Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Zulfia Fitriani; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Puput Oktamianti, Takdir Mostawvan
Abstrak:

Budaya organisasi berkaitan erat dengan perubahan perilaku karyawan di suatu organisasi. Semakin baik budaya organisasi, semakin besar dorongan para karyawan untuk maju bersama dengan organisasi. Dalam penelitian ini budaya organisasi diartikan sebagai pola keyakinan dan nilai-nilai organisasi yang dijiwai oleh seluruh karyawan dalam melakukan pekerjaan sebagai cara yang tepat unhrk memahami, memikirkan, dan merasakan terhadap masalah-masalah terkait, sehingga akan mer{adi sebuatr nilai atau aturan di dalam organisasi tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan unhrk mengetahui budaya organisasi dan kepemimpinan terhadap perubahan perilaku karyawan yang ada Rumah Sakit Urnum Bhakti Yudha Depok. Dan secara khusus untuk mengetahui gambaran penrbahan perilaku karyawan, serta diketalruinya hubungan antara kepemimpinan terhadap perubahan perilaku ataupun hubungan antara budaya organisasi terhadap perubalran perilaku karyawan pada di Rumah sakit Umum Bhaldi Yudha Depok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalatr Deskriptif analitik yang bersifat kuantitatif. Data dalam penelitian di peroleh dengan menyebarkan angket atau kuisioner kepada 222 orang responden yang merupakan karyawan di rumah sakit umum Bhalai Yudha Depoh Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh hasil bahwa budaya organisasi dan kepemimpinan di rumah sakit umum Bhakti Yudha Depok berada pada kategori mempunyai berhubungan yang erat dengan perubahan perilaku karyawan yang ada.


 

Organizational culture is closely related to changes in employee behavior in a culture well. More and more better the culture of organization the grcater of encouragement of the employee to move forward together with the organization. In a study interpreted as pattems of this organizational culttue. Culture beliefs and values that inspired the organization by all employees in performing work as a way to understand, think' and feel of the associated problems, so it will be a value or rule within the organization' This study was aimed to determine the organizational culture and leadership to change employee behavicr in a public hospital Bhakri Yudha Depok. And in particular to know the description of changes in employee behavior, and knowing the relationship between leadership behavior change or the relationship between organizational culture on employee behavior in a public hospital Bhakti Yudha Depok' Methods used in this study is descriptive nature analytic kuantitatif. Data in this study were obtained by disnibuting questionnaires or questionnaires to 222 resporLdents who are employees at pubtic hospital Bhakti Yudha Depok. Based on research that was done of the obtained results that organizational culture and leadership in public hospitals Bhakti Yudha Depok, in the category of having a close relationship with changes in the behavior of existing employees.

Read More
B-1461
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fransisca Mayer; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Puput Oktamianti, Lanjar Sugianto, Yessy Susanti
B-1700
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pandu Lesmana Putra; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Puput Oktamianti, Rachmad, Sumijatun
Abstrak:
Kinerja perawat dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk stres. Mengingat perawat adalah profesi yang rentan terhadap tekanan dan stres, penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi stres kerja dan kinerja mereka. Beberapa faktor yang relevan meliputi karakteristik individu, gaya kepemimpinan, dukungan organisasi, dan motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor penyebab stres kerja pada perawat di Rumah Sakit AM Bekasi serta dampaknya terhadap kinerja perawat, dengan mempertimbangkan pengaruh motivasi kerja, karakteristik individu, dukungan organisasi, dan gaya kepemimpinan. Responden dalam penelitian ini adalah 50 perawat dari unit IGD, rawat jalan, rawat inap, ICU, perinatologi, kamar operasi, dan hemodialisis. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan metode univariat, bivariat, dan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik individu dan dukungan organisasi memiliki hubungan yang signifikan dengan stres kerja dan kinerja perawat (p<0.05). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan, baik langsung maupun tidak langsung, antara stres dan kinerja perawat. Faktor usia, unit kerja, pendidikan, dan lama bekerja berhubungan signifikan dengan stres kerja, sementara usia, pengalaman, dan status pernikahan berhubungan signifikan dengan kinerja perawat. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik individu memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja dan stres, sementara dukungan organisasi berpengaruh terha6dap stres. Namun, variabel motivasi dan stres tidak berperan sebagai mediator dalam hubungan ini, dan gaya kepemimpinan tidak memiliki pengaruh signifikan dalam konteks penelitian ini

Nurses' performance can be influenced by various factors, including stress. Given that nursing is a profession prone to pressure and stress, it is important to identify the factors that can affect job stress and performance. Relevant factors include individual characteristics, leadership style, organizational support, and motivation. This study aims to examine the factors causing job stress among nurses at AM Hospital Bekasi and its impact on their performance, considering the influence of work motivation, individual characteristics, organizational support, and leadership style. The respondents of this study were 50 nurses from the emergency unit, outpatient care, inpatient care, ICU, perinatology, operating room, and hemodialysis unit. Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate, bivariate, and SEM-PLS methods. The results showed that individual characteristics and organizational support have a significant relationship with job stress dan nurse performance (p<0,05). However, no significant direct or indirect relationship was found between stress and nurse performance. Factors such as age, work unit, education, and length of service are significantly related to job stress, while age, length of service, and marital status are significantly related to nurse performance. Overall, this study shows that individual characteristics have a significant impact on performance and stress, while organizational support affects stress. However, motivation and stress variables do not serve as mediators in this relationship, and leadership style does not have a significant influence in the context of this study.
 
Read More
B-2477
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deity Indrayati Nugraha; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Puput Oktamianti, Irena Sakura Rini, Handayani Dini
Abstrak: Angka kunjungan ke poli bedah estetik BROS Denpasar mengalami penurunan yang sangat drastis di tahun 2015, padahal bedah estetik menjadi tren di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi pemasaran yang baik untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi sehingga diharapkan pada akhirnya jumlah kunjungan ke poli bedah estetik BROS Denpasar mengalami peningkatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan observasi, dan wawancara mendalam. Dari Bauran product-price, didapatkan beberapa strategi, yaitu dengan memberikan variasi produk atau tambahan pelayanan, membeli alat bedah estetik dengan teknologi terbaru, dan bisa juga dengan menurunkan tarif layanan bedah estetik. Untuk bauran price-place, strateginya yaitu dengan memindahkan poli bedah estetik ke ruangan yang lebih private. Strategi utnuk bauran people-promotion, yaitu dengan menambah kerjasama dengan agen-agen medical tourism lain, mengubah isi website BROS sehingga lebih menonjolkan layanan bedah estetik, dan lebih aktif lagi untuk promosi layanan bedah estetik di media sosial. Strategi dari bauran people-physical evidence, yaitu dengan memberikan kursus singkat bahasa asing bagi dokter dan perawat, mencari dokter spesialis bedah plastik tetap, dan menempatkan perawat tetap untuk poli bedah plastik. Strategi process-promotion, yaitu dengan mengurangi perantara atau memotong alur proses layanan bedah estetik yang bekerjasama dengan agen asing (ABA). Kata Kunci: Strategi pemasaran, segmenting, targeting, positioning, bauran pemasaran, bedah estetik, The number of visits to BROS Denpasar aesthetic surgery has decreased drastically in 2015, whereas aesthetic surgery has become a worldwide trend, including Indonesia. Therefore, it takes a good marketing strategy to find out the problems faced so it is expected that in the end the number of visits to the aesthetic surgery surgery BROS Denpasar has increased. This research uses qualitative method with observation, and in-depth interview. From the product-price mix, there are several strategies, namely by providing variations of products or additional services, buying aesthetic surgical instruments with the latest technology, and can also lower the rates of aesthetic surgery services. For the price-place mix, the strategy is to move the esthetic surgical poly to a more private room. Strategy for people-promotion mix, by increasing cooperation with other medical tourism agents, changing the content of BROS website so that more emphasis on aesthetic surgery services, and more actively for promotion of aesthetic surgery services in social media. The strategy of the people-physical evolution mix, which is to provide short courses of foreign languages for doctors and nurses, to find a permanent plastic surgeon, and to place a permanent nurse for plastic surgery. Process-promotion strategy, by reducing intermediaries or cutting the flow of aesthetic surgical service process in cooperation with foreign agents (ABA). Keywords: aesthetic surgery, marketing strategic, mix marketing, positioning, segmenting, targeting.
Read More
B-1880
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alexander Widya Chriswanto; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Sulistyo, Deni Kurniadi Sunjaya
Abstrak:
Indonesia menempati peringkat 2, negara dengan angka kejadian Tuberkulosis (TB) tertinggi, namun sebagian besar kasusnya belum ditemukan. Upaya penemuan kasus TB di Tempat Praktik Mandiri Dokter (TPMD) menghadapi banyak hambatan. TPMD hanya menemukan 1% kasus dari total kasus TB pada tahun 2022, dengan rasio pencarian pengobatan masyarakat di TPMD sebesar 19%. Tujuan Penelitian : Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan capaian penemuan kasus TB di TPMD. Metode : Mix method sequential explanatory, yaitu metode kuantitatif melalui pengisian kuesioner oleh 175 responden, dilanjutkan metode kualitatif melalui wawancara mendalam 6 informan. Penelitian dilakukan di Jawa Barat, Nusa Tengga Timur, Maluku dan Sumatera Utara. Hasil : Variabel yang berhubungan dengan capaian penemuan kasus TB di TPMD adalah ketersediaan SDM Kesehatan, ketersediaan dan penggunaan sistem informasi terpadu, aksesibilitas pemeriksaan TCM, pemanfaatan alur rujukan layanan TB, keterlibatan organisasi profesi dan kelompok masyarakat. Persentase TPMD yang mencapai target penemuan kasus TB di 4 provinsi adalah sebesar 58,9%. Variabel yang paling berhubungan adalah keterlibatan kelompok masyarakat (OR = 12.008, 95% CI 4.527-31.851, p-value < 0,001). Kesimpulan : Pemerintah memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan TPMD, namun masih menghadapi tantangan terkait pemerataan SDM dan infrastruktur, peningkatan efektivitas dan efisiensi biaya, pengembangan skema PPM, serta optimalisasi pengawasan kualitas layanan terstandar.

Indonesia is ranked as the second most Tuberculosis-affected country, but most cases remain undiagnosed. Numerous challenges still exist to identify TB cases in Private Practitioner (PPs). Only 1% of all TB cases reported by PPs in 2022, with a 19% population-based treatment rate. Objective : Determine the factors that go into a PPs successful diagnosis of TB cases. Method : Sequential explanatory mix method, 175 PPs completed questionnaires in quantitative and 6 key informants participated in in-depth interviews in qualitative. North Sumatra, Maluku, East Nusa Tenggara and West Java were the locations of the research projects. Results : Variables related to the achievement of TB case detection in PPs were the availability of human resources, availability and use of integrated information systems, accessibility of TCM examinations, utilization of TB service referral, involvement of professional organizations and community groups. The overall percentage of PPs that achieved the TB case detection was 58.9%. The variable most related to the achievement of TB case detection was the involvement of community groups (OR = 12.008, 95% CI 4.527-31.851, p-value < 0.001). Conclusion : The government has an excellent chance to maximize the role of PPs, but it has to deal with issues like equitable infrastructure and human resource, improving cost-effectiveness and efficiency and improving oversight of standardized service quality.
Read More
T-7003
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firda Jusela; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Dedy Waskita; Budi Hartono
Abstrak:
Latar Belakang: Perkembangan Rumah Sakit di Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke tahun. Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 melanda Indonesia menyebabkan perubahan tatanan kesehatan indonesia. Rumah Sakit Pertamina Jaya berubah semula Rumah Sakit Umum menjadi Rumah Sakit Khusus Rujukan COVID. Pada tahun 2020, sebelum pandemi melanda Indonesia, Rumah Sakit Pertamina Jaya akan menambah layanan Center of Excellence (CoE) ibu dan anak, dimulai dengan membuat center layanan anak. Setelah pandemi COVID-19 berakhir, Rumah Sakit Pertamina Jaya kembali menjadi Rumah Sakit Umum dan meneruskan pengembangan CoE layanan ibu dan anak. Masalah yang muncul dalam Rumah Sakit Pertamina Jaya adalah belum adanya Perencanaan Strategis untuk pengembangan layanan anak. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk membuat perencanaan strategis pengembangan layanan anak di Rumah Sakit Pertamina Jaya periode tahun 2025-2029. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode operational research dengan menggunakan data primer berupa wawancara mendalam kepada informan dan Consensus Decision Making Group (CDMG) bersama informan. Data sekunder menggunakan data rekam medis Rumah sakit, laporan kinerja, literatur, hasil penelitian dan dokumen lainnya. Kerangka konsep menggunakan pendekatan strategic management model dengan tiga tahapan yaitu input stage, matching stage dan decision stage. Hasil Penelitian: Dalam proses input dimana pada analisa lingkungan intermal didapatkan hasil Sumbe Daya Manusia, Standar Operasional Prosedur, Sistem Informasi merupakan kekuatan. Kelemahan Rumah Sakit adalah fasilitas umum, keuangan dan pemasaran. Peluang Rumah Sakit adalah kebijakan pemerintah, demografi, epidemiologi, teknologi dan pesaing. Ancaman rumah sakit adalah sosial ekonomi dan pelanggan. Pada matching stage posisi Rumah Sakit berada di kuadran II yaitu grow and build dimana alternatif strategi market penetration, market development and product development. Strategi yang akan diterapkan berdasarkan prioritas adalah pengembangan produk layanan tumbuh kembang anak, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan layanan anak, revitalisasi dan perluasan banguanan Rumah Sakit Pertamina Jaya, brand awareness layanan anak, pengembangan teknologi, penetrasi pasar rujukan layanan anak pihak ke-III. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan posisi rumah sakit adalah grow and build dengan prioritas utama adalah pengembangan produk layanan tumbuh kembang anak

Background: Hospital development in Indonesia continues to experience significant growth from year to year. The COVID-19 pandemic in 2020 hit Indonesia causing changes to Indonesia's health system. Pertamina Jaya Hospital was transformed from a General Hospital into a Special COVID Referral Hospital. In 2020, before the pandemic hit Indonesia, Pertamina Jaya Hospital will add center of excellence services for mothers and children, starting by creating a children's service center. After the COVID-19 pandemic ended, Pertamina Jaya Hospital returned to being a General Hospital and continued developing a center of excellence for maternal and child services. The problem that arises at Pertamina Jaya Hospital is that there is no Strategic Planning for the development of children's services. Objectives: This research aims to create a strategic plan for the development of children's services at Pertamina Jaya Hospital for the period 2025-2029. Methodology: This research uses operational research methods using primary data in the form of in-depth interviews with informants and the Consensus Decision Making Group (CDMG) with informants. Secondary data uses hospital medical record data, performance reports, literature, research results and other documents. The conceptual framework uses a strategic management model approach with three stages, namely input stage, matching stage and decision stage. Results: In the input process, the analysis of the internal environment shows that Human Resources, Standard Operating Procedures, Information Systems are strengths. Hospital weaknesses are public facilities, finance and marketing. Hospital Opportunities are government policy, demographics, epidemiology, technology and competitors. The threat to hospitals is socio-economic and customer. In the matching stage, the hospital's position is in quadrant II, namely grow and build, where alternative strategies are market penetration, market development and product development. The strategies that will be implemented based on priority are product development for child growth and development services, increasing the competency of child service health workers, revitalization and expansion of the Pertamina Jaya Hospital building, brand awareness for children's services, technology development, penetration of third party children's service referral markets. Conclusion: Based on the research results, it was found that the hospital's position is grow and build with the main priority being the development of child growth and development service products
Read More
B-2474
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tyas Natasya Citrawati; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Ascobat Gani, Puput Oktamianti, Ari Setyaningrum dan Sigit Wibowo
Abstrak:
Ketidakhadiran ASN yang cukup tinggi dapat berdampak kepada produktivitas dari ASN itu sendiri. Hal tersebut justru bertolak belakang dengan tujuan dari implementasi GERMAS yang dicanangkan oleh pemerintah. Melihat dari data tingkat kebugaran kardiorespirasi dan tingkat ketidakhadiran ASN, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara tingkat kebugaran jasmani terutama kardiorespirasi dan faktor confounding dengan cuti sakit di Kementerian Kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode case control yang dilakukan pada bulan Januari, Februari, dan Maret 2024. Penelitian dilakukan melalui pengambilan data jenis kelamin, usia, jabatan dan cuti sakit dari data kepegawaian pada E-office. Status gizi dan tingkat kebugaran dari aplikasi Sistem Informasi Kebugaran (SIPGAR). Sedangkan data jarak rumah ke tempat kerja, transportasi, penyakit penyerta, aktivitas fisik dan merokok diambil melalui kuesioner. Pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara kebugaran kardiorespirasi dengan cuti sakit. Variabel jenis kelamin, jabatan, status gizi, aktivitas fisik, usia dan penyakit penyerta merupakan confounding hubungan kebugaran kardiorespirasi dengan cuti sakit. Berdasarkan aOR=7,83 dengan menggunakan pemodelan akhir didapat bahwa pegawai yang tidak bugar berisiko 7,83 kali untuk tidak hadir karena sakit dibandingkan pegawai yang bugar setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, jabatan, status gizi, aktivitas fisik, usia dan penyakit penyerta. Penelitian ini menyarankan untuk pembuatan kebijakan untuk pengukuran kebugaran rutin serta merekomendasikan program intervensi kebugaran dan kesehatan di tempat kerja berdasarkan masing-masing kondisi kesehatan perorangan yang hasilnya dapat disebarluaskan untuk mengedukasi masyarakat betapa pentingnya manfaat kebugaran kardiorespirasi selain untuk meningkatkan produktivitas pekerja tetapi seluruh lapisan masyarakat seperti anak sekolah dan lansia. Penelitian dengan ukuran sampel yang lebih besar diperlukan untuk mendukung atau menyangkal hasil tersebut.

High absenteeism among civil servants (ASN) can significantly impact their productivity, which contrasts with the objectives of the GERMAS (Healthy Living Community Movement) initiative promoted by the government. Analyzing data on cardiorespiratory fitness and absenteeism rates among civil servants, this study aims to investigate the relationship between physical fitness, particularly cardiorespiratory fitness, and confounding factors with sick leave at the Ministry of Health. This research employs a case-control method conducted in January, February, and March 2024. Data collection included gender, age, job position, and sick leave information from employee records in the E-office. Nutritional status and fitness levels were sourced from the Fitness Information System (SIPGAR) application. Additional data on the distance from home to work, transportation, comorbidities, physical activity, and smoking were gathered through questionnaires. The study concludes that there is a significant relationship between cardiorespiratory fitness and sick leave. Variables such as gender, job position, nutritional status, physical activity, age, and comorbidities act as confounders in the relationship between cardiorespiratory fitness and sick leave. Based on an adjusted odds ratio (aOR) of 7.83 from the final model, it was found that employees with poor cardiorespiratory fitness are 7.83 times more likely to take sick leave compared to those with good fitness, after controlling for gender, job position, nutritional status, physical activity, age, and comorbidities. The study recommends policies for regular fitness assessments and workplace fitness and health intervention programs tailored to individual health conditions. The findings should be disseminated to educate the public on the importance of cardiorespiratory fitness, not only to enhance worker productivity but also for all community segments, including school children and the elderly. Further studies with larger sample sizes are needed to support or refute these findings.
Read More
T-6992
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anak Agung Istri Mas Indrawati; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Jaslis Ilyas, Puput Oktamianti, A.A. Ngurah Budiarta, I Nyoman Gede Anom
Abstrak: Sumber daya manusia merupakan aspek kritikal dalam pelayanan di rumah sakit. Kinerja rumah sakit dapat menurun karena perilaku karyawan diantaranya adalah keinginan pindah dari pekerjaan (intention to quit). Angka turnover perawat di Rumah Sakit BaliMẻd pada pertengahan tahun 2017 yaitu 13,9%. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor apa saja yang berhubungan keinginan berpindah kerja (intentions to quit) tenaga perawat di RS BaliMẻd. Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan metode potong lintang melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Responden kuantitatif adalah perawat yang telah bekerja di rumah sakit minimal 6 bulan berjumlah 154 orang. Responden kualitatif yaitu perawat yang sudah berhenti kerja di tahun 2017 dan manajemen RS BaliMẻd. Hasil studi menunjukkan faktor yang berhubungan dengan keinginan berpindah kerja yaitu lama kerja, status kepegawaian dan pendidikanpelatihan. Manajemen RS diharapkan memberikan sosialisasi secara rutin terkait sistem jenjang karir, penggajian dan pendidikan-pelatihan kepada perawat dengan lama kerja < 1 tahun, memberikan kepastian terhadap status kepegawaian pada perawat kontrak dan merancang anggaran yang tepat sehingga seluruh perawat mendapatkan pendidikan-pelatihan.
Kata kunci: keinginan berpindah kerja, faktor demografik, faktor organisasi, faktor penarik

Human resources is a critical factor in providing hospital services. Performance of hospital were decrease due to the behavior of their employees including intention to quit. Nurse turnover number in BaliMẻd Hospital in 2017 is 13.9%. This study is aiming at analyzing factors related to intention to quit of nurses in BaliMed hospital. This observational study was using cross sectional method through quantitative and qualitative approachs. Respondents were nurses who have been working for 6 month or more (154 nurses). The qualitative data was accessed form who has resigned in 2017 and BaliMed management. Study revealed factors related to intentions to quit were length of work, employee status and educationtraining. It is expected that hospital desiminatim program and provide adequate information on career path, salary and educational especially for nurses who work less than 1 year in hospital, a clear contract includes employement status of nurses and ensure finding to support training.
Keywords: Intention to quit, demographic factors, organizational factors, pull factor
Read More
B-2006
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Wayan Okayeni; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Puput Oktamianti, Ida Ayu Oka Purnama Wati, Made Koen Virawan
Abstrak: ABSTRAK Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar telah mengimplementasikan wisata medis sejak tahun 2010, namun implementasi wisata medis tersebut belum dianalisis secara sistematis. Oleh karena, itu perlu dilakukan kajian lebih lanjut tentang implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar.Tujuan umum penelitian adalah untuk memperoleh gambaran tentang implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar. Tujuan khusus penelitian adalah untuk memperoleh gambaran tentang prosedur implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar; menganalisis kesesuaian prosedur implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar dengan Permenkes No. 76/2015; menganalisis kesesuaian prosedur implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar dengan diagram wisata medis model Deloitte 2008; dan menganalisis kepuasan wisatawan medis terhadap implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Pelayanan wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar mencakup pelayanan prarumah sakit, selama di rumah sakit, dan pascarumah sakit. Prosedur implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar belum sesuai dengan Permenkes No. 76/2015. Prosedur implementasi wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar sesuai dengan diagram wisata medis model Deloitte 2008. Wisatawan medis belum sepenuhnya puas terhadap pelayanan wisata medis pada Rumah Sakit Umum Bali Royal Denpasar. Kata kunci: wisata medis, rumah sakit, model Deloitte Bali Royal Hospital Denpasar has been implementing medical tourism since 2010, but the implementation of medical tourism has not been systematically analyzed. Therefore, it is necessary to do further study on the implementation of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar. The general purpose of the research is to obtain an overview of the implementation of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar. The specific objective of the study are to obtain an overview of procedures for the implementation of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar; analyzing the appropriateness of procedures for the implementation of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar with Health Minister Regulation No. 76/2015; analyzing the appropriateness of medical tourism implementation procedures at Bali Royal Hospital Denpasar with the medical tourism diagram of Deloitte 2008 model; and analyzing the satisfaction of medical tourists on the implementation of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar. This research is a qualitative research with descriptive design. Medical tourism services at Bali Royal Hospital Denpasar include pre hospital, during the hospital, and post hospital services. The implementation procedure of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar has not been in accordance with Health Minister Regulation No. 76/2015. The implementation procedure of medical tourism at Bali Royal Hospital Denpasar in accordance with the medical tourism diagram of Deloitte 2008 model. Medical tourists have not fully satisfied with medical tourism services at Bali Royal Hospital Denpasar. Key words: medical tourism, hospitals, Deloitte models ix
Read More
B-2019
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henik Saefulmilah; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Dian Ayubi, Puput Oktamianti, Ida Bagus Sila Wiweka, Indra Rachmad Dharmawan
Abstrak:
Latar belakang: Lama hari rawat (LHR) di RS adalah salah satu indikator efisiensi pemberian layanan kesehatan, juga merupakan faktor utama yang mempengaruhi biaya pengobatan pasien rawat inap TB. Implementasi clinical pathway (CP) adalah rencana tatalaksana pasien berupa standarisasi langkah-langkah penanganan pasien mulai masuk RS sampai dengan keluar RS yang telah dikembangkan dengan tujuan mengurangi variasi pelayanan termasuk untuk mengontrol LHR di RS. Sebagai upaya mewujudkan layanan TB yang berkualitas RSPG sudah menerapkan CP dalam tatalaksana pasien rawat inap dengan TB Paru tetapi LHR pasien dengan TB Paru masih bervariasi, bahkan ada kasus dengan LHR yang memanjang, oleh sebab itu penelitian terkait analisis implementasi CP terhadap LHR pasien dengan diagnosis TB Paru perlu untuk dilakukan untuk melihat hubungan implementasi clinical pathway terhadap LHR di RSPG. Tujuan Penelitian: analisis hubungan implementasi CP terhadap LHR pada pasien rawat inap dengan TB Paru di RSPG. Metode:Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan desain cross-sectional, variabel independen adalah implementasi CP, karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, kelas rawat inap, tipe pasien) dan kondisi klinis (diagnosis utama, severity level, pemeriksaan HIV dan penyakit DM), dan variabel dependen adalah LHR. Penelitian menggunakan data sekunder, metode pengumpulan data melalui telusur rekam medik dengan jumlah sampel 456 yang diambil secara acak sederhana, kriteria inklusi pasien yang dirawat di RSPG tahun 2023 dengan diagnosis utama TB Paru sensitif obat, dan kriteria eksklusi pasien rawat inap TB Paru dengan cara keluar dari RS atas permintaan sendiri, dirujuk, atau meninggal. Analisis data dengan menggunakan software SPSS. Hasil: Rata-rata LHR dari 456 sampel penelitian adalah 6,13 hari (95% CI: 5,84-6,42 hari), 54,8% pasien dengan LHR ≤ 5 hari. kepatuhan implementasi baik 37,7%, proporsi LHR ≤5 hari pada CP baik adalah 75,5% sedangkan pada CP tidak baik 42,3%. Implementasi CP memiliki hubungan yang signifikan dengan LHR (P-value 0,0001), implementasi CP yang tidak baik memiliki risiko sebesar 4,91 kali lebih tinggi untuk terjadi LHR lebih lama dari standar (LHR > 5 hari) dibandingkan implementasi CP yang baik setelah dikontrol variabel kelas rawat dan tipe pasien. Kesimpulan: Implementasi CP, usia, pemeriksaan HIV dan penyakit DM berhubungan signifikan terhadap LHR setelah dikontrol variabel kelas rawat dan tipe pasien, variabel yang paling dominan mempengaruhi LHR adalah implementasi CP (OR 4,91).

Background: Length of hospital stay (LOS) is a key indicator of healthcare service efficiency and a major factor influencing the treatment costs for inpatient tuberculosis (TB) patients. The implementation of clinical pathways (CP) is a standardized patient management plan designed to reduce service variations and control LOS. Despite the implementation of CP for inpatient management of pulmonary TB at RSPG, LOS for TB patients still varies, with some cases exhibiting extended stays. Thus, analyzing the impact of CP implementation on the LOS of patients diagnosed with pulmonary TB is necessary to understand its effectiveness at RSPG. Research Objective: This studi aims to analyze the relationship between CP implementation and LOS among inpatient pulmonary TB patients at RSPG. Methods: This quantitative research, a cross-sectional design. The independent variables include CP implementation, patient characteristics (age, gender, class of inpatient care, patient type), and clinical conditions (primary diagnosis, severity level, HIV test, and diabetes mellitus). The dependent variable is LOS. Secondary data was collected through medical record reviews of a randomly selected sample of 456 patients. Inclusion criteria were patients admitted to RSPG in 2023 with a primary diagnosis of drug-sensitive pulmonary TB, while exclusion criteria were pulmonary TB patients discharged against medical advice, referred out, or deceased. Data analysis was performed using univariate, bivariate, and multivariate methods with SPSS software Result: The average LOS for the 456 studi samples was 6.13 days (95% CI: 5.84-6.42 days), with 54.8% of patients having an LOS ≤ 5 days. Good compliance with CP implementation was observed in 37.7% of cases. The proportion of LOS ≤ 5 days was 75.5% in patients with good CP compliance, compared to 42.3% in those with poor CP compliance. CP implementation was significantly associated with LOS (P-value 0.0001), with poor CP implementation resulting in a 4.91 times higher risk of extended LOS (>5 days) compared to good CP implementation, after controlling for class of inpatient care and patient type. Conclusion: CP implementation, age, HIV testing, and diabetes mellitus are significantly associated with LOS after controlling for the variables class of inpatient care and patient type. The most dominant factors influencing LOS is the CP implementation (OR 4.91).
Read More
T-6993
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive