Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Athifa Asha Calista; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Latar Belakang: Osteoarthritis (OA) merupakan salah satu penyakit muskuloskeletal kronis yang berdampak pada kualitas hidup dan fungsi gerak, terutama pada kelompok usia lanjut. Fisioterapi menjadi salah satu layanan penting dalam penanganan OA, khususnya di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis utilisasi pelayanan rawat jalan fisioterapi pada peserta BPJS Kesehatan dengan diagnosis Osteoarthritis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian non-eksperimental dengan pendekatan kuantitatif berdasarkan data sekunder dari sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta dengan osteoarthritis (OA) memanfaatkan fisioterapi di FKRTL dengan frekuensi rendah (<8 sesi), yakni sebesar 88,6%. Seluruh variabel independen (karakteristik peserta dan pelayanan) memiliki hubungan signifikan terhadap pemanfaatan layanan fisioterapi. Faktor dominan adalah variabel usia, terutama pada kelompok dewasa akhir (36–45 tahun) dengan OR 1,90 (95% CI: 1,81–2,01). Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan perlunya peningkatan edukasi dan intervensi promotif-rehabilitatif secara lebih aktif, khususnya pada kelompok yang memiliki risiko tinggi osteoarthritis, guna mendorong pemanfaatan fisioterapi secara optimal dalam pengelolaan osteoarthritis.


Background: Osteoarthritis (OA) is one of the most common chronic musculoskeletal disorders that affects quality of life and physical function, particularly among the elderly. Physiotherapy plays an essential role in OA management, especially in advanced referral health facilities (FKRTL). Objective: This study aims to analyze the utilization of outpatient physiotherapy services among BPJS Kesehatan participants diagnosed with osteoarthriti. Methods: This research employed a non-experimental study design with a quantitative approach, using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan sample. Results: The results show that the majority of osteoarthritis (OA) participants utilized physiotherapy services at advanced referral health facilities (FKRTL) with low frequency (<8 sessions), accounting for 88.6%. All independent variables comprising both participant and service characteristics were significantly associated with physiotherapy utilization. The dominant factor was age, particularly in the late adulthood group (36–45 years), with an odds ratio (OR) of 1.90 (95% CI: 1.81–2.01). Conclusion: These findings highlight the need for increased education and more active promotive-rehabilitative interventions, especially among groups at high risk of osteoarthritis, to encourage optimal physiotherapy utilization in OA management.


Read More
S-12035
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhesinta Permatasari; Pembimbing: Septiara Putri; Penguji: Pujiyanto, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Rendahnya tingkat adopsi aplikasi Mobile JKN oleh peserta JKN menjadi salah satu tantangan dalam optimalisasi layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia. Di Puskesmas Pace, Nganjuk, Jawa Timur, hanya sekitar 10% peserta JKN yang menggunakan aplikasi ini untuk layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku penggunaan aplikasi Mobile JKN dengan menggunakan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). Penelitian ini mengadopsi mixed methods yaitu metode kuantitatif melalui survei kuesioner yang melibatkan 49 responden, serta metode kualitatif melalui wawancara mendalam dengan petugas dan pasien Puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi kinerja dan ekspektasi usaha memiliki pengaruh signifikan terhadap minat pemanfaatan aplikasi Mobile JKN. Sebaliknya, pengaruh sosial terhadap minat pemanfaatan, kondisi yang mendukung terhadap perilaku pengguna dan minat pemanfaatan terhadap perilaku pengguna aplikasi Mobile JKN tidak memiliki pengaruh signifikan.

The low adoption rate of the Mobile JKN application among JKN participants presents a significant challenge in optimizing technology-based healthcare services in Indonesia. At Pace Public Health Center, Nganjuk, East Java, only 10% of JKN participants utilize this application for healthcare services. This study aims to analyze the factors influencing the behavior of Mobile JKN application usage by applying the Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). The research employed a mixed-methods approach, combining quantitative methods through a questionnaire survey involving 49 respondents and qualitative methods through in-depth interviews with healthcare staff and patients at the Public Health Center. The findings indicate that performance expectancy and effort expectancy significantly influence the intention to use the Mobile JKN application. Conversely, social influence on the intention to use, facilitating conditions on user behavior, and intention to use on user behavior showed no significant effects on Mobile JKN application usage.
Read More
S-11834
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Latin Vania Nisrina; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Atik Nurwahyuni, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak: Penelitian ini menganalisis pemanfaatan pelayanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) oleh penderita hipertensi yang terdaftar sebagai peserta JKN pada tahun 2022. Desain penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional dengan data sampel BPJS 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penderita hipertensi (96,4%) memanfaatkan FKTP yang jarang, yaitu kurang dari 12 kali dalam setahun, sedangkan hanya 3,6% yang memanfaatkan secara sering (≥12 kali). Faktor-faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan pemanfaatan layanan meliputi usia, jenis kelamin, status perkawinan, kelas rawat, segmentasi peserta, dan regional wilayah. Faktor dominan adalah usia, dengan peserta berusia ≥65 tahun memiliki peluang tertinggi untuk sering memanfaatkan layanan (OR = 33,41, 95% CI: 27,08-41,22). Temuan ini menunjukkan perlunya peningkatan akses dan edukasi pada layanan kesehatan primer, terutama bagi kelompok risiko tinggi. Hasil penelitian dapat menjadi acuan bagi pengambilan kebijakan dalam pengelolaan hipertensi di FKTP.
This study analyzes the utilization of healthcare services at Primary Healthcare Facilities (FKTP) by hypertension patients registered as participants of the National Health Insurance (JKN) in 2022. The research design employed a cross-sectional approach with BPJS 2023 sample data. The results show that the majority of hypertension patients (96.4%) utilized FKTP services fewer than 12 times a year, while only 3.6% utilized them frequently (≥12 times). Significant factors associated with service utilization include age, gender, marital status, care class, participant segmentation, and regional area. The dominant factor is age, with participants aged ≥65 years having the highest likelihood of frequent service utilization (OR = 33.41, 95% CI: 27.08-41.22). These findings indicate the need for improved access and education on primary healthcare services, especially for high-risk groups. The results can serve as a reference for policy making in hypertension management at FKTP.
Read More
S-11814
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cilvi Aryna Dewie; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Puput Oktamianti, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:

Penelitian ini menganalisis utilisasi layanan rujukan peserta JKN dengan diagnosis TB di FKTP berdasarkan data sampel BPJS kesehatan Kontekstual TB pada FKTP tahun 2019–2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan data pada penelitian ini dengan menggunakan total sampling. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis univariat dan bivariat. Hasil dari penelitian ini sebanyak 36,5% kunjungan dirujuk, dengan peserta PBI lebih aktif dibanding non-PBI. Faktor predisposisi seperti usia (anak 0–14 tahun lebih sering dirujuk), jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi), status perkawinan, dan wilayah FKTP memengaruhi rujukan. Faktor enabling seperti jenis dan tipe FKTP juga berperan; Puskesmas menangani banyak kasus, namun Klinik Pratama dan Dokter Umum lebih sering merujuk. Poli umum memiliki tingkat rujukan lebih tinggi dibanding poli TB dan paru.


This study analyzes the utilization of referral services by JKN participants  diagnosed with TB at FKTP based on BPJS Health sample data on TB context at FKTP  from 2019 to 2023. This study is a quantitative research with a cross-sectional design.  Data collection used total sampling. The analysis employed in this study includes  univariate and bivariate analysis.  The results show that 36,5% of participants utilized referrals, with PBI  participants more active than non-PBI. Predisposing factors such as age (children 0–14  years are referred more often), gender (males higher), marital status, and FKTP region  influenced referrals. Enabling factors such as FKTP type and category also played a  role; Puskesmas handled most cases, but Primary Clinics and General Practitioners  referred patients more frequently. General outpatient clinics had higher referral rates  compared to TB and pulmonary clinics. 

Read More
S-12002
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Nur Azizah; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Purnawan Junadi, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Penelitian ini menganalisis pemanfaatan pelayanan rawat jalan tingkat lanjut oleh penderita skizofrenia di Indonesia, yang merupakan peserta JKN pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional dengan menggunakan data sekunder, yaitu Data Kontekstual Kesehatan Mental Tahun 2024 yang merupakan bagian dari Data Sampel BPJS tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penderita skizofrenia (68,1%) peserta tidak rutin (>12 kali/tahun) dalam melakukan pelayanan rawat jalan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan rawat jalan tingkat lanjut diantaranya faktor usia, jenis kelamin, status pernikahan, hubungan keluarga, segmentasi peserta, hak kelas rawat, lokasi FKRTL, serta jenis kepemilikan FKRTL. Temuan ini menunjukkan bahwa perlunya penguatan kebijakan yang mendukung kemudahan akses bagi penderita skizofrenia serta peningkatan inovasi dalam program intervensi yang dilakukan kepada penderita serta keluarga penderita skizofrenia.

This study analyzes the utilization of referral outpatient services by schizophrenia patients in Indonesia who are participants in the National Health Insurance (JKN) program in 2023. The study employs a cross-sectional approach using secondary data, specifically the 2024 Mental Health Contextual Data, which is part of the 2024 BPJS Sample Data. The results indicate that the majority of schizophrenia patients (68.1%) who are participants do not regularly (more than 12 times per year) utilize outpatient services. Factors associated with the utilization of referral outpatient services include age, gender, marital status, family relationships, participant segmentation, class of care, location of the FKRTL, and type of FKRTL ownership. These findings highlight the need for strengthened policies supporting easier access for schizophrenia patients, as well as increased innovation in intervention programs targeting both patients and their families.
Read More
S-11974
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adelia Pramesti Zahra; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Mardiati Nadjib, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Latar belakang: Hemofilia sebagai penyakit langka menyumbang pembiayaan katastropik tertinggi JKN, mencapai Rp1,2 triliun pada 2023. Rendahnya deteksi dan penggunaan obat memperburuk ketimpangan alokasi anggaran, sehingga menjadi tantangan besar dalam keberlanjutan pembiayaan kesehatan nasional. Tujuan: Menganalisis Cost of Illness (COI) peserta JKN dari perspektif sosial, dengan fokus pada sudut pandang BPJS sebagai pembayar dan pasien yang mengalami kehilangan produktivitas Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi observasional dengan pendekatan cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Sampel penelitian adalah peserta JKN dengan diagnosis Hemofilia (D66, D67, D68.0, dan D68.1), menggunakan data sekunder dari BPJS Kesehatan dan data upah rata-rata per jam berdasarkan provinsi dari BPS. Hasil: Pada tahun 2022-2023, rata-rata COI per peserta berdasarkan jumlah sampel adalah Rp728.832.232 dengan total Rp34.255.114.924. Berdasarkan jumlah populasi, total COI mencapai Rp3.019.551.937.176 Kesimpulan: Variabel jenis kelamin, usia, status perkawinan, segmentasi kepesertaan, kelas rawat, jenis pelayanan, lama hari rawat, tipe FKRTL yang sering dikunjungi, tingkat keparahan, dan penggunaan special drugs berpengaruh signifikan secara statistik terhadap COI

Background: Hemophilia, as a rare disease, contributes to the highest catastrophic health expenditure in the National Health Insurance (JKN) system, reaching IDR 1.2 trillion in 2023. Low detection rates and limited drug usage exacerbate the disparity in budget allocation, posing a significant challenge to the sustainability of national healthcare financing. Objective: This study aims to analyze the Cost of Illness (COI) for JKN participants from a societal perspective, focusing on the BPJS as the payer and patients experiencing productivity loss. Methods: This observational study uses a cross-sectional design, utilizing both univariate and bivariate analyses. The sample consists of JKN participants diagnosed with Hemophilia (D66, D67, D68.0, and D68.1), using secondary data from BPJS Kesehatan and average hourly wage data by province from BPS. Results: In 2022-2023, the average COI per participant based on the sample size was IDR 728,832,232, totalling IDR 34,255,114,924. Based on the total population, the COI reached IDR 3,019,551,937,176. Conclusion: Variables such as gender, age, marital status, membership segmentation, class of care, type of service, length of stay, type of healthcare facility frequently visited, severity level, and use of special drugs have a statistically significant impact on COI.
Read More
S-11928
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farhan Kurniawan; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Mardiati Nadjib, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berkontribusi besar terhadap kematian neonatal dan memberikan beban ekonomi dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan lama hari rawat dan biaya perawatan bayi prematur dan BBLR pada peserta JKN. Penelitian ini menggunakan kohort retrospektif dengan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2022–2024. Sebanyak 2.119 pasangan ibu dan anak dianalisis. Hasil menunjukkan 73,77% bayi dirawat di tingkat RITL dengan median lama rawat 4 hari. Median biaya RJTL per individu mencapai Rp195.850,00, sementara RITL mencapai Rp7.453.400,00. Faktor usia ibu, usia bayi, kelompok diagnosis bayi, komplikasi neonatal, dan tipe FKRTL secara signifikan memengaruhi lama hari rawat serta biaya perawatan RJTL maupun RITL. Status kelengkapan ANC hanya memengaruhi biaya perawatan RITL secara signifikan. Sementara segmentasi kepesertaan JKN dan regionalisasi tarif INA-CBGs hanya secara signifikan memengaruhi biaya perawatan RJTL maupun RITL. Usia bayi menjadi faktor dominan yang memengaruhi lama hari rawat dan biaya perawatan bayi prematur dan BBLR pada peserta JKN tahun 2022–2023. Dengan demikian, strategi pengendalian biaya dan peningkatan efisiensi perawatan perlu difokuskan pada usia bayi dengan tetap memperhatikan aspek klinis dan karakteristik fasilitas kesehatan yang bekerja sama dalam skema JKN.

Preterm and low birth weight (LBW) infants represent a significant public health concern, contributing substantially to neonatal mortality and imposing an economic burden on Indonesia’s National Health Insurance (JKN) system. This study aims to analyze the determinants of length of stay and treatment cost for preterm and LBW infants covered by JKN. A retrospective cohort design was employed using the Data Sampel BPJS Kesehatan 2022–2024, involving 2,119 mother-infant pairs. Results show that 73.77% of infants received care at advanced inpatient facilities (RITL), with a median length of stay of 4 days. The median outpatient (RJTL) and inpatient (RITL) care costs per individual were Rp195,850 and Rp7,453,400, respectively. Maternal age, infant age, diagnosis group, neonatal complications, and type of referral hospital significantly influenced both the length of stay and healthcare costs in RJTL and RITL settings. Completeness of antenatal care (ANC) visits was significantly associated only with the RITL costs, while JKN membership segmentation and INA-CBGs tariff regionalization significantly affected healthcare costs. Infant age emerged as the most dominant factor in influencing length of stay and treatment cost. These findings highlight the need for cost-control strategies and care efficiency improvements that prioritize infant age, clinical conditions, and facility characteristics within the JKN.
Read More
S-11875
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Aranika; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Mardiati Nadjib, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Latar Belakang: Tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan beban kasus yang tinggi. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2024 menunjukkan bahwa pemanfaatan rawat inap tingkat lanjut paling sedikit, namun menyerap porsi pembiayaan kesehatan yang terbesar. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya pelayanan kesehatan, termasuk penyakit tuberkulosis. Tujuan: Mengetahui biaya pelayanan tuberkulosis pada rawat inap di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut peserta JKN di Indonesia dalam satu tahun dan faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya tersebut. Metode: Observasional dengan pendekatan kuantitatif desain cross-sectional menggunakan data sekunder Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Sampel terdiri dari 9.716 peserta aktif JKN dengan diagnosis tuberkulosis yang memanfaatkan layanan rawat inap tingkat lanjut. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan SPSS versi 25. Hasil: Total biaya klaim JKN untuk pelayanan tuberkulosis rawat inap di FKRTL sebesar Rp87.950.339.624. Biaya pelayanan tuberkulosis berhubungan signifikan dengan usia, jenis kelamin, segmentasi peserta, kelas rawat, wilayah FKRTL, kepemilikan FKRTL, komorbiditas, kunjungan RITL, lama hari rawat. Kesimpulan: Median biaya pelayanan tuberkulosis pada rawat inap di FKRTL sebesar Rp4.463.400. Biaya pelayanan tinggi pada pasien dengan usia 5-9 tahun (anak-anak), berjenis kelamin laki-laki, segmentasi peserta non-PBI, kelas rawat kelas I, kepemilikan FKRTL milik pemerintah, wilayah FKRTL Regional 5, serta peserta dengan komorbid, kunjungan RITL lebih dari satu kali, dan lama hari rawat lebih dari empat hari.

Background: Tuberculosis remains one of the public health problems in Indonesia with a high disease burden. The 2024 Indonesian Health Profile shows that the utilization of advanced inpatient care is the lowest, but absorbs the largest portion of health care financing. This condition has the potential to increase health service costs, because tuberculosis requires long-term care. Objective: To determine the total cost of tuberculosis services in inpatient care at advanced referral health facilities (FKRTL) for JKN participants in Indonesia and to identify the factors associated with these costs. Methods: Observative with quantitative study a cross-sectional design using secondary data from BPJS Health Sample Data. The sample consisted of 9,716 active JKN participants with a diagnosis of tuberculosis who utilized advanced inpatient care services (RITL) for one year. Data were analyzed using univariate and bivariate in SPSS version 25. Results: The total cost of tuberculosis services reached Rp87,950,339,624. The tuberculosis health service costs are significantly associated with age, gender, treatment class, participant segmentation, FKRTL region, FKRTL ownership, comorbidities, RITL visits, length of stay. Conclusions: The median cost of tuberculosis services for inpatient care at FKRTL was IDR 4,463,400. Higher service costs were observed among patients aged 5-9 years, male patients, non-PBI participants, class I inpatient care, government owned FKRTL, FKRTL Regional 5, and participants with comorbidities, more than one inpatient visit, and length of stay more than four days.
Read More
S-12195
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabilah Noviyanti Putri; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Purnawan Junadi, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) memiliki peran strategis dalam pengelolaan diabetes melitus pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keteraturan kunjungan RJTP serta faktor-faktor yang memengaruhinya pada peserta JKN penderita diabetes melitus di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan memanfaatkan data sekunder sampel BPJS Kesehatan tahun 2024, melibatkan 10.834 peserta diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kunjungan RJTP sebesar 9,54 kali per tahun, namun sebagian besar peserta masih tergolong tidak rutin. Terdapat hubungan signifikan antara utilisasi RJTP dengan usia, jenis kelamin, segmentasi kepesertaan, jenis FKTP, wilayah tempat tinggal, dan jenis diabetes melitus. Temuan ini menunjukkan adanya ketimpangan keteraturan kunjungan pelayanan primer dan perlunya penguatan peran FKTP dalam pengelolaan diabetes melitus untuk meningkatkan keteraturan kunjungan dan efisiensi pembiayaan JKN.

Primary Outpatient Services (RJTP) play a strategic role in the management of diabetes mellitus in National Health Insurance (JKN) participants. This study aims to analyze the regularity of RJTP visits and the factors influencing it in JKN participants with diabetes mellitus in Central Java Province. The study used a quantitative design with a cross-sectional approach and utilized secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan sample, involving 10,834 participants with type 1 and type 2 diabetes mellitus. Analysis was performed using univariate and bivariate analyses using the chi-square test. The results showed that the average RJTP visit was 9.54 times per year, but most participants were still classified as irregular. There was a significant relationship between RJTP utilization and age, gender, participant segmentation, type of FKTP, area of residence, and type of diabetes mellitus. These findings indicate an imbalance in the regularity of primary care visits and the need to strengthen the role of FKTP in diabetes mellitus management to improve visit regularity and JKN financing efficiency.
Read More
S-12212
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reviana Annisa Mulyani; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Jaslis Ilyas, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi yang membutuhkan pemanfaatan pelayanan kesehatan secara berkelanjutan, khususnya melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan menganalisis utilisasi pelayanan rawat jalan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama oleh peserta JKN penderita hipertensi di Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder dari Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2023 dan dianalisis secara univariat, bivariat, serta multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, jenis FKTP, segmentasi kepesertaan, dan wilayah tempat tinggal berhubungan dengan utilisasi pelayanan rawat jalan. Hypertension is a major non-communicable disease requiring continuous health service utilization through the National Health Insurance (JKN) program. This study aimed to analyze outpatient service utilization at Primary Health Care Facilities among JKN participants with hypertension in West Java Province in 2023. This cross-sectional study used secondary data from the 2023 BPJS Kesehatan Sample Data and applied univariate, bivariate, and multivariate analyses. The results showed that age, sex, type of primary health care facility, membership segmentation, and area of residence were associated with outpatient service utilization.
Read More
S-12189
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive