Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39725 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maharani Ayundhias; Pembimbing: Abdul Kadir; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Aldila Faza Zulfah
Abstrak:
Pekerja shift dan on-call di sektor kelistrikan memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja (fatigue) yang berdampak pada penurunan fungsi kognitif, produktivitas, kesehatan, dan keselamatan kerja. Kelelahan ini dipengaruhi oleh faktor risiko terkait pekerjaan (sistem on-call, shift kerja, masa kerja, beban kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, tidur, status gizi, pekerjaan sampingan, status menikah, riwayat penyakit). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja (fatigue) pada pekerja shift dan on-call. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan metode mixed method. Data kuantitatif diperoleh dari 98 responden menggunakan kuesioner OFER, PSQI, NASA-TLX, pengukuran tinggi badan dan berat badan, serta didukung data kualitatif melalui wawancara terbuka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa beban kerja berhubungan signifikan dengan kelelahan kerja (fatigue) akut (p = 0,027; OR = 2,703) dan kelelahan kerja (fatigue) kronis (p = 0,034; OR = 2,618). Selain itu, kuantitas tidur (p = 0,035; OR = 3,906) dan status menikah (p = 0,003; OR = 4,354) memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja (fatigue) akut. Kesimpulan penelitian ini menekankan terkait pentingnya implementasi fatigue management dan peningkatan kesadaran diri dalam mengelola kelelahan kerja (fatigue). 


Shift and on-call workers in the electricity sector have a high risk of experiencing fatigue, which impacts cognitive function, productivity, health and safety. This fatigue is influenced by work-related risk factors (on-call system, work shift, work period, workload) and non-work-related risk factors (age, sleep, nutritional status, side job, married status, disease history). The purpose of this study was to analyze the risk factors for fatigue in shift and on-call workers. The study used a cross sectional design with mixed methods. Quantitative data were obtained from 98 respondents using OFER, PSQI, NASA-TLX questionnaires, height and weight measurements, and supported by qualitative data through open interviews. The results of this study showed that workload was significantly associated with acute fatigue (p = 0.027; OR = 2.703) and chronic fatigue (p = 0.034; OR = 2.618). In addition, sleep quantity (p = 0.035; OR = 3.906) and married status (p = 0.003; OR = 4.354) had significant associations with acute fatigue. The conclusion of this study emphasizes the importance of implementing fatigue management and increasing self-awareness in managing fatigue.
Read More
S-12013
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sherin Salsabila Ramadhanty; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Baiduri Widanarko, Julia Rantetampang
Abstrak:
Commuting merupakan aktivitas rutin para komuter termasuk pekerja di sektor perkantoran yang setiap hari melakukan mobilitas ulang-alik sehingga menimbulkan potensi kelelahan dan berdampak pada penurunan produktivitas kerja serta peningkatan human error bahkan kecelakaan kerja, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja pada pekerja komuter di sektor perkantoran yang melakukan mobilitas ulang-alik (commuting) menuju/pulang ke/dari tempat kerja di wilayah Jakarta Selatan pada tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sebanyak 233 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner. Pengumpulan data menggunakan adaptasi dari instrumen Subjective Self Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, dan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Setelah itu, analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pekerja komuter di sektor perkantoran 36,9% mengalami kelelahan ringan dan 63,1% mengalami kelelahan sedang-sangat tinggi. Faktor risiko yang berhubungan signifikan ditemukan pada faktor risiko tidak terkait pekerjaan, diantaranya waktu tempuh, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: <0,001), moda transportasi utama, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: 0,007), peran komuter (p-value: 0,002), jumlah penggunaan moda transportasi, baik berangkat (p-value: 0,014) dan pulang (p-value: 0,005), jenis kelamin (p-value: 0,033), dan tingkat pendidikan (p-value: 0,006). Dengan demikian, diperlukan adanya upaya pencegahan dan pengendalian kelelahan kelelahan yang komprehensif oleh perusahaan termasuk pemerintah melalui kebijakan dan program manajemen kelelahan. Penerapan kebijakan buffer time, monitoring kelelahan, peningkatan kualitas tidur, dan penyediaan prasarana istirahat dapat berkontribusi menurunkan risiko kelelahan. Kata kunci: Kelelahan Kerja, Faktor Risiko Kelelahan, Commuting, Pekerja Komuter, Perkantoran

Commuting is a routine activity for commuters, including office workers who travel back and forth every day, which can lead to fatigue and result in decreased work productivity, increased human error, and even workplace accidents. This study aims to analyze the risk factors for work-related fatigue among office workers who commute back and forth to and from their workplace in the South Jakarta area in 2026. The study employs a quantitative approach with a cross-sectional study design. A total of 233 respondents participated in this study by completing a questionnaire. Data collection utilized adaptations of the Subjective Self-Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, and International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Subsequently, data analysis employed the Chi-Square test. The results showed that 36.9% of office sector commuters experienced mild fatigue and 63.1% experienced moderate to very high fatigue. Significant risk factors were identified among non-work-related risk factors, including travel time—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: <0.001)—and primary mode of transportation—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: 0.007), commuter role (p-value: 0.002), number of mode of transportation use, both for the trip to work (p-value: 0.014) and return trips (p-value: 0.005), gender (p-value: 0.033), and educational level (p-value: 0.006). Thus, comprehensive efforts to prevent and control fatigue are needed by companies, including the government, through fatigue management policies and programs. The implementation of buffer time policies, fatigue monitoring, improved sleep quality, and the provision of rest facilities can contribute to reducing the risk of fatigue. Keywords: Fatigue, Risk factors for fatigue, Commuting, Commuting workers, Office workers
Read More
S-12276
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jasmine Kamilatun Nuha; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Distres adalah bentuk stres negatif yang disebabkan oleh kejadian buruk dan mengakibatkan penurunan performa kerja. Sektor kelistrikan memiliki kompleksitas dan risiko yang tinggi dalam proses bisnisnya, sehingga dalam penelitian terdahulu dan hasil observasi awal didapatkan bahwa pekerja sektor kelistrikan memiliki risiko mengalami distres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan menganalisis hubungan antara faktor risiko distres dengan tingkat distres pada pekerja PT X Sektor Kelistrikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan desain studi cross-sectional. Data kuantitatif didapatkan dari penyebaran kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square, sedangkan data kualitatif dilakukan dengan wawancara dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Faktor risiko yang diteliti meliputi faktor individu (usia, masa kerja, status pernikahan), faktor terkait pekerjaan (beban dan kecepatan kerja, peran dalam organisasi, pengembangan karier, hubungan interpersonal, home-work interface), faktor tidak terkait pekerjaan (domestic-family demands), dan faktor penyangga (dukungan sosial). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebanyak 70,6% pekerja mengalami stres sedang, 27,2% pekerja mengalami stres berat, dan 2,2% mengalami stres ringan. Hasil analisis inferensial menunjukkan hanya variabel pengembangan karier (p=0,021) yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat distres. Adapun nilai OR yang dihasilkan sebesar 2,457 yang mengartikan bahwa pekerja dengan persepsi buruk terhadap pengembangan karier memiliki peluang 2,457 kali lebih besar mengalami distres.
Distress is a form of negative stress caused by adverse events that can lead to a decline in work performance. The electricity sector involves high complexity and risk in its business processes, making workers in this sector more vulnerable to experiencing distress, as indicated by previous studies and preliminary observations. This study aims to describe and analyze the relationship between risk factors and the level of distress among workers at PT X in the electricity sector. A mixed-method approach with a cross-sectional design was employed. Quantitative data were obtained through questionnaires and analyzed using the chi-square test, while qualitative data were collected through interviews and analyzed thematically. The risk factors examined include individual factors (age, length of employment, marital status), work-related factors (workload and work pace, organizational role, career development, interpersonal relationships, home-work interface), non-work-related factors (domestic-family demands), and buffering factors (social support). The results of the descriptive analysis indicated that 70.6% of workers experienced moderate stress, 27.2% experienced severe stress, and 2.2% experienced mild stress. Inferential analysis showed that only the variable career development (p = 0.021) had a significant relationship with the level of distress, with an odds ratio (OR) value of 2.457, indicating that workers with negative perceptions of career development were 2.457 times more likely to experience distress.
Read More
S-12004
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herdipta Dhira Prasanti; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Hari Awang Pramudja
S-8869
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Fathir Aksa Majda; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ovvyasa Wayka Putri
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelelahan dan faktor risiko kelelahan (fatigue)
pada pekerja konstruksi di Proyek A PT XYZ tahun 2025. Faktor terkait pekerjaan yang
diteliti mencakup waktu kerja, beban kerja, shift kerja dan lingkungan kerja. Sedangkan,
faktor tidak terkait pekerjaan yang diteliti mencakup usia, status gizi, kualitas tidur,
kuantitas tidur, kebiasaan merokok, konsumsi kafein, dan commuting time (waktu
perjalanan). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross
sectional dan dilaksanakan pada Februari – Juni 2025 di Proyek A PT XYZ.
Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang mencakup identitas responden,
Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA Task Load Index
(NASA TLX) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Jumlah responden dalam
penelitian ini adalah sebanyak 78 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 36
responden (46,2%) mengalami kelelahan, sedangkan 42 responden (53,8%) tidak
mengalami kelelahan. Berdasarkan analisis inferensial menggunakan uji Chi-Square,
diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara shift kerja (p-value = 0,024;
OR = 0,227) dan usia (p-value = 0,024; OR = 3,000) dengan kelelahan pada pekerja
konstruksi di Proyek A PT XYZ.


This study aims to analyze fatigue and the risk factors associated with fatigue among  construction workers at Project A, PT XYZ, in 2025. Work-related factors examined  include working hours, workload, work shifts, and work environment. Meanwhile, non work-related factors analyzed include age, nutritional status, sleep quality, sleep quantity,  smoking habits, caffeine consumption, and commuting time. This research employs a  quantitative approach with a cross-sectional study design, conducted from February to  June 2025 at Project A, PT XYZ. Data collection was carried out using a questionnaire  covering respondent identity, the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers  (FASCW), NASA Task Load Index (NASA TLX), and Pittsburgh Sleep Quality Index  (PSQI). The total number of respondents in this study was 78. The results showed that 36  respondents (46.2%) experienced fatigue, while 42 respondents (53.8%) did not. Based  on inferential analysis using the Chi-Square test, a significant relationship was found  between work shifts (p-value = 0.024; OR = 0.227) and age (p-value = 0.024; OR = 3.000)  and fatigue among construction workers at Project A of PT XYZ.

Read More
S-12047
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Mahardikawati; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Fatma Lestari, Tubagus Dwika Yuantoko, Bima Haryadi
Abstrak:
Pekerja konstruksi memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja karena karakteristik pekerjaannya yang melibatkan aktivitas fisik berat, durasi kerja panjang, serta paparan lingkungan kerja seperti panas dan kebisingan. Kelelahan kerja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, ketelitian, kecepatan respons, dan human performance pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja dan dampak kelelahan kerja terhadap human performance pada pekerja konstruksi di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 113 pekerja konstruksi. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu, faktor terkait pekerjaan, dan human performance. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, pengukuran beban kerja fisik melalui denyut nadi, serta pengukuran lingkungan kerja kebisingan dan suhu. Instrumen yang digunakan meliputi Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial (analisis bivariat dan multivariat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja adalah waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik dengan nilai p-value masing-masing 0,000. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa terdapat tiga variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja, yaitu waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik. Variabel waktu perjalanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan kerja dengan nilai OR = 17,057. Kelelahan kerja juga berhubungan signifikan dengan human performance dengan nilai p-value 0,023 dengan nilai OR 2,457. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang tidak mengalami kelelahan kerja memiliki peluang 2,457 kali lebih besar untuk memiliki human performance tinggi dibandingkan pekerja yang mengalami kelelahan kerja.

Construction workers are at high risk of experiencing occupational fatigue due to the characteristics of their work, which involve heavy physical activity, long working hours, and exposure to work environment factors such as heat and noise. Occupational fatigue may lead to decreased concentration, accuracy, response speed, and workers’ human performance. This study aimed to analyze the risk factors associated with occupational fatigue and the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X in 2026. This study used a cross-sectional design involving 113 construction workers as respondents. The variables examined included individual factors, work-related factors, occupational fatigue, and human performance. Data were collected using questionnaires, physical workload measurement through pulse rate assessment, and work environment measurements, including noise and temperature. The instruments used in this study included the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Data were analyzed using descriptive and inferential analyses, including bivariate and multivariate analyses. The results showed that factors associated with occupational fatigue were commuting time, sleep quantity, and physical workload, with p-values of <0.001 for each variable. Based on the multivariate analysis, these three variables had a significant relationship with occupational fatigue. Commuting time was identified as the most dominant factor associated with occupational fatigue, with an OR value of 17.057. Occupational fatigue was also significantly associated with human performance, with a p-value of 0.023 and an OR value of 2.457. This indicates that workers who did not experience occupational fatigue were 2.457 times more likely to have high human performance compared to workers who experienced occupational fatigue.
Read More
T-7713
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Husairi; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Baiduri Widanarko, Muhammad Novie Anshari
Abstrak: Operator haul truck merupakan salah satu pekerjaan yang berisiko tinggi untuk mengalami kelelahan kerja (fatigue) disebabkan oleh penerapan shift kerja, gangguan kuantitas dan kualitas tidur, serta pengaruh berbagai faktor lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara shift kerja, kuantitas dan kualitas tidur, serta faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan fatigue pada operator haul truck. Desain studi cross-sectional digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan kuisioner Fastigue Assessment Scale (FAS), pengukuran tingkat stress menggunakan alat cocorometer, serta pengukuran kuantitas dan kualitas tidur menggunakan alat fitbit di antara 196 responden laki-laki yang bekerja sebagai operator haul truck. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kuantitas tidur (OR = 3,222, p = 0,028) dan kualitas tidur (OR = 2,800, p = 0,025) dengan kelelahan, sedangkan shift kerja tidak memiliki hubungan yang signifukan dengan kelelahan. Faktor risiko lain yang juga memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan pada operator haul truck di PT X adalah beban mental (OR = 2,296, p = 0,027), lingkungan kerja (OR = 2,400, p = 0,014), monotoni pekerjaan (OR = 3,371, p = 0,002), usia (OR = 2,708, p = 0,005), dan sleep hygiene (OR = 3,840, p = 0,001).
Kata Kunci: Kelelahan; Fatigue Assessment Scale (FAS); Shift Kerja; Tidur; Fitbit

Operator haul truck Haul truck operator is one of the high-risk occupations in experiencing fatigue caused by the implementation of shift work, sleep quantity and quality disturbance, other related factors. The objective of this study was to analyze the relationship between shift work, quantity and quality of sleep, and other factors associated with fatigue on the haul truck operator. A cross-sectional study was conducted in this study using questionnaires of Fatigue Assessment Scale (FAS), measurement of stress using cocorometer, and measurement of sleep quantity and quality using fitbit among 196 male respondents who work as haul truck operator. The result of this study shown there is a significant correlation between the quantity of sleep (OR = 3,222, p = 0,028) and fatigue, also between the quality of sleep (OR = 2,800, p = 0.025) and fatigue. However, shift work has no significant correlation with fatigue. Other factors, including mental workload (OR = 2,296, p = 0,027), work environment (OR = 2,400, p = 0,014), monotonous work (OR = 3,371, p = 0,002), age (OR = 2,708, p = 0,005), and sleep hygiene (OR = 3,840, p = 0,001) also have significant correlation with operator fatigue in PT X.
Keywords: Fatigue; Fatigue Assessment Scale (FAS); Shift Work, Sleep; Fitbit; Haul truck operator
Read More
S-9883
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safira Hazzrah Medinah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Mohammad Zayyin
Abstrak:
Kelelahan atau fatigue pada pekerja tambang memiliki dampak yang besar terhadap tingkat absenteisme, penurunan produktivitas, biaya kesehatan, dan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan kelelahan pada pekerja di PT X serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan. Faktor risiko yang diteliti yaitu faktor terkait pekerjaan (beban kerja, masa kerja, waktu istirahat, area kerja, shift kerja, dan stres kerja) dan faktor risiko tidak terkait pekerjaan (usia, kualitas dan kuantitas tidur, kebiasaan merokok, commuting time, pekerjaan sampingan, konsumsi kafein, status pernikahan, status gizi, dan olah raga). Untuk mengukur kelelahan menggunakan kuesioner Occupational Fatigue Exhaustion Recovery Scale (OFER), mengukur stres kerja menggunakan kuesioner Survei Diagnosis Stres (SDS), mengukur kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), mengukur beban kerja mental menggunakan NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ), mengukur karakteristik responden menggunakan The Self-administered Questionnaire, dan untuk mengukur beban kerja fisik menggunakan alat Fingertip Pulse Oximeter. Penelitian ini dilakukan kepada 156 pekerja tambang di PT X dengan menggunakna desain penelitian cross-sectional. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja, waktu istirahat, usia, dan beban kerja mental dengan kelelahan. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengembangan program pencegahan dan pengendalian kelelahan (fatigue management) di tempat kerja dan melihat hubungan faktor terkait pekerjaan yang lebih dominan terhadap kelelahan dibandingkan faktor tidak terkait pekerjaan.

Fatigue in mining workers has a huge impact on absenteeism rates, decreased productivity, medical costs, and accidents. This study aims to describe the level of fatigue in workers at PT. X and analyze the associated risk factors. The risk factors studied included work-related factors (workload, period of work, rest time, mining area, work shifts, and work stres) and non-work related factors (age, sleep quality and sleep quantity, smoking status, commuting time, side work, caffeine consumption, marital status, body mass indeks, and exercise). To measure fatigue, the Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) questionnaire was used, Survey Diagnostic Stress (SDS) was used to measure job stress, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire was used to measure sleep quality, NIOSH Generic Job Stress Questionnaire (GJSQ) was used to measure mental workload, the Self-administered Questionnaire was used to measure respondent characteristics, and Fingertip Pulse Oximeter was used to measure physical workload. This research was conducted on 156 mining workers at PT. X by using a cross-sectional research design. Descriptive and inferential logistic regression was used to analyze the data. The results showed that there was a significant association between period of work, rest time, age, and mental workload. Therefore, it is necessary to develop a fatigue management program in the workplace and refers to see the result that the relationship between work related factors and fatigue is more dominant than non-work related factors.
Read More
S-11713
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bella Azalia; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Anisa Sawu Dwi Astuti
Abstrak:
Kelelahan merupakan masalah yang sering terjadi di tempat kerja, yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan menurunkan produktivitas kerja. Pekerja shift pada industri manufaktur merupakan kelompok yang rentan untuk mengalami kelelahan karena gangguan ritme sirkadian dan pola tidur alami. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kelelahan dan menganalisis faktor risiko kelelahan pada pekerja shift di Departemen Produksi perusahaan manufaktur PT X tahun 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan metode kuantitatif dan pengambilan sampel non-probability sampling. Terdapat 112 data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner OFER, NASA-TLX, PSS-10, dan PSQI yang dianalisis menggunakan uji Chi Square dan uji regresi logistik sederhana. Hasil menunjukkan 32,1% mengalami kelelahan kronis, 19,6% mengalami kelelahan akut, 34,8% memiliki pemulihan kelelahan yang kurang. Faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis adalah masa kerja (p-value=0,002), kualitas tidur (p-value=0,001), dan riwayat penyakit (p-value=0,034). Faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan kelelahan akut adalah masa kerja (p-value=0,002) dan kualitas tidur (p-value=0,001). Faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan pemulihan kelelahan adalah kualitas tidur (p-value=0,006) dan riwayat penyakit (p-value=0,007). Faktor risiko beban kerja, durasi kerja, shift kerja, stres kerja, usia, kuantitas tidur, status gizi, konsumsi kafein, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga, pekerjaan sampingan, dan waktu perjalanan tidak berhubungan signifikan dengan kelelahan kronis ataupun akut.

Fatigue is a common problem in the workplace, which can increase the risk of workplace accidents and reduce work productivity. Shift workers in the manufacturing industry are a group that is vulnerable to fatigue due to circadian rhythm and natural sleep patterns disturbances. This study aims to determine the level of fatigue and analyze the risk factors for fatigue among shift workers in the Production Department of PT X manufacturing company in 2025. This study used a cross-sectional design with quantitative methods and non-probability sampling. A total of 112 data were collected using the OFER, NASA-TLX, PSS-10, and PSQI questionnaire and analyzed using the Chi-square test and simple logistic regression test. The results showed that 32.1% experienced chronic fatigue, 19.6% experienced acute fatigue, and 34.8% had poor fatigue recovery. Risk factors significantly associated with chronic fatigue were length of service (p-value=0,002), sleep quality (p-value=0,001), and history of illness (p-value=0,034). Risk factors significantly associated with acute fatigue were length of service (p-value=0,002) and sleep quality (p-value=0,001). Risk factors significantly associated with fatigue recovery were sleep quality (p-value=0,006) and history of illness (p-value=0,007). Risk factors such as workload, work duration, work shifts, work stress, age, sleep quantity, nutritional status, caffeine consumption, smoking habits, exercise habits, side jobs, and commuting time were not significantly associated with both chronic and acute fatigue.
Read More
S-12191
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puspitasari Ramadania; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: L. Meily KurniawidjadjaRidwan Zahdi Sjaaf, Dicky Tri Jatmiko, Nazly Kurniawan
Abstrak: Petugas shift merupakan bagian dari pekerja kritis di Instalasi RSG-GAS. Sistem kerja shift dan tuntutan kerja yang kompleks di instalasi nuklir menyebabkan petugas shift rentan mengalami kelelahan kerja. Kelelahan kerja memiliki kontribusi terhadap penurunan performa kerja, penurunan konsentrasi, penurunan pemenuhan prosedur maupun penurunan kewaspadaan pekerja. Dampak kelelahan kerja harus mampu teridentifikasi dan dikendalikan terutama di instalasi nuklir yang memiliki potensi bahaya yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kelelahan kerja petugas shift dan melakukan analisis terhadap faktor risiko yang berkontribusi terhadap kelelahan kerja petugas shift di RSG-GAS Tahun 2022. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, alat ukur lingkungan kerja, dan wawancara. Metode analisis menggunakan analisis deskriptif dan inferensial dengan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan seluruh petugas shift mengalami kelelahan dengan tingkat kelelahan ringan sebesar 31,25%, kelelahan sedang sebesar 64,58%, dan kelelahan berat sebesar 4,17%. Faktor risiko kelelahan kerja total adalah status Gizi yang diukur dengan indeks massa tubuh, kualitas tidur, beban kerja, dan desain tugas. Faktor risiko kelelahan umum adalah indeks massa tubuh, kualitas tidur, kuantitas tidur, konsumsi kafein, beban kerja, dan desain tugas. Faktor risiko kelelahan fisik adalah usia, kualitas tidur, kuantitas tidur, masa kerja, posisi kerja, beban kerja, desain tugas, dan tekanan udara negatif. Faktor risiko pelemahan aktivitas adalah kepuasan kerja. Faktor risiko pelemahan motivasi adalah kualitas tidur, kuantitas tidur, desain tugas dan shift malam. Faktor risiko kelelahan mental adalah kualitas tidur, beban kerja, desain tugas, pencahayaan, dan tekanan udara negatif. Rekomendasi pengendalian melibatkan manajemen dan petugas shift dengan mengembangkan program manajemen kelelahan kerja sesuai kondisi di Instalasi Nuklir.
Shift workers are part of critical workers at the RSG GAS Installation. The shift work system and complex work demands in nuclear installations cause shift workers to be prone to work fatigue. Work fatigue has contributed to decreased work performance, decreased concentration, decreased in procedure compliance, and reduced worker alertness. The impact of work fatigue must be able to be identified and controlled, especially in nuclear installations that have a large potential hazard. This study aims to evaluate the level of work fatigue of shift workers and analyze the risk factors that contribute to the work fatigue of shift workers at RSG-GAS in 2022. This research is a quantitative descriptive study with a cross-sectional design. The instruments used in this research are questionnaires, measuring tools for the environment, and interviews. The method of analysis in this research is descriptive and inferential analysis with a correlation test. The results showed that all shift workers experienced fatigue with mild fatigue level of 31,25%, moderate fatigue of 64,58%, and severe fatigue of 4,17%. The risk factors for work fatigue (total score) are nutritional status as measured by body mass index, sleep quality, workload and task design. The risk factors for general fatigue are body mass index, sleep quality, sleep quantity, caffeine consumption, workload, and task design. The risk factors for physical fatigue are age, sleep quality, sleep quantity, years of service, job role, workload, task design, and negative air pressure. The risk factor for reduced activity is job satisfaction. The risk factors for reduced motivation are sleep quality, sleep quantity, task design, and night shift. The risk factors for mental fatigue are sleep quality, workload, task design, lighting, and negative air pressure. Control recommendations involve management and shift worker by developing a work fatigue management program according to the conditions at the Nuclear Installation.
Read More
T-6469
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive