Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29142 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Karisma Ayu; Pembimbing: Hendra; Penguji: Abdul Kadir, Baiduri Widanarko, Selamat Riyadi, Nenni Herlina Rafida
Abstrak:

Kelelahan kerja mengacu pada sensasi kelelahan dan penurunan kemampuan fungsional yang terjadi di tempat kerja dan merupakan masalah serius yang dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja, terutama pada pekerja satuan pengamanan (SATPAM) yang memiliki durasi kerja panjang dan beban kerja tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko terkait pekerjaan dan tidak terkait pekerjaan yang memengaruhi kelelahan kerja pada pekerja satuan pengamanan PT. XYZ. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 195 responden yang dipilih secara uji hipotesis proporsi dan proporsional dari 11 lokasi kerja. Data dikumpulkan melalui kuesioner kelelahan kerja subyektif dari Industrial Fatigue Research Committee (IFRC). Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik. Hasil didapatkan sebanyak 70,8% responden mengalami kelelahan kerja sedang-berat. Faktor risiko terkait pekerjaan yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja meliputi masa kerja (OR=2,229; p=0,012), durasi kerja (OR=2,368; p=0,023), beban kerja (OR=3,869; p=0,015), peran di organisasi (OR=2,645; p=0,002), dukungan sosial di tempat kerja (OR=2,045; p=0,028), tuntutan pekerjaan (OR=2,192; p=0,032), dan kepuasan kerja (OR=7,344; p=0,008). Faktor tidak terkait pekerjaan yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja meliputi usia (OR=2,735; p=0,002), tingkat pendidikan (OR=2,602; p=0,015), waktu komuter (OR=2,039; p=0,025), kebiasaan merokok (OR=3,844; p=0,013), kebiasaan olahraga (OR=2,800; p=0,022) dan durasi tidur (OR=1,885; p=0,004). Sedangkan faktor risiko jenis kelamin, indeks masa tubuh dan status pernikahan tidak berhubungan signifikan dengan kelelalahan kerja. Kelelahan kerja pada SATPAM PT. XYZ dipengaruhi oleh faktor pekerjaan (masa kerja, durasi kerja, beban kerja, peran di organisasi, dukungan sosial di tempat kerja, tuntutan pekerjaan, dan kepuasan kerja) serta faktor tidak terkait pekerjaan (usia, pendidikan, waktu komuter, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga dan durasi tidur). Rekomendasi untuk perusahaan meliputi penyesuaian jam kerja, peningkatan dukungan sosial, dan program promosi kesehatan untuk mengurangi kelelahan kerja


 

Work-fatigue, characterized by exhaustion and diminished functional capacity in occupational settings, represents a significant concern due to its detrimental effects on productivity and workplace safety. This issue is particularly prevalent among security personnel (SATPAM) who endure extended working hours and substantial workloads. This study examines occupational and non-occupational risk factors contributing to work fatigue among security personnel employees at PT. XYZ. The study employs a crosssectional design with a sample of 195 respondents selected through proportion hypothesis  testing and proportional sampling from 11 work locations. Data collection employed the  standardized  Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) subjective fatigue assessment tool, with subsequent analysis conducted via logistic regression. Findings revealed that 70.8% of participants experienced moderate to severe work fatigue. Significant occupational risk factors included: work tenure (OR=2.229; p=0.012), shift duration (OR=2.368; p=0.023), workload intensity (OR=3.869; p=0.015), organizational role clarity (OR=2.645; p=0.002), workplace social support (OR=2.045; p=0.028), job demands (OR=2.192; p=0.032), and job satisfaction (OR=7.344; p=0.008). Significant non-occupational factors included: age (OR=2.735; p=0.002), educational level (OR=2.602; p=0.015), commuting duration (OR=2.039; p=0.025), smoking behavior (OR=3.844; p=0.013), exercise habits (OR=2.800; p=0.022), and sleep duration (OR=1.885; p=0.004). In contrast, risk factors such as gender, body mass index, and marital status were not significantly associated with work fatigue. These results underscore the multifactorial nature of work fatigue among security personnel, influenced by both job-related factors (length of service, working hours, workload, organizational role, social support in the workplace, job demands, and job satisfaction) as well as nonjob-related factors (age, education, commuting time, smoking habits, exercise habits, and  sleep  duration). Organizational interventions should prioritize work schedule optimization, enhanced psychosocial support systems, and comprehensive workplace health initiatives to mitigate fatigue-related risks.

Read More
T-7286
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Fathir Aksa Majda; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ovvyasa Wayka Putri
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelelahan dan faktor risiko kelelahan (fatigue)
pada pekerja konstruksi di Proyek A PT XYZ tahun 2025. Faktor terkait pekerjaan yang
diteliti mencakup waktu kerja, beban kerja, shift kerja dan lingkungan kerja. Sedangkan,
faktor tidak terkait pekerjaan yang diteliti mencakup usia, status gizi, kualitas tidur,
kuantitas tidur, kebiasaan merokok, konsumsi kafein, dan commuting time (waktu
perjalanan). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross
sectional dan dilaksanakan pada Februari – Juni 2025 di Proyek A PT XYZ.
Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang mencakup identitas responden,
Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA Task Load Index
(NASA TLX) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Jumlah responden dalam
penelitian ini adalah sebanyak 78 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 36
responden (46,2%) mengalami kelelahan, sedangkan 42 responden (53,8%) tidak
mengalami kelelahan. Berdasarkan analisis inferensial menggunakan uji Chi-Square,
diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara shift kerja (p-value = 0,024;
OR = 0,227) dan usia (p-value = 0,024; OR = 3,000) dengan kelelahan pada pekerja
konstruksi di Proyek A PT XYZ.


This study aims to analyze fatigue and the risk factors associated with fatigue among  construction workers at Project A, PT XYZ, in 2025. Work-related factors examined  include working hours, workload, work shifts, and work environment. Meanwhile, non work-related factors analyzed include age, nutritional status, sleep quality, sleep quantity,  smoking habits, caffeine consumption, and commuting time. This research employs a  quantitative approach with a cross-sectional study design, conducted from February to  June 2025 at Project A, PT XYZ. Data collection was carried out using a questionnaire  covering respondent identity, the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers  (FASCW), NASA Task Load Index (NASA TLX), and Pittsburgh Sleep Quality Index  (PSQI). The total number of respondents in this study was 78. The results showed that 36  respondents (46.2%) experienced fatigue, while 42 respondents (53.8%) did not. Based  on inferential analysis using the Chi-Square test, a significant relationship was found  between work shifts (p-value = 0.024; OR = 0.227) and age (p-value = 0.024; OR = 3.000)  and fatigue among construction workers at Project A of PT XYZ.

Read More
S-12047
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfha Aulia Nasution; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Hendra, Robiana Modjo, Bonardo Prayogo Hasiholan, Riana Ranny Diponegara
Abstrak:
Kelelahan kerja merupakan hal yang sering terjadi di berbagai industri, salah satunya termasuk industri konstruksi. Jenis pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja di industri konstruksi memiliki potensi menimbulkan terjadinya kelelahan kerja oleh karena karakteristik pekerjaan yang berisiko terpajan berbagai faktor. Selain itu  kelelahan merupakan masalah umum di antara populasi pekerja. Namun, sedikit yang diketahui tentang hubungan antara faktor risiko pekerjaan dan gejala kelelahan. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada pekerja konstruksi dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 50 pekerja konstruksi di PT XYZ. Adapun metode pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden dan pengukuran menggunakan alat. Selanjutnya data yang didapatkan diolah secara deskriptif dan inferensial menggunakan software statistik untuk melihat gambaran dan hubungan dari setiap variabel. Variabel independen pada penelitian ini adalah umur, masa kerja, perilaku merokok, status menikah, usaha, penghargaan, overcommitment, postur kerja, suhu, dan kebisingan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok (POR=6.000 (1.558-23.113)), postur kerja (POR=13.000 (2.463–68.604)), usaha (POR=5.296 (1,533-18.299)), penghargaan (POR=5.520 (1.534-19.863)), overcommitment (POR=4.375 (1,325-14.446)), dan kebisingan  (POR=6.333 (1.523-26.341)) dengan kejadian kelelahan kerja. Sedangkan variabel umur, masa kerja, dan status menikah tidak menunjukan adanya hubungan dengan kejadian kelelahan kerja.

Work fatigue is a common occurrence across various industries, including the construction industry. The type of work performed by workers in the construction industry has the potential to cause work fatigue due to the nature of the job, which is at risk of exposure to various factors. Additionally, fatigue is a common issue among the working population. However, little is known about the relationship between work risk factors and fatigue symptoms. The research design of this study was cross-sectional. The aim of this study was to analyze the factors related to work fatigue among construction workers using a quantitative approach. The sample for this study consisted of 50 construction workers at PT XYZ. Data collection was carried out by administering questionnaires to respondents and measuring using tools. The data obtained were then processed descriptively and inferentially using statistical software to examine the patterns and relationships of each variable. The independent variables in this study included age, length of service, smoking behavior, marital status, effort, appreciation, overcommitment, work posture, temperature, and distractions. The results showed a significant relationship between smoking behavior (POR=6.000 (1.558-23.113)), work posture (POR=13.000 (2.463–68.604)), effort (POR=5.296 (1.533-18.299)), reward (POR=5.520 (1.534-19.863)), overcommitment (POR=4.375 (1.325-14.446)), and distraction (POR=6.333 (1.523-26.341)) with the occurrence of work fatigue. In contrast, the variables of age, length of service, and marital status did not show any relationship with the occurrence of work fatigue.
Read More
T-7172
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wafiq Febri Erlianti Safitri; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Fatma Lestari, Hendra, Muthia Ashifa, Ahmad Afif Mauludi
Abstrak:
Abstrak Pada tahun 2021, Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan mencatat 7.298 kasus kecelakaan kerja dan 9% diantaranya disebabkan oleh kelelahan kerja. Dari data kasus tersebut 96% terjadi di industry pertambangan yang juga menyebabkan produktivitas pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kelelahan kerja pada operator alat berat pertambangan di PT XYZ. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penerapan rancangan cross-sectional. Studi ini melibatkan 115 pekerja yang diminta untuk mengisi kuisioner SOFI. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 71,3% pekerja mengalami kelelahan kerja pada tingkat ringan, sedangkan 28,7% responden mengalami kelelahan kerja pada tingkat berat. Nilai p dari hasil uji korelasi antara kelelahan kerja dengan faktor-faktor risikonya, masing-masing adalah jam kerja = 0,087, jumlah hari berurutan = 0,105, roster kerja = 0,556, shift kerja = 0,720, lama perjalanan = 0,005, usia = 0,992, riwayat penyakit kronis = 1,000, gangguan tidur = <0,001, kebiasaan tidur = <0,001, kemampuan tidur siang/istirahat = 0,047, usaha = 0,006, penghargaan = 0,152, overcommitment = 0,014, suhu = 0,482, kebisingan = 0,277, pencahayaan = 0,127. Selanjutnya disimpulkan bahwa determinan dari kelelahan kerja adalah lama perjalanan, gangguan tidur, kebiasaan tidur, kemampuan tidur siang/istirahat, usaha, dan overcommitment.

Abstract In 2021, the Directorate General of Labor Inspection recorded 7,298 cases of workplace accidents, with 9% attributed to work fatigue. Of these cases, 96% occurred in the mining industry, adversely affecting worker productivity. This study aims to identify the risk factors for work fatigue among heavy equipment operators in PT XYZ using a cross-sectional design. Involving 115 workers who completed the SOFI questionnaire, data analysis was conducted using the Chi-square test. The research findings revealed that 71.3% of workers experienced mild work fatigue, while 28.7% reported severe fatigue. Correlation tests showed varying p-values for factors such as working hours (0.087), consecutive workdays (0.105), work roster (0.556), shift work (0.720), travel duration (0.005), age (0.992), chronic illness history (1.000), sleep disturbances (<0.001), sleep habits (<0.001), nap/rest capability (0.047), effort (0.006), recognition (0.152), overcommitment (0.014), temperature (0.482), noise (0.277), and lighting (0.127). In conclusion, determinants of work fatigue include travel duration, sleep disturbances, sleep habits, nap/rest capability, effort, and overcommitment.
Read More
T-6874
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andriza Hanifah Wulandari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Rijal Noor Al-Ghiffari
Abstrak:

Kelelahan merupakan masalah multifaktor yang dialami pekerja sektor manufaktur dan
berdampak pada kecelakaan kerja, kesehatan, serta ekonomi. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja sales
perusahaan manufaktur di PT X tahun 2025. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor
risiko terkait pekerjaan (durasi kerja, masa kerja, beban kerja, waktu istirahat, waktu
perjalanan, dan lingkungan kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, status
gizi, kuantitas tidur, kualitas tidur, konsumsi alkohol, dan konsumsi kafein). Penelitian
ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan Februari
hingga Juni 2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring, meliputi kuesioner
karakteristik individu dan pekerjaan, OFER, PSQI, NASA-TLX, dan persepsi terhadap
lingkungan kerja. Terdapat 136 data responden yang dianalisis menggunakan analisis
deskriptif dan inferensial dengan uji chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa
56.6% pekerja mengalami kelelahan kronik dan 79.4% kelelahan akut. Hasil
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko terkait kerja
yaitu masa kerja (p value = 0.047), lingkungan kerja bising (p value = 0.033) dan faktor
risiko tidak terkait kerja, yaitu kualitas tidur (p value = 0.044) dengan kelelahan kronik.
Hasil juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor risiko
terkait kerja yaitu beban kerja (p value = 0.033) dengan pemulihan kelelahan.


Fatigue is a multifactorial problem experienced by workers in the manufacturing sector  and has an impact on work accidents, health, and the economy. This study aims to analyze  the risk factors associated with fatigue in sales workers of manufacturing companies at  PT X in 2025. The risk factors studied include work-related risk factors (duration of work,  length of service, workload, rest time, commuting time, and work environment) and non work-related risk factors (age, nutritional status, sleep quantity, sleep quality, alcohol  consumption, and caffeine consumption). This study used a cross-sectional study design  conducted from February to June 2025. Data were collected through online  questionnaires, including individual and job characteristics questionnaires, OFER, PSQI,  NASA-TLX, and perceptions of work environment. 136 respondent data analyzed using  descriptive and inferential analysis with the chi-square test. The results of the analysis  showed that 56.6% of workers experienced chronic fatigue and 79.4% acute fatigue. The  results showed that there was a significant relationship between work-related risk factors,  namely work period (p value = 0.047), noisy work environment (p value = 0.033) and  non-work-related risk factors, namely sleep quality (p value = 0.044) with chronic fatigue.  The results also showed that there was a significant relationship between work-related  risk factors, namely workload (p value = 0.033) with fatigue recovery.

Read More
S-12100
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisha Salwa Savitri; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Rizki Rahmawati
Abstrak:
Mata merupakan indera manusia yang paling dominan dalam beraktivitas. Sekitar 90% aktivitas dalam kehidupan sehari-hari dikendalikan oleh sistem penglihatan sehingga penglihatan yang terganggu akan berpengaruh terhadap berbagi domain fungsional. Kelelahan mata merupakan salah satu gangguan yang paling sering ditemui pada pekerja dan dapat terjadi di berbagai jenis pekerjaan, termasuk pada pekerja fabrikasi yang aktivitas pekerjaannya sangat mengandalkan mata serta membutuhkan konsentrasi visual yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan mata pada pekerja fabrikasi di PT XYZ tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 76 pekerja fabrikasi di PT XYZ. Variabel penelitian meliputi kelelahan mata, intensitas pencahayaan di tempat kerja, kelainan refraksi, usia, masa kerja, durasi kerja, jenis pekerjaan, dan penggunaan APD. Variabel intensitas pencahayaan diukur dengan lux meter, variabel kelelahan diukur dengan Visual Fatigue Questionnaire, dan variabel lain diukur dengan kuesioner yang dikembangkan oleh peneliti. Data yang dikumpulkan dianalisis secara univariat dan bivariat, yaitu dengan uji chi-square dan mann-whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67,1% pekerja fabrikasi di PT XYZ mengalami kelelahan mata. Tiga gejala terbanyak yang pernah dialami adalah mata terasa lelah (65,8%), penglihatan kabur atau buram (56,6%), dan iritasi mata (47,4%). Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kelainan refraksi (p=0,006), usia (p=0,034), dan masa kerja (p=0,004) dengan kelelahan mata. Rata-rata skor kelelahan mata juga berbeda secara signifikan berdasarkan intensitas pencahayaan (p=0,049) dan durasi kerja (p=0,007). Oleh sebab itu, untuk meminimalisir risiko kelelahan mata, perlu dilakukan perbaikan yang mencakup faktor-faktor risiko tersebut.


The eyes are the most dominant human sensory organ in daily activities. Approximately, 90% of everyday tasks rely on the visual system; therefore, impaired vision can affect various functional domains. Eye fatigue is one of the most common visual complaints among workers and can occur in various types of jobs, including fabrication work, which heavily depends on visual concentration. This study aims to analyze the factors associated with eye fatigue among fabrication workers at PT XYZ in 2025. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed, involving 76 fabrication workers. The variables examined included eye fatigue, lighting intensity in the workplace, refractive errors, age, years of service, working hours, job type, and the use of personal protective equipment (PPE). Lighting intensity was measured using a lux meter, eye fatigue was assessed using the Visual Fatigue Questionnaire, and other variables were measured through a self-developed questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate methods, specifically chi-square and Mann-Whitney tests. The results showed that 67.1% of workers experienced eye fatigue. The three most commonly reported symptoms were tired eyes (65.8%), blurred vision (56.6%), and eye irritation (47.4%). Significant associations were found between eye fatigue and refractive errors (p=0.006), age (p=0.034), and years of service (p=0.004). Significant differences in average eye fatigue scores were also observed based on lighting intensity (p=0.049) and working hours (p=0.007). Therefore, to minimize the risk of eye fatigue, improvements targeting these risk factors are necessary.
Read More
S-12101
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Sari Budi Ghafara; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Siti Widya Nazhrah, Abdul Kadir
Abstrak: Nama : Indah Sari Budi Ghafara Program Studi : Keselamatan dan Kesehatan Kerja Judul :Analisis Faktor Risiko Kelelahan Pada Masinis PT XYZ Tahun 2023 Pembimbing : Indri Hapsari Susilowati, S.KM, M.KKK, Ph.D Transportasi umum saat ini menjadi pilihan favorit masyarakat dalam melakukan perpindahan dengan selamat dan efisien. Salah satu transportasi umum pilihan masyarakat Jakarta adalah kereta Mass Rapid Train (MRT). Keselamatan kereta MRT merupakan isu yang penting untuk diperhatikan agar dapat menjaga keselamatan baik masinis maupun penumpang. Dalam pengoperasian kereta MRT, dilakukan oleh seorang masinis. Menurut data Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), di tahun 2016 sebanyak 45% kecelakaan disebabkan oleh masinis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fatigue serta faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kelelahan pada masinis seperti faktor terkait pekerjaan dan faktor tidak terkait pekerjaan. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari-Juni 2023 di PT. XYZ. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Fatigue Assessment Scale (FAS) dalam mengukur kelelahan, dan Sound Level Meter dalam mengukur kebisingan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 67 masinis kereta MRT yang aktif mengoperasikan kereta. Hasil dari data kuesioner dianalisis menggunakan uji statistic chi-square. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 41,8% mengalami kelelahan. Dari penelitian ini diketahui bahwa pada faktor risiko terkait pekerjaan, terdapat hubungan yang signifikan antara shift kerja dengan kelelahan pada masinis. Pada faktor risiko tidak terkait pekerjaan, terdapat hubungan yang signifikan antara commuting time, dan kualitas tidur terhadap kelelahan pada masinis.
Name : Indah Sari Budi Ghafara Study Program: Keselamatan dan Kesehatan Kerja Title : Analysis of Work Fatigue Risk Factors on Train Driver PT XYZ in 2023. Counsellor : Indri Hapsari Susilowati, S.KM, M.KKK, Ph.D Public transportation is currently people's favorite choice for moving safely and efficiently. One of the public transportation choices for the people of Jakarta is the Mass Rapid Train (MRT). MRT train safety is an important issue to pay attention to maintain the safety of both the driver and the passengers. In operating the MRT train, it is carried out by a train driver. According to data from the National Transportation Safety Commission (KNKT), in 2016 as many as 45% of accidents were caused by train drivers. This study aims to analyze fatigue and factors related to the occurrence of fatigue in train drivers such as work-related factors and non-work related factors. This research was conducted from January to June 2023 at PT XYZ. The tools used in this study were the Fatigue Assessment Scale (FAS) questionnaire to measure fatigue, and the Sound Level Meter to measure noise. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The sample in this study was 67 MRT train drivers who actively operated trains. The results of the questionnaire data were analyzed using the chi-square statistical test. The results of this study showed that 41.8% experienced fatigue. From this study, it is known that on work-related risk factors, there is a significant relationship between work shifts and driver fatigue. In non-work related risk factors, there is a significant relationship between commuting time and sleep quality on driver fatigue.
Read More
S-11551
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melvern Adrian Parapat; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Rr. Winda Kusuma Ningrum
Abstrak:
Pekerja Satuan Pengamanan (Satpam) memiliki peran vital di lingkungan kampus yang rentan terhadap distres kerja akibat tingginya tuntutan fisik maupun psikososial operasional harian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat distres kerja pada Satpam Universitas Indonesia (UI) tahun 2026. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain studi potong lintang. Sampel penelitian berjumlah 89 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling dari total populasi 518 satpam. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan instrumen kuesioner yang terdiri dari Perceived Stress Scale (PSS-10), Work Design Questionnaire (WDQ), Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) III, dan Effort-Reward Imbalance Questionnaire (ERI-Q). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami distres kerja tingkat sedang (61,8%) dan sisanya pada tingkat ringan (38,2%). Analisis bivariat mengungkapkan bahwa karakteristik individu (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jabatan, dan masa kerja) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat distres kerja (p > 0,05). Pada faktor psikososial pekerjaan, budaya dan fungsi organisasi (p=0,005; OR=4,03) serta hubungan interpersonal di tempat kerja (p=0,018; OR=3,33) terbukti memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan tingkat distres kerja. Dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi dan kualitas hubungan interpersonal menjadi determinan utama penyebab distres kerja pada satpam UI. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berupa perbaikan komunikasi dua arah antara manajemen dan satpam, serta peningkatan program dukungan sosial antar rekan kerja guna mengendalikan risiko distres kerja.

Security Guards play a vital role in the campus environment and are highly vulnerable to occupational distress due to the physical and psychosocial demands of their daily operations. This study aims to analyze the factors associated with the level of occupational distress among Security Guards at Universitas Indonesia (UI) in 2026. This quantitative study utilized a cross-sectional design. The sample consisted of 89 respondents selected through a stratified random sampling technique from a total population of 518 security guards. Primary data were collected using questionnaires comprising the Perceived Stress Scale (PSS-10), Work Design Questionnaire (WDQ), Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) III, and Effort-Reward Imbalance Questionnaire (ERI-Q). Data were analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test. The results showed that the majority of respondents experienced a moderate level of occupational distress (61.8%), while the rest experienced mild distress (38.2%). Bivariate analysis revealed that individual characteristics (age, gender, education level, position, and tenure) did not have a significant relationship with distress levels (p > 0.05). Among the psychosocial work factors, organizational culture and function (p=0.005; OR=4.03) and interpersonal relationships at work (p=0.018; OR=3.33) were statistically proven to have a significant relationship with the level of occupational distress. It can be concluded that organizational culture and the quality of interpersonal relationships are the primary determinants of occupational distress among UI security guards. Therefore, interventions such as improving two-way communication between management and security guards, as well as enhancing social support programs among coworkers, are necessary to mitigate the risk of occupational distress.
Read More
S-12480
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ridho Pradana Maha Putra; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Fatma Lestari, Sigit Wijayanto, Haryanto
Abstrak:

Kelelahan kerja (fatigue) merupakan sebuah kondisi dimana seorang pekerja/tenaga kerja tidak bekerja secara maksimal dan mengalami penurunan produktivitas. International Labour Organization (ILO) (2016) mengatakan bahwa sebanyak 32% pekerja/tenaga kerja mengalami kasus kelelahan kerja. Selain itu, 27% pekerja/tenaga kerja mengalami kasus kelelahan kerja berat dan 18,3% pekerja/tenaga kerja mengalami kasus kelelahan kerja sedang. Kelelahan kerja juga akan dapat menyebabkan penurunan produktivitas kerja, peningkatan risiko pekerja/tenaga kerja melakukan kesalahan, dan peningkatan risiko terjadinya kecelakaan kerja. Desain penelitian pada penelitian ini adalah cross sectional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja pada pekerja/tenaga kerja pengelasan di industri minyak dan gas bumi dengan pendekatan kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 97 pekerja/tenaga kerja welder di PT XYZ. Metode pengambilan data dengan melakukan pengisian kuesioner kepada responden dan melakukan pengukuran menggunakan alat oxymeter, lux meter, sound level meter, dan thermometer dan humidity meter. Data akan diolah secara deskriptif dan inferensial untuk melihat gambaran dan hubungan dari setiap variabel. Variabel independen pada penelitian ini adalah faktor individu (usia, masa kerja, kebiasaan merokok, dan waktu istirahat), faktor pekerja/tenaga kerjaan (beban kerja fisik, beban kerja mental, dan durasi kerja harian), dan faktor lingkungan kerja (kebisingan, pencahayaan, dan suhu). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok (OR=3.100 (1.253 – 7.672)), waktu istirahat (OR=5.913 (2.314–15.110)) , beban kerja fisik (OR=3.529 (1.509 - 8.256)), beban kerja mental (OR=2.658 (1.144–6.180)), kebisingan (OR=4.370 (1.844 – 10.354)), dan suhu (OR=4.083 (1.386-12.031)) dengan kejadian kelelahan kerja pada welder di PT. XYZ Sedangkan variabel usia, masa kerja, durasi kerja harian, dan pencahayaan tidak menunjukan adanya hubungan dengan kejadian kelelahan kerja pada welder di PT.XYZ. Kata Kunci: Kelelahan kerja, pekerja/tenaga kerja welder, industri minyak gas dan bumi


Work fatigue is a condition where a worker does not work optimally and experiences decreased productivity. The International Labor Organization (ILO) (2016) said that as many as 32% of workers experience work fatigue. In addition, 27% of workers experience severe work fatigue and 18.3% of workers experience moderate work fatigue. Work fatigue can also cause decreased work productivity, increased risk of workers making mistakes, and increased risk of work accidents. The research design in this study was cross-sectional. The purpose of this study was to analyze the risk factors for work fatigue in welding workers in the oil and gas industry using a quantitative approach. The sample in this study was 97 welder workers at PT XYZ. The data collection method was by filling out questionnaires to respondents and taking measurements using an oxymeter, lux meter, sound level meter, and thermometer & humidity meter. The data will be processed descriptively and inferentially to see the picture and relationship of each variable. The independent variables in this study were individual factors (age, length of service, smoking habits, and rest time), work factors (physical workload, mental workload, and daily work duration), and work environment factors (noise, lighting, and temperature). The results showed that there was a significant relationship between smoking habits (OR=3.100 (1.253 – 7.672)), rest time (OR=5.913 (2.314–15.110)), physical workload (OR=3.529 (1.509 - 8.256)), mental workload (OR=2.658 (1.144–6.180)), noise (OR=4.370 (1.844 – 10.354)), and temperature (OR=4.083 (1.386-12.031)) with the occurrence of work fatigue in welders at PT. XYZ Meanwhile, the variables of age, length of service, daily work duration, and lighting did not show any relationship with the occurrence of work fatigue in welders at PT.XYZ. Keywords: Work fatigue, welder workers, oil and gas

Read More
T-7242
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bella Azalia; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Anisa Sawu Dwi Astuti
Abstrak:
Kelelahan merupakan masalah yang sering terjadi di tempat kerja, yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan menurunkan produktivitas kerja. Pekerja shift pada industri manufaktur merupakan kelompok yang rentan untuk mengalami kelelahan karena gangguan ritme sirkadian dan pola tidur alami. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kelelahan dan menganalisis faktor risiko kelelahan pada pekerja shift di Departemen Produksi perusahaan manufaktur PT X tahun 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan metode kuantitatif dan pengambilan sampel non-probability sampling. Terdapat 112 data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner OFER, NASA-TLX, PSS-10, dan PSQI yang dianalisis menggunakan uji Chi Square dan uji regresi logistik sederhana. Hasil menunjukkan 32,1% mengalami kelelahan kronis, 19,6% mengalami kelelahan akut, 34,8% memiliki pemulihan kelelahan yang kurang. Faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis adalah masa kerja (p-value=0,002), kualitas tidur (p-value=0,001), dan riwayat penyakit (p-value=0,034). Faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan kelelahan akut adalah masa kerja (p-value=0,002) dan kualitas tidur (p-value=0,001). Faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan pemulihan kelelahan adalah kualitas tidur (p-value=0,006) dan riwayat penyakit (p-value=0,007). Faktor risiko beban kerja, durasi kerja, shift kerja, stres kerja, usia, kuantitas tidur, status gizi, konsumsi kafein, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga, pekerjaan sampingan, dan waktu perjalanan tidak berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis ataupun akut.

Fatigue is a common problem in the workplace, which can increase the risk of workplace accidents and reduce work productivity. Shift workers in the manufacturing industry are a group that is vulnerable to fatigue due to circadian rhythm and natural sleep patterns disturbances. This study aims to determine the level of fatigue and analyze the risk factors for fatigue among shift workers in the Production Department of PT X manufacturing company in 2025. This study used a cross-sectional design with quantitative methods and non-probability sampling. A total of 112 data were collected using the OFER, NASA-TLX, PSS-10, and PSQI questionnaire and analyzed using the Chi-square test and simple logistic regression test. The results showed that 32.1% experienced chronic fatigue, 19.6% experienced acute fatigue, and 34.8% had poor fatigue recovery. Risk factors significantly associated with chronic fatigue were length of service (p-value=0,002), sleep quality (p-value=0,001), and history of illness (p-value=0,034). Risk factors significantly associated with acute fatigue were length of service (p-value=0,002) and sleep quality (p-value=0,001). Risk factors significantly associated with fatigue recovery were sleep quality (p-value=0,006) and history of illness (p-value=0,007). Risk factors such as workload, work duration, work shifts, work stress, age, sleep quantity, nutritional status, caffeine consumption, smoking habits, exercise habits, side jobs, and commuting time were not significantly associated with both chronic and acute fatigue.
Read More
S-12191
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive