Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ekin Hagana Imanuel Sembiring; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Yuni Kusminanti
Abstrak: Penelitian cross sectional ini berisi tentang asesmen safety leadership,safety climate dan safety behavior di PT. X tahun 2016. Dibutuhkan gambaranaspek kepemimpinan, iklim serta perilaku pekerja di PT.X yang dapat digunakansebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengembangan K3. Terdapat 183item pada kuesioner yang telah diisi oleh 87 responden yang merupakan pekerjaPT.X dengan jabatan pelaksana dan lama kerja minimal 6 bulan. Data yang telahdiperoleh selanjutnya diolah untuk mengetahui nilai rata-rata persepsi respondenterhadap ketiga variabel, yaitu safety leadership, safety climate dan safetybehavior.Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa safetyleadership atasan responden yang terdiri atas 5 indikator, yaitu: safety caring,safety cocahing, safety controlling, participative decision making dan leading byexample masuk pada kategori baik dengan nilai mean sebesar 76,34%. Hasilasesmen safety climate yang terdiri dari 6 indikator yaitu: management safetypriority, commitment and competence, safety communication, learning and trustin co-worker safety competence, workers safety commitment, workers safetypriority and risk non acceptance, organizational environment dan work pressuremasuk kedalam kategori baik dengan nilai mean sebesar 75,62%. Selain itu,variabel safety behavior juga masuk kedalam kategori baik dengan nilai meansebesar 75,26% yang terdiri atas 2 indikator yaitu safety compliance dan safetyparticipation.Kata kunci: asesmen;safety behavior;safety climate;safety leaderhip.
Read More
S-9277
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abigael Oktaria Zega; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Abdul Rasyid
Abstrak:
Pada tahun 2023, industri penyediaan makanan dan minuman di Indonesia mencapai 4,85 juta usaha. Angka tersebut meningkat sebesar 21,13% dari tahun 2016 dengan total 4,01 juta usaha (Badan Pusat Statistik, 2024). Meskipun seringkali dianggap sederhana, proses pembuatan makanan dilakukan dengan menggunakan bantuan mesin-mesin bertekanan tinggi yang melibatkan interaksi antara manusia dengan mesin (Thohir et al., 2025). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan safety leadership dan safety behavior pada perusahaan industri makanan PT X tahun 2026 dengan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari (Lu and Yang, 2010) dan (Neal, Gri and Hart, 2000) sebagai data utama, serta dilakukan wawancara tidak terstruktur dan observasi di lapangan sebagai data kualitatif pendukung. Penelitian dilakukan kepada 239 responden dengan desain cross-sectional dan hubungan variabel dianalisis menggunakan Spearman’s rho karena data kuesioner berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety leadership berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai 4,54 dan safety behavior juga berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai 4,53. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara safety leadership dan safety behavior (r = 0,749; p = 0,000). Hasil temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan keselamatan berperan sangat penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Hasil wawancara dengan narasumber juga menguatkan temuan ini, bahwa partisipasi aktif, kebijakan, dan kepedulian yang ditunjukkan pemimpin menjadi faktor dapat mendorong terbentuknya perilaku keselamatan pekerja. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan dapat meningkatkan partisipasi kepemimpinan keselamatan dan membentuk program program keselamatan bagi pekerja yang bersifat partisipatif. Saran lanjutan terkait penelitian ini agar dapat meneliti variabel mediasi lain yang mungkin dapat berpengaruh atau memperkuat hubungan antara safety leadership dan safety behavior.

In 2023, the food and beverage industry in Indonesia reached 4.85 million businesses, representing an increase of 21.13% compared to 2016, which recorded a total of 4.01 million businesses (Badan Pusat Statistik, 2024). Although frequently perceived as a relatively straightforward sector, the food production process in practice involves the operation of high-pressure machinery that demands intensive man-machine interaction (Thohir et al., 2025). This study aims to analyze the relationship between safety leadership and safety behavior in a food industry company, PT X, in 2026. Primary data were collected through a questionnaire adapted from Lu and Yang (2010) and Neal, Griffin, and Hart (2000), while supporting qualitative data were obtained through unstructured interviews and field observations. This study involved 239 respondents using a cross-sectional study design, and the relationship between variables was analyzed using Spearman's rho correlation test, given that the questionnaire data were not normally distributed. The results indicate that safety leadership was categorized as very high with a mean score of 4.54, and safety behavior was similarly categorized as very high with a mean score of 4.53. Hypothesis testing demonstrated a significant positive relationship between safety leadership and safety behavior (r = 0.749; p = 0.000), indicating that safety leadership plays a crucial role in shaping workers' safety behavior. These findings were further corroborated by interview results, which confirmed that active participation, the implementation of safety policies, and the concern demonstrated by leaders are factors that substantially contribute to the formation of safety behavior among workers. This study recommends that companies continuously enhance leadership participation in occupational safety and develop participatory safety programs that actively engage all workers. For future research, it is suggested that other mediating variables that may influence or strengthen the relationship between safety leadership and safety behavior be further investigated.
Read More
S-12462
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajar Kristianto; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Hendra, Yudi Setiadi
Abstrak: Skripsi ini membahas perilaku keselamatan Pramudi (Pengemudi) Bus TransJakarta Koridor I jurusan Blok M ? Kota. Penelitian ini adalah penelitian dengan disain studi kualitatif deskriptif. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain; pengetahuan, sikap, pelatihan, pengawasan, safety promotion dan Standard Operating Procedure (SOP). Hasil penelitian menyarankan bahwa perlu ditingkatkan pengetahuan dan kompetensi dari Pramudi (Pengemudi) Bus TransJakarta, perlu adanya safety pomotion yang terprogram, perlu adanya sosialisasi SOP di tempat kerja, penambahan dan perawatan infrastruktur, penertiban pejalan kaki dan motor yang melintasi jalur busway dan peningkatan pelayanan keselamatan penumpang.
Read More
S-5699
Depok : FKM UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ranti Fitri Agustina; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Bahrain Munir
Abstrak:
Keselamatan kerja merupakan aspek krusial dalam operasional perusahaan, khususnya pada sektor kelistrikan yang memiliki tingkat risiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara safety leadership dan safety perception terhadap safety behavior pada pekerja di site PT X tahun 2025. Pendekatan yang digunakan adalah semikuantitatif dengan metode survei menggunakan kuesioner yang diisi oleh 87 responden. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara safety leadership dan safety behavior (r = 0,227; p = 0,035), serta antara safety leadership dan safety perception (r = 0,579; p = 0,000). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara safety perception dan safety behavior (r = 0,149; p = 0,169). Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan keselamatan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja, baik secara langsung maupun melalui persepsi terhadap keselamatan. Hasil wawancara dengan key person juga menguatkan bahwa keteladanan dan keterlibatan langsung pimpinan menjadi faktor yang mendorong budaya keselamatan yang positif. Penelitian ini menyarankan agar perusahaan meningkatkan efektivitas kepemimpinan keselamatan melalui pelatihan, keterlibatan aktif pemimpin, serta evaluasi berkelanjutan terhadap program keselamatan. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengeksplorasi faktor lain yang dapat memediasi atau memoderasi hubungan antarvariabel.


Occupational safety is a crucial aspect of company operations, especially in the electricity sector which carries a high level of risk. This study aims to examine the relationship between safety leadership and safety perception on safety behavior among workers at the PT X site in 2025. A semi-quantitative approach was employed using a survey method with questionnaires completed by 87 respondents. Data were analyzed using Spearman and Pearson correlation tests. The results indicate a positive and significant relationship between safety leadership and safety behavior (r = 0.227; p = 0.035), as well as between safety leadership and safety perception (r = 0.579; p = 0.000). However, no significant relationship was found between safety perception and safety behavior (r = 0.149; p = 0.169). These findings suggest that safety leadership plays an important role in shaping workers’ safety behavior, both directly and indirectly through safety perception. Interviews with key persons also support the conclusion that leadership engagement and role modeling are key drivers of a positive safety culture. The study recommends that the company improve the effectiveness of safety leadership through targeted training, active leadership involvement, and continuous evaluation of safety programs. Future research is encouraged to explore other variables that may mediate or moderate the relationships among these constructs.
Read More
S-12082
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Najmi Tanziila; Pembimbing: Hendra; Penguji: Dadan Erwandi, Mufti Wirawan, Gama Widyaputra, Aryo Wibowo Hendra Putro
Abstrak:
SPBU merupakan industri minyak dan gas hilir yang tidak lepas dari bahaya dan risiko bagi pekerja maupun konsumen. Hal ini tercermin dari meningkatnya insiden SPBU di PT X beberapa tahun terakhir di mana sebagian penyebabnya diakibatkan oleh kelalaian petugas menerapkan prosedur keselamatan yang terus berulang. Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan safety behavior operator SPBU menggunakan pendekatan Job Demand-Resource Model pada 5 SPBU COCO dan 17 SPBU DODO di Jakarta Pusat. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan faktor antara kedua jenis SPBU. Sebagian operator DODO berpendidikan di bawah SMA/SLTA, di mana tidak sesuai kualifikasi PT X. Analisis bivariat tidak menemukan faktor demografi yang berhubungan dengan safety behavior di kedua SPBU. Pada SPBU COCO, tidak ada faktor job demand yang berhubungan signifikan dengan safety behavior sedangkan faktor job resource yang berhubungan adalah safety knowledge dan supervisor support, dengan supervisor support sebagai faktor dominan (p-value 0,017) berdasarkan analisis multivariat. Pada SPBU DODO, role ambiguity menjadi satu-satunya faktor job demand yang berhubungan signifikan dengan safety behavior sedangkan ketujuh faktor job resource berhubungan signifikan. Analisis multivariat pada operator SPBU DODO menunjukkan bahwa role ambiguity, safety culture, dan skill discretion merupakan tiga faktor yang berhubungan dengan safety behavior (p-value masing-masing 0,019; 0,007; <0,005).

Fuel stations are a downstream industry with their own hazard and risks both for  consumers and workers. This is reflected in recent rises in incident cases at Company X  which were caused by operators’ lapses. This research analysed the factors which affect  safety behavior of operators using job demand resource approach on 5 COCO FS and 17  DODO FS in Central Jakarta. The result shows that there is discrepancies between COCO  and DODO FS. DODO operators still show education level below High School which  contradicts with company policy. Bivariate analysis shows there’s no demography factors  affecting operator’s safety behavior. COCO operators show no job demand factor affected  their safety behavior while safety knowledge and supervisor support has a significant  relationship to safety behavior dominantly by supervisor support (p-value 0.017) from  multivariate analysis done afterwards. DODO operators show role ambiguity is the only  one from job demand with relation to safety behavior, and all job resource factors are  related to safety behavior. Multivariate analysis done on DODO operators shows role  ambiguity, safety culture, and skill discretion to be factors related to their safety behavior  (p value 0.019, 0.007, <0.005 respectively).
Read More
T-7710
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Refiani Fitri Ardiyanti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Afid Yusthi Ghozali
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan pada pekerja di PT X. Iklim keselamatan mencerminkan persepsi pekerja terhadap komitmen dan praktik keselamatan di lingkungan kerja, sementara perilaku keselamatan mencerminkan tindakan nyata pekerja dalam mendukung keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator iklim keselamatan dan perilaku keselamatan, yang masing-masing diukur menggunakan skala ordinal. Responden penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT X. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan (ρ = 0,551). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi pekerja terhadap iklim keselamatan, maka semakin baik pula perilaku keselamatan yang ditunjukkan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim keselamatan yang positif sebagai strategi untuk meningkatkan perilaku keselamatan di tempat kerja.
Read More
S-11992
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hidayati Nur Kumalasari; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Robiana Modjo, Wahyu Wafiq Suharyanto
Abstrak:
Di beberapa negara, pekerjaan di bidang pertambangan dianggap sebagai salah satu pekerjaan yang paling berisiko sehingga dapat membuat pekerja rentan mengalami burnout. Laporan Future Forum Pulse Report Winter 2022 – 2023 menyatakan 42% pekerja mengalami burnout. Berdasarkan data statistik kecelakaan tambang 2019, terdapat 116 kecelakaan dengan 18 diantaranya menyebabkan kematian. Sebagian besar (70%) angka kecelakaan di Indonesia disebabkan oleh kurang diterapkannya perilaku keselamatan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan burnout dan pengetahuan keselamatan dengan perilaku keselamatan tambang PT. ABC project Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling yang diikuti sebanyak 211 responden dengan mengisi kuisioner tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara burnout dengan perilaku keselamatan (p-value 0,016). Adanya hubungan yang lemah antara client related burnout dengan perilaku keselamatan (r=-0,137).  Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan keselamatan dengan perilaku keselamatan (p-value 0,251). Variabel pengetahuan keselamatan bukan merupakan confounding terhadap hubungan burnout dengan perilaku keselamatan (perubahan OR <10%), namun terdapat efek interaksi antara burnout dengan pengetahuan keselamatan terhadap perilaku keselamatan (p-value test of homogeneity = 0,017). Pekerja dengan tingkat burnout yang tinggi dan memiliki pengetahuan kurang baik berisiko 15,2 kali untuk memiliki perilaku keselamatan negatif.  Berdasarkan hasil penelitian, maka Perusahaan perlu melakukan monitoring burnout secara berkala, menambahkan jenis pelatihan terkait manajemen stres, problem solving dan lain sebagainya, memaksimalkan berbagai media kampanye K3 sebagai media promosi nomor telepon keadaan darurat lingkungan, mengadakan latihan tanggap darurat lingkungan, menyusun evaluasi pelatihan untuk mengukur keefektifan pelatihan dan kemampuan pekerja sebelum dan sesudah mendapatkan pelatihan.

In some countries, mining activity is considered as one of the riskiest jobs that put workers getting vulnerable to be burnout. The Future Forum Pulse Report Winter 2022 - 2023 stated that 42% of workers experience burnout. Based on statistical data on mining accidents in 2019, there were 116 accidents with 18 of them causing death. Most (70%) of the accident rate in Indonesia is caused by the lack of safety behavior implementation. Therefore, this study was conducted to determine the relationship between burnout and safety knowledge with mining safety behavior at PT. ABC project Sumbawa, West Nusa Tenggara. This study uses a quantitative method with a cross-sectional study. Sampling was carried out using the total sampling technique which was followed by 211 respondents by filling out a written questionnaire. The results of the study showed that there was a relationship between burnout and safety behavior (p-value 0,016). There is a weak relationship between client related burnout and safety behavior (r=-0.137). There was no relationship between safety knowledge and safety behavior (p-value 0,251). The safety knowledge variable did not confound the relationship between burnout and safety behavior (change in OR <10%). However, there was an interaction effect between burnout and safety knowledge on safety behavior (p-value test of homogeneity = 0,017). Workers with high levels of burnout and poor knowledge are 15,2 times more likely to have negative safety behavior. Based on the research results, the Company needs to conduct regular burnout monitoring, adds various trainings related to stress management, problem solving and so on, maximizes various Health and Safety Campaigns as media to promote environmental emergency telephone numbers, conducts environmental emergency response drill, prepares training evaluations to measure the effectiveness of training and workers' abilities before and after receiving training.
Read More
S-11838
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puti Afifah Sholeha; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Mufti Wirawan, Zulkifli Djunaidi, Ahmad Afif Mauludi, Putri Pujianti
Abstrak:
Industri pertambangan memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. PT X mengimplementasikan Mobile Apps pelaporan K3, namun efektivitasnya belum dievaluasi secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas aplikasi tersebut melalui kelaikan sistem (TELOS), penerimaan pengguna (UTAUT2), dampaknya terhadap Safety Behavior pekerja, serta analisis leading dan lagging indicators keselamatan. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif-eksplanatori dengan pendekatan cross-sectional (Maret–Mei 2026) di PT X, Kabupaten Tapin. Sampel terdiri dari 10 pakar manajemen (TELOS) dan 243 pekerja (UTAUT2 dan Safety Behavior). Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan PLS-SEM dengan SmartPLS. Hasil TELOS berkategori Baik (grand mean 4,10) dan seluruh variabel UTAUT2 berada pada kategori Setuju. Uji PLS-SEM menunjukkan Hedonic Motivation dan Habit berpengaruh signifikan terhadap Behavioral Intention (R² = 0,776), sedangkan Habit, Behavioral Intention, dan Facilitating Conditions berpengaruh signifikan terhadap Use Behavior (R² = 0,731). Use Behavior berdampak positif-signifikan terhadap Safety Compliance dan Safety Participation, menempatkan Safety Behavior pada level sangat baik. Analisis leading indicator menunjukkan Rate Pemenuhan QSAP menurun dari 104,46% pada tahun 2024 menjadi 101,08% pada tahun 2025, atau turun 3,38 poin persentase, meskipun kedua capaian tetap melampaui target 100%. Analisis lagging indicators menunjukkan Frequency Rate (FR) Nearmiss meningkat dari 1,86 menjadi 3,13 dan Property Damage dari 1,46 menjadi 4,00; FR Fire Case menurun dari 0,53 menjadi 0,17, sedangkan MTI, LTI, dan Fatality tetap 0,00. Kesimpulannya, Mobile Apps PT X terbukti efektif pada tingkat kelaikan sistem (TELOS), penerimaan pengguna (Behavioral Intention), dan perilaku keselamatan individu (Safety Compliance dan Safety Participation), namun belum sepenuhnya efektif pada tingkat kinerja keselamatan organisasi, sebagaimana ditunjukkan oleh penurunan leading indicator dan kenaikan FR pada Nearmiss serta Property Damage. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas sistem informasi keselamatan perlu dinilai secara berjenjang, dari kelaikan teknologi hingga dampak nyata pada kinerja organisasi, dan bahwa penguatan pada dimensi organisasi (mekanisme tindak lanjut, konsistensi reward-punishment, dan kepemimpinan) menjadi kunci untuk menutup kesenjangan tersebut.

The mining industry is a high-risk sector for occupational accidents. PT X implemented Mobile Apps for OHS reporting, but its effectiveness has not been comprehensively evaluated. This study aims to evaluate the application's effectiveness across system feasibility (TELOS), user acceptance (UTAUT2), its impact on workers' Safety Behavior, and safety leading and lagging indicators. A quantitative descriptive-explanatory design with a cross-sectional approach was conducted from March to May 2026 at PT X, Tapin Regency. The sample included 10 managerial experts (TELOS) and 243 workers (UTAUT2 and Safety Behavior). Data were analyzed using descriptive statistics and PLS-SEM via SmartPLS. TELOS results showed a Good category (grand mean 4.10) and all UTAUT2 variables were in the Agree category. PLS-SEM results showed that Hedonic Motivation and Habit significantly influenced Behavioral Intention (R² = 0.776), while Habit, Behavioral Intention, and Facilitating Conditions significantly influenced Use Behavior (R² = 0.731). Use Behavior had a positive and significant effect on Safety Compliance and Safety Participation, placing Safety Behavior at a very good level. Leading-indicator analysis showed that the QSAP Fulfillment Rate declined from 104.46% in 2024 to 101.08% in 2025, a decrease of 3.38 percentage points, although both values remained above the 100% target. Lagging-indicator analysis showed that the Frequency Rate (FR) for Nearmisses increased from 1.86 to 3.13 and Property Damage from 1.46 to 4.00; the FR for Fire Cases declined from 0.53 to 0.17, while MTI, LTI, and Fatality remained at 0.00. In conclusion, Mobile Apps at PT X proved effective at the system feasibility, user acceptance, and individual safety behavior levels (Safety Compliance and Safety Participation), but was not yet fully effective at the organizational safety performance level, as indicated by the decline in the leading indicator and the increased FR for Nearmisses and Property Damage. This finding indicates that the effectiveness of a safety information system must be assessed in a tiered manner, and that strengthening organizational-level factors (corrective follow-up mechanisms, reward-punishment consistency, and leadership) is key to closing this gap.
Read More
T-7641
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aryo Wibowo Hendra Putro; Promotor: Fatma Lestari; Kopromotor: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, L. Meily Widjaja, Waluyo, Audist Subekti, Alfajri Ismail; Suparni, Herlina J. EL-Matury
Abstrak:
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) merupakan fasilitas penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke masyarakat yang memiliki potensi bahaya dan berisiko tinggi terjadi kecelakaan. Selama tahun 2017-2018 telah terjadi 120 kecelakaan SPBU di Indonesia. Dua faktor utama yang berkontribusi terhadap kecelakaan, yaitu faktor manusia dan faktor organisasi. Tujuan dari penelitian ini menghasilkan instrumen pengukuran iklim keselamatan dan perilaku keselamatan konsumen SPBU serta model perilaku konsumen dan iklim keselamatan di SPBU yang memiliki nilai kebaruan dan orisinalitas. Tahap pertama dalam penelitian adalah penyusunan parameter ukur perilaku selamat dengan menggunakan referensi studi literatur. Pengukuran perilaku selamat dilakukan dengan mengumpulkan data dari pekerja SPBU di seluruh Indonesia dan masyarakat konsumen SPBU di wilayah Jawa Barat melalui kuesioner daring. Hasil pengumpulan data dianalisis secara kuantitatif menggunakan PLS-SEM. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa variabel iklim keselamatan SPBU yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kepatuhan dan partisipasi keselamatan pekerja, yaitu komitmen manajemen dan pemberdayaan keselamatan melalui mediasi variabel komunikasi keselamatan, aturan dan prosedur keselamatan, serta pelatihan keselamatan. Pada model perilaku selamat konsumen SPBU, Komunikasi operator, rambu keselamatan, media promosi, dan regulasi pemerintah secara signifikan mempengaruhi perilaku selamat konsumen melalui mediasi variabel norma, sikap, persepsi ancaman, serta persepsi benefit & barrier. Penelitian ini memiliki nilai manfaat yang tinggi karena menghasilkan 27 butir rekomendasi untuk pemerintah, badan usaha niaga migas, dan pengelola SPBU. Selain itu hasil penelitian ini dapat dikembangkan pada 6 topik penelitian lanjutan.

Fuel Stations are facilities for selling fuel to the public which has a potential hazard and a high risk of accidents. During 2017-2018 there were 120 gas station accidents in Indonesia. Two main factors contribute to accidents, namely human factors and organizational factors. The purpose of this research is to produce an instrument for measuring safety climate and consumer safety behavior at petrol stations as well as a model for consumer behavior and safety climate at gas stations, which are novel and original. The first stage of the research was the preparation of parameters for measuring safe behavior using references to literature studies. Measurement of safe behavior is carried out by collecting data from gas station workers throughout Indonesia and gas station consumers in West Jawa Province through online questionnaires. The results of data collection were analyzed quantitatively using PLS-SEM. The results of the research analysis show that the variables of gas station safety climate that significantly influence safety compliance and participation are namely management commitment and management empowerment, with safety communication, safety rules and procedures, and safety training as mediators. In the gas station consumer safety behavior model, operator communication, safety signs, promotion media, and government regulation significantly influence consumer safety behavior with norms, attitudes, perceived threat, and perceived benefit & barrier as mediators. This research has great value with 27 recommendations for the government, the oil and gas enterprise with downstream permit, and fuel station owners. This study results can also be expanded to more 6 new research topics.
Read More
D-499
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naura Khashia Cyrilla; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Akbar Satria Bakti
Abstrak:
Sektor konstruksi merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi, di mana iklim keselamatan organisasi diyakini berperan penting dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan melalui pengetahuan keselamatan dan motivasi keselamatan pada pekerja Proyek Y PT X tahun 2026, menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Griffin dan Neal (2000, 2006) sebagai data utama. Penelitian dilakukan pada 218 responden dengan desain cross sectional, dan data dianalisis menggunakan path analysis serta uji Sobel untuk menguji peran mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim keselamatan berada pada kategori tinggi (mean = 3,45), dengan dimensi management values sebagai kontributor tertinggi (3,52) dan safety training sebagai yang terendah (3,39). Pengetahuan keselamatan (3,43) dan motivasi keselamatan (3,46) juga berada pada kategori tinggi, dengan motivasi keselamatan menjadi nilai rata-rata tertinggi dan pengetahuan keselamatan menjadi nilai rata-rata terendah di antara seluruh variabel. Perilaku keselamatan berada pada kategori tinggi (3,44) dengan dimensi safety compliance (3,48) lebih tinggi dibandingkan safety participation (3,38). Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa baik pengetahuan keselamatan (z = 9,134; p < 0,001) maupun motivasi keselamatan (z = 11,276; p < 0,001) sama-sama terbukti memediasi secara signifikan hubungan antara iklim keselamatan dan perilaku keselamatan. Berdasarkan demografi, terdapat variasi yang menarik: responden perempuan menilai keempat variabel keselamatan lebih positif dibandingkan laki-laki, kelompok usia 17–25 tahun menunjukkan iklim dan perilaku keselamatan tertinggi sementara kelompok usia 46–55 tahun memperoleh pengetahuan keselamatan terendah dan masuk kategori cukup baik, kelompok manajemen menilai seluruh variabel paling positif, dan kelompok berpendidikan SD/Sederajat berada pada kategori cukup baik untuk seluruh variabel. Temuan kunci penelitian ini menunjukkan bahwa baik pengetahuan keselamatan maupun motivasi keselamatan sama-sama berperan sebagai jalur mediasi yang signifikan dalam membentuk perilaku keselamatan pekerja. Temuan ini menyarankan agar PT X terus memperkuat program-program yang membangun pengetahuan keselamatan maupun motivasi keselamatan pekerja secara seimbang, sebagai bagian integral dari strategi peningkatan perilaku keselamatan di proyek konstruksi.

Construction is one of the sectors with a high risk of work-related accidents, in which organizational safety climate is believed to play an important role in shaping workers' safety behavior. This study aims to analyze the relationship between safety climate and safety behavior through safety knowledge and safety motivation among workers at Project Y of PT X in 2026, using a questionnaire adapted from Griffin and Neal (2000, 2006) as the primary data source. The study was conducted on 218 respondents using a cross-sectional design, with data analyzed using path analysis and the Sobel test to examine the mediating role of the variables. The results show that safety climate falls into the high category (mean = 3.45), with the management values dimension as the highest contributor (3.52) and safety training as the lowest (3.39). Safety knowledge (3.43) and safety motivation (3.46) also fall into the high category, with safety motivation recording the highest mean score and safety knowledge the lowest mean score among all variables. Safety behavior falls into the high category (3.44), with safety compliance (3.48) higher than safety participation (3.38). Hypothesis testing results indicate that both safety knowledge (z = 9.134; p < 0.001) and safety motivation (z = 11.276; p < 0.001) significantly mediate the relationship between safety climate and safety behavior. Based on demographics, interesting variations were found: female respondents rated all four safety variables more positively than males; the 17–25 age group showed the highest safety climate and safety behavior scores while the 46–55 age group recorded the lowest safety knowledge score (falling into the moderately good category); the management group rated all variables most positively; and the SD/equivalent education group fell into the moderately good category across all variables. The key findings of this study indicate that both safety knowledge and safety motivation serve as significant mediating pathways in shaping workers' safety behavior. These findings suggest that PT X should continue to strengthen programs that build both safety knowledge and safety motivation in a balanced manner, as integral components of the strategy to enhance safety behavior in construction projects.
Read More
S-12453
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive