Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38924 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yeny Angdriani; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Hanny Harjulianti, Alexander H. M. Sinaga
Abstrak:
Perawat yang bertugas di rumah sakit merupakan profesi yang banyak terpapar oleh bahaya psikososial di lingkungan kerja, yang dapat menyebabkan distres. Dibutuhkan mekanisme koping perawat untuk dapat menghadapi bahaya psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor psikososial dan strategi mekanisme koping dalam mengatasi distres kerja perawat di rumah sakit. Menggunakan desain studi cross sectional dengan pendekatan deskriptif semikuantitatif. Data primer didapat melalui survei dan wawancara mendalam, yang akan dianalisis menggunakan mixed methods. Sedangkan pengumpulan data sekunder berupa profil Rumah Sakit X, struktur organisasi dan sistem pelayanan, data jumlah perawat berdasarkan unit kerja, jumlah pasien 3 tahun terakhir. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik individu (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawinan, masa kerja, unit kerja), karakteristik pekerjaan (tuntutan kuantitatif, tuntutan emosional, kecepatan kerja, kontrol atas waktu kerja, kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, kualitas kepemimpinan, kejelasan peran, dukungan sosial dari supervisor, dukungan sosial dari rekan kerja, konflik peran, konflik kehidupan dan kerja, keadilan organisasi), serta mekanisme koping (problem focused coping, emotional focused coping, koping maladaptif). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stresor sebagian besar perawat berupa kecepatan kerja tinggi, kejelasan peran rendah, kualitas kepemimpinan rendah, dan dukungan dari atasan yang rendah. Namun demikian sebagian besar perawat menggunakan problem focused coping. Variabel jenis kelamin dan kesempatan mengembangkan keterampilan yang berhubungan signifikan dengan mekanisme koping, sedangkan karakteristik individu dan faktor psikososial lainnya tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Temuan ini mengindikasikan bahwa mekanisme koping perawat tidak hanya dipengaruhi oleh faktor psikososial yang diukur, tetapi oleh proses penilaian terhadap stresor, sumber daya berupa kemampuan adaptasi perawat serta dukungan dari rekan kerja dan keluarga. Secara keseluruhan, perawat di Rumah Sakit X mampu mempertahankan mekanisme koping yang adaptif, namun penguatan dukungan organisasi dan pengelolaan risiko psikososial tetap diperlukan untuk mencegah distres kerja berkepanjangan dan mendukung kesejahteraan perawat.

Nurses working in hospitals are a profession frequently exposed to psychosocial hazards in the workplace, which can cause distress. Nurses require coping mechanisms to cope with these risks. This study aims to identify psychosocial factors and coping strategies for managing nurses’ occupational distress in hospitals. A cross-sectional study design with a semi quantitative descriptive approach was used. Primary data were obtained through surveys and in-depth interviews, which were analyzed using mixed methods. Secondary data collection included Hospital X’s profile, organizational structure and service system, data on the number of nurses by work unit, and the number of patients over the past three years. The variables studied include individual characteristics (age, gender, education level, marital status, length of service, work unit), job characteristics (quantitative demands, emotional demands, work pace, control over work time, opportunities to develop skills, leadership quality, role clarity, social support from supervisors, social support from coworkers, role conflict, work-life conflict, organizational justice), and coping mechanisms (problem focused coping, emotional focused coping, maladaptive coping). Data analysis was carried out using univariate, bivariate, and qualitative data. The results of the study indicate that stressors for most nurses include high work pace, low role clarity, low leadership quality, and low support from superiors. However, most nurses use problem focused coping. Gender and the opportunity to develop skills were significantly related to coping mechanisms, while individual characteristics and other psychosocial factors dis not show a significant relationship. These findings indicate that nurses’ coping mechanisms are not only influenced by the psychosocial factors measured, but also by the process of assessing stressors, as well as resources in the form of nurses’ adaptability and support from colleagues and family. Overall, nurses at Hospital X were able to maintain adaptive coping mechanisms, but strengthening organizational support and managing psychosocial risks is still needed to prevent prolonged work distress and support nurses’ well-being.
Read More
T-7602
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wardani Adi saputra; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Fetrina Lestari
T-7715
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Giovanni Puspita; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Yosephin Sri Sutanti
Abstrak: Kebakaran merupakan peristiwa munculnya api, baik dalam skala kecil maupun besar yang terjadi pada tempat, kondisi, dan waktu yang tidak diinginkan, bersifat merugikan, serta umumnya sulit untuk dikendalikan. Rumah sakit adalah salah satu bangunan/gedung fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki tingkat risiko kebakaran yang tinggi akibat penggunaan peralatan listrik, gas medis, dan kondisi pasien yang rentan. Keberhasilan mitigasi dan penanganan darurat kebakaran di rumah sakit sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kesiapsiagaan perawat sebagai tenaga kesehatan yang memberikan respons pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan perawat dalam menghadapi tanggap darurat kebakaran di Rumah Sakit X tahun 2026, antara lain Pengetahuan, Sikap, Masa kerja, Pelatihan Tanggap Darurat Kebakaran, Ketersediaan Sarana dan Prasarana Kebakaran, Dukungan Manajemen, Pemenuhan SOP, Budaya Keselamatan, dan Kesiapsiagaan Perawat dalam Tanggap Darurat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional serta analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square pada SPSS versi 26. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 93 perawat. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian diperkuat melalui triangulasi data dengan wawancara semi-terstruktur dan observasi lapangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara sikap (p = 0,032; OR = 1,500; 95%CI: 0,674–3,339), pelatihan tanggap darurat kebakaran (p = 0,011; OR = 3,980; 95%CI: 0,660–24,080), dukungan manajemen (p = 0,011; OR = 3,980; 95%CI: 0,660–24,080), pemenuhan SOP (p = 0,022; OR = 2,000; 95%CI: 0,500–7,997), serta ketersediaan sarana dan prasarana kebakaran (p = 0,022; OR = 2,000; 95%CI: 0,500–7,997) dengan kesiapsiagaan perawat. Sementara itu, pengetahuan (p = 1,000; OR = 0,984; 95%CI: 0,952–1,016), masa kerja (p = 0,151; OR = 1,077; 95%CI: 0,931–1,245), dan budaya keselamatan (p = 1,000; OR = 0,987; 95%CI: 0,961–1,013) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kesiapsiagaan perawat. Hasil analisis menunjukkan bahwa perawat yang telah mengikuti pelatihan tanggap darurat kebakaran dan memperoleh dukungan manajemen yang baik memiliki kemungkinan sekitar 3,98 kali lebih besar untuk memiliki kesiapsiagaan yang baik. Selain itu, sikap yang baik meningkatkan kemungkinan kesiapsiagaan sebesar 1,5 kali. Ketersediaan sarana dan prasarana kebakaran serta pemenuhan SOP yang baik masing-masing meningkatkan kemungkinan kesiapsiagaan sebesar 2 kali. Tantangan utama yang masih dihadapi di Rumah Sakit X meliputi tingginya risiko bahaya kelistrikan akibat perilaku tidak aman, seperti penggunaan colokan non-standar, penggunaan peralatan dapur, serta pengisian daya gawai tanpa pengawasan. Selain itu, pembentukan tim tanggap darurat internal perawat belum merata di seluruh unit, dan budaya keselamatan masih cenderung berorientasi pada pemenuhan standar akreditasi rumah sakit. Rumah Sakit X disarankan untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan kebakaran melalui peningkatan budaya keselamatan, melakukan inspeksi dan pemeliharaan sarana proteksi kebakaran secara rutin, meningkatkan kompetensi perawat melalui pelatihan dan simulasi evakuasi berkala, serta penguatan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan kerja sehingga kesiapsiagaan dapat tercapai secara optimal melalui sinergi antara sistem, organisasi, dan sumber daya manusia.
Background Fire is an unintentional event characterized by the outbreak and spread of flames, which may occur on a small or large scale, causing significant damage and often being difficult to control. Hospitals are among the healthcare facilities at the highest risk of fire due to the extensive use of electrical equipment, medical gases, and the presence of vulnerable patients. The effectiveness of fire emergency mitigation and response in hospitals largely depends on the nurses preparedness as the medical first responders. As frontline healthcare professionals, nurses play a critical role in emergency preparedness and response to fire incidents. Aim of the Research This study aimed to analyze the factors influencing nurses preparedness for fire emergency response at Hospital X in 2026, including knowledge, attitudes, length of employment, fire emergency response training, availability of fire protection facilities and infrastructure, management support, compliance with Standard Operating Procedures (SOPs), safety culture, and nurses preparedness for fire emergencies. Method This study employed a quantitative cross-sectional design. Bivariate analysis was conducted using the Chi-square test with IBM SPSS Statistics version 26. Total sampling was applied, involving 93 nurses as respondents. Data were collected using a validated and reliable questionnaire and were further strengthened through data triangulation using semi-structured interviews and field observations. Results and Conclusions The findings revealed significant associations between nurses preparedness and attitude (p = 0.032; OR = 1.500; 95% CI: 0.674–3.339), fire emergency response training (p = 0.011; OR = 3.980; 95% CI: 0.660–24.080), management support (p = 0.011; OR = 3.980; 95% CI: 0.660–24.080), compliance with Standard Operating Procedures (SOPs) (p = 0.022; OR = 2.000; 95% CI: 0.500–7.997), and the availability of fire protection facilities and infrastructure (p = 0.022; OR = 2.000; 95% CI: 0.500–7.997) with nurses preparedness. Meanwhile, knowledge (p = 1.000; OR = 0.984; 95% CI: 0.952–1.016), length of employment (p = 0.151; OR = 1.077; 95% CI: 0.931–1.245), and safety culture (p = 1.000; OR = 0.987; 95% CI: 0.961–1.013) were not significantly associated with nurses preparedness. The analysis indicated that nurses who had participated in fire emergency response training and received adequate management support were approximately 3.98 times more likely to demonstrate good preparedness. In addition, nurses with positive attitudes were 1.5 times more likely to have good preparedness, while those who perceived the availability of fire protection facilities and infrastructure as adequate and those who complied with Standard Operating Procedures (SOPs) were each twice as likely to demonstrate good preparedness. The main challenges identified at Hospital X included a high risk of electrical hazards due to unsafe practices, such as the use of non-standard extension cords, kitchen appliances, and unattended mobile phone charging, the absence of internal nurse emergency response teams across all units, and a safety culture that remained predominantly oriented towards meeting hospital accreditation standards. Suggestions Hospital X is recommended to strengthen its fire preparedness system by enhancing safety culture, conducting regular inspections and maintenance of fire protection facilities, improving nurses competencies through periodic fire emergency training and evacuation drills, and reinforcing compliance with safety procedures to achieve optimal preparedness through the integration of organisational systems, management commitment, and human resources.
Read More
S-12394
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astrina Aulia; Pembimbing: Meily Kurniawidjaja; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Raymos Hutapea, Wahyu Suprapti
Abstrak: Tujuan: Penelitian WHO telah menetapkan burnout sebagai fenomena kelelahan bekerja dan mengklasifikasikannya ke dalam penyakit internasional terbaru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor psikososial dan kejadian Burnout pada perawat unit rawat jalan dan rawat inap di RS A.A. tahun 2019.
Metode: Metode penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional untuk menganalisis hubungan faktor demografi (jenis kelamin, masa kerja, unit kerja dan status pernikahan) dan faktor psikososial (komitmen organisasi, gaya kepemimpinan, kepuasan kerja, dukungan sosial, kontrol kerja, beban kerja dan beban emosional) dengan kejadian burnout. Sampel terdiri dari 93 perawat rawat jalan dan rawat inap yang diambil dengan teknik Proportional Stratified Random Sampling. Penelitian berlangsung dari bulan November hingga Desember 2019.
Hasil: Burnout pada perawat unit rawat jalan dan rawat inap sebesar 50,5%. Terdapat dua variabel yang berhubungan dengan burnout yaitu jenis kelamin (p = 0,04) dan beban kerja dengan (p = 0,005).
Simpulan: Hasil telitian mendapatkan laki-laki berisiko 3,8 kali mengalami burnout dibandingkan rekan kerjanya yang wanita. Diduga sebagai penyebabnya yaitu laki-laki jarang menyalurkan rasa stres mereka dan sulit untuk bersosialisasi atau terbuka ketika membicarakannya. Faktor psikososial hanya beban kerja berhubungan dengan burnout, di mana beban kerja berat sebagai faktor risiko.

Objectives
WHO has designated burnout as a phenomenon of work fatigue and classifies it into the
latest international disease. This study aims to determine psychosocial factors and the
incidence of burnout in outpatient and inpatient nurses at A.A. Hospital in 2019.
Methods
Quantitative research methods with cross sectional study design to analyze the
relationship between demographic factors (gender, years of service, work units and
marital status) and psychosocial factors (organizational commitment, leadership style, job
satisfaction, social support, work control, workload and emotional burden ) with a burnout
event. The sample consisted of 93 outpatient and inpatient nurses taken by the
Proportional Stratified Random Sampling technique. The research took place from
November to December 2019
Results
Burnout in outpatient and inpatient nurses by 50.5%. There are two variables related to
burnout, namely gender (p = 0.04) and workload with (p = 0.005).
Conclusions
The results of a study found that men had a risk of experiencing burnout 3.8 times
compared to their female colleagues. It is suspected that the cause is that men rarely
channel their stress and find it difficult to socialize or be open when talking about it.
Psychosocial factors only workload associated with burnout, where heavy workload is a
risk factor.
Read More
T-5854
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hazura Rindu Tuffahatti; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Baiduri Widanarko, Meilisa Rahmadani
Abstrak:

Kelelahan kerja adalah kondisi yang ditandai dengan perasaan yang menurun dalam kecepatan bekerja, gangguan sistemik saraf pusat akibat aktivitas yang panjang. Kelelahan kerja jika dialami secara terus menerus, maka akan menurunkan kinerja maupun produktivitas kerja. Banyak faktor yang dapat mengakibatkan kelelahan, maka dari itu penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan (faktor risiko individu dan faktor pekerjaan) pada Perawat di Rumah Sakit X tahun 2023. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain tudi cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan data sekunder yang ada di Rumah Sakit X. Sampel dalam penelitian ini dibutuhkan sekitar 60 responden Perawat yang terbagi dalam beberapa unit di Rumah Sakit X. Hasil analisis menunjukkan sebanyak 4 responden (6,7%) mengalami kelelahan ringan, 48 responden (80,0%) mengalami kelelahan sedang, dan 8 responden mengalami kelelahan tinggi (13,3%). Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelelahan kerja di Rumah Sakit X adalah Beban Kerja dengan p-value = 0,018 dan Jabatan Perawat dengan p-value = 0,040.

Kata kunci: Faktor Risiko, Perawat, Kelelahan


Work fatigue is a condition characterized by feelings of decreased work speed, central nervous system disorders due to long periods of activity. If work fatigue is experienced continuouslym it woll reduce work performance and productivity. Many factors can cause fatigue, therefore this study was conducted to analyze the risk factors for fatigue individual risk factors and work, in Nurses at the Hospital X  in 2023. Research was conducted using a quantitative approach with a cross-sectional study design. Data was collected using secondary data at the Hospital X. This research collected 60 respondents divided into several units at Hospital X. The results of the analysis showed that 4 respondents (6.7%) experienced mild fatigue, 48 respondents (80.0%) experienced moderate fatigue, and 8 respondents experienced high fatigue (13.3%). The risk factor that is closely related to the occurrence of work fatigue at the Hospital X is Workload with p-value = 0.018 and Nursing Position with p-value = 0.040.  

Keywords: Risk Factor, Nurse, Fatigue

Read More
S-11803
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gina Relimba; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Robiana Modjo, Ibnu Uzail Yamani
Abstrak:
Rumah sakit merupakan tempat kerja yang berisiko tinggi terhadap terjadinya kecelakaan kerja dibandingkan industri lainnya. Perawat IGD harus selalu siap sedia 24 jam untuk menangani kasus kegawatdaruratan yang dialami oleh berbagai pasien yang datang ke rumah sakit sehingga dengan tanggung jawab tersebut, sangat rentan bagi perawat IGD untuk mengalami kelelahan kerja. Penelitian ini membahas faktor terkait kelelahan kerja pada perawat IGD Rumah Sakit X Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang telah dilakukan pada bulan Juli-Agustus pada seluruh perawat IGD Rumah Sakit X yaitu sebanyak 35 responden. Pengukuran kelelahan kerja perawat menggunakan pengukuran secara subjektif dengan kuesioner Subjective Self Rating Test yang dikembangkan oleh Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat IGD Rumah Sakit X lebih banyak mengalami kelelahan kerja ringan (71,4%) dan faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja yaitu kebisingan (P-Value=0,027). Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian terhadap pajanan bising bagi perawat IGD di Rumah Sakit X dan juga perlu adanya prosedur fatigue management untuk mencegah dan mengendalikan tingkat kelelahan kerja pada perawat IGD Rumah Sakit X.

Hospitals are workplaces that have a higher risk of work accidents compared to other industries. ER nurses must always be ready 24 hours to handle emergency cases experienced by various patients who come to the hospital so that with this responsibility, ER nurses are very vulnerable to experiencing work fatigue. This research discusses factors related to work fatigue in ER nurses at Hospital. Measurement of nurses' work fatigue uses subjective measurements with the Subjective Self Rating Test questionnaire developed by the Japanese Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) which has been translated into Indonesian. The results of the study showed that ER nurses at Hospital X experienced more mild work fatigue (71,4%) and the factor related to work fatigue was noise (P-Value=0,027). Based on this, it is necessary to carry out various efforts to control noise exposure for emergency room nurses.
Read More
S-11801
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oksen Pariangan; Pembimbing: Zulkifli Djunaid; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Erwan Saiful, Purwadi
Abstrak:
Bahaya psikososial berpengaruh terhadap kesehatan kerja melalui persepsi dan pengalaman yang dialami pekerja. Bahaya psikososial tak hanya berkaitan dari individu pekerja, melainkan konteks pekerjaan, sosial dan perusahaan atau organisasinya. Peneliti melihat bagaimana tingkat risiko psikososial yang dihadapi oleh para pekerja di sektor migas dengan menggunakan HSE Management Standard Indicator Tool dari HSE UK yan bertujuan untuk menghasilkan gambaran sesuai dengan tingkatan dan kategori, yaitu demand, control, manager support, peer support, relationship, role, dan change. Penelitian berhasil mendapatkan 63 responden pengisi kuesioner dengan sebelumnya menggunakan pendekatan rumus besar sampel jenuh dari data sekunder dan secara umum, gambaran kondisi psikososial di PT X berada pada level 4.

Psychososial hazards affect occupational health through perceptions and experiences experienced by workers. Psychososial hazards are not only related to individual workers, but also to the work, sosial and corporate context or organization. Researchers see how the level of psychososial risk faced by workers in the oil and gas sector by using the HSE Management Standard Indicator Tool from HSE UK which aims to produce a picture according to levels and categories, namely demand, control, manager support, peer support, relationship, role, and change. The study succeeded in getting 63 respondents to fill out the questionnaire by previously using a saturated sample size formula approach from secondary data and in general, the description of psychososial conditions at PT X was at level 4..
Read More
T-6550
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Faiz; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Ridwan Zahdi Sjaaf, Ridwan Muhamad Rifai, Anis Rohmana
Abstrak: Bahaya faktor psikososial sebagai interaksi antara atau di antara lingkungan kerja, konten pekerjaan, kondisi organisasi dan kapasitas pekerja, kebutuhan, budaya, dan pertimbangan personal pekerja yang dapat mempengaruhi kesehatan, prestasi kerja dan kepuasan kerja melalui persepsi dan pengalaman. Hasil respon karena faktor psikososial yaitu respon stres yang dapat berupa respon stres negatif atau distres. Hasil studi pendahuluan di PT X ditemukan bahwa terdapat berbagai masalah psikososial dan berbagai keluhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan berbagai faktor psikososial dengan distres yang terjadi pada pekerja di PT. X. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang. Penelitian dilakukan pada pekerja di PT X pada bulan September 2021 sampai Desember 2021. Jumlah populasi pada penelitian ini adalah 112 pekerja dan instrumen yang digunakan yaitu kuisioner. Uji statistik yang digunakan yaitu uji korelasi dan regresi linear. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan antara faktor psikososial lingkungan kerja (nilai p = 0,000), fungsi dan budaya organisasi (nilai p = 0,007), konflik peran (nilai p = 0,005), hubungan interpersonal (nilai p = 0,042), dan home-work interface (nilai p = 0,000) dengan variabel dependen yaitu distres. Kemudian, tidak terdapat hubungan antara faktor psikososial budaya kerja (nilai p = 0,103), ketidak jelasan peran (nilai p = 0,621), pengembangan karir (nilai p = 0,362), dan kontrol pekerjaan (nilai p = 303) dengan variabel dependen yaitu distres. Hasil uji regresi linear menunjukkan faktor psikososial yang paling dominan mempengaruhi distress yaitu lingkungan kerja.
The hazard of psychosocial factors as interactions between or among the work environment, job content, organizational conditions and worker capacities, needs, culture, and personal considerations of workers can affect health, job performance, and job satisfaction through perceptions and experiences. The response due to psychosocial factors is the stress response which can be a negative stress response or distress. On preliminary study at PT. X has found various psychosocial problems and various complaints related to distress. This study aims to determine the relationship of various psychosocial factors with distress in workers at PT. X. This research is quantitative research with a cross-sectional design. The research was conducted on workers at PT. X in September 2021 to December 2021. The total population in this study was 112 workers, and the instrument used was a questionnaire. The statistical test used is the correlation test. The results showed that there was a relationship between psychosocial factors in the work environment (p-value = 0.000), organizational function and culture (p-value = 0.007), role conflict (p-value = 0.005), interpersonal relationships (p-value = 0.042), and home-work interface (p-value = 0.000) with distress. Then, there is no relationship between psychosocial factors of work culture (p-value = 0.103), role ambiguity (p-value = 0.621), career development (p-value = 0.362), and job control (p-value = 303) with distress. The results of the multiple linear regression test showed that the most dominant psychosocial factor influencing the difficulty was the work environment
Read More
T-6290
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chayrani Kamelia Marwanto; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Rakhmi Savitri
Abstrak:

Latar Belakang: Sindrom metabolik (SM) merupakan kumpulan faktor risiko yang
meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus tipe 2. Prevalensi SM pada perawat di berbagai negara bervariasi, namun penelitian di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko SM pada perawat di Rumah Sakit X. Metode: Desain penelitian cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data diperoleh dari MCU 268 perawat di RS X pada Oktober-November 2024. Variabel yang diteliti meliputi faktor perilaku (kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik) dan genetik (usia, jenis kelamin, riwayat penyakit keluarga). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Chi Square. Hasil: Sebanyak 7 perawat (2,6%) mengalami SM, obesitas sentral (48,9%) dan tekanan darah tinggi (25,4%) sebagai parameter yang paling dominan. Analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan antara jenis kelamin laki-laki dengan sindrom metabolik (p-value = 0,004; OR = 7,154). Tidak ditemukan hubungan signifikan antara kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, usia, atau riwayat penyakit keluarga dengan sindrom metabolik (p-value > 0,05). Kesimpulan: Jenis kelamin laki-laki merupakan faktor risiko signifikan terhadap kejadian SM pada perawat di RS X. Penelitian lanjutan diperlukan dengan cakupan faktor risiko yang lebih luas dan sampel yang lebih besar untuk memperkuat temuan ini.


Background: Metabolic syndrome (MetS) is a cluster of metabolic abnormalities that increase  the risk of cardiovascular disease and type 2 diabetes mellitus. Although its prevalence  among nurses has been explored globally, limited data exist in Indonesia. Objective: This  study aimed to assess the association between risk factors and the presence of MetS among  nurses at Hospital X. Methods: A cross-sectional study was conducted involving 268 nurses  who underwent medical check-ups from October to November 2024. Variables included  behavioral factors (smoking, alcohol consumption, physical activity) and genetic factors (age,  sex, family history). Data were analyzed descriptively and inferentially using Chi-square  tests. Results: MetS was identified in 7 nurses (2.6%). Central obesity (48.9%) and elevated  blood pressure (25.4%) were the most prevalent components. A significant association was  found between male sex and MetS (p = 0.004; OR = 7.154). No significant associations were  observed for smoking, alcohol use, physical activity, age, or family history (p > 0.05).  Conclusion: Male gender is a significant risk factor for MetS among nurses in this setting.  Future studies with larger samples and broader variables are recommended to strengthen and generalize these findings.

Read More
S-12129
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aldi Dwi Putra; Pembimbing: Bambang Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Yunita Rahayuningsih
Abstrak: Manufaktur merupakan salah satu sector industri yang memiliki risiko gangguan otot rangka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko dari gejala gangguan otot rangka. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2018 dengan melibatkan 51 orang operator pada area mixing rubber dan 40 orang pekerja kantor di PT X yang merupakan perusahaan manufaktur komponen kendaraan bermotor. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan instrument pengambilan data berupa kuesioner QEC dan kombinasi kuesioner psikososial. Variabel independent pada penelitian ini yaitu karakteristik individu pekerja (usia, jenis kelamin, IMT, status merokok dan lama kerja), faktor fisik di tempat kerja (force, postur janggal, gerakan berulang, dan coupling) dan faktor psikososial (tuntutan kerja, kendali terhadap pekerjaan, dukungan social, skill discretion, kepuasan kerja, dan stress kerja). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan gejala pada punggung atas, lama kerja dengan gejala pada pergelangan tangan, faktor risiko fifik yang tinggi dengan gejala pada leher, skill discretion dengan gejala pada pergelangan tangan, stress kerja dengan gejala pada bahu dan punggung bawah. Oleh karena itu perlu diadakan pengendalian lebih lanjut mengenai masalah ergonomic pada PT X.
Kata kunci: gejala gangguan otot rangka, manufaktur, ergonomi,faktor fisik, faktor psikososial

Manufacture is one of the industry that has the risk of musculoskeletal disorders. The aim of this research is to analysize the risk factors from the symptoms of disorders of musculoskeletal. This research conducted on March until April 2018 by involving 51 workers on Mixing area and 40 workers on Office Area of X Corporation which is a manufacturing company who made the component of the motor vehicle. This research used Cross Sectional method by using QEC questionnaire and combination of psychosocial questionnaire as the instrument for data collection. The independent variable of this research are the characteristic of workers (age, gender, body mass index, smokimg status, and working time), physical factors on the work place (force, awkward postures, repetitive motion, and coupling) and psychosocial factors (job demands, control of the job, social support, skill discretion, job satisfaction, and work stress). The result of this research shows there is a significant correlation of body mass index with a symptoms on the top of the back, working time and skill direstion with a symptoms of the wrist, high risk of physical factor with a symptom of the neck, and work stress with a symptom of shoulders and the low part of the back. Therefore it needs to be a further control about ergonomic factor at X Corporation.
Keyword: symptoms of musculoskeletal disorder, manufacturing, ergonomic, physical factor, psychosocial factor.
Read More
S-9681
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive