Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lia Sitawati; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Ansari, Dadan Erwandi, Suzy Yusna Dewi, Iyep Yudianan
Abstrak: Latar Belakang: Skizofrenia adalah salah satu gangguan jiwa berat, Skizofrenia diderita oleh 21 juta orang di dunia. Anggota Rumah Tangga (ART) di Indonesia yang menderita Skizofrenia/ psikosis 6,7 per mil pada 2018. Cakupan pengobatan penderita Skizofrenia atau psikosis yang berobat ke RS Jiwa/fasilitas layanan kesehatan/Tenaga Kesehatan adalah pernah/seumur hidup (85%) dan yang minum obat rutin 1 bulan terakhir (48,9%). Sekalipun prevalensinyaya kecil namun dampaknya sangat besar biaya finansial Skizofrenia di Amerika Serikat diperkirakan melampaui biaya semua kanker bila digabungkan, karena Skizofrenia bermula pada awal kehidupan, menyebabkan hendaya/ketidakmampuan yang signifikan dan bertahan lama, membuat tuntutan perawatan rumah sakit yang berat, membutuhkan perawatan rawat jalan, rehabilitasi, dan layanan dukungan terus-menerus. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya determinan kepatuhan minum obat pada penderita Skizofrenia di Poli Rawat Jalan RSJ Daerah Propinsi Lampung tahun 2019. Metode: Penelitian Kuantitatif dengan desain Cross Sectional, sampel 192 responden diolah dengan chi square dan regresi logistik. Kesimpulan: Sebagian dari penderita yang menjadi responden patuh minum obat (51,0%), berumur dewasa >30 tahun (70,3%), berpenghasilan dibawah UMP Lampung (82,3%), tingkat pendidikan dasar (46,9%), akses ke RSJ terjangkau (73,4%), persepsi dukungan keluarga sangat kuat (50,5%), wawasan terkait penyakit luas (94,3%), persepsi keparahan penyakit sedang (61,5%), persepsi tidak ada efek samping obat (54,7%), persepsi peran Dokter baik (35,9%) dan peran Apoteker sangat baik (80,2%). Kepatuhan berasosiasi secara positif dengan penghasilan (OR= 4,73), tingkat pendidikan, akses ke RSJ (OR=5), persepsi dukungan keluarga (OR=2,2), wawasan terkait penyakit (OR=5), persepsi keparahan penyakit, persepsi efek samping obat (OR=2,6), peran Dokter dan peran Apoteker (OR=2,7). Variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat adalah akses dengan OR = 6,6 Rekomendasi: Meningkatkan akses pada penderita melalui optimalisasi pelayanan kesehatan mental rujukan berjenjang di PPK I, II, disertai sumber daya manusia (Dokter, Apoteker) serta obat-obatan terkait, mengaktifkan Website RSJ serta melakukan edukasi melalui video edukasi, leaflet, poster, banner terkait kepatuhan minum obat penderita Skizofrenia
Read More
T-5692
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadhila Nafilah Azzahra; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Putri Bungsu, Ida Kurniawati
S-9912
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evawangi; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dadan Erwandi, Renti Mahkota, Yuniar Pukuk Kesuma, Eulis Wulantari
Abstrak: Skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan berat yang mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Di Indonesia, prevalensi skizofrenia adalah 1,7 per 1.000 populasi. Jumlah kunjungan gangguan jiwa di puskesmas Kabupaten Bogor telah meningkat secara signifikan dari 1.648 menjadi 13.390 pada tahun 2013-14. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan skizofrenia di Kabupaten Bogor tahun 2017. Studi kasus kontrol tidak berpasangan dilakukan di 63 puskesmas Kabupaten Bogor mulai Mei-Juni 2017. Kasus adalah penderita skizofrenia yang berusia 15-50 tahun yang didiagnosis oleh dokter / spesialis dan dicatat dalam register pasien puskesmas kabupaten Bogor pada tahun 2017. Kontrol Adalah orang sehat berusia 15-50 dan berdomisili di Kabupaten Bogor. Sebanyak 229 kasus dan 229 kontrol dipilih dengan teknik multistage sampling. Probability proportional to size digunakan untuk menentukan jumlah sampel dari masing-masing puskesmas. Kuesioner semi terstruktur yang telah diuji sebelumnya digunakan untuk mengumpulkan data yang relevan dari kontrol dan salah satu anggota keluarga kasus. Test Chi Square dan regresi logistik multivariat diterapkan untuk analisis data. Faktor-faktor yang berhubungan dengan skizofrenia: jenis kelamin laki-laki (AdjOR: 11.68; 95% CI: 4,96 -27.50), riwayat keluarga skizofrenia (AdjOR: 4.02; 95% CI: 1,90-8,48), pendidikan dasar AdjOR: 30,63; 95% CI: 4.21-222.81), pendidikan menengah (AdjOR: 25,35; 95% CI: 3,51-182.90), pengangguran (AdjOR: 5,6; 95% CI 2,52-12,45), tidak menikah (AdjOR: 8,20; 95% CI 2,52-12,45), masalah dalam keluarga (AdjOR: 4,93; 95% CI 2,43-9,99) dan masalah di tempat kerja / sekolah (AdjOR: 32.60; 95% CI 7.29 - 145.76 ). Dalam studi ini, faktor biologis (laki-laki dan riwayat keluarga skizofrenia), sosio-demografi (tingkat pendidikan rendah, tidak bekerja dan tidak menikah) dan faktor lingkungan (masalah dalam keluarga dan tempat kerja/sekolah) berhubungan dengan skizofrenia. Studi analitis prospektif diperlukan untuk mengeksplorasi lebih jauh hubungan ini.

Kata kunci: Skizofrenia, kasus kontrol, Kabupaten Bogor

Schizophrenia is a a chronic and severe mental disorder that affects thinking, feeling, and behavior of a person. In Indonesia, the prevalence of schizophrenia is 1.7 per 1,000 populations. The number of visits of mental disorders in puskesmas of Bogor Regency has increased significantly from 1,648 to 13,390 in 2013-14. This study aimed to determine the factors associated with schizophrenia in Bogor Regency 2017. An unmatched case-control was conducted in 63 health centers of Bogor regency from May-June 2017. Cases were schizophrenic patient aged 15-50 years diagnosed by physicians/specialists and recorded in the register of Bogor district health centers in 2017. Controls were the healthy people aged 15-50 and domiciled in Bogor Regency. A total of 229 cases and 229 controls were selected by multistage sampling technique. Probability proportional to size was usedto determine the number of samples from each puskesmas. A pre-tested semi structured questionnaires was used to collect relevant data from controls and one of the family members of cases. Chi square test and multivariate logistic regression were applied for data analysis. Folowing factors were associated with schizophrenia: male gender (AdjOR: 11.68; 95% CI: 4.96 -27.50), family history of schizophrenia (AdjOR: 4.02; 95 %CI: 1,90-8,48), basic education (AdjOR: 30.63; 95%CI: 4.21-222.81), secondary education (AdjOR: 25.35; 95% CI: 3.51-182.90), unemployed (AdjOR: 5.6; 95 %CI 2,52-12,45), unmarried (AdjOR: 10,20; 95%CI 2,52-12,45), problems in the family (AdjOR: 4.93; 95%CI 2.43-9.99) and problems at work / school (AdjOR: 32.60; 95%CI 7.29 - 145.76). In the study setting, biological (male and family history of schizophrenia),sociodemographic (low level of education, unemployment and unmarried) and environmental factors (problems in family, workplaceor school) were associated with schizophrenia. Prospective analytical studies are needed to further explore these associations.

Keywords: Schizophrenia, case control, Bogor district
Read More
T-5080
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nenden Hikmah Laila; Pembimnbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Krianto, Krisnawati Bantas, Lilin Darmiyanti, Armelia Rahmi Kartika Dini
Abstrak: Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang mempengaruhi lebih dari 21 juta orang di seluruh dunia. Keluarga-keluarga di Indonesia melakukan tindakan sosial yang represif terhadap anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Proporsi rumah tangga yang pernah memasung anggota rumah tangga (ART) gangguan jiwa berat sebesar 14,3 persen dan terbanyak pada rumah tangga di perdesaan. Di Jawa Barat prevalensi gangguan jiwa berat sebesar 1,6 per mil. Di Kabupaten Bogor pada tahun 2012-2016 pemasungan terlapor sebanyak 4%. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko perilaku memasung pada keluarga penderita skizofrenia di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan Mixed Method dengan desain studi unmatched case control dan pendekatan Exploratory. Penelitian dilakukan di Kabupaten Bogor pada bulan Mei-Juni Tahun 2017. Definisi kasus pada penelitian ini adalah penderita Skizofrenia yang sedang/pernah pasung. Sedangkan kontrol yaitu penderita Skizofrenia yang tidak pernah pasung. Sampel kasus untuk penelitian kuantitatif adalah 114 orang, sedangkan kontrol yaitu 136. Metode pemilihan sampel menggunakan multistage sampling. Penelitian kualitatif melibatkan 12 key informant. Analisis data dilakukan dengan analisis bivariate dengan uji chisquare dan analisis multivariate dengan uji regresi logistic. Ada hubungan antara perilaku agresif destruktif penderita (OR 4,49; 95% CI 2,52 8,00), keluarga yang tidak bekerja (OR 2,74; 95% CI 1,09 - 6,90) dan keluarga yang bekerja di sektor informal (OR 2,54; 95% CI 1,10 5,84) dan sikap negatif keluarga (OR 2,52; 95% CI 1,43 4,43) dengan perilaku memasung. Persepsi pasung menurut keluarga dan masyarakat adalah sebagai jalan keluar terbaik dan merupakan alternative satu-satunya. Upaya pencegahan bisa dilakukan dengan terapi secara rutin, program pemberdayaan eks penderita dan mendorong keluarga untuk merawat penderita dengan penuh kasih sayang. Kata kunci: Skizofrenia, pasung, agresif destruktif, diskursus Schizophrenia is a severe mental disorder that affects more than 21 million people worldwide. Families in Indonesia take repressive social measures against the madness of their family members. The proportion of households who have had mental disorders was 14.3 percent and most were from rural households. In West Java, severe mental disorders prevalence is 1.6 per 1000 population. Pasung prevalence in Bogor District in 2012-2016 is 4 percentage. This study aims to determine risk factor of family members of schizophrenia patient for pasung in Bogor District West Java Province In 2017. This research used unmatched case control design and exploratory approach. The study was conducted in Bogor District from May to June 2017. Cases were Schizophrenia patients who are in pasung, controls were Schizophrenia patients without pasung. There were 114 cases and 136 controls for the unmatched case control study. Qualitative research involved 12 key informants. Data analysis was done by bivariate analysis using chi-square and multivariate analysis with logistic regression. Aggressive destructive behavior (OR 4.49, 95% CI 2.52 - 8.00), Family unemployment (OR 2.74, 95% CI 1.09 - 6.90) and family with informal employment (OR 2.54, 95% CI 1.10 - 5.84), and family attitude (OR 2.52, 95% CI 1.43 - 4.43) toward schizophrenia patient were associated with pasung. Pasung perception by family and society is the best way out and there is the only alternative. Prevention efforts can be done by getting medical treatment routinely, empowerment program for ex patient to return to work, and encourage families to caring patients with affection. Keywords: Schizophrenia, pasung, aggressive destructive, discourse
Read More
T-5079
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Eko Sunaryanto; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Atik Nurwahyuni, Diah Setia Utami, Puji Triastuti
Abstrak:

Untuk mengevaluasi terhadap penerapan clinical pathway bagi pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, dilakukan penelitian menggunakan desain cross-sectional retrospektif dengan pengambilan sampel berdasarkan proporsi kejadian variabel yang diukur. Hasil yang diperoleh adalah indikator kejadian percobaan bunuh diri menurun dari 6% menjadi 2% (p= 0,097). Indikator kejadian pasien lari 6% vs 5% (p = 0,756). Kejadian pasien jatuh menurun dari 2% menjadi nol (p= 0,155). Indikator kejadian pasien yang difiksasi satu kali menurun dari 26% menjadi 12%, sedangkan pasien yang difiksasi lebih dari satu kali menurun dari 12% menjadi 10% (p = 0,028). Indikator kejadian infeksi nosokomial akibat scabies terdapat peningkatan bermakna dari tidak ada kasus menjadi 19% (p = 0,001). Tidak ada kejadian infeksi nosokomial akibat luka fiksasi. Kejadian re-hospitalisasi sebanyak satu kali mengalami penurunan sesudah penerapan clinical pathway sebanyak 7% (26% menjadi 19%). Kejadian re-hospitalisasi lebih dari satu kali meningkat sebesar 42% (10% menjadi 52%). Interval re-hospitalisasi kurang dari satu bulan menurun dari 2% menjadi 1%. Rata-rata lama rawat menurun dari 80,8 menjadi 59,16 (p = 0,04). Sedangkan indikator kepuasan pelanggan terdapat kecenderungan terjadi peningkatan setelah penerapan clinical pathway, namun pada tahun 2011 terdapat tren yang menurun. Saran: perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang adanya faktor-faktor selain clinical pathway, yang berpengaruh terhadap perubahan tingkat keselamatan pasien, re-hospitalisasi, efektivitas pelayanan, serta perlunya revisi formulir clinical pathway.


 

This study was conducted to evaluate the implementation of clinical pathway for patients with schizophrenia in the Dr. Radjiman Wediodiningrat Mental Hospital. This research used cross-sectional design with retrospective sampling events based on the proportion of measured variables. We found that the incidence of suicide attempts decreased from 6% to 2% (p = 0.097). There was no different of run away event ( 6% vs 5%; p = 0.756). The incidence of patient fell decreased from 2% into zero (p = 0.155). The events of one-time fixation decreased from 26% to 12%, while patients who got more than once fixation declined from 12% to 10% (p = 0.028). The incidence of nosocomial infection scabies increased to 19% (p = 0.001). There was no wound infections from fixation events. The incidence of re-hospitalization, one-time decreased after the implementation of clinical pathways as much as 7% (26% to 19%). But the incidence of rehospitalization for more than one time increased by 42% (10% to 52%). The average length of stay decreased from 80.8 to 59.16 (p = 0,04). In term of customer satisfaction, there was a tendency an increase after the implementation of clinical pathways, but in 2011 there was a downward trend. The study suggest to asses factor beside clinical pathways that influence patient safety, rehospitalized, care of effectivenes and review the clinical pathway form.

Read More
B-1572
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Natasya Amalia Pinanti; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dian Ayubi, Mohammad Syah Riza
Abstrak: Kepatuhan minum obat pada pasien skizofrenia merupakan hal penting untuk mengontrol perjalanan penyakit. Kepatuhan minum obat yang buruk berdampak pada kejadian kekambuhan skizofrenia. Adanya perceived benefit minum obat dan dukungan keluarga yang mendukung merupakan sebagian faktor yang terlibat dalam kepatuhan minum obat yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan antara Perceived benefit Minum Obat dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien Skizofrenia Rawat Jalan di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta pada bulan Juni 2019. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain crosssectional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dari 78 pasien rawat jalan. Pengukuran tingkat kepatuhan minum obat menggunakan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS), perceived benefit menggunakan pengembangan konstruk dari The Health Belief Model dan Drug Attitude Inventory, Dukungan Keluarga dari pengembangan substansi dukungan keluarga oleh House (2000). Hasil menunjukkan 35.9% responden memiliki tingkat kepatuhan sedang minum obat. Terdapat hubungan antara karakteristik pendidikan (p= 0.035), perceived benefit minum obat (p =0.008 dan 0.031), dan dukungan keluarga (p= 0.073 dan 0.004) dengan kepatuhan minum obat.
Read More
S-10160
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dede Suryaputra; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Lahargo Kembaren, Akemat
Abstrak:
Skizofrenia adalah penyakit yang mengalami satu atau lebih fungsi abnormal yang mengganggu otonomi seseorang dalam pekerjaan, pendidikan, relasi sosial, dan kehidupan yang mandiri. Orang yang mengalami disabilitas psikiatri adalah kandidat untuk dilakukan rehabilitasi psikososial. Salah satu pelayanan di RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor adalah pelayanan rehabilitasi psikososial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai hubungan karakteristik dengan performa dan hubungan kualitas layanan. rehabilitasi psikososial terhadap perubahan kapasitas performa fungsi personal dan sosial pasien skizofrenia di RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor pada tahun 2020. Penelitian ini menggunakan kombinasi yaitu kuantitatif dan kualitatif. Penelitian yang diawali dengan penelitian kuantitatif terhadap 39 orang pasien sesuai dengan kriteria inklusi dan dilanjutkan dengan penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam, dan observasi layanan rehabilitasi psikososial. Data hipotesis dengan uji hubungan bivariat. Hasil penelitian bahwa ada berhubungan secara signifikan pada CI 95% adalah usia, pendidikan, frekuensi kambuh, tangibles, reliabelity, responsiveness, assurance dan emphaty. Disarankan kepada Instalasi rehabilitasi psikososial untuk meningkatkan kompetensi dokter perawat dan staf lainnya dengan pendidikan dan pelatihan, pembenahan terhadap sarana dan prasarana, serta meningkatkan kerjasama dan koordinasi dengan lintas sektor

Background: Schizophrenia is a disease that experiences one or more abnormal functions that interfere with a person's autonomy in work, education, social relations, and self-reliant life. People with schizophrenia disease are candidates for psychosocial rehabilitation. One of the services in RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor is a psychosocial rehabilitation service. Objectives: Assessing the quality impact of psychosocial rehabilitation services on the performance of personal and social functions in schizophrenia patients in Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Hospital in 2020. Method: Combination Research namely quantitative and qualitative research that begins with quantitative research of 39 patients according to the criteria of inclusion and continued with qualitative research by conducting in-depth interviews, and observation of psychosocial rehabilitation services. Hypotheses Data with bivariate relationship tests. Results: There are significantly related to CI 95% are age, education, relapse frequency, tangibles, reliabelity, responsiveness, assurance and Emphaty. Conclusion: Good quality of service can change the performance capacity of personal and social functions schizophrenia patients and advised to the installation of psychosocial rehabilitation to improve the competence of nurses and other staff with education and training, improvement of facilities and infrastructure, and increase cooperation and coordination with cross-sector.

Read More
T-5946
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zygawindi Nurhidayati; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Ery Setiawan, Lahargo Kembaren
Abstrak:
Latar belakang: Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat bersifat kronis yang dapat menyebabkan defisit fungsional pasien sehingga mempengaruhi kualitas hidup serta memerlukan biaya perawatan jangka panjang yang besar bila tidak dilakukan pentalaksanaan secara komprehensif. Penatalaksanaan psikofarmakologi memiliki keterbatasan terhadap pemulihan fungsi pasien sehingga dibutuhkan intervensi rehabilitasi psikososial untuk mengoptimalkan fungsi dan kualitas hidup pasien. Hal tersebut akan berdampak pada efisiensi beban biaya pasien skizofrenia dalam jangka panjang yang bisa dioptimalkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis luaran klinis dan biaya pada penambahan rehabilitasi psikososial. Metode: Penelitian ini merupakan studi retrospektif yang mengukur efektivitas luara klinis dan kualitas hidup serta biaya pada pasien skizofrenia dengan penambahan rehabilitasi psikososial dibandingkan pasien skizofrenia dengan intervensi psikofarmakologi saja. Luaran klinis yang diukur berupa tingkat pemulihan berdasarkan nilais GAF dan kualitas hidup pasien berdasarkan kuesioner SQLS. Biaya dihitung selama satu tahun perawatan mencakup biaya obat, rehabilitasi, tindakan dan administrasi. Hasil: Pasien skizofrenia yang mendapatkan penambahan intervensi rehabilitasi psikososial sebanyak 81% memiliki nilai GAF > 70, lebih tinggi dibandingkan pasien skizofrenia dengan intervensi psikofarmakologi yang hanya 33,3%. Demikian pula, proporsi pasien dengan kualitas hidup yang baik sebanyak 85,7% sedangkan pasien skizofrenia dengan intervensi psikofarmakologi sebanyak 43,3%. Total biaya rata-rata per pasien pada pasien dengan penambahan rehabilitasi psikososial lebih tinggi dibandingkan dengan intervensi psikofarmakologi. Nilai ICER untuk setiap peningkatan GAF > 70 adalah Rp 70.023,96 dan nilai ICER untuk setiap 1% peningkatan kualitas hidup baik adalah Rp 78.777,00. Nilai tersebut menunjukkan bahwa penambahan rehabilitasi psikososial pada skizofrenia cukup efisien jika dikaitkan dengan luaran klinis. Kesimpulan: Penambahan intervensi rehabilitasi psikososial pada pasien skizofrenia di RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor memiliki luaran klinis yang lebih baik dan efisien secara biaya jika dikaitkan dengan luaran klinis tersebut. 

Background: Schizophrenia is a chronic, severe mental illness that causes significant functional deficits, affecting quality of life and necessitating substantial long-term care costs if not managed comprehensively. Psychopharmacological treatment alone has limitations in restoring patient functioning, thereby requiring psychosocial rehabilitation interventions to optimize patient function and quality of life. This optimization is anticipated to lead to improved cost-efficiency for schizophrenia patients in the long term. Objective: This study aimed to analyze the clinical outcomes and costs with the addition of psychosocial rehabilitation in schizophrenia patients. Methods: This retrospective study measured the effectiveness of clinical outcomes and quality of life, as well as costs, in schizophrenia patients receiving psychosocial rehabilitation in addition to psychopharmacological intervention, compared to those receiving psychopharmacological intervention. Clinical outcomes were assessed based on GAF scores and patient quality of life using the SQLS questionnaire. Costs were calculated over one year of treatment, encompassing expenses for medication, rehabilitation, medical procedures, and administration. Results: Among schizophrenia patients, 81% who received additional psychosocial rehabilitation achieved a GAF score > 70, which was significantly higher compared to only 33.3% of patients who received psychopharmacological intervention alone. Similarly, the proportion of patients with good quality of life was 85.7% in the psychosocial rehabilitation group, versus 43.3% in the psychopharmacology-only group. The average total cost per patient was higher in the group with additional psychosocial rehabilitation compared to the psychopharmacology-only group. The Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) for every 1% increase in GAF > 70 was Rp 70,023.96, and for every 1% increase in good quality of life was Rp 78,777.00. These values indicate that the addition of psychosocial rehabilitation in schizophrenia is highly cost-efficient when linked to clinical outcomes. Conclusion: The addition of psychosocial rehabilitation interventions for schizophrenia patients at RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor results in better clinical outcomes and is cost-efficient when considering these outcomes.
Read More
B-2545
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faiza Salsabila; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Kartika Anggun Dimar Setio, Dadun, I Ketut Sudiatmika
Abstrak:
ODS seringkali mendapatkan stigmatisasi dan perlakuan diskriminatif dari masyarakat. Perlu adanya upaya untuk memahami faktor-faktor yang menjadi sumber stigma supaya intervensi anti-stigma dapat lebih efektif. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kasus yang dilakukan dengan wawancara mendalam ke 6 orang informan utama (ODS) dan 4 orang informan kunci (tenaga kesehatan RSJ X yang terdiri dari psikiater, psikolog dan perawat serta Dirkeswa Kemenkes RI). Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui secara mendalam gambaran dinamika stigma pada Orang Dengan Skizofrenia (ODS) dengan pendekatan “What Matters Most” di RSJ X Kota Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai atau norma-norma yang dijunjung tinggi di masyarakat secara umum adalah penerimaan sosial, produktivitas dan pernikahan. Manifestasi stigma yang dialami ODS terdiri dari stigma diri dan stigma publik. Stigmatisasi dan perilaku diskriminatif terjadi di rumah, tempat ibadah, fasilitas kesehatan dan fasilitas umum seperti pasar maupun sekolah. Model eksplanatori gangguan mental terdiri dari keyakinan kausal, istilah stigmatisasi, hubungan gejala dengan peningkatan stigma dan interseksionalitas. Hambatan yang dialami ODS berasal dari aspek pendidikan dan pekerjaan. Kurangnya ketersediaan sumber daya kesehatan mental dan infrastruktur pada fasilitas kesehatan menjadi faktor pendukung stigma. Stigma pada ODS memengaruhi pencarian pengobatan alternatif, konsistensi pengobatan, dan penyembunyian diagnosis.

People with Schizophrenia (PwS) often receive stigmatization and discriminatory treatment from society. Understanding the factors that are the source of stigma is needed, so that anti-stigma interventions can be more effective. This thesis discusses the description of the "What Matters Most" factors: the dynamics of stigma among PwS at RSJ X Bogor City. This research is a qualitative research with a case study design which was conducted using in-depth interviews with 6 main informants (PwS) and 4 key informants (RSJ X health workers consisting of psychiatrists, psychologists and nurses as well Directorate of Mental Health, Ministry of Health of the Republic of Indonesia). The general aim of this research is to find out the description of the "What Matters Most" factors that can influence the dynamics of stigma in PwS at RSJ X Bogor City. The research results show that the values or norms that are upheld in society in general are social acceptance, productivity and marriage. The manifestations of stigma experienced by PwS consist of self-stigma and public stigma. Stigmatization and discriminatory behavior occurs in homes, places of worship, health facilities and public facilities such as markets and schools. Explanatory models of mental disorders consist of causal beliefs, stigmatization terms, the relationship of symptoms to increased stigma and intersectionality. The obstacles experienced by PwS come from educational and employment aspects. The lack of availability of mental health resources and infrastructure in health facilities is a contributing factor to stigma. The stigma of PwS influences the search for alternative treatment, consistency of treatment, and concealment of diagnosis.
Read More
T-7141
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sirajuddien Bialangi; Promotor: Tri Yunis Miko Wahyono.; Kopromotor: Syahrizal Syarif, Hervita Diatri; Penguji: Besral, Evi Martha,Helda, Soewarta Kosen
Abstrak:

Latar Belakang: Pada tahun 2018, menurut Riset Kesehatan Dasar kejadian skizofrenia/psikosis di Indonesia sebesar 6,7/1000 rumah tangga. Artinya, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga (ART) pengidap skizofrenia/psikosis. Skizofrenia memengaruhi sekitar 24 juta orang atau 1 dari 300 orang (0,33%) di seluruh dunia (WHO, 2022). Tahun 2021, Orang dengan skizofrenia (ODS) mempunyai angka yang paling tinggi diantara orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) lainnya di Provinsi Gorontalo yakni 1497 dari jumlah total 1834 ODGJ (81,62%). Begitu pula dengan jumlah ODS di Kota Gorontalo, yakni 201 dari jumlah 250 ODGJ (80,4%). Berdasarkan data di atas maka peneliti ingin mengetahui, gambaran karakteristik ODS dan hubungan antara karakteristik ODS dengan kualitas hidup ODS. Metode: Desain penelitian adalah cross sectional yang didahului dengan studi systematic review. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ODS di Kota Gorontalo dengan jumlah 201 ODS. Metode pengambilan sampel adalah total sampling (seluruh anggota populasi) yang kemudian diperoleh berdasarkan kriteria inklusi, dan pengecualian bagi ODS meninggal, pindah alamat, dan tidak terdeteksi lagi keberadaannya oleh pihak Puskesmas sehingga jumlah sampel adalah 121 ODS. Instrumen yang digunakan untuk pengukuran kualitas hidup adalah WHOQOL-BREF. Hasil: Studi Systematic review menunjukkan bahwa didapatkan artikel penelitian sebelumnya tentang faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup ODS yang akan dijadikan dasar untuk melakukan penelitian di Kota Gorontalo. Studi cross sectional menunjukkan bahwa pada pemodelan akhir multivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kualitas hidup ODS yaitu status pernikahan (p=0,027), pendidikan (p=0,008) dan pendapatan (p=0,002). Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kualitas hidup ODS adalah pendapatan. ODS yang yang tidak memiliki pendapatan berisiko 4,66 kali untuk memiliki kualitas hidup buruk dibandingkan ODS yang memiliki pendapatan setelah dikontrol oleh variabel pendidikan dan status pernikahan (aOR=4,66 95% CI 1,71-12,58). Kesimpulan: Variabel Pendidikan, pernikahan dan pendapatan memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup ODS di Kota Gorontalo. Sedangkan Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kualitas hidup ODS di Kota Gorontalo adalah variabel pendapatan. Saran: Pengembangan program pemberdayaan ekonomi untuk ODS, seperti dukungan keuangan dan pelatihan mengenai cara meningkatkan pendapatan, tidak hanya ditujukan untuk ODS, tetapi juga untuk seluruh elemen masyarakat yang membutuhkan. Pemberian santunan yang rutin setiap bulan untuk ODS yang tidak punya pendapatan.


Background: In 2018, according to the Basic Health Research, the incidence of schizophrenia/psychosis in Indonesia was 6.7/1000 households. This means that out of 1,000 households, there are 6.7 households that have household members with schizophrenia/psychosis. Schizophrenia affects around 24 million people or 1 in 300 people (0.33%) worldwide (WHO, 2022). In 2021, people with schizophrenia had the highest in people with mental disorders in Gorontalo Province, namely 1497 out of a total of 1834 people with other mental disorders (81.62%). Likewise, the number of people with schizophrenia in Gorontalo City is 201 out of a total of 250 people with other mental disorders (80.4%). Based on the data above, the researcher wants to know the description of the characteristics of people with schizophrenia and the relationship between the characteristics of people with schizophrenia and the quality of life of people with schizophrenia. Method: The research design was cross-sectional which was preceded by a systematic review study. The population in this study were all the people with schizophrenia in Gorontalo City with a total of 201 people with schizophrenia. The sampling method was total sampling (all members of the population) which was then obtained based on inclusion criteria, and exceptions for people with schizophrenia who died, moved address, and were no longer detected by the Health Center so that the number of samples was 121 people with schizophrenia. The instrument used to measure quality of life was WHOQOL-BREF. Results: Systematic review study showed that previous research articles were obtained on factors related to the quality of life of people with schizophrenia which will be used as a basis for conducting research in Gorontalo City. Cross-sectional study showed that in the final multivariate modeling showed that the variables related to the quality of life of people with schizophrenia were marital status (p = 0.027), education (p = 0.008) and income (p = 0.002). The most dominant variable related to the quality of life of people with schizophrenia was income. The people with schizophrenia who did not have income were 4.66 times more at risk of having a poor quality of life compared to the people with schizophrenia who had income after being controlled by education and marital status variables (aOR = 4.66 95% CI 1.71-12.58). Conclusion: The variables of education, marriage and income have a significant relationship with the quality of life of People with schizophrenia in Gorontalo City. While the most dominant variable related to the quality of life of People with schizophrenia in Gorontalo City is the income variable. Recommendation: Development of economic empowerment programs for people with schizophrenia, such as financial support and training on how to increase income, is not only aimed at people with schizophrenia, but also at all elements of society in need. Regular monthly assistance for ODS who have no income.

 

Read More
D-586
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive