Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Shita Hayyuning Astiti; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Ascobat Gani, Wahyu Sulistiadi, Susi Setiawaty, Lina Zubaidah Hasanuddin
Abstrak:
Kompetensi menjadi salah satu hal yang penting bagi para pemimpin pelayanan kesehatan menjalankan fungsi manajemennya, dan salah satu cara mencapai kompetensi adalah dengan melakukan pelatihan. RS Hermina Karawang telah melakukan pelatihanpelatihan yang ditujukan kepada para manajer sejak awal berdirinya di tahun 2020. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebutuhan pelatihan untuk memenuhi kompetensi manajer di RS Hermina Karawang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan ACHE 2020 competencies assessment tool yang diisi oleh 10 manajer RS Hermina Karawang dan pengisiannya didampingi oleh peneliti, kemudian dilanjutkan dengan observasi dokumen terkait, wawancara mendalam, dan akhirnya memutuskan rekomendasi bagi RS Hermina Karawang melalui FGD yang dilakukan dengan beberapa informan tertentu. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa rumah sakit melakukan analisis kebutuhan pelatihan hanya berdasar penilaian subyektif atasan dan pemenuhan kewajiban jam diklat yang telah ditentukan oleh korporasi. Selain itu didapatkan kompetensi para manajer menurut ACHE 2020 masih ada yang belum kompeten, yaitu pada topik kompetensi komunikasi dan manajemen relasi serta topik keterampilan dan pengetahuan bisnis. Namun telah kompeten dalam topik kompetensi kepemimpinan, profesionalitas, dan pengetahuan lingkunan pelayanan kesehatan. Sehingga kesimpulan dalam penelitian ini para manajer membutuhkan pelatihan-pelatihan di bidang komunikasi dan manajemen relasi serta keterampilan dan pengetahuan bisnis dan diprioritaskan pelatihan dengan nilai rerata terendah. Pelatihan dalam topik kompetensi keterampilan dan pengetahuan bisnis adalah pelatihan dalam hal manajemen keuangan dan manajemen SDM, sedangkan pelatihan dalam topik kompetensi komunikasi dan manajemen relasi adalah pelatihan dalam hal fasilitasi dan negosiasi. Untuk rekomendasi jangka panjang sebaiknya RS Hermina Karawang menggunakan tool yang bisa digunakan untuk menganalisis kompetensi dan tentunya kebutuhan pelatihan sesuai dengan kebutuhan para manajer
Read More
B-2269
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dyani Kusumowardhani; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Anhari Achadi, Ede Surya Darmawan, Mohammad Syahril, Titi Anggraeni Nasution
Abstrak:
Kondisi pandemi Covid-19 memaksa semua rumah sakit untuk bekerja keras agar dapat memberi layanan terbaik pada penyakit baru ini. Salah satunya adalah mencari cara pelayanan yang seefisien mungkin tanpa mengurangi mutu pelayanan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana penerapan Lean Management dapat menjadi cara bagi Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr Sulianti Saroso (RSPI SS) untuk mencapai efisiensi pelayanan di Instalasi Perawatan Intensif (ICU). Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif observasional semi eksperimental dengan intervensi berupa perubahan alur pelayanan keperawatan. Data dikumpulkan melalui pengamatan langsung, Focus Group Discussion, dan wawancara mendalam. Dari penelitian didapatkan bahwa untuk menangani pasien Covid-19 di ICU RSPI SS, perbandingan perawat-pasien 1:1 masih sesuai. Prinsip dasar cara kerja yang terstandarisasi diterapkan dengan memodifikasi cara pembagian waktu melakukan pelayanan menjadi 2 grup dan pengaturan alur pelayanan keperawatan. Prinsip dasar lainnya yaitu Kaizen diterapkan dengan evaluasi dan penyempurnaan alur secara terus menerus. Berbagai metoda Lean, yaitu Visual Management, 5S, dan Kanban diterapkan di ICU RSPI SS, termasuk untuk pemantauan pasien serta penyiapan obat dan Alat Pelindung Diri. Keterbatasan area nurse station menjadi kendala kelancaran pekerjaan. Disarankan untuk memanfaatkan teknologi informasi semaksimal mungkin, mengkaji perubahan letak nurse station utama, serta menerapkan Lean Management di unit-unit pelayanan lainnya
Read More
B-2244
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Martini Heniastaty Patuwondatu; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Masyitoh Bashabih, Astried Yustika Rini, Savitri Gemini
Abstrak:
Ketidaksesuaian jumlah kesediaan perawat dengan perhitungan kebutuhan perawat merupakan suatu masalah yang perlu dikaji. Salah satunya dengan mengetahui beban kerja sebenarnya sebagai usaha peningkatan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit. Beban kerja yang tidak sesuai kemampuan perawat akan menyebabkan kelelahan, stress kerja hingga ketidakpuasan pasien yang dirawat. Penelitian ini menganalisa kebutuhan tenaga perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap Teratai berdasarkan beban kerja menggunakan time and motion study yang kemudian diolah berdasarkan metode WISN dan metode Ilyas. Penelitian secara observasional dilaksanakan selama 7 hari kepada 7 orang perawat pelaksana untuk mengetahui beban kerja perawat. Hasil penelitian memperoleh waktu produktif perawat 91% dari seluruh waktu kegiatan perawat. Beban kerja pada shif sore memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan shif pagi. Peneliti menyimpulkan beban kerja perawat di ruang rawat inap Teratai termasuk kategori berat dan memerlukan penambahan tenaga perawat. Pengalihan beberapa kegiatan keperawatan kepada professional lain sesuai tugas dan jabatannya dapat mengurangi beban kerja perawat. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan metode perhitungan kebutuhan perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam.
The discrepancy between the number of nurses' willingness and the calculation of nurse needs is a problem that needs to be studied. One of them is knowing the actual workload as an effort to improve the quality of nursing services in hospitals. Workloads that are not in accordance with the ability of nurses will cause fatigue, work stress and dissatisfaction of patients who being treated. This study analyzes the need for practical nurses in the Teratai Ward based on workload using time and motion studies which are then processed based on the WISN method and the Ilyas method. Observational research was carried out for 7 days to 7 nurses to determine the workload of nurses. The results of the study obtained that the productive time of nurses was 91% of the entire time of nurses' activities. The workload on the afternoon shift has a higher value than the morning shift. The researcher concludes that the workload of nurses in the Teratai ward is in the heavy category and requires additional nursing staff. Transfered of some nursing activities to other professionals according to their duties and positions can reduce the workload of nurses. Hoppely that this research can be a consideration indetermining the method of calculating the needs of nurses in the Inpatient Installation, Hospital of Badan Pengusahaan Batam
Read More
The discrepancy between the number of nurses' willingness and the calculation of nurse needs is a problem that needs to be studied. One of them is knowing the actual workload as an effort to improve the quality of nursing services in hospitals. Workloads that are not in accordance with the ability of nurses will cause fatigue, work stress and dissatisfaction of patients who being treated. This study analyzes the need for practical nurses in the Teratai Ward based on workload using time and motion studies which are then processed based on the WISN method and the Ilyas method. Observational research was carried out for 7 days to 7 nurses to determine the workload of nurses. The results of the study obtained that the productive time of nurses was 91% of the entire time of nurses' activities. The workload on the afternoon shift has a higher value than the morning shift. The researcher concludes that the workload of nurses in the Teratai ward is in the heavy category and requires additional nursing staff. Transfered of some nursing activities to other professionals according to their duties and positions can reduce the workload of nurses. Hoppely that this research can be a consideration indetermining the method of calculating the needs of nurses in the Inpatient Installation, Hospital of Badan Pengusahaan Batam
B-2234
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ni Putu Retno Ariani; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Masyitoh, Budiyono, I Made Chandra Ari Kumara
Abstrak:
Tenaga keperawatan merupakan salah satu tenaga kesehatan di baris terdepan dalam menangani pasien Covid-19, di mana meningkatnya jumlah kasus mempengaruhi beban kerja perawat. Tujuan penelitian mendeskripsikan dan mengidentifikasi beban kerja perawat di ruang ICU Covid-19 RSUD Cengkareng yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan Covid-19. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan observasi, data penelitian diambil melalui pengamatan langsung yang dilakukan selama kurun waktu 3 hari di ruang ICU Covid-19. Perhitungan beban kerja dan kebutuhan tenaga perawat menggunakan metode Ilyas dan Douglas. Pada penelitian ini didapatkan beban kerja perawat ICU Covid-19 sebesar 370,5159 jam dengan perhitungan kebutuhan tenaga perawat mencapai 68 orang yang menggunakan metode Ilyas, sedangkan dengan metode Douglas didapatkan kebutuhan perawat sebesar 48 orang. Dengan menghitung beban kerja dan kebutuhan tenaga perawat dapat digunakan dalam merencanakan sumber daya manusia
Read More
B-2218
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhammad Azwar; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Tris Eryando, R. Sutiawan, Maria Fransisca Antonelly Schoggers, Bambang Suberkah
Abstrak:
Penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, profesionalisme, kinerja, serta akses dan pelayanan pada rumah sakit. Informasi pada sistem tersebut digunakan oleh manajemen rumah sakit sebagai alat pendukung dalam pengambilan keputusan dan administrasi di rumah sakit. Evaluasi SIMRS diperlukan untuk memahami kinerja sistem agar dapat membantu meningkatkan kualitas perawatan dan biayanya, serta untuk menentukan keamanan dan efektivitas SIMRS. Keberhasilan implementasi SIMRS dipengaruhi oleh faktor manusia, faktor lingkungan, dan faktor teknologi. Metode evaluasi manfaat SIMRS terhadap faktor manusia, organisasi, dan kesesuaian teknologi (HOT-Fit) mampu dan berguna dalam melakukan studi evaluasi SIMRS secara menyeluruh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil implementasi SIMRS yang dianalisis menggunakan model Human Organization Technology (HOT) ? Fit di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Muhammad Jamaludin I. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan dipilih dengan cara purposive sampling sebanyak 6 orang, terdiri dari 5 orang yang berasal dari unit pelayanan dan 1 orang dari staf Informasi dan Teknologi (IT) di rumah sakit. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Hasil penelitian didapatkan secara umum implementasi penerapan SIMRS di RSUD Sultan Muhammad Jamaludin I telah berjalan baik dengan beberapa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Faktor Manusia menunjukkan bahwa penggunaan SIMRS telah bejalan baik dan kepuasan pengguna dirasakan terhadap sistem, namun masih dirasakan kurang dalam hal pemberian pelatihan kepada seluruh pengguna. Faktor Organisasi menunjukkan bahwa struktur organisasi dan lingkungan telah mendukung untuk pelaksanaan SIMRS, tetapi belum ada jadwal pemeliharaan rutin dan antivirus pada komputer dan jaringan SIMRS, dan kurangnya perangkat komputer serta belum ada Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk pelaksanaan SIMRS di unit-unit. Faktor Teknologi pada kualitas sistem masih terkendala gangguan koneksi jaringan akibat kendala sinyal internet dan belum dimanfaatkannya fitur keamanan, kualitas informasi yang dihasilkan telah sesuai dengan kebutuhan pengguna, dan kualitas layanan yang diberikan telah dirasakan baik namun belum disebarnya panduan dan buku pedoman penggunaan SIMRS di unit-unit. Faktor Manfaat SIMRS telah menunjukkan adanya efektivitas dan efisiensi bagi pengguna dan rumah sakit dalam pelaksanaannya. RSUD Sultan Muhammad Jamaludin I disarankan untuk membuat SPO dan menambah perangkat komputer dalam pelaksanaan SIMRS, meningkatkan pelatihan dan membagikan modul penggunaan SIMRS kepada seluruh pegawai di unit, serta menerapkan sistem keamanan di SIMRS.
Hospital Management Information System (SIMRS) implementation aims to improve efficiency, effectiveness, professionalism, performance, access and services at hospitals. Information on the system is used by hospital management as a supporting tool in decision making and administration at the hospital. SIMRS evaluation is needed to understand system performance in order to help improve the quality of care and costs, as well as to determine the safety and effectiveness of SIMRS. Successful implementation of SIMRS is influenced by human factors, environmental factors, and technological factors. Evaluation method of the SIMRS benefits on human factors, organization, and technology suitability (HOT-Fit) is capable and useful in conducting a comprehensive SIMRS evaluation study. The purpose of this study was to find out the results of SIMRS implementation with analyzed using the Human Organization Technology (HOT) ? Fit model at the Sultan Muhammad Jamaludin I Hospital. This research method was a qualitative research with a descriptive approach. Informants were selected by purposive sampling as many as 6 people, consisting of 5 people from the service unit and 1 person from Information and Technology (IT) staff at the hospital. Data collection was carried out through in-depth interviews, observation, and document review. The results of the study found that in general the implementation of SIMRS at Sultan Muhammad Jamaludin I Hospital has been going well with several obstacles encountered in its implementation. Human factors indicate that the use of SIMRS has been running well and user satisfaction have been felt with the system, but there is still a lack of training in providing training to all users. Organizational factors indicate that the organizational structure and environment have supported the implementation of SIMRS, but there is no routine maintenance schedule yet and no antivirus on SIMRS computers and networks, and there is a less of computer equipment and there is no Standard Operating Procedure for SIMRS implementation in units. Technological factors, system quality is constrained by network connection disturbances caused by internet signal problems and the security features has not utilized, the quality of information is in accordance with user needs, the quality of service has be perceived as good but the guidelines and manuals for the use of SIMRS in units have not been disseminated. SIMRS Benefit Factor has shown effectiveness and efficiency for users and hospitals in its implementation. Sultan Muhammad Jamaludin I Hospital recomended to make an SOP and add computer equipment number in the implementation of SIMRS, improve training and distribute SIMRS usage modules to all employees in the unit, and implement a security system in SIMRS.
Read More
Hospital Management Information System (SIMRS) implementation aims to improve efficiency, effectiveness, professionalism, performance, access and services at hospitals. Information on the system is used by hospital management as a supporting tool in decision making and administration at the hospital. SIMRS evaluation is needed to understand system performance in order to help improve the quality of care and costs, as well as to determine the safety and effectiveness of SIMRS. Successful implementation of SIMRS is influenced by human factors, environmental factors, and technological factors. Evaluation method of the SIMRS benefits on human factors, organization, and technology suitability (HOT-Fit) is capable and useful in conducting a comprehensive SIMRS evaluation study. The purpose of this study was to find out the results of SIMRS implementation with analyzed using the Human Organization Technology (HOT) ? Fit model at the Sultan Muhammad Jamaludin I Hospital. This research method was a qualitative research with a descriptive approach. Informants were selected by purposive sampling as many as 6 people, consisting of 5 people from the service unit and 1 person from Information and Technology (IT) staff at the hospital. Data collection was carried out through in-depth interviews, observation, and document review. The results of the study found that in general the implementation of SIMRS at Sultan Muhammad Jamaludin I Hospital has been going well with several obstacles encountered in its implementation. Human factors indicate that the use of SIMRS has been running well and user satisfaction have been felt with the system, but there is still a lack of training in providing training to all users. Organizational factors indicate that the organizational structure and environment have supported the implementation of SIMRS, but there is no routine maintenance schedule yet and no antivirus on SIMRS computers and networks, and there is a less of computer equipment and there is no Standard Operating Procedure for SIMRS implementation in units. Technological factors, system quality is constrained by network connection disturbances caused by internet signal problems and the security features has not utilized, the quality of information is in accordance with user needs, the quality of service has be perceived as good but the guidelines and manuals for the use of SIMRS in units have not been disseminated. SIMRS Benefit Factor has shown effectiveness and efficiency for users and hospitals in its implementation. Sultan Muhammad Jamaludin I Hospital recomended to make an SOP and add computer equipment number in the implementation of SIMRS, improve training and distribute SIMRS usage modules to all employees in the unit, and implement a security system in SIMRS.
B-2326
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Alkhamudi; Pembimbing: Jaslis, Ilyas; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Endang Adriyani, Amila Megraini
Abstrak:
Proses pengadaan pebekalan farmasi di RSUP Dr. Kariadi sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan perbekalan farmasi yang digunakanan untuk pelayanan kesehatan pada pasien. Proses tersebut dilaksanakan oleh Unit Layanan Pengadaan dan Pembayaran dilaksanakan oleh Bagian Perbendaharaan dan Mobilisasi Dana. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif riset operasional untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan proses pembayaran pengadaan perbekalan farmasi. Data sekunder diambil dari alur proses pembayaran pengadaan perbekalan farmasi. Data primer diperoleh dari informan yang terlibat dalam proses pengadaan perbekalan farmasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa waktu penyelesaian berita acara 20 hari, waktu pengajuan kuitansi tagihan 8 hari, verifikasi dokumen tagihan sampai pembayaran 9 hari. Faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan proses pembayaran antara lain Berita Acara Penerimaan Barang tidak segera dibuat, masih ditemukannya kesalahan penulisan dalam dokumen pengadaan maupun kuitansi tagihan, pembuatan dokumen-dokumen pengadaan belum dibantu dengan software yang untuk meningkatkan efisiensi pembuatan dokumen, belum pusatkan penyelesaian dokumen pengadaan.
Read More
B-1682
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suci Widya Primadhani; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Anhari Achadi, Aprizal, Galianti
Abstrak:
Read More
Latar belakang : Salah satu faktor penyebab waktu tunggu pasien rawat jalan melebihi 60 menit adalah keterlambatan waktu kedatangan dokter spesialis. Selain waktu tunggu, kepatuhan visite dokter spesialis merupakan indikator disiplin kerja yang dapat memengaruhi length of stay (LOS) pasien rawat inap. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karakteristik individu, kepuasan kerja terhadap disiplin kerja dokter spesialis di RSUD Cileungsi. Metode : Penelitian ini dilakukan dengan mix method kuantitatif dan kualitatif pendekatan cross sectional untuk menilai karakteristik individu, gambaran kepuasan kerja melalui kuisioner Job Satisfaction Survey Spector dan disiplin kerja melalui rekam absensi kepatuhan poli, visite dan kelengkapan administratif rekam medis dokter spesialis di RSUD Cileungsi. Hasil : Tidak terdapat pengaruh signifikan antara kepuasan kerja dan disiplin kerja dokter spesialis di RSUD Cileungsi. Berdasarkan penelitian kualitatif, didapatkan faktor yang mempengaruhi disiplin waktu khususnya kepatuhan poli adalah faktor individu, rekam medik yang belum tersedia, laboratorium yang belum ada hasil, dokter spesialis cenderung melakukan kegiatan lain seperti rapat, tindakan atau visite terlebih dahulu sebelum praktik poli. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa selain kepuasan kerja terdapat faktor lain yang memengaruhi disiplin kerja seperti waktu kedatangan dan jumlah tempat praktek.
ntroduction: One of the factor causing outpatients' waiting time is the delay in the specialist doctor's arrival time. In addition, adherence to doctors visit indicates work discipline that can affect the length of stay (LOS) of inpatients. Purpose: This study aims to determine the effect of individual characteristics and job satisfaction on the work discipline of specialists at RSUD Cileungsi. Methods: This research was conducted using a mix of methods (quantitative and qualitative analysis) with a cross-sectional design to assess individual characteristics, job satisfaction descriptions through the Job Satisfaction Survey Spector questionnaire, and work discipline through the records of compliance in visiting both outpatient and inpatient wards, and the completion of the medical record as an administrative form of work discipline. Results: There is no significant effect between job satisfaction and the work discipline of specialist doctors at Cileungsi Hospital. The qualitative research found that the factors that influence time discipline among specialist are individual factors, medical records and laboratory result test that are not yet available, and they prioritizing the other activities. Conclusion: This study concluded that there were another factors that affect work discipline beyond job statisfaction, such as travel time, the amount of practice places.
T-6527
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fitri Dwi Anggraini; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Anhari Achadi, Irma Rismayanty, Danyel Suryana
Abstrak:
Read More
Keselamatan adalah isu fundamental bagi rumah sakit, dimana keselamatan pasien merupakan prioritas utama karena berkaitan dengan kualitas dan nama baik rumah sakit. Pelaksanaan keselamatan pasien di rumah sakit dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor individu, faktor psikologis dan faktor organisasi. Pada tahun 2021, RSIA Bina Medika telah melakukan pengukuran budaya keselamatan pasien dimana diketahui bahwa budaya keselamatan pasien di RSIA Bina Medika masih tergolong rendah. Selain itu, pada tahun 2021 tercatat telah terjadi 37 insiden keselamatan pasien di RSIA Bina Medika, dimana tercatat telah terjadi 1 kejadian sentinel. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran penerapan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika pada tingkat individu dengan melakukan tela?ah dokumen Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui gambaran sikap petugas terhadap keselamatan pasien dan hubungannya, serta gambaran pengetahuan petugas terhadap keselamatan pasien dan hubungannya. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk menemukan strategi yang tepat yang harus dilakukan manajemen rumah sakit dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Penelitian ini adalah penelitian mix method dengan pendekatan cross-sectional, dimana dilakukan survei kuesioner terkait sikap (dengan SAQ-INA) dan pengetahuan, serta wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) dan tela?ah dokumen terkait termasuk OPPE bagian Keperawatan tahun 2021. Dari hasil penelitian diketahui bahwa 54% petugas menerapkan keselamatan pasien dengan baik. Lalu, diketahui bahwa 56% petugas bersikap negatif terhadap keselamatan pasien dan 78% petugas berpengetahuan baik. Tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap petugas dengan keselamatan pasien, begitu pula pengetahuan (p =1 dan p=0,08). Dari wawancara mendalam diketahui terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Dari FGD didapatkan berbagai strategi peningkatan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika yang akan diterapkan kedepannya. Dari keseluruhan penelitian ini diketahui bahwa penerapan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika masih belum baik karena terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika. Mayoritas petugas sudah berpengetahuan baik, namun masih banyak petugas yang bersikap negatif terhadap keselamatan pasien. Selain sikap dan pengetahuan, diketahui banyak faktor lainnya yang juga turut berkontribusi dalam pelaksanaan keselamatan pasien di RSIA Bina Medika.
Safety is a fundamental issue for hospitals, where patient safety is a top priority because it relates to hospital?s quality and reputation. The implementation of patient safety in hospitals is influenced by various factors, such as individual factor, psychological factor and organizational factor. In 2021, RSIA Bina Medika had measured patient safety culture where the result showed that patient safety culture at RSIA Bina Medika was still relatively low. In addition, in 2021 there was 37 patient safety incidents at RSIA Bina Medika, where 1 sentinel incident had been recorded. Therefore, this research was conducted to find out the description of the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika at individual level by conducting a review of the Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE) document. This study was also conducted to describe staff?s attitude towards patient safety and its relationship, as well as an overview of the staff's knowledge of patient safety and its relationship. In addition, this research was conducted to find the right strategy that hospital management must implement in order to improve patient safety at RSIA Bina Medika. This research was a mixed method research with a cross-sectional approach, in which a questionnaire survey was carried out regarding attitudes (with SAQINA) and knowledge, as well as in-depth interviews, Focus Group Discussion (FGD) and a review of related documents including the 2021 OPPE of Nursing section. The research results showed that 54% of staff implement patient safety well. Then, it was known that 56% of staff had a negative attitude towards patient safety and 78% of staff had good knowledge. There was no significant relationship between staff?s attitudes and patient safety, as well as knowledge (p = 1 and p = 0.08). From in-depth interviews it was known that there were several obstacles in implementing patient safety at RSIA Bina Medika. From the FGD, various strategies were obtained to improve patient safety at RSIA Bina Medika which will be implemented in the future. From all of this research it was known that the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika was still not good because there were several obstacles in implementing patient safety at RSIA Bina Medika. The majority of staffs had good knowledge, but there were still many staffs who had negative attitude towards patient safety. Apart from attitude and knowledge, it was known that there were many other factors that also contribute to the implementation of patient safety at RSIA Bina Medika.
B-2304
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Amelia Rizki Alrianti; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Puput Oktamianti, Masyitoh, Dwi Satrio, Mardiana Hayati Solehah
Abstrak:
Read More
Hemodialisis adalah terapi pengganti fungsi ginjal yang harus dijalani secara teratur dan jangka panjang, sehingga dapat mempengaruhi kualitas hidup. Berbagai faktor diduga berhubungan dengan kualitas hidup pasien hemodialisis yaitu faktor personal pasien (usia, jenis kelamin, pekerjaan, lama menjalani hemodialisis, tekanan darah, kadang Hb, akses vaskular), dan mutu pelayanan keperawatan. Tujuan penelitan ini untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien hemodialisis dan mutu pelayanan keperawatan unit hemodialisis di RSU "X" Kota Depok tahun 2022. Penelitian ini adalah mix methode kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif dilakukan melalui metode cross sectional dengan pemberian kuisioner kepada 34 responden yang termasuk ke dalam kriteria inklusi, guna menilai kualitas hidup (kuisioner WHOQoL-BREF), mutu pelayanan keperawatan, dan dukungan keluarga responden. Penelitian kualitatif menggunakan wawancara kepada pihak manajemen, perawat pelaksana hemodialisis, pasien hemodialisis, dan keluarga, lalu dilakukan telaah dokumen dan observasi. Hasil penelitian menunjukan mayoritas responden memiliki kualitas hidup baik (61,8%). Hasil statistik menunjukan hanya usia yang merupakan faktor personal yang memiliki hubungan signifikan dengan kualitas hidup. Mutu pelayanan keperawatan menunjukan belum optimal, dan tidak ada hubungan yang siginifikan antara mutu pelayanan keperawatan dengan kualitas hidup responden berdasarkan statistik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas hidup responden sudah baik, namun mutu pelayanan keperawatan unit hemodialisis belum optimal.
Hemodialysis is a replacement therapy for kidney function that must be undertaken regularly and long term, so it can be affect quality of life. Various factors are thought to be related to the hemodialysis patient quality of life, namely patients personal factors (age, gender, occupation, length of time undergoing if hemodialysis, blood pressure, Hb, vascular access), and quality of nursing service. The purpose of this research is to describe the hemodialysis patients quality of life at the "X" Hospital, Depok City in 2022. This study used mix quantitative and qualitative method by administering quitionnares to 34 respondents (WHOQoL-Bref Quitionnares), quality of nursing service, and the respondents family support. Qualitative research used interviews with management, hemodialysis nurses, hemodialysis patients and families, then document review and observation were carried out. The result showed that the majority of respondents had good quality of life (61,8%). The statiscal result show that only age is a personal factor that has significant relationship with quality of life. The quality of nursing service is not optimal, and there is no significant relationship between the quality of nursing service and the reapondent quality of life based on statistics. This study concluded that the respondents quality of life was good, but the quality of nursing service in hemodialysis unit was not optimal.
B-2301
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sugiarto; Pembimbing: Yaslis Ilyas; Penguji: Amal C. Sjaaf, Pujiyanto, Rahayu Astuti, Cori Tri Suryani
Abstrak:
Read More
Sistem kesehatan pada pandemi Covid-19 ini didorong untuk mampu beradaptasi untuk melakukan pemenuhan kebutuhan dalam penanganan penyakit tersebut. Sistem kesehatan dapat bertahan dengan dukungan sumber daya yang cukup di fasilitas kesehatan terutama adanya SDMK yang memadai, terlatih dan kompeten. RSCM merupakan fasilitas kesehatan rujukan nasional dan pendidikan. Dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, RSCM telah terakreditasi nasional dan internasional. Standar akreditasi mengutamakan keselamatan pasien sebagai prioritas utama dalam pelayanan yang diberikan. Salah satu penerapan keselamatan pasien di rumah sakit adalah dengan memastikan SDMK yang ada telah terkualifikasi, terlatih dan kompeten. SDMK yang terkualifikasi, terlatih dan kompeten dapat dilakukan pemberian penugasan klinis melalui proses kredensial yang merupakan syarat dalam akreditasi rumah sakit. Penugasan klinis yang diberikan merupakan rekomendasi penilaian kompetensi dari mitra bestari dalam memastikan SDMK yang terkualifikasi, terlatih dan kompeten berdasarkan portofolionya. Pemberian penugasan klinis diajukan melalui proses kredensial. Dan kredensial ini telah dilakukan pada kelompok medik dan perawat namun belum ada kebijakan penyelenggaraan kredensial SDMK kelompok lainnnya. Radiografer adalah salah satu SDMK yang melakukan pelayanan kesehatan pada pasien sehingga rumah sakit harus memastikan keselamatan pasien dengan penapisan SDMK yang ada di unit layanan. Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan penugasan klinis dalam proses kredensial, penetapan kompetensi, pengaruh penugasan klinis dalam penempatan, pengaruh penugasan klinis dalam jenjang karir dan pengaruh penugasan klinis dalam pengembangan kompetensi. Penelitian ini menggunakan teori Avedis Donabedian dengan variabel penugasan klinis yang mempengaruhi variabel penempatan, jenjang karir dan pengembangan kompetensi. Hasil penelitian didapatkan bahwa penugasan klinis Radiografer diberikan melalui proses kredensial, penetapan penugasan klinis menggunakan assessment kompetensi Radiografer, penempatan Radiografer yang diterapkan masih terdapat ketidaksesuaian dengan penugasan klinis yang diberikan, penugasan klinis Radiografer berdasarkan kompetensi dapat meningkatkan kompetensi dan insentif, dan pengembangan kompetensi tidak sepenuhnya dari penugasan klinis Radiografer yang diberikan. Kesimpulan didapatkan bahwa penerapan pemberian penugasan klinis Radiografer berdasarkan kompetensi dapat dilakukan kepada semua kelompok SDMK dengan menggunakan assessment kompetensi yang dapat diimplementasikan dalam penempatan, jenjang karir dan pengembangan kompetensi. Rekomendasi penelitian ini yaitu penyelenggaraan kredensial SDMK selain dokter dan perawat dalam pemberian penugasan klinis SDMK dapat dilakukan sehingga perlu adanya kebijakan yang mengatur dan memperkuat penyelenggaraan di fasilitas kesehatan. Kata kunci: Penugasan klinis, kredensial, Sumber Daya Manusia Kesehatan, kompetensi, Radiografer
The health system in the Covid-19 pandemic is encouraged to be able to adapt to meet the needs in the treatment of the disease. The health system can survive with the support of sufficient resources in health facilities, especially the availability of adequate, trained and competent human resources. RSCM is a national reference health and education facility. In improving the quality of health services, RSCM has been accredited nationally and internationally. Accreditation standards prioritize patient safety as a top priority in the services provided. One of the implementation of patient safety in the hospital is to ensure that the existing human resources are qualified, trained and competent. Qualified, trained and competent human resources can be given clinical assignments through a credential process which is a requirement in hospital accreditation. The clinical assignment provided is a competency assessment recommendation from a smart partner in ensuring that HR is qualified, trained and competent based on its portfolio. The award of clinical assignments is submitted through a credentialing process. And this credential has been done on the medical and nurse groups but there is no policy to implement the credentials of other groups' SDMK. Radiographer is one of the human resources who perform health services to patients so that the hospital must ensure the safety of patients by filtering the human resources in the service unit. This study aims to determine the application of clinical assignment in the credential process, competency determination, the influence of clinical assignment in placement, the influence of clinical assignment in career level and the influence of clinical assignment in competency development. This study uses Avedic Donabedian theory with clinical assignment variables that affect the variables of placement, career level and competency development. The results showed that the clinical assignment of radiographers is given through a credential process, the determination of clinical assignment using Radiographer competency assessment, the placement of Radiographers applied is still inconsistent with the clinical assignment given, clinical assignment based on competence can increase competence and remuneration, and competency development Radiographer clinical assignment given. The conclusion is that the application of Radiographer clinical assignment based on competence can be done to all groups of human resources by using competency assessment that can be implemented in placement, career level and competency development. The recommendation of this research is that the implementation of SDMK credentials other than doctors and nurses in the provision of clinical assignments of SDMK can be done so that there is a need for policies that regulate and strengthen the implementation in health facilities. Keywords: Clinical assignments, credentials, Health Human Resources, competencies, Radiographers
T-6434
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
