Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Prasita Ayu Widyaningtyas; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Dumilah Ayuningtyas, Bahrul Fuad, Widha Dessy Ardiana
Abstrak: Perempuan disabilitas menjadi kelompok rentan yang dapat mengalami kekerasan seksual akibat kondisi disabilitas dan ketidaksetaraan gender yang saling beririsan. Pada tahun 2020, kekerasan pada perempuan disabilitas di Indonesia sebesar 77 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui help seeking behavior oleh perempuan disabilitas penyintas kekerasan seksual dengan menggunakan model perilaku pencarian bantuan dari Liang (2005) yang meliputi faktor individu, faktor interpersonal, faktor sosial budaya. Dimana faktor tersebut akan memengaruhi pengenalan masalah, pengambilan keputusan untuk mencari bantuan, dan pemilihan sumber dukungan. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus di lembaga X Yogyakarta dengan 4 perempuan disabilitas penyintas kekerasan seksual dan 7 informan kunci. Hasil wawancara mendalam pada mayoritas penyintas menggambarkan persepsi keliru mengenai pemahaman kekerasan seksual dimana kekerasan diartikan sebagai tindakan disertai pemukulan dan bukan pemaksaan. Penyintas memahami kekerasan seksual setelah bergabung ke komunitas disabilitas dan mengikuti pelatihan kekerasan. Semua penyintas awalnya diam dan tidak langsung memutuskan untuk mencari bantuan karena adanya budaya yang menyebutkan bahwa disabilitas adalah orang yang terpinggirkan, kekerasan dalam rumah tangga wajar, dan istri harus patuh pada suami. Sumber bantuan informal dipilih sebagai problem focused coping pada penyintas dibandingkan dengan sumber bantuan formal. Hanya sebagian penyintas yang lanjut mencari bantuan hingga ke sumber formal akibat keluarga yang mendukung atau karena dilakukan pasangan hidupnya. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pemerintah melakukan sosialisasi kepada lembaga yang menangani kasus kekerasan terkait kebijakan tentang penyandang disabilitas serta penyebaran informasi mengenai hak disabilitas, cara pelaporan, dan penanganan kasus. Bagi masyarakat, maka diperlukan sosialisasi terkait kekerasan seksual agar dapat melindungi perempuan disabilitas
Read More
T-6391
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anita Sari Tarigan; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tri Krianto, Ucup Supriatna
S-6697
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rista Yunanda; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Kartika Anggun Dimar Setio, Wahyu Septiono, Titeu Herawati, Siti Sugih Hartiningsih
Abstrak:
Kekerasan seksual pada remaja usia 13–17 tahun adalah tindakan seksual terhadap remaja yang berusia dibawah usia hukum dan belum matang secara psikososial, yang terjadi akibat eksploitasi kerentanan, dan tanpa persetujuan yang sah. Pelaporan kekerasan seksual pada remaja semakin meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti determinan kekerasan seksual pada remaja di wilayah perkotaan dan pedesaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan teori sosio-ekologi. Sumber data menggunakan data SNPHAR tahun 2021. Jumlah sampel sebanyak 4.903 remaja usia 13-17 tahun. Analisis yang digunakan adalah univariat, bivariat dan multivariabel. Temuan hasil penelitian ini menunjukan prevalensi kekerasan seksual di wilayah perkotaan sebesar 6,09% dan di pedesaan sebesar 5,84%. Determinan kekerasan seksual di perkotaan mencakup jenis kelamin (AOR: 2,57 95% CI: 1,69-3,90), sikap terhadap gender (AOR : 1,52 95%CI: 1,02-2,27), pekerjaan (AOR : 1,78 95% CI: 1,12-2,86) dan dukungan keluarga (AOR: 2,68 95%CI : 1,89-3,81). Kemudian, determinan kekerasan seksual di pedesaan mencakup disabilitas (AOR: 2,55 95%CI: 1,22-5,31), jenis kelamin (AOR: 2,35 95%CI: 1,39-3,97), dukungan keluarga (AOR: 2,56 95%CI: 1,78-3,68), pekerjaan (AOR : 1,85 95%CI : 1,13-3,01) dan paparan informasi kesehatan reproduksi (AOR: 0,54 95%CI: 0,31-0,94). Berdasarkan hasil penelitian ini maka diperlukan pencegahan primer, sekunder dan tersier agar kekerasan seksual pada remaja di Indonesia dapat ditangani.

Sexual violence against adolescents aged 13–17 years is a sexual act against adolescents who are under the legal age and psychosocially immature, which occurs as a result of exploitation of vulnerability and without true consent. Reports of sexual violence against adolescents are increasing every year. This study aims to investigate the determinants of sexual violence against adolescents in urban and rural areas of Indonesia. The study employs a socio-ecological theory. Data sources utilize the 2021 SNPHAR data. The sample size comprises 4,903 adolescents aged 13–17 years. The analyses employed include univariate, bivariate, and multivariable analyses. The findings of this study show that the prevalence of sexual violence in urban areas is 6.09% and in rural areas is 5.84%. Determinants of sexual violence in urban areas include gender (AOR: 2.57, 95% CI: 1.69-3.90), attitudes toward gender (AOR: 1.52, 95% CI: 1.02–2.27), occupation (AOR: 1.78, 95% CI: 1.12–2.86), and family support (AOR: 2.68, 95% CI: 1.89–3.81). Furthermore, determinants of sexual violence in rural areas include disability (AOR: 2.55, 95% CI: 1.22–5.31), gender (AOR: 2.35, 95% CI: 1.39–3.97), family support (AOR: 2.56, 95% CI: 1.78–3.68), occupation (AOR: 1.85, 95% CI: 1.13–3.01), and exposure to reproductive health information (AOR: 0.54, 95% CI: 0.31–0.94). Based on the results of this study, primary, secondary, and tertiary prevention measures are needed to address sexual violence among adolescents in Indonesia.
Read More
T-7243
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutiara Shinta Noviar Unicha; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Farida Utami
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Skripsi ini membahas gambaran kekerasan seksual terhadap anak perempuan di Pusat Krisis Terpadu RSUPN dr. Ciptomangunkusumo berdasar temuan dari 49 data rekam medis tahun 2016 ndash; 2017 yang dikumpulkan peneliti. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas korban berusia 6 ndash; 11 tahun 38,8 , berstatus pendidikan SD/ tamat SD, dan datang dengan permintaan visum. Jenis kekerasan seksual terhadap anak perempuan didominasi kasus pemerkosaan oleh pelaku berusia 25 ndash; 40 tahun berjenis kelamin laki ndash; laki yang dikenal dan memiliki hubungan kedekatan dengan korban, seperti tetangga, pacar, teman, guru, dan pengasuh. Mayoritas korban kekerasan seksual terhadap anak perempuan memiliki status ekonomi menengah ndash; menengah ke bawah, status perkawinan orangtua dan hubungan dengan orangtua baik tetapi kurang pengawasan. Diketahui mayoritas kemampuan sosialisasi dan kondisi psikis korban dalam kategori baik ndash; cukup. Kejadian kekerasan seksual mayoritas dilakukan di tempat privasi dan tertutup pada jam 10.01 ndash; 16.00 saat orangtua bekerja dan 16.01 ndash; 22.00 saat anak bebas bermain dan lepas dari pengawasan orangtua. Sebanyak 59,2 korban mengaku mendapatkan paksaan/ ancaman/ iming ndash; iming, unsur pornografi, dan obat/ alkohol menggunakan makanan atau minuman dari pelaku. Mayoritas korban menyatakan tidak memberi perlawanan karena adanya ancaman/ iming ndash; iming dari pelaku, atau tidak tahu hal yang ia lakukan adalah salah, atau dilakukan atas dasar suka sama suka. Diharapkan bagi orangtua melakukan upaya ndash; upaya untuk mencegah anak menjadi korban maupun mencegah kejadian kekerasan seksual terulang kembali dengan mengajarkan anak tentang batasan antara lawan jenis, menggunakan baju yang sopan dan tidak terbuka, bagian tubuh yang tidak boleh disentuh, sentuhan boleh dan sentuhan tidak boleh, cara memberi respon penolakan, perilaku seksual yang berisiko dan akibatnya, serta orangtua meningkatkan pengawasan terhadap anaknya.
 

 
ABSTRACT
 
 
This thesis discusses the description of child sexual abuse on girls in Integrated Crisis Center RSUPN dr. Ciptomangunkusumo based on the findings of 49 medical records from 2016 to 2017 collected by researcher. This research is a quantitative research with descriptive design. The results showed that the majority of victims aged 6 11 years 38.8 , in elementary school education primary school, and come with a visum request. Types of sexual abuse are dominated by rape cases by perpetrators of 25 40 year old who are known and have close relationships with victims, such as neighbors, boyfriends, friends, teachers, and caregivers. The majority of victims have lower middle to lower economic status, parental marital status and good parent relationship but lack of parental supervision. Given the majority of socialization skills and the psychological condition of the victim in either good ndash enough category. The majority of sexual abuses conducted in private place and happen at 10.01 a.m 04.00 p.m. when parents are working and 04.01 p.m. 10.00 p.m. when children are free to play out and out of parental supervision. As many as 59.2 of victims claimed to have coercion threat lure, pornography, and drugs alcohol using food or drink from the perpetrators. The majority of victims said they did not give any rejections caused by the threats lures of the perpetrators, or not knowing what she was doing was wrong, or done the sexual activity on the basis of loving each other. It is desirable for parents to make efforts to prevent children from becoming victims and prevent the occurrence of sexual abuse from recurring by teaching children about the boundaries between the opposite sex, using proper dresses, untouchable body parts, part of ldquo permitted touch rdquo and ldquo not permitted touches rdquo , how to give rejections, risky sexual behaviour and these consequences, also increase parental supervision of their children.
Read More
S-9853
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Shaffira Aulia; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Trisari Anggondowati, Syafirah Hardani
Abstrak: Latar Belakang: Kekerasan seksual merupakan salah satu masalah kesehatan  masyarakat yang berdampak pada kesehatan fisik, mental, dan sosial pada korban. Salah  satu faktor yang berkontribusi terhadap keberlangsungan kekerasan seksual adalah rape  myth acceptance (RMA), yaitu penerimaan terhadap keyakinan yang menyalahkan  korban, membenarkan tindakan pelaku, atau meminimalkan terjadinya kekerasan seksual.  Penelitian mengenai RMA pada mahasiswa kesehatan masyarakat di Indonesia masih  terbatas, padahal kelompok ini merupakan calon tenaga kesehatan masyarakat yang  berperan dalam upaya promotif, preventif, dan edukasi terkait pencegahan kekerasan  seksual. Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan mengenai kekerasan seksual dan tingkat  rape myth acceptance pada mahasiswa aktif S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat  Universitas Indonesia tahun ajaran 2025/2026. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak  305 responden dipilih menggunakan teknik convenience sampling dan mengisi kuesioner  daring pada April 2026. Pengetahuan mengenai kekerasan seksual diukur menggunakan  kuesioner yang dikembangkan peneliti, sedangkan rape myth acceptance diukur  menggunakan Updated Illinois Rape Myth Acceptance Scale (uIRMA) versi 22 item  dengan rentang skor teoretis 22-110. Analisis data dilakukan secara deskriptif  menggunakan distribusi frekuensi, rerata, median, dan simpangan baku.. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai  kekerasan seksual (74,1%). Meskipun demikian, masih ditemukan kesenjangan  pengetahuan mengenai marital rape serta pelecehan seksual verbal dan digital. Rerata  skor rape myth acceptance sebesar 43,27 dari rentang skor teoretis 22-110, yang  menunjukkan tingkat rape myth acceptance relatif rendah. Dimensi He Didn't Mean To memiliki rerata skor tertinggi, sedangkan dimensi It Wasn't Really Rape memiliki rerata  skor terendah. Kesimpulan: Mahasiswa S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas  Indonesia memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai kekerasan seksual dan  tingkat rape myth acceptance yang relatif di bawah nilai tengah teoretis (55). Meskipun  demikian, masih terdapat bentuk mitos tertentu yang berkaitan dengan minimisasi  tanggung jawab pelaku serta kesenjangan pengetahuan mengenai beberapa bentuk  kekerasan seksual. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan edukasi mengenai  kekerasan seksual yang secara eksplisit membahas konsep persetujuan (consent),  perspektif kekerasan berbasis gender, dan pembongkaran mitos pemerkosaan di  lingkungan perguruan tinggi.
Background: Sexual violence is a major public health issue with significant physical,  psychological, social, and reproductive health consequences for survivors. One factor  contributing to its persistence is rape myth acceptance (RMA), which refers to beliefs  that blame victims, excuse perpetrators, or minimize acts of sexual violence. Research  examining RMA among public health students in Indonesia remains limited, despite their  future role in health promotion, prevention, and education related to sexual violence. Objective: To describe knowledge of sexual violence and the level of rape myth  acceptance among undergraduate students of the Faculty of Public Health, Universitas  Indonesia, in the 2025/2026 academic year. Methods: A descriptive quantitative study with a cross-sectional design was conducted  among 305 respondents recruited through convenience sampling. Data were collected  using an online questionnaire in April 2026. Knowledge of sexual violence was assessed  using a researcher-developed questionnaire, while rape myth acceptance was measured  using the 22-item Updated Illinois Rape Myth Acceptance Scale (uIRMA), with a  theoretical score range of 22 to 110. Data were analyzed descriptively using frequency  distributions, means, medians, and standard deviations. Results: Most respondents demonstrated good knowledge of sexual violence (74.1%).  However, gaps in understanding remained regarding marital rape and verbal and digital  sexual harassment. The mean RMA score was 43.27 out of a theoretical range of 22 to  110, indicating a relatively low level of rape myth acceptance. The highest mean score  was observed in the He Didn't Mean To dimension, whereas the lowest was found in the  It Wasn't Really Rape dimension. Conclusion: Undergraduate students of the Faculty of Public Health, Universitas  Indonesia demonstrated good knowledge of sexual violence and a relatively low level of rape myth acceptance. Nevertheless, misconceptions related to minimizing perpetrator  responsibility and gaps in understanding certain forms of sexual violence remain. These  findings highlight the importance of strengthening university-based education that  explicitly addresses consent, gender-based violence, and the deconstruction of rape  myths.
Read More
S-12465
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asri Masitha Arsyati; Promotor: Hadi Pratomo; Kopromotor: Raden Irawati, Sabarinah B Prasetyo; Penguji: Purnawan Junadi, Rita Damayanti, Bambang Setiaji, Dian Ayubi, Titik Haryati
Abstrak: Indonesia menjadi darurat kejahatan seksual anak dalam 4 tahun terakhir. Jumlah kasus setiap tahunnya menunjukan peningkatan dengan tren semakin dini usia korban yang meninggal akibat kejahatan seksual bayi dan balita (KPAI,2014). Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model intervensi pendidikan kesehatan bagi ibu balita melalui kader posyandu dalam pencegahan kekerasan seksual balita. Desain penelitian ini eksperimen semu dengan 3 kelompok yatu intervensi model individu, intervensi model kelompok dan kelompok kontrol. Penelitian dilaksanakan di 3 Kecamatan Kota Bogor yaitu Kecamatan Bogor Utara dan Bogor Timur sebagai wilayah intervensi dan Kecamatan Bogor Tengah sebagai kontrol. Penelitian dibagi menjadi dua tahap yaitu pengembangan media 6 bulan dan intervensi 6 bulan. Pengukuran terhadap pengetahuan, sikap dan praktik ibu balita diukur sebanyak 4 kali yaitu sebelum intervensi dan 3 kali setelah intervensi selama 4 bulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa intervensi pendidikan kesehatan pencegahan kekerasan seksual anak di posyandu dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik kader dan ibu balita baik dengan model pendidikan individu maupun kelompok. Metode pendidikan individu terbukti meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik ibu balita lebih tinggi di bandingkan metode kelompok pada bulan pertama intervensi. Media buklet merupakan media yang paling mudah dipahami dan paling sering dimanfaatkan ibu balita dibandingkan media poster dan lembar balik. Model intervensi ini diharapkan dapat diaplikasikan dalam program Kementrian Kesehatan dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan anak serta Komisi Perlindungan Anak dalam koordianasi upaya pencegahan, pelaporan dan pengobatan korban.
 

Sexual abuse among children in Indonesia is worrying within the last 4 years where the number of cases increased each year. In addition, its trend increasingly occurred among early ages (KPAI,2014). This study aimed to develop the intervention model of health behavior for mothers with children under five (CU5) through Posyandu cadre in preventing child sexual abuse. The study design used quasy-experiment among three group; group of individual intervention model, group intervention model, and control group. The study was conducted in three different sub-districts in Bogor City ; North Bogor and East Bogor as intervention group, and Central Bogor as control group; and consisted of two phases; media development and intervention in 12 months. Knowledge, attitude, and practice (KAP) of mothers with CU5 were measured 4 times before the intervention and 3 times after the intervention within four months. The result showed that the intervention of sexual child abuse education in Posyandu cadre escalated KAP in both group and individual intervention as well. The individual intervention increased KAP higher than group intervention. Booklet was more understandable and commonly used ineducating than poster or flipchart. This study expects the model is possibly implemented as a formal program of Ministry of Health, Ministry of women and children empowerment and Child Protection Commisionare in preventing, reporting and recovering child sexual abuse.
Read More
D-336
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Dyah Kartika Sari; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Evi Martha, Anggi Osyka, Nanang Aminudin Rachman
Abstrak:
Kekerasan seksual pada anak merupakan silent health emergency yang mempengaruhi status kesehatan dan kesejahteraan anak sepanjang hidupnya. Berdasarkan data SIMFONI PPA pada tahun 2023, kasus kekerasan seksual di Indonesia tahun 2019 hingga 2023 terus mengalami peningkatan dan lebih dari 30% terjadi pada anak usia 13 – 17 tahun. Anak di bawah 17 tahun memiliki kerentanan dasar, namun status disabilitas membuat anak menjadi 2-4 kali lebih berisiko mengalami kekerasan seksual dibandingkan dengan anak tanpa disabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berkontribusi pada kejadian kekerasan seksual pada anak dengan disabilitas usia 13 – 17 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan kerangka Teori Dependensi Ganda yang menganalisis faktor internal (jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengetahuan kesehatan reproduksi, dan status pekerjaan) dan faktor eksternal (tingkat ekonomi, keberadaan orang tua kandung, tempat tinggal, status pasangan, dukungan keluarga, dan dukungan teman) terhadap kekerasan seksual pada anak dengan disabilitas berusia 13 – 17 tahun. Penelitian ini menggunakan data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) di Indonesia pada tahun 2021 dengan desain studi potong lintang dan sampel sebanyak 1.213 anak disabilitas berusia 13 – 17 tahun, yang dianalisis menggunakan uji regresi logistik. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 13,4% anak disabilitas mengalami kekerasan seksual, dengan 72,4% merupakan kekerasan seksual kontak dan 42,9% adalah kekerasan seksual non-kontak. Faktor yang berkontribusi pada kekerasan terhadap anak adalah jenis kelamin (aOR: 1,50; 95% CI: 1,04-2,13), status pasangan (aOR: 1,98; 95% CI: 1,41-2,78) yang merupakan faktor dominan, dan dukungan keluarga (aOR: 1,73; 95% CI: 1,23-2,43). Anak disabilitas yang memiliki pasangan hampir 2 kali lebih berisiko mengalami kekerasan seksual dibandingkan anak disabilitas yang tidak memiliki pasangan, setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan dukungan keluarga. Diperlukan peningkatan kesadaran, penguatan intervensi, dan deteksi dini dalam pencegahan kekerasan seksual terhadap anak dengan disabilitas.

Sexual violence against children is a silent health emergency that affects the health and well-being of children throughout their lives. According to SIMFONI PPA data in 2023, cases of sexual violence in Indonesia from 2019 to 2023 have continued to increase, with more than 30% occurring in children aged 13-17 years. Children under 17 have inherent vulnerabilities, but having a disability makes them 2-4 times more likely to experience sexual violence compared to children without disabilities. This study aimed to analyze the factors contributing to the occurrence of sexual violence in children with disabilities aged 13-17 years in Indonesia. This study used the Double Dependency Theory framework to analyze internal factors (gender, education level, reproductive health knowledge, and employment status) and external factors (economic level, presence of biological parents, place of residence, relationship status, family support, and peer support) affecting sexual violence in children with disabilities aged 13-17 years. This study used data from the 2021 National Survey of Children's and Adolescents' Life Experiences (SNPHAR) in Indonesia with a cross-sectional study design and a sample of 1,213 children with disabilities aged 13-17 years, analyzed using logistic regression tests. Results of this study indicated that 13.4% of children with disabilities experience sexual violence, with 72.4% being contact sexual violence and 42.9% being non-contact sexual violence. Factors contributing to violence against children include gender (aOR: 1.50; 95% CI: 1.04-2.13), relationship status (aOR: 1.98; 95% CI: 1.41-2.78), which is a dominant factor, and family support (aOR: 1.73; 95% CI: 1.23-2.43). Children with disabilities who have partners are almost twice as likely to experience sexual violence compared to children with disabilities who do not have partners, after controlling for gender and family support. Increased awareness, strengthened interventions, and early detection are needed to prevent sexual violence against children with disabilities.
Read More
T-6978
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wina Al Syifa; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dian Ayubi, Rita Damayanti, Mimi Mariani Lusli, Noridha Weningsari
Abstrak:
Perempuan disabilitas merupakan kelompok yang rentan untuk mengalami kekerasan seksual akibat kondisi disabilitas dan stigma di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stigma dan coping strategy perempuan disabilitas penyintas kekerasan seksual di ranah personal dengan menggunakan Transactional Stress and Coping Model Lazarus & Folkman (1984) di HWDI Jakarta tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, desain studi kasus pada 4 orang perempuan disabilitas penyintas kekerasan seksual dan 8 informan kunci dari keluarga penyintas, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, UPT Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta serta konselor HWDI Jakarta. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dilakukan pada bulan Mei-Juli 2023 dan dianalisis secara konten. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas penyintas merasa tidak berdaya, tidak berharga, tidak percaya diri, menarik diri dari lingkungan hingga berpikir untuk bunuh diri. Meski telah mengantisipasi stigma dengan menyembunyikan kekerasan seksual yang dialami, semua penyintas tetap menerima stigma hingga diskriminasi karena kekerasan dan kondisi disabilitas yang dialami. Mayoritas penyintas mendapatkan dukungan keluarga dan komunitas. Pada jenis problem-foused coping, umumnya penyintas mencari bantuan ke keluarga dan/atau profesional, sedangkan emotion-focused coping, mayoritas penyintas berolahraga dan beribadah untuk mengelola emosi, hanya sebagian penyintas mengembangkan humor dan pemaknaan positif. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan sosialisasi kepada lembaga yang menangani kasus kekerasan terkait kebijakan dan hak disabilitas, cara pelaporan dan penanganan kasus. Sosialisasi kepada masyarakat terkait stigma dan kekerasan seksual diperlukan untuk melindungi dan memenuhi hak perempuan disabilitas.

Women with disabilities are one amongst the groups who are vulnerable to become the target of sexual violence due to their condition and stigma from the public. This research aims to uncover the stigma and coping strategy of women with disabilities who survived personal sexual violence using the Transactional Stress and Coping Model proposed by Lazarus & Folkman (1984) at Indonesian Women with Disabilities Organization (HWDI) Jakarta in 2023. This research uses a qualitative approach with a study case design on 4 women with disabilities who survived sexual violence and 8 key informants which consists of the survivors' families, Jakarta Health Agency, Technical Implementation Unit (UPT) of the Women and Children Protection Centre in Jakarta as well as the counselor of HWDI Jakarta. The data are collected through in-depth interview which was conducted in May-July 2023 and are being analyzed using content analysis. The result shows that the majority of the survivors feel a sense of helplessness, unworthiness, lack of self confidence, forfeit themselves from the society to the extent of even having suicidal thoughts. Even after anticipating the stigma by hiding the sexual violence they have experienced, all of the survivors still received the stigma and discrimination due to the violence and disability condition that they are in. The majority of the survivors received support from their families and community. On the problem-focused coping type, the survivors are generally seeking help to their families and/or professionals, while on the emotion-focused coping, the majority of the survivors do exercises and pray to process their emotions, only a number of survivors develop a sense of humor and positive mindset. Therefore, the government needs to provide and hold socialization to agencies that handle violence concerning the policy and the rights of people with disabilities, how to report and handle cases regarding the issue. Socialization to the public about stigma and sexual violence is also urgent in order to protect and fulfill the rights of women with disabilities
Read More
T-6807
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Nur Fadhillah; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, Tri Krianto , Dody Taruna Dwiputra, Nurhayati
Abstrak:
Kekerasan seksual di kalangan remaja merupakan dampak serius bagi kesehatan mental, fisik, dan reproduksi. Data mengenai kekerasan seksual di Wilayah Administrasi Jakarta Timur menunjukkan tren yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Upaya  peningkatan langkah pencegahan terhadap kekerasan seksual di kalangan remaja merupakan tonggak penting dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak dan mengurangi angka kejadian kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan kekerasan seksual remaja di Kota Administrasi Jakarta Timur tahun 2026 berdasarkan pendekatan Model Ekologi-Sosial. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional dengan melibatkan 120 remaja 13 – 17 tahun. Pengisian data dilakukan secara mandiri menggunakan Google Forms dengan pendampingan. Analisis data mencakup uji multivariabel (regresi logistik berganda). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rerata perilaku pencegahan kekerasan seksual remaja sebesar 77,37 (dalam skala 100). Sebanyak 14,2% remaja melaporkan pernah mengalami kekerasan seksual dengan bentuk paling dominan berupa pelecehan verbal sebanyak 50%. Analisis multivariabel menunjukkan sikap, dukungan orang tua, dan paparan media (konten seksual eksplisit dan kekerasan seksual) berhubungan signifikan dengan perilaku pencegahan kekerasan seksual remaja. Dukungan orang tua menjadi faktor paling dominan yang berhubungan dengan perilaku pencegahan kekerasan seksual remaja. Secara spesifik, remaja yang mendapatkan dukungan orang tua yang baik memiliki peluang 6,23 kali untuk memiliki perilaku yang baik dibandingkan dengan remaja yang kurang mendapatkan dukungan orang tua.

Sexual violence among adolescents has serious consequences for mental, physical, and reproductive health. Data on sexual violence in the East Jakarta Administrative Region show a steadily increasing trend in recent years. Efforts to strengthen preventive measures against sexual violence among adolescents are a crucial step toward creating a child-friendly environment and reducing the incidence of sexual violence. This study aims to identify factors associated with sexual violence prevention behaviors among adolescents in the Jakarta Timur Administrative City in 2026 based on the Social-Ecological Model approach. This quantitative study used a cross-sectional design involving 120 adolescents aged 13–17 years. Data collection was conducted independently using Google Forms with supervision. Data analysis included multivariate testing (multiple logistic regression). The results of the study show that the average score for adolescents’ sexual violence prevention behaviors was 77.37 (on a scale of 100). A total of 14.2% of adolescents reported having experienced sexual violence, with verbal abuse being the most prevalent form at 50%. Multivariate analysis indicates that attitudes, parental support, and media exposure Sexually Explicit Media/Sexually Violent Media were significantly associated with adolescents’ sexual violence prevention behaviors. Parental support is the most dominant factor associated with adolescents’ sexual violence prevention behaviors. Specifically, adolescents who receive good parental support are 6.23 times more likely to exhibit good behaviors compared to adolescents who receive less parental support.
Read More
T-7561
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fentia Budiman; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Sabarinah, Kusuma Dini
Abstrak:
Kekerasan seksual merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak pada kondisi fisik, psikologis, sosial, dan kualitas hidup penyintas. Pemerintah Indonesia telah menetapkan berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, sebagai dasar penyelenggaraan perlindungan dan pelayanan bagi penyintas. Namun, implementasi regulasi di Provinsi Maluku Utara masih menghadapi berbagai tantangan akibat karakteristik wilayah kepulauan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor input, proses, dan output dalam implementasi regulasi penanganan penyintas kekerasan seksual di Provinsi Maluku Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive sebanyak 15 orang yang terdiri atas unsur DP3A, Dinas Kesehatan, UPTD PPA, fasilitas pelayanan kesehatan, Kepolisian, lembaga bantuan hukum/organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan penyintas kekerasan seksual. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis secara tematik menggunakan NVivo dengan triangulasi sumber, metode, dan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor input telah mendukung implementasi regulasi melalui tersedianya regulasi, program, pedoman teknis, SOP, kelembagaan, dan sumber daya, meskipun masih terdapat keterbatasan SDM, pendanaan, dan sarana prasarana. Faktor proses telah berjalan melalui komunikasi, koordinasi lintas sektor, mekanisme pelayanan, sistem rujukan, serta monitoring dan evaluasi, namun belum optimal akibat kondisi geografis dan koordinasi antarinstansi. Faktor output menunjukkan adanya peningkatan keterlaksanaan layanan, aksesibilitas, kualitas pelayanan, dan pengalaman positif penyintas, meskipun pemerataan layanan di wilayah kepulauan masih menjadi tantangan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi regulasi di Provinsi Maluku Utara telah berjalan, tetapi efektivitasnya masih memerlukan penguatan kapasitas kelembagaan, pemerataan sumber daya, koordinasi lintas sektor, serta pengembangan layanan yang mampu menjangkau wilayah kepulauan.

Sexual violence is a public health issue that has significant physical, psychological, social, and quality-of-life impacts on survivors. The Government of Indonesia has enacted several regulations, including Law Number 12 of 2022 on the Crime of Sexual Violence, as the legal foundation for providing protection and services to survivors. However, the implementation of these regulations in North Maluku Province continues to face various challenges due to its archipelagic geographical characteristics. This study aimed to analyze the input, process, and output factors influencing the implementation of regulations for the management of sexual violence survivors in North Maluku Province. This study employed a qualitative approach with a case study design. Fifteen informants were purposively selected, comprising representatives from the Provincial Office of Women's Empowerment and Child Protection, the Provincial Health Office, the Regional Technical Implementation Unit for Women's and Children's Protection (UPTD PPA), health service facilities, the Indonesian National Police, legal aid institutions/civil society organizations, academics, and survivors of sexual violence. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document reviews, and analyzed using thematic analysis supported by NVivo software with source, method, and document triangulation. The findings indicate that input factors supported regulatory implementation through the availability of regulations, supporting programs, technical guidelines, standard operating procedures, institutional arrangements, and resources, although limitations in human resources, funding, and infrastructure remain. Process factors were reflected in communication, cross-sectoral coordination, service mechanisms, referral systems, and monitoring and evaluation; however, their effectiveness was constrained by geographical conditions and interagency coordination. Output factors demonstrated improvements in service implementation, accessibility, service quality, and survivors' experiences, although equitable service provision across the archipelagic areas remains a challenge. This study concludes that the implementation of regulations in North Maluku Province has been carried out; however, its effectiveness requires strengthening institutional capacity, equitable resource distribution, enhanced cross-sectoral coordination, and the development of accessible services capable of reaching remote island communities.
Read More
T-7694
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive