Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Erikaliza Agustina; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Caroline Endah Wuryanningsih, Mujaddid
Abstrak: Perencanaan remaja sejak dini terhadap penyiapan keluarga yang meliputi penundaan usia perkawinan, menjarangkan kehamilan, dan mencegah kehamilan dapat mengurangi faktor risiko kesehatan bagi ibu dan calon anak. Sementara usia perkawinan pertama wanita di Jawa Barat masih rendah yaitu dibawah 16 tahun (22,6%) dari seluruh provinsi di Indonesia yang menunjukkan masih kurangnya perencanaan berkeluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran preferensi keluarga berencana pada remaja dan determinannya. Desain penelitian adalah cross sectional. Sampel dari penelitian ini adalah remaja pria yang berusia 15-24 tahun dan remaja wanita yang berusia 15-19 tahun di Provinsi Jawa Barat yang berhasil diwawancarai pada SDKI KRR 2012 yaitu sebanyak 773 orang. Uji statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar remaja memeliki preferensi keluarga berencana yang baik (76,3%) serta ada perbedaan proporsi antara jenis kelamin, pengetahuan reproduksi, paparan informasi reproduksi, dan peran orang tua dengan preferensi keluarga berencana. Paparan informasi reproduksi yang memiliki hubungan signifikan dari setiap unsur keluarga berencana dapat menjadi peluang untuk meningkatkan preferensi keluarga berencana yang baik pada remaja.
 

 
Adolescent preparation of family planning is postpone marriage, manage the number of children, and prevent pregnancy. They can decrease risk of maternal and child health. But age at first marriage for a woman is still under 16 years old (22,6%) in West Java. It means adolescent have less preparation of family planning. The purpose of this study is to understand how preferences and determinants of family planning in adolescent. Design study is cross sectional on never marriage men age 15-24 and never marriage women 15-19 in West Java from Adolescent Reproductive health (ARM) component of the 2012 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS). There are 773 respondents. It used chi square type. Knowing this show many adolescent have good preferences of family planning (76,3%) and there are differences in proportion between preferences of family planning and sex, knowledge of reproduction, exposure to reproduction information, the role of parents. The researcher suggests that increase exposure to reproduction information.
Read More
S-8893
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Paskalinda Maria Yosefa Bandur; Pembimbing: Milla Herdiyati; Penguji: Besral, Tris Eryando, Rahmadewi, Laily Hanifah
Abstrak: Preferensi jumlah anak ideal dan preferensi kontrasepsi remaja saat ini dapat mempengaruhi fertilitas dan pemakaian kontrasepsi dimasa yang akan datang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui determinan preferensi jumlah anak ideal dan preferensi pemakaian kontrasepsi pada remaja usia 15-24 tahun, belum menikah di Indonesia tahun 2017 dengan menggunakan analisis data SDKI-KRR tahun 2017. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa preferensi jumlah anak ideal yaitu sebanyak 69,9% dan preferensi pemakaian kontrasepsi yaitu sebanyak 82,5%. Berdasarkan model multivariat preferensi jumlah anak ideal pada remaja dipengaruhi oleh faktor umur, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, status ekonomi, akses intenet dan diskusi dengan teman sebaya. Pada preferensi pemakaian kontrasepsi pada remaja dipengaruhi oleh faktor umur, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, status ekonomi, akses internet dan diskusi dengan tokoh masyarakat. Dengan demikian, diharapkan kepada pemerintah dalam pelaksanaan program remaja dapat difokuskan pada faktor-faktor tersebut
Read More
T-5806
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ela Febriana; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Rahmadewi; Besral
Abstrak: Pemahaman yang baik tentang peran pria dalam pembentukan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi yang ideal dapat berdampak baik dalam program keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prediktor penggunaan kontrasepsi modern dan preferensi fertilitas pada pria yang aktif secara seksual di Indonesia. Sumber data merupakan data gambaran nasional Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 pria kawin usia 15-54 tahun. Analisis dibatasi pada 9.277 pria yang dilaporkan aktif secara seksual dalam 12 bulan terakhir sebelum survei dilakukan, berstatus menikah, dan tinggal bersama istri. Penelitian ini menggunakan uji bivariat dan regresi logistik multinominal untuk mendapatkan prediktor yang mempengaruhi penggunaan kontrasepsi modern dan preferensi fertilitas pada pria yang aktif secara seksual. Signifikansi uji statistik dari analisis bivariat dan regresi logistik multinomial ditetapkan pada nilai p-value<0,05. Dari total 9.277 pria aktif seksual di Indonesia, 309 (3,3%) pria menggunakan metode kontrasepsi modern dan 8.970 (96,7%) tidak menggunakan kontrasepsi modern. Selain itu, dari jumlah sampel sebanyak 4.384 (47,2%) merupakan pria yang tidak menginginkan anak lagi dan 4.895 (52,8%) pria bimbang atau masih menginginkan anak lagi. Temuan dari regresi logistik bivariat dan multinominal menunjukkan bahwa tingkat pendidikan (OR=3,02; 95% CI: 1,72-5,31 ), tempat tinggal (OR=1,75; 95% CI: 1,18-2,58), indeks kekayaan (OR=3,57; 95% CI: 1,87-9,50), status pekerjaan (OR=15,85; 95% CI: 1,83-96,76), jumlah anak hidup (OR=2,1; 95% CI: 1,35-3,24), istri menggunakan KB (OR=0,07; 95% CI: 0,05-0,11), keterpaparan melalui media (OR=1,83; 95% CI: 1,23-2,72), diskusi dengan petugas kesehatan (OR=0,47 ; 95% CI: 0,30-0,72), diskusi bersama istri (OR=2,71; 95% CI: 1,94-3,79), pengetahuan (OR=1,69; 95% CI: 1,23-2,32), dan preferensi fertilitas (OR=1,72; 95% CI: 1,22-2,43) berhubungan secara bermakna dengan penggunaan kontrasepsi modern pada pria yang aktif secara seksual. Hasil lain ditemukan bahwa usia (OR=4,55; 95% CI: 3,87-5,34), tingkat pendidikan (OR=0,77; 95% CI: 0,67-0,89), tempat tinggal (OR=1,26; 95% CI: 1,10-1,45), jumlah anak hidup (OR=13,2; 95% CI: 10,45-16,68), istri menggunakan KB (OR=1,32; 95% CI: 1,15-1,51), keterpaparan melalui media (OR=0,83; 95% CI: 0,72-0,96), diskusi bersama istri (OR=0,86; 95% CI: 0,75-0,98), dan pengetahuan (OR = 1,28; 95% CI: 1,11-1,48) secara signifikan berhubungan dengan preferensi fertilitas pada pria yang tidak menginginkan anak lagi. Studi ini menunjukkan bahwa kebijakan dan program masa depan harus fokus pada intervensi dan mempromosikan kontrasepsi pria di media, mengatasi kesenjangan wilayah dalam aksesibilitas dan ketersediaan kontrasepsi modern, dan intervensi keluarga berencana di tingkat pendidikan menengah.
A good understanding of the role of men in the formation of an ideal family and reproductive health planning can have a good impact in a family planning program. This study seeks to the predictors of modern contraceptive use and fertility preference among sexually active men in Indonesia. The data source is the nationally representative 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) of men aged 15-54 years. The analysis is restricted to 9,277 men who reported being sexually active in the past 12 months prior to the survey, have a married status, and living with his wife. This research use bivariate and multinominal logistic regression to access predictors that influence modern contraceptive use and fertility preference among sexually active men. Bivariate and multivariable multinomial logistic regression analysis was conducted and statistical significance was set at p-value<0.05. From a total of 9,277 sexually active men in Indonesia, 309 (3,3%) used male modern contraception methods and 8,968 (96,7%) didn't use modern contraception. Besides that, from the total sample, 4,383 (47,2%) is the fertility preference of male that didn't want another child and 4,894 (52,8%) men indecisive or still want another child. Findings from the bivariate and multinominal logistic regression indicate that education (OR=3,02; 95% CI: 1,72-5,31 ), residence (OR=1,75; 95% CI: 1,18-2,58), wealth index(OR=3,57; 95% CI: 1,87-9,50), currently working (OR=13,32; 95% CI: 1,83-96,76), living children (OR=2,1; 95% CI: 1,35-3,24), istri menggunakan KB (OR=0,07; 95% CI: 0,05-0,11), access to media (OR=1,83; 95% CI: 1,23-2,72), disscuss with health worker (OR=0,47 ; 95% CI: 0,30-0,72), disscuss with wife (OR=2,71; 95% CI: 1,94-3,79), knowledge (OR=1,69; 95% CI: 1,23-2,32), dan fertility preference (OR=1,72; 95% CI: 1,22-2,43) were all significantly associated with modern contraceptive use among sexually active men. Other result finding that age (OR=4,55; 95% CI: 3,87-5,34), education level (OR=0,77; 95% CI: 0,67-0,89), residence (OR=1,26; 95% CI: 1,10-1,45), living children (OR=13,2; 95% CI: 10,45-16,68), wife using contraceptive (OR=1,32; 95% CI: 1,15-1,51), access to media (OR=0,83; 95% CI: 0,72-0,96), disscuss with wife (OR=0,86; 95% CI: 0,75-0,98), and knowledge (OR = 1,28; 95% CI: 1,11-1,48) were all significantly assosiated with fertility preference in a men who didn't want another child. These findings suggest that future policies and programs should focus on interventions and promoting men's contraception in media, addressing regional disparities in accessibility and availability of modern contraceptive, and interventions family planning in the middle of level education.
Read More
S-11111
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gabity Heriono; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Trini Sudiarti, Anna Fitriani
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan proporsi asupan natrium terhadap penggunaan jasa online food dari makanan dan karakteristik responden meliputi jenis kelamin, aktivitas fisik, tingkat stres, dan indeks massa tubuh. Disain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah responden 148 mahasiswa nonkesehatan Universitas Indonesia. Variabel dependen pada penelitian ini adalah asupan natrium, dan variabel independen meliputi frekuensi penggunaan jasa OFD, durasi loyalitas konsumen, dan preferensi makanan. Selain itu terdapat juga variabel perancu yaitu jenis kelamin, aktivitas fisik, dan tingkat stres.
Read More
S-10832
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Winda Lestari; Pembimbing: Sjtnato Priyo Hastono; Penguji: Milla Herdayati, Rina Herarti, Joko Irianto
T4342
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mira Maryani Latifah; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Nia Erviani, Lovely Daisy
Abstrak: Angka Unmet need yang relatif tergolong tinggi yakni sebesar 11 % menunjukkan bahwa pelayanan Keluarga Berencana pada beberapa lapisan masyarakat tidak terpenuhi dan masih terdapat wus yang belum menggunakan kontrasepsi padahal sudah tidak ingin memiliki anak lagi. Sikap seorang wanita untuk menginginkan, memilih, mempertimbangkan hingga menggunakan alat kontrasepsi atau menjangkau pelayanan keluarga berencana tidak hanya bergantung pada karakteristik individu semata namun juga terkait karakteristik suami atau pasangan. Data SDKI 2017 menyatakan bahwa sebanyak 23 persen pria menyatakan ingin menambah anak dalam waktu 2 tahun. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif desain penelitian potong lintang dengan menggunakan data sekunder survei demografi kesehatan Nasional (SDKI) 2017. Sampel pada penelitian ini sebanyak 32164 wanita usia subur yang berstatus menikah dan telah memiliki anak serta suami wanita usia subur setelah dilakukan pembobotan. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square, analisis complex sample, analisis stratifikasi dan cox regressions. Hasil penelitian didapatkan bahwa Preferensi fertilitas suami yang ingin memiliki anak dan tidak memiliki pengetahuan berisiko 1,14 kali lebih besar (CI 95% 1,19-2,55) menyebabkan wanita usia subur tidak menggunakan kontrasepsi.
Unmet Need have relatively high number 11%, indicates that family planning services in several levels of society are not being met and there are still not using contraception even though they do not want to have children anymore. The attitude of a woman to want, choose, consider using contraception or reach out to a family planning service is not only based on individual characteristics but is also related to the characteristics of her husband or partner. The IDHS 2017 data stated that as many as 23 percent of men stated that they wanted to have more children within 2 years. This study is a cross-sectional quantitative study using secondary data from the 2017 National Health Demographic Surveillance (IDHS). The sample in this study were 32164 women of egible age who were married and had children and the husbands. Data analysis was performed by chi-square test, complex sample analysis and cox regression. The results showed that the fertility preference of husbands who wanted to have children and did not have knowledge had a risk of 1.14-1,86 times greater (95% CI 1.19-2.55) causing women of childbearing age not to use contraception
Read More
T-6161
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisa Auliani; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Salimar
Abstrak: Anak-anak usia sekolah cenderung mengonsumsi makanan tinggi lemak dan rendah serat termasuk sayur. Rendahnya konsumsi sayur pada periode ini dalam jangka pendek dapat menyebabkan kerusakan sel, lemahnya imunitas tubuh, ISPA, dan masalah pencernaan sedangkan dampak jangka panjangnya dapat meningkatkan risiko terkena penyakit kronis seperti penyakit jantung koroner, COPD, stroke, kardiovaskular, dan kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan proporsi konsumsi sayur anak usia 10-11 tahun berdasarkan food neophobia dan faktor lainnya di SDN Polisi 1 Kota Bogor. Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 142 responden. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner serta formulir food record 2x24 jam oleh responden. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 18,3% responden yang mengonsumsi sayur setiap hari dan rata-rata konsumsi sayur responden hanya 33,75 gram per hari. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan proporsi konsumsi sayur yang bermakna berdasarkan faktor kesukaan, keyakinan diri, hambatan, dan preferensi sayur. Edukasi mengenai pentingnya konsumsi sayur perlu diberikan kepada anak usia sekolah serta orang tuanya untuk mencapai anjuran konsumsi sayur yang direkomendasikan.
Read More
S-10103
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suci Nurul Andini; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Wachyu Sulistiadi, Dadang Rukanta S, Moch. Bukhori Muslim
Abstrak:
Latar Belakang : Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbanyak di dunia dengan lebih dari 90% total penduduknya beragama Islam. Provinsi Jawa Barat adalah provinsi dengan lebih dari 90% dari total penduduknya beragama Islam sehingga hal itu menjadikanya sebagai Provinsi dengan penduduk mmuslim terbanyak di Indonesia. Provinsi Jawa Barat memiliki wilayah aglomerasi pusat perdagangan, industri, pendidikan yang bernama wilayah Bandung Raya yang terdiri dari Kota Banudng, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Sumedang. Dengan tingginya populasi muslim tersebut menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial untuk berbagai produk atau jasa syariah di berbagai sektor salah satunya adalah bidang kesehatan seperti rumah sakit. Rumah Sakit syariah adalah rumah sakit yang menjalankan pelayanan berdasarkan prinsip Maqashid Syariah yang terdiri dari lima penjagaan yaitu penjagaan agama, jiwa, harta, akal dan keturunan. Konsep rumah sakit syariah ini pertama kali digaungkan pada tahun 2016 setelah DSNMUI mengeluarkan fatwa tentang pedoman pelaksanaan rumah sakit syariah. Terdapat 67 rumah sakit di wilayah Bandung Raya dan hanya satu rumah sakit yang bersertifikasi syariah. Tujuan Penelitian :Penelitian ini mengetahui preferensi masyarakat Bandung Raya terhadap rumah sakit syariah dan faktor faktor yang mempengaruhi preferensi. Metodologi Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain kuantitatif dengan pendekatan potong lintang menggunakand ata primeryang didapatkan dari kuesioner. Hasil Penelitian : Masyarakat Bandung Raya memiliki preferensi yang tinggi terhadap rumah sakit syariah,dan faktor yang mempengaruhi teradap preferensi adalah Tingkat Pengetahuan, Jenis Kelamin dan Agama. Kesimpulan : Preferensi masyarkat Banudng Raya secara umum tinggi terhadap rumah sakit syariah tetapi perlu adanya kontribusi lebih banyak dari Ormas Islam terhadap Rumah Sakit Syariah pada khususnya di bidang edukasi dan promosi. Kata kunci: Preferensi, Rumah Sakit Syariah, Islam

Background: Indonesia is the country with the largest Muslim population in the world, with more than 90% of its total population adhering to Islam. West Java Province has more than 90% of its population practicing Islam, making it the province with the largest Muslim population in Indonesia. West Java has an agglomeration area known as Greater Bandung, which includes Bandung City, Cimahi City, Bandung Regency, West Bandung Regency, and Sumedang Regency. This area is a hub for trade, industry, and education. With such a high Muslim population, Indonesia becomes a potential market for various Sharia-compliant products and services in many sectors, including healthcare, such as hospitals. A Sharia hospital is one that operates based on the principles of Maqashid Sharia, which includes the protection of religion, life, intellect, wealth, and lineage. The concept of Sharia hospitals was first introduced in 2016 after the DSN-MUI issued a fatwa on guidelines for the implementation of Sharia hospitals. Of the 67 hospitals in the Greater Bandung area, only one is Sharia-certified. Research Objective: This study aims to understand the preferences of the Greater Bandung community towards Sharia hospitals and the factors influencing these preferences. Research Methodology: This research is a quantitative study using a cross-sectional approach with primary data obtained from questionnaires. Research Findings: The Greater Bandung community has a high preference for Sharia hospitals, and the factors influencing this preference include the Level of Knowledge, Gender, and Religion. Conclusion: Generally, the Greater Bandung community has a high preference for Sharia hospitals, but there is a need for more contributions from Islamic organizations, particularly in the areas of education and promotion. Keywords: Preferences, Sharia Hospitals, Islamic
Read More
B-2422
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusnita; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Trini Sudiarti, Rahmawati, Lina Marlina
Abstrak: Anak usia sekolah merupakan pemirsa televisi yang paling rawan, karena mudahdipengaruhi iklan. Televisi saat ini didominasi oleh iklan makanan dan minuman yangtinggi lemak, gula dan garam. Survei pendahuluan menunjukkan bahwa anakmenonton televisi lebih dari 2 jam per hari. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui pengaruh iklan makanan dan minuman di televisi terhadap preferensimakanan dan minuman anak usia sekolah di SDN 115466 Kabupaten LabuhanbatuUtara Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juni 2016. Penelitian menggunakan disain kuasi eksperimen (one group pretest-posttest design), dengan total sampel 68 siswa kelas IV dan V. Analisis yangdigunakan adalah Uji T Dependen. Intervensi dilakukan dengan melihat rekaman 10iklan makanan dan minuman yang ada di televisi dengan durasi 5 menit dan tanpapengulangan. Pre test preferensi makanan dan minuman dilakukan sebelum intervensi,post test1 dilakukan sesaat setelah intervensi, post tes2 dilakukan 1 minggu setelahpost test1, dan post test3 dilakukan 1 minggu setelah post test2. Hasil penelitian inimenunjukkan bahwa ada pengaruh iklan makanan dan minuman di televisi terhadappreferensi makanan dan minuman anak sebelum dan sesudah intervensi. Preferensi PreTest - Post Test1 (p=0,0005), Pre Test - Post Test2 (p=0,0005), Pre Test - Post Test3(p=0,0005). Tidak terdapat perbedaan preferensi makanan dan minuman Post Test1 -Post Test2 (p=0,541), Post Test2 - Post Test3 (p=0,436), hal ini menunjukkan bahwapreferensi dapat bertahan lebih dari 2 minggu setelah melihat iklan. Perlu dilakukanpembatasan paparan iklan terhadap anak, dengan membatasi waktu menonton televisi,dan pendampingan oleh orang tua.Kata kunci: Iklan, Preferensi, Makanan, Minuman, anak usia sekolah.
Read More
T-4790
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggi Morika Septie; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Aisyah Rosalinda
S-6726
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive