Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nabilah Alifia Firdauzy; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Endang Laksminingsih, Agus Triwinarto
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara karakteristik anak dan keluarga dengan minimum dietary diversity pada balita usia 24-59 bulan di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten tahun 2020. Penelitian cross-sectional ini menggunakan data sekunder. Sampel penelitian ini adalah 210 balita usia 24-59 bulan di Desa Karangkamulyan. Analisis data univariat dan bivariat berupa uji Chi Square dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil analisis statistic menunjukkan bahwa sebagian besar balita usia 24-59 bulan di Desa Karangkamulyan memiliki minimum dietary diversity yang kurang (78,6%).
Read More
S-10631
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Netti Yaneli; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Endang Laksminingsih, Kusnadi, Sugiyarto
Abstrak: Masa awal anak-anak ditandai dengan pertumbuhan yang cepat (growth spurt). Mencukupi kebutuhan energi yang adekuat merupakan hal yang sangat penting bagi anak. Akibat defisiensi energi pada balita bisa menyebabkan berbagai macam masalah gizi seperti stunting, wasting, maupun underweight. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan asupan energi balita usia 24 bulan di Tangerang tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Total sampel sebanyak 100 anak. Analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan Minimum Dietary Diversity (MDD), Minimum Acceptable Diet (MAD), dan jumlah konsumsi susu memiliki hubungan yang signifikan terhadap asupan energi. Analisi multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan asupan energi adalah Minimum Dietary Diversity (MDD) (OR:6,8), setelah dikontrol oleh Minimum Meal Frequency (MMF), jumlah konsumsi susu, tingkat pendidikan ibu, dan pengetahuan gizi ibu. Anak yang MDD nya tidak tercapai berpeluang 6,8 kali memiliki asupan energi yang kurang. Faktor dominan lainnya yang berhubungan dengan asupan energi pada balita adalah Minimum Acceptable Diet (MAD) (OR:10,6), setelah dikontrol oleh pendidikan ibu, dan pekerjaan ibu. Anak yang MAD nya tidak tercapai berpeluang 10,6 kali memiliki asupan energi yang kurang
Read More
T-6058
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Citra Sari Nasrianti; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Siti Arifah Pujonarti, Anies Irawati, Dewi Astuti
Abstrak: Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017, menyebutkan sebesar 39,8% anak usia 6-11 bulan, 20,4% anak usia 12-17 bulan dan 11,6% anak usia 18-23 bulan tidak memenuhi capaian Minimum Dietary Diveristy. Selain itu hampir separuh anak usia 6-23 bulan (47%) tidak memenuhi capaian Minimum Meal Frequency dan prevalensi capaian Minimum Acceptable Diet pada anak usia 6-23 bulan hanya 44,9%%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan terhadap praktik pemberian makan bayi dan anak di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian crosssectional dengan menggunakan data sekunder Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Responden penelitian ini sebanyak 5.367 WUS yang mempunyai anak usia 6-23 bulan di Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara lain usia anak (p = 0,0001; OR = 3,122; 95% CI = 2,769-3,521), urutan kelahiran (p = 0,0001; OR = 0,416 95% CI = 0,329-0,525), tempat melahirkan (p = 0,0001; OR = 2,121; 95% CI = 1,861-2,419), kunjungan selama kehamilan (p = 0,0001; OR =2,739 ; 95% CI = 1,991-3,766), pemeriksaan setelah kelahiran (p = 0,001; OR = 1,108 ; 95% CI = 0,888-1,168), pendidikan ibu (p = 0,0001; OR = 1,950; 95% CI = 1,715-2,217), pekerjaan ibu (p = 0,0001; OR = 1,300; 95% CI = 1,167-1,447), literasi ibu (p = 0,0001; OR = 4,042; 95% CI = 2,845-5,742), status pernikahan (p = 0,0001; OR = 1,830; 95% CI = 1,399-2,395), pendidikan ayah (p = 0,0001; OR = 1,998; 95% CI = 1,570-1,998), frekuensi membaca koran (p = 0,0001; OR = 1,659; 95% CI = 1,487-1,850), mendengarkan radio (p = 0,0001; OR = 1,365; 95% CI = 1,223-1,523), menonton televisi (p = 0,0001; OR = 3,099; 95% CI = 2,381-4,035), dan menggunakan internet (p = 0,0001; OR = 2,555; 95% CI =2,255-2,895), dan wilayah tempat tinggal (p = 0,0001; OR = 1,884; 95% CI = 1,691-2,100) dengan praktik pemberian makan bayi dan anak yang tidak sesuai. Faktor yang paling dominan terhadap ketidaksesuaian praktik pemberian makan bayi dan anak adalah usia anak. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan dilakukan sosialisasi dan edukasi terkait gizi dan kesehatan khususnya praktik pemberian makan bayi dan anak pada kunjungan antenatal, dengan memaksimalkan penyampaian informasi melalui berbagai media (cetak, elektronik maupun langsung) mengingat akses penggunaan media informasi yang semakin membaik.
Read More
T-6121
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aniza Rizky Aprilya Sirait; Pembimbing: Endang L. Achadi;Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Tiara Luthfie
Abstrak: Praktik MP-ASI yang buruk dapat menyebabkan kekurangan gizi pada anak-anak.Minimum dietary diversity (MDD) merupakan salah satu penentu status gizi anak dantelah ditemukan dapat memprediksi terjadinya stunting. Penelitian ini membahasmengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan capaian MDD pada anak yang diberiASI usia 6-23 bulan berdasarkan data SDKI tahun 2017. Penelitian ini menggunakan ujiChi-square dan uji regresi logistik ganda untuk menganalisis 2.976 sampel WUS.Terdapat 52,8% anak yang diberi ASI usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2017 telahmengonsumsi setidaknya lima dari delapan kelompok makanan. Namun, masih terdapat47,2% anak yang belum memenuhi capaian MDD tersebut. Usia anak, pendidikan ibu,status bekerja ibu, akses terhadap media, kekayaan rumah tangga, dan pendidikan ayah,peran ayah, kunjungan ANC, penolong persalinan, tempat persalinan, dan wilayah tempattinggal ditemukan memiliki hubungan yang bermakna dengan capaian MDD anak.Namun, hanya usia anak, tingkat pendidikan ibu, status bekerja ibu, kekayaan rumahtangga, peran ayah, penolong persalinan, dan wilayah tempat tinggal yang lolos kepemodelan multivariat akhir yang mempengaruhi capaian MDD. Faktor dominan yangmempengaruhi capaian MDD anak adalah usia anak 6-11 bulan. Anak yang berusia 18-23 bulan berpeluang mengonsumsi lima atau lebih kelompok makanan sebesar 5,8 kalilebih tinggi dibandingkan dengan anak yang berusia di bawah 6-11 bulan. Masih terdapatseparuh anak Indonesia belum memenuhi capaian MDD. Perlu adanya intervensi di masamendatang yang menargetkan ibu yang memiliki bayi dan anak kecil melalui programpeningkatan kesadaran untuk mendorong pertumbuhan anak-anak dengan memberikandiet yang lebih beragam sejak awal diperkenalkan makanan.
Kata kunci:Anak usia 6-23 bulan; minimum dietary diversity; MP-ASI; SDKI 2017.
Read More
S-10502
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Aulia Aminudin; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Dwi Susanti
Abstrak:
Pemberian makanan pada bayi dan anak merupakan kunci utama dalam mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak yang sehat. Keragaman Makanan Pendamping ASI (MPASI) menjadi salah satu indikator dalam menilai kecukupan gizi bayi 6-23 bulan. Praktik pemberian MPASI beragam ini melibatkan peran besar orang tua/pengasuh. Namun, jika pengetahuan tidak memadai, kurangnya waktu, dan terbatasnya peran orang tua maka pemberian MPASI beragam tidak akan optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dengan praktik pemberian MPASI beragam pada bayi usia 6-23 bulan di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 105 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan persentase bayi 6-23 bulan di Desa Cibokor yang mendapatkan MPASI beragam yaitu 68,6%. Uji regresi logistik ganda menunjukkan pengetahuan ibu dengan praktik pemberian MPASI beragam pada bayi 6-23 bulan berhubungan signifikan secara statistik setelah dikontrol variabel kunjungan ANC (AOR=5,688; 95% CI: 2,135-15,155). Temuan ini menunjukkan bahwa pelayanan ANC berfungsi secara efektif sehingga Puskesmas dapat lebih meningkatkan edukasi tentang Praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), khususnya mengenai keragaman MPASI, melalui peningkatan pemanfaatan layanan perawatan nifas (PNC).


Infant and young child feeding is the main key in promoting healthy growth and development of children. The diversity of complementary foods is one of the indicators in assessing nutritional adequacy of infants aged 6-23 months. Providing diverse complementary foods relies heavily on the active involvement of parents or caregivers. However, inadequate knowledge, time constraints, and limited parental involvement can hinder the optimal provision of diverse complementary foods. This study aimed to examine the relationship between maternal knowledge and the provision of diverse complementary foods for infants aged 6-23 months in Cibokor Village, Cibeber District, Cianjur Regency. The study employed a cross-sectional design with a sample of 105 respondents. The study found that 68,6% of infants aged 6-23 months in Cibokor Village received diverse complementary foods. Logistic regression analysis revelead a statistically significant relationship between maternal knowledge and the provision of diverse complementary foods for infants aged 6-23 months, after controlling for ANC visit variable (AOR=5.688; 95% CI: 2.135-15.155). These findings suggest that the ANC services are functioning effectively. Public Health Center could further enhance maternal education on Infant and Young Child Feeding (IYCF), particularly regarding the diversity of complementary foods, through increased utilization of postnatal care (PNC) services.
Read More
S-12131
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jeanette Silvia Mataheru; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Sandra Fikawati, Triyanti, Khartini Kaluku, Horib
Abstrak:
Stunting pada anak usia 6–23 bulan merupakan masalah gizi kronis yang dapat berkaitan dengan praktik pemberian makan serta berbagai faktor anak, kesehatan, lingkungan, dan keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan Minimum Dietary Diversity (MDD), Minimum Meal Frequency (MMF), Minimum Acceptable Diet (MAD), dan faktor lainnya dengan kejadian stunting pada anak usia 6–23 bulan di Provinsi Maluku. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Sampel penelitian terdiri atas 840 anak usia 6–23 bulan yang diperoleh melalui total sampling berdasarkan kriteria inklusi, eksklusi, dan kelengkapan data. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting sebesar 17,7%, sedangkan anak yang memenuhi MDD, MMF, dan MAD masing-masing sebesar 23,1%, 43,8%, dan 13,5%. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara MMF (p = 0,032; OR = 1,517; 95% CI: 1,051–2,191), jenis kelamin (p = 0,016; OR = 1,582; 95% CI: 1,101–2,273), dan usia anak (p < 0,001; OR = 2,344; 95% CI: 1,510–3,638) dengan kejadian stunting. MDD (p = 0,845) dan MAD (p = 0,229) tidak menunjukkan hubungan dengan kejadian stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa anak yang tidak memenuhi MMF (aOR = 1,648; 95% CI: 1,130–2,404), berjenis kelamin laki-laki (aOR = 1,621; 95% CI: 1,118–2,348), berusia 12–23 bulan (aOR = 3,103; 95% CI: 1,858–5,180), dan tinggal dalam rumah tangga dengan dua balita atau lebih (aOR = 1,793; 95% CI: 1,017–3,164) memiliki peluang lebih besar mengalami stunting. Pemberian vitamin A dipertahankan dalam model sebagai variabel perancu. Faktor paling dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah usia anak. Penguatan edukasi dan pendampingan praktik pemberian makan perlu diprioritaskan pada periode usia 12–23 bulan, terutama dalam pemenuhan frekuensi makan sesuai usia, disertai pemantauan pertumbuhan pada anak laki-laki dan anak yang tinggal dalam rumah tangga dengan dua balita atau lebih.

Stunting among children aged 6–23 months is a chronic nutritional problem that may be associated with feeding practices and various child, health, environmental, and household factors. This study aimed to analyze the associations of Minimum Dietary Diversity (MDD), Minimum Meal Frequency (MMF), Minimum Acceptable Diet (MAD), and other factors with stunting among children aged 6–23 months in Maluku Province. This study used a cross-sectional design and secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey. The study included 840 children aged 6–23 months selected through total sampling after applying the inclusion and exclusion criteria and assessing data completeness. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression. The prevalence of stunting was 17.7%, while the proportions of children who met MDD, MMF, and MAD were 23.1%, 43.8%, and 13.5%, respectively. The bivariate analysis showed associations between MMF (p = 0.032; OR = 1.517; 95% CI: 1.051–2.191), sex (p = 0.016; OR = 1.582; 95% CI: 1.101–2.273), and child age (p < 0.001; OR = 2.344; 95% CI: 1.510–3.638) and stunting. MDD (p = 0.845) and MAD (p = 0.229) were not associated with stunting. The multivariate analysis showed that children who did not meet MMF (aOR = 1.648; 95% CI: 1.130–2.404), were male (aOR = 1.621; 95% CI: 1.118–2.348), were aged 12–23 months (aOR = 3.103; 95% CI: 1.858–5.180), and lived in households with two or more children under five (aOR = 1.793; 95% CI: 1.017–3.164) had higher odds of stunting. Vitamin A supplementation was retained in the final model as a confounding variable. Child age was the factor most strongly associated with stunting. Nutrition education and feeding assistance should be strengthened during the 12–23-month period, particularly regarding age-appropriate meal frequency, accompanied by growth monitoring for male children and children living in households with two or more children under five.
Read More
T-7594
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elfys Ferdynan; Pembimbing: Besral; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Milla Herdayati, Eva Sulistiowati, Budi Setyawati
Abstrak:
Minimum Dietary Diversity (MDD) merupakan indikator penting kualitas pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang mencerminkan kucukupan keragaman konsumsi pangan anak usia 6–23 bulan. Capaian MDD di Indonesia masih rendah, sementara determinannya belum banyak dianalisis dengan mempertimbangkan pengaruh faktor individu dan konteks wilayah secara simultan. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang melibatkan 70.561 anak usia 6–23 bulan dari 412 kabupaten/kota. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik multilevel dua tingkat untuk mengidentifikasi determinan MDD pada tingkat individu dan kabupaten/kota. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 48,3% anak memenuhi MDD. Faktor tingkat individu yang berhubungan dengan pemenuhan MDD meliputi usia anak, usia ibu, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, status sosial ekonomi rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga, dan pemanfaatan layanan kesehatan anak. Sekitar 13,0% variasi pemenuhan MDD dijelaskan oleh perbedaan antar kabupaten/kota. Pada tingkat wilayah, indikator ketahanan pangan yang mencerminkan dimensi ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan berhubungan signifikan dengan pemenuhan MDD. Temuan ini menegaskan bahwa pemenuhan MDD pada anak usia 6–23 bulan di Indonesia dipengaruhi oleh faktor individu serta faktor kontekstual wilayah. Peningkatan capaian MDD memerlukan penguatan intervensi gizi spesifik dan sensitif melalui pendekatan multisektor yang mempertimbangkan karakteristik wilayah.

Minimum Dietary Diversity (MDD) is a key indicator of the quality of complementary feeding practices that reflects the adequacy of dietary diversity among children aged 6–23 months. The achievement of MDD in Indonesia remains low, while its determinants have rarely been examined by simultaneously considering individual- and area-level contextual factors. This study employed a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (Survei Status Gizi Indonesia/SSGI), involving 70,561 children aged 6–23 months from 412 districts/municipalities. Data were analyzed using a two-level multilevel logistic regression model to identify the determinants of MDD at the individual and district/municipality levels. The results showed that 48.3% of children met the MDD criteria. At the individual level, MDD was significantly associated with the child's age, maternal age, maternal education, maternal employment status, household socioeconomic status, household size, and utilization of child health services. Approximately 13.0% of the variation in MDD was attributable to differences between districts/municipalities. At the area level, food security indicators representing the dimensions of food availability, food accessibility, and food utilization were significantly associated with MDD. These findings indicate that MDD among Indonesian children aged 6–23 months is influenced by both individual characteristics and area-level contextual factors. Improving MDD requires strengthening nutrition-specific and nutrition-sensitive interventions through a multisectoral approach that takes regional characteristics into account.
Read More
T-7576
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive