Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36352 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ameera Zandra Chairullah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Mufti Wirawan, Nirmala Shinta Dewi
Abstrak:
Berbagai penelitian menunjukkan keterkaitan antara stress kerja dengan kinerja pekerja. Stres kerja memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kinerja pekerja. Hal ini karena pekerja yang menghadapi tingkat stres tinggi harus mengalihkan waktu dan energi dari tugas-tugas mereka untuk mengatasi stres tersebut, sehingga menyebabkan penurunan pada kinerja pekerja (Chen et al., 2022; Conceoção & Palma-Moreira, 2025). Untuk mengetahui dan mendapatkan pemahaman lebih lanjut mengenai keterkaitan antar kedua aspek ini, penulis melakukan penelitian mengenai hubungan antara tingkat stres kerja dengan tingkat kinerja pekerja perkantoran pada instansi X tahun 2026. Instansi X ditetapkan sebagai obyek penelitian dengan pertimbangan bahwa instansi ini merupakan instansi pemerintah yang belum memiliki divisi K3 dan sampai saat ini tidak pernah mengukur stres kerja dalam lima tahun terakhir. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square dan odds ratio (OR) atas data yang dikumpulkan dari 121 responden, ditemukan bahwa faktor risiko ambiguitas peran (p-value=0,000. OR = 1,513) dan kepuasan kerja (p-value = 0,001. OR = 5,646) memiliki hubungan yang signifikan dengan stres kerja. Penelitian ini menghasilkan temuan utama, yang berbeda dari penelitian sebelumnya, bahwa stres kerja tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kinerja pada pekerja di instansi X (p-value = 0,761). Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa hubungan antara stres kerja dan kinerja bersifat kompleks, kontekstual, dan tidak dapat disederhanakan menjadi hubungan sebab-akibat yang kaku. Hasil penelitian dapat memperkaya wawasan dan ilmu terkait hubungan antara stres kerja dengan kinerja pekerja.

Various studies have shown a link between job stress and worker performance. Job stress has a significant negative impact on workers performance. This is because workers facing high levels of stress must divert time and energy from their tasks to cope with the stress, resulting in a decline in worker performance (Chen et al., 2022; Conceoção & Palma-Moreira, 2025). To further understand the relationship between these two aspects, the authors conducted a study on the relationship between job stress levels and the performance levels of office workers at institution X in 2026. Institution X was selected as the object of the study because as it is a government agency that does not yet have an OHS division and has not measured job stress in the past five years. The study was conducted using quantitative methods with a cross-sectional study design. Based on the results of the analysis using the chi-square test and odds ratio (OR) on data collected from 121 respondents, it was found that the risk factors of role ambiguity (p-value = 0.000. OR = 1.513) and job satisfaction (p-value = 0.001. OR = 5.646) had a significant relationship with work stress. This study produced a main finding, which differs from previous studies, that work stress did not have a significant relationship with the level of performance of workers in agency X (p-value = 0.761). This finding strengthens the understanding that the relationship between work stress and performance is complex, contextual, and cannot be simplified into a rigid cause- and-effect relationship. The results of this study can enrich insight and knowledge regarding the relationship between work stress and worker performance.
Read More
S-12451
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titania Ramadhina; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Mufti Wirawan, Melly Fadhilah Harahap
Abstrak:
Musculoskeletal disorders (MSDs) merupakan suatu penyakit atau kondisi yang memengaruhi sistem muskuloskeletal sehingga menyebabkan keterbatasan fungsi baik bersifat sementara maupun seumur hidup. Keluhan MSDs berupa sakit, nyeri, atau tidak nyaman pada otot dan tulang rangka yang terjadi pada pekerja disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya faktor risiko psikososial yang berkaitan erat dengan stres kerja. Stres yang tinggi dapat membuat otot menjadi lebih tegang, kaku, dan mudah lelah meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Stres kerja di sektor perbankan kini berada pada tingkat yang tinggi, sehingga dapat memperburuk kondisi kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi stres kerja beserta faktor risiko penyebabnya pada pekerja Bank X serta hubungannya dengan keluhan gangguan muskuloskeletal. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan metode semi kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner dilengkapi dengan wawancara sebagian responden. Analisis data menggunakan uji analisis regresi logistik biner untuk menganalisis hubungan antara stres kerja dengan keluhan musculoskeletal disorders. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara stres kerja dan keluhan MSDs (p-value = 0,026). Sementara itu, faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan dengan stres, yaitu jenis kelamin, tingkat pendidikan, status kepegawaian, jadwal kerja, work-family conflict dan dukungan sosial keluarga.

Musculoskeletal disorders (MSDs) are diseases or conditions that affect the musculoskeletal system, leading to functional limitations that may be temporary or lifelong. MSD symptoms such as pain or discomfort in the muscles and bones experienced by workers are caused by several factors, one of which is psychosocial risk factors closely linked to work-related stress. High stress can cause muscles to become more tense, stiff, and easily fatigued even without engaging in heavy physical activity. Work-related stress in the banking sector is currently at a high level, which can worsen workers’ health conditions. This study aims to analyze the prevalence of work-related stress and its associated risk factors among employees at Bank X, as well as its relationship with musculoskeletal disorder complaints. This study employed a cross-sectional design and a semi-quantitative method, with data collected via a questionnaire supplemented by interviews with some respondents. Data analysis utilized binary logistic regression to examine the relationship between work-related stress and musculoskeletal disorder complaints. The results indicate a significant association between work-related stress and MSD complaints (p-value = 0.026). Meanwhile, the risk factors significantly associated with stress include gender, educational level, employment status, work schedule, work-family conflict, and family social support.
Read More
S-12424
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diva Mahardikawati; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Fatma Lestari, Tubagus Dwika Yuantoko, Bima Haryadi
Abstrak:
Pekerja konstruksi memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan kerja karena karakteristik pekerjaannya yang melibatkan aktivitas fisik berat, durasi kerja panjang, serta paparan lingkungan kerja seperti panas dan kebisingan. Kelelahan kerja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, ketelitian, kecepatan respons, dan human performance pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja dan dampak kelelahan kerja terhadap human performance pada pekerja konstruksi di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 113 pekerja konstruksi. Variabel yang diteliti meliputi faktor individu, faktor terkait pekerjaan, dan human performance. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, pengukuran beban kerja fisik melalui denyut nadi, serta pengukuran lingkungan kerja kebisingan dan suhu. Instrumen yang digunakan meliputi Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial (analisis bivariat dan multivariat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja adalah waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik dengan nilai p-value masing-masing 0,000. Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa terdapat tiga variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kelelahan kerja, yaitu waktu perjalanan, kuantitas tidur, dan beban kerja fisik. Variabel waktu perjalanan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kelelahan kerja dengan nilai OR = 17,057. Kelelahan kerja juga berhubungan signifikan dengan human performance dengan nilai p-value 0,023 dengan nilai OR 2,457. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang tidak mengalami kelelahan kerja memiliki peluang 2,457 kali lebih besar untuk memiliki human performance tinggi dibandingkan pekerja yang mengalami kelelahan kerja.

Construction workers are at high risk of experiencing occupational fatigue due to the characteristics of their work, which involve heavy physical activity, long working hours, and exposure to work environment factors such as heat and noise. Occupational fatigue may lead to decreased concentration, accuracy, response speed, and workers’ human performance. This study aimed to analyze the risk factors associated with occupational fatigue and the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X in 2026. This study used a cross-sectional design involving 113 construction workers as respondents. The variables examined included individual factors, work-related factors, occupational fatigue, and human performance. Data were collected using questionnaires, physical workload measurement through pulse rate assessment, and work environment measurements, including noise and temperature. The instruments used in this study included the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA-TLX, and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Data were analyzed using descriptive and inferential analyses, including bivariate and multivariate analyses. The results showed that factors associated with occupational fatigue were commuting time, sleep quantity, and physical workload, with p-values of <0.001 for each variable. Based on the multivariate analysis, these three variables had a significant relationship with occupational fatigue. Commuting time was identified as the most dominant factor associated with occupational fatigue, with an OR value of 17.057. Occupational fatigue was also significantly associated with human performance, with a p-value of 0.023 and an OR value of 2.457. This indicates that workers who did not experience occupational fatigue were 2.457 times more likely to have high human performance compared to workers who experienced occupational fatigue.
Read More
T-7713
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Erid Angelica; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, David Irianto, Subkhan
Abstrak:
Kelelahan kerja (fatigue) merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan human performance serta meningkatkan risiko human error dan kecelakaan kerja, khususnya pada industri konstruksi yang memiliki karakteristik pekerjaan dengan tuntutan fisik dan mental yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja serta hubungan antara kelelahan kerja dan human performance pada pekerja konstruksi PT X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 219 pekerja konstruksi PT X yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti meliputi faktor terkait pekerjaan (durasi kerja, shift kerja, beban kerja, pekerjaan monoton, dan reward) serta faktor tidak terkait pekerjaan (indeks massa tubuh, waktu tempuh, usia, kualitas tidur, dan kuantitas tidur). Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan Fatigue Assessment Scale for Construction Workers(FASCW), sedangkan human performance diukur menggunakan instrumen Human Performance dari U.S. Department of Energy (DOE). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan Uji Regresi Logistik Ordinaluntuk menganalisis hubungan faktor-faktor dengan kelelahan kerja serta Uji Mann–Whitney untuk menganalisis hubungan antara kelelahan kerja dan human performance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 187 pekerja (85,4%) mengalami kelelahan kerja. Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi kerja (OR=2,61; 95% CI: 1,20–5,76), beban kerja (OR=32,37; 95% CI: 9,40–111,48), pekerjaan monoton (OR=10,42; 95% CI: 3,07–35,39), indeks massa tubuh (OR=3,93; 95% CI: 1,68–9,19), waktu tempuh (OR=2,38; 95% CI: 1,10–5,17), usia (OR=3,44; 95% CI: 1,58–7,50), kualitas tidur (OR=3,20; 95% CI: 1,41–7,29), dan kuantitas tidur (OR=2,53; 95% CI: 1,18–5,42) dengan kelelahan kerja, sedangkan shift kerja (OR=1,42; 95% CI: 0,67–3,01) dan reward (OR=0,83; 95% CI: 0,34–2,05) tidak berhubungan dengan kelelahan kerja. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dan human performance (p<0,001), di mana pekerja yang mengalami kelelahan cenderung memiliki human performance yang lebih buruk dibandingkan pekerja yang tidak mengalami kelelahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelelahan kerja pada pekerja konstruksi PT X berhubungan dengan berbagai faktor terkait pekerjaan maupun faktor tidak terkait pekerjaan serta berhubungan dengan penurunan human performance. Oleh karena itu, pengelolaan kelelahan kerja perlu menjadi bagian dari program keselamatan dan kesehatan kerja melalui pengendalian faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja guna meningkatkan keselamatan, kesehatan, dan human performance pekerja.

Occupational fatigue is one of the major factors contributing to decreased human performance and an increased risk of human error and workplace accidents, particularly in the construction industry, where work is characterized by high physical and mental demands. This study aimed to analyze the factors associated with occupational fatigue and to examine the relationship between occupational fatigue and human performance among construction workers at PT X. This study employed a cross-sectional design involving 219 construction workers at PT X selected through purposive sampling. The variables examined included work-related factors (working hours, shift work, workload, monotonous work, and reward) and non-work-related factors (body mass index, commuting time, age, sleep quality, and sleep duration). Occupational fatigue was assessed using the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), while human performance was measured using the Human Performance instrument developed by the U.S. Department of Energy (DOE). Data were analyzed descriptively and inferentially using Ordinal Logistic Regression to examine the associations between the studied factors and occupational fatigue, and the Mann–Whitney test to analyze the relationship between occupational fatigue and human performance. The results showed that 187 workers (85.4%) experienced occupational fatigue. Significant associations were found between occupational fatigue and working hours (OR=2.61; 95% CI: 1.20–5.76), workload (OR=32.37; 95% CI: 9.40–111.48), monotonous work (OR=10.42; 95% CI: 3.07–35.39), body mass index (OR=3.93; 95% CI: 1.68–9.19), commuting time (OR=2.38; 95% CI: 1.10–5.17), age (OR=3.44; 95% CI: 1.58–7.50), sleep quality (OR=3.20; 95% CI: 1.41–7.29), and sleep duration (OR=2.53; 95% CI: 1.18–5.42). In contrast, shift work (OR=1.42; 95% CI: 0.67–3.01) and reward (OR=0.83; 95% CI: 0.34–2.05) were not significantly associated with occupational fatigue. Furthermore, occupational fatigue was significantly associated with human performance (p<0.001), with fatigued workers demonstrating poorer human performance than those who were not fatigued. This study concludes that occupational fatigue among construction workers at PT X is associated with both work-related and non-work-related factors and is significantly associated with decreased human performance. Therefore, fatigue management should be integrated into occupational safety and health programs by addressing the factors associated with occupational fatigue to improve workers' safety, health, and human performance.
Read More
T-7691
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Neni Julyatri Sagala; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri; Penguji: Mufti Wirawan, Dadan Erwandi, Erdiana Muliawaty, Dina Ramadhani
Abstrak: Covid-19 merupakan penyakit infeksius dengan tingkat penularan yang tinggi dan sebagian besarnya menyerang sistem organ pernapasan. Pemerintah Indonesia menghimbau pekerja untuk bekerja dari rumah dan pembatasan ketat aktivitas perkantoran sebagai salah satu upaya dalam rangka pengendalian Covid-19. Sebelumnya, sistem kerja work from home atau telework belum diadopsi secara luas di Indonesia. Perubahan sistem kerja ini berdampak pada perubahan konteks pekerjaan yang menyebabkan bahaya psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor psikososial (karakteristik individu, content of work, dan context to work) dan stres kerja di masa pandemi Covid-19 pada pekerja perkantoran di Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang. Penelitian dilakukan pada pekerja perkantoran yang bekerja dengan sistem telework di Provinsi DKI Jakarta pada bulan Desember 2020 sampai Februari 2021. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 110 responden yang diambil dengan teknik pengambilan snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring. Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini adalah Copenhagen Psychosocial Questionnaire versi III. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi square .Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor psikososial context to work konflik peran (nilai p 0,014; OR 2,095), job insecurity (nilai p 0,023; OR 2,714), dan work life balance (nilai p 0,003; OR 3,715). Tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik individu (umur dan jenis kelamin), content of work (beban kerja, durasi kerja WFH, Pola WFH), dan context to work (ketidakjelasan peran) dengan stres kerja
Covid-19 is an infectious disease with high transmission rate and mostly attacks the respiratory organ system. Indonesian government urges people to work from home and and strict restrictions on office activities an effort to control Covid-19. Previously, the work from home or telework system had not been widely adopted in Indonesia. This change of work system has an impact on transformation of work context that cause psychosocial hazards. This study aims to analyze psychosocial factors (individual characteristics, content of work, and context to work) and work related stress during Covid-19 pandemic among office workers in Jakarta. This research is quantitative research with cross-sectional design. The study was conducted on office workers who work with the telework system in DKI Jakarta Province from December 2020 to February 2021. The number of samples in this study was 110 respondents taken by snowball sampling technique. Data collection is done by online. The questionnaire used in this study was Copenhagen Psychosocial Questionnaire version III. Data analysis was carried out using the chi square statistical test. The results showed that there was a significant relationship between psychosocial factors in the work context of role conflict (p-value 0.014; OR 2.095), job insecurity (p-value 0.023; OR 2.714), and work life balance. (p value 0.003; OR 3.715). There was no significant relationship between individual characteristics (age and gender), content of work (workload, WFH work duration, WFH pattern), and context to work (unclear role) with work related stress.
Read More
T-6199
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jemmi Wahyu Santoso; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Mufti Wirawan, Muhammad Irwansyah, Diyon Indarto
Abstrak:
Stres kerja merupakan salah satu masalah psikososial yang dapat memengaruhi kesehatan pekerja, keselamatan kerja, dan produktivitas perusahaan. Pelaut memiliki risiko tinggi mengalami stres kerja karena karakteristik pekerjaan yang mengharuskan bekerja dan tinggal di atas kapal dalam waktu lama, sistem kerja bergilir, serta keterbatasan komunikasi dengan keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan stres kerja pada pelaut di PT. X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Smith (2000) untuk mengukur stres kerja serta kombinasi Work Stressor Questionnaire-AIPM dan COPSOQ III untuk mengukur faktor risiko. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik biner dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa usia, tingkat pendidikan, status perkawinan, jabatan, masa kerja, status kepegawaian, status merokok, beban kerja berlebih, kejenuhan terkait pekerjaan, tuntutan pekerjaan, hubungan interpersonal, keamanan pekerjaan, dan keseimbangan kehidupan kerja berhubungan signifikan dengan stres kerja. Pada analisis multivariat, faktor yang tetap berhubungan secara signifikan adalah usia <34 tahun (OR=77,49; 95%CI: 5,578–1076,642), tingkat pendidikan <S1 (OR=605,83; 95%CI: 7,626–48129,244), status perkawinan kawin (OR=67,53; 95%CI: 4,900–930,594), kejenuhan terkait pekerjaan (OR=22,42; 95%CI: 2,615–192,334), hubungan interpersonal yang bermasalah (OR=109,17; 95%CI: 9,345–1275,540), dan keseimbangan kehidupan kerja yang buruk (OR=26,70; 95%CI: 2,042–349,319). Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor individu, psikososial, dan organisasi berperan terhadap terjadinya stres kerja pada pelaut. Hubungan interpersonal merupakan faktor organisasi yang paling dominan, sedangkan tingkat pendidikan menunjukkan nilai OR terbesar meskipun memiliki rentang confidence interval yang sangat lebar. Perusahaan perlu mengembangkan program pengelolaan stres melalui peningkatan kualitas hubungan interpersonal, pengendalian kejenuhan kerja, serta kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja untuk meningkatkan kesehatan mental dan produktivitas pelaut.

Work-related stress is one of the major psychosocial problems that can adversely affect workers' health, occupational safety, and organizational productivity. Seafarers are particularly vulnerable to work-related stress due to prolonged periods onboard, shift work, limited communication with family members, and demanding operational responsibilities. This study aimed to analyze the risk factors associated with work-related stress among seafarers at PT. X. This study employed a quantitative cross-sectional design. Data were collected using the Smith (2000) Work Stress Questionnaire to assess work-related stress and a combination of the Work Stressor Questionnaire-AIPM and the Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III) to measure psychosocial and organizational risk factors. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate binary logistic regression analyses with a 95% confidence level. The bivariate analysis showed that age, educational level, marital status, job position, length of service, employment status, smoking status, work overload, job-related boredom, job demands, interpersonal relationships, job security, and work-life balance were significantly associated with work-related stress. Multivariate analysis revealed that age <34 years (OR=77.49; 95% CI: 5.578–1076.642), educational level below a bachelor's degree (OR=605.83; 95% CI: 7.626–48129.244), married marital status (OR=67.53; 95% CI: 4.900–930.594), job-related boredom (OR=22.42; 95% CI: 2.615–192.334), poor interpersonal relationships (OR=109.17; 95% CI: 9.345– 1275.540), and poor work-life balance (OR=26.70; 95% CI: 2.042–349.319) remained significantly associated with work-related stress after adjustment for potential confounding variables. This study concludes that individual, psychosocial, and organizational factors contribute to work-related stress among seafarers. Poor interpersonal relationships were identified as the most influential organizational factor, while educational level demonstrated the highest odds ratio, although its wide confidence interval indicates limited precision of the estimate. Shipping companies should implement comprehensive stress management programs by improving interpersonal relationships, reducing job-related boredom, and promoting work-life balance to enhance seafarers' mental well-being and productivity. Keywords: work-related stress; seafarers; individual factors; psychosocial factors; organizational factors
Read More
T-7572
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nesya Dinda Rahmaningtyas; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Hendra, Laksita Ri Hastiti, Dwi Yuliati, Rizki Ananda
Abstrak:
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko kelelahan kerja serta kelelahan kerja kronis dengan human performance pada pekerja industri pengolahan ikan di PT X. Industri pengolahan ikan memiliki karakteristik pekerjaan dengan tuntutan fisik yang tinggi, pekerjaan repetitif, serta paparan lingkungan kerja yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kelelahan kerja kronis yang berhubungan dengan human performance. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 94 responden pekerja di PT X. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, observasi, serta pengukuran faktor risiko kerja meliputi faktor individu, faktor fisik, faktor psikososial, dan faktor lingkungan kerja. Kelelahan kerja kronis diukur menggunakan instrumen OFER, kualitas tidur menggunakan PSQI, psikososial menggunakan COPSOQ III, serta human performance diukur melalui indikator at-risk behavior. Data dianalisis menggunakan uji regresi untuk melihat hubungan antar variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja kronis dengan human performance pada pekerja PT X (p = 0,008) dengan koefisien regresi sebesar -13,11 yang menunjukkan bahwa peningkatan kelelahan kerja kronis berkaitan dengan penurunan skor human performance. Faktor yang paling dominan berkaitan dengan kelelahan kerja kronis adalah kualitas tidur yang buruk (OR = 5,83; 95% CI: 1,73–19,63), tuntutan kerja yang tinggi (OR = 4,43; 95% CI: 1,31–14,90) dan suhu lingkungan kerja yang tidak sesuai (OR = 4,69; 95% CI: 1,11–19,88) menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kelelahan kerja kronis. Hasil ini menunjukkan bahwa kelelahan kerja pada pekerja merupakan kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh interaksi faktor individu, pekerjaan, dan lingkungan serta berasosiasi dengan human performance.

This study was conducted to analyze the relationship between work-related fatigue risk factors and the impact of chronic fatigue on human performance among workers in the fish processing industry at PT X. The fish processing industry is characterized by high physical workload, repetitive tasks, and exposure to environmental conditions that may increase the risk of fatigue and subsequently affect human performance. This study employed a cross-sectional design involving 94 workers at PT X. Data were collected using questionnaires, observations, and measurements of work-related risk factors including individual, physical, psychosocial, and environmental factors. Work fatigue was measured using the OFER instrument, sleep quality using PSQI, psychosocial factors using COPSOQ III, and human performance was assessed through at-risk behavior indicators. Data were analyzed using regression analysis to examine the relationships between variables. The results showed a significant relationship between chronic fatigue and human performance among workers at PT X (p = 0.008), with a regression coefficient of -13.11, indicating that an increase in chronic fatigue is associated with a decrease in human performance scores. The most dominant factors associated with chronic fatigue were poor sleep quality (OR = 5.83; 95% CI: 1.73–19.63), high job demands (OR = 4.43; 95% CI: 1.31–14.90), and inappropriate workplace temperature (OR = 4.69; 95% CI: 1.11–19.88), all of which showed significant relationships with chronic fatigue. These findings indicate that occupational fatigue among workers is a multifactorial condition influenced by the interaction of individual, job-related, and environmental factors, and is associated with human performance.
Read More
T-7697
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alya Hanifah; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Abdul Kadir, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:

Stres kerja adalah respon buruk seseorang secara fisik maupun emosional, ketika kompetensi pekerja tidak mampu memenuhi tuntutan pekerjaan yang diberikan. Berdasarkan penelitian terdahulu, pekerja di industri garmen juga memiliki risiko mengalami stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko psikosisal dengan kejadian stres kerja pada pekerja PT X, sebuah perusahaan garmen di Semarang, Jawa Tengah. Faktor yang diteliti antara lain faktor individu, faktor konten kerja, faktor konteks kerja, dan faktor effort-reward. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan desain studi the explanatory sequential. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan penyebaran kuesioner dan wawancara dilakukan untuk pengumpulan data kualitatif. Pengolahan data menggunakan uji chi-square dengan software SPSS 27.0 untuk mengetahui apakah ada hubungan yang siginifikan antara variabel independen dengan variabele dependen. Berdasarkan uji statistik, didapatkan prevalensi stres kerja sebesar 24,9% pada responden secara keseluruhan, sebesar 26,5% pada tim produksi, dan 18,2% pada tim supporting. Variabel yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja secara keseluruhan antara lain: lingkungan dan peralatan kerja (p= 0,004); desain tugas (p= 0,042); beban kerja (p= 0,001); jadwal kerja (p= 0,001); pengembangan karir (p= 0,001); hubungan interpersonal (p= 0,034); status pernikahan (p= 0,003); dan effort-reward (p= 0,002). Oleh karena itu, perlu dilakukan tindak lanjut berupa penerapan manajamen stres kerja dari tingkat manajemen, terutama pada faktor yang berhubungan dengan stres kerja, untuk mencegah kejadian stres kerja yang lebih besar.


Work-related stress was an bad someone physically or emotionally, when workers ability unable to meet the demands of jobs provided. Based on the research before, workers in the garment industry also have  the risk of experiencing work stress. This study attempts to analyze the relationship between the psychosocial risk factors with work stress on workers PT X, a garment company in Semarang, Central Java. The individual factors, the content of work factors, the context of work factors, and the effort-reward factors was included in this study. Mixed method were used with the explanatory sequential design study. Quantitative data collected by using questionnaire and interviews performed for qualitative data collection. Data processing uses a chi-square test with software SPSS 27.0 to analyze if there's any significant connection between independent variables and dependent variable. By statistical test, prevalence of work stress prevalence is 24.9 % on all respondents, 26.5 % on production team, and 18.2 % on supporting team. Variables associated with work stress include: environment and work equipment (p = 0.004 ); task design (p = 0,042 ); workload (p = 0.001 ); work schedule (p = 0.001 ); career development (0.001 ); interpersonal relationship (p = 0.034 ); marital status (= 0.003); and effort-reward factor (p = 0,00). Based on this research, the company needs to implemented stress management program, especially on the factors associated with work stress, to prevent more stress from happening. Keyword: work stress, psychosocial risk factor, the garment company, production team, supporting team 

Read More
S-11817
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Anindya Kusumaputri; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Abdul Kadir, Julia Rantetampang
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko terkait tingkat stres kerja pada pekerja dengan sistem kerja hibrida di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Penelitian ini melibatkan 116 responden dengan pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner. Hasil analisis chi-square menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat stres kerja dengan desain tugas yang buruk (p value = 0,001; OR = 3,875), beban kerja yang berat (p value = 0,033; OR = 2,273), lingkungan kerja yang buruk (p value = 0,004; OR = 3,033), dan overcommitment (p value = 0,006; OR = 2,919). Sistem kerja hibrida dapat mendorong sifat overcommitment serta meningkatkan beban kerja. Selain itu, diperlukan penyesuaian terkait desain tugas yang dikerjakan selama bekerja hibrida dan pemilihan lingkungan kerja yang sehat dan nyaman. Berdasarkan temuan ini, disarankan untuk dilakukan evaluasi dan penyesuaian beban kerja serta desain tugas, pemberian pedoman terkait lingkungan kerja yang baik untuk bekerja secara hibrida, dan membangun budaya kerja yang memiliki batasan yang sehat antara pekerjaan dan personal.

This study aimed to analyze the risk factors associated with work-related stress levels among employees working under hybrid work system in the DKI Jakarta Province. This Study employed a quantitative approach with a cross-sectional study design. The results of the chi-square analysis indicated significant associations between work-related stress levels and poor task design (p value = 0,001; OR = 2,919), heavy workload (p value = 0,033), poor work environment (p value = 0,004; OR = 3,033) and overcommitment (p value = 0,006; OR = 2,919). A hybrid work system may encourage overcommitment and increase workload. In addition, adjustments to task design during hybrid work and the selection of a healthy and comfortable work environment are necessary. Based on these findings, it is recommended to evaluate and adjust workload and task design, provide guidelines on creating a suitable work environment for hybrid work, and foster a work culture that promotes healthy boundaries between work and personal life.
Read More
S-12426
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sherin Salsabila Ramadhanty; Pembimbing: Laksita Ri Hastiti; Penguji: Baiduri Widanarko, Julia Rantetampang
Abstrak:
Commuting merupakan aktivitas rutin para komuter termasuk pekerja di sektor perkantoran yang setiap hari melakukan mobilitas ulang-alik sehingga menimbulkan potensi kelelahan dan berdampak pada penurunan produktivitas kerja serta peningkatan human error bahkan kecelakaan kerja, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko kelelahan kerja pada pekerja komuter di sektor perkantoran yang melakukan mobilitas ulang-alik (commuting) menuju/pulang ke/dari tempat kerja di wilayah Jakarta Selatan pada tahun 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sebanyak 233 responden berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner. Pengumpulan data menggunakan adaptasi dari instrumen Subjective Self Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, dan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Setelah itu, analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pekerja komuter di sektor perkantoran 36,9% mengalami kelelahan ringan dan 63,1% mengalami kelelahan sedang-sangat tinggi. Faktor risiko yang berhubungan signifikan ditemukan pada faktor risiko tidak terkait pekerjaan, diantaranya waktu tempuh, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: <0,001), moda transportasi utama, baik berangkat (p-value: 0,005) dan pulang (p-value: 0,007), peran komuter (p-value: 0,002), jumlah penggunaan moda transportasi, baik berangkat (p-value: 0,014) dan pulang (p-value: 0,005), jenis kelamin (p-value: 0,033), dan tingkat pendidikan (p-value: 0,006). Dengan demikian, diperlukan adanya upaya pencegahan dan pengendalian kelelahan kelelahan yang komprehensif oleh perusahaan termasuk pemerintah melalui kebijakan dan program manajemen kelelahan. Penerapan kebijakan buffer time, monitoring kelelahan, peningkatan kualitas tidur, dan penyediaan prasarana istirahat dapat berkontribusi menurunkan risiko kelelahan. Kata kunci: Kelelahan Kerja, Faktor Risiko Kelelahan, Commuting, Pekerja Komuter, Perkantoran

Commuting is a routine activity for commuters, including office workers who travel back and forth every day, which can lead to fatigue and result in decreased work productivity, increased human error, and even workplace accidents. This study aims to analyze the risk factors for work-related fatigue among office workers who commute back and forth to and from their workplace in the South Jakarta area in 2026. The study employs a quantitative approach with a cross-sectional study design. A total of 233 respondents participated in this study by completing a questionnaire. Data collection utilized adaptations of the Subjective Self-Rating Test (SSRT), NASA Task Load Index (NASA-TLX), Perceived Stress Scale (PSS)-10, and International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Subsequently, data analysis employed the Chi-Square test. The results showed that 36.9% of office sector commuters experienced mild fatigue and 63.1% experienced moderate to very high fatigue. Significant risk factors were identified among non-work-related risk factors, including travel time—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: <0.001)—and primary mode of transportation—both for the trip to work (p-value: 0.005) and return trips (p-value: 0.007), commuter role (p-value: 0.002), number of mode of transportation use, both for the trip to work (p-value: 0.014) and return trips (p-value: 0.005), gender (p-value: 0.033), and educational level (p-value: 0.006). Thus, comprehensive efforts to prevent and control fatigue are needed by companies, including the government, through fatigue management policies and programs. The implementation of buffer time policies, fatigue monitoring, improved sleep quality, and the provision of rest facilities can contribute to reducing the risk of fatigue. Keywords: Fatigue, Risk factors for fatigue, Commuting, Commuting workers, Office workers
Read More
S-12276
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive