Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Legina Anggraeni; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Tiara Amelia, Nida Rohmawati, Dini Dachlia
Abstrak: Abstrak
Doula adalah seseorang yang terlatih dan tersertifikasi untuk melakukan pendampingan kepada ibu selama hamil, bersalin dan pasca persalinan. Doula memberikan dukungan kepada ibu dengan tujuan agar ibu siap secara fisik dan psikologis dalam menghadapi kehamilan dan persalinannya kelak. Salah satu manfaat penggunaan jasa doula adalah meningkatkan akses pelayanan kesehatan. Angka bersalin oleh dukun di beberapa wilayah Kota Bogor masih cukup tinggi. Diharapkan dengan adanya adaptasi konsep doula (pendamping persalinan) di Kota Bogor dapat meningkatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahi dukungan yang doula berikan kepda ibu selama proses pendampingan dan membandingkannya dengan program penyelamatan maternal (motivator KIA) di Kota Bogor. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam. Informan pada penelitian ini adalah doula, penyedia jasa doula, ibu hamil dan suami yang menggunakan jasa doula yang ada di wilayah Jakarta. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat,Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Kota Bogor, Bidan Koordinator PONED Puskesmas Cipaku, kader dan dukun bayi (paraji) yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cipaku.
 
Hasil penelitian ini menunjukan dukungan yang diberikan doula kepada kliennya meliputi pemberian motivasi, afirmasi (sugesti) positif, pemberian pujian, dukungan jasa, waktu, menyusun brith plan, pemenuhan nutrisi, aktivitas fisik dan melakukan disukusi bersama. Perbedaan antara konsep dukungan doula dengan program penyelamatan ibu (motivator KIA) hanyalah pada segi dukungan secara mental dan psikologis. SDM yang tepat untuk melakukan program pendampingan persalinan di Kota Bogor adalah kader dan dukun paraji, sedangkan uang transport yang diberikan dapat dialokasikan dari APBD dan BOK.
 

Doula is a trained and certified person to assist mother during pregnancy, childbirth and postpartum. Doula provides support to the mother with the aim that mothers are physically and psychologically ready in the face of pregnancy and childbirth someday. One of the benefits of using doula services is improving access to health services. Birth rate by shamans (paraji) in some areas of Bogor is still quite high. It is expected that with the adaptation of doula concept (birth attendant) in Bogor City can increase the coverage of delivery by health personnel.
 
This study aims to find out the support that doula give kepda mother during the mentoring process and compare it with the program of maternal rescue (motivator KIA) in the city of Bogor. This research method using qualitative approach with data collection through observation and in-depth interview. Informants in this study were doula, doula service providers, pregnant women and husbands using doula services in the Jakarta area. Head of Public Health Section, Head of Family Health Section of Bogor, Midwife Coordinator of PONED, cadre and shamans "paraji" in Cipaku Public Health Service.
 
The results of this study show that the support given by the doula to the client includes motivation, positive affirmation, praise, service support, time, brith plan, nutritional fulfillment, physical activity and joint engagement. The difference between the concept of doula support and the mother's rescue program (maternal and child health motivator) is only in terms of mental and psychological support. The right human resources to conduct mentoring programs in Bogor are cadres and paraji shamans, whereas the given transport money can be allocated from APBD and BOK.
Read More
T-5403
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilinna; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Endang Sri Wahyuningsih
Abstrak: Penderita skizofrenia yang tidak patuh pada pengobatan akan memiliki risiko kekambuhan yang lebih tinggi. Menurut hasil Riskesdas 2018, penderita skizofrenia yang meminum obat secara rutin hanya sebesar 48,9%. Salah satu penyebab penderita skizofrenia tidak rutin meminum obat adalah tidak berobat rutin. Di Provinsi DKI Jakarta angka penderita skizofrenia tertinggi terdapat pada Kota Administrasi Jakarta Timur. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kepatuhan berobat pasien skizofrenia di Puskesmas berdasarkan karakteristik pasien dan pendamping berobat. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dan menggunakan data sekunder dari Laporan Penemuan dan Pemantauan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat. Sampel dalam penelitian ini adalah 474 pasien skizofrenia yang berobat selama 1 tahun atau lebih di Puskesmas wilayah kerja Kota Adminstrasi Jakarta Timur tahun 2018 dan memiliki data lengkap. Hasil dari penelitian ini adalah pasien skizofrenia yang patuh berobat sebanyak 303 responden (63,9%), usia ≤40 tahun (62,7%), jenis kelamin laki-laki (62,4%), tingkat pendidikan tinggi (59,9%), status pekerjaan pasien skizofrenia yang tidak bekerja (82,5%), lama sakit ≤ 10 tahun (74,9%), pasien skizofrenia yang memiliki pendamping untuk berobat (58,6%). Menurut hasil bivariat bahwa tidak ada perbedaan kepatuhan berobat berdasarkan usia (PR=1,046; CI=0,907-1,205), jenis kelamin (PR=1,061; CI=0,925-1,216), tingkat pendidikan (PR=1,006; CI=0,876-1,155), status pekerjaan (PR=1,139; CI=0,973-1,333), dan lama sakit (PR=0,919; CI=0,793-1.064) secara statistik dan ada perbedaan kepatuhan berobat berdasarkan pendamping berobat (PR=0,854; CI=0,748-0,976). Oleh karena itu, penyebab dari ketidak patuhan berobat pada pasien skizofrenia penting diketahui sebagai upaya peningkatan pengobatan secara rutin.
Read More
S-10120
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Silvia Sagita; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Lucia Sri Rejeki, Sidayu Ariteja
Abstrak:
Stunting merupakan tantangan fundamental dalam perkembangan manusia. Sebanyak 149.2 juta balita di dunia (22%) mengalami stunting pada tahun 2020. Prevalensi stunting di Indonesia yaitu 24,4% pada tahun 2021 dan masih lebih tinggi dari rata-rata global. Periode pemberian MPASI sejak usia 6 hingga 23 bulan adalah waktu puncak insiden gangguan pertumbuhan, defisiensi mikronutrien dan penyakit menular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak praktik pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) terhadap kejadian stunting pada anak usia bawah dua tahun (Baduta) di Indonesia sebelum dan pada masa Pandemi Covid-19. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional dengan menggunakan data sekunder Baseline National tahun 2017 dan Program Review tahun 2021 Wahana Visi Indonesia. Lokasi penelitian yaitu di 11 Kabupaten/kota di Indonesia. Analisis data yang di gunakan dalam penelitian ini antara lain analisis univariat, bivariat dan multivariat regresi logistik berganda. Kejadian stunting baduta di Indonesia di masa pandemi tidak mengalami perbedaan atau penurunan yang signifikan dibandingkan pada masa sebelum pandemi. Praktik MPASI, yaitu variasi makanan mengalami perbaikan di masa pandemi namun tidak pada frekuensi makan. Variasi dan frekuensi makan tidak berhubungan dengan kejadian stunting baduta di masa pandemi, namun frekuensi makan signifikan berhubungan dengan kejadian stunting pada masa sebelum pandemi. Variabel jenis kelamin, usia anak, pemberian ASI dan sanitasi berhubungan dengan kejadian stunting baduta dan merupakan confounding hubungan praktik MPASI dengan kejadian stunting baduta pada masa sebelum pandemi. Usia anak merupakan satu-satunya faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting baduta di masa pandemi. Intervensi program belum dapat menurunkan prevalensi stunting secara signifikan namun sudah menunjukkan dampak pada praktik pemberian MPASI baduta. Sehingga dibutuhkan durasi intervensi program yang lebih panjang dan secara komprehensif menyasar periode 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak di dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun, serta melibatkan wanita usia subur, ibu hamil serta orang tua/ pengasuh baduta.

Stunting is a fundamental challenge in human development. A total of 149.2 million children under five in the world (22%) were stunted in 2020. The average stunting prevalence in Indonesia is 24,4% and still higher than the global average. The period of giving complementary foods from 6 to 23 months of age is the peak time of the incidence of growth disorders, micronutrient deficiencies and infectious diseases. This study aims to determine the impact of Infant and Young Child Feeding (IYCF) practice on the incidence of stunting in children under two years of age (Baduta) in Indonesia before and during the Covid-19 pandemic. The study uses using secondary data from National Baseline 2017 and Program Review 2021 Wahana Visi Indonesia with a Cross Sectional design. The research locations are in 11 regencies/cities in Indonesia. Data analysis used in this study included univariate, bivariate and multivariate multiple logistic regression analysis. Prevalence of stunting in children under two in Indonesia during the pandemic did not show a significant difference or decrease compared to the pre-pandemic period. The IYCF practice, namely Minimum Dietary Diversity (MDD) has improved during the pandemic but not the Minimum Meal Frequency (MMF). MDD and MMF was not related to stunting in children during pandemic, but the MMF was significantly related to stunting in the pre-pandemic period. The variables of gender, child's age, breastfeeding and sanitation are related to stunting and are a confounding of the relationship between complementary feeding practices and stunting during the pre-pandemic period. The age of the child is the only factor related to stunting in children during pandemic. Program interventions have not been able to significantly reduce the prevalence of stunting, but have shown an impact on the practice of providing complementary feeding for children. So that a longer duration of program intervention is needed and comprehensively targets the period of the first 1000 days of life, since in the womb until the child is two years old, also involving women of childbearing age, pregnant women and parents/caregivers of children under two years old.
Read More
T-6574
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nia Pratiwi; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Triyanti, Trini Sudiarti, Dyah Santi Puspitasari, Fajrinayati
Abstrak: Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dan memiliki efek jangka panjang pada individu dan masyarakat, termasuk berkurangnya perkembangan kognitif dan fisik, berkurangnya kapasitas produktif dan kesehatan yang buruk dan meningkatnya penyakit degenerative. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktorfaktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Sukadana Kabupaten Lampung Timur tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dengan jumlah sampel 165 anak yang diambil secara simple random sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2019 pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada anak usia 24-59 bulan sebesar 26,1%. Variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting yaitu riwayat pemberian ASI Eksklusif dan riwayat pemberian MP ASI setelah dikontrol variabel berat lahir, panjang badan lahir, riwayat pemberian kapsul vitamin A dan penyapihan. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian stunting adalah riwayat pemberian MP ASI. Oleh karena itu, perlu dilakukan pencegahan stunting dengan memperhatikan praktik PMBA yang sesuai dan dilakukan penanggulangan stunting dengan melakukan perbaikan gizi tidak hanya pada anak usia 0-23 bulan tetapi juga usia 24-59 bulan. Kata kunci: Stunting, Makanan Pendamping ASI, Anak Usia 24-59 bulan
Read More
T-5528
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puri Kresna Wati; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Evi Martha, Hasnerita, Hainun Nisa
Abstrak: Persalinan merupakan suatu peristiwa yang dapat meningkatkan terjadinya kecemasan pada ibu bersalin, dibutuhkan peran suami sebagai pendamping persalinan. Suami sebagai pendamping persalinan dapat memberikan dukungan fisik, emosional, ataupun advokasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pendampingan persalinan oleh suami di Tiga Puskesmas Kota Bekasi tahun 2017. Penelitian menggunakan desain cross sectional pada 203 suami dari ibu nifas sebagai sampel yang diambil secara simple random sampling. Data dikumpulkan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner yang telah di uji coba, dengan dianalisis menggunakan uji regresi logistic ganda. Hasil penelitian menunjukan suami yang melakukan pendampingan sebesar 66%. Pengetahuan, Sikap dan KIH berhubungan dengan pendampingan persalinan. Pengetahuan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan pendampingan persalinan oleh suami. Suami yang mempunyai pengetahuan sedang berpeluang hampir 11 kali untuk mendampingi persalinan istrinya, dibanding dengan yang berpengetahuan rendah sedangkan suami yang mempunyai pengetahuan tinggi berpeluang hampir 4 kali untuk mendampingi istrinya saat bersalin dibanding dengan yang berpengetahuan kurang setelah dikontrol keikutsertaan kelas ibu hamil (KIH) dan dukungan tenaga kesehatan Kata Kunci : Pendamping, Pendampingan Persalinan, Suami, Persalinan Childbirth is an event that be able to increase the occurrence of anxiety in maternal mothers, it takes the role of the husband as a companion delivery. Husband as a companion of labor can provide physical support, emotional, or advocacy. The purpose of this research is to know the factors related to the accompaniment of maternity delivery by husband in Three Public Health Centers of Bekasi City in 2017. The design was used is cross sectional, the total sample are 203 husbands of postpartum mothers in three public health centers of Bekasi, and the Sampling by random sampling design. Data were collected by interview method using questionnaires that have been tested, with analyzed using multiple logistic regression test. The results are showed that the husbands who accompanied are 66%. Knowledge, Attitude and KIH are related to the accompaniment of childbirth. Knowledge is the dominant factor associated with the accompaniment of childbirth by the husband. The Knowledgeable husbands were nearly 11 times more likely to accompany their wives' births than those with less knowledge after being controlled for the participation of pregnant women's classes (KIH) and support of health workers. This research is needed to provide information about maternity care and more involving husband in KIH. Keyword: Companion, Companionship during childbirth, Husband, Childbirth
Read More
T-4997
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanien Indriani; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Krisnawati Bantas, Mondastri Korib Sudaryo, Husein Habsyi
Abstrak: 2017 mengalami peningkatan 5x lipat dibanding tahun 2016. Jumlah WUS dengan IVA positif pada tahun yang sama juga mengalami peningkatan 2x lipat dibanding tahun sebelumnya. Sampai dengan tahun 2018 WUS dengan IVA positif di Kota Tegal dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan dan pengobatan. Terjadi lost of follow up terhadap WUS yang dirujuk tersebut sehingga lesi pra kanker pada diagnosis awal tidak dapat dievaluasi perkembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan WUS dengan IVA positif terhadap prosedur lanjutan pada Program Deteksi Dini Kanker Serviks Kota Tegal tahun 2017- 2018 dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan RAP(Rapid Assessment Procedure) dengan metode pengumpulan informasi melalui wawancara mendalam pada 35 WUS dengan IVA positif, 29 suami WUS tersebut, 8 petugas IVA puskesmas, 3 petugas rumah sakit. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat 74,3% WUS dengan IVA positif yang patuh terhadap rujukan. WUS yang mempunyai keluhan di awal cenderung lebih patuh terhadap prosedur rujukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan WUS dalam prosedur pemeriksaan ulang 6 bulan pasca terapi atau 1 tahun pada WUS yang menolak rujukan antara lain tidak adanya keluhan, tidak tahu tentang prosedur pemeriksaan ulang, waktu, trauma terhadap pemeriksaan sebelumnya, preferensi tenaga pemeriksa, dilarang suami dan repot anak. Lost of follow up WUS dengan IVA positif pasca rujukan disebabkan tidak adanya rujukan balik dari rumah sakit dan tidak adanya pendampingan rujukan dari puskesmas. Kesimpulannya adalah bahwa kepatuhan WUS dengan IVA positif terhadap prosedur lanjutan dipengaruhi oleh motivasi, pengetahuan, persepsi relevansi, norma subyektif dan self efficacy WUS tersebut. Perbaikan sistem rujukan, koordinasi dengan rumah sakit rujukan sampai pada level pelaksana dan pemantapan program IVA dan krioterapi dengan single visit approach diharapkan dapat meminimalisir lost of follow up WUS dengan IVA positif
Read More
T-5756
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Aulia Aminudin; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Dwi Susanti
Abstrak:
Pemberian makanan pada bayi dan anak merupakan kunci utama dalam mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak yang sehat. Keragaman Makanan Pendamping ASI (MPASI) menjadi salah satu indikator dalam menilai kecukupan gizi bayi 6-23 bulan. Praktik pemberian MPASI beragam ini melibatkan peran besar orang tua/pengasuh. Namun, jika pengetahuan tidak memadai, kurangnya waktu, dan terbatasnya peran orang tua maka pemberian MPASI beragam tidak akan optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan praktik pemberian MPASI beragam pada bayi usia 6-23 bulan di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 105 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan persentase bayi 6-23 bulan di Desa Cibokor yang mendapatkan MPASI beragam yaitu 68,6%. Uji regresi logistik ganda menunjukkan pengetahuan ibu dengan praktik pemberian MPASI beragam pada bayi 6-23 bulan berhubungan signifikan secara statistik setelah dikontrol variabel kunjungan ANC (AOR=5,688; 95% CI: 2,135-15,155). Temuan ini menunjukkan bahwa pelayanan ANC berfungsi secara efektif sehingga Puskesmas dapat lebih meningkatkan edukasi tentang Praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), khususnya mengenai keragaman MPASI, melalui peningkatan pemanfaatan layanan perawatan nifas (PNC).


Infant and young child feeding is the main key in promoting healthy growth and development of children. The diversity of complementary foods is one of the indicators in assessing nutritional adequacy of infants aged 6-23 months. Providing diverse complementary foods relies heavily on the active involvement of parents or caregivers. However, inadequate knowledge, time constraints, and limited parental involvement can hinder the optimal provision of diverse complementary foods. This study aimed to examine the relationship between maternal knowledge and the provision of diverse complementary foods for infants aged 6-23 months in Cibokor Village, Cibeber District, Cianjur Regency. The study employed a cross-sectional design with a sample of 105 respondents. The study found that 68,6% of infants aged 6-23 months in Cibokor Village received diverse complementary foods. Logistic regression analysis revelead a statistically significant relationship between maternal knowledge and the provision of diverse complementary foods for infants aged 6-23 months, after controlling for ANC visit variable (AOR=5.688; 95% CI: 2.135-15.155). These findings suggest that the ANC services are functioning effectively. Public Health Center could further enhance maternal education on Infant and Young Child Feeding (IYCF), particularly regarding the diversity of complementary foods, through increased utilization of postnatal care (PNC) services.
Read More
S-12131
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febrianti, Rini; Promotor: Sandra Fikawati; Korpomotor: Dwiana Ocviyanti, Idral Puirnakarya; Penguji: Ahmad Syafiq, Anies Irawati, Hera Nurlita, Indra Supradewi, Neomi esthernita F.
Abstrak:

Prevalensi pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah sebesar 55,5%. Kurangnya informasi mengenai ASI eksklusif dari tenaga kesehatan dan persepsi ibu mengenai kurangnya ASI menjadi penyebab rendahnya praktik pemberian ASI eksklusif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dasar – dasar materi yang diperlukan dalam menyusun modul yang dapat meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan sebagai pendamping ibu hamil dalam upaya meningkatkan keberhasilan menyusui. Penelitian ini menggunakan mixed method study dengan eksploratori sekuensial. Penelitian kualitatif dilakukan untuk menyusun materi pendampingan dan materi modul pelatihan. Penelitian kuantitatif menggunakan desain kuasi eksperimental dengan pretest – posttest design. Empat puskesmas di Kota Padang dengan cakupan ASI eksklusif <60% dipilih sebagai lokasi penelitian. Penelitian dimulai pada bulan Oktober 2022 sampai April 2024. Pelatihan terhadap 10 orang tenaga kesehatan yang terdiri dari sembilan orang bidan dan satu orang dokter. Pendampingan dilakukan oleh delapan tenaga kesehatan terhadap 37 orang ibu mulai dari trimester pertama kehamilan sampai satu bulan perawatan post partum. Analisis data kualitatif dengan menggunakan pengkategorian dan analisis data kuantitatif menggunakan uji wilcoxon. Berdasarkan penelitian kualitatif, materi dasar untuk modul pendampingan adalah manfaat ASI, IMD, upaya menyusui, pelekatan dan posisi, masalah ibu nifas, masalah pada payudara, persiapan ibu bekerja, dukungan keluarga dan KB pasca salin. Secara statistik, kompetensi tenaga kesehatan meningkat seiring dengan peningkatan pengetahuan (p value = 0,005). Pengetahuan dan sikap ibu juga berbeda secara signifikan setelah diberikan pendampingan (p value = 0,001; p value = 0,001). Sebanyak 54,0% ibu menyatakan pendampingan sangat baik, 51,4% ibu mendapat dukungan keluarga yang tinggi, dan 73,0% ibu mendapat dukungan teman. Modul pelatihan tenaga kesehatan pendamping ibu hamil efisien dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan, pengetahuan ibu, dan sikap ibu. Disarankan untuk melakukan penelitian pada populasi yang lebih besar, dengan waktu yang lebih panjang, diuji coba pada dua kelompok (intervensi dan kontrol) sehingga keberhasilan menyusui dapat dilihat dari status gizi ibu dan bayi, dan dilakukan di daerah yang berbeda untuk melihat keefektifan penggunaan modul. Kata kunci: keberhasilan menyusui, modul pelatihan tenaga kesehatan, pendamping ibu hamil. 


ABSTRACT The Training Module of Health Workers for Pregnant Womens Companion in an Effort to Increase The Successful Breastfeeding The prevalence of exclusive breastfeeding in Indonesia remains low at 55.5%. The lack of information about exclusive breastfeeding from health workers and the perception of mothers about “less breast milk” are the causes of low exclusive breastfeeding practices. The purpose of this study is to find out the basics of the material needed in compiling modules that can improve the competence of health workers as companions for pregnant women in an effort to increase breastfeeding success. This study used a mixed method study with sequential exploratory. Qualitative research conducted to compile companion materials and training module materials. Quantitative research uses a quasi – experimental design with a pretest – posttest design. Four public health centers in Padang City with exclusive breastfeeding coverage less than 60% were selected as research locations. The research began from October 2022 to April 2024. Training of 10 health workers consisting of nine midwives and one doctor. The companion was provided by eight health workers towards 37 mothers from the first trimester of pregnancy to one month of postpartum care. Qualitative data analysis used categorization and quantitative data analysis used the Wilcoxon test. Based on qualitative research, the basic material for the companion module is the benefits of breastfeeding, early initiation of breastfeeding, breastfeeding efforts, attachment and position, postpartum mother issue, breast problems, preparation for working mothers, family support and postpartum family planning. Statistically, the competence of health workers increased along with the increase in knowledge (p value = 0.005). Mothers' knowledge and attitudes also differed significantly after the companion of health worker (p value = 0.001 and p value = 0.001). A total of 54.0% of mothers stated that the companion was very good, 51.4% of mothers received high family support, and 73.0% of mothers received the support of friends. The training module of health workers for pregnant women – companion is efficient and effective in improving the knowledge of health workers, mother’s knowledge, and mother’s attitudes. It is recommended to conduct a study in a larger population, with a longer duration, to be piloted in two groups (intervention and control) so that breastfeeding success can be seen in terms of maternal and infant nutritional status, and carried out in different areas to see the effectiveness of the module. Keywords: pregnant mother’s companion, successfull breastfeeding, training modul of health worker
Read More
D-534
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive