dan mempelajari serta memahami labelinformasi nilai gizi. Pihak sekolah disarankan untuk memberikan edukasi mengenaikonsumsi SSBs kemasan, label pangan terutama label informasi nilai gizi, dan giziseimbang. Masyarakat disarankan untuk memperhatikan persediaan SSBs kemasan dirumah dan menjadi panutan bagi anak dalam menerapkan perilaku konsumsi minumanyang lebih sehat.Kata kunci:Label informasi nilai gizi, Minuman berpemanis kemasan, Remaja.
Read More
S-10525
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akbar Hanifanur Prayitno; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Hendrick Warman, Sarah Safira
Abstrak:
Paparan panas kerja (heat stress) merupakan risiko penting pada pekerjaan teknisi menara telekomunikasi, terutama pada aktivitas luar ruang yang terpapar panas lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh paparan panas kerja yang diukur dengan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) terhadap tingkat dehidrasi yang diukur melalui urine specific gravity (USG), serta mengevaluasi peran suhu tubuh sebagai respons fisiologis dalam hubungan WBGT–USG. Penelitian menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) pada pekerja PT X yang mencakup teknisi menara (outdoor) dan pekerja kantor (indoor) sebagai pembanding, dengan total 76 responden; analisis indikator inti WBGT–suhu tubuh–USG dilakukan pada 67 responden dengan data lengkap (9 responden tidak lengkap). Hasil menunjukkan perbedaan paparan panas yang jelas antara kelompok: rerata WBGT outdoor 30,3°C (rentang 28,80–31,50°C) dan indoor 22,04°C (rentang 21,70–23,80°C), dengan perbedaan bermakna (p < 0,001). Suhu tubuh pekerja outdoor lebih tinggi (rerata 37,14°C) dibanding indoor (36,74°C) dan perbedaannya sangat bermakna (p < 0,001). Status hidrasi menunjukkan rerata USG keseluruhan 1,0146 (rentang 1,005–1,030); kelompok outdoor memiliki USG lebih tinggi (1,0157) dibanding indoor (1,0128) dan perbedaan rerata bermakna (p = 0,012). Mayoritas responden berada pada kategori dehidrasi ringan (USG 1,010–1,020) sebesar 92,5%. Pada analisis regresi linear, setiap kenaikan WBGT 1°C diikuti kenaikan USG sekitar 0,00059 (p < 0,001), mengindikasikan bahwa peningkatan paparan panas berasosiasi dengan meningkatnya kepekatan urin. Analisis mediasi menunjukkan efek total WBGT terhadap USG signifikan, namun jalur suhu tubuh → USG setelah mengontrol WBGT tidak bermakna; dengan demikian, peran suhu tubuh sebagai mediator dinyatakan eksploratif dan belum memberikan bukti mediasi yang kuat. Kesimpulannya, paparan panas kerja yang lebih tinggi berasosiasi dengan peningkatan kepekatan urin (USG) pada pekerja, terutama pada kelompok outdoor, sehingga diperlukan pengendalian paparan panas dan manajemen hidrasi yang lebih sistematis pada pekerjaan menara telekomunikasi.

Occupational heat exposure (heat stress) is an important risk in telecommunication tower technician work, especially for outdoor activities directly exposed to environmental heat. This study aimed to analyze the effect of workplace heat exposure measured by the Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) on dehydration level measured by urine specific gravity (USG), and to evaluate the role of body temperature as a physiological response in the WBGT–USG relationship. A cross-sectional design was conducted among PT X workers, including outdoor tower technicians and indoor office workers as a comparison group, with a total of 76 respondents; the core WBGT–body temperature–USG analysis was performed on 67 respondents with complete data (9 had incomplete data). The results showed a clear difference in heat exposure between groups: the mean outdoor WBGT was 30.3°C (range 28.80–31.50°C) and the mean indoor WBGT was 22.04°C (range 21.70–23.80°C), with a significant difference (p < 0.001). Outdoor workers had a higher mean body temperature (37.14°C) than indoor workers (36.74°C), and the difference was highly significant (p < 0.001). Hydration status showed an overall mean USG of 1.0146 (range 1.005–1.030); the outdoor group had a higher USG (1.0157) than the indoor group (1.0128), and the mean difference was significant (p = 0.012). Most respondents were classified as mildly dehydrated (USG 1.010–1.020), accounting for 92.5%. In linear regression analysis, each 1°C increase in WBGT was associated with an approximately 0.00059 increase in USG (p < 0.001), indicating that higher heat exposure is associated with more concentrated urine. Mediation analysis showed that the total effect of WBGT on USG was significant, but the body temperature → USG pathway after controlling for WBGT was not significant; therefore, the mediating role of body temperature was considered exploratory and did not provide strong evidence of mediation. In conclusion, higher occupational heat exposure is associated with increased urine concentration (USG), particularly among outdoor workers, highlighting the need for systematic heat-exposure control and hydration management in telecommunication tower work.
Read More
T-7469
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive