Ditemukan 30903 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Fennie Sajahrial; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Prastuti Soewondo, Fushen, Kharisma Ersha
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Industri layanan kesehatan, terutama sektor rumah sakit swasta, ditandai dengan persaingan yang ketat, meningkatnya biaya operasional, dan meningkatnya ekspektasi terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. Kemampuan untuk menilai dan meningkatkan kinerja secara akurat sangat penting untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan sebuah rumah sakit. Salah satu indikator kinerja yang dapat digunakan adalah EBITDA. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembentukan EBITDA matriks yang akan digunakan sebagai indikator kinerja. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. penelitian ini mengkaji berbagai aspek, mulai dari pemahaman sumber daya manusia, kebijakan internal, pelatihan, hingga proses penyusunan matriks yang terintegrasi dalam sistem operasional rumah sakit. Hasil: Hasil: penelitian menunjukkan bahwa pembentukan matriks EBITDA meliputi variabel input, proses dan output. Variabel input meliputi pengetahuan SDM, kebijakan, pelatihan serta sistem informasi rumah sakit. Variabel proses adalah rangkaian pelatihan berkelanjutan, hingga diperoleh variabel output yaitu matriks EBITDA. Pada pelaksanaan EBITDA matriks dibetuk sebuah tim Operating Control Center (OCC) berperan penting dalam mengelola dan mengawasi pelaksanaan matriks EBITDA. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa EBITDA matriks dapat digunakan sebagai indikator kinerja, namun pada pelaksanaannya akan menghadapi berbagai hambatan. Meskipun demikian, adanya pengetahuan, sikap dan komitment yang baik akan menjadi faktor keberhasilan pencapaian indikator kinerja.
Background: The healthcare industry, especially the private hospital sector, is characterised by intense competition, rising operating costs, and increasing expectations for quality healthcare services. The ability to accurately assess and improve performance is critical to the survival and growth of a hospital. One of the performance indicators that can be used is EBITDA. Objective: This study aims to determine the formation of EBITDA matrix to be used as a performance indicator. Methods: This research uses a qualitative method with a case study approach. This research examines various aspects, ranging from understanding human resources, internal policies, training, to the process of preparing a matrix that is integrated in the hospital's operational system. Results: The research shows that the formation of the EBITDA matrix includes input, process and output variables. Input variables include HR knowledge, policies, training and hospital information systems. The process variable is a series of continuous training, until the output variable is obtained, namely the EBITDA matrix. In the implementation of the EBITDA matrix, an Operating Control Center (OCC) team plays an important role in managing and supervising the implementation of the EBITDA matrix. Conclusion: This research shows that the EBITDA matrix can be used as a performance indicator, but in its implementation it will face various obstacles. Nevertheless, the existence of good knowledge, attitude and commitment will be a success factor in achieving performance indicators.
B-2538
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
R.Fresley Hutapea; Pembimbing: Faiq Bahfen ;Penguji: Ronnie Rivany, Herkutanto, Trijatmo Rachimhadhi, Budhi Yahmono
B-514
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Desriana Elizabeth Ginting; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Adang Bachtiar, Amal Chalik Sjaaf, Sri Handayani
Abstrak:
Abstrak
Penelitian ini menguji hubungan antara variabel indikator kinerja mutu pelayanan, kepedulian kepada masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan dengan kepuasan pelanggan terhadap 14 rumah sakit vertikal di indonesia. Untuk melihat kinerja dan hubungan di antara indikator-indikator tersebut, digunakan analisis deskriptif dan uji korelasi regresi dengan bootstrapping. Selain itu, dilakukan pula pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam. Dari hasil penilaian kinerja, didapatkan sebagian dari sasaran strategik belum mencapai nilai optimum. Sementara dari hasil analisis bivariat, didapatkan tidak ada hubungan antara variabel indikator kinerja mutu pelayanan, kepedulian kepada masyarakat, kepedulian terhadap lingkungan yang berkolerasi dengan kepuasan pelanggan. Dengan demikian, diperlukan adanya perbaikan manajemen dan sistem di internal rumah sakit, maupun Kementrian Kesehatan sebagai regulator terkait indikator kinerja yang digunakan dalam penelitian BLU, termasuk indikator sasaran strategik di dalamnya.
This study examines relationship between the variables of service quality performance indicators, public awareness and concern for the environment and customer satisfaction among 14 vertical hospitals in Indonesia. To see the performance and the relationship between these indicators, used descriptive analysis and correlation regression with bootstrapping. In addition, a qualitative approach through in-depth interviews was also applied. Performance evaluation resultes obtained from a portion of the strategic objectives have not yet reached the optimum value. The results of the bivariate analysis, found no association between the variables of service quality performance indicators, public awareness, environmental awareness is correlated with customer satisfaction. Thus, it is necessary improve management and internal systems in hospitals, and the Ministry of Health as a regulator on the performance indicators used in the hopsital autonomy (BLU) assessment, including its strategic targets.
Read More
Penelitian ini menguji hubungan antara variabel indikator kinerja mutu pelayanan, kepedulian kepada masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan dengan kepuasan pelanggan terhadap 14 rumah sakit vertikal di indonesia. Untuk melihat kinerja dan hubungan di antara indikator-indikator tersebut, digunakan analisis deskriptif dan uji korelasi regresi dengan bootstrapping. Selain itu, dilakukan pula pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam. Dari hasil penilaian kinerja, didapatkan sebagian dari sasaran strategik belum mencapai nilai optimum.
This study examines relationship between the variables of service quality performance indicators, public awareness and concern for the environment and customer satisfaction among 14 vertical hospitals in Indonesia. To see the performance and the relationship between these indicators, used descriptive analysis and correlation regression with bootstrapping. In addition, a qualitative approach through in-depth interviews was also applied. Performance evaluation resultes obtained from a portion of the strategic objectives have not yet reached the optimum value.
B-1535
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Septo Pawelas Arso; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Kopromotor: Anhari Achadi; Penguji: Purnawan Junadi, Mardiati Nadjib, Dumilah Ayuningtyas, Pujiyanto, Agus Suwandono, Sudiro, Slamet Riyadi Yuwono
Abstrak:
Desertasi ini membahas tentang aplikasi metode AHP dalam pengembangan CSF kinerja rumah sakit daerah dalam penerapan PPK BLUD. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif (mix method) yang mengidentifikasi CSF dan melakukan prioritasi dengan metode AHP pada level manajerial. Hasil penelitian mendapatkan 5 CSF yaitu kepemimpinan, strategi bisnis, pengembangan SDM, pengembangan sumber daya dan pelayanan. Diketahuii terdapat perbedaan penilaian prioritas dan konsensus antara level direksi, manajer dan pelaksana. Hal ini menunjukkan konsep BLUD kurang dipahami oleh personel rumah sakit daerah di berbagai levelnya. Pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi dan koordinasi untuk meningkatkan penerapan PPK BLUD baik di internal RSUD maupun dengan institusi terkait. Direksi RSUD melakukan refreshing kemampuan berpikir strategis dan teknis tata kelola operasional RSUD serta optimalisasi fungsi pengawasan.
Kata kunci: BLUD, Critical Success Factor, Analytic Hierarchy Process
This dissertation discusses the application of AHP method in developing CSF of local hospital performance in applying PPK BLUD. This research is a qualitative and quantitative research (mix method) that identifies CSF and prioritizes by AHP method at managerial levels. The results obtained 5 CSF are leadership, business strategy, human resource development, resource development and service. It is known that there are differences in priority and consensus assessment between the level of directors, managers and operators. This reveals that the BLUD concept is poorly understood by regional hospital personnel at various levels. Local governments need to conduct evaluation and coordination to improve the implementation of PPK BLUD both in internal hospitals and with related institutions. Directors of RSUD hold refreshing strategic thinking and technical skills of operational governance of district hospital and optimization of supervisory function.
Key words: BLUD, Critical Success Factor, Analytic Hierarchy Process
Read More
Kata kunci: BLUD, Critical Success Factor, Analytic Hierarchy Process
This dissertation discusses the application of AHP method in developing CSF of local hospital performance in applying PPK BLUD. This research is a qualitative and quantitative research (mix method) that identifies CSF and prioritizes by AHP method at managerial levels. The results obtained 5 CSF are leadership, business strategy, human resource development, resource development and service. It is known that there are differences in priority and consensus assessment between the level of directors, managers and operators. This reveals that the BLUD concept is poorly understood by regional hospital personnel at various levels. Local governments need to conduct evaluation and coordination to improve the implementation of PPK BLUD both in internal hospitals and with related institutions. Directors of RSUD hold refreshing strategic thinking and technical skills of operational governance of district hospital and optimization of supervisory function.
Key words: BLUD, Critical Success Factor, Analytic Hierarchy Process
D-380
Depok : FKM UI, 2018
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhammad Zaidan Jauhari; Pembimbing: Hafizurrachman; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Amila Megraini, Yuli Prapancha Satar
Abstrak:
Penelitian ini dilatar belakangi adanya kesenjangan antara jumlahpenduduk Cianjur yang sebesar 2.171.281, dengan supply atau pemenuhanlayanan kesehatan berupa Rumah Sakit, dimana di Cianjur hanya terdapat 3rumah sakit. Untuk membangun Rumah Sakit baru di Kabupaten Cianjur diperlukan rencana pemasaran yang tepat yang didasarkan pada usaha untukmemenuhi kebutuhan dan keinginan dari masyarakat Kabupaten Cianjur.Rencana pemasaran yang tepat penting untuk mengembangkan Rumah Sakit yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan layananmasyarakat tapi juga mampu memenuhi kepentingan ekonomi daripadapenyandang modal dan para pihak yang berkepentingan terhadap rumah sakittersebut. . Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan rencana pemasaran yang tepat untuk RS. Dokter Hafiz sebagai rumah sakit baru Tipe C di Cianjur,secara khusus melakukan analisa konsumen dilihat dari kebutuhan dankeinginan masyarakat Cianjur akan layanan kesehatan, melakukan analisa perusahaan, dan melakukan analisa pesaing RS Dr. Hafiz Cianjur. Jenis penelitian merupakan mixed method dengan desain penelitian deskriptif eksploratori melibatkan pengumpulan dan analisa data kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesesuaian yang siginifikan antara rencana pemasaran RS Dr. Hafiz terhadap situasi riil diwilayah Cianjur berdasarkan analisa konsumen, analisa pesaing, analisa perusahaan serta terhadap ekspektasi karakteristik layanan kesehatan yang diharapkan oleh masyarakat Cianjur. Saran yang diberikan dari penelitian ini adalah dalam upaya menjalankan usaha RS agar senantiasa memperhatikan kesesuaian rencana pemasarannya terhadap kondisi kebutuhan konsumen, kemampuan dan target perusahaan serta kondisi pesaing yang ada di wilayah tersebut.
Read More
B-1662
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Achmad Junaidi; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Heriyadi Manan, Budiman Wijaya
Abstrak:
Angka kejadian, kecacatan dan kematian stroke masih tinggi. Pelayanan stroke di rumah sakit belum standar, baik ruangan perawatan dan terapinya. Hal tersebut yang melatarbelakangi pembentukan pusat stroke di RSMH. Tesis ini membahas kesiapan faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan pusat stroke di Rumah Sakit M Hoesin. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain analitik. Hasil penelitian didapatkan faktor yang belum siap adalah SDM dan infratsruktur yang masih kurang dan kebijakan/protokol yang belum lengkap. Rekomendasi yang dihasilkan membuat rencana jangka pendek, menengah dan panjang untuk pembentukan pusat stroke di Rumah Sakit M Hoesin yang meliputi infrastruktur, sumber daya manusia dan kebijakan/standar yang dibutuhkan agar pusat stroke bisa berjalan optimal. Kata kunci : Kesiapan, pusat stroke, kualitatif, RSMH The incidence, disability and death of stroke is still high. Hospital stroke service is not up to standard, both the treatment room and the therapy. This is what lies behind the establishment of a stroke center at RSMH. This thesis discusses the readiness of the factors that play a role in the establishment of stroke center at M Hoesin Hospital. This research is a qualitative research with analytic design. The result of the research shows that the factors that are not ready are the human resources and some of the infratructure that is still lacking and the policy / protocol is not yet complete. The results suggest that short, medium and long term plans for the establishment of a stroke center at M Hoesin Hospital covering the infrastructure, human resources and policies / standards required for a stable stroke center. Key words ; Readiness, stroke center, qualitative, M Hoeisn hospital
Read More
B-1871
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Iva Nur Faridah; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Enny Ekasari, Fikrotul Ulya
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Dalam era persaingan layanan kesehatan yang semakin ketat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dituntut tidak hanya menjalankan fungsi sosial, tetapi juga mampu bersaing dengan rumah sakit swasta dalam hal kualitas pelayanan dan kepuasan pasien. RSUD Anugerah Sehat Afiat (ASA) Kota Depok sebagai rumah sakit milik Pemerintah Kota Depok memiliki tantangan dalam meningkatkan pemanfaatan layanan dan memperkuat posisinya sebagai pilihan utama masyarakat di wilayah timur Kota Depok. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi preferensi masyarakat dalam memilih rumah sakit, menganalisis permasalahan yang dihadapi RSUD ASA dalam menarik minat masyarakat, serta merumuskan strategi yang tepat agar RSUD ASA dapat menjadi rumah sakit pilihan utama masyarakat. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain studi kasus. Data kuantitatif dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada pasien dan masyarakat, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan dari manajemen rumah sakit. Analisis dilakukan berdasarkan lima dimensi utama yang menjadi variabel independen, yaitu availability, affordability, accessibility, accommodation, dan acceptability. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi acceptability, yang meliputi kepercayaan pasien, reputasi rumah sakit, dan kualitas pelayanan, merupakan faktor paling dominan dalam memengaruhi preferensi masyarakat. Dimensi accessibility dan availability juga berpengaruh signifikan, sedangkan affordability dan accommodation memberikan pengaruh sedang terhadap keputusan masyarakat dalam memilih rumah sakit. Kesimpulan: Upaya untuk menjadikan RSUD ASA sebagai pilihan utama masyarakat perlu diarahkan melalui pendekatan Strategic Healthcare Marketing, yang menekankan bahwa preferensi pasien terhadap rumah sakit dibentuk oleh persepsi nilai yang terdiri atas bauran kualitas layanan, aksesibilitas, citra rumah sakit, dan interaksi pasien selama proses pelayanan. Pendekatan berbasis nilai ini diharapkan mampu meningkatkan mutu layanan secara berkelanjutan, memperkuat kepercayaan publik, serta meningkatkan daya saing RSUD ASA di dalam sistem pelayanan kesehatan regional. Kata kunci: Preferensi masyarakat, utama, availability, accessibility, acceptability, rumah sakit, strategi.
Background: In an increasingly competitive healthcare environment, public hospitals are required not only to fulfill their social functions but also to compete with private hospitals in terms of service quality and patient satisfaction. RSUD Anugerah Sehat Afiat (ASA) Depok, as a local government-owned hospital, faces challenges in improving service utilization and strengthening its position as the preferred choice for the community in the eastern region of Depok City. Objectives: This study aims to identify the factors influencing community preferences in choosing hospitals, analyze the challenges faced by RSUD ASA in attracting public interest, and formulate effective strategies to make RSUD ASA the primary hospital of choice for the community. Methods: The study employs a mixed-methods approach with a case study design. Quantitative data were collected through questionnaires distributed to patients and community members, while qualitative data were obtained through in-depth interviews with key informants, including hospital management and local health officials. The analysis was conducted based on five key dimensions: availability, affordability, accessibility, accommodation, and acceptability. Results: The findings reveal that acceptability, which includes patient trust, hospital reputation, and service quality, is the most dominant factor influencing community preference. The dimensions of accessibility and availability also have significant effects, while affordability and accommodation show a moderate influence on hospital choice. Conclusion: Efforts to establish RSUD ASA as the main choice of the community should adopt the Strategic Healthcare Marketing approach, which emphasizes that patient preference for a hospital is shaped by perceived value derived from the combination of service quality, accessibility, hospital image, and patient interaction throughout the care process. This value-based approach is expected to foster continuous quality improvement, strengthen public trust, and enhance the hospital’s competitiveness within the regional healthcare system.
B-2574
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Y. Sri Yono; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Adik Wibowo, Anhari Achadi, Rizasyah Daud, Dodo
B-1610
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bambang Wibowo; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Usman Sumantri, Puji Triastuti, Prastuti C. Soewondo
Abstrak:
Terdapat selisih antara klaim INA-CBG dengan pendapatan Rumah Sakit di 4 Rumah Sakit kelas A yaitu RSUP Fatmawati, RSUP Dr. Kariadi, RSUP Dr. Sarjito dan RSUP Dr. Hasan Sadikin. Dalam 6 bulan terdapat selisih terkecil Rp 1.091.205.671 di RSUP Dr. Kariadi dan terbesar Rp 10.142.004.398 di RSUP Fatmawati. Perbedaan selisih terutama dipengaruhi perbedaan pada komponen biaya untuk jasa medis dan farmasi pada seluruh kasus yang dilayani maupun kasus sectio cesarea tingkat keparahan 3. RSUP Dr. Kariadi dan RSUP Dr. Hasan Sadikin adalah Rumah Sakit yang efisien, sedangan RSUP Fatmawati dan RSUP Sarjito adalah Rumah Sakit yang inefisien.
Metode pembayaran INA-CBG meningkatkan upaya pengendalian biaya Rumah Sakit melalui pembayaran jasa medis yang lebih kecil, penggunaan obat generik serta pengendalian pemeriksaan penunjang laboratorium dan radiologi. Setiap Rumah Sakit mempunyai karakteristik dalam melakukan pengendalian biaya untuk meningkatkan efisiensi dan dapat menjadi model pembelajaran bagi Rumah Sakit lain. RSUP Fatmawati dalam menerapkan clinical pathway, RSUP Dr. Kariadi dalam pengendalian alat medik habis pakai, RSUP Dr. Sarjito dalam menerapkan jasa pelayanan yang sama untuk semua kelas perawatan dan RSUP Dr. Hasan Sadikin dalam hal kebijakan mewajibkan penggunaan obat generik.
There is a difference between the claims of INA - CBG with hospital revenue in the fourth class A hospitals; Fatmawati, Dr. Kariadi, Dr . Sarjito and Dr. Hasan Sadikin . Within 6 months, difference range between Rp 1,091,205,671 in Dr. Kariadi Hospital and Rp 10,142,004,398 in Fatmawati Hospital . The difference is mainly influenced by the difference of cost component for medical service payment and pharmacy cost in all cases and cesarean section severity level 3. Dr. Kariadi and Dr. Hasan Sadikin Hospital are an efficient hospitals, on the other hand Fatmawati and Sarjito Hosital are an inefficient hospitals.
INA-CBG payment method enhance the cost containment efforts through smaller medical service payment, the use of generic drugs, control of laboratory and radiological investigations. Each hospital has the characteristics in costs containment to enhance hospital efficiency and can be a learning model for other hospitals. Fatmawati hospital in implementing clinical pathways, Dr. Kariadi hospital in the control of medical equipment consumables, Dr. Sarjito hospital in implementing the same payment services to all class care and Dr. Hasan Sadikin hospital in policies require the use of generic drugs.
Read More
Metode pembayaran INA-CBG meningkatkan upaya pengendalian biaya Rumah Sakit melalui pembayaran jasa medis yang lebih kecil, penggunaan obat generik serta pengendalian pemeriksaan penunjang laboratorium dan radiologi. Setiap Rumah Sakit mempunyai karakteristik dalam melakukan pengendalian biaya untuk meningkatkan efisiensi dan dapat menjadi model pembelajaran bagi Rumah Sakit lain. RSUP Fatmawati dalam menerapkan clinical pathway, RSUP Dr. Kariadi dalam pengendalian alat medik habis pakai, RSUP Dr. Sarjito dalam menerapkan jasa pelayanan yang sama untuk semua kelas perawatan dan RSUP Dr. Hasan Sadikin dalam hal kebijakan mewajibkan penggunaan obat generik.
There is a difference between the claims of INA - CBG with hospital revenue in the fourth class A hospitals; Fatmawati, Dr. Kariadi, Dr . Sarjito and Dr. Hasan Sadikin . Within 6 months, difference range between Rp 1,091,205,671 in Dr. Kariadi Hospital and Rp 10,142,004,398 in Fatmawati Hospital . The difference is mainly influenced by the difference of cost component for medical service payment and pharmacy cost in all cases and cesarean section severity level 3. Dr. Kariadi and Dr. Hasan Sadikin Hospital are an efficient hospitals, on the other hand Fatmawati and Sarjito Hosital are an inefficient hospitals.
INA-CBG payment method enhance the cost containment efforts through smaller medical service payment, the use of generic drugs, control of laboratory and radiological investigations. Each hospital has the characteristics in costs containment to enhance hospital efficiency and can be a learning model for other hospitals. Fatmawati hospital in implementing clinical pathways, Dr. Kariadi hospital in the control of medical equipment consumables, Dr. Sarjito hospital in implementing the same payment services to all class care and Dr. Hasan Sadikin hospital in policies require the use of generic drugs.
B-1593
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Emil Ibrahim; Pembimbing: Purnawan Junadi
B-769
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
