Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Evie Kemala Dewi; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Fetrina Lestari, Rizal Pahlevi Hilabi
Abstrak:
Pekerja di sektor perkantoran, khususnya industri penerbitan, seperti editor buku, setter, desainer grafis, dan staf administrasi rentan mengalami gangguan muskuloskeletal (MSD) akibat posisi kerja statis, penggunaan komputer yang intensif, dan desain workstation yang kurang ergonomis. Namun, penelitian mengenai ergonomi di industri penerbitan di Indonesia masih terbatas dan perlu dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko ergonomi yang memengaruhi keluhan gangguan muskuloskeletal pada editor buku, setter, desainer grafis, dan staf administrasi di Penerbit X tahun 2025 serta memberikan rekomendasi kegiatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode proportional random sampling. Jumlah sampel yang didapatkan yaitu 86 orang. Untuk mengukur keluhan gangguan muskuloskeletal menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM), dan untuk mengukur postur kerja menggunakan Rapid Rapid Office Strain Assesment (ROSA). Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan nilai p <0,05. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat 54,7% responden mengalami keluhan gangguan muskuloskeletal. Keluhan terbanyak yang dirasakan responden yaitu daerah leher (85%), bahu (69%), punggung bawah (67%), punggung atas (60%), dan pergelangan tangan (52%). Sebagian besar skor ROSA responden <5, tetapi masih ada responden yang mendapatkan skor ≥5 (26,7%). Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia responden (>28 tahun) dan keluhan gangguan muskuloskeletal, dengan nilai p = 0,041. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara postur kerja dan keluhan gangguan muskuloskeletal (p = 0,016). Masa kerja responden (>5 tahun) juga berhubungan dengan keluhan gangguan muskuloskeletal (p = 0,004). Selanjutnya, ditemukan pula hubungan antara kepuasan kerja responden dan keluhan gangguan muskuloskeletal, dengan nilai p = 0,034. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa keluhan gangguan muskuloskeletal pada pekerja di Penerbit X berhubungan dengan usia, postur kerja, masa kerja, dan kepuasan kerja.

Office workers, particularly those in the publishing industry such as book editors, setters, designers, and administrative staff, are prone to experiencing musculoskeletal disorders (MSDs) due to static working postures, intensive computer use, and poorly designed workstations. However, research on ergonomics in the publishing industry in Indonesia remains limited and requires further investigation. This study aims to analyze ergonomic risk factors that influence musculoskeletal complaints among book editors, setters, designers, and administrative staff at Publisher X in 2025, and to provide recommended interventions. This research employs a quantitative approach with a cross-sectional study design. Samples were selected using proportional random sampling, resulting in a total of 86 respondents. Musculoskeletal complaints were measured using the Nordic Body Map (NBM) questionnaire, while working postures were assessed using the Rapid Office Strain Assessment (ROSA) method. Data were analyzed using the Chi-square test with a significance level of p < 0.05. The results showed that 54.7% of respondents reported musculoskeletal complaints. The most frequently reported areas of discomfort were the neck (85%), shoulders (69%), lower back (67%), upper back (60%), and wrists (52%). Although most respondents had ROSA scores of less than 5, there were still some respondents with scores ≥5 (26.7%). This study found a significant association between respondents' age (>28 years) and musculoskeletal complaints, with a p-value of 0.041. Additionally, there was a significant relationship between working posture and musculoskeletal complaints (p = 0.016). The respondents’ length of service (>5 years) was also significantly associated with musculoskeletal complaints (p = 0.004). Furthermore, job satisfaction was found to be significantly related to musculoskeletal complaints (p = 0.034). Based on these findings, it can be concluded that musculoskeletal complaints among workers at Publisher X are associated with age, working posture, length of service, and job satisfaction.

Read More
T-7353
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bintang Dwi Putro; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Adrianus Pangaribuan, Afif Mauludi
Abstrak:
Peran serta sumber daya manusia dalam menurunkan kejadian kecelakaan kerja sangat dibutuhkan. Partisipasi pekerja dalam melaporkan setiap kejadian kecelakaan kerja sangat diharapkan, guna mengantisipasi terjadinya kecelakaan kerja terulang kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan program pelaporan bahaya. Metode penelitian yang digunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel yang diambil sebanyak 166 yang merupakan pekerja transmisi PT Q. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan skala likert. Analysis data menggunakan analisis univariate dan bivariate dengan bantuan aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceptions, attitude, individual backgrounds dalam kondisi Baik. Sedangkan management, working environment, working methods, daily activities dan program pelaporan bahaya dalam kondisi Sangat Baik Dari 15 pernyataan variabel perceptions 10 pernyataan berhubungan dengan program pelaporan bahaya.  Terdapat hubungan antara variabel perceptions dengan program pelaporan bahaya. Tidak terdapat hubungan antara variabel attitude, individual backgrounds dengan program pelaporan bahaya pada pekerja transmisi di PT Q. Terdapat hubungan antara variabel management dan working environment dengan program pelaporan bahaya. Terdapat hubungan antara variabel working methods dan daily activities dengan program pelaporan bahaya. Dapat disimpulkan bawah hanya 1 variabel pada faktor person yaitu perception yang berhubungan dengan program pelaporan bahaya. Semua variabel pada faktor situations dan behaviors berhubungan dengan program pelaporan bahaya

The role of human resources in reducing the incidence of workplace accidents is essential. Worker participation in reporting every workplace accident is highly recommended to prevent recurrence. This study aims to identify factors related to hazard reporting programs. The research method used is quantitative with a descriptive approach cross sectional study. The sample taken was 166 workers who were transmission workers of PT Q. The data collection technique used a questionnaire with a likert scale. Data analysis using analysis univariate and bivariate with used SPSS application. The results of the study show that perceptions, attitude, and individual backgrounds are in good condition. Whereas management, working environment, working methods, daily activities and hazard reporting program in Very Good condition from 15 variable statementsperceptions10 statements related to the hazard reporting program. There is a relationship between the variablesperceptionswith the hazard reporting program. There is no relationship between the variable attitude, individual backgrounds with the hazard reporting program for transmission workers at PT Q. There is a relationship between the variablesmanagement and working environment with the hazard reporting program. There is a relationship between the variable working methods and daily activities with the hazard reporting program. It can be concluded that only one variable in the person factor, perception, is related to the hazard reporting program. All variables in the situations and behaviors factors are related to the hazard reporting program
Read More
T-7464
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kevin Akhira Nofsi; Pembimbing: Abdul Kadir; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Nida Hanifah Nasir
Abstrak:
Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan keluhan yang umum terjadi pada pekerja. Salah satu pekerja yang memiliki risiko tinggi untuk terpajan MSDs Adalah sopir bus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) selama mengemudi pada sopir bus PT Transport Express Jaya tahun 2025. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan pendekatan deskriptif analitik. Responden pada penelitian ini terdiri dari 40 orang pekerja yang merupakan sopir bus PT Transport Ekspress Jaya. Data dikumpulkan melalui pengukuran langsung dan menggunakan kuesioner yang disebar kepada pekerja. Analisis statistik yang digunakan adalah uji analisis deskriptif dan analisis korelasi chi-square dan menganalisis hasil Odds Ratio (ORD) menggunakan perangkat lunak IBM SPSS. Hasil analisis Uji Chi Square menunjukkan adanya hubungan signifikan pada salah satu faktor yaitu aktivitas fisik (P-value <0,05), sementara itu faktor individu seperti usia, IMT, konsumsi rokok, dan masa kerja memiliki hubungan yang tidak signifikan terhadap gejala MSDs (P-value >0,05). Faktor pekerjaan seperti durasi, frekuensi, tipe kendaraan dan jarak juga memiliki hubungan yang tidak signifikan terhadap gejala MSDs (P-value >0,05). Analisis juga menggunakan ukuran Odds Ratio (OR) dan interval kepercayaan 95% (CI 95%)

Musculoskeletal Disorders (MSDs) are common complaints among workers. One occupational group with a high risk of MSD exposure is bus drivers. This study aimed to analyze factors associated with Musculoskeletal Disorder (MSD) complaints during driving among bus drivers of PT Transport Express Jaya in 2025. This study employed a cross-sectional design with a descriptive analytic approach. The respondents consisted of 40 bus drivers employed by PT Transport Express Jaya. Data were collected through direct measurements and questionnaires distributed to the workers. Statistical analysis included descriptive analysis and chi-square correlation analysis, as well as the calculation of Odds Ratios (OR) using IBM SPSS software. The results of the chi-square test showed a significant association for one factor, namely physical activity (p-value < 0.05). Meanwhile, individual factors such as age, body mass index (BMI), smoking consumption, and length of service showed no significant association with MSD symptoms (p-value > 0.05). Work-related factors, including driving duration, driving frequency, vehicle type, and travel distance, also showed no significant association with MSD symptoms (p-value > 0.05). The analysis also included the calculation of Odds Ratios (OR) and 95% confidence intervals (95% CI).
Read More
S-12159
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riyan Saputra ; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Ab,dul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ridha Renaldi, Swadexi Istiqphara
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor risiko psikososial pada tiga arena kehidupan (individu, pekerjaan, dan rumah) serta hubungannya dengan tingkat distres kerja pada operator PT XX tahun 2026. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi crosssectional, penelitian ini melibatkan 161 operator tambang batubara di Kalimantan Timur yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang diadaptasi dari Permenaker No. 5 Tahun 2018, Effort-Reward Imbalance (ERI), dan Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ). Hasil analisis universitas menunjukkan bahwa mayoritas operator (83,23%) memiliki tingkat distres kerja yang rendah, sementara 16,77% sisanya mengalami tingkat distres tinggi. Hasil analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda metode backward elimination menunjukkan bahwa faktor prediktor utama yang paling dominan terhadap tingkat distres kerja tinggi adalah masalah tidur dari arena rumah dengan nilai Odds Ratio sebesar 11,58 (OR = 11,585). Faktor prediktor kuat berikutnya adalah perilaku menyerang (workplace bullying) dari arena pekerjaan dengan nilai Odds Ratio sebesar 4,05 (OR = 4,053). Manajemen perusahaan disarankan mengoptimalkan program intervensi kesehatan mental, penataan jadwal kerja untuk manajemen fatigue, serta penerapan kebijakan nol toleransi terhadap perundungan guna meminimalkan risiko operasional.

This study aims to analyze various psychosocial risk factors across three life domains (individual,  work, and home) and their relationship with job distress levels among operators at PT XX in 2026.  Employing a quantitative approach with a cross-sectional study design, this research involved 161  coal mining operators in East Kalimantan selected through a purposive sampling technique.  Primary data collection was conducted using structured questionnaires adapted from the Minister  of Manpower Regulation (Permenaker) No. 5 of 2018, the Effort-Reward Imbalance (ERI), and  the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ). Univariate analysis results indicated that  the majority of operators (83.23%) experienced low levels of job distress, while the remaining  16.77% suffered from high distress levels. Multivariate analysis using multiple logistic regression  with the backward elimination method revealed that the most dominant primary predictor for high  job distress was sleep problems from the home domain, with an Odds Ratio of 11.58 (OR =  11.585). The next strong predictor was offensive behavior (workplace bullying) from the work  domain, with an Odds Ratio of 4.05 (OR = 4.053). Company management is advised to optimize  mental health intervention programs, restructure work schedules for fatigue management, and  implement a zero-tolerance policy against bullying to minimize operational risks.
Read More
T-7559
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Dyah Sharifa; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Didik Triwibowo
S-12349
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yeny Angdriani; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Hanny Harjulianti, Alexander H. M. Sinaga
Abstrak:
Perawat yang bertugas di rumah sakit merupakan profesi yang banyak terpapar oleh bahaya psikososial di lingkungan kerja, yang dapat menyebabkan distres. Dibutuhkan mekanisme koping perawat untuk dapat menghadapi bahaya psikososial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor psikososial dan strategi mekanisme koping dalam mengatasi distres kerja perawat di rumah sakit. Menggunakan desain studi cross sectional dengan pendekatan deskriptif semikuantitatif. Data primer didapat melalui survei dan wawancara mendalam, yang akan dianalisis menggunakan mixed methods. Sedangkan pengumpulan data sekunder berupa profil Rumah Sakit X, struktur organisasi dan sistem pelayanan, data jumlah perawat berdasarkan unit kerja, jumlah pasien 3 tahun terakhir. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik individu (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawinan, masa kerja, unit kerja), karakteristik pekerjaan (tuntutan kuantitatif, tuntutan emosional, kecepatan kerja, kontrol atas waktu kerja, kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, kualitas kepemimpinan, kejelasan peran, dukungan sosial dari supervisor, dukungan sosial dari rekan kerja, konflik peran, konflik kehidupan dan kerja, keadilan organisasi), serta mekanisme koping (problem focused coping, emotional focused coping, koping maladaptif). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stresor sebagian besar perawat berupa kecepatan kerja tinggi, kejelasan peran rendah, kualitas kepemimpinan rendah, dan dukungan dari atasan yang rendah. Namun demikian sebagian besar perawat menggunakan problem focused coping. Variabel jenis kelamin dan kesempatan mengembangkan keterampilan yang berhubungan signifikan dengan mekanisme koping, sedangkan karakteristik individu dan faktor psikososial lainnya tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Temuan ini mengindikasikan bahwa mekanisme koping perawat tidak hanya dipengaruhi oleh faktor psikososial yang diukur, tetapi oleh proses penilaian terhadap stresor, sumber daya berupa kemampuan adaptasi perawat serta dukungan dari rekan kerja dan keluarga. Secara keseluruhan, perawat di Rumah Sakit X mampu mempertahankan mekanisme koping yang adaptif, namun penguatan dukungan organisasi dan pengelolaan risiko psikososial tetap diperlukan untuk mencegah distres kerja berkepanjangan dan mendukung kesejahteraan perawat.

Nurses working in hospitals are a profession frequently exposed to psychosocial hazards in the workplace, which can cause distress. Nurses require coping mechanisms to cope with these risks. This study aims to identify psychosocial factors and coping strategies for managing nurses’ occupational distress in hospitals. A cross-sectional study design with a semi quantitative descriptive approach was used. Primary data were obtained through surveys and in-depth interviews, which were analyzed using mixed methods. Secondary data collection included Hospital X’s profile, organizational structure and service system, data on the number of nurses by work unit, and the number of patients over the past three years. The variables studied include individual characteristics (age, gender, education level, marital status, length of service, work unit), job characteristics (quantitative demands, emotional demands, work pace, control over work time, opportunities to develop skills, leadership quality, role clarity, social support from supervisors, social support from coworkers, role conflict, work-life conflict, organizational justice), and coping mechanisms (problem focused coping, emotional focused coping, maladaptive coping). Data analysis was carried out using univariate, bivariate, and qualitative data. The results of the study indicate that stressors for most nurses include high work pace, low role clarity, low leadership quality, and low support from superiors. However, most nurses use problem focused coping. Gender and the opportunity to develop skills were significantly related to coping mechanisms, while individual characteristics and other psychosocial factors dis not show a significant relationship. These findings indicate that nurses’ coping mechanisms are not only influenced by the psychosocial factors measured, but also by the process of assessing stressors, as well as resources in the form of nurses’ adaptability and support from colleagues and family. Overall, nurses at Hospital X were able to maintain adaptive coping mechanisms, but strengthening organizational support and managing psychosocial risks is still needed to prevent prolonged work distress and support nurses’ well-being.
Read More
T-7602
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Dipinta; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Abdul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, David Irianto, Dzanil Hikam Rofiqi
Abstrak:
Keluhan muskuloskeletal merupakan keluhan berupa nyeri, pegal, atau peradangan pada otot, sendi, tendon, ligamen, dan bagian tubuh lainnya yang berkaitan dengan sistem gerak. Sektor konstruksi memiliki risiko tinggi terhadap keluhan muskuloskeletal akibat aktivitas fisik berat, postur kerja janggal, gerakan berulang, pengangkatan manual, serta faktor lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko keluhan muskuloskeletal pada pekerja lapangan di proyek konstruksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional dan melibatkan 110 pekerja lapangan proyek konstruksi. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yaitu SNI 9011:2021 dan COPSOQ III serta observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan 65 (59,1%) mengalami keluhan muskuloskeletal risiko rendah dan 45 (40,9%) mengalami keluhan muskuloskeletal risiko sedang-tinggi. Bagian tubuh yang paling banyak dikeluhkan nyeri yaitu leher (90%), punggung bawah (73%), dan bahu kanan (62%). Faktor yang berhubungan dengan keluhan muskuloskeletal adalah usia (p=0,045), pengalaman kerja (p=0,008), postur kerja (p=0,018), gerakan berulang (p=0,011), beban kerja (p=0.030), manual handling (p=0,001), getaran (p=0,002), dan keamanan kerja (p=0,027). Faktor yang paling kuat berhubungan terhadap keluhan muskuloskeletal adalah gerakan berulang (p=0,002), beban kerja (p=0,026), keamanan kerja (p=0,021), dan getaran (p=0,005). Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan perlunya untuk melakukan pencegahan dan pengendalian faktor risiko ergonomi di tempat kerja untuk mengurangi keluhan muskuloskeletal pada pekerja lapangan di proyek konstruksi.

Musculoskeletal complaints refer to complaints involving pain, soreness, or inflammation in the muscles, joints, tendons, ligaments, and other components of the musculoskeletal system. The construction sector has a high risk of musculoskeletal complaints due to heavy physical activity, awkward work postures, repetitive movements, manual lifting, and work environment factors. This study aims to analyze the risk factors associated with musculoskeletal complaints among field workers in construction projects. A quantitative approach with a cross-sectional study design was employed, involving 110 construction project field workers. Data were collected through field observations and structured questionnaires, specifically SNI 9011:2021 and COPSOQ III. The results showed that 65 (59.1%) experienced low-risk musculoskeletal complaints and 45 (40.9%) experienced moderate-high risk musculoskeletal complaints. The body parts most frequently complained of pain were the neck (90%), lower back (73%), and right shoulder (62%). Factors associated with musculoskeletal complaints were age (p=0.045), work experience (p=0.008), work posture (p=0.018), repetitive movements (p=0.011), workload (p=0.030), manual handling (p=0.001), vibration (p=0.002), and work safety (p=0.027). The factor with the strongest association with musculoskeletal complaints were repetitive movements (p=0.002), workload (p=0.026), job security (p=0.021), and vibration (p=0.005). Based on the results of this study, it shows the need to prevent and control ergonomic risk factors in the workplace to reduce musculoskeletal complaints in field workers in construction projects.
Read More
T-7689
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Fatma Lestari, Eko Pudjadi
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Kualitas Udara di Dalam Ruangan Pusat Perbelanjaan Y, Kota Depok, Tahun 2014 dengan melakukan pengukuran tingkat pajanan parameter fisik dan konsentrasi kontaminan kimia. Desain penelitian bersifat deskriptif analisis dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian kuantitatif dilakukan melalui pengukuran tingkat pajanan parameter fisik dan konsentrasi kontaminan kimia udara dengan cara grab sampling menggunakan direct reading intrument. Penelitian kualitatif dilakukan melalui wawancara terstruktur kepada pekerja dengan keluhan subjektif sick building syndrome. Hasil dan kesimpulan dari penelitian ini adalah, parameter kualitas udara di dalam ruangan yang melewati nilai ambang batas adalah lain suhu, kelembaban, CO, SO2, PM2.5, dan PM10. Kata Kunci: Konsentrasi kontaminan kimia; Kualitas udara di dalam ruangan; Pusat perbelanjaan; Tingkat pajanan parameter fisik. This study aims to overview the Indoor Air Quality in Shopping Center Y, Depok, 2014 by measuring the physical exposure level and chemical contaminants concentration. The design study is descriptive analysis with cross-sectional approach. Quantitative research conducted by measuring the physical exposure level and chemical contaminant concentrations by grab sampling using direct reading instruments. Qualitative research conducted through structured interviews to workers with sick building syndrome subjective complaints. The results and conclusions of this research is, the indoor air quality parameters that pass the threshold value is temperature, humidity, CO, SO2, PM2.5, and PM10. Keywords: Chemical contaminants concentration; Indoor air quality; Physical exposure level; Shopping center.
Read More
S-8562
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Fathir Aksa Majda; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ovvyasa Wayka Putri
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelelahan dan faktor risiko kelelahan (fatigue)
pada pekerja konstruksi di Proyek A PT XYZ tahun 2025. Faktor terkait pekerjaan yang
diteliti mencakup waktu kerja, beban kerja, shift kerja dan lingkungan kerja. Sedangkan,
faktor tidak terkait pekerjaan yang diteliti mencakup usia, status gizi, kualitas tidur,
kuantitas tidur, kebiasaan merokok, konsumsi kafein, dan commuting time (waktu
perjalanan). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross
sectional dan dilaksanakan pada Februari – Juni 2025 di Proyek A PT XYZ.
Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang mencakup identitas responden,
Fatigue Assessment Scale for Construction Workers (FASCW), NASA Task Load Index
(NASA TLX) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Jumlah responden dalam
penelitian ini adalah sebanyak 78 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 36
responden (46,2%) mengalami kelelahan, sedangkan 42 responden (53,8%) tidak
mengalami kelelahan. Berdasarkan analisis inferensial menggunakan uji Chi-Square,
diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara shift kerja (p-value = 0,024;
OR = 0,227) dan usia (p-value = 0,024; OR = 3,000) dengan kelelahan pada pekerja
konstruksi di Proyek A PT XYZ.


This study aims to analyze fatigue and the risk factors associated with fatigue among  construction workers at Project A, PT XYZ, in 2025. Work-related factors examined  include working hours, workload, work shifts, and work environment. Meanwhile, non work-related factors analyzed include age, nutritional status, sleep quality, sleep quantity,  smoking habits, caffeine consumption, and commuting time. This research employs a  quantitative approach with a cross-sectional study design, conducted from February to  June 2025 at Project A, PT XYZ. Data collection was carried out using a questionnaire  covering respondent identity, the Fatigue Assessment Scale for Construction Workers  (FASCW), NASA Task Load Index (NASA TLX), and Pittsburgh Sleep Quality Index  (PSQI). The total number of respondents in this study was 78. The results showed that 36  respondents (46.2%) experienced fatigue, while 42 respondents (53.8%) did not. Based  on inferential analysis using the Chi-Square test, a significant relationship was found  between work shifts (p-value = 0.024; OR = 0.227) and age (p-value = 0.024; OR = 3.000)  and fatigue among construction workers at Project A of PT XYZ.

Read More
S-12047
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arya Pandu Mahardhika; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Taqwa Logika Utama
Abstrak:
Sindrom metabolik menurut Joint Interim Statement (JIS) merupakan kumpulan faktor risiko yang saling terkait untuk penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2 yang ditandai oleh adanya 3 dari 5 faktor risiko, yaitu obesitas sentral, kadar trigliserida tinggi, HDL kolesterol rendah, hipertensi, dan hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor risiko sindrom metabolik yang terdiri dari faktor lingkungan (lokasi kerja, tempat tinggal), faktor perilaku (kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, durasi tidur), dan faktor gentik (usia, riwayat penyakit keluarga) dengan kejadian sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY Kalimantan Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner secara online dan data komponen sindrom metabolik diperoleh dari hasil Medical Check Up (MCU). Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 105 responden, 22 responden (21%) mengalami sindrom metabolik. Faktor risiko yang berhubungan secara signifikan dengan sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY adalah usia (p-value = 0,001), sedangkan lokasi kerja, tempat tinggal, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, durasi tidur, dan riwayat penyakit keluarga tidak berhubungan secara signifikan dengan sindrom metabolik pada pekerja tambang di PT XY.


Metabolic syndrome, according to the Joint Interim Statement (JIS), is a cluster of interrelated risk factors for cardiovascular disease and type 2 diabetes, characterized by the presence of at least three out of five specific conditions: central obesity, elevated triglyceride levels, low HDL cholesterol, hypertension, and hyperglycemia. This study aims to analyze the relationship between risk factors for metabolic syndrome, including environmental factors (work location and place of residence), behavioral factors (smoking habits, physical activity, eating pattern, and sleep duration), and genetic factors (age and family history of disease), with the incidence of metabolic syndrome among mine workers at PT XY, East Kalimantan. A cross-sectional study design with a quantitative approach was employed. Primary data were collected through online questionnaires, while data on metabolic syndrome components were obtained from Medical Check-Up (MCU) results. The analysis revealed that among 105 respondents, 22 (21%) had metabolic syndrome. Among the assessed risk factors, only age was significantly associated with the incidence of metabolic syndrome (p = 0.001). Other factors, such as work location, place of residence, smoking habits, physical activity, eating pattern, sleep duration, and family history of disease, showed no significant association.
Read More
S-12095
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive