Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Vony Julianti Kiding; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: R. Sutiawan, Diah Ayudi, Eti Rohati, Ni Made Jendri
Abstrak: Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator tingkat pembangunan kesehatan dan kualitas hidup suatu negara. Kabupaten Banjar memiliki jumlah kematian neonatal tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan. Kematian neonatal tidak disebabkan oleh satu faktor saja melainkan multifaktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian neonatal di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan tahun 2014-2015. Metode penelitian kasus kontrol, analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan bermakna dengan kematian neonatal adalah berat lahir bayi (OR=5,8, 95% CI:3,0-11,1), pendidikan ibu (OR=4,5, 95% CI:1,6-12,8), komplikasi kehamilan (OR=2,7, 95% CI: 1,6-4,6), umur kehamilan (OR=2,4, 95% CI: 1,1-5,0), frekuensi kunjungan ANC standar (OR=2,2, 95% CI:1,2-4,1), tempat persalinan (OR=2,1, 95% CI:1,1- 3,9) dan paritas (OR=2,1, 95% CI:1,2-3,6), sedangkan pekerjaan (OR=1,8, 95% CI:0,9-3,5) sebagai variabel confounding. Faktor yang paling besar pengaruhnya adalah berat lahir bayi. Bayi berat lahir ≤ 2500 gram memiliki risiko 5,8 kali (95% CI 3,0-11,1) lebih tinggi mengalami kematian neonatal dibanding bayi berat lahir > 2500 gram. Peningkatan wawasan dan kompetensi bidan melaui pelatihan penatalaksanaan kasus BBLR, strategi KIE mengenai faktor-faktor kematian neonatal serta membuat gagasan untuk meningkatkan kunjungan ANC standar perlu diupayakan untuk menurunkan angka kematian neonatal di Kabupaten Banjar. Kata kunci : faktor kematian; neonatal
Infant mortality rate is one indicator of health development level and quality of life of a country. Kabupaten Banjar has the highest of neonatal mortality numbers in South Borneo. Neonatal mortality is not caused by a single factor but multifactor. This study aims to determine the factors associate with neonatal mortality in Kabupaten Banjar, South Borneo in 2014-2015. The methods of this study is case control, multivariate analysis used logistic regression. The results of this study indicate that the factors significantly associated with neonatal mortality are birth weight (OR=5,8, 95% CI:3,0-11,1), maternal education (OR=4,5, 95% CI:1,6-12,8), pregnancy complications (OR=2,7, 95% CI: 1,6-4,6) gestational age (OR=2,4, 95% CI: 1,1-5,0), frequency of standard ANC visits (OR=2,2, 95% CI:1,2-4,1), place of delivery (OR=2,1, 95% CI:1,1-3,9) and parity (OR=2,1, 95% CI:1,2-3,6) and occupational (OR=1,8, 95% CI:0,9-3,5) as a confounding variabel. The factor that must impact is birth weight. Birth weight ≤ 2500 gram is 5,9 times higher (95% CI 3,1-11,3) to neonatal mortality than birth weight ≥ 2500 gram. Increased insight and competence of midwife through training of case management of low birth weight, communication information and education strategies about factors of neonatal mortality and creates ideas for increase the ANC visits are required to reduce neonatal mortality in Banjar District. Keywords: factors of mortality; neonatal
Read More
T-4877
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cut Tissa Azura Putri; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Diah Wati
S-7856
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andreas Billy Falian; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririn Arminsih, Didik Supriyono
Abstrak: Pendahuluan: Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak diinginkan sebagai suara yang tidak diinginkan yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan gangguan non-pendengaran, seperti kondisi fisiologis, psikologis, dan komunikasi. Gangguan fisiologi dan psikologi dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Dampak fisik yang mungkin terjadi dari pajanan kebisingan, adalah kram otot, pusing, mual, muntah dan peningkatan sekresi katekolamin dan kortisol, di mana akan mempengaruhi sistem saraf yang kemudian berpengaruh pada detak jantung, dan akan meningkatkan tekanan darah. Menurut WHO, hipertensi diperkirakan menyebabkan 7.5 juta kematian, sekitar 12.8% dari total semua kematian. Hipertensi merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25.8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan kebisingan >85 dB terhadap kejadian hipertensi.
Metode: Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif, dengan desain penelitian potong lintang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah proportionate stratified random sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengolahan data dilakukan dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat dengan interval kepercayaan 95%. Dalam penelitian ini juga dilakukan tes laboratorium untuk memvalidasi dan mendapatkan data kondisi stres biologis pada pekerja melalui pengujian hormon kortisol dari air liur.
Hasil: Seluruh variabel independen memiliki faktor risiko > 1 terhadap variabel dependen. Terdapat hasil yang signifikan dari variabel independen kebisingan, lama kerja, umur, riwayat keturunan hipertensi, aktivitas fisik, penggunaan APT, indeks massa tubuh, dan kadar hormon kortisol terhadap hipertensi, melalui pengujian secara statistik dengan p value < 0.05. Sedangkan, untuk variabel perilaku merokok dan konsumsi alkohol memiliki p value > 0.05. Kebisingan sebagai variabel utama memiliki OR 19.067 melalui uji multivariat, setelah dilakukan kontrol oleh variabel perancu lama kerja, riwayat keturunan hipertensi, aktivitas fisik, penggunaan APT, dan indeks massa tubuh terhadap hipertensi.
Kesimpulan: Pekerja yang terpapar kebisingan berisiko untuk mengalami hipertensi. Pekerja yang memiliki lama kerja lebih dari lima tahun, tidak melakukan aktivitas fisik, tidak menggunakan APT, dan memiliki indeks massa tubuh yang tidak normal berisiko lebih besar untuk mengalami hipertensi.
Kata kunci: Farmasi, Hipertensi, Hormon Kortisol, Industri, Kebisingan
Read More
S-9642
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mansyur Nasution; Pembimbing: Hendra; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Harumiti Ramli
Abstrak: Pekerja di pabrik pembuatan tempe di Desa Citeureup beresiko mengalamikeluhan Musculoskeletal Disorders yang berasal dari proses kerja. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keluhan MusculoskeletalDisorders. Penelitian dilakukan pada 15 pekerja di 3 tempat dengan desain studideskripstif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Hasil penelitianmenunjukkan proses kerja pembuatan tempe di Desa Citereup mempunyai tingkatrisiko ergonomi yang cukup tinggi. Dari 10 (sepuluh) Terdapat 4 (empat) aktivitasyang mempunyai tingkat risiko tinggi. Keluhan paling dominan yang dirasakanpekerja yaitu pegal-pegal. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan postur tubuhkerja untuk meminimalisasi keluhan Musculoskletal Disorders dan faktor risikoergonomi.
Kata kunci :Musculoskeletal Disorders, keluhan, pengrajin tempe
Workers of tempe factory in Desa Citeureup had a risk to experiencemusculoskeletal disorders complaints that derived from the process of working.The aim of this study is to obtain a description of musculoskeletal disorderscomplaints. The subject of the study was 15 workers in three places, and themethod used was observational descriptive study with cross-sectional design. Theresult showed that the process of working in the manufacture of tempe have highlevel of ergonomics risk. There were 4 (four) activities from 10 (ten) that havehigh risk level. The most dominant complaints most dominant from the workerswere stiff. The factory was suggested to improve body posture to minimizemusculoskletal disorders complaints and ergonomic risk factor.
Key words :Musculoskeletal Disorders, complaints, workers of tempe factory.
Read More
S-9236
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Muajis; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Wahyu Wiwing Prayogi
Abstrak: SKRIPSI INI MEMBAHAS KASUS KECELAKAAN BOEING 737-800 DI BANDARA NGURAH RAI, BALI TAHUN 2013 MELALUI INVESTIGASI HFACS (HUMAN FACTORS ANALYSIS AND CLASSIFICATION SYSTEM). TUJUAN PENELITIAN INI UNTUK MELIHAT KONTRIBUSI FAKTOR MANUSIA PADA SUATU KECELAKAAN DI BIDANG AVIASI. PENELITIAN INI ADALAH PENELITIAN KUALITATIF DENGAN DESAIN DESKRIPTIF. HASIL PENELITIAN MENYARANKAN UPAYA PERBAIKAN TERHADAP FAKTOR-FAKTOR KONTRIBUSI KECELAKAAN SEPERTI TINDAKAN YANG MENGARAH PADA KECELAKAAN, PRA-KONDISI TIDAK AMAN, PENGAWASAN YANG KURANG BAIK DAN PENGARUH ORGANISASI. KATA KUNCI: FAKTOR MANUSIA, INVESTIGASI, KECELAKAAN BOEING 737-800 THE FOCUS OF THIS STUDY IS INVESTIGATING BOEING 737-800 ACCIDENT IN NGURAH RAI INTERNATIONAL AIRPORT, BALI, 2013 USING HFACS (HUMAN FACTORS ANALYSIS AND CLASSIFICATION SYSTEM). THE PURPOSE OF THIS STUDY IS TO UNDERSTAND CONTRIBUTING OF HUMAN FACTORS IN AVIATION ACCIDENTS. THIS RESEARCH IS QUALITATIVE DESCRIPTIVE INTERPRETIVE. THE RESEARCHER SUGGESTS THAT CORRECTIVE EFFORT TO CONTRIBUTING FACTORS OF ACCIDENT SUCH AS UNSAFE ACTS, PRECONDITION FOR UNSAFE ACT, UNSAFE SUPERVISION AND ORGANIZATIONAL INFLUENCES. KEY WORDS: ACCIDENT BOEING 737-800, HUMAN FACTORS, INVESTIGATION
Read More
S-9485
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lulu Rakhmatsani; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Aria Kusuma, Hari Rudijanto Indro Wardono
Abstrak: Tesis ini membahas hubungan konsentrasi paparan PM2,5 dan kadar MDA sebagai biomarker stres oksidatif di lingkungan sebuah pabrik semen. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan pada Mei-Juni 2024. Hasil penelitian bahwa konsentrasi PM2,5 dari 10 titik seluruhnya melebihi baku mutu; hasil pemeriksaan kadar MDA urin bervariasi; tidak ada hubungan yang signifikan antara paparan konsentrasi PM2,5 dengan kadar MDA urin; tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik inidividu dengan kadar MDA urin; namun terdapat hubungan signifikan antara konsentrasi PM2,5 dan radius dengan p value 0,000; terdapat hubungan signifikan antara konsentrasi PM2,5 dan waktu sampling dengan p value 0,000; dan terdapat hubungan yang signifikan antara kadar MDA dan radius dengan p value 0,000. Kesimpulan penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan antara paparan PM2,5 dengan kadar MDA, tidak ada hubungan antara karakteristik individu dengan kadar MDA.
This thesis discusses the relationship between PM2.5 exposure concentrations and MDA levels as biomarkers of oxidative stress in the environment of a cement factory. This research is a quantitative study with a cross-sectional design conducted in May-June 2024. The results of the research show that the PM2.5 concentration from all 10 points exceeds the quality standard; urine MDA level examination results vary; there was no significant relationship between exposure to PM2.5 concentrations and urinary MDA levels; there was no significant relationship between individual characteristics and urinary MDA levels; However, there is a significant relationship between PM2..5 concentration and radius with a p value of 0.000; there is a significant relationship between PM2.5 concentration and sampling time with a p value of 0.000; and there is a significant relationship between MDA levels and radius with a p value of 0.000. The research conclusion shows that there is no relationship between PM2.5 exposure and MDA levels, there is no relationship between individual characteristics and MDA levels.
Read More
T-7007
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Istikomah; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Pujianto, Racmawati, Anita
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang faktor keterlambatan pengajuan klaim non kapitasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) BPJS Kesehatan Layanan Operasional Kabupaten Wonosobo tahun 2017. Berdasarkan telaah dokumen yang dilakukan sebanyak 50,6% FKTP terlambat dalam pengajuan klaim non kapitasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor sumber daya manusia, sarana dan kelengkapan berkas klaim yang berperan dalam keterlambatan pengajuan klaim non kapitasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Informan dalam penelitian adalah petugas Puskesmas dan BPJS Kesehatan yang berhubungan dengan pengajuan klaim non kapitasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor keterlambatan pengajuan klaim non kapitasi FKTP yaitu tidak adanya pelatihan kepada sumber daya manusia pengajuan klaim, berkas klaim yang tidak lengkap dan pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan yang tidak tepat waktu yang menyebabkan motivasi berkurang. Saran yang dapat diberikan oleh Peneliti yaitu BPJS Kesehatan dapat memberikan pelatihan tentang mengoperasikan aplikasi P-care dan sosialisasi tentang kelengkapan berkas klaim kepada petugas penanggung jawab. Kata kunci: faktor keterlambatan, klaim non kapitasi, pengajuan This study discusses the delay factors of non-capitation claims filing of Primary Health Care (PHC) BPJS Health Service Operations Wonosobo Regency in 2017. Based on the document review conducted as much as 50.6% PHC late in the filing of non-capitation claims. This study aims to look at human resource factors, facilities and completeness of claims files that play a role in the delay in filing non-capitation claims. This study used a qualitative approach with in-depth interviews and document review. Informants in the study were Primary Health Care and BPJS Kesehatan officers associated with the filing of non-capitation claims. The results of this study indicate that the delay factor in filing of noncapitation claims PHC is the absence of training to human resources filing claims, incomplete claims file and payment claims by BPJS Kesehatan is not on time which causes motivation is reduced. Suggestions that can be given by Researcher that BPJS Kesehatan can provide training about operational of P-care application and socialization about completeness of claim file to officer in charge. Keywords: delay factors, non capitation claim, filing
Read More
S-9345
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eliezer Sutopo; Prmbimbing: Putri Bungsu; Penguji: Krisnawati Bantas, Zamhir Setiawan
Abstrak: Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, riwayat penyakit tidak menular dalam keluarga, Perilaku merokok, konsumsi buah dan sayur, aktivitas fisik, stress, dan Indeks Massa Tubuh) dengan sindrom metabolik pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Cimanuk dan Saketi, Kabupaten pandeglang, Banten tahun 2017. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan desain Cross sectional. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret-Juni 2017 dengan menggunakan data dari deteksi dini Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Kementerian Kesehatan RI tahun 2017 dengan sampel sebanyak 359 sampel. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 38,2% masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Cimanuk dan Saketi, Kabupaten Pandenglang, Banten mengalami sindrom metabolik. Uji chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan secara statistik antara umur (p value=0,001), pendidikan (p value=0,023), pekerjaan (p value=0,041), dan Indeks Massa Tubuh (p value=0,001) terhadap sindrom metabolik. Sedangkan melalui uji multivariat didapatkan variabel yang paling berpengaruh adalah indeks massa tubuh (POR=0,334). Melalui penelitian ini dapat memberikan informasi terutama masyarakat di Kecamatan Cimanuk dan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten agar dapat menjaga kesehatan melalui pola hidup sehat, serta ikut serta dalam kegiatan Posbindu maupun Penyuluhan yang dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan terkait. Kata Kunci: faktor yang berhubungan, puskesmas kecamatan, sindrom metabolik v This thesis aims to know the related factors (age, sex, education, occupation, history of noncommunicable diseases in the family, smoking behavior, consumption of fruits and vegetables, physical activity, stress, and body mass index) with metabolic syndrome in the community in the working area of puskesmas cimanuk and saketi, pandeglang district, banten in 2017. This study is analytical descriptive using cross sectional design. The study was conducted from March to June 2017 using data from the early detection of the program of prevention and control of heart and vein disease the Ministry of Health Republic of Indonesia in 2017 with a sample of 359 samples. The results showed that 38.2% of people in the working area of cimanuk and saketi health center, pandenglang district, banten had metabolic syndrome. Chi-square test showed a statistically significant correlation between age (p value = 0.001), education (p value = 0.023), occupation (p value = 0.041), and body mass index (p value = 0.001) against metabolic syndrome. While through multivariate test, the most influential variable is body mass index (POR = 0,334). Through this research can provide information, especially the community in district cimanuk and saketi, pandeglang regency, banten in order to maintain health through healthy lifestyles, and participate in activities Posbindu and counseling conducted by health-related providers. Keywords: related factors, district health center, metabolic syndrome
Read More
S-9373
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febi Zifa Murti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Rizki Rahmawati
Abstrak:
Paparan debu yang tinggi di lingkungan kerja, terutama debu PM2,5, dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada pekerja. PT X sebagai produsen pupuk memiliki potensi paparan debu yang cukup tinggi, terutama pada tahap-tahap proses produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsentrasi paparan debu PM2,5 dengan gejala gangguan saluran pernapasan pada pekerja pabrik pupuk NPK Granulasi. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 96 responden yang tersebar di tiga pabrik, yaitu NPK II, III, dan IV. Variabel independen meliputi konsentrasi PM2,5, durasi paparan, usia, masa kerja, riwayat penyakit pernapasan, kebiasaan merokok, dan penggunaan alat pelindung diri (APD), sedangkan variabel dependen adalah gejala gangguan saluran pernapasan. Pengumpulan data dilakukan melalui dua metode, untuk konsentrasi PM2,5 diukur menggunakan alat DustTrak, sedangkan data mengenai variabel lain seperti durasi paparan, usia, masa kerja, riwayat penyakit pernapasan, kebiasaan merokok, penggunaan APD, dan gejala gangguan pernapasan diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM2,5 di ketiga pabrik melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan berdasarkan Permenkes No. 70 Tahun 2016. Selain itu, ditemukan bahwa 59,4% responden mengalami gejala gangguan saluran pernapasan, yang menandakan adanya potensi bahaya terhadap kesehatan pekerja. Namun, dari seluruh variabel yang dianalisis, hanya kebiasaan merokok yang menunjukkan hubungan yang signifikan dengan gejala gangguan saluran pernapasan (p = 0,003). Sementara itu, variabel lain seperti konsentrasi PM2,5, durasi paparan, usia, masa kerja, riwayat penyakit pernapasan, dan penggunaan APD tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan merokok merupakan faktor risiko utama yang berhubungan dengan gangguan saluran pernapasan pada pekerja. Meski demikian, fakta bahwa konsentrasi PM2,5 melebihi NAB menunjukkan bahwa lingkungan kerja tetap mengandung risiko yang perlu ditangani secara serius. Oleh karena itu, PT X perlu memperkuat upaya edukasi dan pengendalian terhadap kebiasaan merokok di lingkungan kerja. Selain itu, pemantauan rutin terhadap paparan debu PM2,5 dan pengawasan ketat terhadap kepatuhan penggunaan APD perlu terus dilakukan secara konsisten, guna mencegah risiko kesehatan lainnya.


High dust exposure in the workplace, particularly PM2.5 dust, can increase the risk of respiratory disorders among workers. PT X, as a fertilizer manufacturer, has a high potential for dust exposure, especially during several stages of the production process. This study aims to analyze the relationship between PM2.5 dust concentration and respiratory symptoms among workers at the NPK Granulation fertilizer plant. This research employed a cross-sectional design involving 96 respondents from three factories: NPK II, III, and IV. The independent variables included PM2.5 5 concentration, duration of exposure, age, length of employment, history of respiratory illness, smoking habits, and the use of personal protective equipment (PPE). The dependent variable was the presence of respiratory symptoms. Data collection was carried out using two methods: PM2.5 concentration was measured with a DustTrak device, while information on other variables including exposure duration, age, work history, respiratory illness history, smoking habits, PPE use, and respiratory symptoms was gathered through a questionnaire completed by the respondents. The results showed that PM2.5 concentrations in all three plants exceeded the Threshold Limit Value (TLV) set by the Indonesian Ministry of Health Regulation No. 70 of 2016. Furthermore, 59.4% of the respondents reported experiencing respiratory symptoms, indicating a potential health hazard for workers. However, among all the variables analyzed, only smoking habits showed a statistically significant association with respiratory symptoms (p = 0.003). Other variables, such as PM2.5 concentration, exposure duration, age, length of employment, history of respiratory illness, and use of PPE, did not demonstrate a significant statistical relationship. Based on these findings, it can be concluded that smoking habits are the primary risk factor associated with respiratory disorders among workers. Nevertheless, the fact that PM2.5 levels exceeded the TLV highlights that the work environment still poses a serious health risk. Therefore, PT X should strengthen its efforts in smoking control and education within the workplace. In addition, regular monitoring of PM2.5 dust exposure and strict supervision of PPE compliance must be consistently enforced to prevent other potential health risks.
Read More
S-12104
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratu Aam Amaliyah; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Mila Tejamaya, Noviaji Joko Priono, Rizki Ananda
Abstrak:
Pekerja di pabrik pembuatan sepatu di negara berkembang setiap hari terpapar campuran kompleks pelarut organik. Industri sepatu dalam proses produksinya menggunakan bahan kimia seperti pelarut organik, salah satunya adalah Metil etil keton (MEK). Pekerja yang terpajan pelarut organik memiliki risiko 2 kali lebih tinggi terhadap terjadinya diagnosis kesehatan neurotoksik. Gejala neurotoksik merupakan gangguan fungsional yang berdampak pada sistem saraf pusat maupun saraf tepi akibat paparan bahan kimia yang bersifat neurotoksik. Metil etil keton merupakan salah satu jenis pelarut organik yang jika terhirup, tertelan atau kontak dengan kulit dapat menyebabkan gejala neurotoksik. Penilaian pajanan bahan kimia salah satunya dapat menggunakan metode SQRA. SQRA merupakan metode sistematik dalam mengidentifikasi bahan kimia, evaluasi pajanan, menentukan tingkat risiko serta tindakan prioritas yang dilakukan saat pengendalian risiko. PT. X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi sepatu olahraga. Sebanyak 57% pekerja di departemen poly urethane PT.X terpapar MEK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian gejala neurotoksik akibat pajanan pelarut organik MEK pada pekerja industri alas kaki PT.X. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara statifikasi random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi untuk penilaian tingkat pajanan MEK dengan metode SQRA dan kuesioner Q18 Jerman untuk mengetahui keluhan gejala neurotoksik serta kuesioner untuk mengetahui variabel lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 28 responden (21,5%) mengalami gejala neurotoksik. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tingkat pajanan MEK memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian gejala neurotoksik dengan p-value 0,0001 (p<0,05).

Workers in shoe manufacturing factories in developing countries are frequently exposed to complex mixtures of organic solvents. The footwear industry uses chemical substances such as organic solvents, one of which is Methyl ethyl ketone (MEK). Workers exposed to organic solvents have a two-fold higher risk of developing neurotoxic health conditions. Neurotoxic symptoms are functional disturbances that affect both the central nervous system and peripheral nerves as a result of exposure to neurotoxic chemicals. Methyl ethyl ketone is one type of organic solvent that can induce neurotoxic symptoms when inhaled, ingested, or encounters the skin. Chemical exposure assessment can be performed using the Sequentially Quicker Risk Assessment (SQRA) method. SQRA is a systematic approach for identifying chemicals, assessing exposure, determining risk levels, and prioritizing risk control measures. PT. X is a company that produces sports shoes. Among the workers in PT. X's polyurethane department, 57% are exposed to MEK. This study aims to examine the incidence of neurotoxic symptoms caused by exposure to the organic solvent MEK among workers in the footwear industry at PT. X. The study uses a quantitative approach with a cross-sectional study design. The methodology utilized for data collection in this study involves the application of stratified random sampling. Data collection includes observation to assess the level of MEK exposure using the SQRA method, the German Q18 questionnaire to identify neurotoxic symptom complaints, and additional questionnaires to determine other variables. The findings of this study show that 28 respondents (21.5%) experience neurotoxic symptoms. The analysis also shows a significant relationship between the level of MEK exposure and the occurrence of neurotoxic symptoms, with a p-value of 0.0001 (p < 0.05).
Read More
T-6821
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive