Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Eva Erlita; Pembimbing: Pujiyanto; Pembimbing: Ede Surya Darmawan, Dumilah Ayuningtyas, Siti Husmiati
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kebijakan rekrutmen Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI). Kebijakan rekrutmen TKHI dapat dipandang sebagai suatu sistem, dengan input berupa permintaan, sumber daya dan dukungan, proses mencakup tiga dimensi kebijakan publik yang meliputi dimensi politik, dimensi hukum dan dimensi manajemen, untuk menghasilkan kebijakan rekrutmen TKHI sebagai output. Dari penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa kebijakan yang ada sekarang cukup memadai untuk mencapai tujuannya, namun masih memerlukan perbaikan dalam aspek manajemen yang meliputi perencanaan, penilaian kinerja dan pemberian kompensasi serta diperlukan suatu prosedur operasional standar sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan. Kata kunci : Analisis kebijakan, rekrutmen, TKHI, professional


 This thesis is focused on the analysis of Indonesian Hajj Health Team (TKHI) Recruitment Policy. TKHI recruitment policy can be seen as a system consisting of demand, resources and support as the input, three dimensions of public policy as the process which aimed at the policy for recruiting TKHI itself as the output. In this research, the writer found that the policy is effective in gaining its objective. However, there are still several aspects needs to be strengthened i.e. planning, performance appraisal and compensation as part of management functions and the need for a standard operating procedure as guidelines for implementation to be fulfilled. Key words : Policy analysis, recruitment, TKHI, professional

Read More
T-3360
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Christina Prahastuti; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Corina D.S. Riantoputra, Soehatman Ramli, Widura Imam Mustopo
Abstrak: Latar Belakang: Pandemi Covid-19 telah memberikan dimensi baru sekaligus ancaman pada dunia kerja yang tidak terbatas pada pandemi Covid-19 saja. Dalam dunia Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dikenal adanya kecelakaan, penyakit akibat kerja dan gangguan keselamatan dan kesehatan kerja lainnya. Tidak semua Perusahaan memiliki staf profesional K3 atau Departemen K3 sehingga bidang ini menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawab Departemen SDM. Untuk menunjang keberhasilan para profesional SDM dalam menjalankan tugas terkait K3 salah satunya adalah dengan penguasaan kompetensi K3
Tujuan: Menganalisis kompetensi K3 apa saja yang harus dimiliki oleh professional SDM dalam menjalankan peran K3 pada perusahaan yang belum memiliki tenaga khusus bidang K3 dan tingkat kemahiran masing-masing kompetensi dengan pendekatan Taksonomi Bloom.
Metode: Penelitian menggunakan desain studi kualitatif, dilakukan pada manejer SDM yang bekerja pada perusahaan yang belum memiliki staf atau departemen K3 sebanyak 12 orang dan professional atau ahli K3 sebanyak 4 orang.
Hasil: Kompetensi K3 yang harus dimiliki oleh professional SDM adalah komunikasi, kinerja individu, penerapan dan pemahaman budaya perusahaan terkait K3, manajemen pemangku kepentingan dan bekerja dalam tim.
Kesimpulan: Penting bagi Perusahaan yang belum memiliki staf atau departemen K3 untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kompetensi K3 pada profesional SDM di organisasinya agar mampu menjaga keselamatan dan kesehatan karyawan.
Read More
T-6285
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohammad Zakir Chohan; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Helen Andriani, Vetty Yulianty Permanasari, Temmasonge Radi Paki, Titi Anggraeni
Abstrak: Perawat mempunyai fungsi kolaborasi dalam pemberian asuhan keperawatan dan kemampuan dalam penerapan 6 tepat pemberian obat meliputi : tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat dokumentasi.Tujuan penelitian mengetahui perilaku profesional perawat dalam penerapan 6 tepat benar obat dan hubungan dengan karakteristik, pengetahuan, sikap,pemahaman etis&hukum serta humanisme dan kultur kompetensi yang mempengaruhi kinerja selama masa pandemic Covid-19. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif metode cross sectional dengan total sampel 50 perawat di ruang Intensive Care RSPI Prof Dr Sulianti Saroso. Analisis bivariat dengan Contiunity Corretion dan multivariat dengan regresi logistic berganda. Hasil penelitian menunjukan hubungan yang signifikan antar humanisme dan kultur kompetensi dengan perilaku profesional dalam penerapan 6 tepat pemberian obat (p Value 0,000) sejumlah 74.2%, dan pemahaman etis dan hukum dengan perilaku profesional perawat dalam penerapan 6 tepat pemberian obat (p value 0,043) sejumlah 63,39%. Hasil multivariat variabel humanisme dan kultur kompetensi menjadi faktor dominan perilaku profesional perawat dalam 6 tepat pemberian obat. Perilaku profesional perawat dalam penerapan 6 tepat pemberian obat mendukung peningkatan pelayanan terhadap keselamatan pasien dalam pemberian obat yang aman. Perilaku professional perawat menjadi penilaian sangat mendasar dalam proses kredensi untuk seleksi karyawan.Upaya penerapan.prinsip ini dapat dilakukan dengan pendidikan keperawatan berkelanjutan dan meningkatkan supervisi.
Nurses have a collaborative function in providing nursing care and the ability to implement appropriate 6 drugs, including: the right patient, the right drug, the right dose, the right time, the right way, and the right documentation. the relationship with the characteristics, knowledge, attitudes, ethical & legal understanding as well as humanism and the culture of competence that affect performance during the Covid-19 pandemic. This study used a quantitative approach with cross sectional method with a total sample of 50 nurses in the Intensive Care Room at RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso. Bivariate analysis with Contiunity Corretion and multivariate analysis with multiple logistic regression. The results showed a significant relationship between humanism and a culture of competence with professional behavior in the correct application of medication (p value 0.000) amounting to 74.2%, and ethical and legal understanding with professional behavior of nurses in the correct application of 6 drugs (p value 0.043). 63.39%. The multivariate results of humanism and competency culture variables are the dominant factors in the professional behavior of nurses in administering drugs. The professional behavior of nurses in the proper application of drug administration supports the improvement of services for patient safety in safe drug administration. The professional behavior of nurses is a very basic assessment in the credential process for employee selection. Efforts to implement this principle can be done by continuing nursing education and increasing supervision.
Read More
B-2221
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Rusdhy Hariawan Hamid; Ppembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Purnawan Junadi, Chairulsjah Sjahruddin, Mohamad Baharuddin
Abstrak: Salah satu metode untuk mencegah penularan HIV/AIDS adalah ProgramPencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) dengan skrining universal untukkehamilan. Telah dikeluarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan NomorGK/MENKES/001/I/2013 sebagai dasar bagi Direktur RSUD Prov. NTB untukmengeluarkan surat edaran Nomor: 824/15/RSUDP/2017 Tentang Layanan PPIA.Penelitian ini bertujuan menganalisis penerimaan profesional pemberi asuhanterhadap kebijakan pemeriksaan serologis HIV ibu hamil di RSUD Prov. NTB,yang dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif-eksploratif. Pengambilan datadilakukan melalui wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi lapanganserta triangulasi sebagai upaya untuk menjaga validitas data. Analisis dipertajamdengan kerangka Five Stages of Grief dan Second Victim. Para pemberi asuhansecara umum mendukung kebijakan surat edaran, meskipun ada pula yang beradadalam posisi netral. Kegiatan PPIA sudah berlangsung dan proses pelaksanaannyaamat ditentukan oleh pelayanan pada poli (VCT). Posisi para pemberi asuhanberada dalam situasi atau fase yang berbeda-beda, mulai dari fase depresi sampaikesiapan berdamai dalam penerimaan penugasan pelayanan PPIA. Perlupenanganan khusus berupa konsultasi psikologis pada profesional pemberi asuhanyang cenderung berada dalam fase depresi. Optimalisaasi pengelolaan sumber dayamanusia melalui pelatihan khusus merupakan rekomendasi yang dapatditindaklanjutiKata kunci:HIV/AIDS, PPIA, profesional pemberi asuhan
Prevention from Mother to Child Transmission (PMTCT) is one of the program toreduce the transmission of HIV/AIDS, including universal screening for pregnantwomen. Based on circular letter from The Minister of Health No.GK/MENKES/001/I/2013 , the director of West Nusa Tenggara Province Hospitalhas signed a circular that regulates the PMTCT in the Hospital (surat edaranNomor: 824/15/RSUDP/2017 Tentang Layanan PPIA). The aim of this study is toanalyze the acceptance of professional health worker to the Regulation of universalscreening of HIV on expectant mother in the hospital, using a descriptiveexplorative analysis with in depth interview, document survey and observation,including triangulation in order to have a valid data. Five stages of grief and secondvictim theory was used to make a precise analysis. The professional health workersupports the regulation of PMTCT in the hospital generally, few of them stands inneutral position. PMTCT program is running on condition the dependency on VCTclinic support in counseling. The health workers are in the different depressionstage of grief, including bargaining and depression stage in order to accept theobligation on PMTCT. Particular recommendation of psychology consultation fordepression stage. Need more effort to optimalyze the management of humanresources with special training as a strong recommendation.Keywords: HIV/AIDS, PMTCT, professional health worker.
Read More
B-1963
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lily Damayanti; Pembimbing: Surya Ede Darmawan; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Adik Wibowo, Chairulsjah Sjahrudin, Dwiyani
Abstrak:
Lembar persetujuan tindakan medis (informed consent) adalah lembar tertulis yang menjelaskan tindakan medis yang akan dilakukan kepada pasien. Terdapat kolom dari informed consent yang ditulis oleh dokter sebelum melakukan tindakan bedah setelah didapatkan persetujuan dari pasien. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit TNI AK MArinir Cilandak yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan TNI AL dibawah komando Korps Marinir yang siap memberikan pelayanan kesehatan terutama bagi anggota Marinir yang memiliki kerentanan mengalami resiko dalam berlatih dan bertugas. Kelengkapan informed consent merupakan adalah bukti tersampaikannya informasi oleh dokter kepada pasien mengenai kondisi penyakit dan tindakan yang akan dilakukan untuk menghindari adanya kesalah pahaman antara pasien dan dokter. Kesinambungan untuk mendapatkan kepercayaan dari pasien yang didapat dari interaksi yaitu dalam bentuk perilaku profesional. Perilaku profesional ditinjau dari empat aspek yaitu komunikasi, humanism, hukum etik, dan pengetahuan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aspek perilaku profesional dalam kelengkapan informed consent pada tindakan bedah di Rumah Sakit TNI AL Marinir Cilandak (informed consent). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian ini dilakukan melalui telaah dokumen dan wawancara mendalam Informan berjumlah 4 orang dokter spesialis bedah di Rumah Sakit TNI AL Marinir Cilandak. Hasil dari telaah dokumen informed consent sebanyak 89 ditemukan bahwa kelengkapan berjumlah 40%. Rumah Sakit TNI AL Marinir Cilandak telah memiliki aturan mengenai pengisian informed consent. Masih diperlukan tindak lanjut untuk dapat meningkatkan kelengkapan kolom informed consent yaitu monitoring dan evaluasi mengenai kelengkapan informed consent. Kata kunci : Informed consent, Perilaku profesional, tindakan bedah

An informed consent form is a written sheet that describes the medical action to be taken to the patient. There is a column of informed consent written by the doctor before performing the surgery after obtaining consent from the patient. This research was conducted at the TNI AK Marine Hospital Cilandak, which is one of the Navy referral hospitals under the command of the Marine Corps which is ready to provide health services, especially for Marines who are vulnerable to risk in training and duty. Completeness of informed consent is evidence that the doctor conveys information to the patient regarding the condition of the disease and the actions to be taken to avoid misunderstandings between the patient and the doctor. Continuity to gain the trust of patients obtained from the interaction is in the form of professional behavior. Professional behavior is viewed from four aspects, namely communication, humanism, ethical law, and knowledge. The purpose of this study was to determine aspects of professional behavior in the completeness of informed consent for surgery at the TNI AL Marine Hospital Cilandak (informed consent). The research uses a qualitative approach with a case study method. This research was conducted through document review and in-depth interviews. Informants totaled 4 surgeons at the TNI AL Marine Hospital in Cilandak. The results of a review of 89 informed consent documents found that the completeness was 40%. The TNI AL Marine Hospital Cilandak already has rules regarding filling out informed consent. Follow-up is still needed to improve the completeness of the informed consent column, namely monitoring and evaluation of the completeness of informed consent .  Keywords : Informed consent, Professional behavior, surgical procedure
Read More
B-2257
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faonasa Natalius Waruwu; Pembimbing: Besral, Dian Ayubi/ Penguji: Fitra Yelda, Nancy Febriana, Jusuf Kristianto
Abstrak: Kepuasan kerja adalah kombinasi keadaan psikologis, fisiologis dan lingkungan yang menyebabkan orang jujur dan mengatakan saya puas dengan pekerjaan saya. Metode yang digunakan dalam peneltian ini adalah deskriftif kuantitatif dengan pendekatan cross- sectional, dengan bertujuan untuk mengetahui hubungan penerapan model praktek keperawatan profesional dengan kepuasan kerja perawat di ruang rawat inap RS MMC Jakarta tahun 2015. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 113 perawat. Metode pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Hasil dalam penelitian ini menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara pendekatan manajemen (p=0,024), sistem pemberian asuhan keperawatan (p=0,027) dengan kepuasan kerja perawat setelah di kontrol oleh karakteristik perawat. Kata kunci : karakteristik perawat, model praktek keperawatan profesional, kepuasan kerja perawat Job satisfaction is a combination of psychological state, physiological and environmental causes people to be honest and say I am satisfied with my work. The method used in this research is quantitative descriptive cross-sectional approach, with the aim to determine the association between implementation of professional nursing practice model (PNPM) with nurses job satisfaction in the inpatient hospital room MMC Jakarta Hospital in 2015. The sample in this research were 113 nurses. Methods of data collection using the questionnaire. The results in this study showed a significant relationship between management approach (p = 0,024), a system of nursing care (p = 0,026) with the job satisfaction of nurses after the control by nurse characteristics. Keywords : characteristics of nurses, professional nursing practice model, nurse job satisfaction
Read More
T-4411
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gelaria Ongalela; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Sandi Iljanto, Stefanus Eke Ola
Abstrak:

Retensi perawat merupakan kemampuan organisasi dalam mempertahankan perawat selama mungkin bekerja dalam organisasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui retensi perawat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Bekasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilakukan pada bulan Maret 2011 dengan melibatkan 60 perawat. Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan tingkat retensi perawat sebesar 45% dan faktorfaktor yang mempengaruhi retensi perawat adalah beban kerja, lingkungan kerja, keamanan kerja, praktek professional dan organisasi tempat kerja. Faktor dominan dari beban kerja yang menyebabkan perawat tidak retensi yaitu jumlah staf keperawatan yang belum cukup dan jumlah waktu kerja yang berlebih. Faktor dominan dari lingkungan kerja yaitu ketersediaan peralatan dan teknologi, resiko cendera dan penyakit tinggi serta keadaan lingkungan kerja yang menimbulkan stress. Faktor dominan dari keamanan kerja yaitu kompensasi dan keuntungan yang didapat belum memadai. Faktor dominan dari organisasi tempat kerja yaitu manajemen belum mengerti kebutuhan perawat. Kepustakaan 33 (1986 - 2010), Tabel 21, Grafik 5, Lampiran 4 Kata Kunci : Retensi, Beban Kerja, Lingkungan Kerja, Keamanan Kerja, Praktek Professional, Organisasi Tempat Kerja


 

Nurse retention is an organization’s ability to retain nurses as long as possible to work within the organization. This study aims to determine the retention of nurses at RS Santa Elisabeth Bekasi. This study is a quantitative research with cross sectional approach, conducted in March 2011 involving 60 nurses. Data collected were analyzed by univariate and bivariate. The results showed the nurse retention rate by 45% and the factors that affect the retention of nurses are workload, working environment, employment security, professional practice and wokplace organization. Dominant factor of the workload that causes retention of nurses is not the amount of nursing staff who have not been sufficient and excessive amount of work time. Dominant factor of the work environment is the availability of equipment and technology, risk as well as souvenir high disease, situation stressfull work environment. Dominant factor of the compensation and job security benefits have not been adequate. Dominant factor of the organizational work that management has not understood the needs of nurses. Bibliography 33 (1986 - 2010), Table 21, Chart 5, Annex 4 Keywords: Retention, Workload, Working Environment, Employment security, Professional Practice, Workplace organization.

Read More
B-1347
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cahaya Eka Pratiwi; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Kurnia Sari, Mieska Despitasari
Abstrak:
Kompetensi profesional pemberi asuhan (PPA) merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas pelayanan dan asuhan pasien di rumah sakit. Meskipun keduanya diduga berhubungan, bukti empiris berbasis data instrumen akreditasi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara capaian kompetensi PPA dengan kemampuan pelayanan dan asuhan pasien (PAP) berdasarkan data instrumen akreditasi STARKES 2024 milik Komisi Akreditasi Rumah Saki (KARS) tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain analitik potong lintang (cross-sectional) dengan total sampling terhadap rumah sakit yang menjalani akreditasi KARS tahun 2025 menggunakan instrumen STARKES 2024. Dari 25 rumah sakit yang memenuhi kriteria inklusi, 22 memiliki data lengkap untuk dianalisis. Variabel independen meliputi kesesuaian kompetensi, pendidikan dan pelatihan, serta kemampuan edukasi, sedangkan variabel dependen meliputi PAP yang seragam dan terintegrasi. Karena seluruh variabel tidak berdistribusi normal berdasarkan uji Shapiro-Wilk, analisis bivariat dilakukan menggunakan Korelasi Spearman dan uji multivariat dilakukan dengan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian ketiga variabel kompetensi PPA lebih rendah dibandingkan PAP. Capaian terendah terdapat pada kesesuaian kompetensi (mean: 6,36), khususnya elemen pendokumentasian evaluasi berkala, sedangkan pada pendidikan dan pelatihan terdapat pada elemen pengidentifikasian kebutuhan pelatihan (mean: 5,45). Analisis bivariat menunjukkan bahwa kesesuaian kompetensi dan pendidikan serta pelatihan berhubungan signifikan dengan PAP yang seragam maupun terintegrasi, sedangkan kemampuan edukasi hanya berhubungan signifikan dengan PAP yang seragam. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kombinasi ketiga variabel kompetensi PPA menjelaskan 89,4% variasi PAP yang seragam dengan pendidikan dan pelatihan sebagai variabel paling dominan, dan ntuk PAP yang terintegrasi, kesesuaian kompetensi dan pendidikan serta pelatihan menjelaskan 70,5% variasinya. Presentase capaian ini perlu dimaknai dengan hati-hati karena terbatasnya sampel penelitian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kompetensi PPA berhubungan signifikan dengan kemampuan pelayanan dan asuhan pasien, dengan pendidikan dan pelatihan sebagai determinan yang paling dominan.

Professional care provider (PCP) competence is an important factor in determining the quality of patient care and services in hospitals. Although these two aspects are presumed to be associated, empirical evidence based on hospital accreditation instrument data remains limited. This study aimed to analyze the relationship between PCP competency achievement and patient care and service (PCS) performance using data from the 2024 STARKES accreditation instrument of the Hospital Accreditation Commission (KARS) in 2025. This study employed an analytical cross-sectional design with total sampling of hospitals that underwent KARS accreditation in 2025 using the 2024 STARKES instrument. Of the 25 hospitals that met the inclusion criteria, 22 had complete data available for analysis. The independent variables included competency alignment, education and training, and educational competency, while the dependent variables consisted of standardized and integrated PCS. Since all variables were not normally distributed based on the Shapiro–Wilk test, bivariate analysis was performed using Spearman's correlation, while multivariate analysis was conducted using multiple linear regression. The results showed that the achievement scores of the three PCP competency variables were lower than those of the PCS variables. The lowest mean score was observed for competency alignment (mean: 6.36), particularly in the periodic evaluation documentation element, whereas the lowest score for education and training was found in the training needs identification element (mean: 5.45). Bivariate analysis indicated that competency alignment and education and training were significantly associated with both standardized and integrated PCS, whereas educational competency was significantly associated only with standardized PCS. Multivariate analysis demonstrated that the combination of the three PCP competency variables explained 89.4% of the variance in standardized PCS, with education and training emerging as the most dominant variable. For integrated PCS, competency alignment and education and training jointly explained 70.5% of the variance. These percentages should be interpreted with caution due to the limited sample size. This study concludes that PCP competence is significantly associated with patient care and service performance, with education and training identified as the most dominant determinant.
Read More
S-12309
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive