Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Uweisha Eraz Puteri; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Artha Prabawa, Leny Latifah
Abstrak:
Bunuh diri termasuk penyebab kematian ketiga pada remaja usia 10 hingga 19 tahun. Pada tahun 2016, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia diestimasikan sebesar 3,4 per 100.000 penduduk. Kematian akibat bunuh diri adalah sebuah fenomena gunung es, dimana besarnya masalah akan terlihat lebih jelas jika perilaku bunuh diri dimasukkan dalam perhitungan. Salah satu faktor utama perilaku bunuh diri remaja usia sekolah adalah bullying. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara bullying dengan perilaku bunuh diri ada pelajar SMP dan SMA di Indonesia setelah dikontrol oleh variabel confounding. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder Global School Based Health Survey Indonesia 2015. Sampel penelitian ini adalah pelajar SMP dan SMA yang berusia 12-17 tahun (n = 8733). Analisis yang digunakan adalah analiss univariat, bivariat dan multivariabel dengan level kepercayaan 95%. Hasil analisis multivariabel dengan regresi logistik berganda, menunjukkan rasio odds terjadinya perilaku bunuh diri pada pelajar SMP dan SMA di Indonesia yang pernah mengalami bullying dibandingkan dengan pelajar yang tidak pernah mengalami bullying adalah 2,27 (95% CI: 1,92-3,53). Selain itu, hasil analisis multivariabel juga mununjukan adanya variabel interaksi (variabel moderator/effect modifier) yaitu perilaku berkelahi dan kekerasan seksual. Strategi pencegahan bullying dan perilaku bunuh diri berbasis sekolah sangat diperlukan untuk mengurangi risiko perilaku bunuh diri pada pelajar. Kata kunci: Bunuh diri, Perilaku Bunuh Diri, Bullying Suicide is the third leading cause of death in adolescents aged 10 to 19 years old. In 2016, the death rate due to suicide in Indonesia was estimated at 3.4 per 100,000 population. Complete suicide is an iceberg phenomenon, where the problem will be seen more clearly if suicidal behavior was involved. One of the main factors that could intensify suicidal behavior risk among high school students is bullying. This study examined the association between bullying and suicide among high school student in Indonesia after adjusting for confounder variables. It was a secondary analysis of Global School Based Health Survey Indonesia 2015 which used cross sectional study design. Univariate, bivariate, and multivariable analyses were performed at 95% confidence level. Multivariable regression logistic model showed that students who had been bullied had 2.27 times greater odds of having suicidal behavior compared to students who had never experienced bullying (OR: 2,27; 95% CI: 1,92-3,53). Besides, we indicated that physical fighting, and sexual abuse as effect modifiers (moderator or interaction variables) that affect the association between bullying and suicidal behavior. School-based bullying and suicidal behavior prevention strategies are needed to reduce the risk of suicidal behavior among students. Key words: Suicide, Suicidal Behavior, Bullying
Read More
S-10338
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nova Riyanti Yusuf
362.28 NOV c
Jakarta : Kompas, 2022
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nabila Febby Yeni; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Iwan Ariawan, Gina Anindyajati
Abstrak:
Penelitian ini membahas hubungan kekerasan fisik dengan percobaan bunuh diri pada remaja usia sekolah menengah di Indonesia tahun 2015. Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data Global School-based Student Health Survey Indonesia 2015. Sampel penelitian ini adalah remaja usia 12 hingga 17 tahun. Hasil analisis multivariabel dengan regresi logistik berganda menunjukkan bahwa remaja yang mengalami kekerasan fisik akan berisiko 2,6 kali lebih tinggi melakukan percobaan bunuh diri dibanding mereka yang tidak mengalami kekerasan setelah dikontrol oleh variabel pendidikan, jenis kelamin, dan kepemilikan teman dekat.
Read More
S-10830
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rachmadianti Sukma Hanifa; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Dadan Erwandi, Lina R. Mangaweang
Abstrak:
Bunuh diri merupakan salah satu masalah kesehatan global yang masih terjadi dan merupakan penyebab kematian ke-2 pada kelompok usia 15-29 tahun. Berdasarkan estimasi terakhir yang dilakukan oleh WHO, prevalensi kematian akibat bunuh diri yang terjadi di Indonesia pada tahun 2016 diperkirakan sebesar 3,4 per 100.000 penduduk. Berdasarkan sebuah pemodelan yang dilakukan oleh WHO, ditemukan bahwa dari setiap orang yang meninggal akibat bunuh diri, diperkirakan ada 20 orang lainnya yang melakukan percobaan dan merencanakan untuk bunuh diri yang kemudian dikenal sebagai perilaku bunuh diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perilaku bunuh diri pada pelajar SMP dan SMA di Indonesia dengan menggunakan desain studi campuran (mix method) kuantitatif potong lintang dan kualitatif wawancara mendalam. Analisis multivariat regresi logistik dilakukan terhadap 8.949 responden Global School Based Health Survey Indonesia Tahun 2015, sedangkan analisis kualitatif dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam terhadap pelajar SMP dan SMA di Kota Malang, guru bimbingan konseling sekolah terkait, dan pakar pencegahan bunuh diri di Indonesia, dengan jumlah informan sebanyak 11 orang. Hasil penelitian menunjukan prevalensi gangguan perilaku bunuh diri pada pelajar SMP dan SMA di Indonesia adalah sebesar 1,7%. Analisis risiko menunjukan bahwa menjadi perempuan, memiliki perilaku merokok, memiliki perilaku penyalahgunaan alkohol, memiliki perilaku penggunaan obat-obatan, sering atau selalu merasa cemas berlebihan dan kesepian, serta mengalami peristiwa perundungan, merupakan faktor risiko dari gangguan perilaku bunuh diri. Intervensi untuk mengurangi angka gangguan perilaku bunuh diri diantaranya adalah dengan mengintegrasikan usaha kesehatan jiwa pada tingkat sekolah secara lebih komprehensif
Read More
S-9945
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nova Riyanti Yusuf; Promotor: Hasbullah Thabrany; Kopromotor: Sabarinah B Prasetyo, Suzy Yusnah Dewi; Penguji: Rita Damayanti, Dumilah Ayuningtyas, Sasanto Wibisono, Firdiansjah, Bryon Joseph Good
D-398
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ashfa Mardiana Ikhsani; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Rico Kurniawan, Yunita Arihandayani
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Secara global, bunuh diri merupakan penyebab kematian kelima pada usia 10–19 tahun dan penyebab kematian keempat pada kelompok umur 15–19 tahun. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, sebanyak 0,25% penduduk mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidupnya dalam satu bulan terakhir dengan prevalensi paling tinggi adalah kelompok umur 15–24. Fenomena ini meningkatkan kemungkinan penyimpangan perilaku sehingga dapat meningkatkan risiko penurunan produktivitas dan imunitas individu serta dapat berujung pada meningkatnya angka kesakitan pada dewasa muda. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis untuk mengetahui determinan pikiran untuk bunuh diri pada penduduk berusia 15 – 24 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 dengan desain studi cross-sectional dan analisis regresi logistik. Hasil: Berdasarkan hasil analisis bivariat, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, kelompok umur, wilayah tempat tinggal, penyakit tidak menular, dan depresi dengan pikiran bunuh diri. Berdasarkan analisis multivariat, faktor yang paling berhubungan terhadap pikiran untuk bunuh diri adalah depresi (p-value < 0,001; AOR = 125,232; 95%CI = 51,363 – 305,335) setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, kelompok umur, tingkat pendidikan, dan variabel interaksi. Kesimpulan: Penyusunan sistem data nasional dan regional untuk membantu dalam memantau angka depresi di masyarakat sehingga dapat mencegah tindakan bunuh diri.
Background: Globally, suicide is the fifth leading cause of death in the 10–19 age group and the fourth leading cause of death in the 15–19 age group. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), 0.25% of the population had thoughts of ending their lives in the past month with the highest prevalence being in the 15–24 age group. This phenomenon increases the possibility of behavioral deviations so that it can increase the risk of decreased productivity and individual immunity and can lead to increased morbidity in young adults. Therefore, an analysis is needed to determine the determinants of suicidal thoughts in the 15–24 year old population. Methods: This study used data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) with a cross-sectional study design and logistic regression analysis. Results: Based on the results of the bivariate analysis, there was a significant relationship between gender, age group, area of residence, non-communicable diseases, and depression with suicidal thoughts. Based on multivariate analysis, the most related factor to suicidal thoughts was depression (p-value < 0.001; AOR = 125.232; 95%CI = 51.363 – 305.335) after being controlled by gender, age group, education level, and interaction variables. Conclusion: The preparation of national and regional data systems to assist in monitoring depression rates in the community so that suicide can be prevented.
S-11887
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nur Fitriani; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Ika Malika
Abstrak:
Read More
Ide bunuh diri menjadi salah satu komponen penting dalam memprediksi upaya bunuh diri serta diasumsikan sebagai indikator dari masalah kesehatan mental lainnya. Mahasiswa salah satu kelompok yang rentan memiliki ide bunuh diri dikarenakan adanya tekanan hidup dan sumber stres lainnya. Peranan coping styles menjadi penting bagi individu dalam menghadapi masalah dalam hidupnya. Tujuan penelitian mengetahui hubungan antara coping styles (problem-focused coping, emotion-focused coping, dan avoidant coping) dengan ide bunuh diri pada mahasiswa program sarjana di Universitas Indonesia. Desain penelitian kuantitatif Cross-Sectional dengan data primer melalui Kobo ToolBox didapatkan sejumlah 570 responden mahasiswa dari 14 fakultas. Pengumpulan data dengan metode Incidental sampling dan Quota Sampling. Alat ukur Brief COPE dipakai untuk mengukur coping styles dan Beck Scale for Suicide Ideation untuk mengukur ide bunuh diri. Dari hasil uji statistik Spearman Correlation menunjukkan ada hubungan antara problem-focused coping (r = -0,453, p<0,05), emotion-focused coping (r = -0,210, p<0,05), dan avoidant coping (r = 0,593; p<0,05) dengan ide bunuh diri pada pada mahasiswa program sarjana di Universitas Indonesia. Arah hubungan negatif pada problem-focused coping dan emotion-focused coping dengan ide bunuh diri, sedangkan avoidant coping memiliki hubungan positif. Semakin sering mahasiswa menggunakan problem-focused coping dan emotion-focsed coping akan semakin rendah ide bunuh diri yang dimiliki. Serta, semakin sering penggunaan avoidant coping akan semakin tinggi ide bunuh diri yang dimiliki. Maka itu, peneliti merekomendasikan mahasiswa untuk mengkombinasikan penggunaan problem-focused coping dan emotion-focused coping yang adaptif ketika mengatasi tekanan hidup dibandingkan avoidant coping atau penghindaran terhadap masalah.
Suicidal ideation is essential in predicting suicide attempts, also assumed to be an indicator of other mental health problems. Undergraduate students are one of the groups most vulnerable to suicidal ideation due to life pressures and other sources of stress. Coping styles is a crucial role for individuals in dealing with life problems. The aim of this study is to examine the relationship between coping styles (problem-focused coping, emotion-focused coping, and avoidant coping) with suicidal ideation on undergraduate students at University of Indonesia. This study using quantitative cross-sectional design with distributed online questionnaires via Kobo ToolBox to collected 570 student respondents from 14 faculties. The sampling techniques used are incidental sampling and quota sampling. The Brief COPE was used to measurement coping styles, and the Beck Scale for Suicide Ideation was used to measurement suicidal ideation. The result of study using Spearman correlation statistical tests indicated coping styles significantly correlated between problem-focused coping (r = -0.453, p<0.05), emotion-focused coping (r = -0.210, p<0.05), and avoidant coping (r = 0.593, p<0.05) with suicidal ideation on undergraduate students at University of Indonesia. Problem-focused coping and emotion-focused coping has negative correlation with suicidal ideation, inverse avoidant coping has a positive correlation. The more frequently students use problem-focused coping and emotion-focused coping, the lower their suicidal ideation. Conversely, the more frequently avoidant coping is used, the higher the suicidal ideation. Recommendation that undergraduate students to combine the use of adaptive problem-focused coping and emotion focused coping when dealing with life pressures rather than resorting to avoidant coping.
S-11635
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rahmadira Syafrina; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Yoslien Sopamena, Tin Afifah
Abstrak:
Read More
Masalah kesehatan mental merupakan tantangan kesehatan masyarakat global yang signifikan. Kecemasan dan perilaku bunuh diri semakin meningkat di kalangan remaja, termasuk di Indonesia. Kekerasan di lingkungan sekolah diduga menjadi salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengalaman kekerasan di lingkungan sekolah dengan masalah kesehatan mental pada pelajar usia remaja di Indonesia berdasarkan data Global School-based Student Health Survey (GSHS) Indonesia 2023. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data sekunder dari GSHS Indonesia 2023 yang melibatkan 8.851 responden pelajar SMP dan SMA usia 12-17 tahun. Variabel independen adalah pengalaman kekerasan di lingkungan sekolah (diserang secara fisik, perkelahian fisik, dan mengintimidasi/bullying). Variabel dependen adalah masalah kesehatan mental (kecemasan, ide bunuh diri, rencana bunuh diri, dan percobaan bunuh diri) yang diukur secara hierarkis berdasarkan Three-Step Theory (3ST) of Suicide. Analisis data menggunakan uji Chisquare dan stratifikasi. Sebanyak 16,5% pelajar merasakan kecemasan, 1,7% memiliki ide bunuh diri, 5,3% memiliki rencana bunuh diri, dan 9,4% pernah melakukan percobaan bunuh diri dalam 12 bulan terakhir. Pengalaman kekerasan di sekolah ditemukan pada 38,6% pelajar (diserang secara fisik), 30,9% (perkelahian fisik), dan 17,0% (bullying). Seluruh bentuk kekerasan berhubungan signifikan dengan kecemasan dan bunuh diri (p<0,001). Pelajar yang pernah diserang secara fisik memiliki risiko 1,64 kali lebih tinggi mengalami kecemasan (OR=1,645; CI 95%: 1,469-1,842) dan 1,97 kali lebih tinggi melakukan percobaan bunuh diri (OR=1,966; CI 95%: 1,702-2,269). Kata Kunci : Kecemasan, Perilaku Bunuh Diri, Kekerasan di Sekolah, Mengintimidasi, Pelajar, Remaja, GSHS Indonesia 2023
Mental health problems represent a significant global public health challenge. Anxiety and suicidal behavior are increasingly prevalent among adolescents, including in Indonesia. School violence is suspected to be a contributing risk factor to adolescent mental health problems. This study aims to analyze the association between school violence exposure and mental health problems among school-going adolescents in Indonesia based on data from the Global Schoolbased Student Health Survey (GSHS) Indonesia 2023. This study employed a cross-sectional design using secondary data from GSHS Indonesia 2023 involving 8,851 respondents from junior and senior high school students aged 12-17 years. Independent variables were school violence experiences (being physically attacked, physical fighting, and bullying perpetration). Dependent variables were mental health problems (anxiety, suicidal ideation, suicide planning, and suicide attempt) measured hierarchically based on the Three-Step Theory (3ST) of Suicide. Data analysis used Chi-square tests and stratification analysis. A total of 16.5% of students experienced anxiety, 1.7% had suicidal ideation, 5.3% had suicide plans, and 9.4% had attempted suicide in the past 12 months. School violence experiences were found in 38.6% of students (physically attacked), 30.9% (physical fighting), and 17.0% (bullying perpetration). All forms of violence were significantly associated with anxiety and suicidal behavior (p<0.001). Students who were physically attacked had 1.64 times higher risk of experiencing anxiety (OR=1.645; 95% CI: 1.469-1.842) and 1.97 times higher risk of suicide attempt (OR=1.966; 95% CI: 1.702-2.269). Keywords : Anxiety, Suicidal Behavior, School Violence, Bullying, Students, Adolescents, GSHS Indonesia 2023
S-12369
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andang Evrilianto; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Masyitoh, Musyanto, Minerva Theodora Simatupang
Abstrak:
Read More
Bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat global dan pada tahun 2021 menempati peringkat ketiga penyebab kematian pada kelompok usia 15-29 tahun. Di Indonesia, Kabupaten Gunungkidul secara konsisten mencatat sekitar 20-30 kasus bunuh diri setiap tahun dan menjadi salah satu wilayah dengan beban kasus yang tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta meskipun telah tersedia regulasi dan program penanggulangan bunuh diri. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Program Penanggulangan Bunuh Diri di Kabupaten Gunungkidul berdasarkan kerangka Theory of Change. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen pada Mei-Juni 2026. Informan dipilih secara purposive samping dan terdiri atas Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM), puskesmas, rumah sakit, kepolisian, organisasi masyarakat, penyintas, dan keluarga terdampak. Analisis data dilakukan dengan triangulasi sumber dan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program telah didukung oleh regulasi daerah, TPKJM, kegiatan promosi kesehatan, deteksi dini, penanganan percobaan bunuh diri, serta pendampingan penyintas dan keluarga. Namun, masih ditemukan keterbatasan sumber daya manusia kesehatan jiwa, belum tersedianya anggaran khusus program serta koordinasi lintas sektor yang belum optimal. Pada tahun 2025 dilakukan skrining kesehatan jiwa terhadap 23.625 orang dan ditemukan 339 individu berisiko yang seluruhnya mendapatkan tindak lanjut. Walaupun demikin cakupan deteksi dini masih rendah. Selain itu, terdapat empat kasus percobaan bunuh diri yang berhasil diidentifikasi dan ditangani sesuai prosedur. Hasil pemantauan menunjukkan tidak terdapat pengulangan percobaan bunuh diri pada seluruh kasus yang mendapatkan pendampingan. Disimpulkan bahwa Program Penanggulangan Bunuh Diri di Kabupaten Gunungkidul telah diimplementasikan, namun efektivitasnya belum optimal. Tantangan utama masih ditemukan pada komponen input, activities, dan output. Rekomendasi penelitian meliputi penguatan kapasitas sumber daya, perluasan cakupan deteksi dini, peningkatan koordinasi lintas sektor, upaya pengurangan stigma terhadap masalah kesehatan jiwa, serta penguatan sistem pencatatan dan pelaporan untuk meminimalkan underreporting kasus.
Suicide is a global public health problem and was the third leading cause of death among individuals aged 15-29 years in 2021. In Indonesia, Gunungkidul Regency has consistently recorded approximately 20-30 suicide cases annually and remains one of the areas with the highest suicide burden in the Special Region of Yogyakarta, despite the implementation of suicide prevention policies and programs. This study aimed to evaluate the effectiveness of the Suicide Prevention Program in Gunungkidul Regency using the Theory of Change framework. This study employed a qualitative case study approach. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document reviews conducted from May to June 2026. Informants were selected using purposive sampling and included representatives from the Health Office, Social Affairs Office, Community Mental Health Implementation Team (TPKJM), primary health centers, hospitals, police department, community organizations, suicide attempt survivors, and affected family members. Data were analyzed using source and document triangulation. The findings showed that the program has been supported by local regulations, the establishment of TPKJM, health promotion activities, early detection initiatives, suicide attempt management, and post-crisis care for survivors and their families. However, several challenges remain, including limited mental health human resources, the absence of a dedicated budget allocation, and suboptimal cross-sectoral coordination. In 2025, mental health screening was conducted among 23,625 individuals, identifying 339 at-risk individuals, all of whom received follow-up interventions. Nevertheless, the overall screening coverage remained relatively low. In addition, four suicide attempt cases were successfully identified and managed according to established procedures. Follow-up monitoring indicated that none of these individuals experienced a repeated suicide attempt during the observation period. In conclusion, the Suicide Prevention Program in Gunungkidul Regency has been implemented and has demonstrated achievements in case response and reducing the risk of repeated suicide attempts. However, its overall effectiveness requires further strengthening through improvements in human resources, expansion of early detection coverage, enhanced cross-sectoral coordination, stigma reduction efforts, and a more integrated reporting system to minimize underreporting of suicide cases.
T-7649
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Vania Gemma Miari; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono; Penguji: Trisari Anggondowati, Gina Anindyajati
Abstrak:
Read More
Bunuh diri merupakan penyebab kematian keempat terbesar pada kelompok usia remaja secara global. Pemikiran bunuh diri atau ideasi bunuh diri dapat menjadi awal dari perilaku bunuh diri dan merupakan kekhawatiran di kalangan remaja. Angka prevalensi pemikiran bunuh diri remaja di Indonesia meningkat dari 4,2% di tahun 2007 menjadi 5,14% di tahun 2015. Melihat situasi saat ini, ada kemungkinan angka kematian akibat bunuh diri semakin meningkat. Terdapat beberapa faktor risiko perilaku kesehatan yang berkontribusi pada peningkatan upaya bunuh diri di kalangan remaja, salah satunya adalah perilaku seksual berisiko. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat hubungan antara perilaku seksual berisiko dengan pemikiran bunuh diri setelah dikontrol dengan variabel confounding. Penelitian menggunakan desain studi potong lintang (cross sectional) dengan analisis data Global School-Based Student Health Survey Indonesia tahun 2015. Hasil penelitian ini adalah prevalensi pemikiran bunuh diri pada Pelajar SMP dan SMA di Indonesia tahun 2015 sebesar 4,8% dan prevalensi perilaku seksual berisiko pada Pelajar SMP dan SMA di Indonesia tahun 2015 dalam penelitian ini sebesar 4,17%. Berdasarkan hasil analisis multivariat, risiko pelajar yang pernah melakukan perilaku seksual berisiko 2,54 (CI 95% 1,56—4,13) kali lebih besar untuk memiliki pemikiran bunuh diri dibandingkan dengan pelajar yang tidak pernah melakukan perilaku seksual berisiko.
Suicide is the fourth largest cause of death in the adolescent age group globally. Suicidal ideation can be a precursor to suicidal behavior and is a concern among adolescents. The prevalence rate of suicidal ideation among teenagers in Indonesia increased from 4.2% in 2007 to 5.14% in 2015. Looking at the current situation, there is a possibility that the death rate due to suicide will increase. Several health behavioral risk factors contribute to the increase in suicide attempts among adolescents, one of which is risky sexual behavior. This research aims to look at the relationship between risky sexual behavior and suicidal thoughts after being controlled by confounding variables. The research used a cross-sectional study design with data analysis from the Global School-Based Student Health Survey Indonesia 2015. The results of this research are that the prevalence of suicidal thoughts among middle and high school students in Indonesia in 2015 was 4.8% and the prevalence of risky sexual behavior among middle and high school students in Indonesia in 2015 was 4.17%. Based on the results of multivariate analysis, the risk of students who have engaged in risky sexual behavior is 2.54 (CI 95% 1.56—4.13) times greater for having suicidal thoughts compared to students who have never engaged in risky sexual behavior.
S-11539
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
