Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36318 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Syifa Rahmadany; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Banun Rohimah
Abstrak:
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang persisten dengan nilai tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg berdasarkan rata-rata dua atau lebih pengukuran tekanan darah. Prevalensi hipertensi di Provinsi Kalimantan Tengah menempati peringkat tertinggi di Indonesia, yakni 40,7%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan faktor dominan yang berhubungan dengan hipertensi pada penduduk usia 25–44 tahun di Provinsi Kalimantan Tengah. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Analisis data yang digunakan meliputi analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4.929 sampel, sebanyak 35,7% mengalami hipertensi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia 25–44 tahun di Provinsi Kalimantan Tengah yakni umur, riwayat pendidikan, status pekerjaan, obesitas, dan obesitas sentral. Konsumsi buah menjadi faktor dominan setelah dikontrol oleh variabel konsumsi sayur dan konsumsi makanan olahan berpengawet sebagai confounder, dengan peningkatan risiko sebesar 7,4 kali pada individu yang tidak pernah mengonsumsi buah dalam satu minggu dan 4,15 kali pada individu yang kurang mengonsumsi buah jika dibandingkan dengan individu yang mengonsumsi buah dalam jumlah cukup (14 porsi/minggu).
Hypertension is defined as a persistent increase in blood pressure, with systolic values ≥140 mmHg and/or diastolic values ≥90 mmHg, based on the average of two or more blood pressure measurements. The prevalence of hypertension in Central Kalimantan Province is the highest in Indonesia, at 40.7%. This study aims to determine related factors and dominant factors related to hypertension in the population aged 25-44 years in Central Kalimantan Province. A cross-sectional design was used, utilizing data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI 2023). Data analysis included univariate analysis using frequency distribution, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistics regression. The results showed that out of 4,929 samples, 35.7% had hypertension. The factors significantly associated with the incidence of hypertension among individuals aged 25–44 years in Central Kalimantan Province include age, educational background, employment status, obesity, and central obesity. Fruit consumption is the dominant factor after being controlled by consumption of vegetables and consumption of processed foods preserved as confounders. Individuals who never consumed fruit in the past week had a 7.4 times higher risk of hypertension, while those who consumed less fruit (
Read More
S-12005
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indira Paramesti; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak:
Hipertensi ditemukan sebagai masalah kesehatan utama yang menyebabkan pada kematian dini serta berbagai penyakit tidak menular lainnya, dan saat ini tidak hanya terjadi pada kelompok usia tua, tetapi juga pada kelompok dewasa muda. Hipertensi yang terjadi pada usia muda dapat berdampak pada terjadinya kerusakan organ tubuh yang lebih dini sehingga penurunan kualitas hidup dan produktivitas akan terjadi lebih cepat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko yang berhubungan pada kejadian hipertensi pada dewasa muda (20-24 tahun) di Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2023. Penelitian menggunakan desain cross sectional yang menggunakan data sekunder SKI 2023 dengan sampel sebanyak 596 orang. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi hipertensi pada dewasa muda (20-24 tahun) di Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 18,9%. Analisis bivariat mendapatkan bahwa status perkawinan, indeks massa tubuh, dan lingkar perut berhubungan dengan kejadian hipertensi. Analisis multivariat menemukan bahwa indeks massa tubuh merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada dewasa muda (20-24 tahun) di Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2023 dengan nilai OR sebesar 2,105 (95% CI 1,304-4,285).

Hypertension has been identified as a major health problem leading to premature death and various other non-communicable diseases, and it currently occurs not only in older age groups but also in young adults. Hypertension occurring at a young age can lead to earlier organ damage, leading to a more rapid decline in quality of life and productivity. The purpose of this study was to determine the risk factors associated with the incidence of hypertension in young adults (20-24 years) in Central Kalimantan Province in 2023. The study used a cross-sectional design using secondary data from the 2023 SKI with a sample of 596 individuals. The study results showed that the prevalence of hypertension among young adults (20-24 years) in Central Kalimantan Province was 18.9%. Bivariate analysis found that marital status, body mass index, and waist circumference were associated with the incidence of hypertension. Multivariate analysis found that body mass index was the dominant factor associated with the incidence of hypertension among young adults (20-24 years) in Central Kalimantan Province in 2023, with an OR of 2.105 (95% CI 1.304-4.285).
Read More
S-12401
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Sajida Khairillah Sri Mulyani; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Triyani Kresnawan
Abstrak:

Dislipidemia adalah suatu gangguan yang mengacu pada kadar lipid yang tidak normal dalam aliran darah yang ditandai dengan ditemukannya salah satu tanda keabnormalan kadar lipid darah, meliputi kadar kolesterol total, LDL, trigliserida, atau HDL. Prevalensi dislipidemia pada usia dewasa (19–49 tahun) di Indonesia tergolong tinggi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dislipidemia pada penduduk usia 15–49 tahun di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang menggunakan data sekunder SKI 2023. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah analisis univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji kai kuadrat, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15.827 subjek, 90,7% responden laki-laki dan 80,2% responden perempuan mengalami dislipidemia. Analisis bivariat pada responden laki-laki menunjukkan hasil yang signifikan antara usia, status pekerjaan, tingkat pendidikan, indeks massa tubuh, hipertensi, dan obesitas sentral dengan kejadian dislipidemia (p-value <0,05). Analisis bivariat pada responden perempuan menunjukkan hasil yang signifikan antara usia, wilayah tempat tinggal, tingkat pendidikan, konsumsi makanan berlemak, minuman manis, minuman beralkohol, indeks massa tubuh, diabetes melitus, hipertensi, dan obesitas sentral dengan kejadian dislipidemia (p-value <0,05). Analisis multivariat pada responden laki-laki menunjukkan bahwa indeks massa tubuh merupakan faktor dominan (p-value = 0,000; OR 2,3; 95% CI : 1,752-3,249), sedangkan pada responden perempuan menunjukkan bahwa interaksi indeks massa tubuh dan konsumsi makanan berlemak merupakan faktor dominan (p-value = 0,038; OR 3,4; 95% CI : 1,070-10,834).



Dyslipidemia is a disorder characterized by abnormal levels of lipids in the bloodstream, indicated by elevated or decreased levels of total cholesterol, LDL, triglycerides, or HDL. The prevalence of dyslipidemia among adults aged 19–49 years in Indonesia is relatively high. This study aimed to identify the dominant and associated factors related to the occurrence of dyslipidemia among individuals aged 15–49 years in Indonesia. This was a quantitative study with a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI 2023). Data analysis included univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis using the Chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that among 15,827 respondents, 90.7% of males and 80.2% of females had dyslipidemia. Bivariate analysis in male respondents revealed significant associations between dyslipidemia and age, employment status, education level, body mass index (BMI), hypertension, and central obesity (p-value < 0.05). In female respondents, significant associations were found with age, residential area, education level, fatty food consumption, sugary drink intake, alcohol consumption, BMI, diabetes mellitus, hypertension, and central obesity (p-value < 0.05). Multivariate analysis showed that BMI was the dominant factor among males (p-value = 0.000; OR = 2.3; 95% CI: 1.752–3.249), while among females, the interaction between BMI and fatty food consumption was the dominant factor (p-value = 0.038; OR = 3.4; 95% CI: 1.070–10.834).
Read More
S-11997
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hilmi Friska; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Triyanti, Trini Sudiarti, Rahmawati
Abstrak:
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Perbedaan karakteristik dan gaya hidup masyarakat dapat memengaruhi kejadian hipertensi antarwilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan gaya hidup terhadap kejadian hipertensi, hipertensi sistolik, dan hipertensi diastolik pada penduduk usia produktif 18–59 tahun di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Penelitian ini menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 5.925 responden di Kalimantan Tengah dan 8.747 responden di Kalimantan Selatan yang berusia 18-59 tahun. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil: Prevalensi hipertensi di Kalimantan Tengah sebesar 36,6% dengan hipertensi sistolik sebesar 35,7% dan hipertensi diastolik sebesar 70,4%. Di Kalimantan Selatan menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar 30,8% dengan hipertensi sistolik sebesar 32,6% dan hipertensi diastolik sebesar 66,1%. Faktor yang secara konsisten berhubungan dengan kejadian hipertensi, hipertensi sistolik, dan hipertensi diastolik pada kedua provinsi adalah usia, indeks massa tubuh (IMT), dan lingkar perut. Namun, terdapat perbedaan faktor gaya hidup antarwilayah. Di Kalimantan Tengah, hipertensi lebih banyak berhubungan dengan pola konsumsi (makanan berlemak, makanan dan minuman manis), sedangkan di Kalimantan Selatan lebih banyak berhubungan dengan faktor sosial dan perilaku, seperti pendidikan, konsumsi makanan olahan berpengawet, konsumsi alkohol, dan perilaku merokok. Usia 45–59 tahun memiliki peluang sekitar 3,7 kali lebih besar mengalami hipertensi dibandingkan kelompok usia 18–29 tahun di Kalimantan Tengah (AOR = 3,711; 95%CI: 3,000–4,590) dan Kalimantan Selatan (AOR = 3,757; 95%CI: 3,114–4,534). Kesimpulan: Terdapat persamaan dan perbedaan faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi, hipertensi sistolik, dan hipertensi diastolik pada penduduk usia produktif 18-59 Tahun di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Usia merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan hipertensi, hipertensi sistolik, dan hipertensi diastolik di kedua Provinsi. Temuan ini menunjukkan perlunya upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi yang disesuaikan dengan karakteristik faktor risiko di masing-masing provinsi.

Hypertension is a major public health problem and one of the leading risk factors for cardiovascular disease. Variations in population characteristics and lifestyle may contribute to differences in the prevalence of hypertension across regions. This study aimed to compare lifestyle factors associated with hypertension, systolic hypertension, and diastolic hypertension among the productive-age population (18–59 years) in Central Kalimantan and South Kalimantan Provinces, Indonesia. This study used secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) and employed a cross-sectional design. The study included 5,925 respondents from Central Kalimantan and 8,747 respondents from South Kalimantan aged 18–59 years. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariable logistic regression. Results: The prevalence of hypertension in Central Kalimantan was 36.6%, with systolic hypertension and diastolic hypertension accounting for 35.7% and 70.4%, respectively. In South Kalimantan, the prevalence of hypertension was 30.8%, while the prevalence of systolic hypertension and diastolic hypertension was 32.6% and 66.1%, respectively. Age, body mass index (BMI), and waist circumference were consistently associated with hypertension, systolic hypertension, and diastolic hypertension in both provinces. However, lifestyle-related factors differed between provinces. In Central Kalimantan, hypertension was primarily associated with dietary patterns, particularly the consumption of high-fat foods and sugary foods and beverages. In contrast, hypertension in South Kalimantan was more strongly associated with social and behavioral factors, including educational attainment, consumption of processed foods containing preservatives, alcohol consumption, and smoking. Individuals aged 45–59 years had approximately 3.7 times higher odds of developing hypertension than those aged 18–29 years in Central Kalimantan (AOR = 3.711; 95% CI: 3.000–4.590) and South Kalimantan (AOR = 3.757; 95% CI: 3.114–4.534). Conclusion: Both similarities and differences were identified in the factors associated with hypertension, systolic hypertension, and diastolic hypertension among the productive-age population in Central Kalimantan and South Kalimantan. Age was the strongest factor associated with all three outcomes in both provinces. These findings highlight the need for hypertension prevention and control strategies tailored to the risk factor profiles of each province.
Read More
T-7582
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Layra Azkadzkiya Arradhin; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Sandra Fikawati, Khoirul Anwar
Abstrak:
Hipertensi merupakan kondisi peningkatan tekanan darah yang terus menerus tinggi di atas batas normal. Data saat ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan prevalensi hipertensi pada dewasa muda usia 25-34 tahun di Indonesia, tetapi banyak dewasa muda yang kurang menyadari jika mereka mengalami hipertensi sehingga hipertensi menjadi tidak terkontrol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran prevalensi hipertensi, hubungan antara hipertensi dengan faktor risiko hipertensi, serta mengetahui faktor dominan kejadian hipertensi pada dewasa muda usia 25-34 tahun di Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional menggunakan data sekunder SKI 2023 dengan sampel aktual sebanyak 6.105 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 18,9% dewasa muda usia 25-34 tahun mengalami hipertensi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin, status pekerjaan, konsumsi buah dan sayur, Indeks Massa Tubuh, lingkar perut, status konsumsi rokok, dan stres memiliki hubungan yang signifikan dengan hipertensi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsumsi buah dan sayur merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan hipertensi pada dewasa muda usia 25-34 tahun di Provinsi Jawa Barat tahun 2023 dengan nilai OR = 2,741 (95%CI: 1,449 – 5,182). Berdasarkan temuan tersebut, pemenuhan konsumsi buah dan sayur harian penting dalam pencegahan hipertensi pada dewasa muda, serta diperlukan lingkungan yang mendukung penerapan perilaku konsumsi buah dan sayur melalui implementasi program CERDIK, optimalisasi program Cek Kesehatan Gratis dan Posyandu ILP, serta kolaborasi lintas sektor untuk melaksanakan program pencegahan hipertensi di lingkungan kerja. 

Hypertension is a condition of continuously elevated blood pressure above the normal  threshold. Current data shows an increasing prevalence of hypertension among young adults  aged 25–34 years in Indonesia. However, many young adults are unaware if they have  hypertension, resulting in uncontrolled blood pressure. The purpose of this study was to  determine the prevalence of hypertension, the association between hypertension and its  various risk factors, and to determine the dominant factor contributing to hypertension  among young adults aged 25–34 years in West Java Province in 2023. The research design  used was cross-sectional using secondary data from SKI 2023 with an actual sample of 6.105  samples. The results showed that 18,9% of young adults aged 25-34 years had hypertension.  The results of bivariate analysis showed that gender, employment status, fruit and vegetable  consumption, Body Mass Index, abdominal circumference, cigarette consumption, and  stress had a significant association with hypertension. Multivariate analysis showed that fruit  and vegetable consumption was the dominant factor associated with hypertension in young  adults aged 25-34 years in West Java Province in 2023, with an odds ratio (OR) of 2,741  (95% CI: 1,449–5,182). Based on these findings, adequate daily consumption of fruits and  vegetables is essential for hypertension prevention among young adults. It is also necessary  to create supportive environments to implement fruit and vegetable consumption behavior  through the implementation of the CERDIK program, optimization of Integrated Primary  Health Services (ILP) through Posyandu, and collaboration to implement workplace-based  hypertension prevention programs.
Read More
S-11957
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khairina Mawazini Simatupang; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Rahmadi
Abstrak:
Wasting merupakan salah satu bentuk malnutrisi akut pada anak yang dinilai melalui indikator BB/PB untuk usia 0-23 bulan dan indikator BB/TB untuk usia 24-59 bulan. Anak dengan kondisi wasting dapat mengalami gangguan proses tumbuh-kembang hingga mengalami peningkatan risiko mortalitas. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi wasting di Kalimantan Selatan mencapai angka 13,8%. Prevalensi tersebut lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional yang mencapai angka 9,2%. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan terhadap kejadian wasting pada baduta 0-23 bulan di Provinsi Kalimantan Selatan dengan desain penelitian cross-sectional. Data yang digunakan adalah data SKI 2023 dengan jumlah sampel adalah 640 baduta yang memiliki data berdasarkan hasil survei kesehatan Indonesia. Variabel independen yang diteliti pada penelitian ini merupakan faktor risiko wasting dari berbagai aspek, meliputi faktor karakterisik dan riwayat kesehatan anak, riwayat penyakit infeksi, asupan makanan, pola asuh, faktor orang tua dan keluarga, serta sanitasi dan lingkungan. Distribusi frekuensi dari tiap variabel dianalisis secara univariat kemudian analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square, serta dilakukan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil analisis ditemukan bahwa prevalensi wasting mencapai angka 13,3% di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2023 untuk anak usia 0-23 bulan. Pada penelitian ini ditemukan bahwa tingkat pendidikan ayah merupakan variabel yang berhubungan signifikan terhadap kejadian wasting. Faktor dominan yang berhubungan  terhadap kejadian wasting pada anak usia 0-23 bulan di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2023 adalah jenis kelamin (aOR 3,28 95% CI 1,178-9,152).

Wasting is a form of acute malnutrition in children assessed using the Weight-for-Length indicator for ages 0-23 months and the Weight-for-Height indicator for ages 24-59 months. Children with wasting may experience impaired growth and development processes as well as an increased risk of mortality. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI), the prevalence of wasting in South Kalimantan reached 13,8%. This prevalence is higher than the national prevalence, which reached 9,2%. This study was conducted to identify the dominant factors associated with the incidence of wasting among children aged 0-23 months in South Kalimantan Province using a cross-sectional study design. The data used were from the 2023 SKI, with a sample size of 640 children aged 0-23 months who had complete data based on the survey results. The independent variables examined in this study were risk factors for wasting from various aspects, including child characteristics and health history, history of infectious diseases, food intake, parenting practices, parental and family factors, as well as sanitation and environmental factors. The frequency distribution of each variable was analyzed univariately, followed by bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that the prevalence of wasting among children aged 0-23 months in South Kalimantan Province in 2023 reached 13.3%. This study found that the father's education level was a variable significantly associated with the incidence of wasting. The dominant factor associated with the incidence of wasting among children aged 0-23 months in South Kalimantan Province in 2023 was sex (aOR 3.28, 95% CI 1.178-9.152).


Read More
S-12402
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Neysa Kanti Widhisari; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Sandra Fikawati, Saraheni
Abstrak:
Obesitas sentral merupakan penumpukan lemak berlebih di area abdomen yang menggambarkan akumulasi lemak viseral dan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular. Provinsi Kalimantan Timur memiliki prevalensi obesitas sentral yang konsisten berada di atas angka nasional sejak 2007 dan pada tahun 2023 kembali meningkat hingga 43,6%. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian obesitas sentral pada penduduk usia ≥20 tahun di Provinsi Kalimantan Timur menggunakan desain studi cross-sectional dari data sekunder Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Sampel penelitian adalah penduduk usia ≥20 tahun di Provinsi Kalimantan Timur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 8.544 responden. Variabel dependen adalah obesitas sentral, sedangkan variabel independen meliputi faktor sosiodemografi, gaya hidup, pola konsumsi, dan status gizi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan Rao-Scott Adjusted Chi-Square, dan multivariat menggunakan Complex Samples Logistic Regression. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi obesitas sentral keseluruhan sebesar 46,0%, dengan prevalensi pada perempuan sebesar 66,0% dan laki-laki sebesar 30,8%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, status perkawinan, wilayah tempat tinggal, perilaku merokok, dan konsumsi sayur berhubungan dengan obesitas sentral. Perempuan memiliki peluang 3,924 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan laki-laki (AOR=3,924; 95% CI: 3,352–4,594). Dibandingkan kelompok usia 20–24 tahun, peluang obesitas sentral lebih besar pada kelompok usia 25–34 tahun (AOR=1,984; 95% CI: 1,490–2,641), 35–44 tahun (AOR=2,411; 95% CI: 1,808–3,215), 45–54 tahun (AOR=3,158; 95% CI: 2,373–4,204), 55–64 tahun (AOR=2,801; 95% CI: 2,083–3,768), dan ≥65 tahun (AOR=1,879; 95% CI: 1,319–2,675). Responden yang menikah memiliki peluang 1,234 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan yang tidak menikah (AOR=1,234; 95% CI: 1,029–1,480). Responden di wilayah perkotaan memiliki peluang 1,586 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan perdesaan (AOR=1,586; 95% CI: 1,344–1,871). Perokok aktif memiliki peluang lebih rendah mengalami obesitas sentral dibandingkan bukan perokok (AOR=0,779; 95% CI: 0,633–0,957). Konsumsi sayur yang tidak cukup meningkatkan peluang obesitas sentral sebesar 1,291 kali dibandingkan konsumsi sayur cukup (AOR=1,291; 95% CI: 1,047–1,592). Terdapat interaksi bermakna antara jenis kelamin dengan usia (p<0,001), jenis kelamin dengan status perkawinan (p=0,004), jenis kelamin dengan wilayah tempat tinggal (p<0,001), usia dengan status perkawinan (p=0,017), usia dengan konsumsi sayur (p=0,007), status perkawinan dengan konsumsi sayur (p=0,014), serta wilayah tempat tinggal dengan perilaku merokok (p=0,015). Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan obesitas sentral dalam model akhir meliputi jenis kelamin, usia, status perkawinan, wilayah tempat tinggal, perilaku merokok, dan konsumsi sayur, dengan jenis kelamin perempuan sebagai faktor dominan.

Central obesity is the accumulation of excess fat in the abdominal area, which reflects visceral fat accumulation and is associated with an increased risk of noncommunicable diseases. This study aimed to identify the dominant factors associated with central obesity among residents aged ≥20 years in Kalimantan Timur Province, employing a cross-sectional study design based on secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI 2023). The study sample comprised 8,544 respondents aged ≥20 years in Kalimantan Timur Province who met the inclusion and exclusion criteria. The dependent variable was central obesity, while independent variables encompassed sociodemographic factors, lifestyle behaviors, dietary consumption patterns, and nutritional status. Data were analyzed using univariate, bivariate (Rao-Scott Adjusted Chi-Square), and multivariate (Complex Samples Logistic Regression) approaches. The findings revealed an overall prevalence of central obesity of 46.0%, with prevalence among females at 66.0% and among males at 30.8%. Multivariate analysis demonstrated that sex, age, marital status, area of residence, smoking behavior, and vegetable consumption were significantly associated with central obesity. Females had 3.924 times greater odds of experiencing central obesity compared to males (AOR=3.924; 95% CI: 3.352–4.594). Relative to the 20–24 year age group, the odds of central obesity were higher among those aged 25–34 years (AOR=1.984; 95% CI: 1.490–2.641), 35–44 years (AOR=2.411; 95% CI: 1.808–3.215), 45–54 years (AOR=3.158; 95% CI: 2.373–4.204), 55–64 years (AOR=2.801; 95% CI: 2.083–3.768), and ≥65 years (AOR=1.879; 95% CI: 1.319–2.675). Married respondents had 1.234 times greater odds of central obesity compared to unmarried respondents (AOR=1.234; 95% CI: 1.029–1.480). Respondents residing in urban areas had 1.586 times greater odds of central obesity compared to those in rural areas (AOR=1.586; 95% CI: 1.344–1.871). Active smokers had significantly lower odds of central obesity compared to non-smokers (AOR=0.779; 95% CI: 0.633–0.957). Insufficient vegetable consumption was associated with 1.291 times greater odds of central obesity compared to adequate consumption (AOR=1.291; 95% CI: 1.047–1.592). Significant interaction effects were identified between sex and age (p<0.001), sex and marital status (p=0.004), sex and area of residence (p<0.001), age and marital status (p=0.017), age and vegetable consumption (p=0.007), marital status and vegetable consumption (p=0.014), and area of residence and smoking behavior (p=0.015).. The final model indicated that sex, age, marital status, area of residence, smoking behavior, and vegetable consumption were associated with central obesity, with female sex identified as the dominant factor.
Read More
S-12331
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asyifa Ayu Fitrianisa; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Sandra Fikawati, Noorma Bunga Aniri
Abstrak:
Gizi lebih adalah kondisi timbunan lemak berlebih yang menimbulkan risiko kesehatan (WHO, 2024). Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mengalami peningkatan prevalensi gizi lebih anak dan remaja secara signifikan. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 dan 2018 serta Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi kejadian gizi lebih anak dan remaja pada seluruh kelompok usia di provinsi DI Yogyakarta lebih tinggi daripada prevalensi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian status gizi lebih pada remaja (10-19 tahun) di Provinsi DI Yogyakarta. Desain penelitian yang digunakan adalah studi cross-sectional dengan menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi status gizi lebih pada remaja adalah 22.5%. Analisis bivariat menunjukkan terdapat dua variabel yang berhubungan secara signifikan terhadap kejadian status gizi lebih, yaitu wilayah tempat tinggal dan status penerimaan bantuan (p-value<0.05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa wilayah tempat tinggal merupakan faktor dominan terhadap kejadian status gizi lebih pada remaja (p-value<0.001; OR=1.897; 95% CI: 1.321 - 2.724).

Overnutrition is a condition characterized by excessive fat accumulation that poses health risks (WHO, 2024). The Special Region of Yogyakarta is one of the provinces in Indonesia experiencing a significant increase in the prevalence of overnutrition among children an adolescents. Based on data from the 2013 and 2018 Basic Health Research surveys and the 2023 Indonesia Health Survey, the prevalence of overnutrition among children and adolescents in all age groups in this province is higher than the national prevalence. This study aims to analyze teh dominant factor associated with the incidence of overnutrition among adolescents (aged 10-19 years) in the Special Region of Yogyakarta. The research design employed a cross-sectional study using secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that the prevalence of overnutrition among adolescents was 22.5%. Bivariate analysis indicated that two variables—region of residence and assistance status—were significantly associated with overnutrition (p-value<0.05). Multivariate analysis identified region of residence as the dominant factor associated with overnutrition among adolescents ((p-value<0.001; OR=1.897; 95% CI: 1.321 - 2.724).
Read More
S-11907
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Nur Sarah Sudrajat; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang L. Achadi, Agus Triwinarto
Abstrak: Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian hipertensi dengan berbagai faktor risiko yang mencakup karakteristik demografi, status gizi, gaya hidup, pola diet, dan stres di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2018. Desain penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juli 2021. Populasi pada penelitian ini adalah dewasa muda usia 19-24 tahun di Provinsi Kalimantan Selatan. Total sampel yang termasuk dalam kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 1.459 sampel.Kejadian hipertensi dianalisis untuk diketahui prevalensi hipertensi sistolik, diastolik, dan gabungan (sistolik dan diastolik) dan ditemukan hipertensi diastolik memiliki prevalensi paling tinggi (14,1%).
Read More
S-10711
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Indawarie Zachra; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Salimar
Abstrak:
Hipertensi pada dewasa muda cenderung tidak disadari oleh penderitanya sehingga tidak terkontrol dengan baik. Hal ini membahayakan sebab hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik dan berkelanjutan hingga tua dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Selain itu, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur terus meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran prevalensi hipertensi, hubungan antara faktor risiko hipertensi dengan kejadian hipertensi dan mengetahui faktor dominan kejadian hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari – April 2021. Populasi pada penelitian ini adalah kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur. Total sampel yang termasuk ke dalam kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 1.947 sampel. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 60,3% kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur sering mengonsumsi makanan tinggi natrium, 58,9% sering mengonsumsi minuman manis, 57% sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, dan 97,8% kurang mengonsumsi buah dan sayur. Hasil analisis chi-square menunjukkan bahwa daerah tempat tinggal dan status gizi lebih memiliki hubungan dengan kejadian hipertensi. Berdasarkan hasil analisis univariat menunjukkan bahwa status gizi lebih merupakan faktor dominan kejadian hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2018 dengan nilai OR = 2,655 (95% CI: 2,156 – 3,270). Peneliti menyarankan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur untuk memberikan Komunikasi, Informasi dan Edukasi gizi baik melalui sosialisasi, media cetak, ataupun media sosial agar dapat melakukan penurunan berat badan dengan menerapkan gaya hidup sehat, menggalakkan layanan Posbindu PTM keliling yang diadakan di daerah dengan tingkat masyarakat yang berisiko tinggi mengalami hipertensi yakni daerah pedesaan dan daerah yang kurang akses pelayanan kesehatan, dan bekerjasama dengan pihak perusahaan untuk menyediakan alat ukur tekanan darah otomatis untuk memantau tekanan darah dan timbangan berat badan untuk memantau berat badan pekerja.

Hypertension in young adults tends to go unnoticed by the sufferer so that it is not well controlled. This is dangerous because hypertension that is not well controlled and sustained until old age can have a negative impact on health. In addition, the prevalence of hypertension in young adults aged 25-34 years in East Kalimantan continues to increase every year. This study aims to determine the prevalence of hypertension, the relationship between risk factors for hypertension and the incidence of hypertension and determine the dominant factors for the incidence of hypertension in the age group 25-34 years in East Kalimantan Province in 2018. The research design used was cross-sectional. This research was conducted in January - April 2021. The population in this study were young adults aged 25-34 years in East Kalimantan Province. The total sample included in the inclusion and exclusion criteria was 1,947 samples. This study used secondary data from Riskesdas 2018. The results showed that 60.3% of young adults aged 25-34 years in East Kalimantan often consume foods high in sodium, 58.9% often consume sugary drinks, 57% often consume foods high in fat, and 97.8% consume less fruits and vegetables. The results of chi-square analysis showed that the area of residence and nutritional status had more association with the incidence of hypertension. Based on the results of univariate analysis, it shows that overnutrition status is a dominant factor in the incidence of hypertension in young adults aged 25-34 years in East Kalimantan in 2018 with an OR value = 2.655 (95% CI: 2.156 - 3.270). Researchers suggest the East Kalimantan Provincial Health Office to provide Communication, Information and Education on nutrition either through socialization, print media, or social media in order to lose weight by implementing a healthy lifestyle, promoting mobile Posbindu PTM services held in areas with a high level of community risk of hypertension, namely rural areas and areas with less access to health services, and working with companies to provide automatic blood pressure measuring devices to monitor blood pressure and weight scales to monitor workers' weight.
Read More
S-11232
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive