Ditemukan 40826 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Herdipta Dhira Prasanti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Hari Awang Pramudja
S-8869
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anisa Sarah Andriyari; Pembimbing: Hendra; Penguji: Fatma Lestari, Hari Awang Pramudja
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran keluhan subjektif akibat kejadian tekanan panas yang memajan pekerja di area penatu dan dapur Crowne Plaza Hotel Jakarta pada tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini berjumlah 105 orang. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 12 responden (11,4%) mengalami kejadian tekanan panas. Selain itu, hasil penelitian ini pun menunjukkan bahwa terdapat tujuh keluhan yang dirasakan oleh lebih dari 50% responden yaitu, cepat haus (93,3%), banyak berkeringat (91,4%), merasa cepat lelah (67,6%), jarang buang air kecil/air seni sedikit (65,7%), lemas (59,0%), tidak nyaman dalam bekerja (56,2%), dan pusing atau berkunang-kunang (50,5%). Berdasarkah hal tersebut, perlu dilakukan pengendalian baik dari segi teknis, administratif, maupun personal untuk meminimalisasi keluhan subjektif dan risiko kesehatan akibat tekanan panas.
Kata kunci: Keluhan subjektif, tekanan panas, pekerja penatu, pekerja dapur
Read More
Kata kunci: Keluhan subjektif, tekanan panas, pekerja penatu, pekerja dapur
S-8708
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rohayu Verona Putri Nababan; Pembimbing: Hendra; Penguji: Fatma Lestari, Hari Awang Pramuja
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pendek pada siswa SDN Cideng 09 dan 10 Pagi Jakarta. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 156 orang yang didapat dengan metode simple random sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai Mei 2015. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran tinggi badan siswa, pengisian angket oleh Ibu siswa, dan wawancara kepada siswa dengan formulir FFQ semikuantitatif. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 16,0% siswa mengalami pendek. Analisis uji statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara asupan lemak rendah dan riwayat tidak ASI predominan dengan kejadian pendek. Penelitian ini menyarankan agar pemerintah dan sekolah terus mengedukasi siswa dengan pedoman gizi seimbang.
Read More
S-8706
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maharani Ayundhias; Pembimbing: Abdul Kadir; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Aldila Faza Zulfah
Abstrak:
Read More
Pekerja shift dan on-call di sektor kelistrikan memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja (fatigue) yang berdampak pada penurunan fungsi kognitif, produktivitas, kesehatan, dan keselamatan kerja. Kelelahan ini dipengaruhi oleh faktor risiko terkait pekerjaan (sistem on-call, shift kerja, masa kerja, beban kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, tidur, status gizi, pekerjaan sampingan, status menikah, riwayat penyakit). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja (fatigue) pada pekerja shift dan on-call. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan metode mixed method. Data kuantitatif diperoleh dari 98 responden menggunakan kuesioner OFER, PSQI, NASA-TLX, pengukuran tinggi badan dan berat badan, serta didukung data kualitatif melalui wawancara terbuka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa beban kerja berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja (fatigue) akut (p = 0,027; OR = 2,703) dan kelelahan kerja (fatigue) kronis (p = 0,034; OR = 2,618). Selain itu, kuantitas tidur (p = 0,035; OR = 3,906) dan status menikah (p = 0,003; OR = 4,354) memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja (fatigue) akut. Kesimpulan penelitian ini menekankan terkait pentingnya implementasi fatigue management dan peningkatan kesadaran diri dalam mengelola kelelahan kerja (fatigue).
Shift and on-call workers in the electricity sector have a high risk of experiencing fatigue, which impacts cognitive function, productivity, health and safety. This fatigue is influenced by work-related risk factors (on-call system, work shift, work period, workload) and non-work-related risk factors (age, sleep, nutritional status, side job, married status, disease history). The purpose of this study was to analyze the risk factors for fatigue in shift and on-call workers. The study used a cross sectional design with mixed methods. Quantitative data were obtained from 98 respondents using OFER, PSQI, NASA-TLX questionnaires, height and weight measurements, and supported by qualitative data through open interviews. The results of this study showed that workload was significantly associated with acute fatigue (p = 0.027; OR = 2.703) and chronic fatigue (p = 0.034; OR = 2.618). In addition, sleep quantity (p = 0.035; OR = 3.906) and married status (p = 0.003; OR = 4.354) had significant associations with acute fatigue. The conclusion of this study emphasizes the importance of implementing fatigue management and increasing self-awareness in managing fatigue.
Shift and on-call workers in the electricity sector have a high risk of experiencing fatigue, which impacts cognitive function, productivity, health and safety. This fatigue is influenced by work-related risk factors (on-call system, work shift, work period, workload) and non-work-related risk factors (age, sleep, nutritional status, side job, married status, disease history). The purpose of this study was to analyze the risk factors for fatigue in shift and on-call workers. The study used a cross sectional design with mixed methods. Quantitative data were obtained from 98 respondents using OFER, PSQI, NASA-TLX questionnaires, height and weight measurements, and supported by qualitative data through open interviews. The results of this study showed that workload was significantly associated with acute fatigue (p = 0.027; OR = 2.703) and chronic fatigue (p = 0.034; OR = 2.618). In addition, sleep quantity (p = 0.035; OR = 3.906) and married status (p = 0.003; OR = 4.354) had significant associations with acute fatigue. The conclusion of this study emphasizes the importance of implementing fatigue management and increasing self-awareness in managing fatigue.
S-12013
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bella Azalia; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Anisa Sawu Dwi Astuti
Abstrak:
Read More
Kelelahan merupakan masalah yang sering terjadi di tempat kerja, yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan menurunkan produktivitas kerja. Pekerja shift pada industri manufaktur merupakan kelompok yang rentan untuk mengalami kelelahan karena gangguan ritme sirkadian dan pola tidur alami. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kelelahan dan menganalisis faktor risiko kelelahan pada pekerja shift di Departemen Produksi perusahaan manufaktur PT X tahun 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan metode kuantitatif dan pengambilan sampel non-probability sampling. Terdapat 112 data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner OFER, NASA-TLX, PSS-10, dan PSQI yang dianalisis menggunakan uji Chi Square dan uji regresi logistik sederhana. Hasil menunjukkan 32,1% mengalami kelelahan kronis, 19,6% mengalami kelelahan akut, 34,8% memiliki pemulihan kelelahan yang kurang. Faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis adalah masa kerja (p-value=0,002), kualitas tidur (p-value=0,001), dan riwayat penyakit (p-value=0,034). Faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan kelelahan akut adalah masa kerja (p-value=0,002) dan kualitas tidur (p-value=0,001). Faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan pemulihan kelelahan adalah kualitas tidur (p-value=0,006) dan riwayat penyakit (p-value=0,007). Faktor risiko beban kerja, durasi kerja, shift kerja, stres kerja, usia, kuantitas tidur, status gizi, konsumsi kafein, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga, pekerjaan sampingan, dan waktu perjalanan tidak berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis ataupun akut.
Fatigue is a common problem in the workplace, which can increase the risk of workplace accidents and reduce work productivity. Shift workers in the manufacturing industry are a group that is vulnerable to fatigue due to circadian rhythm and natural sleep patterns disturbances. This study aims to determine the level of fatigue and analyze the risk factors for fatigue among shift workers in the Production Department of PT X manufacturing company in 2025. This study used a cross-sectional design with quantitative methods and non-probability sampling. A total of 112 data were collected using the OFER, NASA-TLX, PSS-10, and PSQI questionnaire and analyzed using the Chi-square test and simple logistic regression test. The results showed that 32.1% experienced chronic fatigue, 19.6% experienced acute fatigue, and 34.8% had poor fatigue recovery. Risk factors significantly associated with chronic fatigue were length of service (p-value=0,002), sleep quality (p-value=0,001), and history of illness (p-value=0,034). Risk factors significantly associated with acute fatigue were length of service (p-value=0,002) and sleep quality (p-value=0,001). Risk factors significantly associated with fatigue recovery were sleep quality (p-value=0,006) and history of illness (p-value=0,007). Risk factors such as workload, work duration, work shifts, work stress, age, sleep quantity, nutritional status, caffeine consumption, smoking habits, exercise habits, side jobs, and commuting time were not significantly associated with both chronic and acute fatigue.
S-12191
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aziz Rofi`i; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Lutfi Muzaqi, Sri Lestari
Abstrak:
Read More
Pengemudi dump truck merupakan salah satu jenis pekerjaan yang berisiko mengalami kelelahan karena adanya faktor terkait pekerjaan dan tidak terkait pekerjaan yang dapat mempengaruhi pengemudi. Pada HSE Monthly Report pada bulan Desember 2021 didapatkan bahwa angka lagging indicator untuk night work lebih tinggi dari day work. Dari sudut pandang ini, penelitian dilakukan untuk melihat gambaran kelelahan dan melakukan analisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pengemudi dump truck shift malam dengan sistem double shift. Penelitian dengan desain studi cross sectional dilakukan pada 130 pengemudi dump truck PT X. Faktor terkait pekerjaan yang dilakukan penelitian adalah waktu kerja, kondisi pencahayaan, getaran kabin, dan beban kerja, sedangkan faktor tidak terkait pekerjaan yang dilakukan penelitian adalah durasi tidur, kualitas tidur, umur, pekerjaan sampingan, indeks massa tubuh, aktifitas fisik, konsumsi minuman berenergi tinggi gula dan dukungan keluarga. Uji chi- square dilakukan untuk menganalisis keeratan hubungan antara variabel dependen dan independent sedangkan uji regresi logistik berganda digunakan untuk mengetahui variabel yang paling dominan berhubungan dengan variabel terikat. Prevalensi kelelahan pada pengemudi dump truck adalah sebesar 37,7% dan 62,3% tidak mengalami kelelahan. Dari empat faktor risiko terkait pekerjaan yang diteliti, pencahayaan, getaran dan beban kerja memiliki hubungan secara statistik dengan kelelahan. Sedangkan dari delapan faktor risiko tidak terkait pekerjaan yang diteliti, waktu tidur, kualitas tidur, usia, pekerjaan sampingan, aktifitas fisik, dan dukungan keluarga memiliki hubungan secara statistik dengan kelelahan. Pada hasil akhir multivariat didapatkan jika beban kerja dan pencahayaan memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan p-value < 0,05. Untuk mengurangi kelelahan pada pengemudi dump truck PT X Jobsite TB maka disarankan melakukan pengukuran kelelahan secara rutin sesuai dengan faktor risiko kelelahan yang dominan yaitu beban kerja, dan pencahayaan. Kata kunci: Kelelahan, Faktor risiko, Pengemudi Dump Truck, Double Shift
Dump truck driver is one type of work that is at risk of experiencing fatigue due to work- related and non-work related factors that can affect the driver. In the HSE Monthly Report in December 2021, it was found that the number of lagging indicators for night work is higher than day work. From this point of view, the study was conducted to see the description of fatigue and to analyze the risk factors related to fatigue in night shift dump truck drivers with a double shift system. Research with a cross-sectional study design was conducted on 130 PT X dump truck drivers. Factors related to the work carried out by the study were working time, lighting conditions, cabin vibration, and workload, while factors not related to the work carried out by the study were sleep duration, sleep quality, age, side work, body mass index, physical activity, consumption of energy drinks. high in sugar and family support. The chi-square test was conducted to analyze the close relationship between the dependent and independent variables, while the multiple logistic regression test was used to determine the most dominant variable associated with the dependent variable. The prevalence of fatigue in dump truck drivers is 37.7% and 62.3% do not experience fatigue. Of the four work-related risk factors studied, lighting, vibration and workload were statistically associated with fatigue. Meanwhile, of the eight non-work-related risk factors studied, sleep time, sleep quality, age, side work, physical activity, and family support were statistically associated with fatigue. In the final multivariate result, it was found that the workload and lighting had a statistically significant relationship with p-value <0.05. To reduce fatigue on PT X Jobsite TB dump truck drivers, it is recommended to carry out regular fatigue measurements according to the dominant fatigue risk factors, namely workload, and lighting. Key Words: Fatigue, Risk Factors, Dump Truck Driver, Double Shift
T-6421
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nabila Nurfikriya; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Siswantoro
S-10218
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sherin Salsabila Ramadhanty; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Baiduri Widanarko, Julia Rantetampang
Abstrak:
Read More
Commuting merupakan aktivitas rutin para komuter termasuk pekerja di sektor perkantoran yang setiap hari melakukan mobilitas ulang-alik sehingga menimbulkan potensi kelelahan dan berdampak pada penurunan produktivitas kerja serta peningkatan human error bahkan kecelakaan kerja, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja pada pekerja komuter di sektor perkantoran yang melakukan mobilitas ulang-alik (commuting) menuju/pulang ke/dari tempat kerja di wilayah Jakarta Selatan pada tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sebanyak 233 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner. Pengumpulan data menggunakan adaptasi dari instrumen Subjective Self Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, dan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Setelah itu, analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pekerja komuter di sektor perkantoran 36,9% mengalami kelelahan ringan dan 63,1% mengalami kelelahan sedang-sangat tinggi. Faktor risiko yang berhubungan signifikan ditemukan pada faktor risiko tidak terkait pekerjaan, diantaranya waktu tempuh, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: <0,001), moda transportasi utama, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: 0,007), peran komuter (p-value: 0,002), jumlah penggunaan moda transportasi, baik berangkat (p-value: 0,014) dan pulang (p-value: 0,005), jenis kelamin (p-value: 0,033), dan tingkat pendidikan (p-value: 0,006). Dengan demikian, diperlukan adanya upaya pencegahan dan pengendalian kelelahan kelelahan yang komprehensif oleh perusahaan termasuk pemerintah melalui kebijakan dan program manajemen kelelahan. Penerapan kebijakan buffer time, monitoring kelelahan, peningkatan kualitas tidur, dan penyediaan prasarana istirahat dapat berkontribusi menurunkan risiko kelelahan. Kata kunci: Kelelahan Kerja, Faktor Risiko Kelelahan, Commuting, Pekerja Komuter, Perkantoran
Commuting is a routine activity for commuters, including office workers who travel back and forth every day, which can lead to fatigue and result in decreased work productivity, increased human error, and even workplace accidents. This study aims to analyze the risk factors for work-related fatigue among office workers who commute back and forth to and from their workplace in the South Jakarta area in 2026. The study employs a quantitative approach with a cross-sectional study design. A total of 233 respondents participated in this study by completing a questionnaire. Data collection utilized adaptations of the Subjective Self-Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, and International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Subsequently, data analysis employed the Chi-Square test. The results showed that 36.9% of office sector commuters experienced mild fatigue and 63.1% experienced moderate to very high fatigue. Significant risk factors were identified among non-work-related risk factors, including travel time—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: <0.001)—and primary mode of transportation—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: 0.007), commuter role (p-value: 0.002), number of mode of transportation use, both for the trip to work (p-value: 0.014) and return trips (p-value: 0.005), gender (p-value: 0.033), and educational level (p-value: 0.006). Thus, comprehensive efforts to prevent and control fatigue are needed by companies, including the government, through fatigue management policies and programs. The implementation of buffer time policies, fatigue monitoring, improved sleep quality, and the provision of rest facilities can contribute to reducing the risk of fatigue. Keywords: Fatigue, Risk factors for fatigue, Commuting, Commuting workers, Office workers
S-12276
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Diva Mahardikawati; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Fatma Lestari, Tubagus Dwika Yuantoko, Bima Haryadi
Abstrak:
Read More
Pekerja konstruksi memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja karena karakteristik pekerjaannya yang melibatkan aktivitas fisik berat, durasi kerja panjang, serta paparan lingkungan kerja seperti panas dan kebisingan. Kelelahan kerja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, ketelitian, kecepatan respons, dan human performance pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja dan dampak kelelahan kerja terhadap human performance pada pekerja konstruksi di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 113 pekerja konstruksi. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu, faktor terkait pekerjaan, dan human performance. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, pengukuran beban kerja fisik melalui denyut nadi, serta pengukuran lingkungan kerja kebisingan dan suhu. Instrumen yang digunakan meliputi Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial (analisis bivariat dan multivariat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja adalah waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik dengan nilai p-value masing-masing 0,000. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa terdapat tiga variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja, yaitu waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik. Variabel waktu perjalanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan kerja dengan nilai OR = 17,057. Kelelahan kerja juga berhubungan signifikan dengan human performance dengan nilai p-value 0,023 dengan nilai OR 2,457. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang tidak mengalami kelelahan kerja memiliki peluang 2,457 kali lebih besar untuk memiliki human performance tinggi dibandingkan pekerja yang mengalami kelelahan kerja.
Construction workers are at high risk of experiencing occupational fatigue due to the characteristics of their work, which involve heavy physical activity, long working hours, and exposure to work environment factors such as heat and noise. Occupational fatigue may lead to decreased concentration, accuracy, response speed, and workers’ human performance. This study aimed to analyze the risk factors associated with occupational fatigue and the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X in 2026. This study used a cross-sectional design involving 113 construction workers as respondents. The variables examined included individual factors, work-related factors, occupational fatigue, and human performance. Data were collected using questionnaires, physical workload measurement through pulse rate assessment, and work environment measurements, including noise and temperature. The instruments used in this study included the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Data were analyzed using descriptive and inferential analyses, including bivariate and multivariate analyses. The results showed that factors associated with occupational fatigue were commuting time, sleep quantity, and physical workload, with p-values of <0.001 for each variable. Based on the multivariate analysis, these three variables had a significant relationship with occupational fatigue. Commuting time was identified as the most dominant factor associated with occupational fatigue, with an OR value of 17.057. Occupational fatigue was also significantly associated with human performance, with a p-value of 0.023 and an OR value of 2.457. This indicates that workers who did not experience occupational fatigue were 2.457 times more likely to have high human performance compared to workers who experienced occupational fatigue.
T-7713
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Puspitasari Ramadania; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: L. Meily KurniawidjadjaRidwan Zahdi Sjaaf, Dicky Tri Jatmiko, Nazly Kurniawan
Abstrak:
Petugas shift merupakan bagian dari pekerja kritis di Instalasi RSG-GAS. Sistem kerja shift dan tuntutan kerja yang kompleks di instalasi nuklir menyebabkan petugas shift rentan mengalami kelelahan kerja. Kelelahan kerja memiliki kontribusi terhadap penurunan performa kerja, penurunan konsentrasi, penurunan pemenuhan prosedur maupun penurunan kewaspadaan pekerja. Dampak kelelahan kerja harus mampu teridentifikasi dan dikendalikan terutama di instalasi nuklir yang memiliki potensi bahaya yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kelelahan kerja petugas shift dan melakukan analisis terhadap faktor risiko yang berkontribusi terhadap kelelahan kerja petugas shift di RSG-GAS Tahun 2022. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, alat ukur lingkungan kerja, dan wawancara. Metode analisis menggunakan analisis deskriptif dan inferensial dengan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan seluruh petugas shift mengalami kelelahan dengan tingkat kelelahan ringan sebesar 31,25%, kelelahan sedang sebesar 64,58%, dan kelelahan berat sebesar 4,17%. Faktor risiko kelelahan kerja total adalah status Gizi yang diukur dengan indeks massa tubuh, kualitas tidur, beban kerja, dan desain tugas. Faktor risiko kelelahan umum adalah indeks massa tubuh, kualitas tidur, kuantitas tidur, konsumsi kafein, beban kerja, dan desain tugas. Faktor risiko kelelahan fisik adalah usia, kualitas tidur, kuantitas tidur, masa kerja, posisi kerja, beban kerja, desain tugas, dan tekanan udara negatif. Faktor risiko pelemahan aktivitas adalah kepuasan kerja. Faktor risiko pelemahan motivasi adalah kualitas tidur, kuantitas tidur, desain tugas dan shift malam. Faktor risiko kelelahan mental adalah kualitas tidur, beban kerja, desain tugas, pencahayaan, dan tekanan udara negatif. Rekomendasi pengendalian melibatkan manajemen dan petugas shift dengan mengembangkan program manajemen kelelahan kerja sesuai kondisi di Instalasi Nuklir.
Shift workers are part of critical workers at the RSG GAS Installation. The shift work system and complex work demands in nuclear installations cause shift workers to be prone to work fatigue. Work fatigue has contributed to decreased work performance, decreased concentration, decreased in procedure compliance, and reduced worker alertness. The impact of work fatigue must be able to be identified and controlled, especially in nuclear installations that have a large potential hazard. This study aims to evaluate the level of work fatigue of shift workers and analyze the risk factors that contribute to the work fatigue of shift workers at RSG-GAS in 2022. This research is a quantitative descriptive study with a cross-sectional design. The instruments used in this research are questionnaires, measuring tools for the environment, and interviews. The method of analysis in this research is descriptive and inferential analysis with a correlation test. The results showed that all shift workers experienced fatigue with mild fatigue level of 31,25%, moderate fatigue of 64,58%, and severe fatigue of 4,17%. The risk factors for work fatigue (total score) are nutritional status as measured by body mass index, sleep quality, workload and task design. The risk factors for general fatigue are body mass index, sleep quality, sleep quantity, caffeine consumption, workload, and task design. The risk factors for physical fatigue are age, sleep quality, sleep quantity, years of service, job role, workload, task design, and negative air pressure. The risk factor for reduced activity is job satisfaction. The risk factors for reduced motivation are sleep quality, sleep quantity, task design, and night shift. The risk factors for mental fatigue are sleep quality, workload, task design, lighting, and negative air pressure. Control recommendations involve management and shift worker by developing a work fatigue management program according to the conditions at the Nuclear Installation.
Read More
Shift workers are part of critical workers at the RSG GAS Installation. The shift work system and complex work demands in nuclear installations cause shift workers to be prone to work fatigue. Work fatigue has contributed to decreased work performance, decreased concentration, decreased in procedure compliance, and reduced worker alertness. The impact of work fatigue must be able to be identified and controlled, especially in nuclear installations that have a large potential hazard. This study aims to evaluate the level of work fatigue of shift workers and analyze the risk factors that contribute to the work fatigue of shift workers at RSG-GAS in 2022. This research is a quantitative descriptive study with a cross-sectional design. The instruments used in this research are questionnaires, measuring tools for the environment, and interviews. The method of analysis in this research is descriptive and inferential analysis with a correlation test. The results showed that all shift workers experienced fatigue with mild fatigue level of 31,25%, moderate fatigue of 64,58%, and severe fatigue of 4,17%. The risk factors for work fatigue (total score) are nutritional status as measured by body mass index, sleep quality, workload and task design. The risk factors for general fatigue are body mass index, sleep quality, sleep quantity, caffeine consumption, workload, and task design. The risk factors for physical fatigue are age, sleep quality, sleep quantity, years of service, job role, workload, task design, and negative air pressure. The risk factor for reduced activity is job satisfaction. The risk factors for reduced motivation are sleep quality, sleep quantity, task design, and night shift. The risk factors for mental fatigue are sleep quality, workload, task design, lighting, and negative air pressure. Control recommendations involve management and shift worker by developing a work fatigue management program according to the conditions at the Nuclear Installation.
T-6469
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
