Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 19 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Firlia Ayu Arini; Promotor: Endang Laksminingsih Achadi; Kopromotor: Besral, Fasli Jalal; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Kusharisupeni Djokosujono, Hartono Gunardi, Atmarita, Suwarta Kosen
Abstrak:
Latar Belakang : Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) merupakan periode emas bagi pertumbuhan dan perkembangan yang menentukan kualitas kesehatan anak pada daur kehidupan berikutnya. Hambatan pertumbuhan yang terjadi pada periode tersebut terutama karena kekurangan gizi, menyebabkan janin yang bersifat plastis menyesuaikan dengan membatasi tumbuh kembang. Beberapa studi longitudinal menunjukkan bahwa pertumbuhan lebih cepat setelah terjadinya hambatan pertumbuhan dapat menjadi faktor risiko tekanan darah tinggi pada usia remaja. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pertumbuhan cepat pada anak dengan riwayat hambatan pertumbuhan di usia 0-23 bulan terhadap tekanan darah pada usia 17-19 tahun. Metode : Data pada penelitian ini menggunakan hasil dari Indonesian Family Life Survey 1997,2000 dan 2014 yang diambil pada 13 provinsi di Indonesia. Pengambilan data dilakukan secara longitudinal dengan unit sampel rumah tangga dengan anak usia 0-23 bulan pada tahun 1997 kemudian diikuti pada tahun 2000 dan 2014. Pengukuran pertumbuhan cepat ditentukan dengan perubahan nilai z skor BB/U, PB/U atau TB/U, dan BB/TB antar tahun survei, yang lebih dari 0.67 poin. Tekanan darah diukur pada tahun 2014 yaitu saat anak berusia 17- 19 tahun. Besar sampel penelitian sebanyak 671 anak yang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu 1.) anak normal, 2.) anak dengan hambatan pertumbuhan dan tidak tumbuh cepat,3.) anak dengan hambatan pertumbuhan diikuti tumbuh cepat. Analisis multivariat menggunakan GLM univariat dan Regresi Cox dilakukan untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan cepat setelah terjadinya hambatan pertumbuhan pada 1000 HPK terhadap tekanan darah pada usia remaja. Hasil : Hasil analisis menunjukkan, anak yang tumbuh cepat menurut TB/U setelah mengalami hambatan pertumbuhan, memiliki rata-rata tekanan darah sistolik 4,61 mm Hg (CI: 1,38-7,84) lebih tinggi dan rata-rata tekanan darah diastolik 3,89 mm Hg (CI: 0,67-7,11) lebih tinggi, serta berisiko 1,58 (CI:0,83-2,33) kali mengalami tekanan darah tinggi dibanding anak yang normal setelah dikontrol faktor karakteristik anak, orang tua dan rumah tangga. Set Kesimpulan: Pertumbuhan cepat setelah terjadinya hambatan pertumbuhan di 1000 HPK meningkatkan risiko peningkatan tekanan darah pada usia remaja. Rekomendasi : Upaya pencegahan hambatan pertumbuhan dan perkembangan pada periode 1000 HPK bersama-sama dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang pada anak berusia 2 tahun atau lebih, merupakan pencegahan yang sangat penting dalam menurunkan hipertensi pada remaja.

Background : The First Thousand Days of Life (1000 HPK) is a golden period for growth and development that determines the quality of children?s health in the next life cycle. The growth retardation that occurs in this period is mainly due to malnutrition, causing the plastic fetus to adjust to limiting growth and development. Several longitudinal studies have shown that faster growth after growth retardation might be a risk factor for high blood pressure in adolescence. This study aims to prove the effect of rapid growth in children with a history of growth retardation at the age of 0-23 months on blood pressure at the age of 17-19 years. Method: The data in this study used the results of the 1997,2000 and 2014 Indonesian Family Life Survey which were taken in 13 provinces in Indonesia. Data collection was carried out longitudinally with a sample unit of household with children aged 0-23 months as sample unit in 1997 followed in 2000 and 2014. The measurement of Rapid growth was determined by changes in the z score values of Weight for Age, Length/Height for Age, and Weight for Height inter-year survey, which is more than 0.67 points. Blood pressure was measured in 2014 when children were 17- 19 years old. The sample size of the study was 671 children who were divided into 3 groups, namely 1.) normal children, 2.) children with growth retardation and not growing fast,3.) children with growth retardation followed by fast growth. Multivariate analysis using univariate GLM and Cox Regression was carried out to analyze the effect of rapid growth after growth retardation at 1000 HPK on blood pressure in adolescents. Results: The result of analysis showed that, children who grew fast according to Height for Age U after experiencing growth retardation, had an average systolic blood pressure of 4,61 mmHg (CI: 1,38-7.84) higher and average diastolic blood pressure of 3,89 mmHg (CI: 0.67-7,11) higher, and 1,58 times of experiencing high blood pressure (CI:0,83-2,33)higher than normal children after controlling for characteristic of children, parents and household factors. Conclusion: Rapid growth after the occurrence of growth retardation in 1000 HPK increases the risk of increased blood pressure in adolescence. Recommendation: Efforts to prevent growth and development retardation in 1000 HPK together with implementing a balanced nutritious diet in children aged 2 years or older, are very important preventions in reducing hypertension in adolescents.
Read More
D-471
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Susilo Damarini; Promotor: Hadi Pratomo; Kopromotor: Helda, Besral; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Tri Krianto, Sri Hartati Dewi Reksodiputro, Hartono Gunardi, Setyadewi Lusyati, Indra Supradewi
Abstrak:
Kelahiran bayi prematur (lahir sebelum 37 minggu) cenderung diikuti dengan berbagai masalah seperti berat bayi lahir rendah (BBLR), peningkatan infeksi dan komplikasi, serta infeksi neonatal. Hal ini dapat berdampak kurang baik terhadap perkembangan neurologis dan pertumbuhan fisik pada anak usia dini. Stimulasi pijat bayi dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan bayi sesuai kelompok umur. Stimulasi diberikan oleh orang tua atau keluarga. Tujuan penelitian ini adalah menilai pengaruh stimulasi pijat bayi oleh keluarga terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur di Bengkulu. Pendekatan kuantitatif yang diikuti dengan riset kualitatif. Intervensi berupa stimulasi pijat bayi prematur oleh anggota keluarga dengan frekuensi 3 kali sehari selama 8 minggu. Sampel adalah keluarga bayi prematur dengan usia post-menstruasi 34-36 minggu yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan di Bengkulu. Telah dipilih sebanyak 51 bayi pada kelompok intervensi dan 53 bayi pada kelompok kontrol. Penelitian dilakukan dari tanggal 25 April 2018 sampai 30 Desember 2019. Analisis data menggunakan GLM-RM analisis pengukuran yang dilakukan berulang-ulang pada subyek yang sama untuk menilai efek stimulasi pijat bayi terhadap tumbuh kembang bayi prematur dengan mengontrol variabel pengganggu. timulasi pijat bayi oleh keluarga secara teratur dan rutin meningkatkan pertumbuhan dan merangsang perkembangan motorik bayi prematur menjadi lebih baik setelah dikontrol variabel covariat jenis kelamin, asupan bayi dan bebas infeksi. Disertai asupan ASI yang optimal stimulasi pijat bayi memiliki efek postif terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kepada Dinas Kesehatan disarankan tenaga kesehatan Puskesmas dan bidan agar lebih memperhatikan tumbuh kembang bayi prematur diwilayah kerjannya dan menerapkan stimulasi pijat bayi oleh keluarga pada semua bayi prematur
Read More
D-420
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hardya Gustada Hikmahrachim; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Rinawati Rohsiswatmo, Rini Sekartini
Abstrak:
Tesis ini membahas dampak komorbiditas neonatal berat terhadap gangguan pertumbuhan ekstrauterin pada bayi prematur. Seiring dengan semakin membaiknya layanan bayi prematur dan kesintasan semakin meningkat, perhatian kini beralih menjadi bagaimana mengoptimalkan pertumbuhan bayi prematur. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan subjek bayi prematur yang lahir di RSUPN Cipto Mangunkusumo tahun 2018-2020 dan bertahan hidup hingga pulang rawat. Kriteria eksklusi adalah bayi yang menderita kelainan kongenital berat dan bayi prematur pulang atas permintaan sendiri. Komorbiditas neonatal berat adalah komorbiditas terkait prematuritas yang mengancam kehidupan bayi prematur, diantaranya adalah penyakit membrane hialin, duktus arteriosus persisten, displasia bronkopulmonal, enterokolitis nekrotikans, sepsis neonatorum, dan perdarahan intraventrikel. Bayi diikuti sejak lahir hingga pulang perawatan, kemudian dinilai status pertumbuhannya. Gangguan pertumbuhan ekstrauterin didefinisikan dengan selisih berat badan pulang dan berat badan lahir lebih dari -0.80 menggunakan z-score pada kurva pertumbuhan bayi prematur Fenton. Kovariat yang dikendalikan pada penelitian ini adalah usia gestasi, jenis kelamin, status pertumbuhan janin, riwayat resusitasi bayi baru lahir, penggunaan ventilator berkepanjangan, dan pemberian steroid pascanatal. Dari 275 subjek penelitian, ditemukan 93 bayi prematur yang memiliki komorbiditas neonatal berat (33,82%) dan 82 bayi prematur yang mengalami gangguan pertumbuhan ekstrauterin (29,83%). Komorbiditas neonatal berat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan ekstrauterin dengan risiko relatif 1,61 (IK95% 1,05-2,46) setelah dikendalikan kovariat. Disimpulkan bahwa komorbiditas neonatal berat merupakan faktor risiko independen gangguan pertumbuhan ekstrauterin pada bayi prematur sehingga perlu menjadi perhatian bagi para klinisi dan ahli gizi untuk memberikan asupan nutrisi yang optimal dan pencegahan komorbiditas neonatal berat tersebut.

As neonatal care is improving and survival rate is better, clinicans are now focus on optimizing postnatal growth. This retrospective study involved preterm infant in RSUPN Cipto Mangunkusumo from 2018-2020 which are inborn and survive at discharge. Exclusion criteria are infants with congenital anomalies and discharged at request. Severe neonatal morbidites are hyaline membrane disease, persistent ductus arteriosus, bronchopulmonary dysplasia, necrotizing enterocolitis, proven neonatal sepsis, and intraventricular hemorrhage. Extrauterine growth restriction is defined as the difference between discharge weight and birth weight more than -0.8 z-score based on Fenton Preterm Growth Chart. Controlled covariates are gestational age, sex, intrauterine growth status, history of resuscitation, prolonged use of invasive ventilation, and postnatal steroid. From 275 subjects, 93 of them had severe neonatal morbidities (33.82%) and 82 had extrauterine growth restriction (29.83%). Severe neonatal morbidities increase risk of extrauterine growth restriction by 1.61 (95%CI 1.05-2.46) after being controlled by covariates. In conclusion, severe neonatal morbidities is an independent risk factor of extrauterine growth restriction among preterm infants.

Read More
T-5930
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elmina Tampubolon; Promotor: Endang Laksminingsih Achadi; Ko Promotor: Ahmad Syafiq, Sandra Fikawati; Penguji: Kusharisupeni, Asih Setiarini, Diah Mulyawati Utari, Agus Triwinarto, Anies Irawati
Abstrak: Stunting adalah keadaan panjang/tinggi badan kurang dibandingkan dengan umur. Penyebab langsung stunting adalah riwayat sakit dan kurangnya asupan gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian suplementasi susu dan biskuit terhadap pertumbuhan anak stunting usia 12-23 bulan di Kecamatan Limo Kota Depok. Desain penelitian yang adalah kuasi eksperimen dengan pretest-posttest with control group design menggunakan empat kelompok yaitu kelompok susu, biskuit, susu + biskuit, dan kontrol. Pengukuran berat dan panjang badan dilakukan pada awal penelitian, 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian suplementasi susu, biskuit, susu + biskuit terhadap pertumbuhan anak. Perubahan z-skor PB/U baseline-endline terbesar adalah kelompok intervensi susu + biskuit (0.79). Perubahan z-skor PB/U baseline-endline pada kelompok biskuit (0.68) sedikit lebih baik dibandingkan dengan kelompok susu. Perubahan z-skor PB/U pada kelompok susu (0.66) lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol (0.19). Perubahan z-skor PB/U sangat jelas terlihat pada pengukuran ketiga dan keempat. Kepada Kemenkes agar mempertimbangkan pemberian susu atau biskuit atau keduanya yang disertai dengan edukasi sebagai salah satu program untuk menurunkan stunting pada anak usia 12-23 bulan.
Read More
D-433
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Rahayu Nadhiroh; Promotor: Kusharisupeni Djokosujono; Kopromotor: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ratna Djuwita, Hartono Gunardi, Besral, Anies Irawati, Irwan Julianto
Abstrak:
Pendahuluan Prevalensi perokok dalam keluarga dan anemia pada ibu hamil cukup tinggi di Indonesia. Perlu dikaji dampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak bila kedua paparan tersebut, asap rokok dan anemia kehamilan, terjadi pada bayi di awal 6 bulan kehidupannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh paparan anemia kehamilan dan asap rokok terhadap pertumbuhan linier dan perkembangan bayi usia 6 bulan. Metode Penelitian menggunakan desain kohort prospektif, selama 2016-2019. Sebanyak163 ibu-bayi menjadi sampel penelitian untuk outcome pertumbuhan linier dan 63 ibu-bayi untuk outcome perkembangan. Ibu hamil yang terdaftar di 7 puskesmas di Jakarta, diikuti hingga bayi yang dilahirkan berusia 6 bulan. Pertumbuhan linier menggunakan dua indikator: perbandingan delta panjang badan (PB) subyek terhadap delta PB median z-score (0-6 bulan); dan PB menurut umur (PB/U) usia 6 bulan. Perkembangan bayi menggunakan skor komposit dari skala kognitif, bahasa dan motorik. Analisis menggunakan General Linier Model. Hasil Mean skor pertumbuhan linier (%) dan (PB/U) bayi 6 bulan adalah 105,7 dan -0,2. Sepertiga ibu hamil mengalami anemia, sepertiga bayi terpapar asap rokok dan kurang dari 10% bayi terpapar keduanya. Bayi dengan paparan kombinasi anemia kehamilan dan asap rokok memiliki skor pertumbuhan linier (%) lebih rendah 11,4 (p=0,008) dan PB/U 0,8 (p=0,014) dibandingkan bayi tanpa paparan. Mean skor komposit perkembangan kognitif adalah 105, bahasa 106,5 dan motorik 89,4. Seperempat bayi mengalami perkembangan motorik at risk. Bayi 6 bulan dengan paparan kombinasi memiliki skor kognitif lebih rendah 3,0 poin, skor bahasa lebih tinggi 12,8 poin, dan skor motorik lebih rendah 6,8 poin dibandingkan bayi tanpa paparan, namun tidak signifikan. Kesimpulan Paparan kombinasi anemia kehamilan dan asap rokok berpengaruh terhadap rendahnya skor pertumbuhan linier dan terdapat kecenderungan terhadap rendahnya skor perkembangan terutama skala motorik pada bayi usia 6 bulan. Integrasi program pengendalian rokok dengan program kesehatan ibu anak khususnya pada ibu hamil dan bayi bawah 2 tahun perlu dilakukan dalam upaya memenuhi target penurunan stunting di Indonesia.
Read More
D-422
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Ketut Aryastami; Promotor: Endang L. Achadi; Ko promotor: Kusharisupeni, Soewarta Kosen; Penguji: Budi Utomo, Purnawan Junadi, Ratna Djuwita, Besral, Trihono, Anies Irawati
D-310
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Mei Saimima; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Yosneli
Abstrak: Skripsi ini membahas pengaruh pola pemberian ASI terhadap pertumbuhan bayi0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Cipayung, Depok tahu 2016-2017.Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan desain kohort retrospektif.Penelitian ini menggunakan data sekunder terhadap 151 responden. Hasilpenelitian ini adalah tidak ada perbedaan signifikan pada pertumbuhan beratbadan bayi 0-6 bulan yang diberi ASI eksklusif (4248,6±840,2 gr) dan bayi yangtidak ASI eksklusif (4292,2±791,6 gr). Pertumbuhan panjang badan bayi 0-6bulan juga tidak berbeda signifikan antara bayi yang diberikan ASI eksklusif(17,4±2,2 cm) dan bayi yang tidak diberi ASI eksklusif (17,6±2,9 cm).Kata kunci: pertumbuhan bayi, pola pemberian ASI
This research discusses the effect of breastfeeding pattern on 0-6 months infantsgrowth in Puskesmas Cipayung Working Area, Depok 2016-2017. This is aquantitative study with a retrospective cohort design. This study uses secondarydata on 151 respondents. The results of this study shows that no significantdifference between exclusively breastfed infant 0-6 month weight growth(4248,6±840,2 gr) and non exclusive breastfed infant(4292,2±791,6 gr). Infantheight growth from 0-6 months also not significantly different betweenexclusively breastfed infants (17,4±2,2 cm) and non exclusively breastfed infants(17,6±2,9 cm).Keyword: infants growth, breastfeeding pattern.
Read More
S-9539
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sari Nur Arofah; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Adang Bachtiar, Anhari Achadi, Mugiya Wardhani, Tiara Lutfie
Abstrak:
Pemantauan tumbuh kembang adalah proses pengamatan tumbuh kembang anak melalui pengukuran antropometri secara berkala dibandingkan dengan standar untuk mengukur pertumbuhan yang cukup dan mengidentifikasi secara dini ganguan pertumbuhan. Pemantauan pertumbuhan balita bertujuan untuk memastikan setiap anak berkembang sesuai dengan jalur tumbuh kembang anak yang sehat sehingga dapat menjadi langkah deteksi dini gangguan tumbuh kembang pada anak, termasuk stunting. Pelaksanaan pemantauan pertumbuhan balita di Kota Tangerang telah dilaksanakan sesuai dengan amanat dalam Peraturan Presiden No 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Pemantauan pertumbuhan balita di Kota Tangerang dimulai dari posyandu dengan memanfaatkan aplikasi SiData untuk pencatatan hasil pengukuran sebagai feeder e-PPGBM. Manajemen pemantauan balita dalam surveilas gizi di Kota Tangerang ditinjau menggunakan teori evaluasi Model CIPP dari stufflebeam yang menganalisa dari komponen konteks, input, proses dan produk. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Metode penelitian menggunakan wawancara mendalam, focuss group discussion (FGD) dan observasi dokumen. Pemilihan informan ditentukan menggunakan purpose sampling. Informan dalam penelitian ini dipilih karena terlibat langsung dan mendukung pelaksanaan kegiatan sedangkan peserta FGD merupakan kader posyandu. Data yang dikumpulkan adalah data primer berupa hasil wawancara mendalam dan FGD sedangkan data sekunder diperoleh melalui observasi dokumen. Penelitian ini menggambarkan pelaksanaan pemantauan pertumbuhan balita dalam pelaksanaan surveilans gizi di Kota Tangerang yang menganalisa dari komponen konteks (latar belakang, masalah dan sumber daya), komponen input (strategi dan implementasi), komponen proses (pengembangan dan implementasi) dan komponen produk (dampak, efektifitas dan keberlanjutan). Pelaksanaan pemantauan pertumbuhan balita di Kota Tangerang dilaksanakan dengan dukungan sumber daya, anggaran dan memanfaatkan digitalisasi aplikasi SiData sebagai alat bantu pencatatan dan pelaporan serta keterlibatan beberapa pihak. Namun pelaksanaan pemantauan pertumbuhan balita masih terdapat beberapa kendala antara lain belum optimalnya koordinasi, monitoring dan dukungan beberapa pihak di wilayah setempat. Belum tercapainya hasil cakupan di e-PPGBM melalui SiData tidak dapat digunakan untuk mengambil suatu keputusan jika data pengukuran belum mencapai 100%. Regulasi dan SOP di Tingkat Kota yang mengatur pembagian tugas dan fungsi pemanfaatan aplikasi SiData diperlukan agar pelaksanaan pemantauan pertumbuhan balita dapat berjalan optima

Growth monitoring is the process of observing a child's growth and development through regular anthropometric measurements compared to standards to measure adequate growth and early identification of growth disorders. Monitoring the growth of toddlers aims to ensure that each child develops according to a child's healthy growth and development path so that it can be a step in early detection of growth and development disorders in children, including stunting. Monitoring the growth of toddlers in Tangerang City has been carried out in accordance with the mandate in Presidential Regulation No. 72 of 2021 concerning the Acceleration of Reducing Stunting. Monitoring the growth of toddlers in Tangerang City starts from the posyandu by using the SiData application to record measurement results as an e-PPGBM feeder. The management of monitoring toddlers in nutritional surveillance in Tangerang City is reviewed using the CIPP Model evaluation theory from Stufflebeam which analyzes the components of context, input, process and product. This research is descriptive qualitative research. The research method uses in-depth interviews, focus group discussions (FGD) and document observation. The selection of informants was determined using purpose sampling. The informants in this research were chosen because they were directly involved and supported the implementation of activities, while the FGD participants were posyandu cadres. The data collected was primary data in the form of in-depth interviews and FGDs, while secondary data was obtained through document observation. This research describes the implementation of monitoring toddler growth in the implementation of nutritional surveillance in Tangerang City which analyzes the context component (background, problems and resources), the input component (strategy and implementation), the process component (development and implementation) and the product component (impact, effectiveness and sustainability). Monitoring the growth of toddlers in Tangerang City is carried out with the support of resources, budget and utilizing the digitization of the SiData application as a recording and reporting tool as well as the involvement of several parties. However, the implementation of monitoring the growth of toddlers still has several obstacles, including lack of optimal coordination, monitoring and support from several parties in the local area. If coverage results have not been achieved in e-PPGBM via SiData, it cannot be used to make a decision if the measurement data has not reached 100%. Regulations and SOPs at the City Level that regulate the division of tasks and functions for using the SiData application are needed so that monitoring the growth of toddlers can run optimally.
Read More
T-7156
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhayati; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Diah M. Utari, Siti Arifah Pudjonarti, Elmy Rindang Turhayati, Lukas C. Hermawan
Abstrak: Gangguan pertumbuhan dan perkembangan bayi umumnya merupakan hasil darirendahnya kualitas kehamilan ibu, termasuk dari asupan gizi, baik dari makananmaupun dari suplemen. Untuk itu, penelitian ini dilakukan guna mengetahuihubungan antara konsumsi suplemen zat gizi mikro ibu selama hamil danmenyusui serta faktor lainnya terhadap tingkat pertumbuhan dan perkembanganbayi (3-6 Bulan), terutama di wilayah Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.Data konsumsi suplemen serta karakteristik ibu lainnya seperti pendidikan,pekerjaan, dan pendapatan, ibu, pengetahuan gizi, jumlah kelahiran, dan kondisiBBLR diperoleh melalui wawancara. Di sisi lain, data asupan makanan ibu sertaasupan makanan bayi (ASI eksklusif) saat ini diambil dengan metode food recall,sedangkan status gizi ibu sejak hamil serta pertumbuhan bayi diperoleh dengan pengukuran antropometri. Kriteria perkembangan bayi diperoleh melalui aspek-aspek perkembangan penyesuaian dari kartu menuju sehat (KMS) dan buku kesehatan ibu dan anak (KIA). Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi suplemen zat gizi mikro selama hamil berhubungan secara signifikan terhadap tumbuh kembang bayi (nilai p=0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa ibu yang tidak memperhatikan asupan makanannya, termasuk konsumsi suplemennya sejakhamil, memiliki risiko yang lebih besar mendapatkan bayi dengan pertumbuhan dan perkembangan yang tidak optimal.
Kata kunci: pertumbuhan, perkembangan bayi, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Read More
T-4243
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Latifah; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Triytanti, Deksa Presiana, Cendekia Sri Murwani
Abstrak: Asupan makanan yang tidak mencukupi merupakan salah satu penyebab terjadinya kekurangan gizi pada anak. Penggunaan formula pertumbuhan menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh orangtua untuk membantu mencukupi kebutuhan gizi anak usia 1-3 tahun. Tesis ini mengkaji mengenai kesesuaian kandungan zat gizi pada informasi nilai gizi, kontribusi kecukupan gizi, pelabelan,serta klaim gizi dan kesehatan formula pertumbuhan terhadap peraturan. Penelitian dilakukan dengan desain studi deskriptif. Hasil kajian kesesuaian kandungan energi dan zat gizi makro menunjukkan tingkat kesesuaian tertinggi untuk karbohidrat, sukrosa, dan asam lemak trans (100%), sedangkan terendah asam α-linolenat (60%). Tingkat kesesuaian tertinggi untuk kandungan vitamin adalah vitamin D, E, B2, niasin, dan vitamin B12 (100%), sedangkan paling rendah vitamin K (58%). Tingkat kesesuaian tertinggi untuk kandungan mineral yaitu natrium (100%), sedangkan paling rendah tembaga (68%). Untuk kesesuaian kandungan bahan lain, tingkat kesesuaian tertinggi yaitu karnitin (100%),sedangkan paling rendah DHA (44%). Hasil kajian kontribusi terhadap kecukupan gizi anak menunjukkan rata-rata persentase angka kecukupan gizi (AKG) kandungan zat gizi formula pertumbuhan sebesar 8-75% per saji atau 24-229%per hari. Serat memiliki kontribusi AKG terendah sedangkan kontribusi tertinggi diperoleh dari biotin. Hasil kajian kesesuaian pelabelan menunjukkan tingkat kesesuaian sebesar 100% pada pencantuman tanggal kedaluwarsa, cara penyiapan, dan pernyataan produk tidak cocok untuk bayi. Sedangkan tingkat kesesuaian terendah adalah untuk pencantuman peringatan bahaya yaitu sebesar 2%. Hasil kajian kesesuaian klaim menunjukkan tingkat kesesuaian klaim kandungan zatgizi sebesar 99,5%, klaim perbandingan zat gizi sebesar 100%, dan klaim fungsi zat gizi 62%. Kata kunci:Anak usia 1-3 tahun, formula pertumbuhan, peraturan.
Read More
T-4166
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive