Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 25728 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dwi Sugiarti; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Triyanti, Diah Mulyawati Utari, Ariningsih
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan konsekuensi dari hubungan yang kompleks antara faktor genetik dan lingkungan, yang berhubungan dengan meningkatnya risiko diabetes mellitus, penyakit kardiovaskular dan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan umur, jenis kelamin, riwayat penyakit keluarga, asupan zat gizi, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan durasi tidur dengan kejadian sindrom metabolik menurut kriteria NCEP ATP III pada pegawai RSUP Persahabatan. Populasi studi adalah pegawai yang melakukan pemeriksaan kesehatan pada bulan April-Mei 2017. Disain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 110 responden yang dipilih dengan consecutive sampling. Data dikumpulkan pada bulan Mei-Juni 2017, meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar pinggang, riwayat penyakit keluarga, asupan makanan yang terdiri dari energi, karbohidrat, protein, lemak dan serat, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, durasi tidur dan data sekunder berupa hasil laboratorium (trigliserida, kolesterol HDL, gula darah) dan tekanan darah. Hasil menunjukkan bahwa 7,3% responden mengalami sindrom metabolik dan 54,5% obesitas sentral. Ada perbedaan yang signifikan antara umur pada responden sindrom metabolik dengan yang tidak sindrom metabolik (p=0,01). Tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, asupan makanan, riwayat penyakit keluarga dan gaya hidup dengan sindrom metabolik. Meskipun demikian disarankan agar pegawai menjaga pola hidup sehat dengan olah raga teratur, makan makanan gizi seimbang dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan. Kata kunci : sindrom metabolik, faktor risiko, pegawai rumah sakit Metabolic syndrome is a consequence of the complex relationship between genetic and environmental factors, which is associated with increased risk of diabetes mellitus, cardiovascular disease and mortality. This study aims to determine the relationship between age, sex, family disease history, nutrient intake, physical activity, smoking habits, and sleep duration with the incidence of metabolic syndrome according to NCEP ATP III criteria on Persahabatan Hospital staff. The study population is an employee who performs a medical examination in April-May 2017. The design of this study is cross sectional with the number of samples of 110 respondents with selected with consecutive sampling. Data were collected in May-June 2017, including measurement of height, weight, waist circumference, family disease history, food intake consisting of energy, carbohydrate, protein, fat and fiber, physical activity, smoking habit, sleep duration and secondary data In the form of laboratory results (triglycerides, HDL cholesterol, blood sugar) and blood pressure. Results showed that 7.3% of respondents had metabolic syndrome and 54.5% of central obesity. There was significant association between age and metabolic syndrome and no significant association between sex, food intake, family disease history and lifestyle with metabolic syndrome. Nevertheless it is recommended that employees maintain a healthy lifestyle with regular exercise, eating balanced nutrition and routine medical checks up. Keywords: metabolic syndrome, risk factors, hospital staff
Read More
T-5065
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atika Ramadhani; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Endang L. Achadi, Casilia Meti Dwiriani
Abstrak: KEJADIAN STATUS GIZI LEBIH PADA REMAJA MERUPAKAN MASALAH YANG SUDAH TERJADI DIMANA-MANA. PREVALENSI STATUS GIZI LEBIH PADA REMAJA DI JAKARTA TIMUR LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN DENGAN ANGKA PROVINSI DKI JAKARTA. REMAJA YANG MEMILIKI STATUS GIZI LEBIH DAPAT BERISIKO TERKENA BERBAGAI PENYAKIT DEGENERATIF , MEMILIKI STATUS GIZI LEBIH DIMASA MENDATANG, DAN DAMPAK PALING BURUKNYA, YAITU KEMATIAN DINI. PENELITIAN INI MERUPAKAN PENELITIAN KUANTITATIF YANG BERTUJUAN UNTUK MENGETAHUI HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR RISIKO TERHADAP STATUS GIZI LEBIH PADA MURID SLTA X DI JAKARTA TIMUR TAHUN 2017. DESAIN PENELITIAN YANG DIGUNAKAN ADALAH DESAIN POTONG LINTANG PADA 130 ORANG RESPONDEN USIA 15-17 TAHUN. METODE PENGAMBILAN DATA YANG DIGUNAKAN ANTARA LAIN PENGUKURAN TINGGI BADAN DAN BERAT BADAN DENGAN MICROTOISE DAN TIMBANGAN DIGITAL, PENGISIAN KUESIONER, DAN PENCATATAN WAKTU MAKAN. ANALISIS STATISTIK YANG DIGUNAKAN ADALAH UNIVARIAT DAN BIVARIAT MENGGUNAKAN UJI CHI-SQUARE. HASIL PENELITIAN MENUNJUKKAN BAHWA 33,8% MURID MEMILIKI STATUS GIZI LEBIH. HASIL ANALISIS BIVARIAT MENUNJUKKAN BAHWA TIDAK ADA HUBUNGAN YANG SIGNIFIKAN ANTARA VARIABEL INDEPENDEN, YAITU JENIS KELAMIN, ASUPAN ENERGI DAN ZAT GIZI MAKRO, KEBIASAAN JAJAN, PENGETAHUAN GIZI, AKTIVITAS FISIK, KECEPATAN MAKAN, DAN PERSEPSI CITRA TUBUH DENGAN STATUS GIZI LEBIH. NAMUN, TERDAPAT BEBERAPA VARIABEL YANG MEMILIKI KECENDERUNGAN TERHADAP STATUS GIZI LEBIH, YAITU ASUPAN LEMAK, KEBIASAAN JAJAN, PENGETAHUAN GIZI, AKTIVITAS FISIK, KECEPATAN MAKAN, DAN PERSEPSI CITRA TUBUH. UNTUK ITU, PERLU ADANYA EDUKASI ATAU PENYULUHUAN MENGENAI CARA MENJAGA STATUS GIZI DAN MENGAPLIKASIKAN PEDOMAN GIZI SEIMBANG.
KATA KUNCI : STATUS GIZI LEBIH, REMAJA
Read More
S-9480
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rabiatul Adawiyah; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Adhi Dharmawan
Abstrak: Hipertensi merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi.Penelitian ini juga melibatkan 83 responden yang merupakan karyawankependidikan FKM UI dan dilakukan pada bulan April sampai Juni 2017.Variabel dependen pada penelitian ini adalah hipertensi, sedangkan variabelindependennya adalah umur, jenis kelamin, riwayat hipertensi keluarga, indeksmasa tubuh (IMT), konsumsi makanan tinggi natrium, konsumsi makanan tinggilemak, aktifitas fisik, kebiasaan merokok, dan stres.Hipertensi diukur dengan melihat nilai tekanan darah menggunakantensimeter, indeks masa tubuh (IMT) diukur dengan pengukuran berat badan dantinggi badan yang kemudian dihitung menggunakan rumus, konsumsi makanantinggi natrium dan lemak menggunakan wawancara 24-hours food recall, aktifitasfisik menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ), dan stresdiukur menggunakan Self Reporting Questionnaire (SRQ), sedangkan variabellain seperti umur, jenis kelamin, riwayat hipertensi keluarga dan kebiasaanmerokok diukur menggunakan kuesioner yang diisi sendiri oleh responden.Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional. Sebanyak 26,5%karyawan mengalami hipertensi (≥140/90 mmHg).Dari beberapa variabel yang diuji, terdapat hubungan yang bermaknaantara umur, jenis kelamin, konsumsi tinggi natrium, dan konsumsi tinggi lemak,dengan kejadian hipertensi. Berdasarkan hasil penelitian, karyawan disarankanuntuk menjaga asupan dengan mengurangi konsumsi makanan tinggi natrium danlemak.
Kata Kunci:Hipertensi, umur, jenis kelamin, riwayat hipertensi keluarga, IMT, konsumsitinggi natrium dan lemak, aktifitas fisik, merokok, dan stres.
Hypertension is an independent risk factor for cardiovascular disease. Thepurpose of this study is to identify factors related with hypertension. A total of83 employees education of FKM UI were included in this study, and alsoconducted in April to June 2017. Dependen variable in this study is hypertension,and the independent variables is age, gender, family history of hypertension,body mass index (BMI), high sodium intake, high fat intake, physical activity,smoking habits, and stress.Hypertension measured by looking at blood pressure value using atensimeter, body mass indeks (BMI) was measured by measurement of bodyweight and height than calculated using the formula, high sodium and high fatintake was measured using 24-hours food recall, physical activity measured usingGlobal Physical Activity Questionnaire (GPAQ), and stress measured using SelfReporting Questionnaire (SRQ). The other variables such as age, sex, familyhistory of hypertension, and smoking habits were measured using questionnaireself-written by responden. The design of this study used a cross-sectional study.The prevalence of hypertension was 26,5% (≥140/90 mmHg).From the tested variables, there were significant related of age, gender,high sodium intake, and high fat intake with hypertension. The results suggest thatemployees education servants to reduce high sodium and fat foods consumption.
Keywords:Hypertension, age, gender, family history of hypertension, BMI, high sodiumintake, high fat intake, physical activity, smoking, and stress.
Read More
S-9540
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Manzilla; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Nazhif Gifari
Abstrak: Dehidrasi merupakan kondisi yang terjadi apabila air yang keluar dari dalam tubuh melebihi air yang masuk ke dalam tubuh. Kejadian dehidrasi pada remaja lebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa dan dapat berdampak pada penurunan performa fisik dan kognisi, serta meningkatkan risiko berbagai gangguan atau penyakit.
 
Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status dehidrasi pada murid di SLTA X Jakarta Timur tahun 2017. Data yang dikumpulkan berupa status dehidrasi, konsumsi air, kebiasaan minum, pengetahuan air dan dehidrasi, aktivitas fisik, status gizi dan jenis kelamin. Pengambilan data diukur melalui kuesioner, metode food recall 2x24 jam, pengukuran antropometri, serta pengukuran status dehidrasi melalui warna urin dengan menggunakan Kartu PURI Periksa Urin Sendiri.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 64.2 responden mengalami status dehidrasi dari 134 responden. Berdasarkan uji statistik Chi Square diketahui bahwa terdapat hubungan bermakna antara status dehidrasi dengan konsumsi air dan status gizi. Proporsi kejadian dehidrasi lebih banyak terjadi pada remaja yang memiliki konsumsi air rendah dan status gizi lebih.
 

Dehydration is a condition that happens when the output of water from the body exceeds the body rsquo s water intake. Dehydration happens to adolescents more often than to adults and can contribute in the lowering physical performance and cognition, and may also increase the risk of several disabilities or diseases.
 
This study takes on a cross sectional design in order to know the factors related to dehydration status in SLTA X students, East Jakarta 2017. Data collected in this study includes dehydration status, water intake, drinking habit, knowledge towards water and dehydration, physical activity, nutritional status, and gender. Data was collected using a questionnaire, 2 x 24 hours food recall, anthropometry measures, and measuring dehydration status using PURI cards.
 
Results of this study conclude that 64.2 of the 134 respondents were dehydrated. Furthermore, Chi Square analysis shows that there is a significant relation between water intake and nutritional status. Also, the proportion of dehydration occurs more on adolescents with low water intake and an over nutrition status.
Read More
S-9407
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isna Aulia Fajarini; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Ekowati Rahajeng
Abstrak: Obesitas pada diabetisi (penderita DM Tipe 2) berdampak pada peningkatan risiko terjadinya komplikasi berupa nefropati diabetis dan penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan obesitas pada diabetisi dewasa. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan melibatkan 133 responden yang merupakan perserta PROLANIS. Pengukuran asupan dilakukan menggunakan food recall 1x24 jam, kebiasaan makan menggunakan FFQ, dan aktivitas fisik menggunakan GPAQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 63,9% diabetisi mengalami obesitas (IMT ≥25 kg/m2). Obesitas pada diabetisi berhubungan signifikan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan terkait gizi, dan lama menderita DM tipe 2. Edukasi kepada diabetisi tekait diet bagi penderita DM tipe 2 penting untuk mengurangi obesitas pada diabetisi. Kata kunci: Obesitas, Diabetes Mellitus Tipe 2 Obesity among adult with type 2 diabetes heightens the risk of other comorbid diseases such as diabetic nephropathy and cardiovascular disease. The aim of this study was to determine factors associated with obesity among adult with type 2 diabetes. This study used cross-sectional design and data were collected from 133 member of PROLANIS. Food intake was assessed with 1x24 H food recall, food habit with FFQ, and physical activity with GPAQ. The result showed 63,9% of adult with type 2 diabetes were obese (BMI ≥25 kg/m2). Obesity is significantly associated with level of education, nutrition knowledge, and duration of diabetes. Health education about diet for diabetic patient is important to decrease obesity among adult with type 2 diabetes. Keywords: Obesity, Type 2 Diabetes
Read More
S-9436
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Natalia Desiani; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Tria Astika Endah Permatasari , Iing Mursalin
Abstrak:

Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko kardiometabolik yang semakin meningkat di Indonesia. Studi ini bertujuan mengidentifikasi determinan biopsikososial yang berhubungan dengan sindrom metabolik pada penduduk usia ≥15 tahun, menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sebanyak 17.766 responden dianalisis menggunakan regresi logistik multivariat. Prevalensi sindrom metabolik tercatat sebesar 37,7%, lebih tinggi pada perempuan (44,2%) dibandingkan laki-laki (28,2%), dan meningkat pada usia ≥45 tahun. Komponen paling umum adalah hipertensi dan obesitas sentral. Lingkar perut (AOR: 4,00; 95%CI: 3,80–4,20) dan rasio lingkar perut terhadap tinggi badan (AOR: 3,95; 95%CI: 3,75–4,15) merupakan determinan biomedis terkuat. Paparan rokok aktif dan pasif, serta konsumsi alkohol, meningkatkan risiko, sementara aktivitas fisik menunjukkan efek protektif. Konsumsi makanan ultra proses tingkat sedang dan tinggi (AOR: 1,12–1,22) serta konsumsi sedang makanan berlemak dan berbumbu juga meningkatkan risiko secara signifikan. Hasil ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih terarah pada kelompok perempuan dewasa dan lansia, melalui strategi promosi gaya hidup sehat dan pengendalian obesitas sentral untuk menurunkan beban sindrom metabolik di Indonesia.


Metabolic syndrome is a growing public health concern in Indonesia, involving a cluster of cardiometabolic risk factors. This study aimed to identify biopsychosocial determinants associated with metabolic syndrome among individuals aged ≥15 years using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). A total of 17,766 respondents were analyzed using multivariable logistic regression. The prevalence of metabolic syndrome was 37.7%, higher among women (44.2%) than men (28.2%), and increased significantly in those aged ≥45 years. The most common components were hypertension and central obesity. Key biomedical predictors included waist circumference (AOR: 4.00; 95% CI: 3.80–4.20) and waist-to-height ratio (AOR: 3.95; 95% CI: 3.75–4.15). Psychosocial factors such as active/passive smoking and alcohol consumption increased the risk, while higher levels of physical activity were protective. Additionally, moderate and high consumption of ultra-processed foods (AOR: 1.12–1.22) and moderate intake of fatty and seasoned foods were significantly associated with increased risk. These findings highlight the urgent need for targeted interventions, especially for adult and older women, focusing on healthy lifestyle promotion and central obesity control to reduce the burden of metabolic syndrome in Indonesia.

 

Read More
T-7268
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hamnah Tsabitah; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Endang L. Achadi, Ichayuen Avianty
S-9399
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hajar Shofiyya; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Presiana Deska
Abstrak: Pemahaman terhadap informasi nilai gizi pada kemasan harus diperhatikan karena akan memengaruhi pemilihan makanan sehari-hari. Kurangnya pemahaman terhadap informasi nilai gizi akan berdampak pada pemilihan makanan yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat pemahaman label informasi nilai gizi. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional pada 210 siswa/i SMA Negeri 2 Depok pada bulan Mei 2017. Pengambilan data dilakukan dengan pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) serta pengisian kuesioner secara mandiri. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 61,6% responden memiliki tingkat pemahaman label informasi nilai gizi yang kurang. Berdasarkan analisis bivariate diketahui bahwa terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dan motivasi dalam memilih makanan dengan tingkat pemahaman label informasi nilai gizi.
Kata Kunci: Label informasi nilai gizi, pemahaman label informasi nilai gizi, remaja

Understanding of nutrition label on the packaging should be noticed because it affects daily food selection. Lack of understanding of nutrition label will impact on inappropriate food selection. The aim of this study is to determine factors associated with understanding level of nutrition label. This study used crosssectional design on 210 students of SMA Negeri 2 Depok in May 2017. Data were collected with antropometric measurement (weight and height) and selfadministered questionnaire. The results showed 61,6% of respondents have less understanding of nutrition label. According to bivariate analysis, there was a significant association between gender and motivation in choosing food with understanding level of nutrition label.
Keywords: nutrition label, adolescent, understanding of nutrition label
Read More
S-9450
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aniza Rizky Aprilya Sirait; Pembimbing: Endang L. Achadi;Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Tiara Luthfie
Abstrak: Praktik MP-ASI yang buruk dapat menyebabkan kekurangan gizi pada anak-anak.Minimum dietary diversity (MDD) merupakan salah satu penentu status gizi anak dantelah ditemukan dapat memprediksi terjadinya stunting. Penelitian ini membahasmengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan capaian MDD pada anak yang diberiASI usia 6-23 bulan berdasarkan data SDKI tahun 2017. Penelitian ini menggunakan ujiChi-square dan uji regresi logistik ganda untuk menganalisis 2.976 sampel WUS.Terdapat 52,8% anak yang diberi ASI usia 6-23 bulan di Indonesia tahun 2017 telahmengonsumsi setidaknya lima dari delapan kelompok makanan. Namun, masih terdapat47,2% anak yang belum memenuhi capaian MDD tersebut. Usia anak, pendidikan ibu,status bekerja ibu, akses terhadap media, kekayaan rumah tangga, dan pendidikan ayah,peran ayah, kunjungan ANC, penolong persalinan, tempat persalinan, dan wilayah tempattinggal ditemukan memiliki hubungan yang bermakna dengan capaian MDD anak.Namun, hanya usia anak, tingkat pendidikan ibu, status bekerja ibu, kekayaan rumahtangga, peran ayah, penolong persalinan, dan wilayah tempat tinggal yang lolos kepemodelan multivariat akhir yang mempengaruhi capaian MDD. Faktor dominan yangmempengaruhi capaian MDD anak adalah usia anak 6-11 bulan. Anak yang berusia 18-23 bulan berpeluang mengonsumsi lima atau lebih kelompok makanan sebesar 5,8 kalilebih tinggi dibandingkan dengan anak yang berusia di bawah 6-11 bulan. Masih terdapatseparuh anak Indonesia belum memenuhi capaian MDD. Perlu adanya intervensi di masamendatang yang menargetkan ibu yang memiliki bayi dan anak kecil melalui programpeningkatan kesadaran untuk mendorong pertumbuhan anak-anak dengan memberikandiet yang lebih beragam sejak awal diperkenalkan makanan.
Kata kunci:Anak usia 6-23 bulan; minimum dietary diversity; MP-ASI; SDKI 2017.
Read More
S-10502
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Putri Pertiwi; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Siti Arifah Pudjonarti, Rahmawati
Abstrak: Penelitian ini ingin mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pemberian suplemen vitamin A pada balita usia 6-59 bulan di Indonesia berdasarkan analisis data SDKI 2017. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang melibatkan 1.728 balita usia 6-59 bulan di Indonesia. Hasil penelitian membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu, usia balita, riwayat imunisasi balita, kunjungan Antenatal Care (ANC), kunjungan Postanatal Care (PNC), tempat persalinan, dan keterpaparan media televisi dengan kepatuhan pemberian suplemen vitamin A. Riwayat imunisasi adalah faktor yang paling dominan berhubungan dengan kepatuhan pemberian suplemen vitamin A pada balita. Dengan demikian, penelitian ini menyarankan agar penguatan program imunisasi pada balita, edukasi kesehatan, kualitas kunjungan ANC dan PNC, serta pemanfaatan fasilitas kesehatan dan media terus ditingkatkan guna mencapai cakupan suplementasi vitamin A pada balita yang lebih baik.
Read More
S-10778
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive