Ditemukan 28085 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Felicia Thea; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Triyani Kresnawan
Abstrak:
Dampak dari konstipasi fungsional yaitu kualitas hidup menurun, dapat meningkatkan biaya kesehatan tambahan yang harus dikeluarkan dan menurunkan produktivitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara jenis kelamin, asupan serat, cairan, konsumsi minuman probiotik, aktivitas fisik, status gizi, stres, dan pengetahuan gizi terhadap kejadian konstipasi fungsional, serta untuk mengetahui faktor dominan terhadap kejadian konstipasi fungsional pada siswa SMA Swasta Bunda Mulia Jakarta Pusat. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian cross-sectional. Jumlah responden yang diteliti sebanyak 150 orang siswa dari kelas X dan XI. Data diambil dengan menggunakan kuesioner, wawancara recall 24 jam serta juga dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan pada siswa. Data yang terkumpul diolah secara univariat, bivariat dan multivariat dengan uji Chi- Square. Dari hasil penelitian ini diketahui sebanyak 74,7% siswa mengalami konstipasi fungsional. Faktor dominan yang paling berpengaruh terhadap kejadian konstipasi fungsional adalah aktivitas fisik dengan nilai p-value 0,004 dan memiliki OR 6,66.
Read More
S-10124
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kristin Emanuella; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Trini Sudiarti, Endang Sri Wahyuningsih
Abstrak:
Perilaku fad diets (FD) berdampak pada berbagai risiko kesehatan, seperti gangguan metabolisme, meningkatnya risiko anemia, meningkatnya risiko paparan infeksi, dan mempengaruhi kinerja kognitif. Lebih lanjut, dapat menurunkan performa dan prestasi belajar di sekolah dan mempengaruhi gangguan perilaku makan sehingga meningkatkan risiko perilaku makan menyimpang. Beberapa penelitian terdahulu di Indonesia menunjukkan angka remaja putri di Indonesia yang berisiko terlibat dalam perilaku FD termasuk tinggi, namun jumlah penelitian yang mengkaji faktor-faktor yang berkaitan dengan perilaku tersebut masih jarang. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan terhadap perilaku FD pada siswa-siswi SMAS Bunda Mulia Jakarta tahun 2019. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional melibatkan sebanyak 212 siswa-siswi kelas X dan XI SMA. Data diambil dengan melakukan proses pengukuran tinggi badan dan berat badan serta pengisian kuesioner online. Data diolah secara univariat dan bivariat (chi square). Prevalensi perilaku FD sebesar 43,9%. Faktor yang berhubungan dengan perilaku FD adalah jenis kelamin, status gizi, distorsi citra tubuh, dorongan keluarga, dorongan teman, dan pengaruh media sosial. Siswa perempuan, yang berstatus gizi gemuk, dan mengalami distorsi citra tubuh berisiko masing-masing 1,9 kali; 4,8 kali; dan 2,5 kali lebih besar untuk melakukan perilaku FD. Siswa yang mendapat dorongan dari keluarga, dorongan teman, dan pengaruh media sosial berisiko masing-masing 2,6 kali; 2,2 kali; dan 3,2 kali untuk menerapkan FD. Perlu dilakukan upaya edukasi perilaku makan yang tepat dan sehat untuk siswa serta promosi PGS di sekolah dan media sosial.
Kata kunci: Distorsi citra tubuh; fad diets; media sosial; remaja; status gizi.
Read More
Kata kunci: Distorsi citra tubuh; fad diets; media sosial; remaja; status gizi.
S-10020
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Novialiana Sari; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Suharyati
Abstrak:
Dampak kesehatan yang dapat disebabkan oleh kegemukan saat remaja adalah meningkatnya risiko terkena diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, osteoarthritis, stroke, dan beberapa macam kanker. Prevalensi kejadian kegemukan remaja di DKI Jakarta tahun 2018 sebesar 13,5%. Tujuan utama penelitian ini adalah mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian kegemukan pada siswa-siswi di SMAS Bunda Mulia Jakarta pada tahun 2019. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 150 siswa kelas X dan XI SMA. Data diambil dengan melakukan proses pengukuran tinggi badan dan berat badan, pengisian kuesioner serta wawancara recall makanan 2x24 jam. Data yang terkumpul akan diolah secara univariat, bivariat (chi square dan uji t independen), dan multivariat (uji regresi logistik ganda). Prevalensi kegemukan di SMAS Bunda Mulia Jakarta tahun 2019 sebesar 35,3%. Faktor dominan pada penelitian ini adalah aktivitas fisik. Siswa dengan tingkat aktivitas fisik kurang memiliki risiko 6,9 untuk kegemukan dibanding dengan siswa yang memiliki tingkat aktivitas fisik cukup. Perlu dilakukan upaya pemantauan status gizi rutin setiap 6 bulan sekali, pemberian edukasi gizi seimbang, meningkatkan aktivitas fisik di sekolah serta manajemen stres di sekolah.
Read More
S-10123
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Puri Delanauva; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Triyanti, Trini Sudiarti
Abstrak:
Read More
Konstipasi fungsional merupakan kondisi yang ditandai dengan adanya gangguan pada sistem pencernaan, di mana tekstur feses menjadi keras dan frekuensi buang air besar menjadi jarang. Faktor yang berhubungan dengan kejadian konstipasi fungsional banyak ditemukan pada pekerja kantoran, termasuk tenaga kependidikan, seperti gaya hidup tidak sehat, antara lain rendahnya asupan serat dan cairan, tingginya asupan natrium, aktivitas fisik yang rendah, durasi duduk yang tinggi, serta durasi tidur yang kurang. Selain itu, faktor demografis seperti usia yang lebih tua, jenis kelamin perempuan, dan status gizi lebih juga dapat menjadi faktor risiko konstipasi fungsional. Faktor psikologis seperti stres juga berperan dalam kejadian konstipasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian konstipasi fungsional pada tenaga kependidikan Universitas Indonesia yang berlokasi di Depok, Jawa Barat pada bulan April hingga Mei 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan data primer yang melibatkan 115 responden berusia 18–59 tahun. Sampel diperoleh menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode convenience sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 11,3% mengalami konstipasi fungsional. Terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan konstipasi fungsional (p = 0,03) dan OR 8,066. Selain itu, proporsi konstipasi fungsional lebih tinggi pada responden dengan asupan serat rendah dan berjenis kelamin perempuan. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara asupan serat, asupan cairan, asupan natrium, aktivitas fisik, durasi duduk, durasi tidur, jenis kelamin, usia, dan status gizi dengan konstipasi fungsional.
Functional constipation is a condition characterized by disturbances in the gastrointestinal system, in which stool consistency becomes hard and the frequency of bowel movements decreases. Factors associated with functional constipation are commonly found among office workers, including university administrative staff, such as unhealthy lifestyle behaviours, including low fiber and fluid intake, high sodium intake, low physical activity, prolonged sitting duration, and insufficient sleep duration. In addition, demographic factors such as older age, female sex, and overweight or obesity status may also serve as risk factors for functional constipation. Psychological factors, such as stress, also play a role in the occurrence of constipation. The purpose of this study was to determine the factors associated with functional constipation among university administrative staff at Universitas Indonesia, located in Depok, West Java, from April to May 2026. This study used a cross-sectional design using primary data collected from 115 respondents aged 18–59 years. The sample was selected using a non-probability sampling technique with a convenience sampling method. Data were collected through questionnaires and interviews. The results showed that 11.3% of the respondents had functional constipation.There was a significant association between stress and functional constipation (p = 0.03) with an odds ratio (OR) of 8.066. In addition, the proportion of functional constipation was higher among respondents with low fiber intake and among female respondents. However, no significant associations were found between fiber intake, fluid intake, sodium intake, physical activity, sitting duration, sleep duration, sex, age, and nutritional status and functional constipation.
S-12344
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Shera Dias Elvita; Pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Yuni Zahraini
Abstrak:
Konstipasi fungsional masih sering ditemui pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan terhadap kejadian konstipasi fungsional pada siswa SMA Islam Al-Azhar 2 Pejaten Jakarta Selatan tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel 141 orang. Data yang dikumpulkan berupa status konstipasi fungsional, asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, stress, IMT/U, jenis kelamin, pengetahuan gizi, konsumsi minuman probiotik dan konsumsi kopi. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner mandiri, wawancara recall 3x24 jam, serta pengukuran antropometri. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi konstipasi fungsional sebesar 36,9% dan terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik, jenis kelamin dan konsumsi minuman probiotik dengan konstipasi fungsional (p-value <0,05), dimana aktivitas fisik merupakan faktor dominan konstipasi fungsional.
Kata kunci: Konstipasi fungsional, remaja, asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, probiotik
Functional constipation is still common in adolescent. This study aimed to identify the dominant factors associated with functional constipation among high school student at Al-Azhar 2 Islamic High School Pejaten, South Jakarta 2015. This cross-sectional study included 141 students. The collected data were functional constipation status, fiber intake, liquid intake, physical activity, stress level, body mass index, sex, nutrition knowledge, consumption of probiotics beverages and consumption of coffee. Data were collected by self-administered questionnaire, 3x24 hour food recall interview, and measurements of weight and height. The result showed that the prevalence of functional constipation was 36,9%, and there was a significant correlation between physical activity, sex and consumption of probiotics beverages with functional constipation (p-value <0.05), and physical activity as the dominant factor of functional constipation.
Keywords: Functional constipation;
Read More
Kata kunci: Konstipasi fungsional, remaja, asupan serat, asupan cairan, aktivitas fisik, probiotik
Functional constipation is still common in adolescent. This study aimed to identify the dominant factors associated with functional constipation among high school student at Al-Azhar 2 Islamic High School Pejaten, South Jakarta 2015. This cross-sectional study included 141 students. The collected data were functional constipation status, fiber intake, liquid intake, physical activity, stress level, body mass index, sex, nutrition knowledge, consumption of probiotics beverages and consumption of coffee. Data were collected by self-administered questionnaire, 3x24 hour food recall interview, and measurements of weight and height. The result showed that the prevalence of functional constipation was 36,9%, and there was a significant correlation between physical activity, sex and consumption of probiotics beverages with functional constipation (p-value <0.05), and physical activity as the dominant factor of functional constipation.
Keywords: Functional constipation;
S-8640
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anisa; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Sinta Fransiske Simanungkalit
Abstrak:
Read More
Status gizi lebih adalah kondisi penumpukan lemak yang berlebihan dan jika terjadi dalam jangka panjang dapat berdampak buruk pada kesehatan (WHO, 2024b). Berdasarkan data WHO, prevalensi overweight pada remaja usia 10–19 tahun di seluruh dunia mencapai 18,9%, naik dari 7,5% pada tahun 1990. Prevalensi obesitas juga melonjak dari 1,7% pada 1990 menjadi 7,2% pada 2022 (WHO, 2024c). Peningkatan prevalensi kejadian status gizi lebih pada siswa/i SMA juga terjadi di Jakarta Utara. Berdasarkan data Riskesdas 2013 dan 2018, prevalensi status gizi lebih pada usia 16-18 tahun naik dua kali lipat dari 6,9% menjadi 14,77% (Kemenkes RI, 2013, 2018b). Status gizi lebih pada remaja dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik, psikologis, dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran antropometri, pengisian formulir SQ-FFQ, serta pengisian kuesioner online. Penelitian dilakukan pada 132 responden dengan metode simple random sampling. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menemukan bahwa 22% responden mengalami status gizi lebih, dengan 15,2% gizi lebih dan 6,8% obesitas. Analisis uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara asupan energi (p-value 0,001; OR 14,4) dan asupan karbohidrat (p-value 0,001; OR 10,3 dengan status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta tahun 2025. Namun, tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan lemak, asupan protein, asupan serat, aktivitas fisik, durasi tidur, screen time, emotional eating (p-value > 0,05) dan pengetahuan status gizi lebih (p-value 0,046; OR 2,806; 95% CI 0,989-7,966) dengan status gizi lebih pada siswa SMA Negeri 13 Jakarta tahun 2025. Walaupun demikian, terdapat kecenderungan responden dengan asupan lemak berlebih, asupan protein berlebih, aktivitas fisik kurang, durasi tidur kurang, screen time tinggi, dan pengetahuan status gizi lebih yang kurang untuk mengalami status gizi lebih. Oleh karena itu, SMA Negeri 13 Jakarta disarankan untuk melakukan pemantauan status gizi siswa secara periodik disertai edukasi mengenai status gizi dan pedoman gizi seimbang.
Overnutrition is a condition of excessive fat accumulation, and if it occurs over a long period, it can have negative impacts on health (WHO, 2024b). According to WHO data, the global prevalence of overweight among adolescents aged 10–19 years has reached 18.9%, up from 7.5% in 1990. The prevalence of obesity also surged from 1.7% in 1990 to 7.2% in 2022 (WHO, 2024c). An increase in the prevalence of overnutrition among senior high school students has also been observed in North Jakarta. Based on Riskesdas data from 2013 and 2018, the prevalence of overnutrition among those aged 16–18 years doubled from 6.9% to 14.77% (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2013, 2018b). Overnutrition in adolescents can negatively affect physical, psychological, and social health. This study aims to identify the factors associated with overnutrition among students of SMA Negeri 13 Jakarta. The results showed that 22% of respondents had overnutrition, with 15.2% classified as overweight and 6.8% as obese. Chi-square test analysis indicated a significant association between energy intake (p-value 0.001; OR 14,4) and carbohydrate intake (p-value 0.001; OR 10.3 with overnutrition status among students at SMA Negeri 13 Jakarta in 2025. However, no significant relationship was found between fat intake, protein intake, fiber intake, physical activity, sleep duration, screen time, emotional eating (p-value > 0.05), and knowledge of overnutrition status (p-value 0.046; OR 2.806; 95% CI 0.989–7.966) with overnutrition status among the students. Nevertheless, there was a tendency for respondents with excessive fat intake, excessive protein intake, low physical activity, insufficient sleep duration, high screen time, and poor knowledge of overnutrition to experience overnutrition. Therefore, it is recommended that SMA Negeri 13 Jakarta conduct regular monitoring of students' nutritional status along with education on nutrition status and balanced nutrition guidelines.
Overnutrition is a condition of excessive fat accumulation, and if it occurs over a long period, it can have negative impacts on health (WHO, 2024b). According to WHO data, the global prevalence of overweight among adolescents aged 10–19 years has reached 18.9%, up from 7.5% in 1990. The prevalence of obesity also surged from 1.7% in 1990 to 7.2% in 2022 (WHO, 2024c). An increase in the prevalence of overnutrition among senior high school students has also been observed in North Jakarta. Based on Riskesdas data from 2013 and 2018, the prevalence of overnutrition among those aged 16–18 years doubled from 6.9% to 14.77% (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2013, 2018b). Overnutrition in adolescents can negatively affect physical, psychological, and social health. This study aims to identify the factors associated with overnutrition among students of SMA Negeri 13 Jakarta. The results showed that 22% of respondents had overnutrition, with 15.2% classified as overweight and 6.8% as obese. Chi-square test analysis indicated a significant association between energy intake (p-value 0.001; OR 14,4) and carbohydrate intake (p-value 0.001; OR 10.3 with overnutrition status among students at SMA Negeri 13 Jakarta in 2025. However, no significant relationship was found between fat intake, protein intake, fiber intake, physical activity, sleep duration, screen time, emotional eating (p-value > 0.05), and knowledge of overnutrition status (p-value 0.046; OR 2.806; 95% CI 0.989–7.966) with overnutrition status among the students. Nevertheless, there was a tendency for respondents with excessive fat intake, excessive protein intake, low physical activity, insufficient sleep duration, high screen time, and poor knowledge of overnutrition to experience overnutrition. Therefore, it is recommended that SMA Negeri 13 Jakarta conduct regular monitoring of students' nutritional status along with education on nutrition status and balanced nutrition guidelines.
S-12023
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fildzah Badzlina; Pembimbing: Triyati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Ratu Ayu Dewi Sartika, Dyah Santi Puspitasari, Dewi Damayanti
Abstrak:
Uji korelasi dan independen T-test dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel dependen dengan independen. Uji regresi linear dilakukan untuk mengetahui faktor dominan persentase lemak tubuh. Hasil penelitian menujukkan bahwa variabel IMT/U (p = 0,000; r = 0,715), aktifitas fisik (p = 0,004; r = -0,176), asupan karbohidrat (p = 0,012; r = -0,153) dan jenis kelamin (p = 0,000) berhubungan dengan persentase lemak tubuh. Faktor dominan persentase lemak tubuh ialah IMT/U dengan nilai standardized coefficients beta sebesar 0,739. Para siswa SMA Sejahtera 1 Depok dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari. Jenis aktivitas fisik yang paling mudah dilakukan setiap harinya adalah jalan kaki minimal 10 menit atau melakukan jogging.
Read More
T-5647
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Khalifah Abadini; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Trini Sudiarti, Suginah, Fani Rosnah
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan prestasi belajar pada siswa SMP Negeri 170 Jakarta. Sampel yang ditelitiadalah kelas VII dengan total sampel berjumlah 198 siswa. Penelitiandilaksanakan pada bulan April-Mei 2018 dengan desain studi cross-sectional.Data yang dikumpulkan berupa rata-rata nilai Ujian Tengah Semester (UTS) yangterdiri dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, danIPA, asupan gizi (energi, protein, zat besi, iodium, seng), status gizi (indeksTB/U, IMT/U), karakteristik individu (jenis kelamin, berat lahir), kebiasaansarapan, keikutsertaan bimbingan belajar, dan karakteristik sosial ekonomi(tingkat pendidikan orang tua). Data dikumpulkan dengan menggunakan laporannilai UTS siswa, pengisian kuesioner mandiri, wawancara food recall 2x24 jam,dan pengukuran antropometri (tinggi badan dan berat badan). Hasil penelitianmenunjukkan rata-rata nilai prestasi belajar siswa sebesar 79,77 dan 52%berprestasi baik. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat hubungan yangsignifikan antara jenis kelamin, kebiasaan sarapan, keikutsertaan bimbinganbelajar, tingkat pendidikan ayah, dan tingkat pendidikan ibu (p<0,05). Hasil ujiregresi linier ganda diperoleh jenis kelamin sebagai variabel yang paling besarpengaruhnya terhadap penentuan prestasi belajar setelah dikontrol variabel TB/U,IMT/U, kebiasaan sarapan, keikutsertaan bimbingan, tingkat pendidikan ayah, dantingkat pendidikan ibu pada siswa SMP Negeri 170 Jakarta.Kata kunci :jenis kelamin, prestasi belajar, sarapan, tingkat pendidikan ayah, tingkatpendidikan ibu.
Read More
T-5183
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Eka Mauliana Diastuti; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Endang L. Achadi, Ines Y. Gulardi
S-7937
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irfani Aisya Siregar; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Fajrinayanti, Trini Sudiarti
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan dengan kejadian underweight pada anak berusia 24-30 bulan berdasarkan faktor resikonya, seperti: asupan gizi, riwayat penyakit infeksi, riwayat BBLR, pola asuh, dan karakteristik keluarga di Kelurahan Jatinegara dan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Kota Jakarta Timur pada tahun 2019. Penelitian dilakukan dengan desain studi potong lintang dan menggunakan data sekunder yang diambil pada bulan Mei 2019 dengan jumlah responden sebanyak 221 orang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi square untuk data kategorik dan uji mann whitney untuk data numerik tidak terdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 16,7% anak berusia 24-30 bulan mengalami underweight. Analisis bivariat dengan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian underweight dengan asupan energi, asupan protein, dan asupan vitamin A pada anak berusia 24-30 bulan di Kecamatan Cakung Jakarta Timur pada tahun 2019.
This study aims to determine the description and factors associated with the incidence of underweight in children aged 24-30 months based on risk factors, such as: nutritional intake, history of infectious diseases, history of low birth weight, feeding practices, and family characteristics in Jatinegara and Pulogebang Villages, Cakung Subdistrict, East Jakarta in 2019. The research was conducted with a cross-sectional design and used secondary data taken in May 2019 with a total of 221 respondents. Data analysis was performed using the chi square test for categorical data and the Mann Whitney test for non-normally distributed numerical data. The results showed that as many as 16.7% of children aged 24-30 months were underweight. Bivariate analysis showed that there was a significant relationship between the incidence of underweight and energy intake, protein intake, and vitamin A intake in children aged 24-30 months in Cakung District, East Jakarta in 2019.
Read More
This study aims to determine the description and factors associated with the incidence of underweight in children aged 24-30 months based on risk factors, such as: nutritional intake, history of infectious diseases, history of low birth weight, feeding practices, and family characteristics in Jatinegara and Pulogebang Villages, Cakung Subdistrict, East Jakarta in 2019. The research was conducted with a cross-sectional design and used secondary data taken in May 2019 with a total of 221 respondents. Data analysis was performed using the chi square test for categorical data and the Mann Whitney test for non-normally distributed numerical data. The results showed that as many as 16.7% of children aged 24-30 months were underweight. Bivariate analysis showed that there was a significant relationship between the incidence of underweight and energy intake, protein intake, and vitamin A intake in children aged 24-30 months in Cakung District, East Jakarta in 2019.
S-11106
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
