Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34357 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Kautsar Rizky; Pembimbing: Hendra; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Robiana Modjo, Grace S. Rumengan, Triovva Elsya Ermita
Abstrak: Perawat merupakan sumber daya manusia terpenting di rumah sakit, dikarenakan jumlahnya dominan. Pekerjaan perawat yang bervariasi, menyebabkan perawat memiliki beban kerja relatif tinggi, sehingga berisiko terjadinya kelelahan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan kelelahan kerja pada perawat di RSUD Cibinong, Kabupaten Bogor. Desain penelitian ini adalah semi- kuantitatif (cross-sectional). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 91,1% perawat mengalami kelelahan kerja tingkat rendah hingga sedang, dimana variabel kualitas tidur dan masa kerja memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja (p- value < 0,05). Faktor dominan yang berpengaruh terhadap kelelahan kerja adalah kualitas tidur, dimana kualitas tidur buruk berisiko 2,367 kali lebih tinggi untuk mengalami kelelahan, dibandingkan dengan kualitas tidur baik, setelah dikontrol variabel masa kerja dan shift kerja. Saran yang dapat diberikan adalah perlunya pengkajian penempatan tenaga keperawatan sesuai dengan kompetensinya dan kebutuhan pasien, meningkatkan manajemen waktu bagi perawat serta penerapan fatigue management program untuk mencegah tingginya kelelahan kerja pada perawat. Kata Kunci : Analisis Determinan, Kelelahan Kerja, Perawat
Nurse is the most important human resource in the hospital because of their dominant ammount. Nurse has various jobs, causing they have relatively high workload, so that would improve the risk of fatigue. The aim of the study is to analyze the determinants of work fatigue among nurses in Cibinong Regional Public Hospital, Bogor District. The design of this study is semi-quantitative, (cross-sectional). The results showed that 91.1% of nurses have low to moderate type of work fatigue, which is the sleep quality and working period variables have a significant relationship with work fatigue (p-value < 0.05). The dominant factor affecting work fatigue is sleep quality, that the poor sleep quality respondents risk is 2,367 times higher to feels fatigue, compared with the good sleep quality, after controlled by working period and work shift variables. Advices that can be given are need for assesment of the placement of nursing personnel based on their competence and patient needs, increase time managemet for nurse and also the application of fatigue management program to prevent high work fatigue among nurses. Keyword : Determinant Analysis, Work Fatigue, Nurse
Read More
T-4883
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Pardyani; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, L. Meily, Selamat Riyadi, Bonny Lunrang
Abstrak:
Kelelahan kerja menjadi perhatian di tempat kerja karena sangat berpotensi mempengaruhi produktivitas, kesehatan dan keselamatan para pekerja yang menjadi penyebab utama kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK) pada pekerja konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis determinan kelelahan kerja pada pekerja konstruksi pekerjaan atap di Proyek ABC di PT. XYZ pada tahun 2024. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 105 pekerja konstruksi pemasangan atap. Metode pengambilan data dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden dan pengukuran lingkungan kerja. Variabel independen pada penelitian ini adalah faktor work related (jam kerja, penghargaan, kebisingan, pencahayaan, suhu, lama perjalanan, beban kerja) dan faktor individu (usia, Indeks Masa Tubuh, gangguan tidur, masa kerja, overcommitment, riwayat penyakit kronis, pengaruh obat, kemampuan tidur di jam istirahat). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kebisingan, beban kerja, gangguan tidur, masa kerja dan kelelahan kerja. Sehingga faktor dominan yang paling berpengaruh terhadap kelelahan kerja pada pekerja konstruksi pekerjaan atap yaitu pekerja dengan beban kerja tinggi memiliki risiko 23 kali lebih besar berisiko untuk mengalami kelelahan kerja dibandingkan yang memiliki beban kerja rendah pada pekerja konstruksi pekerjaan atap.

Fatigue is a concern in the workplace because it has the potential to affect the productivity, health, and safety of workers, which is the main cause of work accidents and work-related diseases (PAK) in construction workers. This research aims to analyze the determinants of fatigue in roofing construction workers on the ABC Project at PT. XYZ in 2024. The research design in this study is cross-sectional. The sample in this study consisted of 105 roof installation construction workers. The data collection method is by filling out questionnaires to respondents and measuring the work environment. The independent variables in this study are work-related factors (working hours, rewards, noise, lighting, temperature, travel time, workload) and individual factors (age, Body Mass Index, sleep disorders, years of work, overcommitment, history of chronic disease, influence medication, ability to sleep during rest hours). The research results show that there is a significant relationship between noise, workload, sleep disturbances, work experience, and work fatigue. So the dominant factor that has the most influence on work fatigue in roofing construction workers is that workers with a high workload have a 23 times greater risk of experiencing work fatigue than those with a low workload in roofing construction workers.
Read More
T-7054
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Amalaili Setioningtyas; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Robiana Modjo, Triovva Elsy Armita
Abstrak: Perawat merupakan petugas yang memberikan layanan asuhan keperawatanselama 24 jam kepada pasien serta memiliki sistem kerja shift dan hal ini dapatmenyebabkan kelelahan. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji faktor apa saja yangdapat menyebabkan kelelahan pada perawat yang bekerja shift maupun nonshift.Metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional. Tempatpenelitian di RSUD dr Slamet Garut, dengan sampel 150 perawat. Pengukurankelelahan menggunakan International Fatigue Research Committee dan PiitsburgSleep Quality Index serta Alat Actigraph untuk kualitas dan kuantitas tidur. Analisisdata univariat menunjukkan 44.7% responden mengalami kelelahan berat, 80%perawat memiliki kualitas tidur buruk, 66,7% memiliki kuantitas tidur buruk danmayoritas perawat 70% menjalankan sistem shift kerja. Hasil bivariat menggunakanpearson correlation yang memiliki hubungan dengan kelelahan yaitu shift kerja,beban kerja, waktu kerja dan kualitas tidur. Shift kerja dan sleep hygiene memilikihubungan yang signifikan dengan kualitas dan kuantitas tidur. Kesimpulan shift kerjadan sleep hygiene merupakan faktor yang berhubungan dengan kuantitas dan kualitastidur, serta shift kerja, beban kerja, waktu kerja dan kualitas tidur merupakan faktoryang berhubungan dengan kelelahan perawat di RSUD dr Slamet Garut.Kata Kunci:Kelelahan, kualitas tidur, kuantitas tidur, perawat, shift kerja.
Read More
S-9544
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gina Relimba; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Ibnu Uzail Yamani
Abstrak:
Rumah sakit merupakan tempat kerja yang berisiko tinggi terhadap terjadinya kecelakaan kerja dibandingkan industri lainnya. Perawat IGD harus selalu siap sedia 24 jam untuk menangani kasus kegawatdaruratan yang dialami oleh berbagai pasien yang datang ke rumah sakit sehingga dengan tanggung jawab tersebut, sangat rentan bagi perawat IGD untuk mengalami kelelahan kerja. Penelitian ini membahas faktor terkait kelelahan kerja pada perawat IGD Rumah Sakit X Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang telah dilakukan pada bulan Juli-Agustus pada seluruh perawat IGD Rumah Sakit X yaitu sebanyak 35 responden. Pengukuran kelelahan kerja perawat menggunakan pengukuran secara subjektif dengan kuesioner Subjective Self Rating Test yang dikembangkan oleh Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat IGD Rumah Sakit X lebih banyak mengalami kelelahan kerja ringan (71,4%) dan faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja yaitu kebisingan (P-Value=0,027). Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian terhadap pajanan bising bagi perawat IGD di Rumah Sakit X dan juga perlu adanya prosedur fatigue management untuk mencegah dan mengendalikan tingkat kelelahan kerja pada perawat IGD Rumah Sakit X.

Hospitals are workplaces that have a higher risk of work accidents compared to other industries. ER nurses must always be ready 24 hours to handle emergency cases experienced by various patients who come to the hospital so that with this responsibility, ER nurses are very vulnerable to experiencing work fatigue. This research discusses factors related to work fatigue in ER nurses at Hospital. Measurement of nurses' work fatigue uses subjective measurements with the Subjective Self Rating Test questionnaire developed by the Japanese Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) which has been translated into Indonesian. The results of the study showed that ER nurses at Hospital X experienced more mild work fatigue (71,4%) and the factor related to work fatigue was noise (P-Value=0,027). Based on this, it is necessary to carry out various efforts to control noise exposure for emergency room nurses.
Read More
S-11801
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian; Pembimbing: L. Meily; Penguji: Chandra Satrya, Indri Hapsari Susilowati, Istiati Suraningsih, Ganjar Eko Prabowo
Abstrak:
Dari sudut pandang keselamatan dan kesehatan kerja kelelahan merupakan ancaman yang cukup signifikan. Kelelahah pada individu bersifat subjektif, namun pekerja belum tentu menyadari adanya kelelahan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kelelahan dan faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada perawat di puskesmas Kabupaten Sambas tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang menggunakan instumen kuesioner yang dilakukan secara daring dari Maret--Juni 2023. Total sampel 126 perawat yang bekerja di puskesmas Kabupaten Sambas. Hasil penelitian mendapatkan 30,2% perawat mengalami kelelahan. Hasil analisis bivariat faktor risiko di luar pekerjaan menunjukkan hubungan signifikan antara usia dan kelelahan (p value 0,016, OR 0.357), status pernikahan dan kelelahan ((p value 0,048, OR 0,351), kualitas tidur dan kelelahan (p value 0,005, OR 6,026). Hasil analisis bivariat faktor risiko pekerjaan menunjukkan hubungan signifikan antara stes kerja dan kelelahan (p value 0,001, OR 6,763). Hasil penelitian menyarankan perawat untuk bisa melakukan manajemen waktu dengan lebih baik dan lebih memperhatikan untuk berpola hidup sehat. Selain itu manajemen juga berperan penting dalam mengembangkan strategi dan kebijakan untuk mengurangi kelelahan di tempat kerja. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menggali lebih banyak faktor risiko dan menentukan faktor risiko dominan dengan menggunakan metode penelitian berbeda.

From health and safety perspective, fatigue is a significant concern. Fatigue is a subjective feeling and workers isn’t always aware of it, so it’s important for managers to recognize and prevent fatigue at the early stage. This study aimed to describe fatigue and risk factors associated with fatigue on puskesmas nurses at districk of Sambas 2023. This research is quantitative study with cross-sectional design using questionnaire which was conducted online from March to June 2023. A Total sample was 126 nurses who worked in puskesmas at districk of Sambas. The results showed that 30.2% of nurses experienced fatigue. Bivariate results of non-work related risk factors showed a significant relationship between age and fatigue (p value 0,016, OR 0.357), marital satus and fatigue (p value 0,048, OR 0,351), sleep quality and fatigue (p value 0,005, OR 6,026). Bivariate results of work related risk factors showed a significant relationship between work stress and fatigue (p value 0,001, OR 6,763). The results of this study suggest nurses to have better time management and pay more attention to a healthy lifestyle. In addition, management plays an important role for developing targeted strategies and policies to reduce fatigue in the workplace. Further research is needed to explore more risk factors and determine the dominant risk factors using different research methods
Read More
T-6654
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nursanti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Laksita Ri Hastiti, Katherina Welong, Fera Liza
Abstrak:
Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan selama 24 jam sehari, sangat membutuhkan kesiapan fisik, mental dan waktu. Hal ini berpotensi menyebabkan kelelahan kerja, yang berdampak pada penurunan kewaspadaan dan konsentrasi, terganggunya pengambilan keputusan dan terjadinya kesalahan atau kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko tingkat kelelahan kerja subjektif pada perawat di RS.Otak DR.Drs. M. Hatta Bukittinggi Sumatera Barat tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 100 orang perawat yang dihitung menggunakan rumus simple random sampling. Responden pada penelitian ini mencakup perawat pada 5 unit kerja yang dihitung secara proporsional. Pengukuran kelelahan kerja dengan kuesioner SSRT(Subjective Self Rating Test) dari IFRC; beban kerja mental dengan kuesioner NASA-TLX (National Aeronautics & Space Administration Task Load Indeks); untuk peran, kontrol dan kepuasan kerja dengan kuesioner COPSOG (Copenhagen Psychosocial Questionnaire) III; pengukuran pencahayaan dengan lux meter; dan karakterik individu dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 79% perawat mengalami tingkat kelelahan kerja ringan dan tingkat kelelahan kerja sedang (21%). Terdapat 3 Faktor risiko yang dianalisis untuk melihat hubungannya dengan tingkat kelelahan kerja yaitu faktor risiko karakteristik individu, faktor risiko terkait pekerjaan dan faktor lingkungan kerja (pencahayaan). Dari faktor risiko karakteristik individu yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat kelelahan kerja adalah usia (p 0,013; OR = 6,82), status gizi kategori gemuk (p 0,020; OR = 3,77), durasi tidur (p 0,050; OR = 3,14). Untuk faktor risiko terkait pekerjaan yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat kelelahan kerja adalah shift kerja siang (p 0,028; OR 4,69) dan beban kerja (p < 0,001). Sedangkan untuk faktor lingkungan kerja : pencahayaan didapatkan hasil sesuai dengan standar (100%) sehingga tidak dapat dinilai hubungannya dengan tingkat kelelahan kerja. Kesimpulan didapatkan bahwa sebagian besar perawat mengalami tingkat kelelahan kerja ringan (79%) dan faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan adalah usia, status gizi gemuk, durasi tidur, shift kerja siang dan beban kerja. Penerapan manajemen kelelahan/fatigue manajement seperti promosi kesehatan dan peningkatan pengetahuan melalui pelatihan, pengawasan jadwal kerja, pengaturan beban kerja, diet gizi seimbang, pentingnya mendapatkan pemulihan antarshift/istirahat tidur adekuat, olahraga rutin dan teratur, skrining kelelahan secara berkala diharapkan dapat mencegah meningkatnya tingkat kelelahan kerja.

Nurses, in providing 24-hour nursing care, require physical readiness, mental preparedness, and time. This can potentially lead to work fatigue, which impacts alertness and concentration, disrupts decision-making, and increases the risk of errors or workplace accidents. This study aims to analyze the risk factors for the subjective level of work fatigue among nurses at RS.Otak DR.Drs. M. Hatta Bukittinggi, West Sumatra, in 2024. The study uses a cross-sectional design involving 100 nurses, calculated using the simple random sampling formula. Respondents in this study include nurses from 5 work units, calculated proportionally. Work fatigue was measured using the SSRT (Subjective Self Rating Test) questionnaire from IFRC; workload was measured using the NASA-TLX (National Aeronautics & Space Administration Task Load Index) questionnaire; roles, control, and job satisfaction were assessed using the COPSOG (Copenhagen Psychosocial Questionnaire) III; lighting was measured with a lux meter; and individual characteristics were assessed using a questionnaire. The results showed that 79% of nurses experienced mild work fatigue and 21% experienced moderate work fatigue. Three risk factors were analyzed for their relationship with the level of work fatigue: individual characteristics, work-related factors, and work environment factors (lighting). Among individual characteristics, the factors significantly associated with work fatigue were age (p = 0.013; OR = 6.82), nutritional status categorized as overweight (p = 0.020; OR = 3.77), and sleep duration (p = 0.050; OR = 3.14). For work-related factors, significant associations with work fatigue were found for daytime shifts (p = 0.028; OR = 4.69) and workload (p < 0.001). Regarding the work environment factor: lighting was found to meet the standard (100%), hence its relationship with work fatigue could not be assessed. The conclusion is that the majority of nurses experience mild work fatigue (79%), and the significant risk factors are age, overweight nutritional status, sleep duration, daytime shifts, and workload. Implementing fatigue management strategies such as health promotion and knowledge enhancement through training, monitoring work schedules, managing workload, maintaining a balanced diet, ensuring adequate rest between shifts, regular exercise, and periodic fatigue screening are expected to prevent an increase in work fatigue levels.
Read More
T-7073
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hazura Rindu Tuffahatti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Baiduri Widanarko, Meilisa Rahmadani
Abstrak:

Kelelahan kerja adalah kondisi yang ditandai dengan perasaan yang menurun dalam kecepatan bekerja, gangguan sistemik saraf pusat akibat aktivitas yang panjang. Kelelahan kerja jika dialami secara terus menerus, maka akan menurunkan kinerja maupun produktivitas kerja. Banyak faktor yang dapat mengakibatkan kelelahan, maka dari itu penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan (faktor risiko individu dan faktor pekerjaan) pada Perawat di Rumah Sakit X tahun 2023. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain tudi cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan data sekunder yang ada di Rumah Sakit X. Sampel dalam penelitian ini dibutuhkan sekitar 60 responden Perawat yang terbagi dalam beberapa unit di Rumah Sakit X. Hasil analisis menunjukkan sebanyak 4 responden (6,7%) mengalami kelelahan ringan, 48 responden (80,0%) mengalami kelelahan sedang, dan 8 responden mengalami kelelahan tinggi (13,3%). Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelelahan kerja di Rumah Sakit X adalah Beban Kerja dengan p-value = 0,018 dan Jabatan Perawat dengan p-value = 0,040.

Kata kunci: Faktor Risiko, Perawat, Kelelahan


Work fatigue is a condition characterized by feelings of decreased work speed, central nervous system disorders due to long periods of activity. If work fatigue is experienced continuouslym it woll reduce work performance and productivity. Many factors can cause fatigue, therefore this study was conducted to analyze the risk factors for fatigue individual risk factors and work, in Nurses at the Hospital X  in 2023. Research was conducted using a quantitative approach with a cross-sectional study design. Data was collected using secondary data at the Hospital X. This research collected 60 respondents divided into several units at Hospital X. The results of the analysis showed that 4 respondents (6.7%) experienced mild fatigue, 48 respondents (80.0%) experienced moderate fatigue, and 8 respondents experienced high fatigue (13.3%). The risk factor that is closely related to the occurrence of work fatigue at the Hospital X is Workload with p-value = 0.018 and Nursing Position with p-value = 0.040.  

Keywords: Risk Factor, Nurse, Fatigue

Read More
S-11803
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edo Nur Yusuf; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Laksita Ri Hastiti, Masjuli, Deddy Syam
Abstrak:
Salah satu bentuk hazard adalah pola kerja/istirahat dan waktu kerja. Hampir 8% dari populasi pekerja melaporkan gejala kelelahan kerja . Sedangkan kelelahan kerja mempunyai efek negatif pada safety, kesehatan dan pembiayaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melindungi pekerja dari kelelahan dan sebagai deteksi dini untuk mengetahui hubungan antara tingkat kelelahan kerja dengan pola kerja/ istirahat, usia, lama bekerja, jenis pekerjaan dan indeks masa tubuh serta kondisi kesehatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase meningkat dari awal waktu kerja 10.3% dan diakhir waktu kerja menjadi 60.3% secara pengukuran menggunakan reaction time. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa kesehatan adalah faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja, sedangkan faktor pola kerja, jumlah jam kerja, lama bekerja, jenis pekerjaan, usia dan indeks masa tubuh tidak berhubungan. Desain penelitian ini adalah penelitian cross sectional dan pengukuran kelelahan dilakukan dengan menggunakan 2 metode yaitu subjective feeling fatigue dengan menggunakan kuesioner Fatigue Assesment Scale (FAS) dan alat pengukur kecepatan reaksi reaction time. Pemanfaatan waktu istirahat dengan baik, pengaturan waktu kerja, program olahraga dan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat dilakukan untuk penegelolaan kelelahan kerja di lokasi kerja.

One form of hazard is work/rest patterns and working time. Nearly 8% of the working population reports symptoms of job burnout. Meanwhile, work fatigue has a negative effect on safety, health and financing. The aim of this research is to protect workers from fatigue and for early detection to determine the relationship between the level of work fatigue and work/rest patterns, age, length of work, type of work and body mass index and health conditions. The research results show that the percentage increased from the beginning of working time to 10.3% and at the end of working time to 60.3%, measured using reaction time. The research results also show that health is a factor that is related to work fatigue, while work pattern factors, number of working hours, length of work, type of work, age and body mass index aren’t related. The design of this research is a cross sectional study and fatigue measurements are carried out using 2 methods, namely subjective feeling fatigue using the Fatigue Assessment Scale questionnaire and reaction time measuring tool. Proper use of rest time, work time management, exercise programs and regular health checks can be carried out to manage work fatigue at work sites.
Read More
T-7096
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clara Pratista Wijaya; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Hendra, Sudiro
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan masalah serius yang berdampak pada produktivitas dan keselamatan pekerja, termasuk di industri jasa survei. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan gambaran kelelahan dan menganalisis hubungan antara faktor risiko kelelahan terkait kerja dan di luar pekerjaan pada inspektor PT X tahun 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri atas 74 inspektor merupakan total sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen kuesioner Subjective Self Rating Test, PSQI, dan NASA-TLX kemudian dianalisis menggunakan uji Chi Square dan odds ratio (OR). Hasil menunjukkan seluruh inspektor mengalami kelelahan, yaitu 79,7% kelelahan ringan dan 21,3% kelelahan sedang. Faktor yang berhubungan signifikan pada kelelahan, yaitu kualitas tidur kurang 6 kali lebih berisiko dibandingkan kualitas tidur baik (OR=6,26) dan tidak aktif secara fisik 12 kali lebih berisiko dibandingkan aktif (OR=12,34), sedangkan durasi kerja (OR=0,15) dan waktu perjalanan (OR=0,15) tidak sesuai teori umum dan berbeda dengan penelitian lain sehingga diperlukan penelitian lanjutan. Perlu dilakukan upaya pengendalian oleh perusahaan berupa program manajemen kelelahan secara komprehensif dan terintegrasi dengan mempertimbangkan berbagai faktor risikonya. Pola hidup sehat, manajemen istirahat yang cukup, meningkatkan kualitas tidur dapat mengurangi risiko kelelahan kerja.


Occupational fatigue is a critical issue affecting worker productivity and safety, including in the surveying service industry. This study aimed to describe the prevalence of fatigue and analyze the relationship between work-related and non-work-related risk factors among inspectors at PT X in 2025. This research used a cross-sectional design with a quantitative approach involving 74 inspectors selected by total sampling. Data were collected using the Subjective Self-Rating Test, PSQI, and NASA-TLX questionnaires then analyzed using the Chi-square test and odds ratio (OR). The results showed that all inspectors experienced fatigue, 79.7% reporting mild fatigue and 21.3% moderate fatigue. Significant risk factors associated included, poor sleep quality, which posed a 6 times higher risk than good sleep quality (OR = 6.26), and physical inactivity, which presented a 12 times higher risk than being physically active (OR = 12,34). In contrast, work duration (OR = 0.15) and travel time (OR = 0.15) did not align with general theories and differed from previous studies, highlighting the need for further research. The study recommends comprehensive fatigue management programs by considering various risk factors. A healthy lifestyle, adequate rest management, and improving sleep quality can reduce the risk of occupational fatigue.
Read More
S-12114
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shalman Hafizh Aulia; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Yovsyah, Indri Hapsari Susilowati, Surya Mahendra
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh pekerja, termasuk pekerja di UPT Balai Yasa Tegal yang bertugas melakukan perbaikan dan perawatan gerbong kereta. Kelelahan kerja apabila dibiarkan dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK). Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja di UPT Balai Yasa Tegal. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor risiko individu (usia, kuantitas tidur, kualitas tidur), faktor risiko pekerjaan (beban kerja, jenis pekerjaan, manajemen perusahaan), dan faktor risiko lingkungan kerja (suhu, pencahayaan, kebisingan). Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan desain studi cross-sectional terhadap 80 pekerja di UPT Balai Yasa Tegal sebagai responden. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi kuesioner karakteristik individu dan pekerjaan, SSRT, PSQI, NASA-TLX, persepsi terhadap manajemen, dan persepsi terhadap lingkungan kerja. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa terdapat 58 pekerja (72,5%) yang mengalami kelelahan kerja ringan dan 22 pekerja (27,5%) yang mengalami kelelahan kerja sedang. Hasil analisis inferensial dengan uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur (p-value=0,003 ; OR=8,125), beban kerja (p-value=0,00 ; OR=15,217), suhu (p-value=0,003 ; OR=6,333), pencahayaan (p-value=0,000 ; OR=10,938), dan kebisingan (p-value=0002, ; OR=5,940) dengan tingkat kelelahan kerja pada pekerja di UPT Balai Yasa Tegal

Work fatigue is one of the health problems often experienced by workers, including UPT Balai Yasa Tegal workers who are tasked with repairing and maintaining railroad cars. If left unchecked, work fatigue can increase the risk of work accidents and work-related diseases. This research was conducted to analyze risk factors related to work fatigue in workers at UPT Balai Yasa Tegal. The risk factors studied included individual risk factors (age, sleep quantity, sleep quality), Work-related risk factors (workload, type of work, company management), and work environment risk factors (temperature, lighting, noise). The research was conducted using quantitative methods and cross-sectional study design on 80 workers at UPT Balai Yasa Tegal as respondents. The research instruments used include individual and job characteristics questionnaires, SSRT, PSQI, NASA-TLX, perceptions of management, and perceptions of the work environment. The results of the descriptive analysis showed that there were 58 workers (72.5%) who experienced mild work fatigue and 22 workers (27.5%) who experienced moderate work fatigue. The results of inferential analysis using the chi-square test show that there is a significant relationship between sleep quality (p-value=0.003 ; OR=8.125), workload (p-value=0.00 ; OR=15.217), temperature (p-value =0.003 ; OR=6.333), lighting (p-value=0.000 ; OR=10.938), and noise (p-value=0002, ; OR=5.940) with work fatigue.
Read More
S-11709
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive