Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rifa Yulita; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Mierna Reismala
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko stres kerja pada pekerja kesehatan di remote site. Peneliti melakukan studi potong lintang pada Januari-Juni 2023 dengan melibatkan 103 responden dari berbagai industri. Peneliti menggunakan instrumen penelitian COPSOQ III untuk mengukur stres kerja dan faktor risikonya. Pada 103 responden industri Oil & Gas, pertambangan, dan konstruksi menunjukkan usia, durasi shift, dan lama kerja tidak berhubungan signifikan dengan stres kerja. Namun, jenis industri dan jenis kelamin memiliki hubungan signifikan dengan jenis stres tertentu. Pekerja kontrak lebih cenderung mengalami stres kerja, burnout, dan stres kognitif. Faktor risiko psikososial seperti tuntutan pekerjaan, konflik peran, kecepatan kerja, dan tuntutan emosional juga berhubungan dengan stres kerja. Tuntutan pekerjaan, kecepatan kerja, dan konflik peran mempengaruhi skor stres kerja, menjelaskan 26,5% variasi skor stres. Pekerja pelayanan kesehatan di remote site PT. X mengalami stres kerja yang signifikan, dipengaruhi oleh faktor seperti beban kerja, kecepatan kerja, dan konflik peran. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar ada penyesuaian beban kerja, fleksibilitas shift kerja, dukungan sosial, serta kejelasan peran dan penghargaan untuk mengurangi stres kerja. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk memahami dan menangani stres kerja di kalangan pekerja pelayanan kesehatan, khususnya di remote site.
This study aims to analyze the risk factors of occupational stress among healthcare workers in remote sites. The researchers conducted a cross-sectional study in January-June 2023 involving 103 respondents from various industries. The COPSOQ III research instrument was used to measure occupational stress and its risk factors. Out of the 103 respondents in the Oil & Gas, mining, and construction industries, it was observed that age, shift duration, and length of service were not significantly related to occupational stress. However, the type of industry and gender were significantly related to certain types of stress. Contract workers were more likely to experience occupational stress, burnout, and cognitive stress. Psychosocial risk factors such as job demands, role conflicts, work pace, and emotional demands were also associated with occupational stress. Job demands, work pace, and role conflicts influenced occupational stress scores, explaining 26.5% of the stress score variation. Healthcare workers in remote sites at PT. X experienced significant occupational stress, influenced by factors such as workload, work pace, and role conflicts. Based on these findings, it is suggested that adjustments be made to workload, shift flexibility, social support, as well as role clarity and rewards to reduce occupational stress. Further research is needed to understand and address occupational stress among healthcare workers, especially in remote sites.
Read More
T-6730
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firna Rania Rizkiani Fouady; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Jaslis Ilyas, Dwiana Maya A.
Abstrak:
Transformasi layanan kesehatan dari tradisional ke layanan yang berpusat kepada pasien membuat arah pelayanan menjadi lebih holistik. Dengan implementasi layanan tersebut, SDM kesehatan dituntut untuk senantiasa meningkatkan kinerjanya sehingga dapat memberikan layanan yang terbaik kepada pasien. Kinerja pada SDM kesehatan dapat ditingkatkan melalui implementasi desain pekerjaan yang memenuhi kelima dimensi pekerjaan, yaitu variasi keterampilan, identitas tugas, signifikansi tugas, otonomi, dan umpan balik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik pekerjaan beserta lima dimensinya dan kinerja SDM kesehatan di RS Grha Permata Ibu dengan metode penelitian kuantitatif. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara daring dengan metode self-administered questionnaire. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara karakteristik pekerjaan, identitas tugas, signifikansi tugas, dan umpan balik dengan kinerja SDM kesehatan di RS Grha Permata Ibu. Sementara itu, terdapat hubungan yang lemah dan signifikan antara variasi keterampilan dan otonomi dengan kinerja SDM kesehatan. Rekomendasi yang diberikan dari hasil penelitian ini adalah mengidentifikasi kesesuaian antara variasi keterampilan yang dibutuhkan dengan yang dimiliki individu sebagai bahan pengembangan SDM, mendorong SDM kesehatan untuk terlibat penuh dalam seluruh proses kerjanya melalui impelementasi rotasi kerja, meninjau kembali kebijakan yang mengatur terkait otonomi kerja, mempromosikan budaya kerja yang mendorong inisiatif SDM kesehatan, serta mengevaluasi efektivitas sistem pemberian umpan balik.

The transformation of healthcare services from traditional models to patient-centered care has led to a more holistic approach to patient care. This shift has placed increased demands on healthcare professionals to continuously improve their performance in order to deliver the best possible care to patients. One approach to enhancing healthcare workforce performance is to implement job design principles that fulfill the five dimensions of work: skill variety, task identity, task significance, autonomy, and feedback. This research aimed to investigate the relationship between job characteristics and their five dimensions, and the performance of healthcare professionals at Grha Permata Ibu Hospital. A quantitative research methodology was conducted, utilizing self-administered online questionnaires for data collection. The findings revealed a positive and significant relationship between job characteristics, task identity, task significance, and feedback with the performance of healthcare professionals at Grha Permata Ibu Hospital. However, a weak yet significant relationship was observed between skill variety and autonomy with healthcare worker performance. The research suggests several strategies to improve the performance of healthcare professionals at Grha Permata Ibu Hospital by identify the alignment between required and individual skill sets as a basis for workforce development initiatives, encourage active involvement of healthcare professionals in the entire work process by implementing job rotation strategies, review internal policies regarding work autonomy to enhance empowerment and decision-making capabilities, promote a work culture that encourages initiative, and evaluate the effectiveness of the feedback system.
Read More
S-11594
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shabrina Mumtazah; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Adang Bachtiar, Anwar Fachry
Abstrak:
Penyandang disabilitas di dunia mengalami kesulitan hingga enam kali lipat lebih tinggi dalam mengakses layanan kesehatan dibandingkan dengan orang tanpa disabilitas. Salah satu hambatannya adalah sikap petugas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sikap petugas kesehatan terhadap penyandang disabilitas dan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap tersebut. Penelitian menggunakan metode scoping review dengan memanfaatkan basis data PubMed, Scopus, EBSCOHost, dan SAGE dengan total artikel sebanyak 12 studi berupa 6 pendekatan kuantitatif dan 6 kualitatif. Hasil penelitian memperlihatkan sikap tenaga kesehatan terhadap penyandang disabilitas beragam dari berbagai dimensi sikap (kognitif, afektif, dan konatif). Sikap-sikap yang negatif antara lain 1) Kognitif, berupa bias implisit dan stereotip yang kerap terjadi terutama dalam pelayanan kesehatan maternal. 2) Afektif, berupa ketidaknyamanan, overprotective, dan kurangnya percaya dalam memberikan pelayanan yang adil. 3) Konatif, berupa pembuatan keputusan tanpa pertimbangan pasien, penolakan pengobatan, dan penggunaan bahasa ableist. Faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap negatif tenaga kesehatan yaitu pengetahuan dan frekuensi kontak yang rendah, kualitas hubungan yang buruk, tidak adanya relasi dengan penyandang disabilitas, praktik mandiri, lama bekerja lebih dari 20 tahun, usia tua, laki-laki, ras asia, tingkat pendidikan dan pendapatan yang rendah; orientasi politik konservatif, infrastruktur dan organisasi yang tidak sistematis, dan tidak adanya pengalaman.

People with disabilities (PWDs) around the world face a six times higher difficulty in accessing healthcare services compared to those without disabilities. One of the obstacles is the attitude of healthcare workers. This research was aimed to identify the attitudes and factors related to attitudes of healthcare workers towards PWDs. The research used a scoping review method using PubMed, Scopus, EBSCOHost, and SAGE databases with a total of 12 studies, comprising 6 quantitative and 6 qualitative approaches. The findings of the research showed diverse attitudes of healthcare workers towards PWDs across various attitude dimensions inlcluding cognitive, affective, and conative. Negative attitudes include: 1) Cognitive: biases and stereotypes, which are particularly evident in maternal healthcare services; 2) Affective: discomfort, overprotectiveness, and a lack of trust in providing equitable care; and 3) Conative: decision-making which decides without patients' consideration, treatment refusal, and the use of ableist language. The factors related to the negative healthcare workers attitudes include insufficient knowledge and infrequent contact, bad relationship quality, lack of interaction, independent practice, working for more than 20 years, older age, male, Asian race, lower education and income levels, conservative political orientation, lack of systematic infrastructure and organization, and no personal experience.
Read More
S-11385
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Prameswari; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Puspita Sampekalo, Ali Syahrul Chairuman
Abstrak:

Tenaga kesehatan merupakan salah satu profesi yang berisiko mengalami distres, dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor individu, pekerjaan, sosial dan lingkungan kerja. Jika tidak ditangani dengan baik, distres tersebut bisa mengakibatkan gangguan kesehatan, mental dan penurunan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi distres pada tenaga kesehatan di RSUD Cibinong. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dianalis menggunakan uji statistik chi-square dan regresi logistik. Variable dependen tingkat distres dan variabel independen terdiri dari faktor individu, faktor pekerjaan, faktor sosial, dan lingkungan kerja. Periode penelitian bulan April – Mei 2025, responden terdiri dari perawat, bidan, ahli gizi, tenaga kefarmasian, apoteker, dan analis laboratorium di ruangan rawat inap RSUD Cibinong Bogor. Ditemukan bahwa beban kerja dan hubungan interpersonal merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap tingkat distres pada tenaga kesehatan di RSUD Cibinong Bogor, dimana beban kerja yang berat berpeluang 4.2 kali menyebabkan tingkat distres dibandingkan dengan beban kerja yang ringan dan hubungan interpersonal yang baik dapat menurunkan tingkat distres sebesar 78.6%. Rekomendasi dari penelitian ini adalah melakukan monitoring dan evaluasi terkait beban kerja, memfasilitasi sarana dan prasarana pendukung untuk meringankan beban kerja, menyelenggarakan pelatihan berkelanjutan terkait ergonomi, manajemen stres, menyediakan wadah penyampaian aspirasi, keluhan atau masalah interpersonal di tempat kerja secara aman dan rahasia.


Healthcare workers are one of the professions at risk of experiencing distress, which can  be caused by several factors such as individual, work, social and work environment  factors. If not handled properly, such distress can lead to health and mental disorders  and decreased productivity. This study aims to identify factors that influence distress in  health workers at Cibinong Hospital. The method used was quantitative research with a  cross-sectional study design analyzed using chi-square statistical test and logistic  regression. The dependent variable is the level of distress and the independent variables  consist of individual factors, work factors, social factors, and work environment. The  research period was April - May 2025, the respondents consisted of nurses, midwives,  nutritionists, pharmaceutical workers, pharmacists, and laboratory analysts in the  inpatient room of the Cibinong Bogor Regional Hospital. Found that workload and  interpersonal relationships are the risk factors that most influence the level of distress in  healthcare workers at Cibinong Bogor Regional Hospital, where heavy workload has a  4.2 times chance of causing distress compared to light workload and good interpersonal  relationships can reduce the level of distress by 78.6%. Recommendations from this study  are to conduct monitoring and evaluation related to workload, facilitate supporting  facilities and infrastructure to ease workload, organize ongoing training related to  ergonomics, stress management, provide a forum for the delivery of aspirations,  complaints or interpersonal problems in the workplace in a safe and confidential manner.

Read More
T-7399
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meilisa Rahmadani; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Adang Bachtiar, Besral, Fatma Lestari, Indri Hapsari Susilowati, Ali Ghufron Mukti, Sutoto, Astrid B. Sulistomo
Abstrak: Kelelahan kerja berdampak besar terhadap kinerja, keselamatan, dan kesehatan tenaga kesehatan rumah sakit. Penelitian ini mengembangkan model sistem manajemen risiko kelelahan berbasis pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui studi literatur, FGD, wawancara, dan observasi. Hasilnya adalah model ICHAFIT (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) dengan lima elemen utama dan strategi pencegahan berbasis data. Terdapat 24 indikator valid dan reliabel untuk menilai implementasinya. Model ini berfungsi sebagai kerangka konseptual dan alat praktis, serta menghasilkan policy brief untuk advokasi kebijakan nasional.
Work fatigue significantly affects hospital workers' performance, safety, and health. This study developed a fatigue risk management model using qualitative and quantitative approaches through literature review, FGD, interviews, and observations. The result is the ICHAFIT model (Integrated Collaboration Healthcare Adaptability for Fatigue Intervention and Tracking) comprising five key elements and a data-driven prevention strategy). It includes 24 valid and reliable indicators to assess implementation. ICHAFIT serves as both a conceptual framework and practical tool, and also produced a policy brief to support national advocacy for fatigue risk management in hospitals.
Read More
D-591
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mufti Diva Larassati; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Purnawan Junadi, Ns. Gede Merta Mertana
Abstrak:
Keselamatan pasien adalah dimensi utama dalam mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Rumah Sakit X menghadapi tantangan dalam implementasi budaya keselamatan pasien, dengan skor keseluruhan 66,3% pada survei internal 2023, jauh dari standar ideal 75% yang ditetapkan oleh AHRQ. Masalah utama adalah rendahnya tingkat pelaporan insiden keselamatan pasien (46,58%), yang mencerminkan hambatan dalam keterbukaan komunikasi dan ketakutan melaporkan insiden. Penelitian ini menganalisis pengaruh empat dimensi budaya keselamatan—budaya keterbukaan, budaya keadilan, budaya pelaporan, dan budaya pembelajaran—terhadap pelaporan IKP di RS X. Menggunakan desain kuantitatif cross-sectional, data dikumpulkan melalui survei HSOPSC yang dikembangkan oleh AHRQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun budaya keselamatan pasien di RS X berada pada kategori sedang (66%), masih diperlukan perbaikan, terutama pada budaya pelaporan (%).  Persepsi positif terhadap budaya keterbukaan secara signifikan meningkatkan kemungkinan pelaporan insiden (p = 0,000), sementara persepsi positif terhadap budaya pelaporan juga berpengaruh signifikan terhadap pelaporan insiden (p = 0,000).  Selain itu, budaya keadilan memiliki pengaruh paling besar terhadap perilaku pelaporan setelah analisis multivariat (OR = 7,67). Penelitian ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung pelaporan insiden dan memperkuat budaya organisasi untuk memastikan praktik keselamatan pasien yang lebih baik. Rekomendasi untuk manajemen rumah sakit termasuk peningkatan pelatihan pelaporan insiden dan penciptaan budaya yang lebih terbuka dan adil bagi seluruh tenaga kesehatan.

Patient safety is a key dimension of healthcare service quality in hospitals. Hospital X faces challenges in implementing a patient safety culture, with an overall score of 66.3% on the 2023 internal survey, significantly below the 75% ideal standard set by AHRQ. A major issue is the low reporting rate of patient safety incidents (46.58%), reflecting barriers in communication openness and fear of reporting incidents. This study analyzes the impact of four dimensions of safety culture—open communication, justice culture, reporting culture, and learning culture—on Incident Knowledge and Patient Safety (IKP) reporting at Hospital X. Using a quantitative cross-sectional design, data were collected through the HSOPSC survey developed by AHRQ. The findings indicate that although the patient safety culture at Hospital X is categorized as moderate (66%), improvements are needed, particularly in reporting culture. Positive perceptions of open communication significantly increase the likelihood of reporting incidents (p = 0.000), while positive perceptions of the reporting culture also significantly affect incident reporting (p = 0.000). Additionally, the culture of justice had the greatest impact on reporting behavior after multivariate analysis (OR = 7.67). This study emphasizes the importance of creating an environment that supports incident reporting and strengthening organizational culture to ensure better patient safety practices. Recommendations for hospital management include enhancing incident reporting training and fostering a more open and just culture for all healthcare staff.
Read More
S-11903
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Enita Fransiska Br Tamba; Pembuimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Dwi Gayatri, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Tenaga kesehatan di lingkungan rumah sakit menghadapi risiko paparan biologis, kimia, dan fisik yang signifikan. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan upaya fundamental dalam memutus rantai penularan infeksi dan melindungi tenaga kesehatan. Akan tetapi, kepatuhan penggunaan APD tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan individu, melainkan sangat dipengaruhi oleh budaya keselamatan organisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara 11 dimensi budaya keselamatan terintegrasi yang diukur menggunakan instrumen Integrated Safety Culture in Hospitals Assessment (ISCHA) dengan persepsi penggunaan APD pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). Penelitian ini menggunakan desain studi analitik cross-sectional dengan data sekunder hasil survei ISCHA tahun 2025. Populasi penelitian adalah seluruh tenaga kesehatan RSUI (N=1.206), dengan sampel sebesar 503 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya keselamatan terintegrasi di RSUI secara keseluruhan telah mencapai Level 5–Progressive dengan capaian 95,99%. Sebanyak 499 responden (99,2%) memiliki persepsi positif terhadap penggunaan APD. Dari 11 dimensi yang dianalisis, terdapat 4 dimensi yang terbukti berhubungan dengan persepsi penggunaan APD, yaitu dukungan manajemen terhadap keselamatan pasien (OR=13,257; 95% CI 1,812–96,968), pembelajaran organisasi dan peningkatan berkelanjutan (OR=15,633; 95% CI 2,128–114,872), respons yang tidak menghukum terhadap kesalahan (OR=13,820; 95% CI 1,421–134,408), dan pengembangan kapasitas (pelatihan) budaya keselamatan (OR=19,792; 95% CI 2,672–146,593), sementara 7 dimensi lainnya tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun budaya keselamatan RSUI secara umum sudah sangat baik, penguatan pada aspek dukungan manajemen, pembelajaran organisasi, sistem respons terhadap kesalahan, serta pelatihan dan pengembangan kapasitas merupakan strategi prioritas yang dapat dilakukan RSUI untuk meningkatkan persepsi dan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap penggunaan APD di lingkungan rumah sakit

Healthcare workers in hospital settings face significant risks of biological, chemical, and physical exposure. The use of Personal Protective Equipment (PPE) is a fundamental measure in breaking the chain of infection transmission and protecting healthcare workers. However, PPE compliance is not solely determined by individual knowledge; it is greatly influenced by the organizational safety culture. This study aims to analyze the relationship between 11 integrated safety culture dimensions, measured using the Integrated Safety Culture in Hospitals Assessment (ISCHA) instrument, and the perception of PPE use among healthcare workers at the University of Indonesia Hospital (RSUI). This study employed a cross-sectional analytical design using secondary data from the 2025 ISCHA survey. The study population comprised all healthcare workers at RSUI (N=1,206), with a sample of 503 respondents who met the inclusion criteria. Data analysis was conducted using Fisher's Exact Test. The results indicated that the integrated safety culture at RSUI has overall achieved Level 5–Progressive, with an attainment rate of 95.99%. A total of 499 respondents (99.2%) had a positive perception of PPE use. Of the 11 dimensions analyzed, 4 were found to have a significant relationship with the perception of PPE use: management support for patient safety (OR=13.257; 95% CI 1.812–96.968), organizational learning and continuous improvement (OR=15.633; 95% CI 2.128–114.872), non-punitive response to error (OR=13.820; 95% CI 1.421–134.408), and capacity development (training) of safety culture (OR=19.792; 95% CI 2.672–146.593), while the remaining 7 dimensions did not show statistically significant relationships. This study concludes that although RSUI's overall safety culture is already strong, strengthening management support, organizational learning mechanisms, non-punitive error-response systems, and capacity-building training represents a priority strategy for improving healthcare workers' perception and compliance with PPE use in hospital settings.
Read More
S-12475
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive