Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34898 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Eka Fatimah; Pembimbing: Hendra; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Lusi Ismayenti, Elsye As Safira
Abstrak:
Pemanasan global telah meningkatkan jumlah pekerja yang terpajan tekanan panas di lingkungan kerja, sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas serta menurunkan produktivitas dan kinerja. Perubahan iklim juga meningkatkan kejadian suhu ekstrem di lingkungan kerja, sehingga pajanan panas menjadi isu penting dalam kesehatan kerja. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi mengenai hubungan tekanan panas dan karakteristik individu dengan respons fisiologis pekerja. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan tekanan panas dan karakteristik individu dengan respons fisiologis pekerja yang terpajan tekanan panas. Penelitian menggunakan desain cross-sectional pada 30 pekerja fabrikasi di PT XYZ. Pengukuran suhu inti tubuh, denyut nadi, dan tekanan darah dilakukan sebelum bekerja (pre-test) dan setelah 3–4 jam bekerja (post-test). Karakteristik individu yang dinilai meliputi usia, indeks massa tubuh (IMT), status hidrasi, kondisi kesehatan, status aklimatisasi, dan konsumsi alkohol. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji Wilcoxon digunakan untuk menganalisis perbedaan nilai pre-test dan post-test, uji Pearson digunakan untuk menganalisis hubungan antarvariabel, sedangkan uji Mann-Whitney dan Kruskal-Wallis digunakan untuk menganalisis perbedaan respons fisiologis berdasarkan karakteristik individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) lingkungan kerja berada pada rentang 29,55–31,30°C dengan kelembapan udara 41,47–55,90%. Berdasarkan Nilai Ambang Batas (NAB), seluruh responden dikategorikan mengalami tekanan panas. Sebagian besar responden berusia lebih dari 30 tahun, memiliki IMT berlebih, dan mengalami dehidrasi. Terdapat perubahan signifikan pada respons fisiologis setelah pajanan tekanan panas, yaitu peningkatan suhu inti tubuh hingga 0,6°C, peningkatan denyut nadi hingga 12%, dan peningkatan tekanan darah sekitar 3%. Namun, hubungan antara tekanan panas dan respons fisiologis tidak dapat dianalisis karena seluruh responden terpajan tekanan panas. Selain itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara karakteristik individu dan respons fisiologis. Kesimpulannya, pajanan tekanan panas di lingkungan kerja menyebabkan perubahan fisiologis pada pekerja, terutama peningkatan denyut nadi dan tekanan darah. Namun, pengaruh karakteristik individu terhadap respons fisiologis belum dapat dipastikan karena keterbatasan variasi data.

Global warming has increased the number of workers exposed to occupational heat stress, thereby increasing the risk of heat-related health disorders and reducing productivity and work performance. Climate change has also increased the occurrence of extreme temperatures in the workplace, making heat exposure an important issue in occupational health. Therefore, an evaluation of the relationship between heat stress, individual characteristics, and workers' physiological responses is necessary. This study aimed to evaluate the relationship between heat stress and individual characteristics with the physiological responses of workers exposed to heat stress. This study employed a cross-sectional design involving 30 fabrication workers at PT XYZ. Core body temperature, heart rate, and blood pressure were measured before work (pre-test) and after 3–4 hours of work (post-test). Individual characteristics assessed included age, body mass index (BMI), hydration status, health condition, acclimatization status, and alcohol consumption. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses. The Wilcoxon test was used to analyze differences between pre-test and post-test values, Pearson's test was used to analyze relationships between variables, while the Mann-Whitney and KruskalWallis tests were used to analyze differences in physiological responses based on individual characteristics. The results showed that the workplace Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) ranged from 29.55°C to 31.30°C, with relative humidity ranging from 41.47% to 55.90%. Based on the Threshold Limit Value (TLV), all respondents were categorized as being exposed to heat stress. Most respondents were over 30 years old, had excess BMI, and were dehydrated. Significant changes in physiological responses were observed after heat exposure, including an increase in core body temperature of up to 0.6°C, an increase in heart rate of up to 12%, and an increase in blood pressure of approximately 3%. However, the relationship between heat stress and physiological responses could not be analyzed because all respondents were exposed to heat stress. In addition, no significant association was found between individual characteristics and physiological responses. In conclusion, occupational heat stress causes physiological changes in workers, particularly increases in heart rate and blood pressure. However, the influence of individual characteristics on physiological responses could not be determined due to limited data variability.
Read More
T-7678
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atiq Amanah Retna Palupi; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Ridwan Zahdi Sjaaf, Suryo Bayu Aji
Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh tekanan panasterhadap fisiologis dan psikologis pekerja di PT XYZ Tahun 2016. Unitusaha utama PT XYZ yakni part otomotif dengan kegiatan press & welding.Respon fisiologis pekerja welding terhadap tekanan panas yakni peningkatansuhu, denyut nadi dan perubahan nilai berat jenis urine. Nilai Indeks tekananpanas dengan ISBB melebihi nilai ambang. Nilai Indeks Thermal Work Limitberada pada area tidak berbahaya. Analisis data dengan uji t dependent danindependent, didapatkan nilai p < 0,005. Keluhan subyektif pekerja weldingsebagai respon psikologis. Yakni adanya rasa haus, kulit berkeringat/lembab,adanya biang keringat, kejang/kram otot selaras dengan hasil pengukuranyakni adanya peningkatan denyut nadi, suhu dan berat jenis urin.
This study aimed to analyze the effect of heat stress on thephysiological and psychological workers at PT XYZ Year 2016. The businessunit of PT XYZ namely automotive parts with the activities of the press andwelding. Welding worker's physiological response to heat stress that anincrease in temperature, pulse and urine specific gravity value changes. Heatstress index value with WBGT exceeds the threshold value. Thermal WorkLimit Value Index is in the area is not dangerous. Data were analyzed bydependent and independent t test, p value < 0.005. Subjective complaints ofworkers welding as a psychological response. Namely their thirst, skin sweat/ moisture, their prickly heat, cramps / muscle cramps in tune with themeasurement results to an increase in pulse rate, temperature and specificgravity of urine.
Read More
T-4595
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gesang Lilihaning Tyas; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaya; Penguji: Dadan Erwandi, Agus Triyono, Affan Ahmad
Abstrak: Tesis ini membahas Hubungan Tekanan Panas dan Beban Kerja dengan Kelelahan Pekerja sebagai tinjauan terhadap Nilai Ambang Batas Iklim Kerja yang tertuang dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep-51/Men/1999 yang merupakan adopsi dari ACGIH 1996, dimana dalam satu dasawarsa pemberlakuannya banyak pengusaha di Indonesia mengeluhkan penerapannya. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang.
 
Hasil penelitian menyarankan bahwa perlu adanya peninjauan kembali dan penelitian ilmiah yang lebih mendalam terkait dengan variabel ? variabel lain yang berkontribusi terhadap Nilai Ambang Batas Iklim Kerja yang tertuang dalam Kepmenakertrans No. 51 tahun 1999.
 

This thesis explores the relationship of Heat Stress and Workload to Worker Fatigue with a review of the Threshold Limit Values for Heat Stress as stated in the Ministry of Manpower Decree No. Kep-51/Men/1999 which is the adoption of the ACGIH in 1996, where in one decade is implemented, many entrepreneurs in Indonesia complained about its application. This research is quantitative research with cross sectional design.
 
The results suggest that there should be judicial review and a more in-depth scientific research related to the other variables that contribute to the Threshold Limit Values for Heat Stress, which is covered in Kepmenakertrans No. 51 years old in 1999.
Read More
T-3230
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Suci Rahmawati; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Auliah Rahmi
Abstrak: Pembangunan infrastruktur dan kegiatan konstruksi menjadi salah satu cara bagi pemerintah Indonesia untuk membangun perekonomian nasional. Namun disisi lain proses kerja kegiatan konstruksi memiliki bahaya dan risiko, salah satunya bahaya fisik yang menjadi bahaya paling tinggi salah satunya adalah unsafe condition seperti lingkungan kerja panas yang merupakan kombinasi dari suhu udara, kelembaban udara, kecepatan udara, dan suhu radiasi. Apabila kombinasi tersebut dihubungkan dengan produksi panas tubuh maka akan menyebabkan tekanan panas (heat stress). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan hubungan tekanan panas (heat stress), dan faktor individu (usia, indeks massa tubuh, riwayat keturunan hipertensi, dan status hidrasi) dengan kejadian hipertensi. Penelitian ini dilakukan pada Agustus-Desember 2021 pada pekerja konstruksi proyek Depo Light Rail Transit (LRT) Jabodebek Jatimulya, Jawa Barat. Pendekatan menggunakan kuantitatif observasional deskriptif analitik dengan studi cross sectional dan melibatkan 185 responden yang diambil menggunakan cluster proporsional random sampling. Hasil penelitian menunjukkan 67% pekerja mengalami tekanan panas, 69,7% berusia < tahun, 76,8% memiliki IMT tidak berlebih, 73% tidak memiliki riwayat keturunan hipertensi, 91,9% mengalami dehidrasi tidak berat. Berdasarkan hasil analisis, variabel yang memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi adalah variabel tekanan panas (heat stress), usia, dan riwayat keturunan hipertensi (P value= 0,05)
Read More
S-10900
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shafa Salsabila; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Auliah Rahmi, Laksita Ri Hastiti
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang hubungan antara tekanan panas dengan fatigue atau kelelahan pada pekerja di Depo LRT Jabodebek tahun 2021. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Bidang konstruksi merupakan salah satu sektor industri yang memiliki risiko fatigue. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2021 dengan melibatkan 185 Pekerja Depo LRT Jabodebek. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tekanan panas dengan faktor risiko, yaitu faktor lingkungan, faktor pekerjaan (masa kerja dan beban kerja), faktor pakaian kerja, dan faktor individu (usia dan status gizi). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara tekanan panas dan fatigue.
This research discusses the correlation between heat stress and fatigue among workers at Depo LRT Jabodebek in 2021. This study is a quantitative study with a cross- sectional design. Construction is one of the industrial sectors that has the risk of fatigue. The study was conducted in August 2021 involving 185 Depo LRT Jabodebek workers. The independent variable in this study is heat stress with risk factors, environmental factors, work factors (work period and workload), work clothes factors, and individual factors (age and nutritional status). The results showed that there was a correlation between heat stress and fatigue.
Read More
S-11112
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitria Nurina Listya Ningrum; Pembimbing: Doni Hikmat Ramadhan; Penguji: Hendra, Deni Pebrian
Abstrak: Konstruksi menjadi salah satu pekerjaan paling berisiko terkena gangguan akibat paparan tekanan panas. Tekanan panas terjadi akibat dari kombinasi temperatur lingkungan kerja, panas metabolik tubuh pekerja, pakaian kerja, serta karakteristik pekerja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan studi cross-sectional yang dilakukan pada bulan April-Mei 2019 dengan 181 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks WBGT outdoor berkisar antara 25,3oC hingga 36,8oC. Setelah dibandingkan dengan PERMENKES nomor 70 tahun 2016, diketahui bahwa 100% pekerja mengalami kejadian tekanan panas. Hasil kuesioner menunjukkan 174 responden (96%) mengalami setidaknya satu keluhan kesehatan, dengan keluhan tertinggi yaitu banyak berkeringat (92,3%). Hasil pengukuran efek fisiologis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dari tekanan darah, denyut nadi, saturasi oksigen, dan suhu tubuh antara sebelum bekerja dengan setelah bekerja (nilai p < 0,05). Berdasarkan hal tersebut, manajemen proyek disarankan untuk melakukan berbagai upaya dalam pengendalian tekanan panas, untuk meminimalisir dampak gangguan akibat panas pada pekerja. Kata kunci: Tekanan panas, gangguan kesehatan, efek fisiologis
Read More
S-10177
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yogi Ardyansih; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Doni Hikmat Ramdhan, Wahyono Budianto, Bagus Joko Susanto
Abstrak: Tesis ini membahas Hubungan Tekanan panas dan Keluhan Kesehatan SubjektifPekerja di Casting Plant. Penggunaan suhu tinggi pada proses produksiberpengaruh terhadap peningkatan suhu lingkungan kerja. Tekanan panasmerupakan salah satu bahaya fisik yang dapat dirasakan oleh pekerjadilingkungan kerja panas. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional.Dari data yang telah diperoleh pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwapada area AHPC faktor umur berhubungan signifikan pada keluhan heat rash (P0,023). Namun faktor umur pada area ALPC tidak ada hubungan dengan heatrash, heat cramps, heat syncope, dehydration, heat exhaustion, dan heat stroke.Sedangkan faktor masa kerja, IMT, dan asupan air minum pada area AHPC danALPC tidak ada hubungan dengan heat rash, heat cramps, heat syncope,dehydration, heat exhaustion, dan heat stroke.Kata kunci : Tekanan panas, keluhan kesehatan
The use of high temperature in production process affect the improvement ofworking environment temperatures. Heat stress is one of physical hazards that canfelt by workers in the hot work environment. This study used cross sectionalapproach. The conclusion of this study that age factor in AHPC area significantlyassociated with heat rash symptoms. But in ALPC area age factor is not related tohealth complaints. Working period, dimensions of the body, and intake of water inAHPC and ALPC area no relationship with subjective health complaints.Keywords: heat stress, health complaints, age, working period, dimension of thebody, intake of water
Read More
T-4458
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wildayani; Pembimbing: Suharnyoto Martomulyono
Abstrak:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi kandidosis kutis inguinalis pada pekerja di bagian "Calender" dan "Emboss" di pabrik plastik PT.A - Depok dan mengetahui hubungan lingkungan kerja panas dan lembab dengan prevalensi kandidosis kutis inguinalis. Metode penelitian ini menggunakan kros-seksional dengan uji statistik chi-kuadrat (bivariat). Parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat pajanan panas adalah lndeks Suhu Basah dan Bola (ISBB). Penelitian dilakukan terhadap 132 responden terpajan panas. Untuk melihat pengaruh tekanan panas dan kelembaban terhadap tenaga kerja yang terpajan dilakukan dengan menggunakan kuesioner, pengamatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium serta pengukuran lingkungan kerja. Hasil penelitian menunjukkan tekanan panas di lingkungan kerja bagian "Calender" dan "Emboss" melebihi batas yang diperkenankan, sedangkan kelembaban masih dalam batas kenyamanan. Hasil pemeriksaan pada semua responden menunjukkan 59,1% responder mengalami kandidosis kutis inguinalis. Faktor yang berpengaruh pada penelitian ini adalah higiene perorangan dan riwayat tuberkulosis. Hal ini ditunjang dari hasil uji statistik (p<0,05 dan OR>1).

The objective of this study are to identify the prevalence of inguinal coetaneous candidiasis among workers at "Calender" and "Emboss" sections, at "A" plastic manufacturing in Depok and to identify it's relationship with exposure to heat stress and humidity in the work environment. The design used in this study is a cross-sectional method. Chi-square test (bivaried) were used for statistical analysis. Heat exposure level in the working environment was measured by using the Wet Bulb Globe Temperature Index. This sample is 132 workers who are exposed to heat stress. Questionnaire, survey and to measurement of working environment, physical and laboratory examinations have been used to know the influence of heat stress and humidity on exposed workers. This study shows that heat exposure level of working environment at "Calender" and "Emboss" sections is above the recommended limits, meanwhile the humidity level is none. The result of the examinations prevalence of all workers shows 59,1% workers suffering from inguinal cutaneous candidiasis. Other important factor associated with the prevalence are personal hygiene, tuberculosis disease (p<0,05 and OR>1). Bibliography : 18 ( 1983 -2003 )
Read More
T-1961
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Antonius Wahyudi; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Syahrul Efendi Panjaitan, Izzatu Millah
Abstrak: Dunia industri erat dengan kegiatan proses produksi yang berhubungan dengan mesin dan ruangan kerja yang menghasilkan panas. Pajanan terhadap pekerja yang terus berlanjut, akan mengakibatkan penurunan produktifitas kerja dan terjadi peningkatan resiko gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh tekanan panas terhadap kondisi fisiologis dan psikologis pada pekerja di PT XYZ tahun 2017. PT XYZ bergerak di bidang pertambangan emas bawah tanah. Respon fisiologis pekerja PT XYZ terhadap tekanan panas dilihat berdasarkan adanya peningkatan suhu, denyut nadi dan perubahan nilai berat jenis urin dan respon psikologis pekerja dilihat dari keluhan subyektif yang muncul. Hasil pengukuran indeks tekanan panas diketahui sebanyak 62 responden (73.8%) mengalami tekanan panas dan sisanya sebanyak 22 responden (26.2%) tidak mengalami tekanan panas. Hasil uji statistik chi-square dengan p value >0,05 diketahui tekanan panas tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan peningkatan suhu tubuh( p = 0,785), peningkatan denyut nadi (p = 0.867), status hidrasi (p = 0.280) dan keluhan subyektif ( p = 0.221).
Read More
T-4989
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safiera Amelia; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra; Adenan
Abstrak: PT XYZ adalah industri manufaktur yang memiliki proses produksi yang menghasilkan panas dan berpotensi menimbulkan heat stress bagi pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keluhan subjektif akibat tekanan panas pada pekerja di area fermentasi kedelai dan pemasakan PT XYZ. Penelitian dilakukan pada 55 responden dengan desain studi cross sectional deskriptif. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) digunakan untuk mengukur risiko tekanan panas. Kuesioner menilai keluhan subjektif pekerja akibat tekanan panas. Hasil menunjukkan indeks WBGT rata-rata di area adalah 27,35°C - 32,29°C. Terdapat 70,9% responden mengalami tekanan panas dan 54,5% mengalami keluhan ringan. Keluhan subjektif utama yaitu banyak berkeringat (67,3%) dan merasa haus (50,9%). Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keluhan subjektif, yaitu kejadian tekanan panas (p value= 0,001) dan beban kerja (p value= 0,019). Rekomendasi dari segi teknis, administratif, maupun personal dibutuhkan untuk meminimalisasi keluhan subjektif dan dampak kesehatan akibat tekanan panas.
Kata kunci: Tingkat keluhan subjektif, tekanan panas.

PT XYZ is a manufacturing industry which has production process that produces heat and potentially cause heat stress for workers. The purpose of this study was to determine factors related to the level of subjective complaints due to heat stress among workers in soybean fermentation and cooking area. This study performed on 55 workers using cross sectional descriptive study design. Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) were used to quantify risk of heat stress. Questionnaires assessed worker's subjective complaints from heat stress. Results showed WBGT index in the average area are 27,35°C - 32,29°C. About 70,9% respondents experienced heat stress and 54,5% suffered minor complaints. The most subjective complaints were excessive sweating (67,3%) and feeling thirsty (50,9%). Factors related to the level of subjective complaints were heat stress (p value= 0,001) and workload (p value= 0,019). Hence, the recommendation such as engineering, administrative, and personal control are needed to minimize the subjective complaints and adverse health effect of heat stress.
Keywords: The level of subjective complaints, heat stress
Read More
S-9315
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive